Khutbah Gerhana Bulan

 

Khutbah Gerhana

Khutbah Gerhana Bulan

Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah, tidak terjadi gerhana pada keduanya disebabkan kematian dan kelahiran seseorang, sungguh Allah menjadikan (gerhana) pada keduanya agar hamba-hambaNya merasa takut. (HR. Bukhari No. 1048 dan Muslim No. 911)

 

‎إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا
‎مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
‎يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
‎أَمَّا بَعْدُ : فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Kaum Muslimin rahimakumullah

Bintang yang gemerlap di langit malam.

Bulan yang cahayanya menawan .

Matahari yang terang benderang .

Semuanya hanyalah makhluk ciptaan Allah Azza wa Jalla , yang tunduk dalam kekuasaanNya , yang beredar dengan pengaturanNya ,yang takkan bergeser sedikitpun jua , kecuali dengan izin dariNya .

Allah Ta’aala berfirman :

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ

Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki”. ( QS .Al-Hajj : 18 )

Tanda – tanda alam sejatinya adalah isyarat Ilahiyah dari waktu ke waktu untuk mengembalikan eksistensi kehambaan kita kepada Allah yang tergerus oleh rutinitas kehidupan.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman , mengingatkan kita semua:

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di semua penjuru semesta dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?
( QS. Fushilat :53)

Dalam ayat yang lain Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآَيَاتٍ ِلأُولِي الْأَلْبَابِ(190)الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.(QS. Ali Imran 190-191).

Tajamnya pengamatan terhadap alam semesta yang terbingkai iman akan mengantar kepada dzikir dan kedalaman iman itu sendiri .

Bahkan menyatu pada tasbih semesta dan ketundukan alam raya kepada Allah Jalla Jalaluh .

سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Bertasbih ( mensucikan ) Allah segala apa yang di langit dan Bumi dan Dia adalah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana . ( QS. Al Hadid :1)

Terkhusus pada fenomena gerhana yang kita alami ini , maka sesungguhnya ia membawa pesan Ilahi sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam :

إن الشمس والقمر آيتان من آيات الله، لا ينكسفان لموت أحد ولا لحياته، ولكن الله تعالى يخوف بها عباده

Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah, tidak terjadi gerhana pada keduanya disebabkan kematian dan kelahiran seseorang, sungguh Allah menjadikan (gerhana) pada keduanya agar hamba-hambaNya merasa takut. (HR. Bukhari No. 1048 dan Muslim No. 911)

Peristiwa ini mengantar kita pada suatu keadaan jiwa yang sadar dengan sesungguhnya bahwa kita dengan berbagai pencapaian ilmu pengetahuan, ternyata tidak berdaya apa-apa di hadapan ke Maha Kuasaan Allah Tabaraka Wa Ta’ala .

Allahu Akbar

Bahwa kita dengan segala kemajuan teknologi ternyata hanya bagai sebutir pasir pada padang sahara alam raya ciptaanNya , atau bagai setetes air dalam lautan ilmuNya yang tiada berbatas .Subhanallah .

Kaum Muslimin – Rahimakumullah

Al Khauf atau rasa takut , sesungguhnya adalah rasa yang membuat seorang hamba dapat mengendalikan diri dalam kehidupan ini .

Dengannya manusia sadar bahwa setiap saat jika Allah menghendaki keadaan yang stabil dapat berubah menjadi prahara , langit yang terang bisa menjadi gelap gulita , bumi yang tenang bisa tiba- tiba bergoncang bahkan terbalik dan terbelah … semuanya tunduk kepada kehendak dan pengaturan Allah Rabbul Izzati .

Betapa pandir dan naifnya seorang manusia yang tiada berdaya di hadapan kekuasaan Allah jika ia ponggah ingin mengatur hamba- hamba Allah dengan aturan – aturan yang bertentangan dengan hukum dan aturan Allah yang telah diturunkannya justru untuk kebaikan dan kemaslahatan manusia dalam kehidupan ini.

‎أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ
حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin? ( QS. Al Maidah :50)

Betapa tidak tahu dirinya manusia, saat semua fasilitas hidup telah diberikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, justru kemudian ia gunakan untuk bermaksiyat dan bangga dengan dosa- dosanya .

Astaghfirullah

Dunia ini pasti berakhir , kehidupan ini pasti akan berujung pada penghabisan …

Semua kita pasti akan mencicipi yang bernama Al MAUT , kematian ….kemudian akhirnya kita akan berdiri di hadapan pengadilan Allah mempertanggung jawabkan semuanya .

Segalanya akan sirna …

Rupa yang cantik dan rupawan akan lepuh termakan usia dan akan lebur bersama tanah .

Harta yang melimpah bisa habis dan sirna dalam sesaat dan yang pasti ia tak akan setia menemani kita di alam kubur.

Jabatan , popularitas , relasi dan semua kemewahan dunia , semuanya sementara takkan ada yang kekal dan abadi .

