Walikota Depok Buka Diklat Da'i Wahdah Jakarta

Diklat Da’i dan Khatib Wahdah Islamiyah Jakarta Dibuka Oleh Walikota Depok

Wahdah Jakarta – Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Wahdah Islamiyah DKI Jakarta menggelar acara Diklat Da’i dan Khatib di Rumah Makan Pondok Laras, Kecamatan Cimanggis, Sabtu (28/10/2017). Acara tersebut dihadiri oleh Wali Kota Depok, KH Dr. Mohammad Idris, MA. Turut hadir pula Camat Cimanggis Bapak Drs. Henry Hamawan dan Lurah Kel. Tugu Bapak Syaiful Hidayat, MSI.

Dalam sambutannya, KH Mohammad Idris menyampaikan, bahwa kedatangannya untuk berbagi ilmu serta pengalamannya guna membentuk kader da’i dan khatib agar terlatih dalam menyampaikan materi dakwah dengan cara yang baik.

“Saya hadir di sini bukan hanya sekadar hadir saja, melainkan ingin berbagi ilmu serta pengalaman yang saya dapatkan kepada para peserta diklat supaya terlatih dalam penyampaian materi dakwahnya dengan baik,” tutur walikota yang juga ulama dan alumni Timur Tengah ini.

Dirinya memaparkan, dalam berdakwah terdapat 3 aspek yang harus dimiliki oleh para da’i dan khatib, di antaranya seperti dalam penyampaian materi dakwah tidak hanya dengan cara pendekatan intelektual semata. Melainkan juga dengan cara yang baik dan benar, waktu yang tepat, serta padat dan jelas.

“Dakwah pada masyarakat awam jangan menggunakan istilah bahasa Arab yang tidak dipahami secara umum, karena itu akan mengakibatkan materi tidak tersampaikan secara maksimal,” paparnya.

Dikatakannya, dalam dakwah Islam ada tantangan dan problematikanya.
“Kepada para da’i untuk tidak menyampaikan dakwah secara emosional. Dikarenakan, dakwah merupakan kekuatan hati kita, cinta kita kepada masyarakat, warga serta rakyat untuk kebaikan mereka,” ujarnya.

Beliau berharap dengan adanya kegiatan ini para da’i dan khatib dapat menjadi aset untuk menyebarluaskan Islam di Indonesia dengan dakwah yang bijak dan santun. “Mudah-mudahan para da’i dan khatib ini bisa menjadi inspirasi untuk da’i lainnya dalam berdakwah yang baik dan benar,” tutup Wali Kota Depok, Mohammad Idris. Selain memberikan sambutan, beliau juga secara resmi membuka diklat tersebut.

Ceramah merupakan metode dakwah para Nabi serta “mushlihun” sejak dahulu kala. Memahami posisi ceramah dalam kepemimpinan dakwah serta mendalami teknik-tekniknya merupakan kebutuhan vital bagi para dai sejati,

Diklat Dakwah dan Khatib ini juga mendaraskan fiqh dan adab khutbah Jumat praktis. Di dalamnya dilatih teknik-teknik khutbah yang ‘menggerakkan’.

Rahasia para pemateri yang berasal dari kalangan dai senior dengan pengalaman ceramah rata-rata di atas 10.000 jam diungkap. Komposisi peserta yang sebagian besarnya adalah praktisi dari Jabodetabek, Banten, dan Bandung ini memperkaya perspektif peserta dalam setiap sesi.

Pemateri Diklat antara lain Ust. Ridwan Hamidi, Lc., MA, MPI, Ust. Ilham Jaya, Lc., MHI, Ust. Mujahid Nur Islami, SPd.I, Ust. Fakhrizal, Lc., Ust. Syamsuddin Al-Munawiy, MPd.I.

Peserta Diklat berjumlah 60 dari Jabodetabek, Banten, dan Bandung. Rata-rata adalah para da’i dan calon da’i serta aktivis dakwah.

Diharapkan dengan adanya Diklat Da’i dan Khatib ini, dapat mempersiapkan penceramah yang lebih berbobot dan berkualitas.

 

Bagi anda yang membutuhkan da’i dan khatib, baik dari masjid maupun kelompok pengajian di seputar Jakarta dan Depok dapat menghubungi Call Center Wahdah Islamiyah Jakarta 0858 8525 5266 (wa/sms/call).

[ibw]

