Konferensi Internasional di Mekkah Angkat Tema Persatuan Islam

Perwakilan Indonesia pada Konferensi Internasional Persatuan Islam di Makkah. 

(Mekkah) wahdahjakarta.com – Rabithah Alam Islami (Liga Dunia Islam) menyelenggarakan konferensi internasional di Mekkah Al Mukarramah,  12-13 Desember 2018.

Tema “al wahdah al islamiyah” atau persatuan Islam adalah isu sentral dalam konferensi kali ini. Para ulama dan dai diingatkan, tugas mereka adalah menyatukan kaum muslimin, dalam hal menyebarkan nilai-nilai sikap pertengahan (wasathiyyah), nilai-nilai ikatan persaudaraan (ukhuwwah), serta menjauhi ajakan-ajakan permusuhan dan perselisihan

Konferensi ini diselenggarakan dengan tujuan membuat langkah-langkah strategis dalam menangani permasalahan sektarian dalam Islam. Selanjutnya diharapkan akan menjadi  wadah komunikasi lintas madzhab untuk menjembatani terciptanya  rasa saling percaya, saling memahami, serta ta’awun (saling membantu dan bekerjasama) yang berkesinambungan.

Ketua Rabithah Alam Islami As-Syaikh Dr. Muhammad bin Abdul Karim mengajak seluruh peserta konferensi untuk membentengi umat dari perpecahan dan juga sikap ekstrim dalam beragama.

Konferensi  yang yang dihadiri 1000 Ulama dan Da’i dari 127 negara ini terselenggara atas dukungan penuh Raja Saudi Arabia, Raja Salman bin Abdul Aziz.

Turut hadir dalam konferensi  tersebut Ketua Dewan Pertimbangan MUI Prof. Dr.H. Din Syamsuddin, Wakil Ketua Umum MUI Pusat Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, Wakil Ketua MPR RI Dr. Hidayat Nur Wahid, dan Ketua Ikatan Ulama dan Dai Asia Tenggara yang juga Wasekjen MUI, Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin. [ags/ibw]

Petisi “Kami Bersama Maimon Herawati,” Tanda Tangan Sudah Capai 8000 Orang

Screhs schoot Petisi “Kami Bersama Maimon Herawati” yang sudah ditandatngani 8000 orang.

(Jakarta) wahdahjakarta.com— Muncul petisi di situs change.org “Kami Bersama Maimon Herawati” sebagai wujud dukungan kepada dosen Universitas Padjadjaran Bandung, Jawa Barat, itu sebagai pejuang penyelamat generasi muda bangsa.

“Sebagai seorang emak-emak, Teh Imun (Maimon Herawati) kerap mewakili jeritan para emak-emak lainnya, akan segala bentuk gempuran yang mengarah kepada potensi dekadensi moral generasi muda. Kebanyakan perjuangan itu dilakukan lewat literasi berupa postingan tulisan di medsos dan sejenisnya serta di ruang seminar dan diskusi,” tulis Irfan Abdul Gani selaku penggagas petisi.

Sejak dibuat Rabu (12/12/2018) kemarin, dan sampai Kamis (13/12/2018) siang ini, tanda tangan petisi sudah lebih dari 8000 orang, dan telah mengarah kepada angka 10.000 tanda tangan. Diprediksi petisi itu bisa menembus ratusan ribu tanda tangan.

“Saya mendukung Bunda Maimon dalam menjaga generasi muda dari polusi yang merusak,” kata Astuti Kusumorini dalam tulisannya di petisi itu.

Maimon mendapat bully-an, bahkan cemoohan, sampai intimidasi lewat alat komunikasi, setelah ia berhasil mendesak Komisi Penyiaran Indonesia untuk menghentikan seluruh iklan Shoppee yang menampilkan girlband asal Korea Selatan, Blackpink, di sejumlah layar kaca televisi.

Tak hanya itu, akun media sosial jenis aplikasi Instagram Maimon dihapus, dan akun Facebook-nya juga di-suspend.

Melalui petisi “Hentikan Iklan Blackpink Shopee”, Maimon menganggap, iklan Shopee yang menggunakan grup Korea Selatan, Blackpink ini, sering diputar pada program anak-anak. Satu film anak-anak bahkan memuat iklan ini setiap beberapa menit seperti Film Tayo do RTV, Jumat (7/12).

“Apa pesan yang hendak dijajalkan pada jiwa-jiwa yang masih putih itu? Bahwa mengangkat baju tinggi-tinggi dengan lirikan menggoda akan membawa mereka mendunia? Bahwa objektifikasi tubuh perempuan sah saja?” tegas Maimon, yang juga dikenal sebagai aktivis Muslimah, yang selama ini getol menyuarakan penderitaan warga Palestina. []

Terkait Iklan Blackpink, KPI Peringatkan 11 Stasiun Tv

(Jakarta) wahdahjakarta.com – Petisi penolakan iklan Blackpink Shopee yang dibuat Maimon Herawati berbuntut pada peringatan keras yang dilayangkan oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) kepada 11 stasiun televisi yang menayangkan iklan BLACKPINK Shopee yang dinilai tak sesuai norma kesusilaan.

Dalam surat peringatan yang ditandatangani oleh Ketua KPI Pusat, Yuliandre Darwis pada Selasa (11/12/2018) tersebut, KPI menilai muatan dalam iklan dan acara yang menampilkan beberapa wanita yang menari dengan pakaian minim tersebut tidak memperhatikan dan berpotensi melanggar ketentuan tentang penghormatan terhadap norma kesopanan yang diatur dalam Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) KPI tahun 2012.

“Kami meminta kepada produsen, agar dalam membuat iklan dan melakukan promosi untuk senantiasa memperhatikan brand safety, sehingga tidak menimbulkan persepsi negatif terhadap produk atau jasa yang ditawarkan,” ujar komisioner sekaligus Koordinator Bidang Isi Siaran KPI Pusat, Hardly Stefano sebagaimana dilansir dari kiblat.net.

