Hijab

Batasan Hijab Wanita

HIJAB WANITA

Soal Ke-130
💌 Tanya Ustad 💌

📩PERTANYAAN📩
Bismillah..
Mohon diberikan penjelasan dan landasan hukumnya baik berdasar Alquran maupun Hadist mengenai keharusan seorang muslimah menggunakan hijab syar’i.
syukron ustad
aedy moward#serpong#bii55

📌JAWABAN📌
Bismillaah,,
Untuk menjawab pertanyaan anda dibutuhkan satu pembahasan khusus, dan ini lah salah satu pembahasan ringkas tentang hijab wanita muslimah, yang disadur dari: http://markazinayah.com/hijab-wanita.html , selamat membaca:

Hijab Wanita

🌱 Harga diri dan kemuliaan seorang wanita sangat bernilai dalam pandangan Islam. Ini tergambarkan begitu jelas dalam tujuan dan misi utama Islam; yaitu tuntunan yang datang untuk menyelamatkan agama [aqidah dan syariat], jiwa, harta, akal, dan harga diri [kehormatan] umat manusia.
Demi menjaga harga diri seorang wanita, Islam telah menetapkan beberapa batasan dan aturan yang sesuai dengan fitrahnya. Artinya, ketika seorang wanita keluar dari batasan-batasan Allah ini, maka pada dasarnya ia telah menentang fitrah penciptaannya dan pasti akan berakibat fatal pada harga diri dan agamanya.

🌱 Di antara aturan Islam tersebut adalah: Menjauhi segala perbuatan yang bisa menjerumuskan seseorang dalam hubungan haram, maksiat zina, dan pelecehan harga diri seorang wanita. Selain pacaran dan berdua-duaan dengan laki-laki bukan mahram, perbuatan yang bisa menjerumuskan seseorang dalam perbuatan nista ini adalah menanggalkan hijab atau pakaian yang menutup seluruh aurat dan perhiasan yang dipakainya. Allah Ta’ala berfirman:

“Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan menjaga kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang [biasa] tampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya.” [QS. An-Nur: 31].

Sebagai seorang muslimah, hijab merupakan penjaga harga diri dan potret kemuliaannya. Dengannya ia lebih dikenal sebagai wanita yang memiliki identitas muslimah sejati serta bisa menjaga aurat dan menutup pintu kenistaan atas dirinya.

🌱 Ini salah satu di antara sekian hikmah hijab yang disyariatkan oleh Allah sebagaimana firmanNya:

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.” [QS. Al-Ahzab: 59].

Kandungan ayat ini sangat jelas bahwa fungsi dan hikmah dari hijab adalah untuk menghindari terjadinya dosa dan fitnah yang mengancam kehormatan dan harga diri kaum wanita. Oleh sebab itu, hijab dan menutup aurat secara sempurna merupakan suatu kewajiban yang harus diperhatikan oleh setiap muslimah. Ayat di atas juga menegaskan bahwa memakai hijab bukanlah suatu kewajiban dan amanah semata, namun ia juga merupakan suatu anugerah yang patut disyukuri oleh setiap kaum muslimah.

🍂 Perlu diperhatikan bahwa hijab dan pakaian penutup aurat ini memiliki kriteria yang diatur secara jelas dalam al-Quran dan sunnah. Di antara kriteria tersebut adalah:

•1. Menutupi seluruh aurat.
Dalam perkara aurat ini, para ulama berbeda dalam dua pendapat.

Pendapat pertama: menyatakan bahwa aurat wanita adalah seluruh tubuhnya, sebab itu ia diwajibkan memakai hijab yang bisa menutup seluruh tubuhnya tanpa terkecuali.

Pendapat kedua: menyatakan bahwa wajah dan telapak tangan bukan termasuk aurat, sehingga menutup keduanya adalah sunah. Namun perlu diketahui, pendapat yang kedua ini tidak memutlakkan bolehnya menampakkan wajah dan telapak tangan begitu saja, sebab pendapat ini mensyaratkan bolehnya menampakkan keduanya kalau tidak dikhawatirkan menimbulkan fitnah dan menjadi objek pandangan kaum laki-laki.