Ternyata Ini Dua Puluh Tujuh Keutamaan Shalat Berjama’ah dari Shalat Sendirian

Shalat berjama’ah
Shalat berjama’ah lebih utama dua puluh tujuh derajat daripada shalat sendirian. Dalam riwayat lain dua puluh lima derajat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;
صلاة الجماعة تفضل صلاة الفذ بس بع وعشرين درجة
Shalat berjama’ah itu lebih utama dua puluh tujuh derajat daripada shalat sendirian”. (HR. Bukhari, No. 645 dan Muslim, No. 650).
Dalam hadits lain disebutkan;
بخمس وعشرين درجة
Lebih utama dua puluh lima derajat”. (HR. Bukhari, No.646, dan Muslim, No.649).
Apa yang menjadikan shalat berjama’ah lebih utama dua puluh lima derajat dan atau dua puluh tujuh derajat dibanding shalat sendirian? Para ulama telah melakukan pendekatan makna antara kedua riwayat tersebut dan mereka menjelaskan sebab-sebab perbedaan derajat yang disebutkan di atas. Diantaranya Al-Hafidz Ibn Hajar Al-Asqalani rahimahullah. Penulis kitab Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari ini berkata, “Saya telah mengintisarikan apa-apa yang saya dapatkan mengenai hal ini. Yaitu hal-hal yang menjadikan shalat jama’ah lebih utama dua puluh lima tau dua puluh tujuh derajat dibanding shalat sendirian’’, yaitu:
Pertama, Memenuhi panggilan muadzin dengan niat shalat berjama’ah,
Kedua, Berangkat pada awal waktu menuju shalat berjama’ah,
Ketiga, Berjalan dengan tenang ke masjid,
Keempat, Masuk masjid sambil berdo’a,
Kelima, Shalat tahiyatul masjid ketika masuk masjid,
Keenam, Menunggu jama’ah,
Ketujuh, Do’a permohonan ampunan oleh para Malaikat untuk mereka yang menghadiri shalat jama’ah,
Kedelapan, Kesaksian para Malaikat akan membela mereka,
Kesembilan, Menjawab iqamah,
Kesepuluh, Selamat dari setan ketika setan lari mendengar iqamah,
Kesebelas, Berdiri menunggu takbiratul ihram imam, atau masuk bersama imam dalam keadaan apa saja dia mendapatkan imam,
Keduabelas, Mendapatkan takbiratul ihram,
Ketiga belas, Meluruskan dan menutup celah-celah shaf,
Keempat belas, Menjawab ucapan Imam, “Sami’allahu liman hamidah”,
Kelima belas, Terhindari dari lupa pada umumnya dan mengingatkan imam apabila lupa atau memulai untuknya,
Keenam belas, Meraih shalat khusyu’ dan terhindar dari apa-apa yang membuat lalai pada umumnya,
Ketujuh belas, Pada umumnya dengan berjama’ah setiap jama’ah dapat memperbaiki tatacara shalatnya,
Kedelapan belas, Para Malaikat mengitari orang-orang yang shalat berjama’ah dengan sayap-sayap mereka,
Kesembilan belas, Melatih diri memperbaiki bacaan Al-Qur’an dan mempelajari rukun-rukun Shalat dan bagian-bagian lainnya,
Kedua puluh, Menampakkan syi’ar Islam,
Kedua puluh satu, Menghinakan setan dengan berjama’ah dalam beribadah serta saling tolong menolong dalam ketaatan dan yang malas menjadi bersemangat,
Kedua puluh dua, Selamat dari penyakit kemunafikan dan terhindar dari buruk sangka orang bahwa ia meninggalkan shalat,
Kedua puluh tiga, Menjawab salam Imam,
Kedua puluh empat, Meraih keutamman dengan berkumpul dalam keadaan berdo’a dan berdzikir sehingga berkah yang sempurna dapat juga menyempurnakan yang kurang,
Kedua puluh lima, Tegaknya rasa saling kasih antara tetangga dan saling bertemu dalam waktu-waktu shalat,

Ini adalah dua puluh lima poin yang merupakan keutamaan shalat berjama’ah dibanding shalat sendirian, dan tersisa dua keutamaan yang terkait dengan shalat jahriyah, yaitu;

Kedua puluh enam, Mendengar dan menyimak dengan seksama bacaan Imam, dan
Kedua puluh tujuh, Membaca “Amin” bersamaan dengan bacaan ‘amin” imam agar bersesuaian juga dengan ucapan “amin” para Malakat. (Fathul Bari, 2/133)
(Sumber: 40 manfaat Shalat Berjama’ah, karya Syekh Abu Abdillah Musnid Al-Qahthani)

Peran Ulama dalam Sejarah Hari Santri Nasional

🌸 Peran Ulama dalam Sejarah Hari Santri Nasional 🌸
✍🏼 Oleh: Mahardy Purnama, Penulis dan Pemerhati Sejarah Islam

WahdahJakarta.com – Hari Ahad kemarin tepat jatuh pada tanggal 22 Oktober 2017. Oleh pemerintah, 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional.

Menurut fakta sejarah, tanggal tersebut adalah tanggal di mana KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdhatul Ulama mengeluarkan resolusi jihad agar para ulama, tentara, santri, dan pemuda Islam berjihad fi sabilillah melawan penjajah sekutu Inggris dan NICA (Netherlands Indies Civil Administration) yang hendak menduduki Surabaya, Jawa Timur.

Resolusi Jihad, ditambah dengan pekikan Takbir Bung Tomo lewat Radio Pemberontakan di Surabaya membangkitkan semangat juang umat Islam Surabaya. Para ulama dan santri dari Jawa Barat dan Jawa Tengah berkumpul di Surabaya untuk menghadapi tentara sekutu dan NICA.

Meletuslah pertempuran dahsyat antara pejuang Indonesia melawan para penjajah di akhir bulan Oktober. Dengan bersenjatakan bambu runcing, tombak, parang, keris, umat Islam menghadapi tentara-tentara sekutu yang telah berpengalaman di Perang Dunia II. Atas, izin Allah, umat Islam berhasil membunuh pimpinan musuh, Brigjen Mallaby pada 31 Oktober 1945. Puncaknya, ketika perang dahsyat pecah pada tanggal 10 November di Surabaya, Perang Sabil. Banyak yang gugur dari kalangan umat Islam, begitu juga dari tentara Inggris. Peristiwa hebat ini sampai sekarang masih sering dikenang dan dijadikan sebagai Hari Pahlawan.

22 Oktober, menunjukkan bahwa pentingnya peran ulama di tengah-tengah umat. Mereka yang mendidik umat, mengajarkan Islam yang benar, dan menggerakkan umat untuk menghadapi para penjajah yang ingin menguasai dan menginjak harga diri bangsa ini.

Sebenarnya, jumlah ulama dan santri tidaklah seberapa dibanding seluruh penduduk Pulau Jawa. Namun, kehadiran mereka di barisan terdepan umat Islam dapat membakar semangat masyarakat untuk melawan penjajah kafir. Mereka berani mati membela tanah air dan agamanya.

Dengan satu kalimat dari KH Hasyim Asy’ari lalu gema Takbir Bung Tomo, mampu menggerakkan umat Islam di seluruh Pulau Jawa untuk menghadapi penjajah kafir. Bambu yang biasa dipakai untuk bahan bangunan, digunakan sebagai senjata melawan penjajah. Sungguh luar biasa!

Tak pelak, keberadaan ulama di antara masyarakat Indonesia selalu menjadi ancaman terbesar bagi bangsa Eropa yang ingin menjajah Indonesia di setiap zaman. Dalam bukunya History of Java, Thomas Stamford Raffles menyebutkan bahwa ulama dan santri walaupun merupakan kelompok minoritas, hanya sepersembilan belas dari populasi di Pulau Jawa. Tapi jika mereka bekerjasama dengan para sultan atau pemegang kekuasaan politik Islam, menjadikan kaki penjajah Barat tidak dapat tegak berdiri dan aman.

Tenaga dan pikiran dikerahkan sepenuhnya oleh penjajah. Dana yang tidak sedikit mereka gelontorkan untuk menyingkirkan para ulama dari tengah-tengah umat Islam. Mulanya gerak-gerik para ulama dibatasi. Di antara mereka dilarang berkhutbah di surau dan masjid-masjid karena dapat menggerakkan rakyat melawan penjajah.

