Tanda Orang Beriman yang Sebenarnya (2)

Pada bagian sebelumnya telah disebutkan tanda orang beriman dalam rangkaian ayat 2-3 surat Al-Anfal. Ada tiga tanda sebagaimana disebutkan pada ayat 2, yaitu (1) Jika disebut nama Allah, hati mereka bergetar, (2) Jika dibacakan ayat-ayatNya hati iman mereka bertambah, dan (3) hanya bertawakkal kepada Allah.

    إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ ﴿٢﴾    الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ ﴿٣﴾    أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَّهُمْ دَرَجَاتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ ﴿٤

Sesungguhnya orang beriman itu hanyalah mereka yang disebut nama Allah bergetar hatinya, jika dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya ayat itu membuat iman mereka makin bertambah, dan hanya Kepada Rabb mereka bertawakkal . Yaitu orang yang mendirikan shalat dan menginfakkan sebagian (harta) yang Kami rezkikan kepada mereka. Mereka itulah orang beriman yang hakiki, dan mereka akan memperoleh kedudukan (derajat) yang tinggi di sisi Tuhan mereka, ampunan, serta rezki yang mulia” (terj. Qs. Al-Anfal ayat 2-4).

Menegakkan Shalat
Ini merupakan salah satu sifat orang beriman yang paling sering disebutkan dalam al-Qur’an dan hadits Nabi shallallau ‘alaihi wa sallam. Mendirikan atau menegakkan shalat. Bukan sekadar mengerjakan shalat. Karena yang dimaksud dengan iqamatus Shalah (mendirikan/menegakkan shalat) adalah mendirikan shalat dengan memenuhi rukun-rukunnya, syarat-syaratnya, sunnah-sunnhnya, dan adab-adabnya.

Selain itu menegakkan shalat juga bermakna menunaikan shalat tersebut pada awal waktunya secara berjama’ah di Masjid dan melaksanakannya dengan khusyu’. Penunaian dan penegakkan shalat secara sempurna dengan menyempurnakan rukun, syarat,wajib, sunnah, dan adabnya serta dilakukan dengan khusyu dan tertib; waktu, cara, dan tempat diharapkan membuahkan hasil mencegah seseornag dari perbuatan keji, mungkar, dan sia-sia.

Menginfakkan Sebagian Rezki Yang Mereka Peroleh
Rezki yang dimaksud di sini tidak hanya berupa harta. Tapi termasuk di dalamnya harta, ilmu, kedudukan, dan kesehatan. Orang beriman menginfakkan kesemua itu sebagai bukti iman dan taatnya kepada Allah Ta’ala. Infaq di sini bisa mencakup yang wajib maupun yang sunnah. Karena Ibadah kepada dengan harta (‘ibadah maliyah) memiliki ragam bentuk, seperti zakat, infaq, sedekah, waqaf, hibah, hadiah, dan memberi pinjaman.

Dalam ayat al-Qur’an, ibadah maliyah seperti infaq memiliki kedudukan yang sangat utama. Dalam sebagian ayat diisyaratkan bahwa ibadah maliyah berupa zakat, sedekah, infaq, dan sebagainya merupakan ciri utama orang beriman dan bertakwa yang akan memperoleh kemulian dan pemuliaan dari Allah berupa petunjuk (hudan), rezki, al-falah (keberuntungan), yang akan berujung pada derajat yang tinggi di Surga Firdaus pada hari akhir kelak. Diantara ayat yang menerangkan hal itu adalah Surah Al-Mukminun ayat 1-11 dan Surah Al-Anfal ayat 2-4 di atas.

Ciri dan sifat orang beriman bukan hanya lima poin yang disebutkan di atas. Meski Ayat di atas ditutup dengan penegasan bahwa, “Mereka itulah orang-orang beriman yang sebenar-nya”, namun hal ini bukan untuk membatasi sifat orang beriman pada lima poin itu saja. Tapi karena kelima sifat tersebut mewakili amalan hati yang paling afdhal dan amalan anggota badan yang paling afdhal pula. Sifat-sifat mukminin dalam kelima poin di atas mencakup ibadah qalbiyah (hati), badaniyah (badan), dan maliyah (harta). Bahkan ada amalan yang menggabungkan qalbiyah, qauliyah, dan badaniyah sekaligus seperti ibadah shalat. Wallahu Ta’ala a’lam. (Mawasangka, 17-02-2015).

Artikel:  wahdah.or.id

Baca juga:  Tanda Orang Beriman yang Sebenarnya (1)

Baazar Islamic Bookfair UI

Islamic Book Fair UI, Berdayakan Ekonomi Ummat

(Depok-WahdahJakarta.com) – Universitas Indonesia menyelenggarakan Gelaran Event Islamic Book Fair mulai 27-30 Desember 2017. Sejak dibukanya Islamic Book Fair sampai dengan selesai, 27-30 Des 2017, diperkirakan 20.000 lebih peserta telah hadir memadati lokasi.

