Asmaul Husna [21 & 22]:  Al-Qabidh danAl-Basith  (Maha Menyempitkan dan Maha Melapangkan)

Asmaul Husna [21 & 22]:  Al-Qabidh Al-Basith  (Maha Menyempitkan dan maha melapangkan)

Dalam  Al-Qur’an terdapat banyak sekali ayat yang menerangkan maksud kedua nama ini (Al-Qabidh dan Al-Basith), misalnya dalam Surah  Al Baqarah ayat 245 dan Surah As-Syura ayat 27;

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ [٢:٢٤٥

Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan”. (Qs. Al-Baqarah:245)

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَٰكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ [٤٢:٢٧

Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala itu adalah pencipta yang menyempitkan melapangkan memberi rezeki dan memberi kemuliaan. Aku  sangat berharap ketika bertemu Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak ada yang menuntut hak orang lain yang tidak kutunaikkan baik dalam masalah nyawa ataupun harta”.

Al-Qabidh adalah yang menahan dan tidak memberi rezeki atau sejenisnya kepada hamba-Nya demi kemaslahatan hamba itu sendiri. Bisa juga dimaksudkan dengan yang mencabut nyawa ketika seorang hamba meninggal dunia.

Pemberian  rezeki kepada seorang hamba dengan jumlah tertentu baik sedikit ataupun banyak adalah sebuah Rahmat dari Allah subhanahu wa ta’ala. Seandainya saja Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan rezeki sebanyak yang diinginkan hawa nafsu hamba-Nya tentu hal itu bisa membuatnya menjadi sombong, dzalim, dan berbuat kerusakan di atas bumi. Maka  dari itu Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan rezeki sesuai dengan yang diinginkan menurut ilmu dan hikmah-Nya.

Sedangkan Al-Basith adalah yang melapangkan rezeki hamba-nya karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala bersifat Pemurah dan penyayang. Bisa juga dimaksudkan dengan yang membentangkan nyawa dalam tubuh manusia sehingga tubuh itu bisa mendapatkan kehidupan.

Oleh karena itu Al-Basith adalah kebalikan al-Qabadhu. Kalimat  basatha asy Syaia adalah membentang sesuatu. Hal  terbesar yang dibentangkan dan diluaskan Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah rasa kasih dan cinta kepada kebaikan yang diletakkan dalam hati-hati manusia.

Karena merupakan dua hal yang berlawanan maka keduanya hendaknya disebutkan secara beriringan sehingga kita dapat merasakan dan meyakini bahwa segala sesuatu yang kita dapatkan baik kelapangan maupun kesempitan adalah berdasarkan ilmu dan hikmah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

 (Syarah Singkat Asmaul Husna, Mustafa Wahbah hal 57-58)

Adab-Adab Shalat [03]

 

Adab Shalat

Adab-Adab Shalat [03]

Sambungan dari Tulisan Sebelumnya

  1. Tenang dan Thuma’ninah dalam melakukan setiap Gerakan dan Rukun-rukun Shalat; Tidak Cepat- cepat atau Terburu-buru

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda;

مَا مِنِ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلَاةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلَّا كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ

Tidaklah seorang muslim yang apabila hadir waktu shalat fardhu ia membaguskan wudhunya, khusy’unya, dan ruku’nya kecuali shalatnya akan menjadi penghapus dosa-dosa sebelumnya selama tidak melakukan dosa besar dan yang demikian itu berlaku selamanya”.  (HR Muslim).

  1. Berusaha Menahan Diri Sekuat Mungkin Untuk Tidak Menguap atau bersendawa ketika sholat dan Rendahkanlah Suara Apabila Terpaksa atau Tidak Tertahankan

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

 إنّ التثاؤب  في الصلاة من الشيطان ، فإذا وجد أحدكم ذلك فليكظم

Sesungguhnya menguap ketika salat adalah dari setan jika salah seorang dari kalian ingin menguap maka tahanalah (HR.  Ibnu Hibban).

  1. Bersegeralah Untuk Melakukan Shalat di Awal waktu dan Tidak Mengalirkannya Tanpa Udzur.

Jangan malas karena hal itu merupakan ciri-ciri orang munafik sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala;

وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ وَلَا يُنْفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ [٩:٥٤

Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan. (QS. At-Taubah: 54).