“Surat peringatan juga ditembuskan pada Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) agar sesuai dengan MoU yang pernah ditanda-tangani bersama KPI, P3I melakukan pengawasan dan evaluasi iklan agar sesuai dengan etika pariwara dan norma yang berlaku di masyarakat,” lanjutnya seperti dikutip dari website resmi KPI, kpi.go.id.

Dengan dikeluarkannya surat peringatan dari KPI, Hardly berharap lembaga penyiaran segera melakukan perbaikan internal dengan menghentikan penayangan iklan Shopee yang dimaksud, dan menggantinya dengan tampilan lain yang tidak menimbulkan persepsi negatif.

 “Jika kami masih menemukan tayangan yang sama sebagaimana dimaksud dalam surat peringatan, KPI akan menjatuhkan sanksi sesuai dengan regulasi yang ada,” tegas Hardly. (sumber:kiblat.net)

Target Ribuan Pengunjung, Begini Persiapan Panitia Ummat Fest WI Di Makassar

Sekjend DPP Wahdah Islamiyah, Syaibani Mujiono, dalam sebuah press conference yang dilaksanakan di Warunk Upnormal Makassar Jl. Andi Djemma No.72, Banta-Bantaeng, Rappocini, Kota Makassar.

(Makassar) wahdahjakarta.com,- Ummat Fest 2018 akan digelar, 14-16 Desember mendatang, di Celebes Convention Center (CCC) Makassar di Jl. Metro Tj. Bunga, Panambungan, Mariso, Kota Makassar.

Event pameran syariah terbesar dan pertama di kota Makassar ini menargetkan ribuan orang pengunjung.

Demi menyukseskan acara yang akan dihadiri oleh sejumlah publik figur, komunitas hijrah, dan sejumlah tokoh pemerintah dan tokoh nasional, panitia telah merampungkan beberapa persiapan.

Sekjend DPP Wahdah Islamiyah, Syaibani Mujiono, dalam sebuah press conference yang dilaksanakan di Warunk Upnormal Makassar Jl. Andi Djemma No.72, Banta-Bantaeng, Rappocini, Kota Makassar, kegiatan ini merupakan rangkaian dari kegiatan musyawarah kerja nasional (MUKERNAS) Wahdah Islamiyah yang ke-11 yang nantinya akan dihelat di Hotel Sahid Raya Makassar pada tanggal 22-25 Desember 2018 dengan menghadirkan 1000 dai dari pelosok-pelosok negeri.

“Di CCC, kita akan bangun 169 stan yang akan menyediakan berbagai macam produk syariah. Tak hanya itu kita juga akan melaksanakan sejumlah kegiatan menarik lainnya,” ungkap Syaibani.

Rencananya kegiatan ini akan dihadiri oleh sejumlah publik figur diantaranya Teuku Wisnu, Arie Untung, Ricky Harun, Erwin (ayah kembar), dan Meyda Sefira. Dai nasional Bachtiar Natsir juga akan turut meramaikan kegiatan ini bersama dengan Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman.

Ummat Fest 2018 ini mengangkat tema “Bersama Membangun Kejayaan Ummat”. Setiap peserta akan dipersilakan masuk secara gratis.

“Sengaja kita gratiskan supaya masyarakat bisa ikut membaur bersama kita. Harapannya agar semangat hijrah itu akan selalu ada,” paparnya.

Lanjut Syaibani, setiap pelaksanaan kegiatan apapun tentu punya kendala-kendala, termasuk kendala yang dihadapi panitia mula dari awal pembentukan hingga penutupan event nasional ini.

“Kendala paling berat itu soal koordinasi tapi insya allah dengan kerja tim bisa teratasi” jelasnya.

“Insya Allah persiapan kami dalam menyambut kegiatan ini bisa dikatakan sudah siap. Tinggal nantinya pemaksimalan peserta yang bakal hadir,” pungkasnya. []

Gelar Mukernas XI, Wahdah Islamiyah Akan Usung Paradigma Baru

Sekjen DPP Wahdah Islamiyah, Syaibani Mujiono (tengah berkopiah hitam) saat konferensi pers panitia Mukernas XI Wahdah Islamiyah, Rabu (12/12/2018)

(Makassar) wahdahjakarta.com—Sekretaris Jendral (Sekjen) Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah (DPP WI), Syaibani Mujiono mengatakan, pada Musyawarah Kerja Nasional XI (Mukernas ke.11) mendatang, WI akan mengusung paradigma baru dalam pergerakan dakwahnya.

Hal itu disampaikan Syaibani saat menggelar konfrensi pers di salah satu rumah makan di Makassar, Rabu (12/12/2018).

Mantan Ketua Dewan Pimpinan Cabang Wahdah Islamiyah Makassar ini mengatakan, selama ini WI hanya berdakwah melalui pengajian-pengajian, tarbiyah (belajar Islam intensif setiap pekan), tebar dai nusantara, bidang sosial dan sebagainya. Namun, dalam masa kepemimpinannya sebagai Sekjen, Syaibani menyebut ingin membawa WI ke arah paradigma baru.

“Saat ini tanpa kita sadari, peranan perekonomian masih menjadi salah satu primadona bagi setiap lembaga atau ormas-ormas dalam menyukseskan setiap agenda dakwahnya. Dan untuk itu WI punya caranya sendiri,” ujarnya.

Paradigma yang menurutnya ingin diusung antara lain, menjajaki kerjasama dengan perbankan syariah dalam setiap item dakwah WI di seluruh pelosok negeri, perintisan usaha-usaha mikro, penyatuan setiap elemen kader Wahdah yang mempunyai usaha-usaha kecil, serta usaha perekonomian lainnya.

“Saat ini kita sudah punya kerjasama dengan beberapa bank syariah baik yang nasional maupun yang swasta. Insya Allah kita juga berencana akan merintis sebuah Perguruan Tinggi yang akan menyediakan prodi khusus perekonomian syariah,” jelas alumni STIBA Makassar ini.

Menurutnya, kiprah WI dalam membangun bangsa akan terus berlanjut. “Termasuk soal bagaimana perekonomian ummat bisa berkembang,” imbuhnya.