Jika demikian halnya dan nurani kita menyadari hal ini , lalu mengapa kita mengejar semua itu tanpa henti ?!

Lalu mengapa kita dibuat berlari liar oleh obsesi- obsesi fatamorgana ini ?!

Ingatlah akan Allah , ingatlah akan nikmat ketaatan yang dijanjikan olehnya .

Allah Ta’ala berfirman :

‎‫أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الأمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ‬

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk khusyu’ (tunduk) hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik” [QS. Al-Hadiid : 16].

Ya ,,, sungguh telah tiba saatnya
hati ini ini ditundukkan ,
dielus dan dikendalikan untuk taat kepada Allah .
Dimerdekakan dari gelitik syahwat yang menyengsarakan.
Dituntun untuk berjalan dalam cahaya terang syariatNya .

Sungguh kehidupan yang tertata dengan aturan Ilahi adalah kehidupan yang indah dan bahagia .

Syariat ini diturunkan semata untuk kebaikan dan kemaslahatan manusia , bukan untuk menyulitkan dan menyengsarakan .

Alangkah indahnya pertobatan itu, saat dahi ditundukkan dalam sujud- sujud yang khusyu’ .

Alangkah indahnya saat- saat tangan menengadah dalam munajat- munajat penuh harap .

Alangkah indahnya saat tangan- tangan dermawan berbagi rezki Allah pada sesama , anda takkan bisa membahasakan bahagiamu saat senyum merekah dari mereka yang selama ini menangis kelaparan saat anda berbagi sesuap nasi pada mereka.

Alangkah indahnya persaudaraan dalam ketaatan , saat berjalan seiring dalam derap dakwah mengajak hamba- hambah Allah ke rumah- rumah Allah , seakan bercengkrama hendak masuk ke pintu- pintu Syurga .

Alangkah indahnya ketaatan , alangkah indahnya ketaqwaan , alankah indahnya hidup dalam bimbinganNya , dalam hidayahNya

Selama hayat masih dikandung badan , jangan terlambat untuk kembali kepadaNya .

Karena Dia , Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang itu telah menyiapkan kebahagian , kemenangan yang sejati di balik rukuk dan sujudmu kepadaNya .

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, ruku`lah kamu, sujudhah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan”. ( QS. Al-Hajj : 77).

أقول قولي هذا و أستغفر الله لي و لكم من كل ذنب إنه هو الغفور الرحيم

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ
.
وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ و سلم و بارك عَلَى نبينا و سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و من سار على نهجه الى يوم الدين

أَيـُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. أَمَّا بعد

Sungguh suatu keniscayaan dan keharusan untuk selalu kembali saat kaki telah terlalu jauh melangkah menjauh dari shiratil Mustaqim.

Sekarang saatnya , saat Allah mempertakuti kita dengan Bulan dan Matahari yang semua tunduk dalam kekuasaannya .

Sekarang saatnya untuk kembali , untuk memperbaharui pertaubatan kita .

Sebelum semuanya gelap dan tak ada terang lagi , sebelum mata terpejam dan tak bisa terbuka lagi .

Ya Allah yang Maha Penyayang

Sayangilah kami , rahmati kami yang penuh dosa ini

Ampuni kami yang datang dengan kesalahan yang menggunung, yang bertaburan bagai pasir di pantai

Wahai Rabb Yang Maha Pengampun

Tak sanggup kami menengadah dalam kemurkaanMu

Tak sanggup kami menanggung amarahMu

Sungguh tak sanggup kami berjalan tanpa petunjukMu

Ampuni kami Ya Allah

Runtuhkan bukit – bukit dosa kami yang tinggi menjulang , ratakan dengan ampunanMu yang tiada dapat tetolak bagi hamba yang Engkau Rahmati

Wahai Rabb yang Maha Menatap

Pandanglah kami dengan pandangan Rahmat dan kasih sayangMu

Basuh jiwa kami dengan sejuknya ayat-ayatmu

Bersihkanlah dada kami dari semua kesyirikan, kekufuran dan kefasikan

Bimbing hati kami untuk selalu takut padaMu dan berharap tiada henti akan belas kasihMu

Sayangi kami, sayangi kedua orang tua kami , anak – anak dan keturunan kami . Satukan kami di dunia dalam indahnya ketaatan dan padukan kami dalam nikmat abadi dalam SyurgaMu .

Ya Allah , bagikan kebahagiaan bagibsemya saudara kami yang teraniaya , tolonglah mereka , dan berikan kemenangan sejati atas mereka

ربنا ءاتنا في الدنيا حسنة و في الآخرة حسنة و قنا عذاب النار

‎اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
‎ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

‎رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّاتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَن لَا يَرْحَمُنَا

Asmaul Husna [8] Al-Muhaimin (Yang Maha Pemelihara)

Asmaul Husna [8]: Al-Muhaimin (Yang Maha Pemelihara)

AL Muhaimin artinya Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengawasi dan menyaksikan seluruh makhluk-Nya, berkuasa atas diri mereka dengan penuh perhatian dan kekuasaan, memberi mereka rezeki dan kehidupan.

