Meneguhkan Nikmat Persatuan


وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ ﴿١٠٣﴾

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Qs. Ali Imran:103).

Berpegang Teguhlah Pada Tali Allah
Setelah menyuruh orang beriman untuk bertakwa kepadaNya dengan sungguh-sungguh dan melarang mereka mati kecuali mati di atas Islam, Allah menyuruh mereka untuk berpegang teguh dengan tali Allah. Apa itu tali Allah. Menurut para Mufassir, makna tali Allah dalam ayat di atas adalah Islam, al-Qur’an, dan As-Sunnah.
Imam Abul Fida Imaduddin Ismail bin Umar bin Katsir al-Qurasyi ad Dimasyqi menyebutkan dua makna habl (tali) Allah dalam ayat di atas, yakni ‘ahd (janji) Allah dan Al-Qur’an. Al-Qur’an sebagai tali Allah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir sebagaimana dikutip oleh Ibnu Katsir, “Kitabullah (al-Qur’an) merupakan tali Allah yang teruntai dari langit ke bumi”. (Tafsir Al-Qur’an al-‘Azdim, 1/533).

Buya Hamka menambahkan As-Sunnah sebagai bagian dari makna tali Allah. “Apa yang disebut sebagai tali Allah sudah terang pada ayat di atas tadi, ialah ayat Tuhan yang dibacakan kepadamu, tegasnya Qur’an. Berjalin-berkelindan dengan Rasul yang ada diantara kamu. Yaitu sunnahnya dan contoh bimbingannya”, jelasnya pada juz 4 hlm. 37 Tafsir Al-Azhar.
Jadi, jelaslah bahwa maksud perintah ‘’Berpegang teguhlah dengan tali Allah” adalah berpegang teguhlah kepada wahyu Allah, yakni Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Berpegang Teguhlah Kepada Tali Allah= Bersatulah
Perintah untuk beri’tisham (berpegang teguh) kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam ayat di atas juga mengandung perintah untuk bersatupadu. Sebagaimana dikatakan oleh Buya Hamka rahimahullah. “Di sini ditegaskan, bahwa berpegang pada tali Allah itu kamu sekalian artinya bersatu padu. Karena kalau pegangan semuanya sudah satu, maka dirimu yang terpecah belah itu sendirinyapun menjadi satu”. “Lalu dikuatkan lagi dengan lanjutan ayat, “Dan janganlah kamu bercerai berai”.

Hal ini sekaligus menunjukan bahwa persatuan sejati hanya tegak di atas komitmen terhadap tali Allah, yakni al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Sebaliknya mengabaikan al-Qur’an dan As Sunnah akan menghantarkan kepada perpecahan, perselisihan, dan percerai beraian. Oleh karena itu pula, Allah menyuruh merujuk dan kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah ketika terjadi perbedaan. Sehingga dengan demikian, perbedaan yang terjadi tidak sampai menjerumuskan kepada perpecahan.

Akan tetapi tak dapat dinafikan, kadar komitmen masing-masing bertingkat-tingkat. Sebagaimana ditegaskan oleh Allah, dalam surah Fathir [35] ayat 32, “Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (terj. Qs. Fathir:32). Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa para pewaris Kitabullah bertingkat-tingkat berdasar kadar dan tingkat komitmen mereka. Ada yang (1) dzalim linafsih, (2) muqtashid, dan (3) sabiqun bil khairat. Ketiganya diakui sebagai pewaris kitab yang memiliki hak ukhuwah dan persaudaraan.

Jangan Berceraiberai
Wa la tafarraqu (jangan bercerai berai)”, maksudnya “Allah menyuruh mereka untuk berjama’ah dan melarang mereka berpecah”, demikian dikatakan Imam Ibn Katsir. “Di sini tampak pentingnya jama’ah”, kata Buya Hamka. Karena, “Berpegang pada tali Allah sendiri-sendiri tidaklah ada faedahnya, kalau tidak ada persatuan antara satu dengan yang lain. Di sinilah kepentingan kesatuan komando, kesatuan pimpinan. Pimpinan tertinggi ialah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam”, lanjut Buya. (Juzu’ IV, hlm. 37).

Jama’ah dan ijtima’ penting dan dibutuhkan dalam meneguhkan komitmen terhadap tali Allah yang dimaksud dalam perintah di atas. Karena perkumpulan (baca:persatuan) kaum Muslimin di atas (dasar) Agama mereka dan persatuan hati-hati mereka dapat memperbaiki urusan Agama dan dunia mereka. Dengan persatuan mereka dapat melakukan banyak hal dan meraih maslahat yang hanya dapat diraih melalui persatuan dan tidak dapat diraih bila mengabaikannya, seperti saling ta’awun (tolong-menolong) dalam kebaikan dan takwa. Sebaliknya, perpecahan dan permusuhan dapat merusak nidzam (keteraturan), memutuskan ikatan hubungan satu sama lain diantara mereka. Sehingga masing-masing bekerja menurut kesenangan dirinya meskipun menimbulkan mudharat secara umum.

Oleh karena itu persatuan dan kebersamaan merupakan suatu sikap terpuji yang diridhai Allah. Sebaliknya perselisihan, peceraiberaian, dan perselihian dimurkaiNya. Sebagaimana diterangkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallanu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah meridhai pada kalian tiga perkara dan memurkai tiga perkara; Dia meridhai kalian beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan seseuatu apapun, kalian semua berpegang teguh pada tali Allah dan tidak berpecah, serta (meridhai kalian) bernasehat kepada orang yang diserahi urusan kalian oleh Allah (pemimpin). . . “. (terj. HR. Muslim)

Persatuan Itu Nikmat, Perselisihan Itu Laknat
Nikmat Persatuan dan kesatuan hati sesama Muslim merupakan nikmat dan karunia Allah yang sangat besar. Bila terus dipupuk dan dibina akan mendatangkan rahmat dan keberkadan dari Allah. Sebaliknya, perselisihan, perpecahan, perceraiberaian dan semacamnya adalah bala dan bencana. Bila dibiarkab terus menerus akan menyebabkan datangnya laknat Allah. Akan menghalangi turunnya rahmat dan pertolongan Allah. Hal ini telah diperingatkan oleh Allah dalam firman-Nya, “Taatilah Allah dan RasulNya, serta janganlah berbantah-bantahan yanng menyebabkan kalian gentar dan hilang kekuatan kalian”. (terj. Qs. Al-Anfal:46).

Oleh karena pada pertengahan ayat, setelah menyuruh untuk berpegang teguh kepada tali Allah dan melarang bercerai berai, Allah mengingatkan nikmat persatuan yang dikaruniakanNya. “Dan ingatlah olehmu nikmat Allah atas kamu; ketika kamu sedang bermusuh-musuhan telah dijinakan-Nya antara hati kamu masing-masing.” Ini adalah kondisi bangsa Arab sebelum diutusnya nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Antara Aus dan Khazraj terlibat perang dan dendam kesumat.

Namun setelah kedatangan Nabi mereka dipersaudarakan oleh ikatan Iman dan Islam. Mereka masuk Islam sehingga mereka menjadi saudara yang daling mencintai di bawah naungan keagungan Allah, terikat dan terhubung satu sama lain karena Allah, serta saling saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa. (Lih. Tafsir Ibn Katsir, 1/534).
Itulah satu nikmat paling besar”, kata Buya Hamka. “Sebab perpecahan, permusuhan, dan berbenci-bencian adalah sengketa dan kutuk yang sangat menghabiskan tenaga-jiwa”, lanjutnya. Oleh karena itu Allah mengingatkan, “Sehingga dengan nikmat Allah kamu menjadi bersaudara.” Apakah nikmat yang paling besar daripada persaudaraan sesudah permusuhan? Itulah nikmat yang lebih besar dari pada emas dan perak. Sebab, nikmat persaudaraan adalah nikmat dalam jiwa. Bahkan andaikan kita menafkahkan seluruh kekayakan yang ada di bumi demi menyatukan hati-hati manusia, takkan bisa ta npa rahmat karunia Allah (Lihat. Qs. Al-Anfal ayat 63).