•2. Pakaiannya longgar dan tidak ketat, juga tebal dan tidak tipis agar tidak menampakkan lekuk dan bentuk tubuh.
Rasulullah telah mengancam para wanita yang memakai pakaian tipis dan ketat dalam sabda beliau:
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا، قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌمُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ، رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ، وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
“Ada dua kelompok termasuk ahli neraka, aku belum pernah melihatnya; yaitu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi untuk memukuli manusia, dan para wanita yang berpakaian tapi telanjang [baik karena tipis atau pendek sehingga tidak menutup auratnya], berlenggak-lenggok [ketika berjalan agar diperhatikan orang], kepala mereka seperti punuk unta. Mereka tidak masuk surga dan tidak mendapatkan baunya, padahal baunya bisa didapati dari jarak perjalanan demikian dan demikian.” [HR. Muslim].

•3. Warnanya tidak terlalu mencolok dan tidak memuat hiasan.
Karena hal yang demikian ini bisa menarik perhatian kaum laki-laki. Alangkah baiknya memilih warna yang gelap atau warna lain yang tidak terlalu mencolok.

•4. Tidak memakai wewangian yang menyengat ketika keluar rumah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا رِيحَهَا فَهِيَ زَانِيَة
“Setiap wanita yang memakai wewangian lalu keluar melewati suatu kaum [laki-laki] agar mereka bisa mencium bau wanginya, maka ia laksana penzina.” [HR. Abu Dawud, hasan].

Jika kriteria hijab ini tidak terpenuhi, maka ia merupakan pakaian berlabel tabarruj jahiliah [berpakaian ala kaum jahiliah] dan hal ini telah dilarang oleh Allah Ta’ala:
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliah yang dahulu, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan RasulNya.” [QS. Al-Ahzab: 33].
Ayat ini juga menjelaskan bahwa seorang muslimah seharusnya menetap di dalam rumah dan tidak keluar kecuali untuk suatu hajat atau keperluan, sebab banyak keluar tanpa ada alasan tepat merupakan sikap wanita jahiliah sebagaimana halnya menampakkan aurat dan perhiasan di hadapan lawan jenis yang bukan mahram.

🍂 Syariat yang diturunkan Allah pasti memiliki suatu hikmah dan manfaat yang sangat besar, sebab Allah tidak mewajibkan suatu amalan kecuali amalan tersebut memiliki maslahat dan manfaat yang besar dan pasti. Demikian halnya dengan hijab ini. Di antara maslahat itu ialah:

•1. Menjaga aurat, harga diri, dan kemuliaan seorang wanita. Dengan hijab identitas dirinya sebagai muslimah sejati bisa terjaga, sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya. Dengan berjilbab pula wanita bisa menjauhi tempat-tempat maksiat, dan terhindar dari pelecehan seksual.

•2. Menyelamatkan seorang wanita dari azab neraka yang disebutkan dalam hadits-hadits di atas. Siksa Allah amatlah pedih. Jangan sampai kita mengira bahwa tubuh kita akan kuat menahan siksaNya.

•3. Hijab merupakan ibadah yang mudah dan ringan, namun mendatangkan cinta dan ridha Allah Ta’ala. Allah berfirman dalam hadits qudsi:
“HambaKu tidak mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatupun yang lebih Kucintai daripada apa yang Aku wajibkan.” [HR. Bukhari].

•4. Menyerupai sifat bidadari surga yang senantiasa menjaga dan menutup dirinya, serta tidak memandang atau menampakkan aurat dan perhiasannya kecuali kepada suami-suami mereka. Dengan hijab seorang wanita bisa menjadi seorang ratu bidadari surga.

•5. Hijab salah satu tanda kesalehan dan menambah aura kecantikan baik secara lahir ataupun batin. Dengannya ia bisa berteman dengan wanita-wanita muslimah yang salehah. Bahkan bisa mendatangkan jodoh yang saleh pula. Dalam ayat al-Quran disebutkan:
“Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik [pula].” [QS. An-Nur: 26].

