Monitoring dan Distribusi Paket Bantuan Korban Banjir Bandang Aceh Tenggara

(Kutacane) wahdahjakarta.com–Banjir bandang yang menerjang tiga desa di Kabupaten Aceh Tenggara mengakibatkan 20 rumah rusak berat, dua jembatan tersumbat material banjir, dan satu masjid hanyut. Banjir bandang dan tanah longsor tersebut terjadi di tiga kecamatan, yakni Ketambe, Badar, Lauser di Aceh Tenggara, Sabtu (24/11) dan Senin (26/11).

Kedua bencana itu telah merusak 60 rumah, satu jembatan, dan jalan lintas nasional hingga menyebabkan 1.225 warga terdampak, serta 216 jiwa atau 47 keluarga terpaksa mengungsi.

Sementara itu, di Kayu Metangur tiga rumah hanyut terbawa air dan di Natam Lama terdapat satu jembatan sepanjang 40 meter tersumbat material banjir.

Sedikitnya 52 keluarga yang merupakan warga Dusun Lawe Menderung, Kecamatan Natam Baru mengungsi ke Madrasah Tsanawiyah Darul Hasanah di desa setempat.

Nunung Ummu Fadhilah, relawan muslimah LAZIS Wahdah menuturkan, dalam aksi monitoring Senin (15/12019) tersebut, LAZIS Wahdah mendistribusikan beragam paket bantuan seperti selimut, perlengkapan dapur, bahan dapur, pakaian layak pakai, dan sejumlah perlengkapan tulis menulis.

“Kita sudah datang beberapa kali ke lokasi ini. Alhamudlillah, respon masyarakat sangat menggembirakan,” tuturnya.

Prosesi serah terima bantuan kepada 21 kepala keluarga ini bertempat di Desa Natam, Kec. Badar, Kabu. Aceh Tenggara. []

Jika Calon Istri Membatalkan Lamaran, Lalu Berubah Pikiran dan Minta Lanjut

Ilustrasi: Lamaran

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum,

Pertanyaan saya apabila pihak perempuan membatalkan pertunangan secara sepihak kemudian si wanita tersebut ingin meminta kembali hubungan mereka dilanjutkan apakah masih harus kembali melakukan proses lamaran ulang atau bisa dilanjutkan ke jenjang pernikahan tanpa harus melamar terlebih dahulu kembali? Mala – Kendari

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullah.

Hayyakillah ukhti.

Pertunangan dalam KBBI artinya bersepakat (biasanya diumumkan secara resmi atau dinyatakan di hadapan orang banyak) akan menjadi suami istri. Di negeri kita, proses ini adalah mukadimah kesepakatan sebelum menikah.

Dalam syariat Islam, proses tersebut mirip dengan proses Khitbah (lamaran), dan proses ini diisyaratkan di dalam beberapa hadits Nabi, di antaranya:

Artinya: “Dari Mughirah bin Syu’bah, beliau mengatakan: Saya telah meminang seorang wanita, maka Rasulullah shallallahu alaih wa sallam mengatakan kepadaku: “Apakah engkau telah melihatnya (wanita yang engkau pinang)?” Mughirah menjawab: “Belum”

Maka Rasulullah bersabda: “Lihatlah wanita yang engkau pinang itu, sesungguhnya (melihat wanita yang dipinang) menjadikan pernikahan lebih langgeng.” (Terj. HR Ahmad dll)

Dalam hadits Jabir, Rasulullah bersabda:

Artinya: “Jika salah seorang di antara kalian hendak meminang seorang wanita, maka jika dia dapat melihat sesuatu yang menarik minatnya untuk menikahinya, maka hendaknya ia melakukannya.” (Terj. HR Ahmad dll).

Substansi dari khitbah adalah meminta wanita untuk dijadikan istri. [Asy-Syarhul Mumti’ 12/23].

Hukum asal dari proses ini berkisar antara mubah dan sunnah, meskipun sebagian ulama lebih menguatkan bahwa hukumnya adalah sunnah, sebab khitbah adalah sarana menuju sesuatu yang sunnah (yaitu pernikahan) dan hukum sarana identik dengan hukum tujuan.