Dengan nama ini, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengetahui seluruh perbuatan kita, baik itu yang kita tampakkan ataupun kita sembunyikan, di siang hari ataupun malam hari. Tidak ada sesuatupun dilangit dan di bumi yang tersembunyi dari penglihatan-Nya. Bahkan gerakan mata yang cepat dan lintasan niat dalam hati, dapat diketahui-Nya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

الْمُهَيْمِنُ مُؤْمِنُ ا لسَّلَامُ ا لْقُدُّوسُ ا الْمَلِكُ هُوَ لَّا إِلَٰهَ لَا ي الَّذِ اللَّهُ هُوَ

Dia Lah Allah yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selainDia, Raja Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara.” (Al Hasyr ; 23)

شُهُودًا عَلَيْكُمْ كُنَّا إِلَّا عَمَلٍ مِنْ تَعْمَلُونَ وَلَا

Dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan kami menjadi saksi atasmu diwaktu kamu melakukannya.” (Yunus:61)

Kekuasaan dan keagungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala sangat sempurna. Dengan kesempurnaan itu, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala mendengar segala suara yang disamarkan dan dibisikkan; mendengar rasa syukur dan keluh kesah; hingga akhirnya menolak bahaya dan musibah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala lah yang melimpahkan kepada makhluk-Nya nikmat-nikmat yang amat banyak.

Penghayatan kita terhadap nama ini akan membuat kita merasa malu kepada Allah Subhanahu wa ta’ala  dengan  sebenar-benarnya. Kita mearasa selalu diawasi Allah Subhanahu Wa Ta’ala disetiap tempat dan waktu. Maka dengan itu, kita tidak akan berbuat maksiat. Syiar kita setiap saaat adalah “Allah Subhanahu Wa Ta’ala melihat dan mengawasiku, bagaimana mungkin aku mendurhakai-Nya.”

Kunci Surga; La Ilaha Illallah (1)

Kunci Surga; La Ilaha IllallahKita sering mendengar ungkapan ‘’Laa Ilaaha Illallaah adalah kunci surga”. Ungkapan ini memang benar, tetapi sebagian orang salah kaprah memahami masalah ini. Mereka merasa bahwa sekadar mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah sudah cukup. Mereka menganggap diri telah memegang kunci pintu surga. Padahal Laa Ilaaha Illallaah memiliki makna yang harus dipahami dan syarat yang harus dipenuhi. Kalau Kalimat Laa Ilaaha Illallaah merupakan kunci maka syarat-syarat syahadat Laa Ilaaha Illallaah adalah gigi-giginya.

Setiap kunci akan berfungsi dengan baik jika memiliki gigi. Wahab bin Munabbih pernah ditanya, “Bukankah Laa Ilahaa Illallaah kunci surga?” Ia menjawab, “Betul.” “Tetapi, tiada satu kunci pun kecuali ia memiliki gigi-gigi, jika kamu membawa kunci yang memiliki gigi-gigi, pasti engkau dapat membuka pintu, namun jika engkau membawa kunci yang tidak ada gigi-giginya pasti pintu itu tak akan terbuka.” (HR. Bukhari).

Berikut syarat-syarat kalimat agung ini:

1. Ilmu sebagai lawan dari kejahilan

Maksudnya, seorang yang mengucakan syahadat Laa Ilaaha Illallaah harus mengetahui makna kalimat tesebut. Dia harus mengetahui bahwa makna dari kalimat itu adalah bahwa tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah, dan semua yang disembah selain Allah adalah sesembahan yang bathil. Pentingnya ilmu sebagai syarat Laa Ilaaha Illallaah diterangkan dalam beberapa ayat al-Quran, di antaranya surah Muhammad ayat 19 di atas dan Surat Az Zukhruf ayat 86:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” (QS.Muhammad[47]:19).

وَلَا يَمْلِكُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِهِ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَن شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ [٤٣:٨٦

Dan orang-orang yang menyeru kepada selain Allah tidak dapat memberi syafaat (pertolongan di akhirat), kecuali orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka menyakini.”

Yang dimaksud dengan al-haq dalam ayat diatas adalah kalimat La Ilaha Illallah. Artinya, orang yang dapat memberi syafaat pada hari kiamat nanti hanyalah orang yang bersyahadat Laa Ilaaha Illallaah .

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga menjanjikan surga bagi orang yang meninggal dunia dalam keadaan mengetahui makna kalimat Laa Ilaaha Illallaah.

مَن مات وهو يعلم أنّه لا إله إلا الله دخل الجنّة

Barangsiapa yang meninggal dunia sedang ia mengetahui, Tidak ada Ilaah yang berhak disembah kecuali Allah , maka ia akan masuk surga.” (HR Muslim).

