Terima Kasih Wahdah Islamiyah (WI)

Terima Kasih Wahdah Islamiyah (WI)

Terima Kasih Wahdah Islamiyah (WI)

(Ira Ummu Aisyah)

Dahulu kalau kita pulang ke kampung, maka penampilan dan pemahaman kita terasa sangat asing. Walaupun keluarga dari pihak bapak di Jeneponto (Sulawesi Selatan) sangat sopan dan tidak pernah menyindir perbedaan yang ada di diri kami, semisal pakaian atau kami yang tidak salaman dengan keluarga yang bukan mahram.

Namun beberapa tahun belakangan ini, kami sangat bersyukur karena da’wah sudah mulai menyentuh  keluarga; beberapa di antara mereka sudah ikut program DIROSA (pendidikan iqra orang dewasa) bahkan tarbiyah intensif yang dbina oleh teman-teman dari Wahdah Islamiyah yang ada di Jeneponto. Mereka masuk ke kampung-kampung, membina masyarakat dengan tulus dan sabar. Para pejuang-pejuang kebaikan ini kebanyakannya bukan lulusan pesantren atau kampus berbasic Islam, tapi bekal da’wah mereka diperoleh dari sebuah halaqah tarbiyah islamiyah yang di dalamnya mereka dibekali dengan ilmu syar’ie dari alquran maupun hadits sesuai pemahaman salafush shalih (generasi awal Islam yang lurus), memperbaiki bacaan alquran dan mendalami hukum-hukum tajwid, dikontrol amal hariannya, ditanamkan dan dibentuk adab dan akhlaknya, diluruskan syubhat-syubhat yang bertengger di kepalanya, bahkan ditanamkan dengan kuat untuk mengambil peran dalam dawah dan perjuangan  sesuai dengan potensi masing-masing serta harus memberi manfaat dimanapun, kapanpun dan apapun profesinya.

Dirosa

Dirosa (Pendidikan Al-Qur’an Orang Dewasa) Sebagai Salah satu ujung tombak dakwah Wahdah Islamiyah di seluruh Indonesia

Sehingga tidak heran, ketika ada satu saja binaan wahdah di sebuah daerah maka akan mulai muncul kegiatan-kegiatan islamy;  minimal mengajarkan membaca alquran baik anak-anak, orang dewasa sampai kakek nenek. Dan lihatlah dari 1 orang maka akan berkembang da’wah di daerah tersebut bak angin yang bertiup dimana setiap orang bisa merasakan keberadaannya.

Sangat terharu dan berterima kasih dengan Wahdah Islamiyah yang menyebarkan da’wah ke pelosok negri dengan cinta; cinta kepada Allah dan cinta kepada manusia sehingga rela berpayah agar orang-orang di sekitar mereka mendapat kebaikan-kebaikan yang banyak dari Islam.

Saya yakin banyak teman-teman yang merasakan kebaikan ini, ketika kita terbatasi bahkan mungkin sebagian putus asa untul menda’wahi keluarga… ternyata Allah membukakan pintu hidayah/ kebaikan kepada mereka lewat orang lain… makanya tidak heran ketika salah seorang kerabat mengatakan “saya terima kasih kepada Wahdah Islamiyah”; saya terharu walaupun tetap diluruskan bahwa setiap kebaikan datangnya dari Allah, Wahdah Islamiyah cuma sarana/perantara kebaikan tersebut. Dan Begitulah kami diajarkan dan selalu diulang-ulangi oleh ustadz dan murabbi kami tentang wahdah, bahwa kita beramal dan  berjuang pastikan niat kita lillah (untuk Allah) bukan lilwahdah (bukan untuk wahdah).

Salam ta’zhim kepada segenap da’i da’iyah wahdah Islamiyah di manapun berada. Baarokallahu fiinaa wa fiikum.  [IUA/ed:Sym].

Apakah Memasukkan Uang Ke Dalam Kotak Amal Saat Khutbah Jum’at Termasuk Lagha?

Kotak Amal

Kotak Amal

Apakah Memasukkan Uang Ke Dalam Kotak Amal Saat Khutbah Jum’at Termasuk Lagha?

Pertanyaan:

Bismillah.. Assalamualaikum ustadz,

Afwan.. Ana mau tanya..

Ketika khatib sedang berkhutbah itu kita wajib untuk tenang dan tidak melakukan gerakan yang sia2..

Kira2 yang dimaksud gerakan yg sia2 itu seperti apa saja ya ust? Apakah memasukkan uang kedalam kotak amal dan mendorong kotak amal juga termasuk gerakan yang sia-sia? (Fadhel/Group Wa Konsultasi Islami).

 

Jawaban:

Wa ‘alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh

Khutbah Jum’at merupakan salah satu syarat sah pelaksanaan Shalat Jum’at. Dalam Khutbah Jum’at sendiri juga terdapat rukun-rukun khutbah yang harus terpenuhi, seperti  membaca hamdalah, membaca shalawat dan lain-lain. Oleh karena khutbah merupakan syarat sah shalat Jum’at maka menyimak dan mendengarkan khutbah Jum’at hukumnya wajib.

Oleh sebab itu ketika khutbah Jum’at berlangsung para jama’ah dianjurkan menghadap ke arah kiblat, memperhatikan, mendengarkan, dan menyimak khutbah dengan serius dan sungguh-sungguh serta tidak melakukan sesuatu yang sia-sia yang dapat mengurangi bahkan menggugurkan pahala jum’atnya. Hal ini dijelaskan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dalam hadits riwayat Muslim;

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ وَزِيَادَةُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا

Barangsiapa berwudhu, lalu memperbagus (menyempurnakan) wudhunya, kemudian mendatangi shalat Jum’at lalu mendengarkan dan memperhatikan khutbah, maka dia akan diampuni dosa-dosanya antara  hari itu sampai dengan hari Jum’at berikutnya dan ditambah tiga hari sesudahnya. Barangsiapa menyentuh kerikil, maka sia-sialah Jum’atnya” (HR. Muslim)

Dalam Syarh Shahih Muslim Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa memegang (bermain-main) kerikil  dan lainnya merupakan saat khutbah merupakan salah satu perbuatan yang sia-sia. Selain itu juga terdapat isyarat untuk menghadapkan hati dan anggota badan saat  khutbah Jum’at berlangsung.

Selian itu perbuatan sia-sia (lagha) juga dapat berupa ucapan atau perkataan sebagaimana disampaikan oleh Rasulullah dalam sabdanya,

Apabila engkau berkata kepada temanmu “diamlah” pada hari Jum’at sedang imam sedang berkhutbah, maka engkau telah berbuat lagha (sia-sia).” (HR al-Bukhari).

Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Subulus-Salam Syarh Bulughil Maram menjelaskan: “Apabila engkau berkata kepada temanmu: ‘diamlah’ ketika khatib berkhutbah, maka engkau telah berbuat lagha” merupakan penguat larangan berbicara. Apabila hal tersebut (berkata ‘diamlah’) dikategorikan sebagai pebuatan laghapadahal perkataan hal tersebut termasuk pada amar ma’ruf, maka orang yang berbicara lebih berat hukumnya. Dengan pengertian tersebut, maka wajib bagi orang yang akan menegur dengan menggunakan isyarat apabila memungkinkan.

Artinya jika perkataan “diam”! yang dimaksudkan mengingatkan orang berbuat lagha tergolong lagha juga, maka perkataan lain seperti mengobrol lebih terlarang lagi.

Lalu bagaimana dengan memasukan uang ke kotak amal dan menggeser kotak amal?