Bagai di Tepi Neraka
Saking buruknya dampak perpecahan dan perceraiberaian Allah gambarkan bahwa percecahan yang terjadi sebelum datanganya nikmat persatuan dari Allah seolah berada di tepi lobang neraka. “Padahal kamu dahulu telah di pinggir lobang nerak”. “Sebelumnya berada di tepi jurang neraka disebabkan oleh kekafiran mereka, lalu Allah selamatkan mereka dengan memberihidayah Iman“. (Tafsir Ibn Katsir, 1/534).

Sementara Buya Hamka memaknai neraka dalam ayat tersebut dengan, ”neraka perpecahan, neraka kutuk-mengutuk, benci-membenci, sampai berperang bunuh-membunuh”. “Namun kamu telah diselamatkanNya dari dalamnya.” Dibangkitkan Allah kamu dari dalam neraka jiwa itu, ditariknya tangan kamu, sehingga tidak jadi jatuh, yaitu kedatangan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akhirnya Tuhan (Allah) berfirman di ujung ayat, “Demikianlah Allah menyatakan kepada kamu tanda-tanda-Nya supaya kamu mendapat petunjuk.” (ujung ayat 103).
Maka semua anjuran yang tersebut di atas itu disebutkan sebagai tanda-tanda (ayat-ayat) atau kesaksian tentang kekuasaan Allah. Tentang peraturan dan sunnah Allah (natuurwet) di alam ini. Bahwasanya persatuan dari manusia yang sepaham bisa menimbulkan kekuatan yang besar”.

Kesimpulan
Oleh karena itu upaya membina persatuan dan persaudaraan hendaknya dibarengi dengan usaha sungguh-sungguh membina iman serta meningkatkan komitmen berpegang teguh terhadap Dinul Islam dengan selalu merujuk kepada Al-Qur’an dan As Sunnah. Namun adanya kekurangan pada kadar komitmen saudara sesama Muslim terhdap al-Qur’an dan As Sunnah tidak sepantasnya menjadi alasan untuk tidak mengupayakan persatuan dan persaudaraan di kalangan kaum Muslimin. Upaya membina persatuan harus berkait kelindan dengan kerja keras membina ummat untuk belajar serta mengamalkan al-Qur’an dan As Sunnah. Dalam hal ini berlaku kaidah, ma la yudraku kulluhu la yutra ku kulluhu, sesuatu yang tidak dapat dicapai seluruhnya maka tidak ditinggalkan seluruhnya. Wallahu a’lam. [sym]

Rahmat dan Karunia Terbesar Itu Adalah Al-Qur’an

 

Rahmat dan Karunia Terbesar Itu Adalah Al-Qur’an . Sebab ia mengandung unsur penting yang dibutukan manusia dalam menjalani kehidupan dunia ini, yaitu (1) ma’idzah (nasehat dan pengajaran), (2) syifa (penawar dan penyembuh) berbagai penyakit dalam dada, (3) huda[n] (petunjuk), dan (4) rahmat.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ﴿٥٧﴾ قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ ﴿٥٨﴾

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan“. (Qs. Yunus;57-58).

Ketika kaum Muslimin berhasil membuka negeri Iraq pada masa pemerintahan Amirul Mu’minin radhiyallahu ‘anhu, mereka memperoleh berbagai ghanimah (rampasan perang). Ketika kharaj Iraq diserahkan kepada Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu sebagai Khalifah, beliau keluar bersama budaknya untuk menerima Kharaj tersebut. Beliau mulai menghitung Onta hasil rampasan perang yang dipimpin oleh Sa’ad bin Abi Waqqash ini ternyata jumlahnya sangat banyak, sembari menghitung beliu terus menggumamkan puji dan syukur pada Allah. “Alhamdulillah Lillahi Ta’ala”, ucapnya. Menyambut sikap ini beudak beliau mengatakan, “Ini adalah fadhl (karunia) Allah dan rahmat-Nya”. “kamu berdusta”, sambut Umar. “Bukan ini”, lanjutnya. Karunia dan rahmat Allah yang sesungguhnya adalah yang dikatakan oleh Allah, “katakan………” (membaca surah Yunus ayat 58).
***
Fragmen di atas dikutip oleh Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya Tafsir al-Qur’an al-Adzim ketika menjelaskan tafsir ayat 57-58 surat Yunus yang dibahas dalam tulisan ini. Melalui penggalan kisah ini pula Amirul Mu’minin mengajari kita bagaimana menempatkan perbandingan antara kekayaan materi dengan karunia Allah berupa nimat Al-Qur’an pada posisi yang adil. Bahwa nikmat al-Qur’an lebih baik dari berbagai sisi dibanding seluruh perbendaharaan dunia dengan segala pernak-perniknya yang fana dan akan hilang.

Oleh sebab itu Allah menyuruh Nabi-Nya untuk bergembira dengan karunia al-Qur’an tersebut, sebab ia mengandung unsur penting yang dibutukan manusia dalam menjalani kehidupan dunia ini, yaitu (1) ma’idzah (nasehat dan pengajaran), (2) syifa (penawar dan penyembuh) berbagai penyakit dalam dada, (3) huda[n] (petunjuk), dan (4) rahmat.

Mau’idzah; Nasehat dan pelajaran
Inilah unsur dan siafat pertama yang dikandung oleh al Qur’an yang disebutkan pada ayat di atas. Mu’idzah, Secara harfiah, berarti nasehat dan pelajaran. Penulis Kitab At-Tafsir al-Wajiz (hlm.216) menyebutnya sebagai nasehat yang mendalam dan menyentuh serta mengandung wasiat (pesan) untuk melakukan kebaikan dan mengikuti kebenaran serta menjauhi keburukan dan kebatilan.

Menurut Imam Ibnu Katsir, makna Qur’an sebagai nasehat dan pelajaran adalah, “zajir ‘anil fawahisy; melarang dari perbuatan keji”. (Tafsir Al-Qur’an al-‘Adzim, 3/1380). Syekh As Sa’di menambahkan penjelasan yang lebih rinci tentang makna mau’idzah yang diperankan oleh al-Qur’an, yakni menasehati dan memperingatkan dari berbagai amal perbuatan yang mengundang murka Allah dan berkonsekuensi pada turunnya adzab-Nya dengan disertai penejelasan akan dampak buruk dan mafsadat dari perbuatan tersebut”. (Lih, Tafsir As Sa’di, hlm. 213-214).

Sebagai kalamullah atau kitab suci yang bersumber dari Allah Rabbul ‘alamin, metode yAl-Qur’an dalam menasehati dan mengajari manusia untuk melakukan kebaikan, mengikuti kebenaran, serta meninggalkan perbuatan buruk dan keji yang mengundang murka, siksa dan adzab Allah adalah metode yang sesai dengat tabiat dan kecenderungan jiwa manusia. Yakni melalui tadzkir (peringatan), targhib (motifasi), dan tarhib (ancaman), sebagaimana dikatakan oleh para Ahli Tafsir diantaranya Imam Ath-Thabari, Asy-Syaukani, Az Zuhali, dan yang lainnya.

Selain dalam ayat ini, fungsi dan peran al-Qur’an sebagai mau’idzah diterangkan pula dalam ayat lain diantaranya surat Ali Imran ayat 138 dan An-Nur ayat 34;

هَٰذَا بَيَانٌ لِّلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِّلْمُتَّقِينَ ﴿١٣٨﴾

(Al Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (Qs. Ali Imran[3]: 138).

وَلَقَدْ أَنزَلْنَا إِلَيْكُمْ آيَاتٍ مُّبَيِّنَاتٍ وَمَثَلًا مِّنَ الَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلِكُمْ وَمَوْعِظَةً لِّلْمُتَّقِينَ ﴿٣٤﴾

Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penerangan, dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kamu dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa”. (Qs. An-Nur[24]:34).