Akan tetapi sangat disayangkan sebagaian orang mengucapkan kalimat yang mulia ini tanpa mengetahui maknanya. Sehingga mereka melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kalimat ini.

2. Yakin, Lawan dari Keraguan

Maksudnya orang yang mengucapkan syahadat Laa Ilaaha Illallaah harus meyakini bahwa hanya Allah yang berhak untuk disembah dan meyakini pula bahwa semua yang disembah selain Allah adalah bathil. Adapun orang yang mengucapkan syahadat tanpa disertai oleh keyakinan maka ucapan syahadatnya tidak akan bermanfaat samasekali.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ [٤٩:١٥

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu.” (QS. Al Hujurat:15).

Dalam ayat di atas Allah mensyaratkan agar keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya dikatakan sebagai iman sejati, seseorang tidak boleh ragu dalam keimanannya. Karena ragu dalam keimanan merupakan ciri orang munafik.

Dalam haditsnya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam menjadikan keyakinan sebagai syarat masuk surga bagi orang mengucapkan syahadat Laa Ilaaha Illallaah. Abu Hurairah Radhiyallaahu ‘anhu mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Aku bersyahadat, Tidak ada Ilah (Tuhan) yang berhak disembah kecuali Allah dan aku adalah Rasulullah. Tidak lah seoang hamba menemui Allah (meninggal) dalam keadaan tidak ragu tentang dua hal ini melainkan ia kan masuk surga.” (HR. Muslim).

Dalam riwayat lain dikatakan;

لا يلقى الله بهما عبدٌ غير شاكٍّ فيهما فيحجب عن الجنة

Tidak ada seorang hamba yang bejumpa dengan Allah (meninggal dunia) tanpa meragukan dua kalimat tersebut (yakin terhadap syahadat) yang terhalang masuk surga

Dalam hadits lain yang juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallah ‘anhu, Rasulullah berkata kepada beliau:

مَنْ لَقِيتُ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْحَائِطِ يَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ مُسْتَيْقِنًا بِهِ قَلْبُهُ بَشَّرْتُهُ بِالْجَنَّةَ

Siapapun yang anda temui di balik tembok ini bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah disertai keyakinan hatinya terhadap kalimat tersebut, maka sampaikanlah kabar gembira kepadanya (bahwa ia akan masuk) surga”. (HR. Muslim)

3. Ikhlas Lawan dari Kesyirikan

Orang yang bersyahadat hendaknya mengucapkan kalimat itu dengan ikhlas semata-semata karena Allah. Kalimat yang agung ini tidak akan memberikan manfaat apa-apa kepada pengucapnya jika tidak diucapkan dengan ikhlas. Allah berfirman dalam surah Az-Zumar ayat 3:

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ

Ketahuilah, hanya kepunyaan Allahlah agama yang bersih (dari syirik)” (39:3)

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya, “Siapa orang yang paling berbahagia dengan syafa’atmu pada hari kiamat kelak?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab;

أسعد الناس بشفاعتي من قال لا إله إلا الله خالصاً من قلبه أونفسه

“Orang yang paling berbahagia dengan syafa’atku adalah orang yang mengucapkan La Ilaha Illallah dengan ikhlas dari lubuk hatinya atau jiwanya” (HR. Bukhari)

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari ‘Utban Radhiyallahu ‘anhu, Nabi bersabda;

إِنَّ اللهَ حَرّمَ عَلَى النَّارِ مَن قال لا إله إلا الله يبتغي بذلك وجه الله عزّوجلّ

Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah, ia lakukan hal itu karena mengharapkan wajah Allah ‘Azza wa jalla (Ikhlas).” (HR Bukhari).

Berbagai dalil al-Qur’an dan hadits di atas menunjukan bahwa kalimat La Ilaha Illallah tidak cukup sekadar diucapkan. Tapi harus diilmui, diyakini, dan disertai keikhlasan. –sym– (Bersambung insya Allah).

Ibunda Rasulullah ﷺ Meninggal Dunia

Ibunda Rasulullah ﷺ Meninggal Dunia (Serial Sirah Nabawiyah [6] dari kitab Al-Khullaashoh al-Bahiyyah fiy Tartiibi Ahdaats as-Sirah an-Nabawiyyah).

Serial Sirah Nabawiyah 06: Ibunda Rasulullah Meninggal Dunia 

6. Ketika Rasulullah ﷺ menginjak usia 6 tahun, Ibundanya meninggal di Abwaa’ yang terletak di antara Makkah dan Madinah, lalu kakeknya Abdul Muththolib mengambil alih mengasuhnya.