 

✏ Dijawab oleh Ustad Maulana La Eda, Lc. Hafizhahullah
(Mahasiswa S2 Jurusan Ilmu Hadis, Universitas Islam Madinah)

🍀Grup WA Belajar Islam Intensif🍀

 

Gabung Grup BII
Ketik BII#Nama#L/P#Daerah
Kirim via WhatsApp ke:
📱 +628113940090

👍Like FP Belajar Islam Intensif
👍Follow instagram belajar.islam.intensif
🌐 www.belajarislamintensif.com

🍀Belajar Islam Intensif🍀

Memandang Wajah Allah

Nikmatnya Memandang Wajah Allah

Nikmat Memandang Wajah Allah di Surga

Melihat Wajah Allah adalah nikmat yang paling nikmat untuk orang-orang yang ada dalam surga. Selain itu menempati surga adalah nikmat yang luar  biasa. Kenikmatannya tak bisa dibayangkan. Seindah apapun keindahan surga yang kita bayangkan tetap masih jauh dari keadaan yang sesungguhnya dari betapa nikmatnya kenikmatan surga. Dalam hadits qudsi Allah berfirman menggambarkan keadaan surga:

«أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ، ……»

Artinya: “Aku telah siapkan bagi hamba-hambaku yang sholih sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas dalam benak manusia, …”. (HR. Bukhari, Muslim).

Keindahan yang pernah kita lihat atau pernah kita dengar, atau juga pernah masuk dalam khayalan kita maka itu belum apa-apanya dibandingkan surga, seindah apapun keadaan yang kita bayangkan tersebut.

Kelezatan surga atau keindahannya yang akan dinikmati oleh penduduk surga tidak dapat ditandingi oleh kelezatan dan keindahan dunia ini. Seindah apapun dunianya seseorang atau sekaya apapun dia. Penduduk surga tidak akan merasa bosan dan letih  dalam menikmati lezatnya surga, sehingga itu mereka tidak membutuhkan tidur untuk memulihkan tenaga. Nabi Muhammad Shollallah ‘alaihi Wasallam bersabda:

عن جابر بن عبد الله سئل نبي الله فقيل : يا رسول الله ؛ أينام أهل الجنة ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : النوم أخو الموت ، وأهل الجنة لا ينامون. رواه الطبراني في الأوسط

Dari Jabir Bin Abdillah, Nabi ditanya, wahai Rasul Allah apakah penduduk surga tidur? Maka Rasul Allah menjawab:”Tidur itu saudaranya mati, dan penduduk surga tidaklah tidur.”(HR. Thabrani, dishohihkan oleh Imam Suyuthi dan al Albaani)

Bahkan mereka selalu dalam kesibukan, Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِي شُغُلٍ
فَاكِهُونَ
Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka)”. (QS. Yasin 55)
Imam Qurthubi menukil perkataan Ibnu ‘Abbas r.a, Ibnu Mas’ud r.a, Qotadah, mujahid rah., bahwa mereka disibukkan dengan memecahkan keperawanan istri-istri mereka. (Jami’u Liahkamil Quran Vol. 15 Hal. 43)

Kenikmatan surga yang tidak bisa dilukiskan dengan kata- kata tersebut ternyata masih kalah nikmatnya dengan melihat Wajah Allah, ternyata penduduk surga ketika melihat Wajah Allah seolah mereka tidak pernah merasakan lezatnya surga dengan segala kenikmatannya, kenikmatannya sirna setelah mereka melihat Wajah Allah, karena mereka merasakan sungguh nikmatnya melihat Wajah Allah. Mari simak hadits nabi berikut ini….

