Pertemuan dengan Pendeta Buhaira (Serial Sirah Nabawiyah Part: 08)

Pertemuan dengan Pendeta Buhaira
(Serial Sirah Nabawiyah [08] dari Kitab Al-Khulaashoh al-Bahiyyah fiy Ahdaats as-Siyrah an-Nabawiyah, Karya Syekh Wahid Abdus-Salam Bali)

٨ – ولما بلغ – صلى الله عليه وسلم – الثانية عشرة خرج به عمه أبو طالب إلى الشام، فلما بلغوا بصرى رآه بحيرى الراهب، فتحقق فيه صفات النبوة فأمر عمه برده، فرجع

 

8. Saat Rasulullah ﷺ menginjak usia 12 tahun, Abu Tholib membawanya ke Syam. Ketika mereka sampai di Bushra, seorang pendeta bernama Buhaira melihatnya. Pendeta ini mendapati sifat-sifat  kenabian pada diri Rasulullah ﷺ maka ia pun meminta Abu Tholib untuk memulangkannya, maka ia pun kembali.

Pelajaran:
1. Keterangan tentang hal ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Musa al-Asy’ari dishohihkan oleh asy-Syaikh al-Albani. (Shahih Sunan Tirmidzi 3/191)

2. Buhaira dalam riwayat tersebut mnyebutkan dasar knapa ia membenarkan sifat kenabian pada diri Rasulullah ﷺ , yaitu: Waktu rombongan Rasulullah ﷺ meninggalkan Aqobah maka semua batu dan pohon bersujud kepada Rasulullah, yang mana benda ini tidak bersujud kecuali untuk seorang Nabi. Adanya tanda kenabian di bawah pundak Rasulullah ﷺ yang menyerupai buah apel. Adanya awan yang mnyertai dan menaungi Rasulullah ﷺ saat Rasulullah skalipun beralih tempat. Juga bayangan pohon yang miring melindungi beliau ketika tidur di dekatnya.

3. Buhaira meminta Abu Tholib agar membawa Rasulullah ﷺ pulang dan mengurungkan niat untuk membawanya ke Syam, ia mengkhawatirkan ancaman orang2 Romawi dan Yahudi, maka Muhammad ﷺ kembali ke Makkah brsama beberapa orang lainnya.
Di penghujung riwayat tersebut, disebutkan bahwa yang menyertai Rasulullah ﷺ pulang adalah Abu Bakar dan Bilal, namun keterangan tentang hal ini dikritik oleh para Ahli Hadits.

4. Dari kisah Buhaira ini terdapat bukti bahwa Ahlul kitab mngetahui sifat dan waktu dimana Rasulullah ﷺ akan diutus, namun bersama dengan pengetahuan itu, mereka tetap mengingkari risalah yang Rasulullah ﷺ bawa. (Lihat QS. Al-Baqarah: 89)

5. Kesaksian seorang ulama dari Ahlul kitab tentang kebenaran yang Rasulullah bawa, serta kabar tentatng permusuhan yang keras dari ahlul kitab kpada Rasulullah ﷺ bserta risalahnya. WaLlahu Ta’ala A’lam. [MU/sym].

Asmaul Husna: Al-Ghaffar (Yang Maha Pengampun)

Asmaul Husna: Al-Ghaffar (Maha Pengampun)

Al-Ghaffar artinya Allah subhanahu wa ta’ala sangat senang dalam menutupi dosa hamba-Nya, dan mengabaikan kesalahan-kesalahan hamba-Nya.
Al-Ghaffar berasal dari al-ghafru, yang berani menutupi. Nama Allah subhanahu wa ta’ala Al-Ghaffar menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menutupi dosa-dosa hamba-Nya, dan tidak menampakkannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

أَلَا هُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفَّٰرُ

Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. ” (Qs. Az-Zumar: 5)

رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا الْعَزِيزُ الْغَفَّارُ

Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (Qs. Shad: 66)

Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Pada hari kiamat, seorang mukmin akan didekatkan kepada Allah swt., kemudian dia diberitahu akan dosa-dosanya. Allah subhanahu wa ta’ala bertanya kepadanya, “Apakah engkau tahu dosa ini?” Sang mukmin menjawab, “Benar, wahai Tuhanku Aku mengetahuinya. ” Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berkata kepadanya, “Sesungguhnya Aku telah menutupinya di dunia, karena itu Aku pun akan menutupinya sekarang ini.” Maka setelah itu, sang mukmin memperoleh buku kebaikan.”