Unik dan menariknya dalam dua ayat ini (3:138, dan 24:34) fungsi dan peran Qur’an sebagai nasehat dan pelajaran dikaitkan dengan takwa. Allah berfirman, “dan mau’idzah bagi orang-orang yang bertakwa”. Hal ini menujukan secara tegas bahwa hanya orang-orang bertakwa yang dapat menerima nasehat dan mengambil pelajaran dari Al-Qur’an. Sebagaimana petunjuk al-Qur’an juga hanya dapat diraih oleh orang-orang bertakwa. Karena Allah telah tetapkan bahwa al-Qur’an merupakan, “huda[n] Lil Muttaqin; petunjuk bagi orang-orang bertakwa”.

Syifa’ ; Penawar dan Penyembuh
Sifat al-Qur;an yang disebut kedua dalam ayat di atas adalah asy-Syifa. Penawar atau penyembuh bagi (penyakit) yang ada di dalam dada. Menurut para Mufassir bahwa makna dada dalam ayat ini adalah hati. Sehingga mereka menafsirkan bahwa fungsi dan peran Al Qur’an sebagai syifa’ (penawar dan penyembuh) adalah, “obat penyembuh dari penyakit syubhat dan keragu-raguan”. (Tafsir Ibn Katsir,3/1380). Artinya, “Al-Qur’an menghilangkan berbagai kotoran (rijs) dan daki yang ada di dalamnya”.

Senada dengan Ibnu Katsir, Syekh As Sa’di juga mengatakan bahwa, “Al-Qur’an ini merupakan penawar bagi penyakit yang ada di dalam dada (hati) berupa penyakit-penyakit syahwat yang menghalangi ketundukan pada Syariat dan (penyembuh) dari penyakit syubhat yang menggerogoti ilmu dan keyakinan. Karena di dalam al-Qur’an ini terdapat mau’idzah (nasehat dan pelajaran), targhib wat tarhib(motifasi dan gertakan), wa’d wal wa’id (janji dan ancaman) yang (kesemua itu) membuat seorang hamba memiliki sikap raghbah dan rahbah. (Tafsir As Sa’diy, hlm. 367).

Jadi syifa yang dikandung oleh Al-Qur’an meliputi kesembuhan bagi (penyakit) hati berupa syubhat, jahalah (kebodohan), pendapat atau pandangan yang keliru (al-ara al-fasidah), penyimpangan yang buruk, serta maksud dan tujuan yang jelek. (hlm.465). Al-Qur’an adalah obat semua penyakit hati tersebut. “Karena Al-Qur’an mengandung ilmu yang meyakinkan yang menghapuskan setiap kerancuan (syubhat) dan kebodohan (jahalah). Selain itu al-Qur’an juga mengandung nasehat dan peringatan yang menghapuskan setiap syahwat yang menyelisihi perintah Allah”. (hlm.465).

Dari penjelasan Ibn Katsir dan Syekh As Sa’di di atas disimpulkan, kata ‘’syifa lima fis Shudur” mencakup makna bahwa al-Qur’an adalah penyembuh bagi apa yang ada di dalam hati dan jiwa manusia berupa penyakit syahwat dan syubhat yang merupakan bibit utama penyakit hati. Buya Hamka mengistilahkannya dengan, “Sesuatu kumpulan dari resep-resep rohani”, (Tafsir Al-Azhar, 11/237).

Meskipun demikian tak dapat dinafikan pula bahwa fungsi dan peran Al Qur’an sebagai penyembuh juga mencakup penyakit fisik atau badan, sebagaimana dikandung oleh keumuman kata syifa dalam ayat lain yang juga menyebukan fungsi al-Qur’an sebagai syifa. Selain ayat ini ada beberapa ayat lain yang menyebut al-Qur’an sebagai syifa’ yaitu; surah Al-Isra ayat 82 dan Fushilat ayat 44. Dalam al Isra disandingkan rahmat, dan dalam surat Fushilat disandingkan dengan petunjuk (hudan).

Syekh As-Sa’di ketika menafsirkan kata Syifa pada kalimat, “katakan, bagi orang beriman al-Qur’an itu adalah huda (petunjuk) dan syifa (penyembuh)” mengisyaratkan bahwa kesembuhan melalui al-Qur’an mencakup penyakit badan (amradh badaniyah) dan penyakit hati (amradh qalbiyah). Proses dan cara penyembuhan penyakit badan dengan al-Qur’an disebat dengan ruqyah. Mengobati suatu penyakit dengan bacaan al-Qur’an bukan sesuatu yang baru. Sebab para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meruqyah seorang yang keracunan hewan berbisa dengan bacaan surat Al-Fatihah.

Penunjuk dan Pemandu Jalan
Dalam ayat ini al-Qur’an disebut juga sebagai hudan yang berarti petunjuk. Al-Qur’an adalah pemandu atau pelopor, untuk menempuh semak belukar kehidupan ini , supaya kita jangan tersesat. Sebab baru sekali ini kita datang ke dunia ini . Jangan sesat dalam i’tikad dan kepercayaan , jangan salah dalam amal dan ibadat. (Tafsir Al-Azhar, 11/239).
Menurut Ibnu Syekh As Sa’di makna hudan adalah mengetahui kebenaran dan mengamalkannya. Artinya al-Qur’an (sebagaimana dikatakan oleh Buya Hamka) adalah panduan, pedoman, petunjuk untuk mengenali kebenaran sekaligus panduan dan tuntunan dalam mengamalkan kebenaran tersebut. Sebab Al-Qur’an menuntun ke jalan yang lurus dan mengajarkan ilmu yang bermanfaat sehingga mereka yang berpedoman dengan al-Qur’an memperoleh hidayah sempurna dari Allah Ta’ala.

Bila kita amati ayat-ayat yang menyebutkan al-Qur’an sebagai hudan (petunjuk) kita temukan bahwa bahwa al-Qur’an kadang disebut sebagai hudan Lin Nas (petunjuk bagi manusia), atau petunjuk bagi orang-orang beriman, atau hudan Lil Muttaqin (petunjuk bagi orang bertakwa). Pada asalnya al-Qur;an merupakan petunjuk bagi seluruh manusia, akan tetapi orang-orang kafir tidak mengindahkan petunjuk al-Qur’an sehingga mereka tidak memperoleh sama sekali manfaat al-Qur’an. Bahkan bagi orang kafir al-Qur’an justru menambah kerugian mereka karena sikap durhaka mereka terhadap al-Qur’an.

Rahmat
Fungsi keempat bagi al-Qur’an adalah sebagai rahmat, yaitu karunia berupa kasih sayang, kebaikan, dan pahala di dunia dan akhirat. Menurut Buaya Hamka ini hasil dari urutan tiga pertama (mau’idzah, syifa’, dan huda[n]). Menurutnya bila ajaran Allah dipegang teguh, al-Qur’an dijadikan sebagai obat hati penawar dada, dan dijadikan petunjuk dalam perjalanan hidup, pasti akan merasakan rahmat Ilahi bagi diri, rumah tangga, dan masyarakat.
Semakna dengan pendapat Buya Hamka di atas Syekh As Sa’di juga mengatakan bahwa bila seseorang memperoleh hidayah, maka ia berhak mendapat rahmat yang berasal dari hidayah tersebut. Sehingga ia meraih kebahagiaan (sa’dah) kesuksesan (falah), keberuntungan (ribh), keselamatan (najah), kesenangan (farh), dan kegembiraan (surur). (hlm.367).

Akan tetapi karunia Allah berupa hidayah dan rahmat kasih sayang Allah sebagai bagian dari fungsi al-Qur’an hanya diperuntukan bagi orang-orang beriman. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Katsir, “Hal itu (hidayah dan rahmat) hanya berlaku bagi orang-orang beriman yang mengimani, mempercayai, dan meyakini al-Qur’an beserta isi kandungan yang terdapat di dalamnya” (Tafsir Ibn Katsir, 3/1380).
Artinya orang yang tidak beriman tidak akan pernah merasakan al-Qur’an sebagai petunjuk dan rahmat. Justru sebalikan bagi orang yang dzalim al-Qur’an hanya akan menambah kerugian mereka. Merugi karena tidak mendapatkan manfaat apapun dari al-Qur’an.