Selain menyediakan puluhan stand Buku dari berbagai penerbit, panitia juga menyiapkan berbagai stand kuliner, pakaian dan hadir juga berbagai lembaga sosial diantaranya LAZIS Wahdah.

Berbagai acara yang digelar seperti bedah buku, talkshow, dengan mendatangkan artis ‘hijrah’ dan juga para penulis bukunya disinyalir menjadi daya tarik utama kegiatan.

Pengamatan penulis, hampir setiap stand selalu ramai dipadati pengunjung, bahkan hingga akhir acara.

Para pengunjung yang umumnya berasal dari Jabodetabek ini diperkirakan telah membelanjakan setidaknya Rp 50.000,- setiap orang, sehingga perputaran uang dalam 4 hari mendekati angka Rp 1 Miliar. Potensi yang luar biasa.

“Diharapkan event seperti ini terus berlanjut, dan dapat diduplikasi, sehingga ekonomi ummat lebih berdaya”, ujar salah seorang pengunjung.

“Event ini juga cukup membantu keberadaan lembaga sosial seperti kami di LAZIS Wahdah, sehingga bisa bersilaturahim dengan banyak pihak seperti pengunjung, penjual, aktivis lembaga sosial dan mahasiswa”, pungkas Yudi Wahyudi Ketua LAZIS Wahdah Jakarta.(ayd).

etika bertetangga

Etika Bertetangga

Etika Bertetangga

  1. Menghormati Tetangga dan Bersikap Baik terhadap mereka
    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,sebagaimana di dalam hadist Abu Hurairah radiallahu anhu,”Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir,maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dalam riwayat lain disebutkan, ”Hendaklah ia berprilaku baik terhadap tetangganya.”(Muttafaq’alaihi).
  2. Tidak Mendirikan Bangunan yang Mengganggu Tetangga
    Bangunan yang kita bangun jangan mengganggu tetangga kita, tidak membuat mereka tertutup dari sinar matahari atau udara, dan kita tidak boleh melampaui batasnya, baik merusak atau mengubah miliknya, karena hal tersebut menyakiti perasaannya.
  3. Memelihara Hak-hak Tetangga
    Hendaknya kita memelihara hak-haknya disaat mereka tidak di rumah.Kita jaga harta dan kehormatan mereka dari tangan-tangan jahil; dan hendaknya kita ulurkan tangan, bantuan dan pertolongan kepada mereka membutuhkan, serta memalingkan mata kita dari wanita mereka dan merahasiakan aib mereka.
  4. Tidak melakukan suatu kegaduhan yang mengganggu mereka, seperti suara radio atau TV, atau mengganggu mereka dengan melempari halaman mereka dengan kotoran, atau menutup jalan pergi mereka.
    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Demi Allah, tidak beriman; demi Allah, tidak beriman; demi Allah,tidak beriman!” Nabi ditanya, “siapa, wahai Rasulullah? “Nabi menjawab, “orang yang tetangganya tidak merasa tentram karna perbuatannya.(muttafaq’alaihi).
  5. Jangan kikir untuk memberikan nasihat dan saran kepada mereka, dan seharusnya kita ajak mereka berbuat yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar dengan bijaksana (hikmah) dan nasihat baik tanpa maksud menjatuhkan atau menjelek-jelekkan mereka.
  6. Hendaknya kita selalu memberikan makanan kepada tetangga kita. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada Abu Dzar radiallahu anhu,”wahai Abu Dzar, apabila kamu memasak sayur (daging kuah) maka perbanyaklah airnya dan berilah tetanggamu.”(HR.muslim)
  7. Hendaknya kita turut bersuka cita didalam kebahagiaan mereka dan berduka cita didalam duka mereka; kita jenguk bila ia sakit; kita tanyakan apabila ia tidak ada, bersikap baik bila menjumpainya; dan hendaknya kita undang untuk datang ke rumah. Hal-hal seperti itu mudah membuat hati mereka lunak dan sayang kepada kita.
  8. Hendaknya kita tidak mencari-cari kesalahan dan kekeliruan mereka, dan jangan pula senang bila mereka keliru, bahkan seharusnya kita tidak memanfaatkan kekeliruan dan kelupaan mereka.
  9. Hendaknya kita sabar atas perilaku kurang baik mereka terhadap kita.Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ”Ada tiga kelompok manusia yang dicintai Allah disebutkan diantaranya seseorang yang mempunyai tetangga, ia selalu disakiti (diganggu) oleh tetangganya, namun ia sabar atas gangguannya itu, hingga keduanya dipisahkan oleh kematian atau kepergiaannya.”(HR. Ahmad)

Sumber:
– Etika Seorang Muslim, Ilmiah Darul Wathan, (hlm.137-141).
http://wahdah.or.id.

