Beasiswa Akademi Al Quran dan Dakwah

Beasiswa Akademi Al Quran dan Dakwah

[Klik gambar untuk melihat lebih detail]

Beasiswa Akademi Al Quran dan Dakwah

AQD (Akademi Al Quran dan Dakwah) adalah pusat pembibitan calon-calon pelayan dan pendakwah al Qur’an yang berada di Cibinong Bogor. Seluruh biaya untuk sarana, makan, kitab dan asrama bersifat gratis. Sehingga Mahasantri diharapkan, dapat belajar fokus, berprestasi tanpa sibuk dengan urusan pembiayaan. Mahassantri Akademi Al Quran dan Dakwah ini dididik dan dilatih menjadi Da’i Pengajar Al Quran yang berakhlaq Qur’ani dan Mandiri. Program ini dikelola oleh DPW Wahdah Islamiyah Jakarta, Pesantren Tahfidz Wahdah Islamiyah dan Lazis Wahdah.

Mahasantri AQD (Akademi Al Qur’an dan Dakwah) yang proses belajarnya rencana selama 2 tahun ini, disamping mendapatkan Ilmu-ilmu al Qur’an dan pengajaran dakwah, juga berbagai skill kemandirian seperti : kesehatan nabawi, marketing medsos, kerelawanan, dsb.

Pendaftaran dimulai dari 22 Februari – 22 Maret 2017 dan diumukan calon mahasantri yang lolos berkas pada tanggal 23 Maret 2017. Selanjutnya diadakan seleksi tertulis tanggal 25 Maret 2017 dan diumukan calon mahasantri yang diterima tanggal 29 Maret 2017.

Persyaratan :

  1. Pendidikan minimal SMA/MA/SMK
  2. Usia 17 – 30 tahun
  3. Belum menikah dan bersedia untuk tetap melanjutkan pendidikan jika menikah
  4. Lancar membaca Al Quran
  5. Tidak merokok
  6. Mengisi formulir pendaftaran
  7. Membayar uang pendaftaran sebesar 500.000
  8. Melampirkan berkas pendaftaran
    1. Biodata
    2. Fotokopi Ijazah terakhir
    3. Fotokopi KTP
    4. SKCK
    5. Surat keterangan berbadan sehat
    6. Pas foto 2×3 dan 3×4 masing-masing sebanyak 4 lembar
    7. Surat izin orang tua
    8. Rekomendasi dari lembaga Islam atau tokoh Islam
  9. Jika diterima, menandatangani surat perjanjian bersedia mengembalikan biaya jika mengundurkan diri tanpa udzur syar’i

Informasi lebih lanjut hubungi Ustadz Agusman, S.Si (0852 1336 8996)

Bagi anda yang ingin berdonasi turut serta memfasilitasi para pelayan dan pembela al Qur’an (insya Allah), dapat menyalurkan bantuannya kembali melalui : BSM 497 900900 an LAZIS Wahdah Sedekah.

Catatan :
1) Demi kedisiplinan pencatatan, harap menambah nominal Rp 306,-. Contoh Rp 2.000.306,-
2) Konfirmasi transfer ke nomer (WA/SMS) : 082315900900

 

Fenomena Hilangnya Janin dari Perut Ibunya dalam Islam

Assalamu’alaikum warohmatullah wabarokaatuh..

‘Afwan ustadz mau tanya..

Biasakan ada janin yang tiba-tiba hilang dari perut ibunya (bukan karena keguguran atau apapun itu), tiba-tiba saja hilang. Kalau orang bilang katanya bayinya melayang naik atas langit. Bagaimana hukumnya dalam Islam ? Atau bagaimana Islam memandang ini ustadz ? Syukron

mariana – makassar

Jawaban :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Dalam pandangan medis tidak diakui adanya bayi atau janin yang hilang tanpa ada sebab yang jelas. Biasanya analis medis menyatakan bahwa kasus demikian terjadi hanya pada kandungan semu yang lumrah dikenal dengan hamil anggur yang kelihatan hamil tetapi sebetulnya tidak hamil. Analisa ini tentu dapat diterima bilamana sang ibu tidak dapat memastikan bahwa dalam rahimnya benar-benar janin manusia. Namun apabila sang ibu dapat memastikan bahwa dalam rahimnya benar-benar janin manusia. Misalnya dengan gerakan, atau tendangan yang dirasakannya, atau hasil USG atau indikasi lain yang meyakinkan. Jika kondisinya seperti itu lalu bayinya menghilang tanpa sebab yang jelas maka Islam memandang hal itu sebagai sesuatu yang tidak mustahil. Hal demikian dapat saja terjadi dengan kehendak Allah Ta’ala.

Tindakan preventif yang perlu dilakukan oleh pasangan suami istri adalah senantiasa berdo’a sebelum melakukan aktifitas jima’ agar dapat menghindari gangguan jin atau setan yang dapat menggugurkan atau menghilangkan janin dari rahim ibunya dengan izin Allah. Nabi bersabda:

« لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ، فَقَالَ: بِاسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا، فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِي ذَلِكَ لَمْ يَضُرُّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا».