Berbahagialah
Allah menyertai ayat tentang empat unsur yang dimiliki oleh Al-Qur’an berupa nasehat dan pelajaran, penawar atau penyembuh, petunjuk, dan rahmat dengan perintah untuk bergembira. Allah mengatakan, “Katakan wahai Muhammad, dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaknya dengan itulah bersukacita, itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. Maksudnya nikmat dan karunia al-Qur’an lebih pantas untuk disyukuri dan disikapi dengan bahagia karena ia lebih baik dari perbendaharaan dunia yang dikumpulakn oleh manusia”.

Oleh karena itu untuk memperoleh pelajaran, kesembuhan, petunjuk, dan rahmat dari al-Qur’an hendaknya kita mengimani, mempelajari, mengamalkan, dan mendakwahkan al-Qur’an. Semoga Allah merahmati kita dengan al-Qur’an, menjadikannya sebagai imam, cahaya, dan rahmat bagi kita. Allahumma bil qur’an, waj’alhu lana imama[an], wa nura[n], wa huda[n], wa rahmah. [Cikempong, 22/11/2016, 02.26).
Artikel:http://wahdah.or.id

Wahdah Jakarta Utara Gelar Training Qur’an Muslim Jaman Now

 

Jakarta (wahdahjakarta.com)- Sabtu (26/11) Markaz Qur’an Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Wahdah Islamiyah (WI) Jakarta Utara menggelar Training Qur’an. Training yang mengangkat Muslim Jaman Now ini menghadirkan dua narasumber ustaz Syamsuddin, M. Pd.I (Pimpinan Pesantren Tahfidz Wahdah Islamiyah Bogor) dan Ustaz Fakhrizal Idriz, Lc (Da’i Wahdah Islamiyah DKI Jakarta).

Dalam materinya Ustaz Syamsuddin menjelaskan tentang dampak dan akibat mengabaikan dan meninggalkan Al-Qur’an. “Mengabaikan dan meninggalkan Al-Qur’an merupakan perkara besar dan serius”, ujarnya. “Sebab Rasul pernah mengadukan kepada Allah perilaku kaum dan ummatnya yang meninggalkan Al-Qur’an, sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur’an surat Al-Furqan ayat 30”, terangnya.

Selanjutnya kandidat Doktor Universitas Ibn Khaldun Bogor ini menyebutkan beberapa contoh sikap mengabaikan Al-Qur’an. “Mengabaikan atau meninggalkan Al-Qur’an diantaranya dengan tidak mengimani, tidak mendengarkan, tidak membaca dan mempelajari, serta tidak mengamalkan dan mengajarkan Al-Qur’an”, jelasnya.

Adapun dampak meninggalkan Al-Qur’an dapat mengakibatkan kesempitan hidup, terjatuh dalam kedzaliman dan kesesatan, serta mudah diperdaya oleh setan. “Pada level komunal, menjauhi dan mengabaikan Al-Qur’an merupakan sebab kehinaan suatu masyarakat serta kekalahan sebuah ummat dan bangsa”, imbuhnya.

Oleh karena itu sebagai solusinya setiap Muslim hendaknya kembali kepada Al-Qur’an dengan mempelajari dan mengajarkannya. “Kegiatan belajar dan mengajarkan Al-Qur’an harus jadi prioritas dalam agenda hidup kita, sebab ia merupakan syarat menjadi manusia terbaik di sisi Allah”, tegasnya.


Sementara Ustaz Fakhrizal menjelaskan tentang salah satu fungsi Al-Qur’an sebagai obat dan penawar bagi penyakit syahwat dan syubhat yang menimpa jiwa manusia. “Sebagaimana tubuh manusia dapat timbul penyakit maka jiwa atau ruh manusia juga berpenyakit, dan penyakit jiwa ada dua, yakni syahwat atau hawa nafsu dan syubhat”, ujar alumnus Fakultas Hadits Universitas Islam Madinah ini.

“Dan kedua penyakit tersebut dapat disembuhkan dengan Al quran”, lanjutnya. “Syahwat disembuhkan dengan cara menyalurkannya sesuai syari’at yang termaktub dalam Al-Qur’an, dan syubhat disembuhkan dengan ilmu dan kebenaran yang terbukti ada dalam Al-Qur’an”, pungkasnya. [sym]

Ustadz Zaitun: Mari Tetap Bersatu, Meski Berbeda

Ustadz Zaitun: Mari Tetap Bersatu, Meski Berbeda

 

Denpasar (Wahdahjakarta.com)- Wahdah Islamiyah (WI) Bali menggelar tabligh akbar bertajuk “Menjalin Persatuan dalam Perbedaan” hari Ahad (26/11/2017). Acara bertempat di Masjid Baitul Makmur, Denpasar, Bali dengan menghadirkan ketua Umum WI Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin sebagai pembicara.

Ustadz Zaitun menyampaikan bahwa salah satu cara menjaga iman adalah dengan memelihara persaudaraan dan persatuan. Sebab, persaudaraan dan persatuan adalah bagian dari iman.

Wasekjen MUI Pusat ini menyatakan banyak alasan mengapa kita mesti bersatu. Salah satunya, karena kita akan lemah jika sendirian dan sebaliknya, akan menjadi kuat jika bersatu. Begitulah sifat iman menurut beliau.

Perbedaan yang ada tidak boleh menjadi penghalang untuk saling bersaudara dan bersatu. Kita adalah umat yang telah Allah tetapkan sebagai saudara, sepanjang kita beragama Islam. Meskipun berbeda mazhab, organisasi, suku, warna kulit, bahasa, dll.

Menurut beliau, iman akan melahirkan persaudaraan, dan persaudaraan akan menghasilkan kekuatan jika sesama muslim saling menolong. “Dengan iman yang ada pada setiap mukmin, akan mendorong satu sama lain saling menasihati dan saling menolong”, ungkap beliau.

Dalam hal menolong orang lain, tidak hanya menolong ketika ada yang terzhalimi, tapi juga harus menolong orang yang menzhalimi. Caranya dengan menasihatinya agar berhenti dari kezhaliman tersebut.

Dalam hal menjaga keharmonisan persaudaraan ini, kita memerlukan ketegasan agar kezhaliman tidak berlanjut. Sekali lagi, menurut beliau, tujuan utamanya adalah untuk menghentikan kezhaliman. Bukan untuk menyakiti sesama saudara.

Kajian berlangsung khidmat hingga akhir dengan jamaah yang membludak. Masjid Baitul Makmur ini terkenal dengan jamaah shalat subuhnya, lebih dari 1000 orang jamaah setiap hari. []

 

 

4 Cara Agar Selamat dari Kerugian (Tadabbur Surah Al-‘Ashr)

Manusia Dalam Kerugian Kecuali

Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholih serta nasihat menasihati dalam menetapi kebenaran dan kesabaran”.(QS Al ‘Ashr:1-3)

Surat ini meskipun singkat, hanya tiga ayat tetapi mencakup ma’na yang dalam dan kandungan yang luas. Al-Imam As Syafi’I Rahimahullah mengatakan “Jika sekiranya manusia mentadaburi surat ini dengan benar niscaya surat ini sudah cukup menjamin kebahagiaan mereka.” Dalam ungkapan yang lain beliau mengatakan, “Jika sekiranya Allah tidak menurunkan surat yang lain kepada hamba-Nya melainkan surat ini saja maka ia sudah cukup bagi mereka”. Maksudnya surat ini sudah cukup sebagai perintah untuk berpegang dengan agama Allah berupa keimanan amal sholih dan berda’wah di jalan Allah, serta bersabar diatasNya. Bukan berarti surat ini sudah cukup bagi hamba dalam seluruh syari’at,” demikian jelas Syaikh Utsaimin rahimahullah.