Sejumlah  persiapan  menuju mukernas XI telah dilaksanakan satu demi satu. Panitia penyelenggara kini sedang menyiapkan event besar menyambut mukernas WI XI  yang akan dihelat di Celebes Convention Center (CCC) Makassar.

Event terbesar dan pertama di kota Makassar ini mengusung tema “Ummat Fest 2018”. Panitia berrencana menghadirkan ribuan pengunjung.

“Ini kegiatan besar dan tagetnya tidak main-main. Ada ribuan orang yang insya Allah akan hadir. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa,” kata Ketua panitia Andri Amir di Makassar, Rabu (12/12/2018).

Kegiatan yang akan disajikan seperti tabligh akbar, sholat Jumat berjamaah, dialog hijrah, bazaar fashion dan kuliner. []

Harapan Pemprov Bangka Belitung Kepada Wahdah Islamiyah

Pengukuhan DPW Wahdah Islamiyah Bangka Belitung oleh Sekjen DPP Wahdah Islamiyah, Ustadz Syaibani Mujiono, Pangkal Pinang, Sabtu (8/`12/2018)

(Pangkal pinang) wahdahjakarta.com–Pemerintah Provinsi Bangka Belitung (Pemprov Babel) berharap Wahdah Islamiyah dapat berperan dalam menjelaskan pemahaman Islam yang benar kepada masyarakat.

“Sekarang ini juga banyak yang menafsirkan ayat Al-Qur’an sesuai hawa nafsunya. Maka kami mengharapkan dari Wahdah bisa menjadi bagian menjelaskan kepada masyarakat Islam yang sesungguhnya” ujar Syahruddin dalam sambutannya mewakili Guberbur Babel pada pengukuhan pengurus Dewan Pimpinan Wilayah Wahdah Islamiyah (BPW WI) Bangka Belitung, Sabtu (8/12/2018).

“Bapak Gubernur sangat merespon dari setiap kegiatan dakwah, terutama daerah pelosok terpencil yang masih kurang tersentuh oleh Pendidikan agama yang memadai, maka ini menjadi peluang Wahdah untuk hadir di sana.” Jelasnya sebagaimana dilansir dari wahdah.or.id.

Menurut Ketua Departemen Urusan Pengembangan Daerah Dewan Pimpinan Pusat (DPP) WI, Syamsuddin Kurru, DPW Wahdah Islamiyah Babel merupakan DPW ke-34, artinya Wahdah Islamiyah telah ada di 34 provinsi seluruh Indonesia.

“Dengan dikukuhkannya DPW WI Bangka Belitung menandakan Wahdah Islamiyah telah resmi berdiri di 34 Provinsi seluruh Indonesia.” Ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut juga dikukuhkan pengurus 3 Dewan Pimpinan Daerah (DPD) yakni DPD Wahdah Islamiyah Pangkal Pinang, Bangka dan Bangka Tengah.

Kegiatan dengan tema “Sinergitas Dakwah di Negeri Serumpun Sebalai” dihadiri dari perwakilan pemerintah provinsi Babel, Polda Babel, Ketua DMI Provinsi Babel dan sejumlah tokoh masyarakat, simpatisan dan kader Wahdah Islamiyah Babel.

Dalam sambutannya Sekejen DPP ustadz Syaibani menjelaskan tentang kiprah Wahdah Islamiyah baik di daerah maupun tingkat Nasional. Ia berharap pemerintah bisa mendukung kegiatan dakwah Wahdah Islamiyah.

Pengukuhan DPW WI Babel digelar di Ruang Pasir Padi, Kantor Gubernur Bangka Belitung. Pengukuhan dirangkaikan dengan ceramah Tabligh Akbar oleh ustadz Syaibani yang membahas kandungan Surah al-Ashr.

Diantara point materinya ustadz Syaibani menekankan pentingnya seorang da’i berdakwah di tengah masyarakat dengan mengamalkan prinsip yang ada dalam Surah al-Ashr.[sym]
Sumber: wahdah.or.id

Shaleh Tapi “Tak Berdaya Guna” Untuk Islam

Relawan Wahdah Peduli bersama TNI sedang melakukan evakuasi korban gempa dan tsunami palu di salah satu kawasan perumahan

Banyak orang shaleh di sekitar kita. Tidak sedikit dari mereka adalah pribadi yang ahli ibadah (gemar beribadah), faqih (keilmuan dan pemahaman agama yang memadai), cerdas, memiliki skill bagus, dan potensi-potensi lain yang cukup signifikan. Keberadaan mereka adalah modal utama bagi kebangkitan Umat Islam di zaman ini dan kelak.

Mereka adalah aset umat yang bila diberdaya-gunakan tentu akan sangat membantu proses kebangkitan Islam dan mengangkat derajat umat Islam di hadapan umat lainnya. Sebaliknya, mereka yang tidak berdaya guna – apalagi jika tidak berusaha memberdaya-gunakan dirinya – adalah salah satu sebab keterlambatan percepatan kebangkitan umat, bahkan pada kondisi tertentu bisa menjadi ancaman runtuhnya bangunan perjuangan yang telah dibangun oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sahabat radhiallahu ‘anhum dan para pendahulu kita yang shaleh (salaf).

“Daya Guna” di sini, adalah ‘amal. Atau dalam bahasa kita, makna pasangan kata ini mungkin dekat dengan istilah efektif, yakni sesuatu yang dapat membawa efek bagi selainnya. Tentu yang kita maksudkan di sini adalah efek yang bermanfaat, positif, dan membangun serta hal lainnya yang berafisliasi dengan makna – makna tersebut.

Penegakan agama Allah di muka bumi merupakan perkara yang mulia dan besar. Agama Islam sebagai satu-satunya agama yang haq tidak dapat tegak kecuali dengan kerja dan ‘amal. Hal ini karena agama Islam menempatkan kerja dan ‘amal sebagai sebuah bagian yang penting dalam keber-Islaman seseorang. Kita bahkan tahu bahwa keimanan yang benar adalah keimanan yang tidak hanya sebatas pada hati dan ucapan, namun harus dibuktikan dalam wujud ‘amal.