Penjelasan

Ibnu Ishaq rahimahullah mengatakan: Ketika Rasulullah ﷺ berumur 6 tahun, Aminah ibunda beliau meninggal dunia di Abwa’ yang terletak antara Makkah dan Madinah, Aminah pergi bersama Rasulullah ﷺ untuk berkunjung kepada sanak keluarga dari Bani ‘Adi bin Najjar, lalu meninggal dunia dalam perjalanan pulang menuju Makkah. (Lihat sirah Ibnu Hisyam 1:155)

Abwa’ adalah sbuah perkampungan yang masih termasuk wilayah Madinah. Jarak Abwa’ dan Juhfah sejauh 23 mil. Ada yang mngatakan; Abwa’ adalah sebuah gunung terletak di sebelah kanan bagi yang memasuki Makkah dari arah Madinah. Di situ terdapat sebuah negri yang dinisbatkan kepada gunung ini. (Lihat Mu’jamul Buldan I/79)

Imam Muslim meriwayatkan bahwa saat Rasulullah ﷺ melewati Abwa’ untuk pergi ke kota Makkah pada tahun penaklukan kota tersebut, beliau meminta izin kepada Rabbnya untuk menziarahi ibunya. Beliaupun diberikan izin. Lalu beliau menangis dan menyebabkan orang-orang di sekitar beliau juga turut menangis. Saat itu beliau bersama seribu orang yang mengenakan penutup kepala dari besi. (Lihat shahih Muslim bisyarh an-Nawawi VII/45-46)

Saat ibunya meninggal, Rasulullah ﷺ diasuh oleh Ummu Aiman. Lalu beliau dirawat oleh kakeknya Abdul Muththolib.

Ketika Rasulullah ﷺ di bawah asuhan kakeknya, Ibnu Ishaq meriwayatkan: “Dahulu ada sebuah kasur disediakan untuk Abdul Muththolib di bawah naungan Ka’bah. Dan sebagai wujud penghormatan kepadanya, tdak seorangpun dari anak-anaknya yang berani duduk di atas kasur tersebut. suatu kali, Rasulullah ﷺ duduk di atasnya maka paman-paman beliau berusaha memindahkan Rasulullah ﷺ. Namun Abdul Muththolib berkata, ‘biarkanlah cucuku’. Lalu ia mengusap punggung Rasulullah seraya berkata, ‘sungguh cucuku ini akan menjadi orang besar’.” (Lihat sirah Ibnu Hisyam I/129, riwayat ini diperselisihkan oleh Ulama). WaLlohu Ta’ala A’lam. [MU/sym].

Tabligh Akbar di Pontianak, Ustadz Zaitun Berbagi Tips Menjaga Ukhuwah

Ustadz Zaitun Tabligh Akbar di Majid Al-Hikmah Pontianak

Tabligh Akbar di Pontianak, Ustadz Zaitun Berbagi Tips Menjaga Ukhuwah

(Pontianak)- wahdahjakarta.com– Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah (DPP WI) Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin mengatakan bahwa ukhuwah merupakan modal kuat dalam perjuangan. Hal ini beliau katakan saat menyampaikan ceramah pada Tabligh Akbar “Merajut Persatuan dengan Dakwah dan Tarbiyah” di Masjid Al-Hikmah Pontianak Kalimantan Barat (Kalbar), Sabtu (27/01/2018).

“Ukhuwah adalah salah satu modal kuat dalam perjuangan, nikmat ukhuwah dan ittihad (persatuan) ini harus kita jaga karena perjuangan masih panjang”, ujarnya. “Saling berbantah-bantahan hanya akan saling melemahkan, sebagaimana dalam Al-Anfal”, imbuhnya.

Selanjutnya Wakil Sekretaris Jendral (Wasekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat ini menguraikan tips menjaga ukhuwah dan mencapai tingkatan ukhuwah tertinggi. “Cara mencapai tingkatan ukhuwah yang tertinggi, yang pertama adalah dengan memperkuat iman”, terangnya. “Namun jangan tergesa-gesa menyatakan bahwa muslim yang berselisih itu tidak beriman”, lanjutnya.

Tips yang kedua menurut Wakil Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF Ulama) ini adalah, jaga akhlaq. “Itulah hikmahnya dalam surat Al Hujurat ayat 10 dan beberapa ayat setelahnya Allah sebutkan berbagai permasalahan akhlaq yang perlu dijaga agar ukhuwah tetap kokoh”, ungkapnya.

Salah satu akhlaq buruk yang dapat merusak ukhuwah menurut Inisiator MIUMI ini adalah memberi label-label tertentu kepada sesama Muslim atau lembaga-lembaga dakwah. “Tetap bersangka baik kepada sesama lembaga dakwah atau aktivis Islam meskipun kita tidak sepakat dengan berbagai cara dakwahnya”, imbaunya. [ibw/sym]

Al-Qur’an adalah Ilmu yang Sempurna

Al-Qur’an adalah Ilmu yang Sempurna

 

Maka Al-Qur’an adalah ilmu yang sempurna. Semua ilmu ada di dalam nya. Al-Qur’an mengajarkan segalanya. (Syaikh Al-Barrak).