 12. Duduk   di Tempat Shalat Setelah Selesai Setiap Shalat Fardhu untuk Istighfar Berdzikir dan Berdo’a

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda;

Barangsiapa bertasbih setelah selesai setiap salat fardhu 33 kali, bertahmid 33 kali, bertakbir 33 kali, total berjumlah 99 Kali, dan Ia sempurnakan seratus  dengan mengucapkan Laa ilaha illallahu Wahdahu Laa Syariikalahu  Lahul Mulku Walahul Hamdu Wa huwa ‘ala Kulli syai-in Qadir (Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata yang tidak ada sekutu baginya hanya miliknya kerajaan dan hanya miliknya Segala pujian dan dia maha kuasa segala sesuatu) maka dosa-dosanya diampuni  sekalipun seperti buih di lautan“. (HR.  Muslim).

Bersambung insya Allah. [sym].

Sumber: Panduan Adab-Adab Shalat Untuk Meraih Kesempurnaan Shalat, Syaikh Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah.

Cara Memilih Calon Istri

Cara Memilih Calon Istri

Cara  Memilih Calon  Istri

Pertanyaan:

Bagaimanakah caranya memilih calon istri dari sisi kecantikannya, keturunan dan agamanya ?  Terima kasih.

Jawaban:

Sunnah Nabi telah menjelaskan sifat-sifat seorang wanita yang seharusnya diupayakan oleh setiap laki-laki, sifat-sifat tersebut bisa disimpulkan sebagai berikut: perawan, baik agamanya, keturunannya, cantik dan kaya, sebagaimana sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- :

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ : لِمَالِهَا ، وَلِحَسَبِهَا ، وَلِجَمَالِهَا ، وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ ) رواه البخاري (4802) ومسلم (1466

Wanita itu dinikahi karena empat hal: kaya, berasal dari keturunan yang baik, cantik dan karena agamanya. Maka beruntunglah dengan yang agamanya baik, maka akan menjadikanmu tenang”. (HR. Bukhori: 4802 dan Muslim: 1466)

Jika telah berkumpul semua sifat itu pada diri seorang wanita, maka dialah yang baik dan sempurna, kalau tidak maka hendaknya lebih mengutamakan yang lebih penting dan lebih utama. Dan yang terpenting adalah yang baik agamanya dan shalihah, sebagaimana sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-:

الدُّنْيَا مَتَاعٌ ، وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا : الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ ) رواه مسلم (1467

Dunia itu adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah”. (HR. Muslim: 1467)

Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pernah ditanya: wanita yang bagaimanakah yang paling baik ?, beliau menjawab:

الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ ) رواه النسائي (7373) . وحسنه الألباني في “السلسلة الصحيحة” (1838

Adalah wanita yang menyenangkan jika dipandang, mentaatinya jika disuruh, dan tidak menyelisihinya dalam diri dan hartanya dengan apa yang tidak disenangi olehnya”. (HR Nasa’i: 7373 dan dihasankan oleh al Baani dalam Silsilah ash Shahihah: 1838).

Tutup Rapat Pintu Zina, Permudah Pernikahan (Tafsir Surat An-Nur:32)

pernikahan

Nikah sbagai pintu rezki

Tutup Rapat Pintu Zina, Permudah Pernikahan

(Tafsir Surat An-Nur:32)

وَأَنكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِن يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ  ﴿٣٢

Dan nikahkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang shaleh  yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Qs. An-Nur:32).

Pengantar

Tema inti dari surat An-Nur adalah persoalan menjaga kehormatan (iffah) pribadi, keluarga, dan masyarakat Muslim. Oleh karena itu kita dapati dalam surat ini peraturan dan perintah yang wajib dijalanan dalam masyarakat Islam sebagai upaya membentengi masyarakat Islam dari merebaknya perbuatan keji yang merusak harga diri dan kehormatan.

Surat An-Nur diawali dengan pengabaran bahwa, surat ini diturunkan dan diwajibkan hukum-hukum yang terdapat di dalamnya untuk dijalankan. Pada ayat berikutnya Allah menjelaskan tentang hukuman perbuatan zina. Tujuan penegakan hukuman itu adalah dalam rangka melindungi masyarakat Muslim dari perbuatan keji. Sebab zina dapat menghilangkan kemuliaan dan kehormatan pribadi, keluarga, dan masyarakat Muslim.