Sekiranya salah seorang di antara kalian, apabila ingin berjima’ dengan istrinya terlebih dahulu membaca: *”Dengan nama Allah, Ya Allah jauhkanlah setan dari kami dan jauhkan setan dari anak yang Engkau anugrahkan kepada kami”,* apabila kedua pasangan tersebut dikaruniai anak niscaya setan tidak dapat mengganggunya untuk selama. Anak tersebut akan terjaga akal dan pisiknya setelah lahir dan pada saat masih dalam rahim ibunya. Ia juga tidak diseret oleh setan ke dalam kekufuran menurut sebagian ulama seperti al-Qasthallani.

Beberapa praktisi ruqyah syar’iyah juga mengakui beberapa kasus gangguan janin berupa keguguran atau halangan hamil akibat dari ganggun jin atau setan yang biasa diistilahkan dengan “tabi’ah” atau “ummu shibyan” yang beraksi terutama di awal-awal masa kehamilan. Selain berdo’a sebelum melakukan aktifitas jima’, sang ibu juga harus senantiasa menjaga ibadah-ibadahnya, terutama shalat lima waktu. Juga harus rutin membaca zikir pagi dan petang, zikir dan wirid sebelum tidur agar gangguan jin dan setan dapat terhindarkan.

✍ Dijawab oleh ust. Salahuddin Guntung, Lc, M.A

(Mahasiswa Program Doktoral Konsentrasi Aqidah dan Pemikiran Kontemporer, King Saud University Riyadh)

➡ Sumber 👉 http://wahdah.or.id/fenomena-janin-yang-tiba-tiba-hilang-dari-perut-ibunya/

Hukum Berjualan Rokok Dalam Islam

Hukum Memakan Hasil Penjualan Rokok Dalam Islam

Bismillah. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. ibu saya baru-baru ini membuka warung makan. Kemudian, di situ dia menjual rokok. Dan saya sudah sampaikan sama ibu saya Insyaa Allah sudah dengan cara yang bil hikmah. Hanya saja saya mendapatkan respon yang kurang baik. Dan sampai sekarang pun ibu saya tetap menjual rokok. Yang saya khawatirkan. Saya makan dari hasil jualan barang tersebut. Apa hukumnya memakan hasil penjualan rokok tersebut. Mohon solusinya. Syukran.

ulfa – mks

Jawaban :

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatu…

Apa yang anda lakukan adalah suatu hal yang terpuji, yaitu menasihati ibu anda agar tidak menjual rokok yang merupakan barang haram. Ini adalah kewajiban kita menasehati kerabat kita, utamanya ibu. Allah Ta’ala berfirman:

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat” [QS. As Syu’ara:124].

Dan hendaknya hal itu dilakukan dengan hikmah, lemah lembut, apalagi ia adalah seorang ibu yang kita diperintahkan untuk berlemah lembut kepadanya, firman-Nya:

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua (ayah dan ibu) dengan penuh kesayangan” [QS. Al Isra’:24],

dan firman-Nya:

وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

“Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik” [QS. Lukman:15].

Tetaplah berusaha menasehatinya agar tidak menjual rokok di warungnya, tapi dengan cara hikmah dan lemah lembut. Cari waktu yang tepat untuk menyampaikan nasihat, jangan di waktu-waktu sibuk atau pikirannya kacau. Tetap tampakkan akhlak muliah dan patuh terhadap perintah dan permintaannya selama bukan maksiat, bantu ia dalam pekerjaannya di warung. Dan jangan lupa senjata seorang mukmin yang sangat ampuh, yaitu doa, doakan kepada Allah agar Ia memberinya hidayah dan tidak lagi menjual barang yang haram. Lakukan semua itu dengan penuh sabar, dan ingat bahwa hidayah di bawah kuasa Allah, bukan di tangan kita, sehingga serahkan urusan ini kepada Allah semata setelah melakukan usaha maksimal. Firman-Nya:

فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

“Jika mereka tetap berpaling, maka sesungguhnya kewajiban yang dibebankan atasmu hanyalah menyampaikan dengan terang” [QS. An Nahl:82].

Adapun harta atau makanan dari hasil penjualan rokok itu maka jika telah bercampur dengan harta hasil jualan barang lain yang halal dari warung itu maka halal bagi anda untuk mengambilnya, karena Rasulullah shallalahu alaihi wasallam juga menerima hadiah dari orang-orang musyrik dan yahudi di zamannya dimana harta mereka bercampur antara halal dan haram.

Wallahu a’lam

✍ Dijawab Oleh Ust. Aswanto Muh. Takwi, Lc

(Alumni S1 Fakultas Hadits Syarif Universitas Islam Medinah Munawwarah dan Mahasiswa S2 Jurusan Dirasat Islamiyah Konsentrasi Hadits di King Saud free musically fans University Riyadh KSA)

➡ Sumber 👉 http://wahdah.or.id/hukum-memakan-hasil-penjualan-rokok-dalam-islam/

Mendengar Adzan

Bacaan Khusus Ketika Mendengar Adzan

Adakah Bacaan Khusus Ketika Mendengar Adan Setelah Muazin Membaca “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah” ?