Di antara hikmah dari pensyariatan khitbah, adalah:

1- Proses khitbah (jika sang wanita sepakat) adalah “pagar pertama” bagi wanita, bahwa ia sudah ditentukan calon “pemiliknya”, dan tidak boleh bagi laki-laki lain untuk “mengganggunya”, Rasulullah bersabda:

Artinya: “Tidak boleh seorang laki-laki meminang wanita yang telah dipinang saudaranya, sampai mereka menikah atau ditinggalkan (gagal menikah). (terj. HR Bukhari & Muslim).

2- Sebagai sarana untuk memantapkan azam dan tekad menikah. Olehnya itu, sebelum proses ini, ada anjuran untuk “nadzhar” atau melihat wanita yang hendak dinikahinya, atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dianggap penting bagi langgengnya pernikahan, agar tidak terjadi penyesalan setelah menikah, dengan catatan besar; harus ditemani oleh pihak ketiga atau keluarga dari wanita tersebut.

3- Sebagai sarana untuk mendiskusikan tentang masalah pernikahan; waktunya, maharnya dsb, tentunya dengan ditemani oleh mahram atau walinya.

Perlu diketahui, bahwa khitbah tidak memiliki konsekuensi apa pun kecuali haramnya sang wanita untuk dikhitbah oleh pihak lain, selain itu tidak ada. Sehingga sang wanita masih berstatus “asing” secara syar’i bagi lelaki yang meminangnya, dan tidak boleh (ketika dalam proses ini) “berkhalwat” alias berdua-duaan, dengan dalih dan alasan apa pun. Dan jika ingin lebih mengenal sang calon atau membicarakan masalah pernikahan dan pernik-perniknya, maka seyogyanya dilakukan sesuai dengan koridor syar’i, seperti yang kami isyaratkan.

Dianjurkan untuk tidak berlama-lama dalam proses ini, bahkan sebaiknya cepat menentukan waktu pernikahan jika tekad sudah mantap dan membulat untuk menikah, apalagi jika sudah ditambah dengan shalat Istikharah, sebab tidaklah elok kebaikan ditunda-tunda, dan yang lebih krusial lagi; sebab setan dan jin bergentayangan di sekelilingnya.

Setelah pembahasan ini, maka boleh bagi Anda untuk melangsungkan pernikahan dengan tanpa proses pertunangan lagi, tentunya setelah persetujuan wali Anda dan pihak laki-laki. Namun, alangkah baiknya bila pihak laki-laki perlu melakukan lamaran ulang demi untuk memantapkan diri setelah terputusnya “ikatan” lamaran pertama.

Di akhir dari jawaban kami, permohonan maaf kami haturkan atas panjangnya jawaban kami, namun tujuan kami dengan jawaban ini untuk meluruskan pemahaman para pemuda, pemudi dan para orang tua tentang substansi khitbah, sebab fenomena yang ada di negeri kita adalah seakan proses lamaran atau khitbah merupakan pintu bagi para pasangan untuk berinteraksi secara luas dan bebas. Padahal tidak demikian!

Seuntai doa kami panjatkan, semoga Allah subhanahu wa ta’ala menganugerahkan kepada Anda suami yang saleh dan berakhlak mulia kepada keluarganya, serta mapan dalam ekonominya, serta dianugerahi keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah, Amiiin. Wallahu A’lam.

Dijawab oleh:  Ust. Lukman Hakim, Lc, M.A (Alumni S1 Fakultas Hadits Syarif Universitas Islam Medinah Munawwarah dan S2 Jurusan Dirasat Islamiyah Konsentrasi Hadits di King Saud University Riyadh KSA)

Artikel : wahdah.or.id

Jika ingin bertanya atau berkonsultasi, kirimkan pertanyaan anda ke sini.

STIBA Makassar Kirim Mahasiswa KKN  ke Wilayah Bencana Pasigala

Rombongan KKN STIBA Makassar yang dikirim ke lokasi bencana Palu, Sigi, dan Donggala
Rombongan KKN STIBA Makassar yang dikirim ke lokasi bencana Palu, Sigi, dan Donggala

(Makassar) Wahdahjakarta.com  – Bertempat di Masjid Anas bin Malik, sebanyak 253 mahasiswa Sekolah Tinggi Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar mengikuti acara pelepasan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Gelombang II, Senin (14/1/2019).