Akan  tetapi sebagai  Agama yang utuh dan komprehensif  dalam membangun masyarakat yang bersih dari kekejian Islam tidak berpijak pada penegakan hukuman dan sanksi saja. Sebelum semua itu Islam berpijak pada wiqayah (preventif). Sebab Islam tidak memerangi dan menghalangi dorongan dan gejolak manusiawai yang merupakan fitrah bawaan setiap manusia sejak lahir. Tetapi Islam menata dan mengaturnya agar gejolak dan kecenderungan tersebut tersalur melalui cara yang bersih dan terhormat serta bebas dari penyakit sosial.

Dalam konteks pendidikan Islam konsep yang dominan pada aspek ini adalah mempersempit ruang gerak dan peluang berbuat dosa serta menututp rapat berbagai pintu fitnah dan rangsangan negatif, lalu kemudian mempermudah jalan mencapai solusi melalui cara yang sehat dan terhormat. Selain itu Islam juga menghilangkan berbagai hambatan yang menghalangi pemuasan hasrat alamiah  tersebut dengan cara yang bersi secara syar’i.

Diantara tindakan prventif tersebut adalah mempermudah pernikahan bagi orang fakir dan shaleh yang layak menikah baik laki-laki maupun perempuan sebagaimana diterangkan dalam ayat 32 Surat An-Nur;

Dan nikahkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang shaleh  yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Qs. An-Nur:32).

Kewajiban Menikahkan

 “Ini adalah perintah untuk menikahkan”, jelas  Ibn Katsir rahimahullahu ketika menafsirkan frasa wa ankihul ayama pada ayat 32 surat An-Nur diatas. Tepatnya perintah kepada para wali dan tuan untuk menikahkan para jejaka, janda, maupun gadis yang berada dalam tanggung jawab mereka, sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah. “Maka wajib bagi kerabat dan wali anak yatim untuk menikahkan mereka  yang layak  menikah”, lanjut Syekh As Sa’di.

Bahkan sebagian Ahli Tafsir seperti Buya Hamka dan Abu Bakar Jabir al-Jazairi memandang bahwa perintah untuk menikahkan para pemuda[i], duda, maupun janda yang disebutkan dalam ayat di atas tidak terbatas kepada para orang tua dan wali. Tetapi perintah kepada hakim (pemerintah), bahkan kaum Muslimin secara umum.

Buya Hamka rahimahullah mengatakan, “Apabila kita renungkan ayat ini baik-baik, jelaslah bahwa soal mengawinkan yang belum beristri  atau bersuami bukanlah lagi semata-mata urusan pribadi dari yang bersangkutan , atau urusan “rumah tangga” dari orang tua kedua orang yang bersangkutan saja, tetapi menjadi urusan pula dari jama’ah islamiyah, jelasnya masyarakat Islam yang mengelilingi orang itu”. (Tafsir Al-Azhar, 18/216).

Menurut beliau hal ini sejalan dengan tema utama surat An-Nur yang secara eksplisit dinyatakan pada awal surat bahwa peraturan yang tertera di dalamnya  hendak membentuk suatu masyarakat Islam yang gemah ripah, adil, dan makmur, loh jinawi.  Sehingga pada ayat ini ada peraturan yang amat penting dalam masyarakat Islam, yaitu menikahkan laki-laki yang tidak beristri, perempuan yang tidak bersuami, baik masih bujangan dan gadis maupun sudah duda dan janda, hendaklah segera dicarikan jodohnya.

Segerakan dan Mudahkan

Perintah untuk menikahkan dalam ayat ini juga menyiratkan pesan lain, yakni anjuran untuk menyegerakan dan memudahkan pernikahan, sebagaimana dikatakan oleh Syekh Mutawalli Asy Saya’rawi. “Segerelah menikahkan mereka, mudahkan urusan mereka dalam masalah ini, dan janganlah kalian persulit mahar pernikahan agar kalian dapat menjaga kehormatan anak-anak kalian”,  jelas Syekh Mutawalli Asy Sya’rawi.

Selanjutnya Syekh Asy-Sya’rawi mengutip satu  hadits yang terkenal, “Jika kalian didatangi oleh laki-laki yang kalian ridhai Agama dan Akhlaqnya (untuk melamar putri kalian) maka nikahkanlah”, (terj. HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Jadi, bukan aib seorang ayah memudahkan urusan pernikahan putrinya. Bahkan lebih dari itu, bukan aib sama sekali bila seorang ayah menawarkan putrinya kepada pemuda yang shaleh, bertakwa dan layak menikah. Sebagaimana Sya’aib ‘alaihis salam menawarkan putrinya kepada Nabi Musa ‘alaihi ssalam, Berkatalah dia (Syu’aib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini”, (terj. Qs. Al-Qashash:27).