Kemudian dalam bidang pendidikan, para penjajah mendirikan sekolah ala Eropa, dengan maksud menandingi pesantren-pesantren yang dibangun serta dibina oleh para ulama. Anak-anak bangsawan dan pejabat disekolahkan di sekolah Eropa sehingga semakin jauh dari nilai-nilai Islam dan di kemudian hari dapat menjadi penentang utama para ulama.

Saat penjajah kafir menguasai kota-kota pelabuhan, umat Islam termasuk para ulama dan santri terdesak menuju pedesaan atau pedalaman. Tapi para penjajah tidak kehabisan akal, diterapkanlah sistem Tanam Paksa yang sangat menyengsarakan rakyat Indonesia selama hampir sembilan puluh tahun (1830-1919).

Dengan cara tersebut, selain memberikan keuntungan kepada penjajah, juga efektif untuk menjauhkan umat Islam dari ulamanya. Mereka dipaksa menanam kopi, tebu, tembakau, dan lainnya sepanjang hari, setiap hari, sehingga tidak ada waktu lagi bagi umat Islam untuk belajar dari ulamanya.

Penjajah kafir tak hentinya menangkap para ulama dan pejuang Islam kemudian mereka dengan cara sistem silang wilayah pembuangan, yang berasal dari Pulau Jawa dibuang ke luar Jawa. Yang dari luar Jawa, dibuang ke Pulau Jawa dan sebagainya.

Imam Bonjol, ulama dan tokoh Perang Padri tahun 1821 sampai 1837, dari Sumatera Barat dibuang ke Minahasa, Sumatera Utara. Kota yang mayoritas penduduknya beragama Kristen. Pangeran Diponegoro, tokoh utama Perang Diponegoro dari tahun 1825-1830 yang mengakibatkan kerugian besar bagi pihak kafir Belanda, dari Jawa Tengah dibuang ke Manado, Sulawesi Utara. Lalu dibuang lagi ke Makassar, Sulawesi Selatan hingga wafat di sana. Bahkan, di masa yang jauh sebelum itu, ada Syekh Yusuf Al-Makassari yang dibuang ke Tanjung Harapan, Afrika Selatan.
Memang dalam beberapa kasus, tindakan pembuangan berdampak pada menyebarnya Islam ke wilayah pembuangan. Tapi, di wilayah sebelumnya, masyarakat kehilangan sosok panutan yang bisa membangkitkan semangat mereka untuk berjuang melepaskan diri dari penjajahan.

👤 Pentingnya Ulama di Tengah Umat
Resolusi Jihad yang digemakan oleh Kyai Haji Hasyim Asy’ari menunjukkan betapa pentingnya peran ulama di tengah-tengah masyarakat Islam. Mereka adalah tokoh sentral dalam menghadapi para penjajah kafir.
Dapat dibayangkan bagaimana jika di negeri ini tidak ada lagi ulama yang mendidik umat. Manusia akan jauh dari agamanya, tersesat, menjadi lemah, bodoh, dan mudah dijadikan budak para penjajah kafir. “Kalau bukan karena ulama,” ucap Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah, “manusia akan menjadi seperti binatang ternak.”

Sangatlah pantas, jika pada hari ini umat Islam murka saat ulamanya dihina oleh orang-orang bodoh yang tidak paham akan sejarah bangsanya. Ulama tidak bisa dihapus dalam sejarah panjang bangsa Indonesia. Sejak pertama kali penjajah Portugis datang ke Nusantara abad ke-16, para ulama dan sultan lah yang dengan gagah berani menghadapi mereka. Menggerakkan rakyat untuk mengangkat senjata. Bukan yang lain, bukan para pembangun candi dan stupa, apalagi para penyembah kayu salib.

Sayangnya, peran ulama pada hari dikaburkan dalam sejarah bangsa kita. Generasi muda bangsa asing dengan nama-nama pejuang Islam semisal Haji Abdul Karim Amrullah, Haji Agus Salim, Mohammad Natsir, Wahid Hasyim, Haji Umar Said Tjokroaminoto, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari, Jenderal Sudirman, dan masih banyak lagi. Peran mereka terlupakan oleh generasi Islam pada hari ini. Kita melupakan sejarah bangsa kita.

✊🏼 Jihad Andalusia
Berbicara tentang peran ulama kita menggerakkan umat untuk berjihad mengingatkan kembali dengan peristiwa yang terjadi di bumi Andalus, negeri Islam yang hilang. Saat itu, pada tahun 456 Hijriyah (1064 M), pasukan Kristen Norman dan Prancis menyerang Bobastro, salah satu kota Muslim di Andalusia dan membantai lebih dari 40 ribu penduduk Musim di sana.

Bani Umayyah yang pernah berjaya dengan Kota Cordoba-nya telah runtuh. Umat Islam terpecah belah, masing-masing pemimpin Islam memiliki wilayah kekuasaan sendiri. Masa ini dikenal dengan masa Muluk Ath-Thawaif. Islam terbagi menjadi lebih dari 20 wilayah dengan penguasa masing-masing yang saling berselisih. Pemimpin-pemimpin Islam tak bergerak menghadapi serangan Kristen. Mereka tak berdaya, disibukkan oleh dunianya masing-masing.
Lalu hadirlah seorang ulama besar Andalusia yang lama belajar di Timur Tengah, Abu Al-Walid Al-Baji. Al-Baji menggerakkan rakyat dan menyeru penguasa dan umat Islam agar berjihad melawan kaum Kristen.

Seruan Al-Walid membuat penguasa Muslim bergerak diikuti oleh penduduk Muslim lainnya. Di antara mereka yang ikut berjihad adalah Ibnu Abdil Barr dan Ibnu Hazm. Ulama lainnya yang bergabung adalah kakek dari Ibnu Rusyd (Ibnu Rusyd penulis Bidayatul Mujtahid). Umat Islam berjihad melawan kaum Salib selama sembilan bulan dan dengan pertolongan Allah umat Islam berhasil merebut kembali Bobastro.

Abul Walid Al-Baji, Ibnu Abdil Barr, Ibnu Hazm, adalah sederet ulama yang berjasa memperbaiki umat di saat umat telah terlenakan dengan dunianya. Hampir saja Andalusia runtuh, tapi, berkat kegigihan para ulama Rabbani semisal mereka menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar, Andalusia yang hampir runtuh dapat bertahan hingga empat ratus tahun lagi.