Ke-252 mahasiswa ini akan ditugaskan di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Mariso Kota Makassar, Kecamatan Parigi Kabupaten Gowa, dan Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros. Di samping ketiga kecamatan tersebut, sejumlah mahasiswa KKN juga diutus ke sejumlah daerah yang jauh, seperti Palu, Kalimantan Barat, NTT, Jawa Barat, dan Papua.

Acara pelesapasan ini dihadiri oleh Ketua STIBA Makassar Ustadz Muhammad Yusran Anshar, Lc., M.A., Ph.D., Wakil Ketua I Bidang Akademik Ustaz Kasman Bakry, S.H.I., M.H.I., dan Kepala BAK Ustaz Ahmad Syaripudin, S.Pd.I., M.Pd.I.

Saat memberikan tausiah kepada para mahasiswa KKN, Ustaz Yusran berharap agar mahasiswa dapat mengambil manfaat sebanyak-banyaknya dari materi-materi pembekalan yang telah disampaikan selama daurah. Ia menjelaskan, pelajaran-pelajaran dari ayat-ayat jihad dalam surah at-Taubah. Ayat-ayat tersebut menjelaskan pentingnya untuk ikut serta dalam perjuangan dan bahaya lari dari perjuangan.

“Belajar ilmu agama bisa menjadi alasan untuk tidak ikut jihad. Tapi, ada kewajiban di baliknya, yaitu untuk berkhidmat dan berkontribusi kepada manusia. Sekaranglah waktunya untuk berkontribusi, sebelum melalui masa di mana perjuangan sesungguhnya hingga datang panggilan Allah,” tegasnya.

STIBA Makassar Kirim Mahasiswa KKN ke Wilayah Bencana Pasigala
Rombongan KKN STIBA Makassar

Sementara itu, Direktur LAZIS Wahdah Islamiyah, Syahruddin menyatakan, mahasiswa STIBA yang dikirim ke daerah bencana Pasigala (Palu, Sigi dan Donggala) akan menjadi dai yang akan ditempatkan dibeberapa posko binaan relawan LAZIS Wahdah Palu. Dari laporan yang didapatkan, mahasiswa yang akan dikirim ke Palu, Sigi dan Donggala sebanyak 20 orang.

“Tiga bulan berlalu, pasca bencana, tim relawan LAZIS Wahdah Islamiyah masih fokus mendampingi para warga sekitar. Selain program pembangunan hunian sementara, kita juga tetap akan memfokuskan kerja-kerja dakwah di daerah bencana. Semoga dengan program ini, masyarakat akan lebih mengenal sunnah lebih baik lagi,” harapnya. []

Kondisi Terkini Ustadz Arifin Ilham

Ustadz Arifin Ilham saat dijenguk Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin dan Ustadz Al-Habsyi di RSCM, Selasa (08/01/2019)

Wahdahjakarta.com -, Pendiri Majelis Az-Zikra KH Muhammad Arifin Ilham meng-update perkembangan terbaru kondisi dirinya yang tengah menjalani perawatan di salah satu rumah sakit di Malaysia.

Ustadz Arifin, Rabu (16/01/2019), merasakan saat ini semua semakin diberkahi oleh Allah Subhanahu Wata’ala.

Ia pun mengaku sudah bisa makan walau masih harus secara perlahan.

Ustadz Arifin berharap agar diampuni segala dosa dan diberi kesehatan.

Informasi itu ia sampaikan lewat akun Instagramnya. Pantauan hidayatullah.com, Rabu sekitar pukul 10.36 WIB, Ustadz Arifin mengunggah foto dirinya bersama sejumlah kerabat termasuk orangtuanya.

“Assalamualaikum wa rahmatullaahi wabarakaatuhu.

SubhanAllah walhamdulillah waktu dhuha selesai sarapan walau masih pelan-pelan makannya, semua semakin diberkahi Allah semua kasih sayang doa keluargaku sahabatku tersayang tercinta Fillah.

Allahumma ya Allah ampunilah seluruh dosa kami dan hiasilah hidup kami dengan kesehatan afiyatan di jalan-Mu, aamiin.

Bersama mama dan ikhwany fillah. Uhibbukum filllah,” tuturnya lewat @kh_m_arifin_ilham.