Gerakan Indonesia Shalat Subuh Berjamaah

Aktivis Islam Bogor Deklarasikan Gerakan Indonesia Shalat Subuh Berjamaah (GISS)

(Bogor)-wahdahjakarta.com – Sejumlah tokoh dan aktivis Islam Bogor Raya deklarasikan Gerakan Indonesia Shalat Subuh Berjamaah (GISS). Deklarasi dirangkaikan dengan Shalat Subuh berjama’ah di Masjid Al-Hijri II Kampus Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, Ahad (31/12/2017).

Dalam sambutannya Koordinator Nasional GISS KH Muhammad Al-Khaththath memyampaikan tiga poin penting; Pertama, umat Islam diminta bertekad melaksanakan salat subuh berjamaah secara istiqomah.

Kedua, umat Islam diminta untuk terus mengajak keluarga, saudara, tetangga, dan temannya untuk melaksanakan salat subuh berjamaah di masjid daerah masing-masing.

“Dan yang ketiga, kita bertekad dan bercita-cita bahwa pada tahun 2020 salat subuh di Indonesia seperti salat Jumat,” ungkap Ustaz Al-Khaththath.

Dengan antusias dan penuh semangat, seluruh jamaah yang hadir mengucapkan deklarasi tersebut secara bersama-sama. Mereka mendukung penuh sekaligus berharap bersama agar tercapainya cita-cita tersebut.

Selain itu, seluruh jamaah juga mengucapkan yel-yel GISS yaitu “Indonesia shalat subuh, berkah aman dan sentosa”.

Menurut Ustadz Al-Khaththath dengan gerakan shalat subuh insyaallah akan mengundang keberkahan dari Allah. “Nabi bersabda, ya Allah berkahilah umatku di pagi hari. Jadi disaat yang lain masih tidur, umat Islam sudah shalat berjamaah, ini yang mengundang keberkahan,” jelasnya.

Acara deklarasi ini dihadiri para ulama dan aktivis Islam diantaranya Pimpinan Pesantren Mahasasiswa dan Sarjana (PPMS) Ulil Albab UIKA Bogor KH Didin Hafidhuddin, Mantan Ketua MUI KH Cholil Ridwan, Dewan Majelis Az Zikra KH Raudh Bahar, Ketua GNPF Ulama Bogor Ustaz Iyus Khaerunnas, Pimpinan Dewan Dakwah Bogor Ustaz Muhammad Nur Sukma, Imam Besar Al Hijri II Dr Akhmad Alim, Advokat senior Eggi Sudjana, tokoh MUI Bogor KH Abbas Aula dan lainnya.

Selain itu hadir pula Wali Kota Bogor Bima Arya bersama Ketua Majelis Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais dan Ketua Umum Partai Gerindra H Prabowo Subianto. [ed:sym].

Nasehat KH Didin Hafidudin Kepada Ustadz Abdul Somad

Nasehat Kyai Didin Hafidhuddin Kepada Ustadz Abdul Somad

(Bogor-Wahdahjakarta.com)-Ketua Umum Badan Koordinasi Pondok Pesantren Indonesia (BKsPPI) Prof Dr KH Didin Hafidhuddin pernah dimintai nasihat oleh Ustaz Abdul Somad yang saat ini sedang fenomenal dan digandrungi banyak jamaah.

Kyai Didin bercerita, nasihat tersebut diminta ketika Ustaz Somad meneleponnya saat hendak berceramah di Masjid Az Zikra Sentul, Bogor.

“Saya pernah ditelepon Ustaz Abdul Somad, beliau mengatakan, Kyai apa nasihat untuk saya? saya katakan, Ustaz terus istiqomah dalam berdakwah untuk mempersatukan umat,” cerita Kyai Didin saat berceramah dalam Tabligh Akbar di Masjid Al Hijri II Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, Sabtu (30/12).

Menurutnya, Ustaz Abdul Somad adalah sosok yang tepat sebagai tokoh pemersatu umat. “Karena sekarang ini, figur untuk mempersatukan umat itu figur yang jarang,” kata Kyai Didin sebagaimana dilansir dari Suaraislamonline.com.

Oleh karena itu, kata Kyai yang juga Dekan Fakultas Pasca Sarjana UIKA ini , kehadiran Ustaz Somad perlu kita sambut untuk persatuan umat Islam. “Karena untuk membangun NKRI itu modalnya persatuan umat Islam,” jelasnya.

Dalam menjaga persatuan, ia berpesan untuk tidak mempermasalahkan masalah-masalah kecil seperti soal khilafiyah. Menurutnya, semua kelompok maupun organisasi harus bersatu-padu membangun negeri.