➡ Sumber 👉 http://wahdah.or.id/peran-ulama-dalam-sejarah-hari-santri-nasional/

Mohon ketika menyebarkan, harap sertakan sumbernya dan jgn dihapus 🙏🏼

📖 Dapatkan artikel islami lainya di 👉 http://wahdah.or.id/

💖 Silahkan SEBARKAN dan semoga Allah memberikan PAHALA atas berbagi ilmu ini

💖 Daftar Broadcast Wahdah.Or.Id
Ketik nama lengkap – daerah – wi
Contoh:
Irhamullah – Yogyakarta – WI
Kirim via WhatsApp ke:
📱 +6281 383 787678

👍 Facebook s.id/FBWahdah
📲 Instagram https://www.instagram.com/wahdah_islamiyah/
📩 Telegram s.id/TelegramWahdah
🐣 Twitter s.id/TwitterWahdah
🌐 www.wahdah.or.id

 

Sejarah Hari Santri Nasional

Setiap Kebaikan Berpahala Sedekah

Setiap kebaikan adalah sedekah

Setiap kebaikan adalah sedekah

Sedekah merupakan amalan yang sangat mulia. Sebab sedekah merupakan burhan (bukti) iman seorang Muslim. Sedekah juga memiliki banyak keutamaan, sebagaimana dikabarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui hadits-haditsnya.

Sedekah tidak selamanya dengan harta, karena pahala sedekah dapat diraih dengan melakukan kebaikan apapun. Sebagaimana dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits yang diriwayatkan oleh Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda;

«كُلُّ مَعْرُوفٍ صَدَقَةٌ »

Setiap kebaikan adalah sedekah” (HR. Bukhari)

Hadits ini menunjukkan bahwa setiap kebaikan yang dilakukan manusia dengan niat baik tergolong sedekah yang diganjar pahala oleh Allah Ta’ala. Artinya sedekah tidak terbatas pada apa yang dikeluarkan seseorang berupa harta, sehingga setiap yang mampu berbuat baik terhitung sebagai orang yang bersedekah, baik kaya maupun faqir.

Oleh karena itu dalam hal ini orang kaya dan miskin memiliki peluang yang sama untuk meraup pahala sedekah, yakni dengan melakukan kebaikan walaupun kecil. Seperti tersenyum atau memasukkan perasaan riang dan suka cita ke dalam hati sesama. Sebab, “Senyumanmu kepada saudaramu adalah sedekah”. Dalam hadits lain baginda Rasul juga mewanti-wanti untuk tidak meremehkan suatu kebaikan sama sekali. “Janganlah kamu meremehkan suatu kebaikan sedikitpun, walaupun hanya bertemu saudaramu dengan wajah berseri-seri”. [sym].

Sumber: Tuhfatul Kiram Syarh Bulughil Maram Kitabul Jami’ Bab Al-Birr was-Shilah, Syekh. DR. Muhammad Luqman As-Salafi hafidzahullah).

Tidak Dapat Membalas Kebaikan? Doakan!

Membalas Kebaikan

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

من استعاذكم بالله فأعيذوه، ومن سألكم بالله فأعطوه، ومن أتى إليكم معروفا فكافئوه، فإن لم تجدوا فادعواله)) أخرجه البيهقي ((
“Barangsiapa meminta perlindungan kepadamu dengan nama Allah maka lindungilah dia, barangsiapa meminta sesuatu kepadamu karena Allah maka penuhilah permintaannya, dan barangsiapa yang berbuat baik kepadamu maka balaslah kebaikan tersebut, jika kamu tidak dapat membalas kebaikan tersebut maka do’akanlah dia”. (HR. al-Baihaqi, 4/199, Abu Daud, no. 1672, dan An-Nasai, no. 2566; dishahihkan Syekh al-Albani).

Pelajaran Hadits:
1. Siapa yang datang memohon perlindungan dan suaka dalam urusan tertentu wajib dilindungi selama ia berada di atas kebenaran. Demikian pula orang yang dimintai sesuatu atas nama Allah, jika mampu maka ia harus memberikan apa yang diminta.
2. Memohon perlindungan kepada makhluq dalam urusan yang dimampui dan disanggupi makhluq adalah boleh. Boleh pula meminta ketika membutuhkan.
3. Wajibnya membalas kebaikan orang yang berbuat baik kepada kita, jika tidak memiliki sesuatu yang dapat diberikan maka hendaknya mendoakan kebaikan dan keberkahan untuknya. [sym].
(Sumber: Kitab Tuhfatul Kiram Syarh Bulughil Maram, Kitabul Jami’ Bab Al Birr Wa as Shilah, hlm. 598, Karya Syekh. DR. Muhammad Luqman As-Salafi hafidzahullah).
Artikel:http://wahdah.or.id

orang bertaqwa

Orang Bertaqwa Selalu Melakukan Perbaikan Diri

Ciri Orang yang Bertaqwa

Salah satu ciri dan sifat utama orang bertaqwa adalah selalu melakukan perbaikan diri secara berkesinambungan. Mereka adalah orang yang sejak awal berusaha menghindari dosa dan maksiat. Sejak awal mereka berhati-hati terhadap dosa dan maksiat. Sikap mereka terhadap dosa seperti orang yang melintasi jalan licin yang penuh dengan onak dan duri. Yakni selalu melihat dan mengamati, dimana harus meletakkan kakinya agar tidak terpeleset serta tidak menginjak duri. Begitulan orang bertaqwa dalam menjalani hidup.

Namun sebagai manusia tentu tidak luput dari salah dan dosa. Karena asalnya manusia tak pernah luput dari salah dan dosa. Sebagaimana dikabarkan oleh Nabi, “Semua anak cucu Adam banyak salah, namun sebaik-baik yang bersalah adalah yang bertaubat”. Demikianlah sifat orang bertakwa. Dalam surat Ali Imran ayat 133-135 Allah menyebutkan beberapa ciri dan sifat orang bertakwa, Allah Ta’ala berfirman;

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ ﴿١٣٣﴾ الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ ﴿١٣٤﴾ وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ ﴿١٣٥﴾

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. “.