Tampak dalam foto itu, Ustadz Arifin tersenyum bersama kerabat yang membersamainya. Sorban putih masih setia menghiasi kepalanya. Ia tampak duduk di atas dipan perawatan. Tak terlihat ada selang infus di tubuhnya, kecuali perban bekas infusan di lengan kanannya.

Doa-doa menyertai proses perawatan Ustadz Arifin selama ini.

“Alhamdulillah dah terlihat membaik. Moga cepat sehat ya, Ustadz,” tulis @suwasti1188 mengomentari unggahan tersebut.[]

Sumber: Hidayatullah.com

Prabowo: Ulama Harus Dihormati Serta Bebas dari Persekusi dan Kriminalisasi

Prabowo Ulama Harus Dihormati Serta Bebas dari Persekusi dan Kriminalisasi
Pidato Kebangsaan “Indonesia Menang” calon Presiden RI 2019, Prabowo Subianto, Senin (14/01/2019)

(Jakarta) wahdahjakarta.com – Calon Presiden Republik Indonesoa 2019 Prabowo Subianto, menegaskan bahwa ulama harus dihormati dan bebas dari persekusi serta kriminalisasi.

Hal itu disampaikan Prabowo dalam Pidato Kebangsaan “Indonesia Menang” di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta, Senin (14/09/2019) malam.

“Kami akan pastikan bahwa semua pemuka agama dari semua agama terutama ulama-ulama kita dihormati dan bebas dari ancaman persekusi dan kriminalisasi. Ini menjadi sangat penting karena dalam bangsa Indonesia dalam sejarah kita, peran ulama sangat-sangat berjasa dalam perjuangan kemerdekaan kita,” tegasnya yang lantas disambut pekikan takbir “Allahu Akbar” oleh sebagian hadirin.

Mantan Danjen Kopasus ini menjelaskan, memang proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia dikumandangkan di Jakarta. Tapi saya sampaikan di sini, kemerdekaan kita diuji di Jawa Timur, yang puncaknya adalah ditolaknya ultimatum asing oleh rakyat Jawa Timur.

“Tapi, tapi, kemerdekaan kita diuji, diuji, ditantang di Jawa Timur, yang puncaknya adalah ditolaknya ultimatum asing oleh rakyat Jawa Tmur dan rakyat Indonesia yang ada di Surabaya. Pertempuran Surabaya Oktober November 1945 didukung oleh Resolusi Jihad para ulama-ulama besar,” jelasnya.

Prabowo jga menegaskan, Islam adalah Rahamatan Lil Alamin sehingga tidak perlu ada kekhawatiran bagi minoritas.

“Dan saya katakan kepada kalian, (bahwa) Pak SBY, saya, kami prajurit TNI dulu waktu muda, kami diangkat sumpah untuk membela Pancasila dan UUD 45.

“Tidak mungkin Pak SBY, tidak mungkin Djoko Santoso, tidak mungkin saya akan mau untuk mengancam atau tidak melindungi minoritas -minoritas lain,” tambahnya.

Ia mengatakan, “Islam di Indonesia adalah rahmatan lil alamin, melindungi semuanya, saudara-saudara sekalian. Jadi janganlah coba-coba stigmatisasi satu kaum atau satu kelompok, saudara-saudara.”

Ia pun meluruskan persepsi keliru sebagian kalangan tentang pekikan takbir, Allahu Akbar. Menurutnya takbir tidak perlu dianggap sebagai ancaman, karena ia merupakan syi’ar memuliakan Tuhan.

“Kalau dengar takbir, kalau dengar ‘Allahu Akbar’, jangan ada yang persoalkan. itu bukan mengancam siapa-siapa,” lagi-lagi terdengar pekikan takbir dari arah hadirin.

“(Takbir) itu memuliakan Tuhan yang kita cintai, Tuhan Maha Besar,” pungkas Prabowo.

Marlina,  Mualaf yang Masuk Islam Karena Tertarik dengan Akhlak Orang Islam

Marlina,  Mualaf yang Masuk Islam Karena Tertarik dengan Akhlak Orang Islam
Marlina, Mualaf yang masuk Islam karena tertarik dengan akhlak orang Islam ketika menerima Paket Bina Mualaf dari LazisWahdah Islamiyah

(Banda Aceh) wahdahjakarta.com  — Menjadi mualaf bukan perkara mudah bagi Marlina (53), warga Aceh Tenggara, NAD.