“Apapun organisasinya, itu aset umat. Ada NU, ada Muhammadiyah, ada Persis, PUI, Wahdah, FPI yang luar biasa amar makruf nahi mungkarnya, LDK dan lainnya, semua harus bersatu,” tandas Kyai Didin. [ed:sym]

Fungsi dan Peran Ulama dalam Kehidupan Ummat dan Bangsa

Oleh: Syamsuddin, M.Pd.I
Laulal ‘Ulama Lasharan Naas Kal Bahaaim; Andai bukan karena Ulama, manusia bagaikan binatang” (Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah (w.110 H)).

Pernyataan Ulama Tabi’in asal Bashrah tersebut menunjukan vitalnya keberadaan Ulama dalam kehidupan ummat manusia. Ulama ibarat suluh di tengah kegelapan. Mereka adalah pemandu jalan di tengah belantara kehidupan dunia ini. Mereka merupakan mursyid (pembimbing) bagi manusia dalam menjalankan kewajiban beribadah kepada Allah Ta’ala.

Oleh karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa hajat ummat manusia terhadap ulama dan du’at merupakan kebutuhan vital, seperti kebutuhan suatu masyarakat terhadap petani, nelayan, dokter dan profesi-profesi penentu sarana kehidupan, bahkan lebih. Karena kebutuhan ummat manusia terhadap ilmu serta arahan para ulama dan du’at melebihi kebutuhan terhadap makanan, minuman, dan kesehatan. Makanan dan minuman hanya dibutuhkan 2-3 kali dalam sehari. Sedangkan ilmu dan bimbingan wahyu melalui ulama dan du’at dibutuhkan sepanjang tarikan nafas.

Fungsi dan Peran Ulama
Syekh Abu ‘Abdillah Muhammad bin Haji Isa al-Jazairiy hafidzahullah menyebutkan dalam salah satu khutbahnya lima fungsi dan peran Ulama dalam kehidupan Ummat, yakni;

Pertama, Ulama Sebagai Mursyid (pemandu) ke Jalan Allah
Karena mereka merupakan rangkaian transmisi penyambung kepada sang pemilik syariat, Allah Ta’ala. Sebab melalui mereka syariat Allah sampai kepada kita. Mereka adalah pelanjut dan pewaris risalah kenabian sebagaimana dinyatakan dalam hadits, “Sesungguhnya Ulama adalah pewaris para Nabi, dan Nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham melainkan mewariskan ilmu. . . . “ (Terj. HR. Tirmidziy, Abu Daud, & Ibn Majah) Dengan ilmunya Ulama bagaikan pelita yang menerangi perjalanan dalam kegelapan.

Kedua, Ulama Sebagai Pilar Kehidupan Dunia
Karena kebutuhan ummat terhadap ulama bukan hanya dalam soal urusan Dien yang menyangkut ibadah mahdhah. Karena Islam tidak mengenal dikotomi antara agama dan dunia seperti dipahami oleh kalangan sekular. Tetapi Islam mencakup seluruh aspek kehidupan. Sehingga arahan dan bimbingan para ulama juga dibutuhkan dalam persoalan duniawi menyangkut muamalat sehari-hari.

Ummat butuh kepada ulama bukan hanya dalam urusan hubungan dengan Allah, tetapi dalam urusan dengan sesama manusia pun perlu panduan wahyu melalui penjelasan para ulama dan da’i. Bimbingan ulama juga dibutuhkan urusan jual beli, pernikahan, etika bergaul dan berinteraksi dengan karib kerabat, tetangga, orang tua, mendidik anak, dan urusan muamalat lainnya. Ketidak hadiran peran ulama dalam masyarakat tidak hanya berdampak urusan Agama mereka, tapi berdampak pula pada urusan keehidupan dunia mereka.

Ketiga, Ulama Sebagai Penjaga Kemurnian dan Kesucian Aqidah Islam
Para ulama juga merupakan benteng yang berfungsi melindungi kemurnian dan kesucian Agama Islam. Dalam hal ini peran konkrit yang dapat dimainkan para ulama dan da’i adalah menolak dan membantah berbagai syubhat yang dilemparkan kalangan yang hendak merusak Islam melalui penyebaran paham menyimpang. Peran ini memiliki kedudukan yang sama dengan jihad (perang) dengan senjata. Karena pada hakikatnya jihad memperjuangan Islam dapat ditempuh dengan dua hal, sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah. Yaitu bis saifi was Sinan (jihad dengan pedang) dan bi hujjati wal bayan (argumen dan penjelasan). Yang disebut pertama dijalankan oleh tentara (askariyyun), dan yang kedua dijalankan oleh para Ulama dan Du’at. Bahkan sebelum disyariatkannya jihad bersenjata, jihad dengan hujjah dan bayan disebut oleh Allah sebagai jihad yang besar (jihadan kabiran), sebagaimana ditegaskan oleh Allah dalam surah Al-Furqan ayat 52.