Generasi awal umat Islam sebenarnya adalah orang-orang yang sangat penakut. Saking penakutnya bahkan ada yang mengambil setan dan jin sebagai temannya. Lalu setelah mereka membaca Al-Qur’an. Maka mereka berubah menjadi manusia yang lebih baik. Dari yang penakut mereka menjadi pemberani. Dari titik nadir mereka menjadi pahlawan.

Generasi awal umat ini ketika belum mempelajari Al-Quran, mereka semua kotor, jorok dan sangat jauh dari kebersihan, bahkan ada yang memakan bangkai. Maka Al-Qur’an mengajarkan kepada mereka mana yang bisa dikonsumsi mana yang tidak bisa dikonsumsi. Al-Quran mengajarkan kepada mereka bagaimana bersuci dan membuat manusia menjadi lebih beradab dan hidup lebih layak.

Islam dan Al-Quran mengajarkan kebersihan. Lihatlah bagaimana Islam mengajarkan manusia mencuci wajah tangan dan kakinya dengan berwudhu. Perumpamaan sholat yang lima waktu itu diibaratkan seperti orang yang di depan rumahnya terdapat sungai yang mengalir. Apakah menurut kalian mungkin, bahwa orang yang ada sungai di depan rumah nya tersebut itu kotor? Jawabannya tidak mungkin.

Al-Qur’an mengandung segala sesuatu. Dan Al-Qur’an itu lengkap. Ketika seseorang lahir sampai dia meninggal semuanya diatur di dalam Al-Qur’an. Apa saja petunjuk tentang kehidupan dan apa yang harus dilakukan dalam hidup semua lengkap aturannya dalam Al-Qur’an. Karena itu setiap bayi yang lahir ke dunia, dikumandangkan adzan baginya, dan demikian juga halnya ketika manusia mati. Semua ada aturannya dalam Al-Qu’ran.

Al-Qur’an ada banyak ilmu-ilmu di dalamnya. Ketika Allah subhanahu wa ta’ala melarang riba, semua itu untuk kebaikan manusia sendiri. Al-Qur’an menjelaskan semuanya yang dibutuhkan manusia. Dari mulai bagaimana cara ia mendapatkan harta, bagaimana ia harus mempergunakannya, bagaimana ia harus mengelolanya dan bagaimana ia harus menginfakkannya, semua jelas diatur di dalam Al-Qur’an.

Al-Qur’an mengatur kehidupan manusia. Bahwa kehidupan di dunia ini tidaklah abadi. Dunia hanyalah jembatan untuk menuju akhirat. Dunia hanyalah tempat untuk beribadah. Dunia hanyalah tempat untuk menyembah Allah subhanhu wa ta’ala. Bukan untuk bermewah-mewahan bukan untuk bersenang-senang bukan untuk bermain-main. Sesungguhnya tempat kembali kita adalah akhirat. Di sanalah kita hidup kekal dan abadi.

Al-Qur’an mengatur segala sesuatunya tentang kehidupan manusia. Yang besar yang kecil, yang tua yang muda, laki-laki dan perempuan, bahkan anak kecil pun sudah diatur dalam Al-Qur’an. Juga mengatur bagaimana hubungan antara penguasa dan rakyat. Juga mengatur hak para Nabi dan Rasul.

Bagaimana dengan wanita? Dalam Al-Qur’an wanita juga punya hak. Dan Al-Qur’an menjelaskan tentang hak-haknya. Sebagaimana Al-Qur’an mengajarkan kepada wanita untuk berhijab. Wanita harus berpakaian yang syar’i, sehingga identitas nya dapat dikenal. Wanita dalam Al-Qur’an adalah seorang putri yang suci yang terjaga dan dilindungi. Padahal jauh sebelum adanya Al-Qur’an wanita sangat dihinakan.

Al-Qur’an telah menjadikan generasi awal dari umatnya menjadi pahlawan-pahlawan besar. Al-Qur’an menjadi an manusia dari titik nol menjadi pahlawan besar. Bahkan dalam Al-Qur’an disebutkan tentang orang-orang yang cacat, orang-orang yang buta. Dan ini tidak ada disebutkan dalam kitab-kitab samawi sebelumnya.

Al-Qur’an menyebutkan segala sesuatunya. Pertanian bahkan perindustrian. Contohnya tentang buah zaitun. Maka Al-Qur’an mengajak manusia untuk aktif dan beraktifitas. Untuk tidak malas. Dan mau bekerja keras. Al-Qur’an tidak mengajarkan manusia untuk malas.

Al-Qur’an mengandung segala sesuatu bahkan dalam bidang kesehatan. Contohnya perintah untuk makan dengan tidak berlebih-lebihan. Ini menyangkut dengan ilmu kesehatan, bahwa segala sesuatu yang berlebih2an tidak baik bagi tubuh manusia.