Muallaf yang masuk Islam sejak tahun 1997 ini mendapat ujian berat di awal kepindahannya memeluk Islam. Karena memang sejak awal keluarganya tidak menyukai Islam, Marlina hingga kini masih belum bisa diterima oleh keluarga besarnya itu.

Tantangan terberat dia adalah meyakinkan keluarga besarnya agar bisa menerimanya utuh sebagai seorang muslim.

Maklum, keluarganya adalah pemeluk Nasrani yang taat. Marlina pun sebelumnya demikian. Ia awalnya adalah seorang Kristen Protestan yang begitu taat menjalankan agamanya.

“Saya sudah merasakan sedih dan susahnya masuk Islam karena keluarga saya tidak suka Islam,” katanya, Senin (14/1/2019).

Marlina memutuskan memeluk Islam pada tahun 1997 setelah melihat langsung bagaimana akhlak muslim di lingkungannya. Ia menyaksikan, akhlak yang diperlihatkan oleh muslim itu sangat baik.

“Saat sholat saya merasa tenang melihat mereka sujud sama-sama. Kalau baca al-Qur’an mereka kelihatannya begitu tenang. Seakan-akan tak ada beban hidup yang sementara mereka rasakan,” jelasnya.

Karena telah beda prinsip, ia terpaksa berpisah dengan keluarga besarnya. Ia hidup bersama keluarga kecilnya, dan berharap dengan begitu, ia bisa lebih tenang menjalankan ajaran Islam tanpa dikekang oleh siapapun.

“Kendati demikian, saya masih terus berusaha menampilkan adab yang baik kepada kedua orangtua saya. Kepada keluarga yang lain pun demikian,” imbuhnya.

Ia mengaku, selama ini ia selalu berdoa agar senantiasa diberi keteguhan iman.

“Saya selalu berdoa kepada Allah untuk diberi kesabaran dan saya percaya bahwa Allah memberikan cobaan kepada saya sesuai kemampuan saya,” kata Marlina.

Hingga saat ini, Marlina masih aktif belajar Islam kepada Irwansyah, salah seorang dai Wahdah Islamiyah Aceh Tenggara. Bersama puluhan ibu-ibu majelis taklim di lingkungannya, ia rutin mengadakan pengajian, hingga tadabur al-Quran setiap pekannya.

“Semoga saya bisa selalu istiqomah hingga Allah memanggil saya,” harapnya. []

Lazis Wahdah Salurkan Bantuan di Kamp Pengungsian Desa Toaya Donggala

Lazis Wahdah Salurkan Bantuan di Kamp Pengungsian Desa Toaya
Relawan Wahdah Peduli dan Lazis wahdah

(Donggala) wahdahjakarta.comLAZIS Wahdah melakukan ekspedisi kemanusiaan ke Kabupaten Donggala dan memberikan bantuan di dua Kamp. Pengungsian di dusun 1 dan dusun 2 Desa Toaya, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala – Sulawesi Tengah, Ahad, (06/01/2019)

Begitu banyak warga terdampak gempa dan tsunami di desa tersebut. Dusun 1, terdapat sekitar 50 kepala keluarga, 178 jiwa. Dan dusun 5 terdapat 40 kepala keluarga , 34 jiwa yang semuanya masih berada di tempat pengungsian.

LAZIS Wahdah dalam kunjungannya mememberikan bantuan berupa paket sembako, tandon air, dan buku iqro.

“Sudah sekitar 3 bulan di posko kami ada dapur umum. Namun 1 bulan terakhir, dapur umum kami tidak berasap lagi. Dikarenakan kami kehabisan bahan makanan, dan tak ada lagi bantuan yang masuk ke posko kami.” ujar Linda (39 tahun), salah seorang warga terdampak.

“Rata-rata pengungsi disini rumahnya rubuh, mau masak sendiri di rumah, eh alat dapur kami sudah tidak ada beserta rumahnya.” Tambahanya.