Keempat, Penjaga Masyarakat dari Berbagai Penyakit Sosial
Banyaknya ulama yang menyebarkan ilmu, nasehat, dan tadzkirah di tengah-tengah masyarakat dapat mengurangi penyebaran berbagai penyakit sosial dan kerusakan akhlaq di tengah-tengah masyarakat tersebut. Karena ilmu menghilangkan kejahilan, sementara kejahilan merupakan sumber berbagai penyimpangan. Dengan kehadiran mereka Dien benar-benar hadir sebagai pembimbing dan suluh bagi jiwa-jiwa yang buta terhadap bashirah dan hidayah Allah.

Jika ulama dan du’at memainkan peran strategis ini maka insya Allah berbagai penyakit ssosial yang mewabah di tengah masyarakat dapat diatasi. Berbagai kerusakan yang muncul akibat perilaku menyimpang semisal miras, narkoba, zina, sogok menyogok, dan sebagainya dapat dihilangkan atau diminimalisir. Sungguh benar dan tepat ungkapan Ulama Tabi’in Hasan al-Bashri rahimahullah (w.110 H), “Laulal ‘Ulamaa a’ Lashaaran Naas Kal Bahaa im; Andai bukan karena adanya para Ulama manusia akan Berperilaku seperti binatang”. (Mukhtasshar Minhajil Qashidin, Ahmad bin Qudamah al-Maqdisi, Al-Maktabah al-‘Ashriyyah, Beirut, 2001, hlm.19)

Kelima, Ulama Sebagai Pemersatu Ummat
Persatuan ummat takkan terwujud melainkan dengan iltizam (komitmen) dan berpegang teguh pada al-Qur’an dan As-Sunnah, sebagaimana difirmankan oleh Allah dalam surah Ali-Imran ayat 103;“Dan berpegang teguhlah kepada tali Allah serta jangan bercerai berai” (Terj. QS. Ali Imran [3]:103). Menurut sebagian Mufassir, makna tali Allah (hablullah) dalam ayat tersebut adalah Al-Qur’an dan as-Sunnah. Dan pihak yang paling otoritatif dalam menjelaskan kedua sumber Islam tersebut adalah para Ulama.

Dalam konteks ini pula, ulama dan lembaga keulamaan sangat dibutuhkan perannya dalam membina dan menuntun pengikut aliran sesat kembali ke jalan benar, memediasi islah (perdamaian) diantara pihak-pihak yang berkonflik dan berselisih di kalangan ummat. Jika reputasi dan otoritas ulama terpatri di hati setiap elemen ummat dan mereka nampak kompak, bersatu, dan saling sinergi satu sama lain maka dengan sendirinya ummat akan bersatu dibawah arahan mereka, sehingga perselisihan dan perpecahan dapat dihindari atau diminimalisir.[sym]

Tahfidz Holiday

Tahfidz Holiday

Tahfidz Holiday

Tahfidz Holiday

Bagi anda para muslimah yang sedang bingung mengisi liburan akhir tahun kali ini ..
Yuks jangan sampai terlewatkan kesempatan berlibur penuh makna bersama Alquran
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ .

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.”

Daftarkn diri anda segera dan dapatkan diskon 10% bagi 3 orang pendaftar pertama
ONLY MUSLIMAH
📶 Kuota Terbatas
📝 PERSYARATAN:
1. Muslimah usia 17-25, tahun
2. Mampu membaca Al Qur’an
4. Sehat jasmani & rohani
5. Tidak membawa anak kecil
🎯 TARGET :
3 JUZ 🎁 *FASILITAS
– Asrama – Makan 3x sehari – Pembimbingan hafalan dengan waktu yang intensif
– Mesin Cuci
📌 PENDAFTARAN :
1 – 15 Januari 2018
📩 Cara Daftar

  1. DAFTAR ONLINE
    Ketik NamaPeserta#Kampus#Alamat#
    Kirim ke 085331273578(SMS/WA)
    Ex: Maryam#UI#Cimanggis,Depok#
  2. DAFTAR LANGSUNG DI LOKASI

    📆 *MULAI PROGRAM*
    15-22 Januari 2018 🎀 INFAK PESERTA : Rp 300.000 ☎ *HUBUNGI* 085331273578 / 0217751254

📍LOKASI
RUMAH TAHFIDZ ASSAKINAH
jl. Fatimah bawah No 26 Rt 02 Rw 14 Kel.Kemiri Muka Kec. Beji Depok Jawa Barat
🏢Presented By
Rumah Tahfidz Assakinah
Yayasan Al Hijaz Al khaeriyah indonesia

Perayaan Natal dan Tahun Baru Masehi (2)

stop ucapkan selamat natal dan tahun baru masehi. sumber: Masjidku

Perayaan Natal dan Tahun Baru Masehi


Tahun Baru Masehi
Tahun baru masehi yang diperingati dengan meriah setiap tahunnya di seluruh dunia merupakan bagian dari perayaan Natal yang jatuh dirayakan pada 25 Desember. Oleh karena itu tidak pantas bagi ummat Islam ikut-ikutan merayakannya. Karena ikut meramaikannya termasuk bagian dari tasyabbuh bil kuffar (menyerupai goloangan kafir) yang dilarang dalam Islam.