Mengapa Harus Ber’amal

Berikut kami paparkan beberapa urgensi dan alasan mengapa kita harus (segera) melakukan ‘amal dan kerja untuk agama kita, Islam yang mulia (tentu tidak hanya sebatas beberapa hal ini), yakni :

a. Sedikitnya Jatah Waktu

Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

Usia umatku, enam puluh sampai tujuh puluh tahun” .(HR. Tirmidzi).

Ini adalah ketetapan Allah, meskipun sangat sedikit yang bisa melampaui batas waktu itu, hanya bagi mereka yang dikehendaki oleh Allah, tentunya. Katakanlah seseorang hidup di dunia selama enam puluh tahun, maka perputaran kehidupannya kurang lebih berjalan seperti berikut :

Pertama, jika orang tersebut menghabiskan waktu selama 8 jam sehari untuk tidur (meskipun ada manusia yang lebih dari itu -kami berlindung kepada Allah-), maka selama hidupnya dia telah menghabiskan umurnya selama 175.200 jam atau 7.300 hari atau sekitar 20 tahun untuk tidur.

Kedua, jika orang tersebut menghabiskan waktu selama 10 jam sehari untuk bekerja maka selama hidupnya dia telah menghabiskan umurnya selama 219.000 jam atau 9.125 hari atau sekitar 25 tahun untuk bekerja.

Ketiga, jika orang tersebut menghabiskan waktu selama 6 jam sehari untuk mengurusi masalah – masalah keduniaan seperti: rumah tangga, anak, isteri, makan, minum, mengunjungi kerabat, berlibur, berbelanja, dan lainnya ditambah dengan ibadah -khususnya ibadah – ibadah mahdhah seperti : shalat, shaum, dll- maka selama hidupnya dia telah menghabiskan umurnya selama 131.400 jam atau 5.475 hari atau sekitar 15 tahun untuk mengurusi hal – hal tersebut. Wallahu A’lam.

Jika demikian keadaannya, berapa banyak waktu yang tersisa untuk ber’amal dan mempersembahkan sesuatu untuk agama Allah? Masih adakah waktu yang tersisa untuk ikut berlomba menggapai nilai – nilai ukhrawi dalam setiap derap langkah dan desah nafas kehidupan kita? Jika saja, setiap detik, menit, jam , hari, bulan dan tahun kita jadikan dan niatkan untuk ibadah/taqarrub kepada Allah, tentu akan sangat membahagiakan. Sebagaimana perintah Allah Ta’ala, artinya :” Tetapi, Jika tidak??? Kepada Allah jualah kita memohon perlindungan.

Karena itulah, riwayat hidup generasi salafusshaleh adalah cermin akan pemanfaatan waktu. Riwayat hidup Imam Nawawi rahimahullah merupakan riwayat hidup yang harum dan besar, yang layak merepresentasikan kondisi generasi salafusshaleh dalam mengelola waktu untuk ber’amal dan bekerja demi sebuah hal yang besar. Beliau adalah seorang ‘alim yang mengurangi waktu tidur, makan, minum, dan hal lainnya yang bisa menyibukkannya dari taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Ketika beliau pindah dari kampung kelahirannya, Nawa, ke Damaskus, ia semakin giat memanfaatkan waktu. Selama 20 tahun penuh beliau bahkan tidak pernah merebahkan tubuhnya ke bumi, melainkan hanya tidur bersandar pada buku – bukunya, sibuk belajar, dan memperbanyak ibadah. Salah seorang temannya pernah membawakan makanan yang masih ada kulitnya, namun beliau tidak bersedia memakannya. Beliau berkata, “Saya khawatir tubuhku lembab sehingga aku tertidur”. Demikianlah beliau berkejaran dengan waktu.

Segeralah menyadari sedikitnya jatah waktu untuk kita! Imam Hasan Al Bashri pernah berkata,

“Waktu hanya ada tiga, waktu kemarin yang sudah bukan milik kita lagi. Esok hari yang belum tentu kita punyai. Dan sekarang yang ada di tangan kita”.

Mengapa sang Imam mengatakan hal itu? Ya, tentu tidak lain karena beliau sangat memahami berharganya waktu yang sedikit ini.

Maka, kebiasaan manusia – manusia besar seperti mereka adalah menggunakan jatah waktu yang sedikit untuk sebuah karya besar.

b. Perbedaan derajat
Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah menjanjikan surga kepada orang -orang yang ta’at. Namun Allah memasukkan mereka ke surga semata – mata karena rahmatNya, bukan atas dasar hak seorang hamba sebagaimana yang diketahui. Tetapi keadilan ilahi menetukan bahwa seseorang yang mencurahkan segala tenaga dan potensinya untuk taat kepada Rabbnya dan berupaya menegakkan agama-Nya itu tidak sama dengan orang yang melalaikan semua itu. Begitu pula, tidak sama antara orang yang banyak mencurahkan harta, pikiran dan tenaga semata – mata untuk kejayaan agama, dengan orang yang hanya sedikit dan pelit mencurahkan nikmat tersebut. Manakala Allah telah menakdirkan perbedaan ini, tentu kesudahan mereka di surgaNya adalah pada tingkatan – tingkatan yang berbeda pula.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

Sesungguhnya surga itu mempunyai seratus tingkatan (derajat), yang semua itu Allah Subhanahu Wa Ta’ala sediakan untuk orang -orang yang berjihad di jalanNya. Sedangkan jarak antara dua tingkatan seperti jarak antara langit dan bumi. Jika kamu meminta surga kepada Allah maka mintalah surga firdaus karena merupakan surga yang paling luas. Di atasnya terdapat ‘arsy Rahman dan sungai – sungai tyerpancar darinya”. (HR. Bukhari).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

Sesungguhnya surga itu mempunyai beberapa kamar. Ruangan luarnya dapat dilihat dari dalam, begitu juga ruang dalamnya, dapat dilihat dari luar, Kemudian seoran A’rabi berdiri seraya bertanya : Wahai Rasulullah, untuk sipakah kamar – kamar itu? Kemudian rasulullah menjawab : “Untuk orang yang selalu berkata baik, suka memberi makan orang lain, membiasakan puasa dan suka melakukan shalat malam sewaktu manusia sedang terlelap”. (HR. Tirmidzi).