Dalam hadits Qudsi yang lain, juga disebutkan firman Allah subhanahu wa ta’ala ;
Wahai hamba-hambaKu, kalian berbuat kesalahan siang-malam, tapi Aku akan mengampuni semua dosa kalian. Maka mintalah ampunan kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni. ”

Dapat disimpulkan bahwa pelajaran yang bisa diambil dari menghayati nama Allah subhanahu wa ta’ala Al’Ghaffar ini adalah agar kita banyak beristighfar, memohon ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala. [sym].

Marak Penyerangan Ulama, Ini Arahan Ustadz Zaitun

 

Keta Umum DPP Wahdah Islamiyah Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin

Marak Penyerangan Ulama, Ini Arahan Ustadz Zaitun

Wakil Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF Ulama) ini  kemudian menasehatkan agar kaum muslimin tetap waspada, jaga diri, lingkungan jaga ustadz dan ulama. Tapi jangan juga over akting dan tetap harus proporsional.

(Makassar)-Wahjakarta.com – Menyikapi maraknya penyerangan terhadap ulama dan dai yang dilakukan oleh orang yang terindikasi gila, ustadz Zaitun menasehatkan agar kaum muslimin tidak terlalu cepat mengambil kesimpulan. Menurut ketua Umum Wahdah Islamiah tersebut kita harus berhati-hati menghadapi suatu misteri.

“Jangan mudah memvonis, menuduh apalagi ambil tindakan, kita harus bergerak, bersikap berdasarkan ilmu pengetahuan, hujjah, keyakinan, bukan sekedar dugaan. Walaupun kita jadi korban, kita tidak boleh serampangan membalas” Ungkap ustadz Zaitun saat menyampaikan ceramah tabligh akbar di masjid al-Markaz al-islami Makassar, pada Ahad (25/02/2018).

Ustadz Zaitun menceritakan bagaimana nabi Yakub ‘alaihissalam dalam menghadapi konspirasi anak-anaknya terhadap anak yang paling disayanginya nabi Yusuf ‘alaihi salam.  Meski nabi Ya’kub dengan firasat kenabiannya tahu bahwa anak-anaknya berbohong dengan laporan bahwa nabi Yusuf kecil dimakan serigala, namun beliau hanya bisa bersabar dengan “sabrun jamil” kesabaran yang baik. Karena ia memang tidak memiliki bukti saat itu. Namun bukan berarti Ya’kub pasrah, ia tetap berinisiatif untuk mengetahui kebenaran keyakinannya bahwa nabi Yusuf masih hidup.

Ustaz Zaitun yang juga Wakil Sekjen MUI Pusat  berharap ke depan persoalan ini (penyerangan dai dan ulama oleh orang gila) terang seterang-terangnya agar tidak timbul dampak yang lebih besar.

Wakil Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF Ulama) ini  kemudian menasehatkan agar kaum muslimin tetap waspada, jaga diri, lingkungan jaga ustadz dan ulama. Tapi jangan juga over akting dan tetap harus proporsional.