Penanggalan Masehi disebut pula sebagai kalender Gregorian yang merupakan sistem penanggalan paling banyak dipakai di Dunia Barat. Kalender Gregorian sendiri sebetulnya merupakan revisi dari Kalender Julian. Revisi tersebut dilakukan pertama kali pada tahun 1582 atas usul Doktor Aloysius Lilius dari Napoli Itali yang dituruti oleh Pope Gregory XIII.

Selain itu penanggalan masehi juga memiliki hubungan yang sangat erat dengan kepercayaan paganisme bangsa Romawi. Hubungan tersebut dapat dilihat pada nama-nama bulan yang digunakan dalam penanggalan tersebut;

    1. Januari, yang merupakan bulan pertama dalam penanggalan masehi berasal dari nama Dewa Janus, dewa bemuka dua yang satu menghadap ke depan dan satunya lagi menghadap ke belakang.
    2. Februari, yang merupakan bulan ke-2 dalam penanggalan Masehi berasal dari nama dewa Februs; dewa Penyucian.
    3. Maret, merupakan bulan ke-3 dalam penanggalan Masehi. Berasal dari nama dewa Mars; dewa Perang. Pada asalnya Maret merupakan bulan pertama dalam penanggalan Romawi, lalu pada tahun 45 SM Julius Caesar menambahkan bulan Januari dan Februari di depannya sehingga menjadi bulan ke-3.
    4. April, merupakan bulan ke-4 dalam tahun Masehi. Berasal dari nama dewa Aprilis yang dalam bahasa Latin disebut pula Aperire yang berarti membuka. Disebut demikian karena konon penyebutan ini berkait dengan musim bunga yang kelopak-kelopaknya mulai membuka pada bulan tersebut. Aprilis atau Apreire diyakini pula sebagai nama lain dari dewi Aphorodite atau Apru, dewi Cinta orang Romawi.
    5. Mei, merupakan bulan ke-5 dalam penanggalan Masehi, berasal dari nama dewi Maia yang merupakan nama dewi kesuburan bangsa Romawi.
    6. Juni, merupakan bulan ke-6 dalam tahun Masehi berasal dari nama dewi Juno.
    7. Juli yang meruapakan bulan ke-7 dalam penanggalan Masehi berasal dari nama Julius Caesar. Ia dilahirkan pada bulan ini, yang sebelumnya dalam tahun Romawi dinamakan Quintis. Quintis artinya bulan ke-5 dalam bahasa Latin, karena sebelumnya kalender Romawi bermula dari bulan Maret.
    8. Agustus. Merupakan bulan ke delapan dalam tahun Masehi. Berasal dari nama Kaisar Agustus yang lahir pada bulan ini. Ketika maret masih menjadi bulan pertama dalam penanggalan Romawi, agustus menjadi bulan ke-6 dengan sebutan sextilis.
    9. September, merupakan bulan ke-9 dalam tahun Masehi. Nama ini berasal dari bahasa Latin Septem, artinya tujuh. Karena sebelumnya September merupakan bulan ke-7 dalam kalender Roman.
    10. Oktober, merupakan bulan ke-10 dalam tahun Masehi. Nama ini berasal dari bahasa Latin Octo yang berarti delapan. Sebab, Oktober adalah bulan ke-8 dalam kalender Romawi.
    11. November, merupakan bulan kesebelas dalam tahun Masehi. Nama ini berasal dari bahasa Latin Novem, yang artinya sembilan. Karena november merupakan bulan kesembilan dalam kalender Romawi .
    12. Desember, merupakan bulan ke-12 atau terakhir dalam penanggalan Masehi. Nama ini berasal dari bahasa Latin Decem yang artinya sepuluh. Karena dalam kalender Romawi sampai tahun 153 SM ia merupakan bulan ke-10.

Dari uraian di atas, jelas bahwa penanggalan Masehi berasal dari Penanggalan Romawi Kuno yang sarat nilai-nilai paganisme yang kemudian menjadi penanggalan resmi agama Kristen. Oleh karena itu, sejak dulu sampai sekarang perayaan tahun baru Masehi selalu sepaket dengan perayaan Natal. Lihat saja ucapan selamat yang bertebaran dimana-mana. Kebanyakan berbunyi, Selamat Natal da Tahun Baru, atau dalam bahasa Inggris happy christmas and new year.