Al-Qur’an juga mengajarkan ilmu falak(astronomi) tentang gugusan bintang, langit dan bumi. Allah mendirikan langit tanpa penyanggah tanpa tiang. Seumpamanya orang yang membuat bangunan, tidak pernah ada yang bisa mendirikannya tanpa tiang. Ini lah bukti kebesaran Nya bukti ke Esaan-Nya.

Maka Al-Qur’an adalah ilmu yang sempurna. Semua ilmu ada di dalam nya. Al-Qur’an mengajarkan segalanya. Semoga kita semua yang ada disini bisa mempelajari dan mengambil kebaikan darinya. Amin. [Ringkasan kajian dengan tema “From zero to hero with Al-Qur’an” bersama Syeikh Prof. DR. Muhammad Sholih Al Barack Hafidhahullah (Guru Besar Tafsir Al Quran di KSA), Rabu, 17 Januari 2018].

Kemenag Kalimantan Barat Dukung Program Dakwah Wahdah Islamiyah Pontianak

Kemenag Kalimantan Barat Dukung Program Dakwah Wahdah Islamiyah Pontianak

(Pontianak)-wahdahjakarta.com– Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Wahdah Islamiyah (WI) Pontianak menggelar Musyawarah Kerja Daerah ke.2 (Mukerda II), pada hari Sabtu-Ahad (27-28/01/2018) di Aula Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Provinsi Kalimantan Barat, Jln. Sutan Syahrir, Pontianak.

Menurut Ketua DPD Wahdah Islamiyah Pontianak, Ustadz Jundi Harun, Mukerda II Ini mengagendakan evalusi program kerja periode 2017 dan pencanangan serta penetapan program kerja periode 2018.

Mukerda dibuka oleh Wakil Ketua Departemen Dakwah Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Wahdah Islamiyah, Murtadha Ibawi. Dalam sambutannya Ustadz Ibawi kegiatan musyawarah daerah ini merupakan bagian dari pengamalan Islam yang diajarkan Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Syura sangat penting dalam kegiatan dakwah dan perjuangan, Rasul paling banyak syura”, ucapnya.

Beliau juga menekankan urgensi kaderisasi, ukhuwah, dan persatuan dalam perjuangan membangun dan membina ummat. “Kaderisasi merupakan tulang punggung perjuangan”, ujarnya. “Ukhuwah juga sangat penting, kader ibarat batu bata dan ukhuwah adalah perekatnya”, jelasnya.

Oleh karena itu menurutnya Wahdah Islamiyah sangat memperhatikan dua hal ini dalam amal perjuangannya. “Dan Wahdah Islamiyah siap bersatu dan bersinergi dengan lembaga-lembaga dakwah, pemerintah, dan komponen bangsa lainnya dalam membangun ummat dan bangsa ini”, pungkasnya.

Pembukaan Mukerda II turut dihadiri para pejabat pemerintah dan tokoh Agama, diantaranya Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenag Provinsi Kal-Bar (diwakili H. Nur Sahid), Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi Kal Bar, Ketua Yayasan Mujahidin, Ketua Sinergi Positif, dan yang lainnya.

Dalam sambutannya Kenterian Agama Prov. Kalbar menyatakan dukungan terhadap program-proram dakwah dan pendidikan Wahdah Islamiyah. “Pemerintah melalui Kemenag siap bersinergi, para huffazh akan dibuatkan program-programnya di Kemenag agar lebih maksimal perannya”, ujarnya. [MI/sym

Ustadz Zaitun: Para Ulama Harus Tampil Mengarahkan Ummat Jaga NKRI

Ustadz Zaitun: Para Ulama Harus Tampil Mengarahkan Ummat Jaga NKRI

Pontianak (wahdahjakarta.com)– Para Ulama hendaknya tampil mengarahkan ummat menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Demikian pernyataan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah (DPP WI), Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin, saat menyampaikan ceramah Tabligh Akbar di Masjid Raya Mujahidin, Pontianak Kalimantan Barat, Ahad (28/01) pagi.

“Sejarah perjuangan umat dan ulama di Indonesia menunjukkan bahwa mereka telah korbankan harta dan nyawa untuk memerdekakan negeri ini. Di masa orde lama dan orde baru sebagian ulama terpaksa menjauhi pusat kekuasaan. Namun Di zaman ini umat dan ulama tidak boleh terjebak dalam hal yang sama. Para ulama harus tampil di depan untuk mengarahkan ummat dan menjaga negara ini”, jelasnya.

Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat ini menambahkan bahwa hal itu dapat diwujudkan dengan mengembalikan fungsi dan peran Masjid sebagai pusat kegiatan dakwah, sosial, dan perjuangan. Menurutnya bahwa memang Masjid tidak selayaknya dijadikan tempat kegiatan politik praktis, tapi penyadaran dan pendidikan politik (siyasah syar’iyyah) kepada ummat.

“Di masjid ada larangan jual beli dan kegiatan politik praktis, namun masjid harus tetap menjadi tempat penyadaran siyasah syar’iyyah (Politik Islam), karena siyasah syar’iyyah adalah bagian penting yang tidak bisa dipisahkan dari ajaran Islam”, terangnya.