“Di sisi lain, umat Islam harus waspada. Tapi jangan berlebihan setiap ada orang yang nampak gila langsung ditangkap, apalagi dianiaya,” tandasnya.[ZL/sym]

Kakek Rasulullah ﷺ Meninggal Dunia (Serial Sirah Nabawiyah Part:07)

 

Serial Siran Nabawiyah [07] Kakek Rasulullah Meninggal Dunia

Kakek Rasulullah ﷺ Meninggal Dunia (Serial Sirah Nabawiyah [07] dari Kitab Al-Khulaashoh al-Bahiyyah fiy Ahdaats as-Siyrah an-Nabawiyah, Karya Syekh Wahid Abdus-Salam Bali)

٧ – ولما بلغ – صلى الله عليه وسلم – ثماني سنوات توفي جده عبد المطلب وكفله عمه أبو طالب

7 . Saat Rasulullah ﷺ berumur 8 tahun, kakeknya yang bernama Abdul Muththolib wafat. Dan pengasuhan Rasulullah ﷺ beralih ke pamannya Abu Tholib.

Pelajaran:

Abdul Muththolib merupakan pemuka Makkah. Beliau menonjol bukan karena hartanya. Akan tetapi karena ia lah yang mengurus Ka’bah dan melayani para tamu yang datang berhaji. Ia lah yang berperan sebagai juru bicara Quraisy untuk berkomunikasi dengan Abrahah ketika akan memerangi Makkah. (As-Sirah an-Nabawiyah ash-shohihah, Akram Dhiya’ al-Umari)

Abdul Muththolib juga terpandang di Makkah karena usahanya menggali dan menjaga eksisnya sumur zam-zam yang merupakan mata air terpenting di Makkah. (Sirah Ibnu Hisyam I/131-134)

Ada riwayat dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Abdul Muththolib pernah bernadzar jika Allah ﷻ memberinya 10 org anak laki2 maka ia akan mengorbankan 1 diantara mreka di depan ka’bah, tatkala Allah ﷻ memberikannya, undian jatuh pada Abdullah. Pdahal Abdullah merpkan anak yang paling dicintainya. Ia pun brkata: ‘Yaa Allah, Abdullah atau 100 ekor unta (sebagai tebusannya)?’ Kemudian ia mengundi lagi antara Abdullah dan 100 ekor unta, maka undian itu jatuh pada 100 ekor unta tersebut.” (Ath-Thabari 2:239-240).

Allah ﷻ menjaga hidup Abdullah (ayah Rasulullah ﷺ) dengan memalingkan niat Abdul Muththolib yang akan mengorbankannya, sebagai ketetapan Allah untuk kelahiran Rasulullah ﷺ

Abdul Muththolib meninggal dunia 8 tahun setelah peristiwa pasukan bergajah (tahun gajah). (Sirah Ibnu Hisyam I/129).

Abdul Muththolib berwasiat kepada paman Rasulullah ﷺ Abu Tholib untuk menjaga beliau sepeninggalnya. Dipilihnya Abu Tholib, karena ia dan Abdullah mrupakan saudara kandung, seibu dan sebapak. Ibu dari keduanya bernama Fathimah binti ‘Amr. (Sirah Ibnu Hisyam I/137). [MU/sym].

Ustadz Zaitun: Jalan Kemenangan Dimulai dengan Pengorganisasian Potensi Ummat

Ustadz Zaitun pada Tabligh Akbar Jalan Kemenangan, di Makassar Ahad (25/02/2018)

Ustadz Zaitun: Jalan Kemenangan Dimulai dengan Pengorganisasian Potensi Ummat

Makassar (wahdahjakarta.com)-Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah (DPP WI) Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin mengatakan bahwa meretas jalan kemenangan bagi ummat Islam dimulai dengan pengorganisasin berbagai potensi ummat.

“Bagi mereka yang merindukan kemenangan, harus dimulai dengan pengorganisasian yang baik”, ucapnya saat menyampaikan ceramah Tabligh Akbar “Jalan Menuju Kemenangan” yang digelar di Masjid Al-Markas Al-Islami Makassar pada Ahad (25/02/2018).

Menurut Ustadz Zaitun yang juga Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat ini, bahwa “tanpa pengorganisasian yang baik, potensi umat akan tersia-siakan”. “Potensi umat apapun bentuknya, mari kita mulai organisir dengan baik”, imbaunya.