‏ﻋَﻦْ ﺻُﻬَﻴْﺐٍ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻋَﻦْ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺎﻝَ : ” ﺇِﺫَﺍ ﺩَﺧَﻞَ ﺃَﻫْﻞُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﻗَﺎﻝَ : ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺗَﺒَﺎﺭَﻙَ ﻭَﺗَﻌَﺎﻟَﻰ : ﺗُﺮِﻳﺪُﻭﻥَ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﺃَﺯِﻳﺪُﻛُﻢْ ﻓَﻴَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﺃَﻟَﻢْ ﺗُﺒَﻴِّﺾْ ﻭُﺟُﻮﻫَﻨَﺎ ﺃَﻟَﻢْ ﺗُﺪْﺧِﻠْﻨَﺎ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﻭَﺗُﻨَﺠِّﻨَﺎ ﻣِﻦْ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﻗَﺎﻝَ ﻓَﻴَﻜْﺸِﻒُ ﺍﻟْﺤِﺠَﺎﺏَ ﻓَﻤَﺎ ﺃُﻋْﻄُﻮﺍ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﺃَﺣَﺐَّ ﺇِﻟَﻴْﻬِﻢْ ﻣِﻦْ ﺍﻟﻨَّﻈَﺮِ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺑِّﻬِﻢْ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ﻭﻫﻲ ﺍﻟﺰﻳﺎﺩﺓ ﺛُﻢَّ ﺗَﻠَﺎ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟْﺂﻳَﺔَ ‏ ﻟِﻠَّﺬِﻳﻦَ ﺃَﺣْﺴَﻨُﻮﺍ ﺍﻟْﺤُﺴْﻨَﻰ ﻭَﺯِﻳَﺎﺩَﺓٌ ‏

Dari Shuhaib r.a dari Nabi Muhammad Shollallah ‘alaihi Wa Sallam bersabda:”Ketika penduduk surga telah memasuki surga (dan telah menikmati fasilitas surga), Allah Ta’ala berfirman: “Adakah sesuatu yang perlu aku tambahkan yang menjadi keinginan kalian?, maka mereka berkata, bukankah Engkau telah memutihkan wajah kami, dan telah memasukan kami ke dalam surga, dan telah menyelamatkan kami dari neraka? Maka kemudian Allah menyingkab hijab, maka tidak ada sesuatu yang paling mereka sukai selain melihat Wajah Tuhan mereka, maka itulah tambahan (yang dimaksud dalam Ayat) beliau membaca  yang artinya: Bagi orang-orang yang berbuat baik surga dan ada tambahan (QS. Yunus 26) (HR. Muslim)

Berkata Ibnu Rajab Al Hanbali: ” Apa yang diperoleh penduduk surga, yaitu kejelasan llmu Allah, Nama-namaNya, Sifat-sifatNya dan PerbuatanNya, kedekatan dan menyaksikanNya serta kelezatan berdzikir padaNya adalah perkara yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata keadaan rupanya di dunia, karena penduduk surga tidak pernah mendapatinya di dunia, bahkan itu adalah hal yang tidak pernah terlihat di dunia, tidak pernah di dengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas di alam pikir manusia (Tafsir Ibnu Rajab: Rawai’uttafsir, Hal. 63 Vol. 6)

Untuk mendekatkan pemahaman kita tentang bagaimana keadaan mereka penduduk surga tatkala melihat Wajah Allah dan keterpesonaan mereka, maka kita baca firman Allah yang menceritakan tentang para perempuan melihat ketampanan Nabi Yusuf ‘alaihissalaam, Allah Ta’ala berfirman:

ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺳَﻤِﻌَﺖْ ﺑِﻤَﻜْﺮِﻫِﻦَّ ﺃَﺭْﺳَﻠَﺖْ ﺇِﻟَﻴْﻬِﻦَّ ﻭَﺃَﻋْﺘَﺪَﺕْ ﻟَﻬُﻦَّ ﻣُﺘَّﻜَﺄً ﻭَﺁﺗَﺖْ ﻛُﻞَّ ﻭَﺍﺣِﺪَﺓٍ ﻣِﻨْﻬُﻦَّ ﺳِﻜِّﻴﻨًﺎ ﻭَﻗَﺎﻟَﺖِ ﺍﺧْﺮُﺝْ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻦَّ ۖ ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺭَﺃَﻳْﻨَﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮْﻧَﻪُ ﻭَﻗَﻄَّﻌْﻦَ ﺃَﻳْﺪِﻳَﻬُﻦَّ ﻭَﻗُﻠْﻦَ ﺣَﺎﺵَ ﻟِﻠَّﻪِ ﻣَﺎ ﻫَٰﺬَﺍ ﺑَﺸَﺮًﺍ ﺇِﻥْ ﻫَٰﺬَﺍ ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﻠَﻚٌ ﻛَﺮِﻳﻢٌ
artinya: “Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian dia berkata (kepada Yusuf): “Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka”. Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa)nya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: “Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia”. (QS. Yusuf 31).