Hal ini menunjukkan bahwa jika seorang ayah yang memiliki anak gadis telah menemukan pemuda yang sekufu (setara) dengan putrinya dalam hal Agama, hendaknya ia tidak ragu menikahkannya  dengan pemuda tersebut demi menjaga kehormatan anak gadisnya.

Orang Shaleh Lebih Berhak Untuk Dinikahkan

Syekh As-Sa’di mengatakan bahwa yang dimaksud dengan shalihin dalam frasa ‘Washalihin min ‘ibadikum wa imaikum”, adalah orang yang baik Agamanya (Shalahud Din). Secara spesifik makna shaleh dalam urusan pernikahan adalah bukan pendosa, bukan pula pezina. Maka  tuan atau walinya diperintahkan untuk menikahkannya sebagai balasan atas kebaikan dan keshalehannya serta motifasi untuk terus menjaga dan meningkatkan keshalehannya, karena orang yang rusak akibat zina terlarang untuk dinikahkan (dengan orang baik-baik). Sehingga hal ini memperkuat apa yang ditegaskan pada awal surat bahwa pezina laki-laki dan perempuan haram dinikahkan hingga keduanya bertaubat. (As-Sa’diy).

Makna  ‘’shalihin” sebagai orang shaleh dalam artian  baik Agamanya juga dikuatkan oleh Syekh Ash-Sabuni, “Dalam ayat ini tersirat tentang nilai ketakwan dan kesalehan pada diri manusia, Sebab manusia tidak dimuliakan karena harta dan kedudukannya, Tetapi dimuliakan karena Agama dan kesalehannya”. (Rawa’i al-Bayan, 2/170)

Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewanti-wanati para wali anak perempuan, “Jika kalian didatangi oleh (laki-laki) yang kalian ridhai Agama dan akhlaqanya, maka nikahkalah”. Maksudnya nikahkan dengan putri kalian. Jangan kalian tolak karena alasan miskin, misalnya. Sebab jika ia miskin maka insya Allah Agama dan akhlaqnya akan menjadi sebab datangnya rezki dan karunia Allah.

Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma pernah ditanya dan dimintai masukan oleh orang tua yang hendak menikahkan putrinya. “Nikahkanlah ia dengan laki-laki yang kamu jamin Agamanya”, jawab al-Hasan. “Jika ia mencintai putrimu niscaya dia memuliakannya, (sebaliknya) jika dia membenci putrimu maka takkan mendzaliminya”.

Yang Miskin Akan Diberi Kecukupan Oleh Allah

Kemiskinan dan kefakiran kadang menjadi alasan para pemuda menunda pernikahan. Atau orang tua malu melamarkan putranya karena alasan kefaikaran. Atau orang tua/wali anak perempuan menolak lamaran calon suami yang miskin. Mereka khawatir kemiskinan calon suami akan menular pada keluarga besar mereka dan menurun pada anak cucu mereka. Perasaan hati yang seperti ini ditolak oleh bagian kedua dari ayat tersebut, “Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya”.

Ini adalah janji berupa kekayan dan kecukupan  bagi orang yang telah menikah, sehingga janganlah memandang kepada problem kefakiran, baik kefakiran pelamar ataupun yang dilamar, karena mereka akan merasa cukup dengan karunia Allah yang Maha kaya dan maha luas karunia-Nya. (Tafsir Al-Munir, 9/568).

Oleh karena itu tidak selayaknya kemiskinan menjadi momok menakutkan dan alasan tidak menikah, atau menolak lamaran pria baik-baik dan shaleh. Sebab orang shaleh yang hendak menjaga kehormatannya mendapatkan jaminan pertolongan dari Allah, sebagaimana dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tiga orang yang berhak ditolong oleh Allah, (pertama) Mujahid fi Sabilillah, (kedua) Orang yang menikah dengan maksud menjaga kehormatan, dan (ketiga) mukatab (budak yang berusaha menebus dirinya pada tuannya)”. (terj. HR. Nasai).

Oleh karena itu Abu bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu menafsirkan perintah Allah pada awal ayat 32 surat An-Nur ini dengan janji Allah pada bagian berikutnya.  “Taatilah Allah dengan melakukan perintah-Nya untuk menikah, niscaya Dia akan penuhi janji-Nya kepada kalian berupa kekayaan dan kecukupan”, kata Khalifah pertama ini sebagaimana dikutip oleh Imam Ibn Katsir dalam Tafsirnya. Beliau juga mengutip perkataan Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Carilah kecukupan dan kekayaan  dengan menikah”.