Surat yang mulia ini mengajarkan kepada manusia beberapa langkah agar selamat dari kerugian. Asyaikh Utsaimin Rahimahullah brkata: Allah Azza Wa jalla bersumpah di dalam surat ini dengan masa bahwa setiap manusia berada di dalam kerugian bagaimanapun banyaknya hartanya dan anak-anaknya serta tingginya kedudukannya melainkan dapat mengumpulkan pada dirinya sifat yang empat (Lih Syarh Utsul Tsalatsah Hal : 26).

1.Iman
Keimananlah yang membuat seorang manusia selamat dari kerugian. Karna sluruh manusia akan braa alam krugian, kkurangan an khanuran kuali orang-orang yang briman. Keimanan pulalah yang akan mengantarkan manusia kepada kehidupan yang baik. Allah telah menjamin bahwa Dia akan memberikan kehidupan yang baik kepada hamba yang hidupnya dan amalan-amalannya dilandasi oleh keimanan. Allah berfirman:
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.(Qs An Nahl:97).

Keimanan di sini bukan sekadar ucapan dibibir saja, tetapi benar-benar tertanam di dalam hati, lalu diucapkan dengan lisan selanjutnya dibuktikan oleh amalan anggota badan. Al Hasan Al Basri rahimahullah mengatakan: “Bukanlah keimanan itu sekadar angan-angan saja tetapi keimanan adalah keyakinan yang tertanam di dalam hati dan dibuktikan oleh amalan”.

Keimanan disini juga mencakup seluruh perkara yang mendekatkan kepada Allah berupa aqidah yang benar dan ilmu yang bermanfaat (lih Syarh Utsul Tsalathah Hal : 26).

2. Amal Sholih

Keimanan yang benar akan membuahkan amal. Seseorang merugi dan celaka sampai ia membuktikan keimanannya dengan amal sholih. Amal sholih adalah menunaikan kewajiban, meninggalkan larangan dan mengerjakan kebaikan. Bahkan mencakup seluruh perkataan dan perbuatan yang mendekatkan kepada Allah yang dilakukan dengan niat ikhlash dan mengikuti tuntunan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wassallam.
Seorang Tabiin yang mulia Fudhail bin Iyadh ketika mengomentari firman Allah. “Dialah Allah yang telah menjadikan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian siapakah yang paling baik amalannya diantara kalian (QS. Al-Mulk : 2). Beliau mengatakan “ Ahsanukum amala ” yang paling baik amalannya diantara kalian, maksudnya; amalan yang paling ikhlash dan paling benar. Ditanyakan kepada beliau; wahai Abu Abdillah apa maksudnya suatu amalan meskipun pelakunya ikhlash tapi tidak benar dan benar tapi tidak ikhlash maka tidak akan diterima.
Jadi suatu amalan dapat disebut sebagai amal sholih jika niyatnya suci (ikhlash) dan caranya benar (sesuai contoh / petunjuk Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam). Cara mewujudkan amalan yang benar sesuai petunjuk Nabi adalah dengan ilmu syar’i. Sebab kita tiak aka n tahu apakah wudhu dan sholat kita sesuai dengan wudhu dan sholat Nabi tanpa ilmu. Disinilah rahasianya mengapa menuntut ilmu dalam Islam hukumnya wajib.

3.Berdakwah

Seseorang yang telah beriman lalu merealisasikan keimanannya dengan amal sholih maka ia sudah mencapai Al-Kamaal Al Fardi (kesempurnaan secara individual), demikian Ibnul Qayim menuturkan.
Namun seorang muslim tidak pantas hanya menikmati keimanan dan kesholihannya sendirian. Ia masih terancam dengan kerugian sampai mentransfer keimanan dan kesholihannya kepada orang lain. “Tidak sempurna keimanan seseorang diantara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri “demikian Nabi bersabda”.

Nah proses transformasi kesholihan itu adalah da’wah yang dalam surah Al-Asr ini dibahasakan dengan “Nasihat Menasihati di dalam kebenaran”.
Jangan lupa bahwa mentransfer kesholihan bukan hanya menyelamatkan dari kerugian tapi memiliki pahala yang lumayan banyak. Diantaranya ia akan mendapatkan pahala orang yang melakukan kebaikan yang ia ajarkan tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun, demikian ma’na sabda Nabi Shallallahu alaihi wasallam.

4. Bersabar
Mewujudkan ketiga perkara yang disebutkan di atas (Iman, amal, da’wah) bukanlah sesuatu yang mudah. Banyak rintangan dan tantangan yang mesti dihadapi,terlebih dizaman seperti sekarang dimana kebaikan dan kebenaran dianggap sebagai sesuatu yang asing. Sudah menjadi sunnatullah bahwa setiap yang berjalan di atas kebenaran dan mengajak kepadanya pasti akan menghadapi hambatan dan ujian. Jadi bersabar di dalam merealisasikan keimanan, beramal sholih dan menda’wahkannya adalah satu kemestian yang tidak dapat ditawar-tawar.
Barang siapa yang telah mewujudkan keempat aspek tersebut di atas maka menurut Ibnul Qayyim ia termasuk orang-orang Rabbani. Dengan mewujudkan keempatnya seorang manusia telah selamat dari kerugian dan mendapat keberuntungan yang besar.

Harus Berjamaah

Jika kita perhatikan, keempat aspek di atas dijelaskan oleh Allah dengan bentuk jamak. Hal ini mengisyaratkan pentingnya Ta’awun dan kebersamaan di dalam mewujudkan keempat hal di atas. Terlebih dizaman ini dimana pelaku-pelaku kebathilan bekerjasama dengan begitu solid dan rapi di dalam menyebarkan kebathilan. Allah berfirman : “…Dan orang-orang kafir adalah penolong antara satu dengan yang lain. Jika kalian tidak melakukannya (Tolong-menolong) maka akan terjadi fitnah dan kerusakan yang besar di bumi” (QS. Al-Anfal) . [sym]

ghibah

Ghibah yang Dibolehkan, Emang Ada?

Setiap Muslim hendaknya menjaga dan memelihara lisannya dari perkataan dosa dan tercela. Karena setiap perkataan yang terucap akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah. Oleh karena itu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan dalam sabdanya, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya mengucapkan yang baik, atau (jika tidak) hendaknya ia diam” (terj. HR. Bukhari dan Muslim).

Diantara dosa lisan yang sangat buruk dan tercela adalah ghibah (menggunjing). Saking tercelanya, dalam Al-Qur’an diumpamakan seperti memakan bangkai saudara sendiri. Allah berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 12. “Dan janganlah sebagian diantara kamu meng-ghibah-i (menggunjing) sebagian yang lain, sukakalah salah seorang diantara kalian memakan daging saudaranya yang telah mati? Tentu kalian tidak suka”. (terj. Qs. Al-Hujurat: 12).
Ghibah artinya membicarakan orang lain ketika ia tidak ada dengan pembicaraan yang tidak ia sukai. Sebagaimana pengertian ghibah yang didefinisikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu, “dzikruka akhaka bima yakrahu (kamu membicarakan saudaramu dengan sesuatu yang tidak disukainya”. (terj. HR. Muslim).