Diriwayatkan dalam sebuah hadits yang lainnya,

Sesungguhnya penduduk surga saling melihat penduduk surga yang ada di atasnya, seperti mereka memandang bintang yang berkilau, seperti mutiar yang melintas di ufuk langit dari arah timur atu barat, karena keutamaan yang ada pada mereka. Para sahabat bertanya : Wahai Rasulullah, bukankah tempat itu untuk para nabi? Sedangkan orang lain tidak dapat mencapainya? Lalu rasul menjawab : Ya, demi Dzat yang jiwaku ada dalam kekuasaanNya, tempat itu juga untuk orang – orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan utusanNya”. (HR. Bukhari).

Dan Nabi pernah menceritakan perbedaan derajat bagi penghuni surga,

“Dua surga yang bejana dan isinya terbuat dari perak. Dan ada surga yang bejana dan isi keduanya terbuat dari emas…” (HR. Bukahri).

Lihatlah, saudaraku. Lihatlah mimpi dan berita gembira dari Allah ini dengan mata hati nurani yang bersih sebelum melihatnya dengan kasat mata, agar engkau memperoleh bashirah, cahaya yang terang, betapa surga itu adalah harga yang mahal pun tingkatan – tingkatan yang ada di dalamnya.

Betapa orang – orang shalih sebelum kita berusaha keras mendapatkan derajat – derajat yang tinggi itu. Pun mereka berkompetisi untuk mengungguli derajat orang – orang selain mereka. Dalam kitab Ar-Ruh karya Ibunl Qayyim Al Jauziyah rahimahullahu disebutkan beberapa kisah tentang mereka, di antaranya :

Ketika Muhammad bin Sirin meninggal dunia, seorang sahabatnya sangat berduka atas kepergiannya. Kemudian ia bermimpi melihatnya dalam keadaan yang baik. Ia bertanya , “Wahai saudaraku, aku lihat kamu dalam keadaan yang membahagiakan diriku, lalu apa yang Allah tetapkan pada Hasan (Hasan bin Yasar Al Bashri)? Ia menjawab : Ia diangkat di atasku tujuh puluh derajat”. Aku berkata : Mengapa bisa demikian sedangkan kami melihatmu lebih istimewa dibandingkan dia? Ia menjawab : Itu karena ‘duka citanya’ yang panjang”.

Ketika Rabi’ah (Rabi’ah al-Adawiyah, ahli ibadah yang masyhur) meninggal dunia, seorang sahabatnya bermimpi melihatnya memakai pakaian dan cadar dari sutra. Sedangkan dulunya ia dikafani dengan memakai jubah dan cadar dari wol. Maka sahabatnya itu bertanya : Di mana kain jubah dan cadar dari kain wol yang menjadi kafanmu? Ia menjawab : Demi Allah, kain itu dilepas dariku dan diganti dengan pakaian yang kamu lihat padaku ini. Sedangkan kain yang menjadi kafanku itu dilipat, diberi stempel kemudian diangkat ke illiyyin agar sempurna pahalanya bagiku di hari kiamat…. (selanjutya ia – sahabatnya – bertanya lagi), Apa yang diperbuat oleh “Abdah binti Abi Kilab (ahli ibadah dan zahid)? Ia menjawab : Jauh, jauh, demi Allah dia telah mendahului kami mendapatkan derajat yang tinggi. Kemudian sahabatnya berkata : Apa sebabya, padahal kamu menurut manusia adalah orang yang paling banyak ibadahnya? Ia menjawab : Sesungguhnya Abdah tidak pernah mempedulikan bagaimana keadaan dirinya di dunia di waktu pagi atau sore. Lalu aku bertanya lagi : Apa yang diperbuat oleh Abu Malik (Abu Malik al- ‘Abid, wiridnya setiap hari adalah shalat empat ratus raka’at, Shifatush-Shafwa : 3/357-360)? Ia menjawab : Dia mengunjungi Allah kapan pun ia inginkan. Sahabatnya bertanya lagi, Apa yang diperbuat oleh Basyar bin Mansyur (orang yang jujur, ahli badah dan zahid)? Ia pun menjawab : Bukh, bukh (kalimat yang diucapkan ketika memuji). Demi Allah ia diberi melebihi apa yang ia inginkan. …”.

Imam Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Sesungguhnya aku sangat menginginkan satu tahun saja dari usiaku seperti Ibnu Mubarak (seorang ‘alim, ‘abid, mujahid, dermawan dan berbagai keutamaan lainnya). Tapi aku tidak mampu melakukannya . Bahkan dalam tiga hari sekalipun”. Mengapa Sufyan Ats-Tsauri mengatakan hal itu? Padahal beliau adalah ulama yang terkenal luar biasa dalam beribadah. Sampai – sampai ada salah seorang salaf di zamannya mengatakan, “Sufyan di zamannya, seperti Abu Bakar dan Umar di zamannya”.

Kisah – kisah ini tidaklah kemudian menjadi sandaran dan pijakan kita dalam ber’amal, sebagaimana dalil – dalil al-Qur’an dan sunnah yang shahih. Namun, setidaknya kisah dalam mimpi – mimpi tersebut, sungguh menghembuskan aroma, semangat dan nafas keimanan.

c. Jalan Para Nabi dan Rasul serta Reformis (Muslihun)
Tidak syak lagi, bahwa ber’amal, melakukan kerja – kerja dalam rangka dakwah, amar ma’ruf nahi munkar, merupakan jalan para nabi dan rasul serta para reformis (mushlih), dalam kafilah cahaya yang panjang sejak Nabi Adam hingga datangnya hari kebangkitan kelak. Mereka yang bergabung dalam kafilah ini, akan mendapatkan kemuliaan besar saat ini dan nanti. Mereka adalah orang – orang yang memberikan goresan sejarah perjuangan, sehingga lembaran – lembaran sejarah tak kuasa untuk luput mencatat riwayat hidup mereka. Sedangkan mereka yang tertinggal dari kafilah ini akan terperangkap dalam lingkaran kemalasan, kejemuan, was – was, tidak menentu arah, rapuh dan tekanan. Wallahu Musta’an.

d. “Mereka”Pun “Berkarya”
Mereka adalah para pengusung kekafiran dan para penyerunya. Bukankah kita tahu, betapa umat Islam saat ini sedang mengalami ancaman dan rongrongan yang luar biasa dari para penyeru –misionaris- kekufuran. Tujuan mereka tidak lain adalah menggoncang keimanan umat sehingga akhirnya rela melepasakan keimanan dan keislaman mereka (murtad).