Orang Bertaqwa Segera Mengingat Allah

Salah satu ciri orang bertaqwa dalam ayat tersebut adalah segera ingat Allah ketika berbuat dosa, lalu memohon ampun kepada-Nya dan meninggalkan dosa serta tidak mengulanginya lagi. Hal itu dilandasi oleh pengetahuan mereka bahwa tidak ada yang mengampuni dosa selain Allah Ta’ala. Menurut Imam Ibn Katsir bahwa makna ayat tersebut adalah, “Jika mereka melakukan dosa, maka mereka segera menyusulnya dengan taubat dan istighfar”. Semakna dengan Ibn Katsir Syekh As Sa’di mengatakan tentang makna ayat tersebut, “(Orang bertakwa itu) jika melakukan keburukan berupa dosa besar atau [dosa] yang di bawahnya (dosa kecil), maka mereka bersegera melaukan taubat dan istighfar serta ingat kepada Allah dan ancaman-Nya kepada para pelaku maksiat serta janji-Nya kepada orang bertaqwa, lalu mereka meminta ampun atas dosa-dosa mereka dan ditutupi aib-aib mereka, hal itu mereka sertai dan iringi dengan meninggalkan dan menyesali dosa tersebut.

Hal ini menunjukan bahwa yang membuat orang-orang bertakwa lebih istimewa bukan karena tidak pernah berbuat salah dan dosa sama sekali. Tapi yang menyebabkan mereka istimewa adalah sikap dan cara pandang mereka terhadap dosa dan kesalahan. Sejak awal mereka berusaha dengan sungguh-sungguh meninggalakan serta menghindari dosa dan maksiat. Dan ketika terjatuh mereka segera menyadari dan mengakui kesalahan tersebut, lalu meninggalkannya kemudian memohon ampun kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana ditegaskan oleh Allah pada lanjutan ayat tersebut, “. . . dan mereka tidak melanjutkan dosa tersebut, dan mereka tahu”. Artinya tatkala terjatuh dalam dosa dan sadar bahwa mereka berdosa, mereka segera ingat Allah, kemudian beristighfar kepadaNya. Sebab mereka tahu bahwa, “tidak ada yang mengampuni dosa melainkan Allah”.

Menjadi manusia taqwa bukan menjadi manusia tanpa noda dan dosa sama sekali. Tapi upaya menjadi orang bertakwa artinya menapaki jalan perbaikan diri secara terus-menerus dengan menghindari dosa, selalu mengiringi perbuatan buruk dengan taubat, istighfar dan kebaikan lainnya. Sebagaimana wasiat Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam,Bertaqwalah kepada Allah kapan dan dimanapun engkau berada, ikutilah keburukan dengan perbuatan baik niscaya kebaikan tersebut akan menghapuskan keburukan, dan bersikaplah kepada manusia dengan akhlaq yang baik”. (terj. HR. Tirmidzi).

Hadits tersebut mengisyaratkan bahwa kebaikan dapat menghapus keburukan atau dosa. Hal ini sejalan pula dengan beberapa ayat al-Qur’an diantaranya firman Allah dalam surah Hud ayat 114, “Sesungguhnya kebaikan-kebaikan akan menghapuskan keburukan”. Dan tak dapat dipungkiri bahwa kebaikan nomor urut pertama sebagai penghapus dosa dan keburukan adalah taubat dan istighfar sebagaimana dikatakan oleh para Ulama, diantaranya Imam An-Nawai, Syekh Al-Utsaimin, dam Syekh Abdul Muhsin Al-Abbad.

Imam An-Nawawi mengatakan bahwa makna “Wa atbi’iss ayyiah al hasanah tamhuha” adalah, “jika kamu berbuat keburukan maka beristighfar (mohon ampun) lah kepada Allah Ta’ala atas dosa tersebut lalu kerjakan kebaikan setelahnya, niscaya istighfar dan taubat tersebut akan menghapuskan keburukan itu”. Senada dengan Imam An-Nawawi Syekh Al-Utsaimin mengatakan bahwa makna mengikuti keburukan dengan kebaikan adalah, “engkau bertaubat kepada Allah dari keburukan tersebut, karena taubat merupakan kebaikan”. Syekh Al-Abbad juga mengatakan bahwa makna, “Wa atbi’issayyiah al hasanah tamhuha”, adalah, “Ketika seseorang melakukan keburukan hendaknya bertaubat dari keburukan tersebut, karena taubat merupakan kebaikan yang menghapuskan perbuatan (buruk) sebelumnya”.

Oleh karena itu mari selalu tingkatkan ketakwaan kepada Allah dengan selalu memperbaiki diri secara berkesinambungan melalui taubat dan istighfar. Jangan bosan memperbaharui taubat dan istighfar kita, meskipun kadang kita terjatuh ke dalam keburukan dan dosa yang sama. Sebab boleh jadi nyawa kita dicabut oleh Allah disaat setelah memperbaharui taubat dan istighfar kita. [sym], (Tulisan ini pernah dimuat pada rubrik Materi Khutbah Majalah Tabligh, No/10/XIV November 2016/Shafar 1438).

Menunjukkan Kebaikan Pada Orang Lain, Dapat Pahala Seperti Yang Melakukannya

Menunjukkan Kebaikan

Dari Abu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Siapa yang menunjukkan kebaikan kepada seseorang, maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang yang melakukannya” (HR. Muslim).

Pelajaran Hadits:
1. Hadits ini menunjukan bahwa orang yang menunjukkan kebaikan pada orang lain, akan memperoleh pahala yang sama dengan yang melakukan kebaikan tersebut, tanpa dikurangi sama sekali.
2. Kebaikan dimaksud berlaku umum, baik kebaikan dunia maupun kebaikan akhirat.
3. Keutamaan ini juga berlaku bagi semua pihak yang berperan dan terlibat sebagai perantara kebaikan bagi orang lain. Seperti menjadi panitia pengajian, fasilitator majelis ilmu, donatur proyek-proyek kebaikan lainnya, dan sebagainya.
Oleh karena itu jangan remehkan peran dan andil dalam suatu program kebaikan. Sebab sekecil apapun suatu peran takkan tersia-siakan. (sym).

Furqon buah iman dan taqwa

Furqan, Buah Iman & Taqwa Yang Didamba

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan. Dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Qs. Al-Anfal:29).

Dalam ayat ini Allah Ta’ala mengabarkan balasan bagi hamba-hambaNya yang bertakwa. Balasan tersebut berupa karunia yang banyak di dunia dan akhirat. Hal itu menunjukkan pentingnya merealisasikan taqwa dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, “Merealisasikan ketakwaan kepada Allah merupakan alamat kebahagiaan dan tanda keberuntungan”. (Syekh as-Sa’diy).