Namun demikian ada pembicaraan tentang orang lain yang dibolehkan. Bahkan ulama menyebutnya sebagai ghibah yang dibolehkan. Imam An-Nawawi rahimahullah menempatkan masalah ini dalam satu Bab khusus (bab 265) dalam Kitabnya Riyadhus Shalihin yang beliau beri judul, Bab Ma Yubahu Min al-Ghibah, Bab Ghibah yang Dibolehkan.
Ketahuilah bahwa, sesungguhnya ghibah itu dibolehkan untuk tujuan yang benar sesuai syariat, yang tidak mungkin dicapai kecuali dengan ghibah, hal itu ada dalam enam perkara”, terang An-Nawawi mengawali Bab ke 265 dalam kitabnya tersebut.
Jadi ghibah yang boleh menurut An-Nawawi hanya (1) untuk maksud dan tujuan yang benar secara syar’i, dan (2) tujuan yang benar tersebut hanya dapat dicapai dengan membicarakan orang lain alias ghibah. Keenam Jenis ghibah tersebut adalah:

Pertama, Mengadukan Kezaliman
Bagi orang yang terzalimi boleh menyebutkan nama orang yang menzaliminya ketika mengadukan kezaliman yang dialaminya kepada penguasa atau hakim dan atau lainnya yang berwenang, atau boleh melaporkan kepada orang yang mampu menengahi dengan orang yg menzaliminya. Misalnya ia berkata: “Si fulan telah menzalimi saya”.

Kedua; Dalam rangka Meminta Tolong untuk Menghilangkan Kemungkaran dan Mengembalikan Pelaku Maksiat ke Jalan yang Benar
Misalnya ia berkata kepada orang yang diharapkan bisa menghilangkan kemungkaran tersebut: “Fulan telah berbuat (maksiat) demikian, maka hendaknya engkau mencegahnya”, atau kalimat yang semisal itu. Maksud dan tujuannya adalah mencari sarana atau perantara untuk menghilangkan kemungkaran tersebut. Jika ia tidak bermaksud seperti itu, maka hukumnya haram.
Artinya jika sekadar membicarakan bahwa si fulan berbuat maksiat ini dan itu tanpa ada sama sekali maksud dan tujuan untuk merubah kemunkaran yang dikerjakannya atau mengembalikannya ke jalan yang benar, maka hal itu termasuk ghibah yang diharamkan.

Ketiga; Meminta Fatwa
Misalnya seorang mustafti (peminta fatwa) mengatakan kepada mufti: Ayahku/saudaraku/ suamiku/fulan telah menzalimiku demikian. Apakah hal itu boleh baginya? Dan saya tidak memiliki jalan untuk terlepas dari orang ini dan mengambil hak saya serta melawan kezalimannya (kecuali dengan itu)?. Hal ini boleh kalau ada hajat.
Akan tetapi yang afdhal dan lebih hati-hati hendaknya ia mengatakan; “ Apa pendapat anda, tentang seorang atau seorang suami yang keadaannya demikian?” Maka jika sudah tercapai tujuannya tanpa menyebut nama individunya (itu lebih baik). Walaupun jika menyebut namanya itu boleh juga, sebagaimana dalam hadits Hindun radhiallahu’anha.

Keempat: Memperingatkan dan Menasehati Kaum Muslimin dari Suatu Keburukan
Hal ini dari beberapa sisi;
• Diantaranya: Jarh (kritikan) terhadap orang yang dikritik dari para rawi dan saksi yang layak dikritik. Yang demikian itu boleh berdasarkan ijma’ (konsensus) kaum muslimin, bahkan (menyebut nama orang yang dikritik) wajib untuk tujuan ini.
• Diantaranya juga: meminta pendapat (saran) ketika hendak menikah dengan seorang, atau kerja sama dengannya, menitipkan sesuatu, bermuamalah dan selain itu, atau berdialog dengannya. Wajib bagi orang yang dimintai saran untuk tidak menyembunyikan keadaan orang tersebut. Bahkan dia mesti menyebutkan kejelekkan-kejelekkan yang ada padanya dengan niat menasihati.
• Dan diantaranya : Jika melihat seorang pelajar yang bolak-balik menemui ahli bidah, atau orang fasiq untuk mengambil ilmu darinya, dan dikawatirkan pelajar tadi akan mengalami mudharat dengan itu. Maka wajib menasihatinya dan menjelaskan keadaannya (ahli bidah). Dengan syarat untuk tujuan menasihatinya.
Akan tetapi kadang terjadi kesalahan dalam hal ini. Terkadang yang mengkritik itu terbawa sifat hasad (dalam menjarh). Syaitan membuat pengkaburan dalam hal itu, digambarkan seolah-olah itu adalah nasihat. Maka berlaku cermatlah dalam mengkritik.
•Diantaranya: Orang yang mempunyai amanah tanggung jawab, tapi tidak melaksanakannya sebagaimana mestinya: Baik karena memang ia tidak pantas untuk itu, ataupun karena ia adalah seorang fasiq atau teledor dan semisalnya. Maka wajib untuk menyebutkan (kekurangan orang itu) kepada pihak yang memiliki kewenangan umum untuk menyingkirkannya dan menggantikannya dengan orang yang pantas. Atau mengabarkan hal itu agar ia ditindak sesuai keadaannya, tidak tertipu dengannya, dan berupaya untuk mendorongnya agar istiqamah atau membimbingnya.

Kelima Orang yang Menampakkan Kefasikan atau Kebid’ahannya

Boleh “menghibahi” orang yang secara terang-terangan menampakkan perbuatan fasik dan atau bid’ahnya. Semisal orang terang-terangan menampakkan minum khamer, merampok manusia, minta pajak dan pungutan uang secara zalim (pungli), melakukan perkara-perkara yang batil.
Maka boleh menyebutkan perbuatan buruk yang dia tampakkan. Namun diharamkan menyebutkan aib-aib selainnya (yang tidak dia tampakkan), kecuali disebutkan kejelekannya karena suatu sebab lain.

Keenam; Dalam Rangka Mengenalkan
Boleh menyebutkan suatu aib secara fisik untuk maksud dan tujuan mengenalkan. Hal ini berlaku bagi orang yang popular dengan gelar yang dikaitkan dengan ciri atau aib fisiknya.
Jika seseorang dikenal dengan gelar si Buta (A’masy), si Pincang (A’raj), si Tuli (asham), si Picek (a’ma), si Juling (ahwal) dan lain-lain, maka Boleh saja mengenalkan mereka dengan hal itu. Tapi diharamkan menyebutkannya dengan maksud menghina atau merendahkan. Seandainya memungkinkan menyebutkannya dengan selain itu, tentu lebih utama.
Maka ini adalah enam sebab yang disebutkan para ulama dan kebanyakannya adalah perkara yang telah disepakati.

Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat ditarik simpulan bahwa ada ghibah yang dibolehkan karena hajat dan kebutuhan yang dibenarkan oleh syariat. Namun perlu diperhatikan, hal ini hanya berlaku untuk keenam hal tersebut dengan maksud dan tujuan yang benar ssuai syariat. Jika bukan untuk maksu yang dibenarkan secara syar’i, maka pembicaraan tentang keenam hal tersebut termasuk ghibah yang diharamkan. [sym].
Sumber: Riyadhus Shalihin karya Abu Zakaria Yahya bin Syarf An-Nawawi, Kitab Al-Umur Al-Manhiy ‘anha, Bab Ma Yubahu Min Al-Ghibah, Dar as-Salam Lin Nasyr Wat Tauzi’, hlm. 407-408.

Kesalahan dalam Mendidik Anak (2): Membiasakan Anak Bersikap Ceroboh dan Indisipliner

Kesalahan Dalam Mendidik Anak

 

Tanggungjawab dalam mendidik anak sangat besar, namun banyak orangtua yang melalaikannya. Bahkan tidak sedikit yang menganggap enteng amanah tersebut.Mereka tidak memelihara dengan sebaik-baiknya. Mereka menelantarkan anak-anaknya, mengabaikan pendidikannya,tidak memerhatikan dan tidak mengarahkan mereka. Begitu mereka melihat benih-benih penyimpangan dan kenakalan pada anak-anak mereka, mulailah mereka menghardik dan mengeluhkannya.

Mereka tidak menyadari,penyebab utama dari kenakalan dan penyimpangan itu adalah kelalaian mereka sendiri.
Kelalaian dalam mendidik anak banyak sekali bentuk dan ragamnya.Semua bentuk kelalaian itu akan menjadi penyebab penyimpangan dan kenakalan pada anak-anak.Diantara bentuk-bentuk kelalaian itu adalah.