Dalam perjalanan sejarah, tercatat begitu banyak “dai – dai” mereka yang mampu bekerja “banting-tulang”, dengan pengorbanan yang tinggi yang ketika mendengar dan membaca cerita – cerita “’amal” mereka, kita tak sengaja “menelan ludah” dan “menggelengkan kepala” pertanda takjub akan heroisme mereka.

Seorang anggota tim dakwah daerah dari lembaga keagamaan di wilayah Makassar dan sekitarnya pernah menuturkan kisahnya. Saat itu, tim dakwah menjalankan misi dakwahnya ke sebuah daerah terpencil dan terisolir di kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Desa Sicini, namanya. Perjalanan menuju ke sana sarat dengan perjuangan. Betapa tidak, akses jalan dan prasarana perhubungan menuju ke desa tersebut nyaris tidak ada dan sungguh bagi mereka yang bernyali pas-pasan akan ciut dibuatnya. Batu cadas yang tajam ditambah jalan yang amat landai, membuat semangat dan ghirah para da’i – da’i “pilihan” itu semakin menyala. Mereka melaju kendaraannya dengan goncangan bak ombak di tengah lautan yang luas. Sehingga sempat terpikir oleh mereka, adakah desa itu memilki penduduk yang menetap. Kalau pun ada, bagaimana mereka mampu bertahan dengan kesulitan seperti ini. Akhirnya ketika mereka tiba, tampaklah sebuah fenomena yang tidak disangka. Ternyata, di desa, telah ada dan hidup seorang misionaris selama puluhan tahun. Ia telah mampu mewarnai desa tersebut dengan warna – warna kekafiran dan mengkafirkan sebagian dari penduduk desa yang sebelumnya memeluk agama Islam dari nenek moyang mereka. Kenyataan ini, membuat kita sadar, betapa “mereka” mampu “berdaya guna” bagi agamanya. Padahal, usaha mereka mengorbankan daya, harta benda dan keluarga, tidak akan mengangkat mereka dari jurang kenistaan dan siksaan. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, artinya ;

“ Sesungguhnya orang-orang yang kafir, harta benda dan anak-anak mereka, sedikit pun tidak dapat menolak (siksa) Allah dari mereka. Dan mereka itu adalah bahan bakar api neraka” (QS Al Imran : 10).

Sekali lagi, kita harus segera ber’amal dan mengakhiri ketidakberdayaan. Jika saja para pengusung kekafiran dan kesesatan (yang tidak memiliki konsep keimanan yang haq) bekerja keras siang dan malam memperjuangkan kejayaan agama dan millah mereka serta berusaha untuk menambah pengikut yang diharapkan dapat membantu eksistensi mereka, mengapa kita sebagai seorang mu’min yang berupaya meraih kesempurnaan iman dengan ‘amal, peniti jejak para salafussshaleh, pengusung manhaj yang haq, dan pengejar kenikmatan surga dan bidadari yang ada di dalamnya, tidak ber’amal lebih keras atau setidaknya dengan ‘kekerasan’ (dengan kadar) yang sama dengan “kekerasan” mereka untuk meninggikan agama Allah?

Penutup

Kita harus memahami betapa penting memberdayakan segala keshalihan, potensi dan bakat dalam bentuk ‘amal untuk agama, sebagai sebuah konsekuensi akan keimanan kita. Dan yang pasti, hal ini adalah sebuah kompetisi mencapai puncak kemuliaan, rahmat dan keridhaan Allah Jalla Wa ‘Ala .

Maka, hendaknya kepada orang – orang yang telah berikrar dengan keimanannya, mereka yang telah mampu untuk mewujudkan keshalihan individunya, dan mereka yang Allah telah anugerahkan beragam nikmat dan potensi dalam dirinya, segeralah ber’amal! Saatnya mengakhiri ketidakberdayaan. Berdaya guna untuk Islam. Berdaya guna untuk sebuah karya menuju cita mulia. Kemuliaan agama Allah di dunia. Kenikmatan tak terhingga di surga.

Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”.(QS. At Taubah : 105).

Wallahu A’lam.(Abu Mujahid)

Maraji’ :
Ajzu Ats Tsiqat, DR. Muhammad ibn Hasan ibn ‘Aqil Musa Syarif (edisi Indonesia : Shalih Tapi Tak Berdayaguna), Rabbani Press, Jakarta, Oktober 2002.
Etos Kerja Seorang Muslim, Muh. Ihsan Zainuddin.

From Zero To Hero With Qur’an

Pamflet Seminar Al Qur’an FROM ZERO TO HERO WITH QUR’AN yang akan diadakan di Jakarta Utara pada Ahad(16/12/2018) di Kedai Kang Haji, Jakarta Utara.

Seminar Al-Qur’an
Khusus ikhwan

FROM ZERO TO HERO WITH QUR’AN

Judul & Pemateri :
1. The legend of Muslim heroes
(Ust. Abdullah Ali, SH)
2. Muslim Zaman Now
(Ust. Sarmin Idris, SH)
3. AlQur’an adalah solusi
(Ust. La Ode Munawan Lc, Al Hafidz) 

WAKTU & TEMPAT

Ahad, 16 Desember 2018
Jam 08:00 – 11:30
Kedai Kang Haji L.2,
Jln. Bugis no 3B, Tanjung Priok, Jakarta Utara

Cara pendaftaran

Ketik SA_NAMA_ALAMAT
kirim ke SMS, WA :
08 212 4950 117

Atau Datang langsung ke :
Markaz Qur’an Wahdah Jakarta Utara
Jl. Swasembada Barat IX no 19a, kel. Kebon Bawang, kec. Tanjung Priok,  Jakarta Utara

 

FASILITAS & MANFAAT :

  1. Ilmu

  2. Teman baru

  3. Snack

  4. Makan siang

  5. Kelompok belajar baru

GRATIS

PESERTA TERBATAS!!!