Oleh sebab itu seorang Muslim seharusnya menyegerakan nikah ketika telah sampai pada fase hidup layak dan butuh nikah, dan tidak menjadikan kefakiran serta keterbatasan ekonomi sebagai alasan menunda nikah. Karena menikah dapat  mengundang pertolongan Allah berupa kekayaan dan kecukupan. Amirul Mu’minin Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Saya heran terhadap orang fakir yang tidak mencari kecukupan dengan menikah, padahal firman Allah Ta’ala, “Jika mereka miskin Allah akan mencukupi mereka”. [sym, Pakansari, 26/03/2017, 10.19]

Bolehkah Nadzor (Melihat) Tunangan Lebih Dari Satu Kali dan Ngobrol Bersama

Nadzor

 Nadzor (Melihat) Tunangan Lebih Dari Satu Kali dan Ngobrol Bersama?

Pertanyaan:

Saya telah meminang seorang wanita, namun pada saat prosesi nadzo r (melihat) dia terlihat sangat malu, sampai-sampai saya tidak bisa melihat dengan jelas karena dia sangat tersipu malu.

Pertanyaannya adalah Apakah saya boleh minta izin kepada keluarganya untuk melihatnya lagi, dan duduk bersama untuk bercakap-cakap dengannya sebelum adanya kesepakatan dan proses pinangan selesai ?

Terima kasih

Jawaban:

Alhamdulillah

Bagi seorang peminang boleh melihat wanita pinangannya, duduk bersama dan bercakap-cakap dengannya, meskipun terjadi lebih dari satu kali, selama masih ada keraguan dalam dirinya hingga benar-benar yakin dan masing-masing saling menerima, namun dengan syarat tidak terjadi kholwat (berduaan), dan dalam batasan pembicaraan yang wajar dan semestinya.

Jika telah terjadi khitbah (pinangan) atau sebaliknya, maka hukum kembali kepada asalnya, yaitu; haram melihatnya kembali; karena sebab yang membolehkannya sudah berlalu.

Yang mendasari hukum di atas adalah sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-:

إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمْ الْمَرْأَةَ ، فَإِنْ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى مَا يَدْعُوهُ إِلَى نِكَاحِهَا ، فَلْيَفْعَلْ). رواه أبو داود (2082) وحسنه الحافظ ابن حجر في “فتح الباري” (9/181(

 “Jika salah seorang dari kalian meminang seorang wanita, maka apabila dia bisa melihatnya hingga memiliki hasrat untuk menikahinya, maka hendaknya dia melakukannya”. (HR. Abu Daud (2082) dan dihasankan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari: 9/181)

Syeikh Ibnu Utsaimin –rahimahullah– berkata: “Dibolehkan mengulangi untuk melihatnya… Jika pada prosesi melihat yang pertama belum ada hasrat untuk menikahinya, maka hendaknya melihatnya yang kedua kali dan ketiga kalinya”. (Asy Syarhul Mumti’: 12/21)

Syeikh Ibnu Baaz berkata: “Dibolehkan bagi seseorang yang mau meminang seorang wanita untuk bercakap-cakap dengannya dan melihatnya namun tidak dengan khalwat (berduaan)…., jika percakapannya seputar pernikahan, tempat tinggal dan latar belakangnya, apakah dia mengetahui ini dan itu, maka hal itu tidak masalah jika dia memang mau meminangnya”. (Majmu’ Fatawa: 20/429).

Dan di dalam al Mausu’ah al Fiqhiyah (22/17) disebutkan:

Dibolehkan mengulangi prosesi nadzor (melihatnya) jika dibutuhkan agar menjadi jelas semuanya, dan tidak menyesal setelah menikahinya; karena biasanya tujuannya tidak tercapai hanya dengan melihatnya satu kali”.

Sumber: Islamqa.id.info

Adab-Adab dalam Shalat (2)

Adab dalam Shalat

Adab-Adab dalam Shalat (2)

Sambungan dari tulisan sebelumnya

Ke.5 lima, Memasuki shalat dengan tenang dengan menghadapkan hati kepada Allah Azza wa Jalla dan dengan anggota badan yang tenang tawadhu rendah hati dan khusyu’ Di hadapan-Nya. Juga  dengan penuh rasa hina diri ketundukan dan haibah (takut kepada kebesaran Allah).