Jika mengucapkan satu kata ‘’diam’’ dan menyentuh/mempermainkan kerikil yang merupakan gerakan paling ringan termasuk lagha (sia-sia) yang dilarang, maka perkataan dan perbuatan atau gerakan yang lebih banyak lebih terlarang. Apalagi saat pengedaran kotak infaq ketika khutbah terdapat enam gerakan yang tidak dapat dielakkan:

  • Mengambil dompet dari saku/tas
  • Memilih uang dalam dompet
  • Melipat-lipat uang sebelum memasukannya ke dalam kotak infaq
  • Memasukkan uang dengan tangan kanan, sedangkan tangan kiri menutupinya
  • Menggeser kotak infaq, sebelum maupun setelah memasukkan uang kedalam kotak infaq.
  • Jika tidak berinfaq minimal sekedar menggeser.

Illat (sebab)  yang menjadi alasan larangan memainkan kerikil, mengatakan ‘’diam”! atau yang lainnya karena dapat memalingkan dari berdzikir dan menyimak khutbah.

Oleh karena itu sebaiknya tidak mengedarkan kotak amal atau infaq saat Khutbah Jum’at sedang berlangsung. Hal ini demi menjaga suasana khusyu’ dan khidmatnya pelaksanaan shalat dan khutbah Jum’at. Sebagai solusi dapat diusahakan alternatif lain, seperti;

  1. Menyiapkan kotak amal/infaq di setiap pintu masuk,
  2. Mengedarkan kotak amal/infaq sebelum khutbah dimulai, misalnya saat penyampaian pengumuman atau maklumat oleh pengurus masjid jelang masuk waktu jum’at (jika ada).
  3. Mengedarkan kotak amal/infaq setelah shalat Jum’at sebelum menunaikan shalat ba’diyah jum’at.

Tentu bagi pengurus masjid perlu mensosialisasikan hal ini secara bijak kepada jama’ah, sebagai bentuk edukasi kepada para jama’ah. Walahu a’lam bish Shawab. [sym].

Apa Setelah Ramadhan Berlalu?

Apa Setelah Ramadhan Berlalu?

Kita telah berpisah dengan bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Berpisah dengan siangnya yang begitu indah dan malamnya yang begitu harum semerbak.

Kita berpisah dengan bulan Qur’an, bulan ketakwaan, kesabaran, Jihad, magfirah dan bulan pembebasan dari api neraka. Maka faedah apa yang sudah kita raih dari sekian banyak buah-buah Ramadhan yang begitu agung dan naungan-Nya yang begitu luas?

Apakah dalam jiwa kita telah terwujud ketakwaan sehingga kita keluar dari madrasah Ramadhan dengan predikat taqwa? Dan apakah kita senantiasa sabar dalam ketaatan dan menjauhi ma’siat? Apakah kita telah mentarbiyah (mendidik) jiwa kita untuk melakukan berbagai bentuk jihad? Apakah kita telah berjihad melawan hawa nafsu dan mampu mengalahkannya ? Ataukah kita berhasil dikalahkan oleh kebiasaan-kebiasaan dan prilaku-prilaku buruk? Apakah kita telah berusaha sekuat tenaga untuk meraih rahmat, Magfirah-Nya dan pembebasan-Nya dari api neraka? Apakah….Apakah….Apakah…? Begitu banyak pertanyaan yang menyelimuti hati seorang muslim sejati yang senantiasa mengoreksi dirinya dan menjawabnya dengan jujur dan terus terang.

Ramadhan adalah madrasah imaniyah dan tempat persinggahan ruh untuk mempersiapkan bekal di sisa-sisa kehidupan kita di dunia. Maka kapan lagi seseorang akan mengambil bimbingan, pelajaran dan manfaat, untuk merubah kehidupannya jika ia tidak melakukannya pada bulan suci ini.

Bulan Ramadhan merupakan madrasah (sekolahan) untuk mengadakan perubahan amalan, perilaku, kebiasaan dan akhlaq yang bertentangan dengan syariat Allah Azza Wa Jalla. Allah  berfirman :

 “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar Ra’du : 92)

Saudara(i) ku yang tercinta …..

Jika anda termasuk orang-orang yang mampu meraih faedah-faedah Ramadhan dan berhasil mewujudkan ketakwaan pada diri anda, berpuasa dengan benar, mengerjakan qiyamullail dengan khusyu’ serta bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu maka hal tersebut patut disyukuri dan hendaknya anda memohon kepada Allah Azza Wa Jalla agar sikap tersebut konsisten sampai kembalinya ruh kehadirat-Nya.

 Maka hati-hatilah dan jangan sekali-kali termasuk orang-orang yang dimaksud dalam surat An Nahl ayat 92, Allah  Azza Wa Jalla berfirman :

 “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal

Apakah anda telah melihat seorang wanita yang memintal benang untuk dibuat selembar baju kemudian ketika ia senang melihat baju tersebut ia menguraikan kembali pintalan-pintalan tersebut tanpa sebab!

Maka apa komentar orang-orang terhadap perbuatan tersebut ?

Seperti inilah halnya seseorang yang kembali ke jalan kemaksiatan, kefasikan, kesesatan, kegelapan dan melepaskan ketaatannya kepada Allah serta tidak lagi beramal sholeh setelah selesainya Ramadhan setelah ia merasakan nikmatnya letaatan dan ketakwaan, nikmatnya berdo’a kepada-Nya ia kembali pada pahitnya dan sengsaranya kemaksiatan dan kegelapan !!

Syekh Shalih Fauzan berkata,

Sesungguhnya kebanyakan dari manusia waktu-waktunya berlalu dengan sia-sia sesudah ied dengan begadang, tarian-tarian daerah, bermain yang melalaikan, sehingga mungkin saja mereka meninggalkan shalat-shalat pada waktunya atau shalat berjama’ah, seakan-akan mereka dengan perbuatan itu ingin menghapuskan pengaruh Ramadhan pada jiwa-jiwa mereka jika mempunyai pengaruh, lalu memperbarui kehidupannya bersama syaithan yang jarang bermuamalah dengannya pada bulan Ramadhan

Maka alangkah nistanya sekelompok manusia yang mengenal Allah hanya di bulan Ramadhan.

Imam Wahab bin Al Ward pernah melewati sekelompok manusia yang sedang asyik bermain pada hari ied, kemudian ia berkata kepada mereka:

Sungguh mengherankan kalian itu, kalau memang Allah telah menerima puasa kalian apakah semacam ini cara kalian bersyukur dan jika Allah tak menerima amalan puasa kalian apakah semacam ini cara kalian takut

Saudara-saudaraku tercinta…

Diantara indikasi diterimanya amalan ibadah seorang hamba adalah keadaannya menjadi lebih baik dari sebelumnya dalam hal ketaatan dan ketundukannya terhadap syari’at-syari’at Islam. Allah berfirman :

 “Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhanmu memaklumkan : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu” (QS. Ibrahim :7)

Artinya bertambahnya kebaikan baik zhohir maupun batin yang berupa bertambahnya keimanan dan amal sholeh. Oleh karena itu seandainya seorang hamba memiliki kesungguhan dalam mensyukuri nikmat-nikmat Allah maka kebaikan dan ketaatannya terhadap syariat-syariat-Nya akan meningkat dan mampu menjauhi kemaksiatan. Sebagaimana telah di katakan oleh para salafusshaleh: ”Syukur adalah meninggalkan kemaksiatan”

Setiap seorang hamba harus senantiasa taat kepada Allah ‘azza wa jalla dan komitmen dengan syari’at-syari’at-Nya serta istiqomah dengan agama-Nya. Allah berfirman :

 “Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)” (QS. Al Hijr:99)