“Di setiap masa, selalu ada pejuang-pejuang Islam, namun sayang sering tidak terorganisir dengan baik”, ucapnya. “Jalan menuju kemenangan adalah adanya cara dan strategi yang tepat”, jelasnya. Dan strategi tersebut adalah pengoganisasi yang baik.

Tabligh Akbar ini juga dirangkaian dengan pengutusan 23 dai Wahdah Islamiyah ke berbagai daerah di Indonesia. Dai-dai tersebut telah menjalani pelatihan dai’ selama satu tahun dalam program Tadribut Du’at (Sekolah Dai) Wahdah Islamiyah.

Menurut penanggung jawab Tadribut Du’at, ustadz Jahada Mangka pengutusan Dai ini sebagai pertanggungjawaban kepada ummat. “Program Tadribut Du’at kali ini telah diselesaikan dan kontribusi mereka tidak sia-sia”. ungkapnya,

Diantara daerah tujuan penugasan dai tersebut adalah; Soppeng, Toraja Utara, Parigi Moutong, Mamuju, Bolaang Mangondow, Minahasa, Siau Tagulandang, Kolaka, Pohuwato, Malinau, Palangka Raya, Mempawah, Sabang, Semarang, Cibinong, Jakarta, Lembata, Ende, Bintan, Ambon, Sorong, Jayapura, dan Tolikara. [ibw/sym].

Hadiri Mukerwil II WI Jakarta, Ini Harapan Pemerintah Kota Jakarta Timur Kepada Wahdah Islamiyah

Hadiri Mukerwil II WI Jakarta, Ini Harapan Pemerintah Kota Jakarta Timur Kepada Wahdah Islamiyah

Hadiri Mukerwil II WI Jakarta, Ini Harapan Pemerintah Kota Jakarta Timur Kepada Wahdah Islamiyah

(Jakarta) – wahdahjakarta.com – Dewan Pimpinan Wilayah Wahdah Islamiyah (DPW WI) Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta menggelar Musyawarah Kerja Wilayah Kedua (Mukerwil II), di Aula Balai Besar Pengembangan Latihan Masyarakat (BBPLM), Ciracas, Jakarta Timur pada Sabtu (24/02/2018).

Mukerwil II WI Jakarta ini dibuka secara resmi oleh Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah (DPP WI), Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin. Dalam sambutannya Ustadz Zaitun menyampaikan arahan agar DPW WI Jakarta meningkatkan kerjasama dan sinergitas dengan Pemerintah Provinsi DKI.

“Mukerwil yang kedua ini, kami harap bisa jadi momentum untuk perkenalan lebih dalam dengan pemerintah DKI Jakarta, karena Wahdah Islamiyah ini berada di wilayah Jakarta”, ujarnya.

Selain itu hadir pula perwakikan ormas Islam DKI dan Pemerintah Kota Jakarta Timur. Dalam sambutannya Camat Ciracas Drs. Musa Safrudin, MM yang mewakili Walikota Jaktim yang berhalangan hadir menyampaikan apresiasi dan harapan terhadap ormas Wahdah Islamiyah.

“Kita mengapresiasi program-program Wahdah Islamiyah”, ucapnya. ” Kita berharap Wahdah Islamiyah makin membumi dan makin dikenal masyarakat Jakarta dan Indonesia melalui program-programnya dan tokoh-tokohnya”, lanjutnya.

Menurutnya saat ini Bangsa Indonesia masih membutuhkan tokoh-tokoh yang mumpuni dan memiliki integritas sebagai pengayom dan pemersatu. “Apalagi ini menjelang tahun politik, semoga tokoh-tokoh Wahdah bisa hadir menciptakan suasana kondusif”, harapnya.

Harapan Pemkot Jaktim sejalan dengan tema Mukerwil II WI Jakarta, yakni Optimalisasi Peran Kader Wahdah Islamiyah Jakarta dalam Sinergitas Program Keummatan. Melalui Mukerwil II ini Wahdah Islamiyah DKI Jakarta akan merancang program-program kerja yang dapat disinergikan dengan berbagai komponen ummat dan bangsa.