Islam sebagai satu-satunya Agama wahyu yang diturunkan Allah merupakan ajaran yang lengkap. Ia memiliki sistem penanggalannya sendiri yakni kalender Hijriah, yang bermula dar peristiwa Hijrah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Makkah ke Madinah. Bulan pertamanya adalan bulan Muharram. Sebagai Muslim harus bangga dengan identitas keislaman karena hal itu meruapak bagian dari loylitas seorang Muslim terhadap Diennya. Bangga dengan identitas selain Islam justeru menjadi sebab kehinaan. Sebagaimana dikatakan oleh Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu,Kami adalah kaum yang dimuliakan oleh Allah dengan Islam, jika kita mencari kemuliaan dengan selain Islam, Allah akan hinakan kita”.

Tasyabbuh bil Kuffar

Perayaan tahun baru masehi juga termasuk dalam kategori tasyabbuh bil kuffar (menyerupai oran g kafir) yang dilarang oleh Islam. Karena tasyabbuh dapat menjerumuskan ke dalam kekufuran. Bahkan dalam sebuah hadits disebutkan, “Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia merupakan bagian dari mereka”.

Perayaan tahun baru masehi tergolong tasyabbuh karena;

(1) dalam Islam tidak ada perayaan menyambut tahun baru. Meski ummat Islam memiliki penanggalan sendiri berupa kalender hijriah, namun tidak ada anjuran dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk merayakannya. Tidak ada pula contoh dari para khulafaur Rasyidin dan sababat lainnya yang memperingatinya.

(2) Perayaan tahun baru masehi sendiri merupakan hari raya orang kafir yang sepaket dengan natal sebagaimana dijelaskan di atas.

(3) perayaan tahun baru masehi penuh dengan hura-hura dan maksiat. Perayaan tahun baru selalu ramai dengan pesta miras, konser musik, bahkan perzinahaan. Dikabarkan melalui tribunnews.com, pemuda di kota ini memborong kondom menjelang tahun baru. Setiap tahun menjelang tahun baru penjualan kondom selalu meningkat tajam. Dan penurut pengakuan pihak apotek, kebanyakan dari pembeli kondom menjelang tahun baru tersebut adalah anak muda dan mahasiswa, wallahul musta’an.

(4) perayaan tahun baru juga selalu identik dengan meniup terompet yang meruapakan kebiasaan orang-orang Yahudi. Karena sejarah kemunculan terompet berasal dari tradisi dan budaya Yahudi.

Selain itu perayaan tahun baru juga sarat dengan perilaku tabdzir (pemborosan) dan menghambur-hamburkan uang. Biaya terbesar dalam perayaan tahun baru adalah kembang api yang dibakar secara sia-sia pada malam pergantian tahun. Pada perayaan tahun baru 2014 di Kota ini diluncurkan sekitar 5000 shoot kembang api di pantai Losari. Sebelumnya pada perayaan tahun baru 2013 pesta kembang api di lokasi yang sama menelan biaya sekitar 10 Milyard rupiah. Ini baru di kota ini. Belum di kota lain dan di daerah lain di tanah air. Sungguh ironis disaat masih banyak rakyat yang terlilit kemiskinan dan kelaparan, milyaran rupiah jutsru sengaja dibakar sia-sia hanya untuk pesta dan hura-hura menyambut dan merayakan tahun baru. Wallahul musta’an. (Abu Muhammad al-Munawiy/Depok, 2/3/1436 H).

Baca juga: Perayaan Natal dan Tahun Baru Masehi (1) 

Perayaan Natal dan Tahun Baru Masehi (1)

stop ucapkan selamat natal dan tahun baru masehi. sumber: Masjidku

Perayaan Natal di Indonesia meskipun tujuannya merayakan dan menghormati nabi ‘Isa ‘alaihissalam, tetapi Natal tidak dipisakan dari soal-soal keyakinan dan peribadatan.

Syekh Muhammad At-Tamimi rahimahullah dalam Kitabnya yang berjudul Al-Ushul ats-Tsalatsah (Tiga Landasan Pokok) menyebutkan, ta’rif (pengertian) Islam adalah, “Penyerahan diri (istislam) kepada Allah dengan men-tauhid-kannya, tunduk (inqiyad) pada-Nya dengan melakukan ketaatan, serta berlepas diri dari ke-syirik-an dan pelakunya”.

Salah satu unsur penting dalam definisi Islam yang beliau sebutkan adalah, “berlepas diri (bara’ah) dari syirik dan pelaku kesyrikan”. Maknanya pengesaan (tauhid) dan ketaatan kepada Allah takkan pernah terwujud dengan sempurna kecuali dengan meninggalkan kesyirikan dan segala hal yang berkaitan dengannya. Dalam bab Aqidah hal ini dikenal dengan konsep al-Wala wal Baro’ (Loyal dan Cinta pada Islam serta berlepas diri dari lawannya).

Diantara bentuk wala’ kepada Islam dan baro dari syririk adalah tidak terlibat dalam perayaan hari raya orang-orang musyrik. Dalam risalah Al-Wala wal Baro’, Syekh Sholeh al-Fauzan hafidzahullah menyebutkan bahwa diantara bentuk baro’ tehadap orang kafir dan musyrik adalah, “tidak meniru orang musyrik dan kafir dalam aspek yang merupakan ciri dan kebiasaan mereka, baik yang berkaitan dengan urusan dunia (seperti cara makan dan berpakaian) maupun urusan agama (seperti perayaan hari raya agamaa mereka)”.