Jangan bersikap seperti Rubah yang beribadah kepada Allah Azza Wa JAlla sebulan kemudian bermaksiat di bulan yang lain atau beribadah kepada-Nya di suatu tempat tapi bermaksiat di tempat yang lain atau! Namun hendaknya ia memahami bahwa Tuhan Pemilik Ramadhan adalah juga Tuhan Pemilik bulan-bulan lain dan Ia Pemilik semua waktu dan tempat, agar senantiasa berada di jalan-Nya yang lurus sampai ia kembali kehadirat-Nya dalam keadaan diridhai oleh-Nya. Allah Azza Wa Jalla berfirman :

 “Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampunan kepada-Nya”(QS. Fushshilat :6)

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda :

 “Katakan aku beriman kepada Allah kemudian beristiqomahlah” (HR. Muslim)

Kalau seandainya puasa Ramadhan telah selesai masih ada puasa-puasa sunnah lainnya seperti puasa enam hari di bulan Syawwal, puasa hari Senin dan Kamis, puasa di tengah bulan (tanggal 13,14 dan 15 bulan hijriyah), puasa ‘Asyuro dan Arofah dan lainnya. Kalau qiyamur Ramadhan sudah berakhir maka masih ada qiyamullail yang disyariatkan dilakukan setiap malam.

Dan seandainya shodaqoh dan zakat fitri di bulan Ramadhan sudah ditunaikan, masih ada zakat wajib lainnya.

Demikianlah hakekat amalan sholeh yang bisa dilakukan sepanjang masa. Untuk itulah bersungguh-sungguhlah wahai Saudaraku  seiman untuk senantiasa taat kepada Allah Azza Wa Jalla dan jauhilah kemalasan. Jika anda enggan melaksanakan amalan-amalan sunnah maka jangan sekali-kali meninggalkan dan melalaikan kewajibanmu seperti shalat lima waktu yang harus dilakukan tepat pada waktunya dan dengan berjama’ah dan jangan sekali-kali terjerumus kepada kemaksiatan dengan berkata-kata, makan, minum, melihat dan mendengarkan hal-hal yang diharamkan.

 Beristiqamahlah dan komitmenlah pada agama-Nya di sepanjang masa karena engkau tidak tahu kedatangan malaikat maut. Jangan sampai ia datang dan engkau dalam keadaan bemaksiat kepada Allah Azza Wa Jalla. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda :

 “Ya Allah, Pembolak-balik hati, tetapkanlah hatiku pada agamamu”(HR. Ahmad)

[Mustafa A].

Maraji’: Madza ba’da Ramadhan, Riyadh bin Abdurrahman Al Haqiil

Safari Taman Gizi Ruhiyyah dan Tsaqafah

COMING SOON
Segera Hadir
Biidznillah..

 

Safari Taman Gizi Ruhiyyah dan Tsaqafah

Bersama 
Syeikh DR. Muhammad Ad Duwaisy hafizhahullah
(Pakar Tarbiyah dari Timur Tengah)

Ada apa dengan pola pembinaan umat hari ini?
Bagaimana format yang tepat?
Formal maupun informal?
Ada apa dengan kurikulum kita hari ini?
Seberapa efektif?

Nantikan jawaban-jawabannya dalam diskusi-diskusi hangat bersama para pakarnya.

Insya Allah akan dilaksanakan di Jakarta dan sekitarnya selama beberapa hari (28 Juni-3 Juli 2018) bersama para ahli di bidangnya.

Mari sebarkan.. Kita kembalikan peradaban yang gemilang..

CP:
085 725 745 972 (WA Only)

=============

Keutamaan dan Manfaat Puasa Syawal

Manfaat Puasa Syawal

Keutamaan dan Manfaat Puasa Syawal

Abu Ayyub al-Anshari radhiallaahu ‘anhu meriwayatkan, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun.” (HR. Muslim)

Imam Ahmad dan an-Nasa’i, meriwayatkan dari Tsauban, Nabi shallalla ahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa Ramadhan ganjarannya sebanding dengan (puasa) sepuluh bulan, sedangkan puasa enam hari (di bulan Syawal, pahalanya) sebanding dengan (puasa) dua bulan, maka bagaikan berpuasa selama setahun penuh.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam “Shahih” mereka)

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa berpuasa Ramadhan lantas disambung dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia bagaikan telah berpuasa selama setahun.” (HR. al-Bazzar)

Pahala puasa Ramadhan yang dilanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal menyamai pahala puasa setahun penuh, karena setiap hasanah (kebaikan) diganjar sepuluh kali kelipatannya, sebagaimana telah disinggung dalam hadits Tsauban di muka.

Membiasakan puasa setelah Ramadhan seperti puasa syawal memiliki banyak manfa’at, di antaranya:

  1. Puasa enam hari di bulan Syawal setelah Ramadhan, merupakan pelengkap dan penyempurna pahala dari puasa Ramadhan.
  2. Puasa Syawal dan Sya’ban bagaikan shalat sunnah rawathib, berfungsi sebagai penyempurna dari kekurangan, karena pada hari Kiamat nanti perbuatan-perbuatan fardhu akan disempurnakan (dilengkapi) dengan perbuatan-perbuatan sunnah. Sebagaimana keterangan yang datang dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam di berbagai riwayat. Mayoritas puasa fardhu yang dilakukan kaum muslimin memiliki kekurangan dan ketidaksempurnaan, oleh karena itu dibutuhkan sesuatu yang menutupi dan menyempurnakannya.
  3. Membiasakan puasa setelah Ramadhan menandakan diterimanya puasa Ramadhan. Karena apabila Allah Ta’ala menerima amal seseorang hamba, maka Dia menolongnya dalam meningkatkan perbuatan baik setelahnya. Sebagian orang bijak mengatakan, “Pahala amal kebaikan adalah kebaikan yang ada sesudahnya.”

Oleh karena itu barangsiapa mengerjakan kebaikan kemudian melanjutkannya dengan kebaikan lain, maka hal itu merupakan tanda atas terkabulnya amal pertama. Demikian pula sebaliknya, jika seseorang melakukan sesuatu kebaikan lalu diikuti dengan yang buruk, maka hal itu merupakan tanda tertolaknya amal yang pertama.

  1. Puasa Ramadhan -sebagaimana disebutkan di muka- dapat mendatangkan maghfirah (ampnan) atas dosa-dosa masa lalu. Orang yang berpuasa Ramadhan akan mendapatkan pahalanya pada hari Raya Iedul Fithri yang merupakan hari pembagian hadiah, maka membiasakan puasa setelah Iedul Fithri merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat ini. Dan sungguh tak ada nikmat yang lebih agung dari pengampunan dosa-dosa.

oleh karena itu termasuk sebagian ungkapan rasa syukur seorang hamba atas pertolongan dan ampuan yang telah dianugerahkan kepadanya adalah dengan berpuasa setelah Ramadhan. Tetapi jika ia justru mengggantinya dengan perbuatan maksiat, maka ia termasuk kelompok orang yang membalas kenikmatan dengan kekufuran. Apabila ia berniat pada saat melakukan puasa untuk kembali melakukan maksiat lagi, maka puasanya tidak akan terkabul, ia bagaikan orang yang membangun sebuah bangunan megah lantas menghancurkannya kembali. Allah Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai lagi.” (Terj. QS. an-Nahl: 92)

  1. Dan di antara manfa’at puasa Syawal adalah sebagai lanjutan dari amalan yang dikerjakan Pada bulan Ramadhan. Amalan    yang dikerjakan untuk mendekatkan diri kepada Allah pada bulan Ramadhan tidak terputus dengan berlalunya bulan mulia ini, selama ia masih hidup. Orang yang setelah Ramadhan berpuasa bagaikan orang yang cepat-cepat kembali dari pelariannya, yakni orang yang baru lari dari peperangan fi sabilillah lantas kembali lagi. Sebab tidak sedikit manusia yang berbahagia dengan berlalunya Ramadhan, sebab mereka merasa berat, jenuh dan lama berpuasa Ramadhan.