Dalam ayat ini Allah sebutkan empat diantaranya, yakni (1) Furqan, (2) Penghapusan Keburukan, (3) Pengampunan [Dosa], dan (4) Pahala yang Besar. Namun dalam tulisan ini akan dijelaskan salah satu saja, yakni Furqan, dan sebelumnya akan diuraikan secara singkat terlebih dahulu makna Taqwa.

Apa Itu Taqwa?

Beragam definisi takwa yang disebutkan oleh para ulama. Meskipun beragam definisi yang mereka tidak bertentangan satu sama lain. Karena semua definisi yang mereka kemukakan mewakili dan mencakup substansi dan hakikat takwa itu sendiri. Namun dalam tulisan ini hanya akan dikutip makna takwa yang dikemukakan oleh Tabi’in yang mulia Thalq bin Habib rahimahullah.
Beliau mengatakan bahwa takwa itu adalah, “engkau melakukan ketaatan kepada Allah berdasarkan (panduan) cahaya (petunjuk) Allah karena mengharap pahala[Nya] Allah, dan engkau meninggalkan apa yang dilarang Allah berdasarkan cahaya Allah karena takut kepada adzab Allah”.
Jadi makna dan hakikat takwa menurut Thalq bin habib adalah mentaati perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya berdasarkan cahaya (petunjuk) Allah dan dimotifasi oleh apa yang dijanjikan oleh Allah berupa pahala dan siksa. Artinya dalam melakukan ketaatan dan meninggalkan maksiat harus didorong oleh semangat meraih pahala Allah dan menghindari adzab-Nya serta harus berdasarkan ilmu.

Apa Itu Furqan?
Allah Ta’ala menjanjikan furqan kepada orang-orang bertakwa. Allah berfirman, “Jika kalian bertakwa kepada Allah, Dia akan berikan furqan kepada kalian”. Furqan mengandung beberapa makna. Ada beberapa makna furqan yang dikemukakan para Mufassir, mulai dari Mufassir kalangan Sahabat seperti Ibnu Abbas, Tabi’in, Atbaut Tabi’in, para ulama salaf lainnya seperti Ibnu Katsir sampai Ulama kontemporer seperti Syekh ad Sa’diy, Buya Hamka dan Wahbah Az Zuhaili.
Berdasarkan penelusuran penulis ada sepuluh makna Furqan yang disebutkan para Mufassir, yakni;
(1) Makhraj (jalan keluar). Menurut Imam Mujahid maksudnya jalan keluar di dunia dan akhirat. Sedangkan menurut Asy Syaukani jalan keluar dari fitnah syubhat.
(2) Najah (Keselamatan), menurut Asy Syaukani selamat dari yang ditakuti.
(3) Nashr (pertolongan),
(4) Fashl bainal haqq wal batil (Pemilah antara Haq dan batil),
(5) Cahaya,
(6) Ilmu nafi’,
(7) Tsabatul Qulub (keteguhan hati)
(8) Quwatul bashirah (Kekuatan mata hati),
(9) Hidayah (petunjuk), dan
(10) Bayan[an] (penjelasan).
Dari kesepuluh makna di atas yang paling masyhur di kalangan Mufassir adalah makna yang keempat yang merupakan pendapat Muhammad bin Ishaq rahimahullah, sebagaimana dikuatkan oleh Imam Ibnu Katsir, Syekh As Sa’diy, Buya Hamka dan yang lainnya.

Menurut Ibn Katsir makna furqan sebagai pemilah antara haq dan batil lebih umum dari makna yang lainnya sekaligus mencakup seluruh makna tersebut. Karena, “Siapa yang bertakwa kepada Allah dengan melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, maka ia akan diberi taufiq untuk mengenali yang haq dan batil, sehingga hal tersebut menjadi sebab ia memperoleh pertolongan dan keselamatan, serta jalan keluar dari berbagai urusan dunia dan (menjadi sebab) kebahagiaanya pada hari kiamat dan penghapusan kesalahan-kesalahannya,”. (Tafsir Ibn Katsir, 2/1227).

Semakna dengan Ibn Katsir, Syekh Abdurrahman bin Nashir As sa’di mengatakan tentang makna furqan, “Ia adalah ilmu dan petunjuk yang dengannya pemiliknya mampu membedakan antara hidayah dengan kesesatan, haq dengan batil, halal dengan haram, serta antara orang bahagia dengan yang sengsara”. (Taisir KarimirRahman fi Tafsir Kalamil Mannan, hlm.319).

Senada dengan Ibn Katsir dan Syekh As Sa’diy, Mufassir Nusantara Buya Hamka juga menafsirkan kata furqan dalam ayat ini dengan “kesanggupan membedakan mana yang buruk denngan yang baik, yang mudharat dengan yang manfaat, yang hak dengan yang batil”. (Tafsir Al Azhar, 9/297). Menariknya Buya mengaitkan furqan yang merupakan buah dari takwa dengan iman. “Sebab itu al Furqan adalah buah dari takwa, dan takwa dalah akibat dari iman”, jelasnya. “Bertambah iman, bertambahlah tinggi takwa, maka bertambah halus pulalah kekuatan Al Furqan dalam jiwa kita”, lanjutnya.
Mari pupuk dan siram iman dan taqwa di hati dengan menjalankan ketaatan kepada Allah dan RasulNya. Semoga Allah mengaruniakan furqan. [sym].

Lima Prinsip Hidup Bahagia Seorang Muslim

lima prinsip hidup bahagia seorang Muslim

Lima pinsip hidup bahagia seorang Muslim; (1) Bahagia di Jalan Allah (Sabilu[i]llah, shiratullah, (2) 2. Menggabungkan Kebahagiaan Ruh dan Jasad, 3. Kebahagiaan dan Keberanian Menghadapi Resiko Hidup, (4) Kebahagiaan adalah Ketenangan Hati, dan (5) Berpindah dari kebahagiaan dunia pada kebahagiaan Akhirat

Setiap manusia menghendaki kehidupan yang bahagia. Akan tetapi setiap manusia memiliki prinsip dan cara pandang yang berbeda dalam mengukur kebahagiaan. Karena yang paling memengaruhi seseorang dalam mengukur kebahagiaan adalah prinsip dan pandangan hiudp yang dipijakinya.