Lazis Wahdah Salurkan Bantuan di Kamp Pengungsian Desa Toaya Donggala
Lazis Wahdah Salurkan Bantuan di Kamp Pengungsian Desa Toaya Donggala

Banyak anak-anak di posko ini yang mulai terkena penyakit demam berdarah dan mulai sakit-sakitan. Tenda-tenda pengungsi dari terpal pun sudah banyak yang robek akibat terpaan angin yang kencang.

“Kami ucapkan terimakasih kepada LAZIS Wahdah yang telah memberikan bantuannya kepada kami, disaat kami sudah tidak menerima bantuan, Alhamdulillah Allah kirim LAZIS Wahdah ke posko kami.” Tutupnya penuh haru.

Don’t stop bantu Sulteng. Sulteng masih butuh bantuan anda, mari merajut kebaikan bersama LAZIS Wahdah lewat program-program kebaikan. Salurkan donasi anda melalui Bank Syariah Mandiri (451) nomor rekening : 499 900 9005 a.n LAZIS Wahdah Peduli Negeri dan konfirmasi transfer ke 085315900900. []

#laziswahdah #wahdahislamiyah #wahdah #sedekah #zakat #laziswahdahpeduli #pedulinegeri #peduligempasulteng #gempadonggala

#gempapalu #pasukanhijau

#wahdahpeduli

Gelar Mukerwil IV, Wahdah Islamiyah D.I Yogyakarta Target Dirikan DPD di Kulon Progo

Gelar Mukerwil IV, Wahdah Islamiyah D.I Yogyakarta Target Dirikan DPD di Kulon Progo

(Sleman) Wahdahjakarta.com – Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Wahdah Islamiyah (WI)  Daerah Istimewa Yogyakarta sukses menggelar Musyawarah Kerja Wilayah (Mukerwil) IV pada Ahad, 13/01/2019 di kompleks Islamic Center Palagan Yogyakarta.

Dilansir dari wahdah.or.id, Mukerwil yang digelar untuk merumuskan program kerja DPW keempat kalinya ini mengangkat tema “Optimalisasi Kader dan Peran Lembaga Menuju Visi 2030.”

Ketua DPW Wahdah Islamiyah D.I Yogyakarta, Ustadz Asdi Nurkholis, Lc dalam sambutannya menyampaikan bahwa agenda yang dibahas adalah laporan pelaksanaan kegiatan dan anggaran tahun 2018 serta rencana program kerja dan anggaran tahun 2019.

Selain mempertajam target pencapain visi 2030 Wahdah Islamiyah, Mukerwil kali ini juga merencanakan pembukaan DPD (Dewan Pimpinan Daerah) baru di Kulon Progo.

“Insya Allah kita akan membuka DPD baru di Kulon Progo yang merupakan DPD terakhir di wilayah DPW WI D.I Yogyakarya”, imbuh Ustadz Asdi Nurkholis.

Acara ini diikuti oleh seluruh pengurus DPW serta 4 DPD di wilayah Yogyakarta, antara lain Kab Sleman, Kab Bantul, Kab Kota dan Kab Gunung Kidul .

Turut hadir sebagai pendamping dan pengarah Mukerwil Ketua Lembaga Koordinasi dan Pembinaan Dai dan Murabbi (LKPDM) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Wahdah Islamiyah, Ustadz Jahada Mangka, Lc., M.HI, sekaligus membuka Mukerwil IV WI D.I Yogyakarta.[]

LAZIS Wahdah Bedah Rumah Kakek Penderita Lumpuh di Parigi Moutong

LAZIS Wahdah Bedah Rumah Kakek Penderita Lumpuh di Parigi Moutong
Rumah kakek Baharuddin penderita lumpuh yang jauh dari layak huni.

(Parigi Moutong) wahdahjakarta.com — Kehidupan sulit tengah dialami oleh Baharuddin, kakek berusia 70 tahun, salah seorang warga desa Avolua Kec. Parigi Utara, Kab. Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Tinggal bertiga Bersama istri dan seorang anak perempuannya, di sebuah rumah yang jauh dari kata layak, membuatnya hanya pasrah menerima keadaan seperti itu.

“Kami seperti ini pak. Hidup sederhana di hari tua bersama keluarga. Kami syukuri saja pak” ujar Baharuddin.

Rumahnya itu terbuat dari papan yang sudah rapuh, beratapkan rumbia yang hampir semua sisinya sudah tak layak. Keadaannya diperparah saat angin kencang menyapu rumah itu hingga doyong dan tak berbentuk lagi.