 

من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه
“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya”

(HR. Muslim).

Keutamaan Shalat Berjama’ah


Shalat merupakan rukun Islam yang kedua setelah syahadatain. Shalat juga merupakan tiang agama dan amalan yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Melaksanakan Shalat secara berjama’ah merupakan ketaatan kepada Allah yang sangat mulia. Shalat berjama’ah juga merupakan salah satu syi’ar Islam yang mulia yang memiliki fadhilah dan keutamaan yang banyak.

Keutamaan shalat Berjama’ah yang akan dibahas dalam tulisan ini terkait dengan seluruh aktivitas yang terkait dengan shalat berjama’ah. Mulai dari berjalan menuju masjid, berdiam di masjid menanti waktu shal;at berjama’ah, dan sebagainya;

1. Naungan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada Hari kiamat bagi Orang yang Hatinya Terpaut dengan Masjid

Salah satu fadhilah yang didapatkan dari shalat berjama’ah adalah barang siapa yang mempunyai rasa cinta yang dalam terhadap masjid untuk melaksanakan shalat berjama’ah di dalamnya maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan naungan pada hari kiamat kelak. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ …وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ… : متفق عليه

“Tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya (diantaranya)……dan seseorang yang hatinya selalu terpaut pada masjid” (Muttafaqun Alaihi)

Imam An-Nawawi ketika menjelaskan makna hadits di atas mengatakan;

“Orang mempunyai rasa cinta yang dalam terhadap masjid dan kontinyu dalam melaksanakan shalat berjama’ah di dalamnya bukan berarti selalu tinggal di masjid” (Syarah An-Nawawi 7 : 121)

2. Keutamaan Berjalan ke Masjid untuk Shalat Berjama’ah

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah menjelaskan bahwa setiap langkah seorang muslim menuju ke masjid merupakan salah satu sebab pengampunan dosa dan pengangkatan derajat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ …وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ… : رواه مسلم

Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang dengannya Allah akan menghapuskan dosa dan mengangkat derajat ?” Para shahabat berkata : “Tentu, Ya Rasulullah”, Beliau bersabda ” ….dan memperbanyak langkah menuju ke masjid …” (HR. Muslim).

Pengangkatan derajat artinya kedudukan yang tinggi di Syurga (syarah An-Nawawi 3 : 141).

Penghapusan dosa dan pengangkatan derajat tidak hanya didapatkan oleh orang yang memperbanyak langkahnya menuju ke masjid, akan tetapi fadhilah ini akan didapatkan juga ketika kembali ke rumahnya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam :

مَنْ رَاحَ إِلَى مَسْجِدِ الْجَمَاعَةِ فَخُطْوَةٌ تَمْحُو سَيِّئَةً وَخُطْوَةٌ تُكْتَبُ لَهُ حَسَنَةً, ذَاهِبًا وَرَاجِعًا : رواه أحمد

“Barang siapa yang menuju ke masjid untuk shalat berjama’ah maka setiap langkahnya menghapuskan dosa dan ditulis padanya satu kebaikan baik ketika ia pergi maupun ia kembali” (HSR. Ahmad).

3. Keutamaan Menunggu Shalat

Dan diantara fadhilah shalat berjama’ah adalah barang siapa yang duduk untuk menunggu shalat ia akan senantiasa dido’akan oleh para malaikat, makhluk yang tidak pernah bermaksiat kepada-Nya.

Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

أَحَدُكُمْ مَا قَعَدَ يَنْتَظِرُ الصَّلاَةَ فِي صَلاَةٍ مَا لَمْ يُحْدِثْ تَدْعُو لَهُ الْمَلاَئِكَةُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ ارْحَمْه : رواه مسلم

“Apabila salah seorang dari kalian duduk untuk menunggu shalat di masjid maka dia senantiasa dalam keadaan shalat selama ia tidak berhadats (dan) para malaikat akan mendo’akannya : “Ya Allah ampunilah dia, Ya Allah rahmatilah dia” (HR. Muslim)

4. Keutamaan Berada di Shaf Pertama

Dalam shalat berjama’ah terdapat shaf dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah melebihkan shaf awal atas shaf lainnya dikarenakan didalamnya terdapat fadhilah yang sangat agung. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ اْلأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلاَّ أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوا : رواه البخاري

Kalau seandainya manusia mengetahui apa yang terdapat dalam adzan dan shaf pertama kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan melakukan undian niscaya mereka akan melakukannya” (HR. Bukhari).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak menjelaskan tentang fadhilah apa yang terkandung didalamnya hal ini menunjukkan betapa besarnya pahala yang terdapat didalamnya. Dan telah datang beberapa riwayat yang menjelaskan bahwa shaf awal juga menyerupai shafnya para malaikat, sebagaimana juga terdapat riwayat bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala dan malaikat-Nya bershalawat terhadap orang-orang yang berada di shaf awal dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah memintakan ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas orang-orang yang berada di shaf pertama dan kedua (Lihat Ahammiyatu Shalatil Jama’ah : 21-24).

5. Keutamaan berada di shaf sebelah kanan

Diriwayatkan dari Aisyah berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى مَيَامِنِ الصُّفُوفِ : رواه أبو داود

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat atas orang-orang yang berada pada shaf sebelah kanan” (HHR. Abu Daud dan Ibnu Majah).