Bagi seorang Muslim, kebahagiaan tidak selalu berupa kemewahan dan keberlimpahan materi duniawi. Berikut ini lima prinsip hidup bahagia seorang Muslim dalam konsep hidup Islam. dalam tulisan ini akan menguraikan beberapa prinsip hidup bahagia menurut Islam.

1. Bahagia di Jalan Allah (Sabilu[i]llah, shiratullah
Allah Ta’ala berfirman:

[ وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ [٦:١٥٣

dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa”. (Qs. Al-An’am: 153).

Kebahagiaan hanya dapat diperoleh dengan meniti jalan yang digariskan oleh Allah. Yang dimaksud dengan meniti jalan Allah adalah menaati perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya dengan ikhlas dan benar. Ayat 153 surah al-An’am diatas sebelumnya didiahului dengan penjelasan tentang beberapa perintah dan larangan Allah kepada orang beriman. Sehingga sudah dapat dipastikan bahwa orang yang meninggalkan jalan yang digariskan oleh Allah akan, tidak tenang dan tidak bahagia. Karena ia akan mencari jalan dan sumber kebahagiaan pada jalan yang dibuat dan digariskan oleh selain Allah dan Rasul-Nya.

Allah Ta’ala berfirman:

[ وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ [٢٠:١٢٤

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (surat Thaha [20]: 123.

2. Menggabungkan antara Kebahagiaan Ruh dan Jasad

Manusia terbentuk dari ruh dan jasad. Masing-masing dari keduanya membutuhkan gizi dan nutrisi yang harus dipenuhi secara adil. Sebagian kalangan hanya menekankan aspek ruh dan mengabaikan kebutuhan jasad. Sebaliknya sebagian yang lain hanya menekankan pemenuhan kebutuhan jasad dan mengabaikan kebutuhan ruh. Adapun petunjuk Islam memenuhi kebutuhan keduanya (ruh dan jasad) secara adil. Ruh dipenuhi kebutuhannya dengan cahaya wahyu dari langit dan menjaga kesehatan jasad dengan pememenuhan hajat syahwat dan syahwat melalui cara yang halal dan thayyib.

Allah Ta’ala berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi. (Surah al-Qashash [28]:77).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan kepada ummatnya untuk menunaikan hak kepadapemiliknya masing-masing. “Sesungguhnya Rabbmu punya haq darimu, dirimu punya haq darimu, keluargamu juga punya hak, maka berilah setiap hak kepada pemiliknya” (Terj. HR. Bukhari).

3. Kebahagiaan dan Keberanian Menghadapi Resiko Hidup
Barangsiapa yang telah menikmati manisnya Iman, maka ia takkan pernah mau meninggalkannya, kendati pedang diletakkan di lehernya. Sepertimana tukang sihir Fir’aun yang tegar menghadapi ancaman potong tangan-kaki dan salib;
قَالَ آمَنتُمْ لَهُ قَبْلَ أَنْ آذَنَ لَكُمْ ۖ إِنَّهُ لَكَبِيرُكُمُ الَّذِي عَلَّمَكُمُ السِّحْرَ ۖ فَلَأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُم مِّنْ خِلَافٍ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمْ فِي جُذُوعِ النَّخْلِ وَلَتَعْلَمُنَّ أَيُّنَا أَشَدُّ عَذَابًا وَأَبْقَىٰ [٢٠:٧١

Berkata Fir’aun: “Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya”. (Qs Thaha [20]:71). Mereka tetap teguh dan tegar sebagaimana diabadikan oleh Allah;

 

قَالُوا لَن نُّؤْثِرَكَ عَلَىٰ مَا جَاءَنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالَّذِي فَطَرَنَا ۖ فَاقْضِ مَا أَنتَ قَاضٍ ۖ إِنَّمَا تَقْضِي هَٰذِهِ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا [٢٠:٧٢]

Mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Tuhan yang telah menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja. (Qs Thaha [20]:72).

Tidak ada sesuatupun yang meneguhkan dan menegarkan mereka, kecuali karena mereka telah merasakan lezat dan manisnya keimanan. Sehingga mereka merasakan ketenangan batin dan ketegaran saat menghadapi ancaman, termasuk ancaman pembunuhan sekalipun.

4. Kebahagiaan adalah Ketenangan Hati

Tiada kebahagiaan tanpa sakinah (ketenangan) dan thuma’ninah (ketentraman).Dan tiada ketenangan dan ketentraman tanpa iman. Allah Ta’la berfirman tentang orang-orang beriman:

هُوَ الَّذِي أَنزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَّعَ إِيمَانِهِمْ ۗ

Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). (Qs Al-Fath: 4).

Keimanan melahirkan kebahagiaan dari dua sisi (1) Iman dapat menghindarkan dan memalingkan seseorang dari ketergelinciran ke dalam dosa yang merupakan sebab ketidak tenangan dan kegersangan jiwa. (2) Keimanan dapat menjadi sumber utama kebahagiaan, yakni sakinah dan thuma’ninah. Sehingga di tengah lautan probematika dan krisis hidup tidak ada jalan keluar dan keselamatan selain Iman.

Oleh karena itu orang yang tanpa iman di hatinya dipastikan akan selalu dirundung rasa takut, was-was, kahwatir, gelisah, galau. Adapun bagi orang beriman. Adapun bagi orang beriman tidak ada rasa takut sama sekali, selain takut kepada Allah Ta’ala. Hati yang dipenuhi iman memandang remeh setiap kesuliatn yang menghimpit, kerana orang beriman selalu menyikapi segala persoalan dengan tawakkal kepada Allah. sedangkan hati yang kosong, tanpa iman tak ubahnya selembar daun rontok dari dahannya yang diombang-ambingkan oleh angin.

5. Berpindah dari kebahagiaan dunia pada kebahagiaan Akhirat

Pasca kehidupan dunia, akan memasuki kehidupan di alam kubur bakda kematian dan selanjutnya kehidupan di negeri akhirat setelah hari kiamat. Dan jalan-jalan kebahagiaan akan menyertai manusia dalam tiga fase kehidupan tersebut (dunia, alam kubur,& hari akhir) Dalam kehidupan dunia Allah Ta’ala telah menjanjikan kebahagiaan bagi orang-orang beriman dan beramal shaleh:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ [١٦:٩٧

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.(Qs An-Nahl [16]:97).