Lihatlah para perempuan tersebut terpesona melihat ketampanan Nabi Yusuf ‘alaihissalaam tanpa terasa mereka melukai tangan mereka sendiri,  dan Allah memiliki permisalan yang lebih tinggi.

Pendapat Ahlu Sunnah tentang melihat Allah

Pendapat yang paling rajih (kuat) bahwa orang-orang beriman diberi kesempatan untuk melihat Wajah Allah Ta’ala di akhirat kelak, yaitu bagi penduduk surga, dalam hadits Nabi Muhammad Shollallah ‘alaihi wa sallam:

ﻭﻓﻲ ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﻴﻦ ﺃﻳﻀﺎ ‏( ﺥ / 6883 . ﻡ / 1002 ‏) ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﺟﺮﻳﺮ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺒﺠﻠﻲ ﻗﺎﻝ : ﻛﻨﺎ ﺟﻠﻮﺳﺎ ﻣﻊ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻨﻈﺮ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻘﻤﺮ ﻟﻴﻠﺔ ﺃﺭﺑﻊ ﻋﺸﺮﺓ ﻓﻘﺎﻝ ﺇﻧﻜﻢ ﺳﺘﺮﻭﻥ ﺭﺑﻜﻢ ﻋﻴﺎﻧﺎ ﻛﻤﺎ ﺗﺮﻭﻥ ﻫﺬﺍ ﻻ ﺗﻀﺎﻣﻮﻥ ﻓﻲ ﺭﺅﻳﺘﻪ ”

Jarir Bin Abdillah Al Bajali berkata:” Kami duduk-duduk bersama Nabi Shollallah ‘Alaihi Wasallam maka kami tertuju melihat bulan purnama malam empat belas, maka beliau Shollallah ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:” Sungguh kalian akan melihat Tuhan kalian dengan mata telanjang sebagaimana kalian melihat bulan ini tanpa ada kesulitan dalam melihatnya”. (HR. Bukhari, Muslim)

Allah Ta’ala berfirman:

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ
:Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri”.(QS. Al Qiyamah 22)

إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
” Kepada Tuhannyalah mereka melihat.”(QS. Al Qiyamah 23)

Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar rahimahullah menukil perkataan Ibnu Baththal:

وَقَالَ بن بَطَّالٍ ذَهَبَ أَهْلُ السُّنَّةِ وَجُمْهُورُ الْأُمَّةِ إِلَى جَوَازِ رُؤْيَةِ اللَّهِ فِي الْآخِرَةِ
Berkata Ibnu Baththal:” Ahlussunnah dan jumhur ulama berpendapat bahwa  bolehnya Allah dilihat di akhirat”. (Fathul Bari, Vol. 13 Hal. 426)

Adapun di dunia, mustahil Allah dapat dilihat oleh mata, Allah Ta’ala berfirman:

ﻟَﺎ ﺗُﺪْﺭِﻛُﻪُ ﺍﻟْﺄَﺑْﺼَﺎﺭُ ﻭَﻫُﻮَ ﻳُﺪْﺭِﻙُ ﺍﻟْﺄَﺑْﺼَﺎﺭَ ۖ ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟﻠَّﻄِﻴﻒُ ﺍﻟْﺨَﺒِﻴﺮُ

artinya: “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al An’am 103)

Imam Qurthubi dalam tafsirnya menukil perkataan Sahabat, ahli tafsir Ibnu Abbas r.a kaitannya dengan ayat di atas, (hal tersebut) berlaku di dunia adapun di akhirat orang-orang beriman akan melihatNya (Tafsir Qurthubi Hal. 54 Vol. 7)

Dalam Shohih Muslim, Ummul Mukminin Aisyah r.a berkata:
ﻣﻦ ﺯﻋﻢ ﺃﻥ ﻣﺤﻤﺪﺍً ﺭﺃﻯ ﺭﺑﻪ ﻓﻘﺪ ﺃﻋﻈﻢ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻔﺮﻳﺔ ‏
“Barang siapa mengaku bahwa Nabi Muhammad Shollallah alaihi Wasallam melihat Tuhannya maka sungguh dia telah mengadakan kebohongan besar.