2. Mendidik Anak Bersikap Ceroboh, Ceplas-Ceplos dan Mengganggu Orang Lain, Namun Menganggapnya Sebuah Keberanian
Ini merupakan bentuk kesalahan orang tua dalam mendidik anak ,dan merupakan kebalikan dari sikap yang pertama (http://wahdahjakarta.com/2017/11/02/kesalahan-dalam-mendidik-anak-1-membiasakan-anak-memiliki-sifat-penakut-dan-tidak-percaya-diri/).
Adapun sikap yang tepat bagi orangtua adalah mengarahkan kepada anak untuk bersikap pertengahan dari keduanya. Yakni mendidik anak untuk bersikap berani bersikap tetapi tidak berlebihan.

  1. Mendidik Anak Tidak Berpendirian, Indispliner, Serta Membiasakan Mereka Hidup Mewah dan Berlebihan

Sikap ini akan membawa anak tumbuh dalam kemewahan dan kesenangan .Yang terpikirkan olehnya hanyalah kesenangan pribadi semata. Dia tidak mempunyai kepedulian kepada orang lain. Dia tidak mau bertanya tentang nasib dan keadaan saudara-saudarany sesama Muslim,serta tidak mau berbagi suka dan duka bersama mereka.

Metode pendidikan seperti ini akan merusak fitrah anak sebagai makhluk social,menghilangkan sifat istiqamah yang dimilikinya,serta memupuskan –sikap menjaga-harga diri dan keberaniannya. (bersambung insya Allah ).

Sumber: Sumber: Buku “Jangan Salah Mendidik Buah Hati” karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim al Hamd.

Hak-hak Ukhuwah (Persaudaraan)

UZR ayat-ayat Ukhuwah

UZR ayat-ayat Ukhuwah

(Tadabbur Ayat-ayat Persaudaraan dari Surat Al-Hujurat)

Oleh: Ust. Muhammad Zaitun Rasmin
Surat Al Hujurat banyak mengajarkan kepada kita tentang persaudaraan. Allah ta’ala mengajarkan secara rinci bagaimana seharusnya kita ber-ukhuwwah. Surat ini adalah “Surat Ukhuwwah”.
Pada ayat 9 dan 10 (http://wahdahjakarta.com/2017/11/19/persaudaraan-sejati/ & http://wahdahjakarta.com/2017/11/20/berukhuwwah-bukan-berarti-tanpa-gesekan/ Allah menjelaskan tentang hakikat ukhuwah dan persaudaraan, lalu pada ayat berikutnya Allah memberikan panduan cara merawat ukhuwah, yakni dengan menunaikan hak-hak ukhuwah atau persaudaraan.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُوا۟ خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا۟ بِٱلْأَلْقَٰبِ ۖ بِئْسَ ٱلِٱسْمُ ٱلْفُسُوقُ بَعْدَ ٱلْإِيمَٰنِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُون
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim” (QS Al-Hujurat: 11)
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (QS Al-Hujurat: 12)

Setelah menerangkan hakikat ukhuwwah di ayat 9 dan 10, berikutnya Allah jelaskan secara detail bagaimana cara merawat ukhuwwah di ayat 11 dam 12.
Berikutnya di ayat ke-13 Allah ingatkan lagi tentang pentingnya persaudaraan.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal

Tidak boleh ada yang menyombongkan diri jika kita ingin membangun ukhuwwah. Yang paling mulia di antara kita adalah yang paling bertaqwa dan yang tahu seberapa besar kadar ketaqwaan kita hanyalah Allah.
Orang Islam manapun, tidak boleh ada yang merusak persatuan, apalagi jika sudah ada kepemimpinan umat. Merusak ukhuwwah ini pelakunya disebut ahlul baghyi, jamaknya bughaat atau pemberontak.
Bangunan ukhuwwah adalah unsur penting dalam agama kita. Jangan ada yang sembrono. Jangan ada tindakan perusakan atau pelemahan ukhuwwah ini, besar ataupun kecil.
Diantara upaya penguatan ukhuwwah adalah Allah perintahkan kita agar saling kerja sama dalam kebaikan dan ketaqwaan. Wata’aawanuu alal birri wat taqwa.

Mimbar-mimbar Cahaya
Ukhuwwah ini termasuk amal shalih yang utama. Allah berikan balasan kelak di akhirat kedudukan yang sangat mulia, sampai-sampai banyak yang cemburu dari kalangan para Nabi dan Syuhada’.
Para penjaga ukhuwwah akan Allah tempatkan di atas mimbar-mimbar cahaya.
Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:
قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : الْمُتَحَابُّونَ فِي جَلاَلِي لَهُمْ مَنَابِرُ مِنْ نُورٍ يَغْبِطُهُمُ النَّبِيُّونَ وَالشُّهَدَاءُ
Artinya: “Allah ‘azza wa jalla berfirman: Orang-orang yang saling mencinta di bawah keagungan-Ku untuk mereka mimbar-mimbar (tempat yang tinggi) dari cahaya yang membuat para Nabi dan orang-orang yang mati syahid menginginkannya”. (H.R Tirmidzi, hasan shahih).
Hendaknya kita turut menjaga ukhuwwah dan persatuan umat ini, mudah-mudahan kelak Allah berikan tinggikan kedudukan kita di atas mimbar-mimbar cahaya-Nya. Amin. [ibw/sym]

Wastaghfirullah (Ber-Istighfar-lah Kepada Allah)

Istighfar

Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya kalin berbuat salah siang dan malam, dan aku mengampuni dosa-dosa seluruhnya. Oleh karena itu bertighfar [mohon ampun] lah kalian kepada-Ku, niscaya Aku ampuni kalian”. Demikian penggalan penggalan Firman Allah dalam hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh sahabat yang mulia Abu Dzar al-Ghifari radhiyallhu ‘anhu serta dikeluarkan oleh Imam Muslim, Ibnu Hibban, al-Baihaqiy, Ath-Thayalisi dan yang lainnya.

Hadits Qudsi tersebut mengisyaratkan bahwa sebagai manusia biasa kita tak luput dari salah dan dosa. Makna ‘salah’ dalam hadits di atas adalah dosa, sebagaimana dikatakan Syekh Shaleh bin Abdul Aziz Aalu Syaikh hafidzahullah. “Kesalahan di sini bermakna dosa (itsm)”, jelas Syekh Aalu Syaikh ketika mensyarah hadits ke-24 Al-Arba’in An Nawawiyah. “Karena kesalahan dalam arti tersalah atau tidak sengaja termasuk perkara yang dimaafkan”, lanjutnya. Jadi makna kalimat “kalian berbuat salah siang dan malam” adalah kalian berdosa atau berbuat dosa.

Namun pada kalimat berikutnya Allah mengatakan, “dan Aku mengampuni dosa-dosa seluruhnya”. Tentu saja selain syirik, karena syirik tidak diampuni kecuali dengan Islam dan taubat. Oleh karena itu pula Allah memerintahkan kepada para hamba-Nya untuk beristighfar. Allah berfirman, “Oleh karena itu mohon ampun [beristighfar] lah kalian kepada-Ku niscaya Aku ampuni kalian”.

Hadits di atas juga menunjukkan pentingnya istighfar dalam kehidupan seorang hamba Allah. Bahkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dikenal sangat banyak beristighfar kepada Allah. Dalam haditsnya beliau mengabarkan bahwa beliau beristighfar lebih tujuh puluh kali (70x) bahkan sampai seratus kali (100x) dalam sehari. Tentu saja hal ini menunjukan betapa urgennya kedudukan istighfar dalam kehidupan seorang Muslim. Selanjutnya dalam tulisan ini akan disebutkan beberapa poin penting yang menunjukan urgensi dan kedudukan istighfar.