Allah Ta’ala berfirman;

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ [٢٣:١]  الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ [٢٣

Sungguh beruntung orang orang mukmin, yakni mereka yang khusyuk dalam shalatnya (Qs. al-Mu’minun 1-2).

Ke.6, Tidak Menolehkan Muka, Tertawa atau Mempermainkan Pakaian dengan Tangan Ketika shalat

Aisyah radhiyallahu anha mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah ditanya mengenai berpaling dalam shalat maka beliau bersabda; “Itu (berpaling dalam shalat) merupakan pencurian yang dilakukan oleh setan dari shalat seorang hamba”. (HR Bukhari).

Ke.7. Memandang ke Tempat Sujud dan Menghindari Pandangan ke Langit (diatas)

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

Mengapa suatu Mengapa suatu kaum menengadahkan pandangan matanya ke langit ketika shalat Rasulullah mengatakan hal itu dengan penuh penekanan hingga beliau bersabda mereka harus benar-benar berhenti maka mata mereka akan benar-benar disambar”. (HR. Bukhari).

Ke. 8 Memelihara Kesadaran (bertafakur) dan Merenungkan Makna Ayat-ayat dan Dzikir- dzikir yang Dibaca.  Hindari  kelalaian dan lupa dalam shalat.

Allah Ta’ala berfirman;

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ [١٠٧:٤]﴿٤﴾  الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ [١

“Maka kecelakaan lah bagi orang-orang yang salat yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya” (Qs. al-Maun 4-5).

Al-Wail adalah siksaan di neraka bagi orang-orang yang menghasilkan salatnya hingga keluar dari waktunya dan Siksa ini disediakan pula bagi orang yang melakukan salat dengan tubuh dan lisannya saja, sedangkan hatinya tidak khusyu’,  tidak merenungkan apa apa yang mereka baca.  Maka shalat mereka tidak berpengaruh bagi jiwa dan amal perbuatannya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

Sesungguhnya seseorang ada yang selesai dari shalatnya akan tetapi tidak dicatat baginya dari shalatnya kecuali hanya sepersepuluhnya, sepersembila nya, seperdelapannya, Sepertujuhnya,  seperenamnya seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya,  atau seperdua nya”. [Bersambung insya Allah]

(Panduan Adab-Adab dalam Shalat Untuk Meraih Kesempurnaan Shalat, Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah, hlm. 20-24).

Lima Etika  Bercanda

 

Lima Etika  Bercanda

  1. Hendaklah bercandanya tidak mengandung nama Allah, ayat-ayat Nya, sunnah rasul-Nya atau syiar syiar Islam. Karena  Allah Ta’ala telah berfirman tentang orang-orang yang memperolok olok sahabat Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam yang ahli baca Al Quran;

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. (QS,  at-Taubah:65-66).

  1. Hendaklah bercandanya benar tidak mengandung dusta, dan hendaknya orang yang bercanda tidak mengada adakan cerita cerita cerita khayal supaya orang lain tertawa.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda; “Celakalah bagi orang yang berbicara lalu berdusta supaya dengannya orang banyak jadi tertawa Celakalah baginya dan Celakalah”. (HR Ahmad dan dinilai Hasan oleh al-Albani).

  1. Hendaklah bercandanya tidak mengandung unsur menyakiti perasaan salah seorang diantara manusia.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

“Janganlah seorang diantara kamu mengambil barang temannya Apakah itu hanya canda atau sungguh-sungguh dan jika ia telah mengambil tongkat temannya maka ia harus mengembalikannya kepadanya”. ( HR Ahmad dan Abu Daud dinilai Hasan oleh al-Albani).

  1. Bercanda tidak boleh dilakukan terhadap orang yang lebih tua dari Anda atau terhadap orang yang tidak biasa tidak bisa bercanda atau tidak dapat menerimanya atau terhadap perempuan yang bukan mahram anda.
  2. Hendaknya anda tidak banyak bercanda sehingga menjadi tabiat anda, akibatnya menjatuhkan wibawah anda dan anda akan mudah dipermainkan oleh orang lain.

 

Sumber: Etika  Seorang Muslim, Lajnah Ilmiah Darul Wathan,).

Kaedah Menyikapi Ikhtilaf  (Perbedaan) Antar Umat Islam

 

Kaedah Menyikapi Ikhtilaf  (Perbedaan) Antar Umat Islam

Di antara Mutiara Pertemuan Ulama & Asia, Afrika & Eropa ke 5 di Hotel Grand Cempaka, Jakarta 3-6 Juli, yang paling mahal ialah Kaedah-kaidah Ikhtilaf antar Umat Islam.