Barangsiapa yang mereka demikian maka sulit baginya untuk bersegera kembali melaksanakan puasa, padahal orang yang bersegera kembali melaksanakan puasa setelah Iedul Fithri merupakan bukti kecintaannya terhadap ibadah puasa, ia tidak merasa bosan dan berat apalagi benci.

Seorang ulama Salaf ditanya tentang kaum yang bersungguh-sungguh dalam ibadahnya di bulan Ramadhan tetapi jika Ramadhan berlalu mereka tidak bersungguh-sungguh lagi, beliau berkomentar, “Seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengenal Allah Ta’ala secara benar kecuali di bulan Ramadhan saja, padahal orang shalih adalah yang beribadah dengan sungguh-sungguh di sepanjang tahun.”

Oleh karena itu sebaiknya orang yang memiliki hutang puasa Ramadhan memulai membayarnya di bulan Syawal, karena hal itu akan mempercepat proses pembebasan dirinya dari tanggungan hutangnya. Kemudian dilanjutkan dengan enam hari puasa Syawal. Dengan demikian telah melakukan puasa Ramadhan dan mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal.

Ketahuilah mal perbuatan seorang mukmin itu tidak ada batasnya hingga maut menjemputnya. Allah Ta.a’a berfirman, “Dan sembahlah Tuhan-mu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS. al-Hijr: 99)

Dan perlu diingat pula bahwa shalat-shalat dan puasa serta shadaqah yang dilakukan  seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala pada bulan Ramadhan adalah disyari’atkan sepanjang tahun, karena hal itu mengandung berbagai manfaat, diantaranya; ia sebagai pelengkap dari kekuarangan yang terdapat pada fardhu, merupakan salah satu faktor yang mendatangkan mahabbah (kecintaan) Allah kepada Hamba-Nya, sebab terkabulnya doa, demikian pula sebagai sebab dihapuskannya dosa dan dilipatgandakannya pahala kebaikan dan ditinggikannya kedudukan.

Sumber, Risalah Ramadhan, Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim al-Jarullah.

Artikel: http://wahdah.or.id/

Tanya Jawab Fiqh Puasa [12]: Puasa Syawal, Haruskah Enam Hari Berturut-turut Atau Boleh Terpisah-pisah?

Puasa Syawal

Tanya Jawab Fiqh Puasa [12]: Puasa Syawal, Haruskah Enam Hari Berturut-turut Atau Boleh Terpisah-pisah?

Pertanyaan:

Bolehkah seseorang memilih hari-hari tertentu  untuk berpuasa pada bulan Syawal ataukah puasa syawal ini memiliki waktu-waktu (hari-hari) tertentu (ayyam ma’lum)? Apakah jika seseorang berpuasa pada hari-hari itu terhitung sebagai puasa wajib baginya?

Jawaban:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (tentang puasa Syawal);

” من صام رمضان ثم أتبعه ستًّا من شوال كان كصيام الدهر ” خرجه الإمام مسلم

Siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian mengiringinya dengan berpuasa enam hari pada bulan Syawal bagaikan puasa setahun”. (Dikelurakan Oleh Imam Muslim).

Keenam hari tersebut tidak terbatas pada hari-hari tertentu dalam bulan Syawal. Seseorang dapat memilih hari i apa saja di sepanjang bulan Syawal. Bila dia mau bisa pada awal bulan, pertengahan, atau akhir bulan. Bila dia mau bisa terpisah-pisah atau berturut-turut. Masalah ini luwes, alhamdulillah.

Jika seseorang bersegera melakukannya di awal bulan dan berturut-turut, maka itu lebih afdhal. Karena hal itu termasuk sikap bergegas kepada kebaikan (al musara’ah ilal khair).

Puasa tersebut bukan merupakan kewajiban (tidak wajib). Bahkan boleh meninggalkannya pada suatu tahun tertentu. Tetapi yang lebih utama dan lebih sempurna adalah istimrar (terus-menerus) melakukannya setiap tahun, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dirutinkan oleh pelakunya meskipun sedikit”. Semoga Allah memberi taufiq. (Sumber: Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, Juz 15, hlm. 390). (sym)

Artikel: wahdah.or.id

Tanya Jawab Fiqh Puasa [11]: Bolehkah Menggabungkan Niat Puasa Qadha dengan Puasa syawal?

Puasa Syawal

Tanya Jawab Fiqh Puasa [11]: Bolehkah Menggabungkan Niat Puasa Qadha dengan Puasa Syawal?

Pertanyaan:

Mungkinkah (baca: Bolehkah) menggabungkan dua niat puasa syawal dan puasa qadha? Syukran.

Jawab:

Masalah ini di kalangan ulama dikenal dengan masalah tasyrik (menggabungkan dua ibadah dalam satu niat). Hukumnya adalah jika termasuk wasail atau ibadah yang saling berkaitan, maka ibadahnya sah, dan kedua ibadah tersebut terhitung telah tertunaikan. Seperti, jika seseorang mandi junub pada hari jum’at dengan niat mandi jum’at dan mandi junub. Maka ia dianggap telah bersih dari hadast akbar/junub tersebut dan memperoleh pahala mandi jum’at.

Jika salah satu dari dua ibadah tersebut tidak diniatkan (ghairu maqshudah) dan yang lainnya diniatkan secara langsung, maka boleh digabung dan hal itu tidak berpengaruh pada ibadah tersebut. Misalnya shalat tahiyatul masjid dengan shalat fardhu atau shalat sunnah lainnya. Tahiyatul masjid tidak diniatkan secara langsung (ghairu maqshudah bidzatiha), tapi yang dimaksud (diniatkan) adalah memuliakan tempat (masjid) dengan shalat, dan hal itu telah terlaksana. 1

Adapun menggabung niat dua ibadah yang dimaksudkan secara dzatnya; semisal shalat –fardhu-dzuhur- dan rawatib-nya, atau seperti shiyam fardhu baik ada’ maupun qadha, kaffarat ataupun nadzar dengan shiyam sunnah seperti shiyam 6 hari syawal, maka tidak sah. Karena masing-masing ibadah tersebut berdiri sndiri dan terpisah dengan yang lainnya. Masing-masing ibadah tersebut dimaksudkan secara dzatnya dan bukan merupakan bagian dari ibadah yang lainnya (sehingga tidak dapat digabung. Jika digabung; tidak sah).

Qadha Shiyam Ramadhan dan puasa yang lainnya dimaksudkan secara dzatnya. Demikian pula dengan shiyam enam hari diu bulan syawal juga dimaksudkan secara dzatnya. Karena kedua puasa tersebut (puasa ramadhan + puasa enam hari syawal) setara dengan puasa setahun, sebagaimana dijelaskan dalam hadits shahih. Sehingga tidak sah jika keduanya digabung (pelaksanaannya) dalam satu niat.

 

Kesimpulan (red): Puasa qadha dan puasa syawal tidak digabung. Jika digabung, tidak sah. Wallahu a’lam.