Menurut Ketua DPW Wahdah Islamiyah Jakarta, Ustadz Ilham Jaya Abdul Rauf bahwa akan membangun dan meningkatkan sinergitas dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Hal ini juga sesuai dengan arahan Ketua Umum DPP WI agar Wahdah Jakarta meningkatkan kerjasama dan sinergitas dengan pemprov DKI.

Selain itu pada Mukerwi II ini Ustadz Ilham menyampaikan tekad dan komitmen baru Wahdah Jakarta untuk mengoptimalkan peran Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dalam dakwah level akar rumput. ” Kita akan membangun basis permanen di DPD-DPD, kita akan membangun pusat Dakwah yang komprehensif di level DPD”, pungkasnya.

Mukerwil II WI Jakarta juga dirangkaikan dengan penyerahan bantuan dan santunan Lazis Wahdah kepada anak yatim dan santri
Pesantren Tahfidzul Qur’an Al-Ihsan Kelapa Dua Depok. Santunan diserahkan Ustadz Zaitun selaku Pembina Lazis Wahdah. [sym]

Ustadz Zaitun Berfoto Dengan Santri Tahfidzul Qur'an Al Ihsan di Sela Acara Mukerwil II WI Jakarta

Ustadz Zaitun Berfoto Dengan Santri Tahfidzul Qur’an Al Ihsan di Sela Acara Mukerwil II WI Jakarta

Penyerahan Santunan Yatim Pondok Tahfidzul Qur'an Al Ihsan di acara Mukerwil II WI Jakarta

Penyerahan Santunan Yatim Pondok Tahfidzul Qur’an Al Ihsan di acara Mukerwil II WI Jakarta

Sambutan Ustadz Ilham Jaya Ketua DPW Wahdah Islamiyah Jakarta

Sambutan Ustadz Ilham Jaya Ketua DPW Wahdah Islamiyah Jakarta

Wahdah Islamiyah Jakarta Gelar Musyawarh Kerja Wilayah II

Ketua DPW WI DKI Jakarta Ustadz Ilham Jaya

Wahdah Islamiyah Jakarta Gelar Musyawarh Kerja Wilayah II

(Jakarta)-wahdahjakarta.com- Dewan Pimpinan Wilayah Wahdah Islamiyah (DPW WI) Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta menggelar Musyawarah Kerja Wilayah Kedua (Mukerwil II), di Aula Balai Besar Pengembangan Latihan Masyarakat (BPPLM), Ciracas, Jakarta Timur pada Sabtu (24/02/2018).
Tema yang diangkat pada Mukerwil II ini adalah “Optimalisasi Peran Kader Wahdah Islamiyah Jakarta dalam Sinergitas Program Keumatan”.
Menurut Ketua Panitia Mukerwil II WI Jakarta Binsar Nur Saim, tema ini menunjukan spirit dan target yang hendak dicapai. ” Fokus utama dari tema ini adalah sinergitas program keumatan”, ucapnya.

“Hal ini sangat penting karena dalam medan dakwah perlu adanya sinergitas dengan berbagai pihak baik pemerintah maupun ormas Islam”, imbuhnya. “Harapannya ke depan Wahdah Islamiyah Jakarta dapat bersinergi dengan berbagai pihak dalam program-program keumatan”, harapnya

Harapan yang  sama juga ditegaskan pula oleh Ketua DPW WI DKI Jakarta, Ustadz Ilham Jaya Abdul Rauf, Lc, MA. “Melalui Mukerwil II ini Wahdah Islamiyah Jakarta akan melanjutkan program-program strategis sekaligus bersinergi dengan berbagai pihak dalam mewujudkan cita-cita Wahdah Islamiyah”, tegasnya.