Oleh Ust. Abdurrahman Ever S. Sy

Sumber : Wahdah.or.id

wudhu

Batalkah Wudhu Jika Menyentuh Wanita?

 

Para salaf ash-shalih (orang-orang shalih terdahulu) berbeda pendapat mengenai makna mulamasah (menyentuh) dalam firman Allah azza wajalla:

أو لامستم النساء

“Atau kalian menyentuh wanita”. (QS. An-Nisa: 43)

 

• Ali, Ibn Abbas dan al-Hasan radhiyallahu ‘anhum berpendapat bahwa maknanya adalah hubungan suami istri. Ini merupakan mazhab Hanafiyah.

 

• Ibn Mas”ud, Ibn Umar dan asy-Sya’bi radhiyallahu ‘anhum berpendapat bahwa maknanya adalah menyentuh dengan tangan. Ini merupakan mazhab Syafi’iyyah.

• Ibn Jarir ath-Thabari rahimahullah berkata: “Perkataan yang lebih dekat pada kebenaran dari dua perkataan tersebut adalah pendapat yang memahami bahwa makna firman Allah yang diperselisihkan itu adalah hubungan suami istri bukan makna-makna yang lain dari kata al-Lams (menyentuh). Sebab ada hadits yang shahih bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam mencium sebagian istri-istrinya kemudian beliau shalat tanpa mengulangi wudhu lagi.” Para ulama berbeda pendapat tentang hukum menyentuh wanita, apakah ia membatalkan wudhu atau tidak.

 

• Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu, baik itu ketika menyentuhnya disertai syahwat ataupun tidak. Beliau berdalilkan dengan hadits dari ‘Aisyah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menciumi sebagian istri-istrinya kemudian beliau shalat tanpa mengulangi wudhunya. Beliau juga berdalilkan dengan hadits dari ‘Aisyah yang mencari Nabi shallallahu’alaihi wasallam tatkala Nabi sedang shalat lail. Ketika ‘Aisyah meraba-rabakan tangannya di atas tanah, ia mengenai kaki Nabi shallallahu’alaihi wasallam yang sedang shalat.

 

Adapun ayat tersebut bagi beliau merupakan kinayah dari kata jima’ (hubungan suami istri).

 

• Imam asy-Syafi’i berpendapat bahwa menyentuh wanita membatalkan wudhu, baik itu ketika menyentuhnya disertai syahwat ataupun tidak. Dalil beliau adalah keumuman ayat yang diperselisihkan maknanya tadi. Bagi beliau maknyanya bisa dipahami menyentuh dengan tangan atau melakukan jima’ sebagai makna kiyasan. Dan hukum asalnya adalah memahami teks secara hakikat kecuali jika teks ayat tidak bisa dipahami secara hakikatnya, maka untuk memahaminya dipahami secara majaz (makna kiasannya).

 

• Imam Malik berpendapat bahwa menyentuh wanita disertai syahwat membatalkan wudhu, sedangkan menyentuhnya tanpa disertai syahwat tidaklah membatalkan wudhu.

 

• Imam Ibn Rusyd dalam “Bidayatu al-Mujtahid”nya mengatakan bahwa: “Penyebab perbedaan pendapat diantara mereka adalah karena kata lams (menyentuh) dalam bahasa Arab mengandung makna yang berbeda. Kadang maknanya dipahami secara mutlak bahwa maksudnya adalah menyentuh dengan tangan, dan kadang memang dipahami sebagai makna kiasan dari jima’ (hubungan suami istri).

 

Tarjih (Sesuai pemahaman Syaikh Muhammad Ali ash-Shabuni)

Dari seluruh pendapat yang ada, maka pendapat yang rajih adalah pendapat yang tidak membatalkannya, ini pula yang dikuatkan oleh Ibn Rusyd al-Maliki rahimahmullahu jami’an.

Diringkas dari kitab Rawa’i al-Bayan Tafsir Ayat al-Ahkam min al-Qur’an karya Syaikh Muhammad Ali ash-Shabuni rahimahullah (1/457-459) Peringkas: Abu Ukkasyah Wahyu al-Munawy

Sumber Dari -> http://wahdah.or.id/batalkah-wudhu-jika-menyentuh-wanita/ .