(sumber:http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=6579)

1[1] Misalnya, seseorang masuk masjid saat kumandang adzan telah usai. Lalu ia menunaikan shalat sunnat rawatib qabliyah . dalam keadaan seperti ini kewajiban shalat tahiyatul masjid atasnya telah gugur. Karena yang dikehendaki oleh syariat adalah “Tidak duduk –saat masuk masjid- sebelum shalat dua rakaat”. Shalat yang dimaksud adalah shalat tahiyatul masjid (penghormatan/pemuliaan terhadap masjid). Namun jika kondisi tidak memungkikan, sehingga seseorang langsung menunaikan shalat sunnah rawatib atau shalat fardhu (jika masuk saat iqamat), maka kewajiban tahiyatul masjid telah gugur, dan boleh menyertakan niat tahiyatul masjid saat shalat sunnat rawatib.

Sumber dari: http://wahdah.or.id/

Mengenal Puasa Sunnah

Mengenal Puasa Sunnah

Menghidupkan ibadah-ibadah nawafil’ (tambahan) atau sunnah merupakan salah satu sifat para kekasih Allah (wali Allah) yang dicintai oleh Allah. Dalam sebuh hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Allah ‘azza wa jalla berfirman; “Tidaklah hambaKu senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan ibadah-ibadah nawafil (sunnah) melainkan Aku akan mencintainya” (terj. HR. Bukhari).

Diantara ibadah sunnah tersebut adalah puasa sunnah, Puasa yang disunnahkan adalah pada hari-hari berikut ini;

  1. Puasa ‘Arafah,

Yaitu puasa pada saat jama’ah haji wuquf di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah. Anjuran berpuasa arafah ini hanya berlaku bagi mereka yang tidak melaksnakan ibadah haji. Puasa Arafah memiliki keutamaan menghapuskan dosa selama dua tahun, tahun sebelumnya dan tahun setelahnya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa allam;

صوم يوم عرفة يكفر سنتين, ماضية ومستقبلة

Puasa ‘Arafah menghapus dosa dua tahun, yakni tahun lalu dan tahun mendatang”, . . (HR. Ahmad dan Nasai).

2. Puasa ‘Asyura dan Tasu’a

Yaitu puasa sunnah yang dikerjakan pada tanggal 10 dan 9 Muharram. Keutamaannya menghapus dosa setahun lalu, berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam;

. . . وصوم عاشوراء يكفر سنة ماضية

. . . Sedangkan puasa ‘Asyura menghapus dosa satu tahun yang lalu”. (HR. Ahmad dan Nasai).

Adapun puasa tasu’a (9 Muharram), Rasul berniat akan melakukannya tahun berikutnya sebagai bentuk penyelisihan terhadap orang Yahudi yang berpuasa juga pada 10 Muharram, “Pada tahun depan insya Allah kami akan berpuasa pada tanggal sembilan”, kata Rasul sebagaimana dikeluarkan oleh Imam Muslim dan Shahihnya.

3. Puasa Syawwal

Puasa ini merupakan ratibah (pengiring) dari puasa Ramadhan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang keutamaam puasa Syawal ini;

من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر

Siapa yang puasa Ramadhan kemudian mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun penuh”. (HR. Muslim)

Puasa Ramadhan ditambah enam hari di bulan Syawal sama dengan puasa setahun penuh, karena puasa Ramadhan setara dengan puasa 300 hari dan puasa enam hari di bulan Syawal senilai puasa 60 hari. Sebab setiap amal anak Adam dilipatgandakan sepuluh kali lipat. 30×10=300, dan 6×10=60. 300+60=360. 360 hari merupakan jumlah hari dalam setahun menurut penanggalan hijriah.

4. Puasa Sya’ban

Diriwayatkan,  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperbanyak puasa sunnah pada bulan Sya’ban. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan;

Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa satu bulan penuh kecuali pada bulan ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau memperbanyak puasa dalam satu bulan melebihi bulan Sya’ban”. (terj. HR. Abdur).

Rasulullah shallaalahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan alasan beliau memperbanyak shiyam pada bulan Sya’ban karena ia merupakan bulan yang banyak dilalaikan manusia, sebab ia terletak antara Rajab dan Ramadhan. Alasan lain karena Sya’ban merupakan bulan diangkatnya amal setahun kepada Allah Ta’ala.

5.   Puasa pada Bulan Muharram

Puasa pada bulan Muharram merupakan puasa paling afdhal setelah puasa Ramadhan, sebagaimana dalam hadits riwayat Ibnu Majah dan Ahmad ketika Rasul ditanya;

أي الصيام أفضل بعد رمضان؟ قال: شهر الله الذي تدعونه المحرم

Puasa apa yang paling utama setelah puasa Ramadhan? Beliau bersabda, ‘(pada) bulan-Nya Allah yang kalian sebut dengan Muharram’.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Sebagian Ulama berpendapat, yang dimaksud dalam hadits ini adalah puasa ‘Asyuro da tasu’a, wallahu a’lam.

6. Puasa Tiga Hari dalam Sebulan

Puasa ini disebut pula dengan Shiyam ayyamul Bidh, yakni tanggal 13, 14, dan 15, sebagaimana dalam hadits diriwayatkan oleh Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu;

أمرنا رسول الله أن نصوم من الشهر ثلاثة أيام البيض؛ ثلث عشرة, وأربع عشرة, وخمس عشرة , وقال هي كصوم الدهر

Rasulullah memerintahkan kepada kami untuk berpuasa pada hari-hari putih selama tiga hari setiap bulan, yakni pada tanggal 13,14, dan 15. Dan beliau mengatakan, ‘Puasa itu bagaikan puasa sepanjang tahun’. (HR. Nasai).

7. Puasa Senin dan Kamis

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang puasa senin dan kamis, beliau mengatakan;

إن الأعمال تعرض كل اثنين وخميس , فيغفر الله لكل مسلم أولكل مؤمن إلا إلا المتهاجرين , فيقول أخّرهما

Sesungguhnya amal perbuatan dilaporkan pada setiap Senin dan kamis, lalu Allah mengampuni setiap Muslim atau Mu’min kecuali dua orang yang saling memutus silaturrahim. Lantas Allah berfirman, ‘akhirkanlah keduanya’. (HR. Ahmad)

8. Puasa Daud

Yakni sehari berpuasa dan sehari tidak berpuasa. Puasa ini merupakan puasa yang paling dicintai Allah, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam;

أحب الصيام إلى الله صيام داود, . . . . وكان يصوم يوما ويفطر يوما

Puasa paling dicintai Allah adalah puas Daud, . . . beliau sehari berpuasa dan sehari berbuka (tidak puasa)”. (HR. Bukhari, Ahmad, dan Nasai)

8. Puasa bagi Para Bujang yang Belum Mampu Menikah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

يا معشر الشيباب, من استداع منكم الباءة فليتزوج فإنه أغض للبصر وأحصن للفرج, ومن لم يستطع فغليه باالصوم فإنه له وجاء (أخرجه البخاري)

Wahai para pemuda, siapa diantara kalian yang telah memiliki kemampuan hendaknya ia menikah, karena hal itu membuatnya mudah menjaga pandangan dan memebentengi kemaluannya, siapa yang belum sanggup menikah hendaknya ia berpuasa, karena puasa merupakan pengendali baginya”. (HR. Bukhari).(sym)

 

Takwa Puncak Tujuan Ibadah Puasa

Takwa Puncak Tujuan Ibadah Puasa

Takwa Puncak Tujuan Ibadah Puasa

Ibadah puasa yang dilaksanakan hamba selama bulan Ramadhan tidak lain adalah untuk meraih derajat takwa. Takwa yang sebenar-benarnya takwa. Yakni menjalankan seluruh perintah Allah serta menjauhi larangan-larangan-Nya.