Selain itu dalam sambutannya Ustadz Ilham juga menyampaikan capaian-capaian selama masa kerja setahun. “Alhamdulillah, tidak terasa, pada hari ini, kita sedang adakan Musyawarah Kerja Wilayah yang kedua, Dewan Pimpinan Wilayah DKI Jakarta dan Depok, tidak terasa bahwa sudah satu Tahun kurang lebih, perjalanan dari kepengurusan Wahdah Islamiyah di Wilayah Jakarta ini”, terangnya.

Adapun perbedaan-perbedaan yang mungkin dapat kita sebutkan pada hari ini, situasi yang berbeda dibandingkan satu tahun yang lalu, kalau pada MUKERWIL yang pertama, DPW ini dihadiri oleh DPD Jakarta Utara, DPD Jakarta Selatan, dan DPD Jakarta Timur, maka pada pelaksanaan MUKERWIL yang kedua ini Alhamdulillah hadir juga DPD baru, yakni DPD Jakarta Pusat dan DPD Depok yang akhirnya juga, diputuskan untuk bergabung dengan Jakarta karena lebih mudah dalam prospek koordinasi.

“Pada MUKERWIL I yang lalu kita mencanangkan program pembekalan Da’i, maka pada MUKERWIL yang kedua ini, insyaa allah kurang lebih sebulan lagi, kita akan melaksanakan wisuda, Angkatan Pertama program pembekalan Da’i Dewan Pimpinan Wilayah Wahdah Islamiyah Jakarta”, ungkap Ustadz Ilham Jaya yang juga mantan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makasar.

Ustadz Zaitun pada Mukerwil II WI Jakarta

Mukerwil II Wahdah Islamiyah Jakarta dihadiri pengurus DPW WI Jakarta dan DPD WI sejakarta. Selain itu hadir pula Ketua Umum DPP WI Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin. Hadir pula unsur pemerintah dan perwakilan ormas Islam.

Dalam sambutannya Ustadz Zaitun menyatakan tekad Wahdah Islamiyah untuk terus meluaskan jangkauan jaringan dakwah Wahdah Islamiyah ke seluruh penjuru tanah air. Saat ini Wahdah telah memiliki 150 DPD dan 10 DPW seluruh Indonesia. “Tahun 2018 ini Wahdah Islamiyah menargetkan DPW seluruh Indonesia”, pungkasnya. [sym].

Gelar Muktamar II, LIDMI Bertekad Jadi “Harapan Untuk Negeri”

Muktamar II LIDMI

Muktamar II LIDMI

Gelar Muktamar II, LIDMI Bertekad Jadi “Harapan Untuk Negeri”

(Makassar)-wahdahjakarta.com– Siap dan bertekad menjadi harapan untuk negeri, para pemuda dan mahasiswa yang terhimpun dalam Lingkar Dakwah Mahasiswa Indonesia (LIDMI) kembali berkumpul di kota Makassar untuk ke dua kalinya menggelar rangkaian kegiatan puncak Muktamar II LIDMI, bertempat di Baruga Andi Pangerang Pettarani Universitas Hasanuddin, pada Sabtu (24/02/2018).

Dalam sambutannya, Ketua Umum LIDMI Andi Muh. Akhyar menyampaikan, tujuan utama hadirnya LIDMI adalah menyatukan dua kutub ekstrim mahasiswa yakni terlalu patuh akademik namun buta terhadap permasalahan bangsa.

“Kutub ekstrim yang lain yakni menjadi aktivis kampus, namun berakhlak buruk, maka LIDMI hadir untuk melahirkan mahasiswa yang baik intelektualnya dan juga baik akhlaknya,” pungkasnya.

Dalam sambutan sekaligus meresmikan Muktamar II LIDMI, Andi Akhyar juga menjelaskan bahwa Inti gerakan LIDMI adalah Al Qur’an, dengan fokus pembinaan dan pemberatasan buta aksara Al Qur’an. Terbukti dengan eksistensinya, setiap tahun sekitar 4000 mahasiswa yang tersebar di 50 kampus  seluruh Indonesia, siap dibina dan diajarkan Al qur’an.

