⁠⁠⁠Wahdah Jakarta Ifthor On The Road

⁠⁠⁠Wahdah Jakarta Ifthor On The Road

Sore ini, Kamis 22 Juni 2017 pkl 17.30 telah Berlangsung Ifthor On The Road di depan gedung Buncit 36 Jalan Warung Buncit 36, Jaksel.

Dalam Hitungan Menit Nasi Sejumlah 70 box dan ratusan Ta’jil berupa snack, kurma dan Teh Gelas habis dibagikan kepada pengguna jalan.

Turut serta beberapa relawan dari lembaga yang ada di Gedung Buncit seperti Relawan Perkumpulan Dai dan Ulama Se Asia Tenggara, Basaer Publishing, Ummat TV, Security Buncit 36 dan LAZIS Wahdah yang mengkoordinir kegiatan bersama Departemen Sosial Wahdah Jakarta.

 

“Mengasyikkan”. Ujar salah seorang relawan.

Pengendara yang sedang kelelahan dan kecapaian banyak yang mengucapkan terima Kasih.

Hal ini tentu diharapkan sedikit memberi solusi rasa dahaga dan lapar, kepada para pengguna jalan yang memang sangat kesulitan mencari tempat utk sekedar berhenti di tengah jalan disebabkan terkadang mereka berburu dengan waktu.

Panitia mengucapkan terima Kasih kepada donatur, relawan dan semua pihak yang telah turut mendukung acara ini.

Mudah-mudahan Allah menerima amal ibadah kita semua. (Ihsj)

⁠⁠⁠Wahdah Jakarta Ifthor On The Road

⁠⁠⁠Wahdah Jakarta Ifthor On The Road

⁠⁠⁠Wahdah Jakarta Semarakkan Kawasan Halal Fair I MUI DKI Jakarta

Kawasan Halal Fair I MUI DKI Jakarta

Wahdah Jakarta bekerjasama dengan LAZIS Wahdah turut hadir menyemarakkan Kawasan Halal Fair I yang diselenggarakan MUI DKI Jakarta di Plaza Semanggi. Kegiatan yang berlangsung 10 hari ini dari tanggal 09-18 Juni 2017 berlangsung cukup meriah.

Acara ini disponsori oleh lembaga – lembaga nasional yang ternama. Lembaga – lembaga tersebut di antaranya BNI syariah, PAYTREN, BUKOPIN Syariah, INDOSAT, BAZIS, Wardah Cosmetic, Rabbani, LAZIS Wahdah, dan lainnya. Tidak ketinggalan berbagai komunitas yang sedang berkembang di Jakarta turut memeriahkan kegiatan ini seperti Komunitas Terang, Komunitas Digital Marketing Muslim, Masyarakat Tanpa Riba, Sinergi Pendaki Muslim, dan sebagainya.

Tujuan diadakan kegiatan ini adalah mensyiarkan dan mensosialisasikan produk halal yang sudah tersertifikasi halal MUI. Di samping sebagai upaya mendukung dan memajukan UKM asli Indonesia.

Wahdah Jakarta bekerjasama LAZIS Wahdah berusaha mensupport event yang diselenggarakan MUI DKI Jakarta ini dengan mengisi kajian menjelang buka bersama. Seyogyanya ada 4 hari yang dapat diisi oleh Wahdah Jakarta, tetapi qadarullah karena waktu persiapan yang pendek, hanya dapat dipenuhi 2 hari saja.

Perkenalan Rumah Quran DIROSA Jakarta

Selain mensupport acara dengan kajian jelang buka yang berupa Pelatihan Tajwid bersama Syaikh dari Timur Tengah dan Training Menerjemah Al Qur’an. Dalam acara itu Wahdah Jakarta bersama LAZIS Wahdah memperkenalkan Rumah Qur’an DIROSA Jakarta.

Layanan Rumah Qur’an DIROSA sendiri terdiri dari :

1) Belajar Al Qur’an dari Nol untuk orang dewasa
2) Pelatihan Tahsin/Tahfidz Al Qur’an
3) Training Menerjemah Al Qur’an
4) Pendidikan Calon Pengajar Al Qur’an

Banyak peserta yang hadir dan bertanya di Stand untuk mengikuti berbagai layanan yang ada pada Rumah Qur’an DIROSA Jakarta.

Alhamdulillah dalam kesempatan acara ini turut hadir di Stand bersama wahdah Jakarta dan LAZIS Wahdah beberapa tokoh MUI dan Kemenag memberikan support terhadap program-program yang diberikan.

Selain program pelatihan membaca Al Quran dengan metode Dirosa, Lazis Wahdah Jakarta juga memiliki program-program lain diantaranya donasi motor dakwah, kajian rutin, zakat manfaat, sedekah beras dan wakaf media.