Dalam Alqur’an, Allah Ta’ala tegaskan:

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ”

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS. Al-Baqarah: 183).

Dan jika kita telaah dengan saksama ibadah sepanjang bulan Ramadhan, akan nampak bagi kita hakikat jalan untuk mencapai takwa itu.

Selama berpuasa, hamba meninggalkan hal-hal yang dilarang oleh Allah. Bahkan sesuatu yang pada asalnya boleh seperti makan, minum, dan berhubungan dengan istri. Ini semua merupakan indikator dari takwa itu.

Demikian pula, selama berpuasa, hamba muslim bersungguh-sungguh menegakkan ibadah kepada-Nya, baik yang sifatnyaa wajib maupun sunnah. Hampir tidak ada kebaikan yang dianjurkan dalam agama melainkan pasti berusaha di wujudkan pada bulan ini. Dan sekali lagi, ini juga merupakan indikator takwa yang sangat kuat.

Kedua perkara agung di atas merupakan gambaran bagi hakikat takwa itu sendiri. Thalq bin Habib rahimahullah berkata:

“التَّقْوَى: أَنْ تَعْمَلَ بِطَاعَةِ اللَّهِ عَلَى نُورٍ مِنْ اللَّهِ تَرْجُو رَحْمَةَ اللَّهِ وَأَنْ تَتْرُكَ مَعْصِيَةَ اللَّهِ عَلَى نُورٍ مِنْ اللَّهِ تَخَافَ عَذَابَ اللَّهِ”

Takwa adalah engkau melakukan ketaatan pada Allah berdasarkan petunjuk dari Allah dan mengharap rahmat-Nya. Demikian pula, engkau meninggalkan maksiat yang Allah haramkan berdasarkan petunjuk dari Allah dan atas dasar takut pada-Nya”. (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, karya Ibnu Rajab Al-Hambali, 1/400).

Nah, lantaran Ramadhan hanya ibarat terminal tempat pemberhentian sementara untuk mengisi ruhiyah dengan takwa, maka aplikasi sebenarnya dari takwa itu akan terwujud pada bulan-bulan selain Ramadhan.

Karena itu, siapa yang di bulan Ramadhan tidak bersungguh-sungguh mengisi ruhiyahnya dengan takwa dan kebaikan,  maka akan diharamkan atasnya kebaikan-kebaikan tersebut. Inilah yang disabdakan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam: “Man hurima khairaha faqad hurim”.

Demikianlah, bahwa indikasi kesuksesan puasa Ramadhan kita itu ada pada sejauh mana semangat ibadah kita berubah. Baik buruknya sikap dan perangai kita, serta besar kecilnya rasa takut kita kepada Allah Ta’ala.

Jangan sampai ibadah puasa yang lelah kita tegakkan selama bulan Ramadhan, ternyata hanya berbuah rasa lapar dan dahaga saja. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tegas mengingatkan:

“رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ”

Boleh jadi, orang berpuasa namun tidak mendapatkan dari puasanya itu kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath-Thabrani, Shahih li Ghairihi).

Imam Ma’ruf Al-Karkhi rahimahullah berkata:

“إذا كنتَ لا تُحسنُ تتقي أكلتَ الربا ، وإذا كنتَ لا تُحسنُ تتقي لقيتكَ امرأةٌ فلم تَغُضَّ بصرك…”

Jika engkau tidak baik dalam takwa, maka engkau pasti terjerumus memakan riba. Jika engkau tidak baik dalam takwa, saat ada wanita bertemu denganmu, engkau tidak menjaga pandanganmu.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1/402).

Sumber: Hikmah Ramadhan Ustadz Rapung Samuddin, Lc

Membangun Negeri dengan Ukhuwah Sejati dan Cinta Ilahi

Membangun Negeri dengan Ukhuwah Sejati dan  Cinta Ilahi

Membangun Negeri dengan Ukhuwah Sejati dan Cinta Ilahi

(Naskah Khutbah  Idul Fitri 1439 H DPP Wahdah Islamiyah)

‎إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، ‎وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا،

‎مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

‎﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

‎﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

‎﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا‎أَمَّا بَعْدُ : فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وكلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.

Kaum muslimin rahimakumullah…

Alangkah indahnya pagi ini, kita gemakan takbir yang membahana, kita lantunkan pujian pada Allah dengan segenap jiwa, hingga hilang semua duka, hingga terhapus semua nestapa, dan mekarlah semua bahagia.

Kita syukuri semua nikmat lalu kita panjatkan puji syukur kita kepada Allah, dan mungkin puji syukur kita itu lebih bernilai bagi kita disisi Allah, lebih dari nikmat itu.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.

Negeri ini yang demikian indah, demikian kaya, gunung- gunungnya yang tinggi menjulang, lautnya yang menghampar luas, lembah, ngarai dan sawahnya yang membentang elok,sungguh karunia Ilahi yang teramat berharga untuk disia- siakan.

Selalu terkenang bagaimana dahulu jiwa-jiwa beriman yang demikan tegar dan teguh merebut dan mempertahankan kemerdekaan negeri ini, dengan segenap kekuatan yang dimiliki dengan harta, bahkan darah dan air mata.

Demi kemerdekaan itu, entah berapa ribu negeri ini mempersembahkan para syuhadanya dalam titian masa yang hingga beratus tahun hingga tanahnya  demikian subur bagi agama Allah yang mulia ini.

Suara anak-anak yang mengeja huruf Al-Quran, suara adzan yang menggema berpadu dengan denting pedang dan lembing yang beradu bersama letusan senapan dan mitraliur, itulah sketsa sejarah Jihad di negeri ini, hingga penjajah durjana hengkang dan terusir bersama kesombongan dan kekufurannya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.

Saat ini, di zaman ini, di negeri ini, saat negeri ini berada di persimpangan jalan, antara poros kebenaran dan poros kebatilan, antara pengusung agama Allah dan pengusung materialisme, maka saatnya anak cucu generasi beriman tampil ke depan mengambil alih kendali, menentukan arah baru negeri ini sebelum terlalu jauh menyimpang.

Bukankah itu telah menjadi janji Allah Ta’ala yang janjinya pasti terpenuhi.

﴿وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ﴾

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An Nur : 55)

Sesungguhnya saat nilai-nilai iman dan Islam yang mengendalikan negeri ini, saat itulah kesejahteraan yang sesungguhnya, saat itulah kemakmuran yang sejati, dan itulah pembangunan yang seutuhnya pada manusianya dan pada tanah air mereka. Iman, Islam dan taqwa adalah pintu- pintu keberkahan.

‎﴿وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَآءِ وَالأَرْضِ

Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pasti kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi” (QS. Al A’raf : 96)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd

Kaum muslimin, a’aanakumullah…

Membangun negeri bagi para pengusung iman dan kebenaran bukanlah persoalan sederhana, benar di sana ada harapan, namun di sana tidak sedikit halangan dan aral yang melintang bahkan pengusung kebatilan senantiasa bersinergi dan memperkuat diri bahkan dengan piawai menggoda sebagian pengusung iman dan kebenaran itu. Wallahul Musta’an.

Salah satu benteng orang-orang beriman yang mutlak diperkuat dan dijaga terutama dalam kondisi seperti ini adalah benteng ukhuwah dan kebersamaan.

Ukhuwah dan kebersamaan adalah kekuatan dan berkah.

Ukhuwah dan kebersamaan adalah solusi dari banyak masalah.

Ukhuwah dan kebersamaan adalah kemajuan dan modal utama keberhasilan.

Mewujudkan itu semua juga perlu kerja keras, perlu kesabaran, perlu inayah dan i’aanah dan pertolongan Allah.