“Negeri ini adalah karunia Allah Ta’ala yang harus kita jaga dan pertahankan. Karena itu kita harus sungguh-sungguh, jangan sampai negeri ini hancur”, ungkapnya. “Kita buktikan bahwa umat Islam adalah yang paling tinggi nasionalismenya”, pungkasnya. [ibw/sym].

Pembelahan Dada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

Serial Sirah Nabawiyah

Pembelahan Dada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
(Serial Sirah Nabawiyah [05] dari Kitab Al-Khulaashoh al-Bahiyyah fiy Ahdaats as-Siyrah an-Nabawiyah, Karya Syekh Wahid Abdus-Salam Bali)

Tatkala usia Nabi ﷺ menginjak empat tahun, dua malaikat mendatanginya dan membelah dadanya, lalu mencuci hatinya dan mengembalikannya ke tempat semula.”

Penjelasan

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab shohihnya, bahwa Rasulullah ﷺ didatangi oleh Malaikat Jibril ketika sedang bermain bersama anak-anak sebayanya, kemudian (Jibril) mengambilnya dan menelentangkannya, lalu membelah dadanya lalu mengeluarkan hatinya dan mengeluarkan satu gumpalan darinya, lantas berkata:

Ini adalah bagian Syaitan yang ada padamu“, kemudian mencucinya dalam bejana emas dengan air zam-zam lalu menata dan mengembalikannya ke tempat semula. Dan anak-anak (yang sedang bermain dengannya) berlarian mencari ibu susuannya seraya berseru: “Muhammad telah dibunuh”, maka merekapun mendatangi Rasulullah ﷺ yang mukanya terlihat pucat.”

Anas bin Malik berkata: “Saya pernah melihat bekas jahitan di dada Rasulullah ﷺ .”(Shahih Muslim no. 261).

Ibnu Sa’ad berkata; “Umur Rasulullah ﷺ saat peristiwa tersebut (pembelahan dada) adalah 4 tahun. (Lihat ath-Thobaqoot I/112).

Pembersihan spiritual dari bagian syaitan, mrupakan prolog dini kenabian dan prsiapan untuk pemeliharaan dari berbagai kejahatan dan penyembahan kepada selain Allah. Tidak boleh ada di dadanya kecuali Tauhid.

Peristiwa masa kecil Beliau ﷺ telah menunjukkan hal tersebut, beliau ﷺ tidak pernah melakukan dosa dan tidak pernah bersujud kpda berhala di saat hal trsbut menjadi sesuatu yg biasa di tengah kaumnya. (Lihat As-Sirah an-Nabawiyah Ash-Shohihah, DR. Akram Dhiya’ al-‘Umari).

Peristiwa ini (pembelahan dada) menyebabkan Rasulullah ﷺ dikembalikan kepada ibunya, Aminah binti Wahb, karena Halimah merasa khawatir terhadap keselamatan beliau ﷺ . (Musnad Ahmad 4:184-185, Sunan Ad-Darimi 1:8-9, Mustadrak al-Hakim 2:616). (MU/sym]

WaLlahu Ta’ala A’lam.

Asmaul Husna [7]: Al-Mukmin (Yang Maha Memberi Keamanan)

Asmaul Husna Al-Mukmin (Yang Maha Memberi Kemanan), Gambar:Tadabburdaily.com

Asmaul Husna [7]: Al-Mukmin (Yang Maha Memberi Keamanan)

Al- Mukmin artinya Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah Dzat yang menjadi tempat pelarian dan perlindungan orang-orang yang merasa ketakutan, sehingga kemudian mereka mendapat keamanan. Karena sesungguhnya keamanan itu hanya berasal dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dia-lah Allah Yang Tiada Tuhan(yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengkaruniakan Keamanan.’’ ( Qs. Al- Hasyr:23 )

Nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala inilah yang menjadi asal kata aman, Amanah,dan Mukmin Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfiman :

فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُمْ بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ الَّذِي اؤْتُمِنَ أَمَانَتَهُ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ

“Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (utangnya). ‘’ ( Qs. Al- Baqarah: 283).

وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ

Budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu.” (Qs. Al-Baqarah:221 )

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, bersabda: “Seorang mukmin adalah orang yang dirasakan tidak membahayakan orang lain dalam nyawa dan harta mereka.’’

Dari namanya, seorang mukmin seharusnya merasakan sebuah keamanan dalam nyawa dan harta mereka;bisa memegang amanah, jujur, dan sama sekali tidak bohong. Nama ini sangat baik untuk dijadikan sebagai Dzikir orang yang sedang merasa ketakutan, karena dengan menyebutkannya sepenuh hati Allah Subhanahu Wa Ta’ala, akan memberinya rasa aman dari segala marabahaya. [sym]

Sumber: Syarh Singkat Asmaul Husna, Musthafa Wahbah.