Insya Allah kegiatan selanjutnya akan diselenggarakan kembali pada Bulan Oktober 2017. Semoga Allah memberikan kemudahan dan pertolongan. (Ihsj)

Puasalah Agar Kamu Bertakwa

Hubungan Antara Puasa dan Takwa

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ﴿١٨٣﴾

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (Qs. Al-Baqarah: 183)

Allah Ta’ala berfirman dengan mengarahkan pembicaraan kepada orang-orang beriman dan menyuruh mereka berpuasa (shiyam), yakni menahan diri (imsak) dari makan, minum, dan bercampur suami-istri disertai niat ikhlas karena Allah ‘azza wa jalla, karena di dalam puasa tersebut terkandung pensucian jiwa serta membersihaknnya dari kotoran yang buruk dan akhlaq yang hina”. Demikian dikatakan Al-Imam Imadudin  Abul Fida Isma’il bin Umar bin Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat ini.

Awal  ayat ini, “Wahai orang beriman” merupakan seruan cinta yang sagat indah dari Allah. Ini adalah panggilan indah dari Tuhan semsta alam yang menciptakanmu, memberimu rezki, dan menjadikanmu dari tiada menjadi ada, serta menunjukimu dan memuliakanmu. Demikian dikatakan Syekh Prof. DR. Nashir bin Sulaiman al-Umar hafidzahullah dalam kitabnya Liyadabbaru Ayatihi (hlm.23). Seolah Allah hendak mengawali rangkaian ayat tentang puasa ini dengan seruan cinta pada para hamba-Nya yang mengimani dan mencintai-Nya, “Wahai orang-orang yang beriman pada-Ku dan mencintai-Ku, Aku mewajibkan puasa kepada kalian”.

Sebab setelah seruan ini ada perintah yang tidak dapat dijalankan oleh semua hamba-Nya. Perintah yang akan diinstruksikan hanya sanggup dilaksanakan oleh mereka yang mengimani-Nya. Karena hanya orang beriman yang siap menjawab seruan dan perintah Allah. Karena tidak pantas bagi orang beriman memiliki pilihan dan sikap lain saat berhadapan dengan perintah Allah.

Oleh karena itu pula ayat-ayat yang diawali dengan Ya ayyuhalladzina amanu umumnya berisi perintah dan larangan. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

Jika kamu mendengar Allah berfirman, “Ya ayyuhalladzina amanu”, maka pusatkanlah pendengaranmu baik-baik, karena (setelahnya) adalah kebaikan yang diperintahkan atau keburukan yang dilarang (mengerjakannya)”. (Tafsir Ibnu Abi Hatim, 1037).

Dan tidak diragukan lagi bahwa perintah puasa merupakan kebaikan yang mengandung kemaslahatan bagi manusia dalam seluruh aspek dan dimensi, baik secara ruhiyah (spritual), jasadiyah (fisik) maupun  nafsiyah (psikis). Oleh  sebab itu Sykh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menyebut pensyariatan pewajiban puasa sebagai karunia Allah. “Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia mewajibkan  puasa kepada mereka (orang beriman) sebagaimana telah Dia wajibkan kepada ummat-ummat sebelumnya, karena puasa termasuk syariat dan perintah yang mengandung maslahat bagi makhluk di setiap zaman”, tegas Syekh As-Sa’di”. (Taisir Karimir Rahman, 83).

Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.

Kemudian Allah menjelaskan hikmah dan tujuan puasa, yakni, ‘’la’allakum tattaqun”. Agar kalian bertakwa. “Jadi ternyata puasa merupakan  sarana (wasilah) sarana untuk suatu tujuan (ghayah)”, kata Syekh Nashir al-Umar hafidzahullah. “Sarananya meninggalkan makan dan minum serta meninggalkan setiap yang diharamkan Allah Jalla wa ‘alaa, dan tujuannya adalah takwa”, lanjutnya.

Lalu apa hubungan timbal balik antara puasa dan takwa? “Karena puasa merupakan sebab paling utama mencapai takwa, sebab di dalam puasa tercakup menunaikan perintah dan meninggalkan larangan”, jelas Syekh As-Sa’di. Bahkan hampir semua aspek dan unsuryang masuk dalam makna takwa terdapat dalam puasa.

Misalnya, orang berpuasa meninggalkan hal-hal yang diharamkan Allah kepadanya berupa makanan, minuman, bercampur suami-istri, dan meninggalkan hal lain yang digandrungi oleh jiwa dngan niat taqarrub kepada Allah dan berharap pahala. Ini adalah takwa, karena pengertian takwa sebagaimana didfinisikan oleh Tabi’in yang mulia Thalq bin Habib rahimahullah adalah,

“Engkau mengamalkan ketaatan kepada Allah berdasarkan (panduan) cahaya (petunjuk) Allah karena mengharap pahala[Nya] Allah, dan engkau meninggalkan apa yang dilarang Allah berdasarkan cahaya Allah karena takut kepada adzab Allah”.