Di antaranya :

  1. Kebenaran Itu tidak harus selalu bersama orng paling tua, paling banyak ilmunya, yang paling tinggi pangkat atau paling banyak hartanya. Karena semua itu bisa menyebabkan sesorang sombong. Kalau sudah sombong sulit menerima ilmu/masukan orng lain. Di zaman Sahabat pun terjadi dimana Ibnu Abbas yang paling muda sering diminta pendapatnya oleh para sahabat senior.
  1. Menghadapi perbedaan/khilafiyah dalam masalah furu’ (cabang agama) dalam tubuh umat Islam ialah:
  • Kalau sama-sama punya dalil, maka tdk jadi masalah dan silahkan masing-masing laksanakan
  • Kalau A punya dalil sedangkan si B tidak punya dalil, Maka B harus ikut A dan begitu pula sebaliknya.
  •  Kalau ada orang yang tidak punya dalil ngotot dengan pendapatnya berarti ia mengikuti hawa nafsu dan kebatilan
  1. Perbedaan maslah furu’ tdk boleh merusak ukhuwwah Islamiyah krn ukhuwwah itu wajib sdgkn masalah2 furu’ itu biasanya  dalam perkara-perkara yang sunnah.

  2. Bekerjasama dalam hal-hal yang disepakati dan toleransi dalam perkara-perkara yang diperselisihkan.

  3. Menghadapi perkara kesesatan dan bid’ah yang terjadi di masyarakat harus berdakwah kepada mereka dengan bahasa, cara dan sikap yang baik, bijak dan megayomi, bukan dengan kata, cara dan sikap kasar dan menghujat.

Kalau semua ulama dan da’i mau inhsaf dan mengikuti beberapa kaedah tersebut di atas in syaa Allah ukhuwwah Umat Islam segera bisa terwujud.

Kalau tidak mau dan terus menerus taash-shub (fanatik)dng diri, kelompok, jamaah, syekh/kiyai, mazhab apalagi di baliknya ada kepentingan duniawi, maka umat ini akan terus menerus terpecah belah. Akibatnya, orang kafir dengan mudah meghancurkan umat dan negeri kita.

Pilihannya hanya satu dari dua :

BERSATU KITA TEGUH

ATAU BERPECAH KITA RUNTUH

اللهم الف بين قلوب المؤمنين ووحد صفوفهم وانزل عليهم السكينة والرحمة وانصرهم عل القوم الكافرين ومن والاهم

 

[Fathuddin Ja’far/ed:Sym].

Ulama dan Da’i Asia Tenggara Serukan Umat Jaga Haramain dan Baitul Maqdis

ustadz zaitun

Ulama dan Da’i Asia Tenggara Serukan Umat Jaga Haramain dan Baitul Maqdis

Jakarta (wahdahjakarta.com) – Ikatan (Rabithah) Ulama dan Da’i Asia Tenggara menggelar Seminar Internasional Pembelaan Terhadap Kota Suci Umat Islam, di Grand Hotel Cempaka, Jakarta Pusat, Jumat,  (6/7/2018).

Ketua Rabithah Ulama dan Dai Asia Tenggara KH Muhammad Zaitun Rasmin, menyerukan kaum Muslimin agar melakukan pembelaan terhadap Baitul Maqdis. Menurut dia, kaum Muslimin, terutama para pemimpin dan ulama, harus menyikapi persoalan tanah suci secara adil dan seimbang.

“Perjuangan membebaskan Baitul Maqdis dari cengkeraman Zionis Yahudi sama pentingnya dengan menjaga dan melindungi Haramain dari usaha mengacaukan dan mencabutnya dari pelayannya yang sah,” ungkap Ustadz Zaitun saat membacakan pernyataan sikap usai Seminar Internasional yang dihadiri seratusan peserta.

Menurut Ustadz Zaitun, tidaklah adil jika kaum Muslimin hanya menjaga kemuliaan Haramain sementara penderitaan Baitul Maqdis dibiarkan tanpa ada yang memperdulikannya. Padahal, jelas dia, keberadaan tanah suci seperti Mekah, Madinah dan Baitul Maqdis tidak dapat dipisahkan dari akidah kaum Muslimin.