“Kemarin kami kena musibah. Rumah kami rusak disapu angin kencang,” kata Baharuddin kepada relawan.

Syamsu Alam, relawan LAZIS Wahdah mendapatkan informasi ini dari salah satu warga yang juga sangat mengenal keluarga Baharuddin.

Rumah Baharuddin setelah dibangun kembali oleh Lazis Wahdah.

“Kita dapat laporan dari warga kalau ada warga yang rumahnya sudah mau rubuh diterjang angin,” jelasnya, Jumat (11/1/2019).

Pengerjaan rumah hanya membutuhkan waktu selama lima hari. Dinding papan diganti dengan yang baru, sementara atapnya diganti dengan seng yang lebih baik dan layak.

“Kami berharap, lewat program bedah rumah ini, pak Baharuddin dan keluarga bisa hidup di rumah yang lebih layak,” imbuhnya.

Baharuddin mengatakan, terkait nafkah sehari-hari, ia dibantu oleh menantunya yang sementara merantau diluar kota.

“Selama saya lumpuh, roda perekonomian keluarga kami dibantu menantu saya. Alhamdulillah,” ungkapnya. []

Buka Mukerwil V Wahdah Jabar, Ustadz Ridwan Tegaskan Urgensi Musyawarah dalam Organisasi Dakwah

Buka Mukerwil V Wahdah Jabar, Ustadz Ridwan Tegaskan Urgensi Musyawarah dalam Organisasi Dakwah
Wasekjen DPP Wahdah Islamiyah, Ustadz Ridwan Hamidi membuka Mukerwil V DPW Wahdah Islamiyah Jawa Barat, Sabtu (12/01/2019)

(Bandung) wahdahjakarta.com – Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah (DPP WI) Ustadz Ridwan Hamidi, Lc, MA mengatakan, musyawarah merupakan ruh dalam sebuah organisasi dakwah.

Hal itu disampaikan Ustadz Ridwan saat membuka Musyawarah Kerja Wilayah ke.5 (Mukerwil V) Dewan Pimpinan Wilayah Wahdah Islamiyah Jawa Barat (DPW WI Jabar) yang digelar di Masjid Nur Madinah, Padasuka Bandung,  Sabtu (12/01/2019).

“Setiap pengambilan keputusan hendaknya diambil melalui mekanisme musyawarah dan secara tertulis”, ujarnya di hadapan para pengurus  WI SeJabar.

Hal ini jelas Ustadz Ridwan berdasarkan firman Allah dalam surat Asy-Syūrā  ayat 38

“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhan dan melaksanakan salat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka,” (terj. Qs. Asy-Syūrā : 38)

“Hendaknya diiringi semangat mas’uliyah (tanggung jawab), militansi, komitmen, dan wafa (kesetiaan)”, tambahnya.

Selanjutnya, Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Daerah Istimewa Yogyakarta ini menekankan pentingnya sikap objektif, kemaslahatan dan aspirasi sebagai pertimbangan dalam setiap pengambilan keputusan.

Pengurus DPW dan DPD Wahdah Islamiyah sejawa Barat
Pengurus DPW dan DPD Wahdah Islamiyah sejawa Barat

Mukerwil V DPW Wahdah Islamiyah Jabar diikuti pengurus DPW dan   utusan 9 DPD (Dewan Pimpinan Daerah) Wahdah Islamiyah seJawa Barat, yakni DPD WI  Kota Bandung, DPD WI Kab.Bandung, DPD WI Kab. Bandung Barat, DPD WI Kota Bogor, DPD WI Kab. Bogor, DPD WI Cianjur, DPD WI Karawang, DPD WI Bekasi, dan DPD WI Sukabumi.

Selain mempertajam target pencapain visi 2030 Wahdah Islamiyah, Mukerwil kali ini juga merencanakan pembukaan DPD baru di wilayah timur Jawa Barat.

“Keputusan strategis bahwa tahun ini insya Allah buka 2 DPD merambah wilayah timur Jawa Barat, seperti Cirebon, Tasikmalaya dan Pangandaran”, kata Ketua DPW WI Jabar  Ustadz Mochamad Budiman. []