Bismillah. Ustadz, apa yang harus kita jawab ketika adzan pas “Asyhadu anna muhammadan rasuulullaah”?. Karena sepengetahuan saya ada 3 syarat doa terkabul dan salah satunya, menjawab lafaz “Asyhadu anna muhammadan rasuulullaah”. Syukron.

Hilya –Makassar.

Jawaban:

Allaahu a’lam dengan bacaan yang Anda maksudkan, namun sebagian ulama menyebutkan sunatnya membaca bacaan khusus tatkala muazin usai membaca lafal azan “Asyhadu an laa ilaaha illallaah”, dan “Asyhadu anna muhammadan Rasulullaah”, sebagaimana yang disebutkan dalam HR Muslim (386) dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu’anhu bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang mengucapkan bacaan -tatkala mendengar muazin-:

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأن محمدا عبده ورسوله رضيت بالله ربا وبمحمد رسولا وبالإسلام دينا

(Asyhadu an laa ilaaha illallaah wahdahu laa syariika lahu, wa anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluhu, radhiitu billaahi rabban, wa bi muhammdin rasuulan, wa bil-islaami diina); maka dosa-dosanya akan terampuni”.

Para ulama tersebut menyatakan bahwa bacaan ini dibaca tatkala muazin usai mengumandangkan dua kalimat syahadat, tepat setelah lafaz “Asyhadu anna muhammadan Rasulullaah”. (Lihat: : Al-Majmu’ –Imam Nawawi; 2/87-88 , Syarh al-Mumti’- Ibnul-‘Utsaimin: 2/86, Liqa’ al-Baab al-Maftuuh –Ibnul-‘Utsaimin: liqa’ 156/26, dan Al-Masaail al-Muhimmah fil-Adzaan wal-Iqaamah- al-Tharifi; 108).

Namun ulama yang lain juga menyebutkan bahwa bacaan ini hendaknya dibaca setelah muazin selesai mengumandangkan azan secara keseluruhan, yakni dibaca beserta doa setelah azan yang biasa dibaca setelah muazin mengucapkan lafal azan terakhir “Laa ilaaha illallaah”. (lihat: Tuhfatul-Ahwadzi: 1/529).

Kesimpulannya: Inilah salah satu doa yang diucapkan saat azan. Kapan seseorang membacanya tatkala azan baik ketika muazin usai membaca dua kalimat syahadat atau setelah selesai mengumandangkan azan, maka semua tetap disunahkan, insya Allah.

Adapun pernyataan bahwa bacaan tersebut merupakan salah satu dari 3 syarat terkabulnya doa, maka tidak benar, karena tidak adanya dalil yang menunjukkan hal tersebut. Hanya saja  siapa yang mengamalkannya tentu telah menambah ketaatan dan ibadah kepada Allah. Harap dicatat yang bisa menjadi salah satu penguat untuk mustajabnya doa bukan syarat mustajabnya. Wallaahu a’lam.

✍ Dijawab Oleh Ustadz Maulana La Eda Lc

(Alumni Fakultas Hadits Universitas Islam Madinah, saat ini menempuh S2 di fakultas yg sama)

➡ Sumber 👉 http://wahdah.or.id/adakah-bacaan-khusus-setelah-muazin-membaca-asyhadu-anna-muhammadan-rasulullah/

Sholat Jamaah

Bolehkah Dua atau Lebih Sholat Jamaah dalam Satu Masjid ?

Dua Sholat Jamaah dalam Satu Masjid

Assaalamualaikum.

Afwan, Ustad ana mau bertanya bolehkah ada dua sholat Jamaah dalam satu masjid?

Jawab :

Waalaikumsalam Warahmatullah Wabarakatuh

Kesimpulannya :

Tidak ada dalil, yg secara langsung melarang 2 sholat jamaah dalam satu mesjid.

Tapi Tidak sepantasnya dalam satu mesjid ada 2 jamaah. Jika ia salat di salah satu jamaah, maka sah salatnya dan tidak perlu mengulangi lagi.

Dalam masalah ini para ulama berpendapat :

1) Jika di mesjid yg ada imam rowatibnya, maka makruh hukumnya, untuk mengadakan jamaah kedua pada saat bersamaan. Solusinya ia mengikuti jamaah yg sdh ada atau menunggu jamaah pertama selesai. Dengan alasan bakal menimbulkan perpecahan, berburuk sangka dan permasalahan baru.

2) Jika di mesjid yg tidak ada imam rowatibnya, maka tidak mengapa 2 jamaah dalam satu mesjid secara bersamaan, seperti mesjid2 di pinggir jalan dan tempat-tempat umum, walaupun yg lebih baik, mengikuti yg sdh ada atau menunggu jamaah pertama selesai demi kemaslahatan.

Wallahu a’lam

Sumber:

http://www.awqaf.gov.ae/Fatwa.aspx?SectionID=9&RefID=2610

dijawab oleh :

Ust Irwan Kadar, Lc (Pengajar di Pesantren Dai Qur’ani – Cibinong)