Orang yang berpuasa juga melatih  dirinya dalam menumbuhkan sikap murabaqabtullah (merasa diawasi oleh Allah). Sehingga  ia meninggalkan apa-apa yang diinginkan oleh nafsunya pada saat ia mampu melakukannya, karena ia tahu bahwa ia dilihat dan diawasi oleh Allah. Ini juga merupakan jalan meraih dan memperkuat takwa.

Orang yang puasa juga mempersempit ruang gerak setan yang mengalir dalam diri manusia melalui aliran darah. Dengan puasa setan  melemah sehingga orang yang berpuasa sedikit dosanya dan banyak ketaatan yang  dilakukannya. Hal ini juga merupakan bagian dari takwa. Ketika  merasakan sakitnya rasa lapar saat puasa maka muncul sikap empati, cinta, kasih sayang kepada sesama. Ini juga merupakan bagian dari realisasi makna takwa.

Antara Iman, Puasa dan Takwa

Dalam ayat ini perintah berpuasa ditujukan kepada orang beriman. Tujuan dan hikmahnya adalah takwa. Lalu adakah benang merah yang menghubungkan ketiga hal ini (iman, puasa dan takwa)? Iman adalah sesuatu yang terpatri kuat dalam hati dan dibuktikan oleh amal perbuatan.

Demikian pula dengan takwa. “Takwa itu di sini”, kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya menunjuk ke dadanya. Jadi, iman dan takwa bersemayam di hati lalu mengejawantah dalam amal perbuatan. Artinya hakikat iman dan takwa adalah rahasia seorang hamba dengan Allah. Ini sama halnya dengan puasa yang juga merupakan rahasia antara seorang hamba dengan Allah.

Sebagaimana firman Allah dalam hadits qudsi,

“Setiap amalan anak Adam untuknya, kecuali puasa, dan Akulah yang membalasnya”.

Inilah korelasi kuat antara iman, puasa, dan takwa. Ketiganya merupakan perkara rahasia yang hanya diketahui Allah. Semakin intens seorang hamba melakukan amalan-amalan rahasia seperti puasa maka semakin meningkat kwalitas iman dan takwanya.

Semoga puasa yang kita jalankan memperkuat iman dan takwa kita kepada-Nya. [sym]

Memupuk Iman Menggapai Hidayah

Hidayah

إنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ يَهْدِيهِمْ رَبُّهُم بِإِيمَانِهِمْ ۖ تَجْرِي مِن تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ ﴿٩﴾

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan. (Qs. Yunus:9).

Ini adalah pengabaran tentang keadaan orang-orang yang bahagia, (yakni) orang-orang beriman dan membenarkan para Rasul serta menunaikan perintah yang diberikan kepda mereka berupa amal shaleh, bahwa Allah akan menunjuki mereka disebabkan oleh iman mereka tersebut. Demikian dikatakan oleh Imam Abul Fida Ismail bin Umar bin Katsir dalam Kitabnya Tafsir al-Qur’an al-‘Adziem (2/ 1364).

Itulah janji Allah kepada orang-orang beriman yang benar imannya. Iman yang benar adalah bukan sekadar pengakuan. Karena “semua orang dapat membuka mulut dan bersorak-sorak mengatakan beriman, mendakwakan diri percaya kepada Allah sebab mulut itu mudah berkata,” terang Syekh Abdulkarim bin Abdul Malik Amrullah.

Tetapi di dalam ayat ini ditegaskan lagi, bahwa pengakuan percaya saja belumlah cukup. Iman adalah kepercayaan di dalam hati, dan dia belum berarti sebelum dibuktikan dengan amal shalih, lanjut Ulama yang populer dengan nama Buya Hamka ini.

Artinya iman itu dipraktekan dengan perbuatan, atau mengambil initiatif untuk melancarkan perjalanan hidup dengan iman. Maka apabila Allah telah melihat kegiatan hamba-Nya itu dengan iman dan amal shalih, Dia sendiri akan memimpin, memberi petunjuk dengan iman yang ada padanya itu, sehingga dia selamat menempuh Ash-Shirathal Mustaqim itu atau Sabilillah itu, urainya lagi.