﴿ وَاعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ اللّٰـهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ وَاذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ اللّٰـهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ    أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِۦٓ إِخْوٰنًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰـهُ لَكُمْ ءَايٰتِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan tali Allah dan janganlah kalian bercerai berai dan ingatlah nikmat Allah atas kalian ketika kalian saling bermusuhan kemudian Allah satukan hati kalian sehingga kalian menjadi bersaudara, dan ketika kalian berada di tepi jurang neraka maka Allah selamatkan kalian, demikianlah Allah menunjukkan tanda kekuasaan-Nya semoga kalian mendapatkan petunjuk.” (QS Ali Imran ; 103)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd

Kaum Muslimin Rahimakumullah

Ukhuwah dan Persaudaraan sejati berupa Ta’liful Qulub (berpadunya hati)  sejatinya adalah karunia Ilahi yang telah digariskan oleh-Nya kepada hamba-hamba Allah yang terpilih.

Hamba- hamba-Nya yang bertauhid dan beraqidah lurus.

Hamba-hamba-Nya yang menyembah Allah dengan sebaik-baiknya dan sebenar- benarnya.

Dunia beserta segala isi tak bisa membeli sebuah persaudaraan, namun sekali lagi itu merupakan anugerah Ilahi

وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعاً مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“…dan (Allah سبحانه و تعالى) Dia-lah Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfaal [8] : 63)

Namun pun demikian, Allah dan Rasul-Nya yang mulia telah memberikan petunjuk untuk mewujudkan ukhuwah yang hakiki itu bagi orang- orang yang beriman.

Cara utama dan pertama adalah dengan memperbaiki hubungan dengan Allah, menetapi syariat dan aturan-Nya, sebagian salaf mengatakan: perbaikilah hubunganmu dengan Allah, niscaya Allah memperbaiki hubunganmu dengan sesama manusia.

Diantaranya yang terpenting adalah menjadikan interaksi antar orang beriman dipenuhi kasih sayang, saling percaya, berlaku adil dan menghindar dari sikap hasad dan dengki, sabda Nabi:

لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَنَاجَشُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُوْنُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَاناً. الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَكْذِبُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ. التَّقْوَى هَهُنَا –وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ – بِحَسَبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ ) رواه مسلم

“Janganlah kalian saling dengki, saling menipu, saling membenci dan saling memutuskan hubungan. Dan janganlah kalian menjual sesuatu yang telah dijual kepada orang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya, (dia) tidak menzaliminya dan mengabaikannya, tidak mendustakannya dan tidak menghinanya. Taqwa itu di sini (seraya menunjuk dadanya sebanyak tiga kali). Cukuplah seorang muslim dikatakan buruk jika dia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim yang lain; haram darahnya, hartanya dan kehormatannya” (HR. Muslim).

Petunjuk Nabawi yang tentunya adalah wahyu Ilahi ini menjadi dasar bagi  kita dalam mewujudkan ukhuwah sejati itu.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd

Kaum Muslimin yang berbahagia.

Mewujudkan ukhuwah juga sangat terkait sejauh mana kita memperindah akhlak dan perilaku kita, Ibnu Qudamah Al Maqdisi dalam kitabnya yang masyhur “Mukhtasar Minhaj al Qasidien” mengatakan: “Persatuan adalah buah dari akhlak yang baik, perpecahan adalah buah dari akhlak yang buruk

Akhlak sejatinya adalah buah dari aqidah yang kuat dan iman yang mendalam. Semakin kuat iman seseorang maka akhlaknya pun seharusnya semakin baik dan indah.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd

Kaum Muslimin a’azzakumullah.

Kebutuhan kita akan persatuan dan ukhuwah semakin besar saat kita menengok kondisi global umat Islam hari ini, saat musuh  sudah di depan mata tidak pantaslah kiranya kita merawat perselisihan dan mematangkan perseteruan.

Palestina dan Masjidil Aqsha, Suriah, Rohingya dan setumpuk duka kaum muslimin belum mampu kita enyahkan, maka tak pantas kiranya kita saling berselisih untuk permasalahan yang remeh temeh.

Mereka semua berharap agar dari Negeri ini, yang 200 juta penduduk muslimnya bersatu, berukhuwah saling bersinergi lantas menjadi episentrum (kekuatan) umat dan memenangkan pertarungan ini.

Negeri ini adalah negeri harapan, negeri yang penduduknya penuh cita – cita mulia.

Wujudkan itu semua dengan semangat persatuan.

Wujudkan itu semua dengan ketaatan mutlak kepada Allah.

Wujudkan itu semua dengan akhlak yang mulia.

Teror dan angkara murka tidak akan menggoyahkan jiwa-jiwa beriman, tak akan mengotori kebersihan jiwa para pengusung kebenaran, walau sesaat dia muncul menyebar fitnah, namun kebenaran tak mungkin bisa terkalahkan biiznillah, katakan kepada para pengatur teror dan kejahatan, kalian takkan bisa membakar matahari.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd

Kaum Muslimin A’aanakumullah...

Diantara buah manis ukhuwah adalah terwujudnya Tanaashur, yaitu sikap saling tolong menolong.

Membangun negeri ini dan membangun dunia yang diridhai Allah berarti membangun dan menguatkan sikap dan sifat Tanaashur ini.

Hal itu berarti kita saling tolong menolong dalam ketaatan dan kebenaran.

Hal itu berarti kita saling tolong menolong dalam mencegah kemungkaran. Sejatinya jika kita mencegah saudara kita dari kezaliman dan kemungkaran berarti kita menolong dia untuk terhindar dari sesuatu yang sangat membahayakannya. Bukankah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda :

انصُرْ أخَاكَ ظالِمًا أو مظلومًا

Tolonglah saudaramu dalam keadaan dia berbuat zalim atau ia dizalimi” (HR. Bukhari & Muslim).

Menolong saat ia berbuat zalim adalah mencegahnya berbuat zalim dan mungkar.

Dan Tanaashur tentunya berarti memberi pertolongan kepada saudara kita yang membutuhkan, terutama kepada saudara kita yang terzalimi karena iman dan Islamnya

﴿وَإِنِ اسْتَنصَرُوكُمْ  فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ

Dan jika mereka meminta pertolongan padamu dalam urusan pembelaan terhadap agama ini, maka wajib atasmu memberi pertolongan“. (QS. Al-Anfaal :72).

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd

Kaum muslimin, a’aazakumullah…

Di era kemajuan teknologi komunikasi saat ini, yang ditandai dengan alat- alat komunikasi yang teramat canggih, kadang kita luput dan lalai, hingga tidak bijak menggunakannya, bahkan tidak sedikit yang terjatuh hingga ke lubang-lubang kehinaan dengan smartphonenya.

Mari, sebagai alumni Ramadhan kita kembali menjadi pengguna alat komunikasi canggih ini untuk kebaikan dan sebagai alat perjuangan.

Khusus kepada para pemuda harapan umat dan bangsa, bangkitlah, ambillah peran terdepan dalam perjuangan, jadilah prajurit kebenaran gagah perwira.

Dan kepada para ibu dan bapak, bagi setiap anaknya, setiap benteng keluarga bagi mata hatinya, berikan perhatian dan hati kita untuk mereka. Teteskan embun iman dan taqwa pada jiwa-jiwa mereka, jangan biarkan pencuri- pencuri aqidah dan akhlak merebut anak- anak kita, belahan jiwa dan pelanjut perjuangan.

Kepada para pemuda harapan perjuangan, jangan berleha- leha, bergeraklah, belajarlah, berjuanglah. Bangkitkan jiwa Shalahuddin pada dirimu, kobarkan semangat Thariq bin Ziyad dalam sanubarimu.