Para shahabat menyukai untuk senantiasa berada di bagian kanan shaf apabila mereka shalat dibelakang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Al-Bara’ Radhiyallahu ‘anhu berkata :

كُنَّا إِذَا صَلَّيْنَا خَلْفَ رَسُولِ اللهِ أَحْبَبْنَا أَنْ نَكُونَ عَنْ يَمِينِهِ فَيُقْبِلُ عَلَيْنَا بِوَجْهِهَِ : رواه أبوداود

Kami apabila shalat di belakang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam lebih kami sukai untuk kami berada di sebelah kanan beliau karena beliau menghadapkan wajahnya (pertama kali) kepada kami (saat salam)” (HSR. Abu Daud)

6. Keutamaan Mengucapkan Amin

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah menjelaskan tentang fadhilah mengucapkan amin bersama-sama imam dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا قَالَ اْلإِمَامُ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ فَقُولُوا آمِينَ فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ قَوْلُهُ قَوْلَ الْمَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ : رواه البخاري

Apabila imam mengucapkan “ghairul maghduubi ‘alaihim waladdhaliin” maka katakanlah “Amin” karena barang siapa yang aminnya bertepatan dengan aminnya para malaikat maka akan diampuni dosanya yang telah lalu ” (HR. Bukhari)

7. Pengampunan dosa atas orang yang melaksanakan shalat berjama’ah setelah menyempurnakan wudhu

Diantara keutamaan shalat jama’ah adalah kabar gembira dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam atas orang yang shalat berjama’ah setelah menyempurnakan wudhu berupa pengampunan dosa. Diriwayatkan dari Utsman bin Affan berkata “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

مَنْ تَوَضَّأَ لِلصَّلاَةِ فَأَسْبَغَ الْوُضُوءَ ثُمَّ مَشَى إِلَى الصَّلاَةِ الْمَكْتُوبَةِ فَصَلاَّهَا مَعَ النَّاسِ أَوْ مَعَ الْجَمَاعَةِ أَوْ فِي الْمَسْجِدِ غَفَرَ اللهُ لَهُ ذُنُوبَهُ : رواه مسلم

“Barang siapa yang berwudhu dan menyempurnakannya kemudian berjalan untuk melaksanakan shalat fardu bersama dengan manusia atau secara berjama’ah atau di dalam masjid maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengampuni dosa-dosanya” (HR. Muslim)

8. Keutamaan shalat berjama’ah atas shalat sendiri

Telah terdapat beberapa riwayat yang menjelaskan tentang ganjaran bagi orang yang melaksanakan shalat secara berjama’ah berupa pelipat gandaan derajat atas orang yang shalat secara sendiri-sendiri. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda;

( صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلاَةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً ( رواه البخاري

“Shalat berjama’ah lebih afdhal dari shalat sendiri sebanyak dua puluh derajat” (HR. Bukhari)

9. Dua pembebasan atas orang yang senantiasa mendapatkan takbir pertama imam selama empat puluh hari

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

مَنْ صَلَّى للهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ اْلأُولَى كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَتَانِ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَااقِ : رواه الترمذي

Barang siapa yang shalat selama empat puluh hari secara berjama’ah dan selalu mendapatkan takbir pertama, maka di tetapkan baginya dua pembebasan : Pembebasan dari api neraka dan pembebasan dari nifaq” (HHR. Tirmidzi).

Ya Allah, janganlah Engkau wafatkan kami sebelum kami mendapatkan keutamaan-keutamaan ini, Amin.

-Syamsuddin-
Maraji’ : Ahammiyah Shalati Al Jama’ah, Dr. Fadhlu Ilahi
(Al Fikrah Tahun 2 Edisi 18)

Melalui Workshop Dakwah Media, Tingkatkan Syi’ar Islam di Medsos

(Bandung) wahdahjakarta.comDalam rangka meningkatkan syi’ar Islam di Media Sosial (Medsos) Wahdah Islamiyah Jawa Barat menggelar workshop dakwah media di Bandung, Jawa Barat, Sabtu-Ahad (8-9/12/2018).

Kegiatan workshop yang didukung penuh oleh LAZIS Wahdah ini mendapatkan banyak kesan positif dari peserta.

“Alhamdulillah acara berjalan dengan lancar, ini termasuk workshop dengan peserta terbanyak yg diisi oleh Infokom DPP.” ucap ketua panitia, Yan Syafri Hidayat.

“Mudah-mudahan dapat ditindaklanjuti dalam bentuk kerja nyata dan pertemuan rutin Infokom, khususnya untuk daerah Jawa Barat”, Imbuhnya penuh harap. 

Peserta terjauh yang mengikuti workshop ini, Ustadz Nur Kholiq yang berasal dari Lampung mengaku banyak mendapatkan ilmu bermanfaat setelah mengikuti workshop ini. Sekretaris DPD Lampung ini berharap kegiatan seperti ini diadakan lagi karena penting untuk perkembangan dakwah di media sosial.

“Alhamdulillah dengan diadakannya kegiatan ini, saya bisa menambah ilmu saya terutama di bidang IT supaya bisa menyebarkan dakwah di media media sosial yang ada, dengan mengikuti kegiatan ini saya menjadi tambah mengerti bagaimana cara dakwah di media sosial, semoga kegiatan seperti ini bisa dilaksanakan kembali di kegiatan selanjutnya karena ini sangat penting untuk kegiatan dakwah karena orang sekarang lebih banyak mengakses internet”. Ujarnya saat diwawancarai Tim Media LAZIS Wahdah Jakarta, Ahad (9/12/2018). (rsp)


Dukung Dakwah Qur’an Untuk Palu dan Indonesia dengan menyalurkan donasi melalui: Bank Syariah Mandiri (kode bank: 451) No Rek: 773 800 8008 an Lazis Wahdah Jakarta Sedekah

🎁 Donasi 1000 Qur`an Palu & Indonesia : Mulai Rp.110.000,- (Paket Bersama Pendidikan dan Pembinaan).
Berlaku sampai dengan 11 Desember 2018

📲Konfirmasi Transfer WA/SMS ke 08119787900 (mohon dengan menyertakan bukti transfer)

#1000QuranForPalu
#1000QuranForIndonesia
#pedulinegeri
#melayanidanmemberdayakan