Ketua Umum Wahdah Islamiyah (WI) ini mengungkapkan, kaum muslimin di seluruh dunia wajib bersyukur atas terpeliharanya dua kota suci utama, yaitu Mekah dan Madinah (haramain), dalam penjagaan dan pemeliharaan penuh kaum muslimin di bawah kepemimpinan Raja Saudi Arabia sebagai pelayan dua kota suci (khadimul haramain).

“Namun demikian, kaum muslimin tidak boleh lupa dengan kondisi kota suci yang ketiga, yaitu Baitul Maqdis yang sudah lebih dari tujuh puluh tahun dalam cengkeraman penjajahan Zionis Israel hingga saat ini,” ungkap Zaitun.

Seharusnya, lanjut  ustadz Zaitun, semua kota suci itu harus berada dalam penguasaan, pemeliharaan, dan penjagaan umat Islam sendiri. Alasannya hakikat kota suci itulah adalah keberadaan “Rumah Allah”, yaitu mesjid-mesjid suci, dan Allah hanya mengizinkan penjaga dan pemakmur mesjid-mesjid Allah itu adalah orang-orang yang beriman, bukan orang-orang yang kafir dan menyekutukan-Nya.

Seminar internasional “Pembelaan terhadap Tanah Suci Umat Islam” diikuti oleh sekiar seratus ulama dan da’i dari berbagai wilayah di Indonesia. Mereka adalah sebagian dari peserta Pertemuan Ilmiah Internasional ke-5 yang digelar sejak Selasa, 3 Juli lalu. Bertindak sebagai narasumber Syekh Dr Murawih Nassar.

Saat konferensi pers, selain dua narasumber utama, Zaitun Rasmin juga didampingi oleh Sekjen MIUMI sekaligus Ketua Umum Spirit of Aqsa Ustaz Bachtiar Nasir, Mudir Aam JATMAN KH Wahfiudin, dan beberapa ulama dari negara lain. []

Sumber:Suaraislam.online.com

Multaqa Ulama dan Da’i se Asia Tenggara, Afrika, dan Eropa Resmi Ditutup

Multaqa Ulama dan Da’i se Asia Tenggara, Afrika, dan Eropa Resmi Ditutup

(Jakarta) wahdahjakarta.coom-,  Multaqa (Pertemuan) Ulama dan Da’i se Asia Tenggara, Afrika, dan Eropa ke.V resmi ditutup pada Jum’at (06/07/2018).

Penutupan  agenda tahunan Ikatan Ulama dan Da’i Asia Tenggara ini dihadiri Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan  yang  menutup resmi gelaran Multaqo ini secara resmi.

Menurut Ketua Ikatan Ulama dan Da’i Asia Tenggara, Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin multaqa kali ini mengalami peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya.

“Alhamdulillah multaqa tahun ini mengalami peningkatan dari sebelumnya, baik dari sisi pelaksanaan maupun kepesertaan”, ucapnya.

“Multaqa kali dihadiri oleh utusan dan perwakilan berbagai ormas dan lembaga Islam di Indonesia seperti; Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama (NU), Persis, dan sebagainya”, imbuhnya.

Sementara Gubernus Anies dalam sambutannya menyampaikan harapan agar Multaqa ini dapat terus berlangsung dan berharap agar penyelenggaraan berikutnya semakin lebih baik lagi.

Menurutnya, pertemuan itu penting karena dihadiri oleh para ulama dari banyak negara.

“Kita bisa merasakan dari dekat kehadiran ulama dari berbagai belahan dunia ini,” ujarnya.

Secara khusus, Anies juga menyampaikan apresiasinya kepada utusan da’i dan ulama dari Indonesia yang telah memberikan warna di kancah dunia.

“Saya ucapkan terima kasih telah ikut membawa nama umat Islam Indonesia,” terangnya.

Multaqa tersebut juga menghasilkan 10 poin rekomendasi. Diantaranya adalah bagaimana memperkuat Jakarta sebagai salah satu pusat peradaban dalam konteks nasional dan internasional.

Untuk merealisasikan seluruh keputusan dan rekomendasi  forum multaqa ini Multaqa mengamanahkan dibentuk panitia khusus untuk merealisasikan seluruh keputusan forum multaqa ini dengan melibatkan semua unsur-unsur terkait.

Pertemuan yang digelar selama empat hari sejak Selasa (3/8/2018) dihadiri oleh sebanyak 600 ulama dan da’i dari Indonesia , Timur Tengah, Afrika, dan Eropa. []