Kepada para muslimah, tiang negara yang kokoh, kokohkan dirimu dengan aqidah dan akhlak mulia, jadilah ibu yang hadir dalam jiwa anaknya dengan iman dan jihad, jadilah istri yang setia dan pelabuhan jiwa bagi suami anda hingga biduk rumah tangga indah berlayar ke pulau kebahagian, jadilah pejuang dakwah yang tangguh dalam kelembutanmu.

Kepada pemerintah dan para tampuk pimpinan negeri ini, ketahuilah bahwa dunia ini sementara. Waktu yang Allah berikan juga terbatas, maka berbuatlah untuk kebaikan dan kemaslahatan negeri, jangan sia-siakan amanah rakyat. Bertaqwalah kepada Allah, karena itulah jalan keselamatan. Jadikanlah tuntunan Syariat sebagai petunjuk menjalankan amanah itu, karena jika tidak kehancuran dunia dan akhirat adalah akibatnya.

Kepada segenap manusia-manusia tangguh, para pejuang dakwah dan pengusung kebenaran, tetaplah di jalan ini, istiqamahlah walau dunia sangat gemerlap menggoda.

Jangan sampai ukhuwah dan cinta di antara kita tercabik oleh kegersangan jiwa.

Maka bersimpuh dalam ibadah kepada Allah semoga meretas asbab kebersamaan yang sejati dan abadi hingga Syurga Ilahi

—————— Khutbah Kedua ——————

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd

Kaum muslimin hafizhakumullah…

Suatu sunnah yang kiranya sangat sayang untuk kita lewatkan dalam bulan syawal ini adalah berpuasa enam hari di dalamnya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian dilanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka dia seolah-olah berpuasa selama setahun.” (HR. Muslim).

Semoga Allah memberi kemudahan melaksanakannya.

Kaum muslimin yang diberkahi Allah.

Akhirnya, di penghujung khutbah ini, marilah kita menengadahkan jiwa seraya merundukkan diri, memohon dan berdoa untuk kebaikan diri, keluarga, bangsa dan umat kita.

Ya Allah, Rabb yang Maha Melihat dan Maha Mengetahui, tak ada yang terluput dari-Mu.  Dan tak ada yang dapat mengampuni semua dosa kami selain Engkau, ya Allah, maka  ampunilah kami, hamba-hamba-Mu yang faqir dan hina ini, Ya Allah ,ampuni segenap dosa kami setelah Engkau karuniakan Ramadhan-Mu tahun ini.

Tuliskanlah  nama kami sebagai hamba-Mu yang Kau bebaskan dari api Neraka-Mu, Ya Ghafur, Ya Rahman, Ya Rahiim…

Ya Allah, limpahkan ampunan dan rahmat-Mu yang tiada berbatas kepada kedua orangtua kami.

Ya Allah, hanya Engkau yang Maha mengetahui betapa banyak dosa dan durhaka kami pada mereka, maka  ampuni kami, ampuni kami, ampuni kedurhakaan kami, ya Allah…Beri kami waktu dan kekuatan untuk berbakti pada mereka saat hidup maupun dan setelah kepergian mereka menghadap-Mu

Ya Allah, Mereka juga hamba-hamba-Mu yang lemah, maka ampuni dosa dan salah mereka,

Ya Allah,  ringankan dan mudahkan jejak langkah perjalanan mereka di dunia dan akhirat, lapangkan dan terangi alam kubur mereka.

Ya Allah anugerahkan kami,  pertemuan terindah bersama mereka di dalam Jannah-Mu, ya Allah…

Ya Allah sejukkan pandangan kami dengan kesholehan keluarga dan anak-anak kami, jadikanlah mereka pejuang-pejuang  di jalan-Mu, jadikanlah kami dan mereka sebagai Ahlul Quran, yang Engkau tempatkan sebagai manusia-manusia pilihan-Mu.

Ya Allah berkahilah dan tuntunlah para ulama, ustadz,  dan para guru kami yang tak kenal lelah mengajar dan membimbing kami menggapai ridha-Mu, sucikan hati mereka, lapangkan rezki mereka, hindarkan mereka dari setiap marabahaya dan lindungi mereka dari setiap tipu daya dan makar musuh-musuh-Mu.

Ya Allah, Yang Maha Perkasa dan Maha kuasa, negeri kami dan negeri-negeri saudara kami kaum muslimin telah diliputi ancaman dan makar yang hebat, namun tak ada yang dapat mengalahkan keMahaperkasaan-Mu, ya Allah.

Lindungilah negeri kami dan negeri-negeri kaum muslimin dari setiap rencana keji dan jahat musuh-musuh-Mu.

Ringankan dan bebaskan penderitaan saudara-saudara kami yang terzhalimi, teraniaya, terampas hak-haknya, dan tertuduh dengan fitnah yang keji, Ya ‘Aziizu Ya Qawiyyu…

Ya Allah, Ya Rabbana… satukanlah kami umat Islam di atas jalan-Mu. Persatukanlah negeri-negeri kaum muslimin untuk selalu seiring memperjuangkan agama-Mu. Sadarkanlah para pemimpin negeri kaum muslimin untuk tidak tertipu dan terperdaya oleh genderang tari yang dimainkan oleh musuh-musuh-Mu, ya Allah…

Ya Allah, anugerahkanlah kami pemimpin negeri yang selalu takut hanya pada-Mu. Tuntunlah langkah mereka untuk memimpin negeri ini dengan panduan Syariat-Mu. Berikan kepada mereka para pengiring dan penasehat yang selalu takut kepada-Mu, dan jauhkan mereka dari para pengiring dan penasehat yang keji.

Ya Allah..bimbinglah kami dan anak istri kami agar senantiasa berada di jalan-Mu, meniti dan menyusurinya hingga bersama di Jannah-Mu

Ya Allah..satukan hati kami dalam azam perjuangan, dalam setia pada-Mu hingga Engkau ridha pada kami.

Ya Allah..damaikanlah setiap jiwa-jiwa beriman, satukanlah dalam ukhuwah karena-Mu, jangan biarkan permusuhan mengeram dalam jiwa-jiwa ini Ya Allah.

Ya Allah..jadikan setiap jengkal negeri ini bersaksi atas Jihad dan perjuangan kami menegakkan Syariat-Mu di atasnya.

‎اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّاتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا

Ya Allah, anugerahkanlah untuk kami rasa takut kepada-Mu, yang dapat menghalangi kami dari perbuatan maksiat kepada-Mu, dan (anugerahkanlah kepada kami) ketaatan kepada-Mu yang akan menyampaikan Kami ke surga-Mu dan (anugerahkanlah pula) keyakinan yang akan menyebabkan ringannya bagi kami segala musibah dunia ini. Ya Allah, anugerahkanlah kenikmatan kepada kami melalui pendengaran kami, penglihatan kami dan dalam kekuatan kami selama kami masih hidup, dan jadikanlah ia warisan dari kami. Jadikanlah balasan kami atas orang-orang yang menganiaya kami, dan tolonglah kami terhadap orang yang memusuhi kami, dan janganlah Engkau jadikan musibah kami dalam urusan agama kami, dan janganlah Engkau jadikan dunia ini sebagai cita-cita terbesar kami dan puncak dari ilmu kami, dan jangan Engkau jadikan orang-orang yang tidak menyayangi kami berkuasa atas kami.”

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةًوَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Sumber: Naskah Khutbah Seragam Idul Fitri 1439 Dewan Syari’ah DPP Wahdah Islamiyah