Ayat tersebut menegaskan bahwa orang yang beriman dan beramal shaleh akan dihidupkan di dunia dengan kehidupan yang baik; bahagia, tenang, tentram, meski hartanya sedikit. Adapun kebahagiaan di alam kubur, seorang Mu’min akan dilapangkan kuburannya, sebagaimana diterangkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, “Sungguh, seorang Mu’min dalam kuburannnya benar-benar berada di taman yang hijau, dilapangkan kuburannya sejauh tujuh puluh hasta, dan disinari kuburannya seperti –terangnya- bulan di malam purnama” (dihasankan oleh al-Albaniy).

Sedangkan kebahagiaan di akhirat Allah berjanji akan tempatkan dalam surga dan kekal di dalam selama-lamanya jelaskan dalam Hud ayat 108,

وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُوا فَفِي الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ ۖ عَطَاءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ

Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya” (Terj. Qs Hud [11]:108)

Dengan iman seorang hamba dapat meraih kebahagiaan hakiki di dunia dan di akhirat. Jadi, Islam telah datang dengan konsep dan jalan kebahagiaan yang abadi, yang mencakup kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Meskipun demikian Allah telah menjadikan kebahagiaan dunia dan akhirat sebagai dua sisi yang saling terkait dan terpisah. Sehingga keduanya tidak perlu dipertentangkan. Sebab keduanya adalah satu. Keduanya adalah jalan yang satu. Allah mengingatkan bahwa siapa yang menghendaki balasan dunia, maka Allah memiliki balasan di dunia dan akhirat;

مَّن كَانَ يُرِيدُ ثَوَابَ الدُّنْيَا فَعِندَ اللَّهِ ثَوَابُ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۚ

Barangsiapa yang menghendaki pahala di dunia saja (maka ia merugi), karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat.(Qs An-Nisa [4]: 134). Namun bagi seorang Muslim yang beriman bahwa kebahagiaan yang ada disisi Allah jauh lebih baik dan kekal abadi. (sym)

Artikel: http://wahdah.or.id

Baca juga: Nikmatnya Ibadah Ikhlas dan Khusyu’

syafa'at

Syarat Syafa’at

Secara umum syafa’at menurut al-Qur’an terbagi dua, yakni syafa’at mutsbatah dan syafa’at manfiyyah. Syafa’at mutsbatah adalah syafa’at yang ditetapkan dalam al-Qur’an atau diterima oleh Allah. Sedangkan syafa’at manfiyah adalah syafa’at yang dinafikan ditolak. Syafa’at yang ditolak adalah syafa’at yang datang dari orang musyrik dan atau syafa’at untuk orang musyrik. Sedangkan syafa’at yang diterima adalah syafa’at dari dan atau untuk orang beriman dan bertauhid yang memenuhi syarat serta mendapat idzin ridha dari Allah.

Syafa’at yang ditetapkan oleh Al Qur’an dan diterima oleh Allah hanya bagi orang bertauhid dan beriman, yang memenuhi dua syarat yaitu;
1. Idzin Allah kepada syafi’i (pemberi syafa’at) untuk memberikan syafa’at, sebagaimana ditegaskan oleh Allah dalam beberapa ayat, diantaranya Surah Al-Baqarah ayat 255 dan Saba ayat 23;
مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ
Tiada seorang pun yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa seidzin-Nya”. (terj. Qs. Al-Baqarah:255).
وَلَا تَنفَعُ الشَّفَاعَةُ عِندَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ
Tiada bermafaat syafa’at di sisi-Nya kecuali bagi orang yang telah diidzinkan-Nya”. (terj. Qs. Saba:23).
Kedua ayat tersebut menafikan syafa’at yang tidak mendapat idzin dari Allah.
Yang berlaku dan berguna hanya syafa’tnya yang telah mendapat idzin dari Allah.

  1. Ridha Allah kepada pemberi syafa’at dan penerima untuk menerima syafa’at, sebagaiamana firman Allah dalam surat al-Anbiya ayat 28;
    وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَىٰ وَهُم مِّنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ ﴿٢٨﴾
    Dan mereka (Malaikat) tidak dapat memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridhai (Allah)”, (terj. Qs. Al-Anbiya:28).
    Kedua syarat di atas juga terrangkum secara bersamaan dalam satu ayat pada firman Allah, Surah an-Najm ayat 26 dan Thaha ayat 109;
    وَكَم مِّن مَّلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلَّا مِن بَعْدِ أَن يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَن يَشَاءُ وَيَرْضَىٰ ﴿٢٦﴾

Dan berapa banyak Malaikat di langit, syafa’at mereka tidak tidak berguna sedikitpun, kecuali seudah Allah mengidzinkan bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan diridhai-Nya”. (terj. Qs. An-Najm:26).
يَوْمَئِذٍ لَّا تَنفَعُ الشَّفَاعَةُ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَٰنُ وَرَضِيَ لَهُ قَوْلًا ﴿١٠٩﴾
Pada hari itu tidak bermanfa’at syafa’at kecuali dari orang yang diidzinkan oleh Ar Rahman dan Dia ridhai perkataanya”. (terj. Qs. Thaha: 109).

Kedua ayat di atas mengabarkan bahwa syafa’at hanya berlaku bila ada idzin dan ridha dari Allah. Yakni idzin kepada pemilik syafa’at dan ridha kepada pemberi dan penerima syafa’at. Maksudnya idzin dan ridha kepada pemberi syafa’at untuk memberi syafa’at dan ridha-Nya kepada penerima syafa’at untuk menerima syafa’at. Ahli tauhid sekalipun tidak memiliki syafa’at , kecuali setelah mendapat idzin dan ridha dari Allah. Bahkan Malaikat sekalipun, sebagaimana dalam ayat di atas, syafa’at mereka tidak berlaku sama sekali kecuali dengan idzin dan ridha Allah. Jika Malaikat saja yang disifati oleh Allah sebagai hamba-hamba yang mulia (‘Abadun Mukramun) , tidak berguna syafa’at merea tanpa idzin dan ridha Allah, bagaimana dengan selain mereka. Oleh karena itu ahli Tauhid pun tidak memiliki syafa’at, kecuali setelah ada idzin dan ridha Allah, berdasarkan firman Allah dalam surah Al-baqarah ayat 255, “Tiada seorang pun yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa seidzin-Nya”. (terj. Qs. Al-Baqarah:255).

syafa'at

syafa’at