***

Salah satu topik yang hangat didiskusikan pada hari-hari ini adalah soal keikutsertaan ummat Islam dalam perayaan Natal, baik natalan bersama, memakai atribut-atribut natal, dan ucapan selamat. Soal Natalan bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat telah memfatwakan haramnya natal bersama sejak tahun 1981. Dalam fatwa tertanggal 7 maret 1981 dan ditandatangani KH. M. Syukri Ghozali dan KH. Mas’udi tersebut mengatur tiga hal berkenaan dengan Natal, yakni;

Pertama, Perayaan Natal di Indonesia meskipun tujuannya merayakan dan menghormati nabi ‘Isa ‘alaihissalam, tetapi Natal tidak dipisakan dari soal-soal keyakinan dan peribadatan.
Kedua, Mengikuti upacara natal bersama bagi ummat Islam hukumnya haram.
Ketiga, Agar ummat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan Natal.

Fatwa tersebut dikeluarkan untuk memberi petunjuk yang jelas kepada ummat Islam tentang Natal bersama agar tidak mencampur ibadahnya dengan ibadah agama lain, tanpa mengurangi upaya menjaga kerukunan antar ummat beragama di Indonesia.

Meski tidak ada klausul larangan mengucapkan selamat natal dan memengenakan atribut natal, namun pada poin tiga secara tegas menganjurkan ummat Islam untuk tidak mengikuti kegiatan Natal. Sebab memakai atribut Natal merupakan bagian tak terpisahkan dari perayaan Natal. Demikian pula dengan ucapan selamat. Ia termasuk bagian dari persetujuan dan pembenaran terhadap keyakinan orang Kristen yang meyakini; Isa sebagai Tuhan atau anak Tuhan.  Wallahul musta’an. Bersambung  insya Allah.

(Abu Muhammad al-Munawiy/Depok, 2/3/1436 H)

Baca juga:  Perayaan Natal dan Tahun Baru Masehi (2)

Jelang Tahun Baru, Kemenkes Ingatkan Bahaya Penularan Difteri Melalui Terompet

Terompet tahun baru, hati-hati difteri

“Jelang Perayaan Tahun Baru, Kemenkes Ingatkan Bahaya Penularan Difteri Melalui Terompet”

(Jakarta-wahdahjakarta.com) Pergantian tahun sisa menghitung hari. Berbagai persiapan telah dilakukan. Diantaranya pedagan terompet yang mulai marak di pinggir-pinggir jalan. Pergantian tahun biasanya identik dengan tiup terompet. Namun sebaiknya anda hati-hati dan waspada terhadap penggunaan terompet. Sebab berpotensi tertular penyakit difteri.

Hal ini diingatkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI). Bahwa ada potensi penularan penyakit difteri melalui terompet. Sebab, penyakit difteri dapat ditularkan melalui percikan ludah, bahkan hembusan nafas.

Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Elizabeth Jane Soepradi menyebutkan adanya potensi penularan penyakit difteri melalui terompet. Sebab, penyakit difteri dapat ditularkan melalui percikan ludah, bahkan hembusan nafas.

“Terompet tentu bisa (menularkan difteri). Karena penularan difteri itu umumnya melalui percikan ludah, juga udara. Karena difteri itu menyerang selaput lendir pada hidung sampai tenggorokan,” kata Jane sebagaimana dilansir Republika.co.id, Kamis (28/12).

Untuk itu, dia mengimbau masyarakat lebih berhati-hati terhadap potensi penularan penyakit difteri tersebut. Dia juga meminta, pemerintah dan semua pihak bersikap proaktif, menyosialisasikan pencegahan difteri kepada semua masyarakat. “Terompet itu kan tiupannya keras, jadi ya masyarakat harus hati-hati. Nanti ada yang menderita difteri lalu percikan ludahnya nyemprot-nyemprot,” tegasnya.

Menurutnya saat ini mulai nampak peningkatan kesadaran masyarakat terkait penyakit difteri. Hal itu terjadi karena gencarnya sosialisasi dan imbauan Kemenkes melalui media sosial dan media mainstream. Namun sayangnya, kesadaran tersebut didominasi oleh masyarakat menengah ke atas.

Masyarakat di pedesaan atau menengah ke bawah, tingkat kesadaran dan pengetahuan tentang difteri masih sangat minim. Karena itu, dia mendorong agar semua pihak terus proaktif, dengan mengecek dan mensosialisasikan kepada masyarakat di daerah secara langsung. Dengan begitu, mereka bisa lebih berhati-hati. [Sym/Sumber: Republikaonline.com]