Jadi makna yahdihim Rabbuhum bi Imanihim menurut Buya Hamka adalah Allah akan membimbing atau memimpin orang beriman yang mempraktikkan imannya dengan amal Shalih. Pendapat Buya Hamka ini merujuk kepada perkataan Imam Mujahid yang dikutip oleh Ibnu Katsir (2/1364) bahwa Makna yahdihim Rabbuhum bi Imanihim adalah mereka diberi cahaya yang kemudian mereka berjalan dengan (penerangan) cahaya tersebut.

Cahaya yang dimaksud sebagaimana diisyaratkan dalam beberapa ayat diantaranya Surat Al-Hadid ayat 28:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِن رَّحْمَتِهِ وَيَجْعَل لَّكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ ﴿الحديد: ٢٨﴾

Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs. Al-Hadid:28).

Melalui ayat di atas Allah menjajikan cahaya sebagai suluh dalam menjalani kehidupan dunia ini kepada orang beriman. Maksud “dan menjadikan cahaya untukmu yang dengan cahaya itu kamu dapat bejalan” adalah Dia (Allah) memberimu ilmu, petunjuk, dan cahaya yang dengannya kamu berjalan di tengah gelapnya kejahilan. (Tafsir As Sa’di, hlm.994). Dengan syarat iman tersebut mengejawantah dalam takwa. Takwa di sini bermakna menjalankan perintah dan meninggalkan larangan Allah.

Itu balasan di dunia. Orang beriman yang membuktikan imannya dengan takwa dan amal shaleh akan selalu dibimbing oleh Allah untuk meraih ridha-Nya. Karunia berupa bimbingan ini diuraikan secara panjang oleh Buya Hamka dalam Tafsirnya. Beliau mengatakan, “Maka orang yang beriman dan bermal shalih tidaklah pernah lepas dari bimbingan Tuhan, dari Tauhid, dan Hidayah-Nya. Betapapun besarnya kesukaran yang ditempuhnya, namun di dalam kesukaran itu akan bertemu kemudahan. Dia tidak pernah kehilangan cahaya, sebab cahaya ada dalam hatinya sendiri. Dia tidak pernah merasa sepi, sebab Tuhan lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya sendiri.

Buya memandang bahwa diantara pelajaran yang hendaknya dipetik dari ayat ini adalah pentingnya perjuangan menegakkan iman. Perjuangan menegakkan iman yang paling pertama adalah memupuk dan membuktikan iman tersebut dengan amal shalih sebagai prasyarat mendapat cahaya bimbingan Allah. Beliau kemudian melanjutkan, “Ayat ini menjelasakn benar kepada kita, bahwa kalau tunas iman telah mulai terasa tumbuh dalam diri kita, janganlah kita pasif, atau kita diamkan saja.

Lekas buktikan, lekas pupuk. Seabab dengan demikian kita telah mendapat modal besar untuk menempuh hidup. Kalau iman sudah terasa walau baru sedikit, pupuklah ia dengan amal dan ibadat. Sebab amal dan ibadat itu akan menambah suburnya.” (Tafsir Al-azhar,11/158).

Adapaun balasan di akhirat Allah akan menerangi mereka dalam melintasi shirath pada hari kiamat kelak (Al-Mukhtashar fit Tafsir, hlm.541). Keberhasilan melintasi shirath tersebut pada akhirnya menghantarkan mereka masuk ke dalam surga yang penuh kenikmatan. Sebagaimana diisyaratkan oleh ujung ayat, “di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan.” (ujung ayat 9) .

Namun patut dicatat bahwa nikmat surga sebagai balasan iman hanya akan didapatkan oleh mereka yang mendapat bimbingan berupa hidayah sewaktu di dunia. Dengan kata lain nikmat hidayah di dunia sebagai buah dari amal shaleh merupakan pengantar atas balasan di akhirat kelak. Inilah yang diisyaratkan oleh Buya Hamka dalam perkataannya, “Dan oleh sebab itu pula teranglah bahwa jalan ke syurga itu telah dimulai dari sekarang juga.

Gembira dalam syurga kelak memetik hasil apa yang telah ditanam di dalam dunia, dan gembira sebab di dunia telah terasa bahwa Tuhan selalu ada di dekatnya, dan di akhirat kelak akan bertemu langsung dengan wajah-Nya.” (Tafsir Al-Azhar,11/158-159).

Kesimpulan
Ayat ini mengabarkan tentang jaminan Allah terhadap orang-orang beriman dan beramal shaleh. Bahwa Allah akan memberikan balasan besar di dunia dan di akhirat. Disebabkan oleh Iman yang mereka miliki maka di dunia Allah akan menunjuki dan membimbing mereka untuk melakukan amal shaleh yang mendatangkan ridha Allah. Sedangkan di akhirat Allah akan memasukan mereka ke dalam surga yang penuh kenikmatan dan kekal di dalamnya. [sym].