1. Perintah Allah

Istighfar merupakan perintah Allah Ta’ala, bahkan perintah beristighfar setelah perintah melakukan kebaikan dan ketaatan, sebagaimana termaktub dalam beberapa ayat al-Qur’an, diantaranya; Surat Al-Baqarah [2] ayat 199, Surat An-Nisa [4] ayat 106, dan Al-Muzammil [73] ayat 20;

ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ ﴿١٩٩﴾
Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (‘Arafah) dan mohonlah ampun (beristighfarlah) kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs. Al-Baqarah [2]: 199).
وَاسْتَغْفِرِ اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا ﴿١٠٦﴾
dan mohonlah ampun (beristighfarlah) kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Qs. An-Nisa [4]:106).

ۚ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ ﴿٢٠﴾
Dan mohonlah ampunan (beristighfarlah) kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs. Al-Muzammil [73]:20).

Dalam ketiga ayat di atas terdapat perintah Allah untuk beristighfar (memohon ampun) kepada-Nya. Ayat yang disebut pertama (Qs. 2:199) dalam konteks ibadah haji. Setelah wukuf Arafah yang merupakan puncak ibadah Haji, Allah menyuruh para Jama’ah Haji untuk bertolak dari Arafah menuju Muzdalifah dan beristighfar kepada Allah. Perhatikan! Setelah menyelesaikan puncak manasik haji para jama’ah haji diperintahkan untuk beristighfar (memohon ampun). Sebab boleh jadi dalam ibadah tersebut masih terdapat kekurangan dan kelalaian.

Perintah Allah untuk beristighfar setelah menunaikan suatu ibadah, bukan hanya pada ibadah Haji. Dalam Ayat yang disebut terakhir di atas (Qs. 73:20), perintah beristigfar berkenaan dengan shalat malam. Untuk lebih jelasnya perhatikan terjemahan ayat tersebut secara utuh, “Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan (beristigfarlah) kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Qs. Al-Muzammil [73]:20).

Dalam ayat di atas Allah menyuruh Nabi dan orang-orang beriman untuk bangun malam melakukan shalat Lail, membaca al-Qur’an, dan menunaikan zakat. Setelah itu Allah memerintahkan untuk beristigfar (memohon ampun) pada-Nya. Tentu saja perintah istighfar pasca melakukan kebaikan dan ibadah merupakan bukti betapa urgent dan pentingnya Istighfar dalam kehidupan seorang Muslim. Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di mengatakan, “Perintah Allah untuk beristighfar setelah anjuran melakukan ketaatan dan berbuat baik mengandung faidah yang besar. Hal itu dikarenakan oleh alasan bahwa seorang hamba tidak luput dari kelalaian dalam menunaikan apa yang diperintahkan kepadanya; entah tidak melakukannya sama sekali, atau melakukannya secara tidak sempurna sehingga ia diperintahkan untuk menambal dan memperbaiki kekurangan tersebut dengan Istiighfar. Karena sesungguhnya seorang hamba berdosa siang dan malam, sehingga bila Allah tidak meliputinya dengan Rahmat-Nya, maka sungguh ia akan binasa”. (Taisir Karimirrahman fiy Tafsir Kalamil Mannan, hlm. 895).

Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan kepada ummatnya bagaimana melengkapi suatu ibadah dengan melakukan istigfar setelahnya. Dalam Shahih Muslim diriwayatkan bahwa setelah selesai Shalat Wajib beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam beristighfar tiga kali. Demikian pula pada hari Arafah. Diriwayatkan dalam Shahihain (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim) dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa pada sore hari Arafah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memohonkan ampun untuk ummatnya.

Adapun perintah beristighfar yang terdapat dalam ayat yang disebut kedua (Qs. 4:106) justru setelah anjuran melakukan beberapa amal. Kalau dalam surah Al-Muzammil ayat 20, perintah beristighfar datang setelah perintah melakukan shalat secara umum dan shalat Lail secara khusus, membaca al-Qur’an,menunaikan zakat, dan ibadah harta lainnya serta kebaikan lainnya secara umum, maka dalam ayat 106 surah An-Nisa perintah beristighfar datang setelah ayat-ayat jihad (ayat 95-96), hijrah (ayat 97-101), shalat Khauf (ayat 101-103), perintah menunaikan shalat pada waktunya (ayat 103), larangan merasa hina dan rendah diri di hadapan kekufuran (ayat 104), kabar tentang diturunkannya kitab al-Qur’an sebagai hakim atas para pengkhianat (105).
Hal itu menunjukkan bahwa istighfar menempati kedudukan yang sangat penting dan urgent di dalam Islam. [sym]

UZR ayat-ayat Ukhuwah

Berukhuwwah Bukan Berarti Tanpa Gesekan

(Tadabbur Ayat-ayat Persaudaraan dari Surat Al-Hujurat)

Oleh: Ustaz Muhammad Zaitun Rasmin

Pada tulisan sebelumnya ( http://wahdahjakarta.com/2017/11/19/persaudaraan-sejati/)telah diterangkan bahwa ukhuwah dan persaudaraan di atas iman merupakan ketetapan dari Allah. Namun berukhuwah dan bersaudara di atas landasan iman bukan berarti tanpa masalah dan gesekan sama sekali. Masalah, bahkan gesekan diantara orang yang berukhuwah merupakan sesuatu yang tak dapat dielakkan. Namun Allah telah memberi panduan dan pedoman mengatasi dan menyelesaikannya, sebagaimana dalam ayat ini.

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا ۖ فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَىٰ فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّىٰ تَفِيءَ إِلَىٰ أَمْرِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا ۖ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Artinya: “Dan jika ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi jika yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil” (Qs. Al-Hujurat:9)

Ukhuwwah adalah satu nilai yang telah Allah tetapkan, dan ini adalah ikatan yang tidak mudah diputus.
Allah sebutkan di ayat ini, bahwa kaum Muslimin yang berukhuwwah itu tetap ada kemungkinan berselisih, bahkan berperang.

Point ini mengajarkan kepada kita setidaknya dua hal:
Pertama, adanya gesekan bahkan pertikaian dalam ukhuwwah itu tidak berarti iman telah hilang dari hati mereka. Sehebat apapun perselisihannya, mereka tetap disebut dengan predikat “al mu’minun” atau orang beriman.

Kedua, jika terjadi gesekan, perselisihan, atau bahkan peperangan, harus segera di-ishlah (didamaikan).
Ayat ini juga mengajarkan kepada kita bahwa ada yang berpotensi melampaui batas dalam berselisih. Lantas, apa yang harus dilakukan jika hal ini terjadi?

Perintah kepada orang beriman: Bantu yang terzhalimi. Hentikan yang menzhalimi dan kalau perlu, perangi sampai dia berhenti. Tujuannya agar kezhalimannya berhenti, bukan untuk membunuh saudara sendiri.
Allah sebutkan “hattaa tafii’a ilaa amrillah“, hingga kelompok ini kembali kepada perintah Allah. Allah tidak menyebut “hattaa maata”, perangi sampai mereka terbunuh.

Apa yang dimaksud perintah Allah dalam ayat ini? Perintah tersebut adalah perintah untuk BERSATU.
Selesaikan “bil ‘adli wa aqsithuu”. Dengan adil dan tanpa kecurangan. Perlu diteliti baik-baik, dalam penyelesaian ini. Berbahaya jika ada kecurangan-kecurangan dalam upaya penyelesaian, ini justru akan memicu potensi konflik lagi.
Ilustrasinya, jika adik kita berbuat salah atau zhalim kepada kita sebagai kakak, bagaimana sikap kita?
Harus kita cegah kezhalimannya, dan arahkan agar perbuatannya tidak berulang. Adapun kita sebagai saudara, walaupun kita tidak suka dengan perbuatannya, rasa persaudaraan tidak akan hilang. Kita pasti tetap mengakuinya sebagai saudara.
Terhadap saudara-saudara kita sesama muslim juga seharusnya seperti itu pula. Jaga persaudaraan ini dengan sebenar-benarnya. [ibw/sym]