Dengan resminya kegiatan rangkaian muktamar ini, LIDMI mengharapan tegakknya peradaban Islam di NKRI, namun bukan berarti anti NKRI. Karena solusi permasalahan ummat adalah kembali kepada Al Qur’an. (Rilis:az/ed:sym)

Asmaul Husna [11]: Al-Khaliq (Maha Pencipta)

Asmaul Husna [11] Al-Khaliq (Maha Pencipta)

Asmaul Husna [11] Al-Khaliq (Maha Pencipta)

Al-Khaliq (Maha Pencipta) berasal dari kata ‘Khalaqa’ yang berarti membuat sesuatu dengan bentuk baru yang belum ada sebelumnya. Seluruh makhluk Allah subhanahu wa ta’ala. selalu diciptakan-Nya tanpa melihat contoh sebelumnya, tidak ada persamaan dengan yang lain.

Allah lah subhanahu wa ta’ala yang menciptakan segala sesuatu. Mulai dari langit, bumi, manusia, jin, malaikat, dunia, akhirat, dan yang lain. Allah subhanahu wa ta’ala yang menciptakan segala sesuatu dengan ukuran yang tepat, dengan rapi, kuat dan teliti. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ

Yang artinya: “Dia-lah Allah Yang Menciptakan, yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa.” (Al-Hasyr: 24).

فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

Yang artinya: “Maka Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (Al-Mukminun: 14).

هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

 

Yang artinya: “Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia.” (Fathir: 3)

Setelah menghayati nama Al-Khaliq, maka setiap kali melihat suatu hasil karya yang baru, maka kita akan meyakini bahwa Allah subhanahu wa ta’ala lah yang menciptaknnya. Karena Allah subhanahu wa ta’ala lah yang menciptakan manusia, dan mengilhaminya untuk menciptakan karya tersebut.

Dinilai Politis Kedubes Iran Didemo Soal “Internasionalisasi” Haramain

Dinilai Politis Kedubes Iran Didemo Soal “Internasionalisasi” Haramain

Kedubes Iran Didemo Soal “Internasionalisasi” Haramain

Jakarta – Setidaknya sekitar 200 orang mendemo Kedubes Iran di Jl. HOS Cokroaminoto, Menteng, Jakarta, Senin (19/2). Hal ini dipicu mencuatnya ide internasionalisasi 2 Kota Suci (Haramain) yang ditengarai atas inisiatif Iran. Sebagaimana isu yang telah lama muncul beberapa dekade yang lalu dan diangkat kembali awal Februari ini.

Aliansi Pecinta Haramain bersama Gerakan Pemuda Ka’bah, HMI Jakarta, Forum Syuhada Indonesia (FSI), Garda 212 dan beberapa lembaga Islam lain dari Bogor dan Jakarta membanjiri Kedubes Iran.

H. Daud Poliraja, Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jakarta, mengatakan usulan Iran ini sangat mengandung nuansa politis. Jika tidak ditolak maka akan mengakibatkan kekisruhan.

“Umat akan bingung, karena jika dilakukan internasionalisasi nanti haji bisa berbeda sesuai mazhab masing-masing, termasuk Syiah” kata Daud.

Aliansi Pecinta Haramain memandang bahwa pengelolaan 2 Kota Suci selama ini telah dilakukan oleh Saudi Arabia dengan cukup baik. Gagasan internasionalisasi hanya akan menimbulkan kegaduhan dan kekisruhan baru.

“Rencana internasionalisasi haji dan urusan dua tanah suci Mekah dan Madinah bisa memicu masalah besar dan persengketaan yang berbahaya,” tegas KH Hasri Harahap dalam orasinya.

Dalam spanduk-spanduknya, Aliansi Pecinta Haramain juga menyebut bahwa ide internasionalisasi hanya akan menyulut sengketa lintas negara. (mib)