Panjang Umur dan Rezki Lancar Berkat Silaturrahim

Panjang Umur dan Lancar Rezki Berkat Silaturrahim

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وأن يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ)) أخرجه البخاري

“Siapa yang ingin dilapangkan rezkinya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya ia bersilaturahim” (Dikeluarkan oleh Bukhari).

Pelajaran Hadits:

Hadits ini mengandung anjuran untuk menyambung silaturrahim. Dalam hadits ini dikabarkan pula bahwa silaturrahim dapat mendatangkan keluasan rezki dan menambah umur bagi yang melakukannya. Hadits ini tentu saja tidak bertentangan dengan firman Allah Ta’ala dalam surah al-A’raf ayat 34. Karena pertambahan yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah kinayah (kiasan) dari berkah pada umur dengan banyaknya ketaatan serta memanfaatkan waktu dengan hal-hal yang bermanfaat di akhirat dan meninggalkan kenangan baik setelah meninggal.

Sebagian ulama berkata; penambahan yang dimaksud adalah hakiki. Hal ini bila dilihat dari sisi ilmu/pengetahuan Malaikat yang ditugaskan mencatat umur manusia semetara dalam ayat yang dimakud adalah umur manusia dalam ilmu Allah Ta’ala yang tidak dapat dimajukan dan diakhirkan.

Sementara menurut Ibnul Qayyim, makna penambahan umur dalam hadits tersebut adalah karunia berupa taufiq melakukan dzikrullah dan sibuk dengan ibadah.

Namun yang paling tepat adalah membawa makna hadits ini pada makna hakiki. Karena Allah telah mentakdirkan sebab dan penyebabnya.

Sehingga jika Dia mentakdirkan memanjangkan umur manusia, maka Dia juga menyediakan untuknya berbagai sebab maknawaiyah maupun hissiyah sebagai faktor memperpanjang umurnya, sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama yang lain. [sym].

(Sumber: Tuhfatul Kiram Syarh Bulughil Maram, Kitabul Jami’ Bab Al-Birr was-Shilah, karya Syekh. DR. Muhammad Luqman As-Salafi hafidzahullah, terbitan Darud Da’i Lin Nasyri Wat Tauzi’ Riyadh Bekerjasama dengan Pusat Studi Islam Al-Allamah Ibn Baz India)

Asal Muasal Valentine Day

Asal Muasal Valentine Day

Asal Muasal Valentine Day

(wahdahjakarta.com) – Valentine’s Day konon berasal dari kisah hidup seorang Santo (orang suci dalam Katolik) yang rela menyerahkan nyawanya demi cinta orang lain. Dia adalah Santo Valentinus. Namun sejarah Gereja sendiri tidak menemukan kata sepakat tentang siapa sesungguhnya sosok Santo Valentinus sendiri.

Bahkan banyak yang kemudian mengakui bahwa kisah mengenai Santo Valentinus sama sekali tidak memiliki dasar yang kuat dan diyakini sekedar mitos belaka. Sebab itu, Gereja telah mengeluarkan surat larangan bagi pengikutnya untuk ikut-ikutan merayakan ritual yang tidak berdasar ini.

Ada banyak cerita tentang Santo Valentinus. Sekurangnya ada 2 nama Valentine yang diyakini meninggal pada 14 Februari.

Versi Pertama, menceritakan bahwa Santo Valentinus merupakan seorang Katolik yang berani mengatakan di hadapan Kaisar Cladius II penguasa Roma bahwa Yesus adalah satu-satunya Tuhan dan menolak menyembah dewa dewi orang Romawi. Kaisar sangat marah dan memerintahkan agar Valentinus dimasukkan ke dalam penjara. Orang-orang yang bersimpati pada Valentinus diam-diam menulis surat dukungan dan meletakkannya di depan jeruji penjara. Tidak ada kisah tentang cinta dan kasih sayang.

Versi kedua, Kaisar Cladius II berkeyakinan bahwa, agar Kerajaan Romawi terus jaya membutuhkan tentara yang kuat. Super tentara ini menurut Kaisar hanya bisa dipenuhi oleh pemuda yang suci, yang tidak pernah menyentuh wanita. Maka Kaisar pun mengeluarkan surat larangan kepada semua pemuda di Roma untuk tidak menjalin hubungan dengan wanita. Bagi yang melanggar nyawa taruhannya.

Diam-diam 2 tokoh Gereja yaitu Santo Valentinus dan Santo Marius menentang keputusan Kaisar. Secara diam-diam kedua tokoh Gereja ini tetap menikahkan pasangan muda yang ingin menikah dan menjadi konselor bagi kaum muda yang mengalami kendala dalam berhubungan dengan pasangannya.

Suatu waktu Kaisar Cladius II mendengar berita tersebut dan langsung memerintahkan penangkapan atas keduanya. Mereka langsung dimasukkan ke penjara dan dijatuhi hukuman mati. Dalam versi ini, di dalam penjara Santo Valentinus jatuh hati pada anak seorang sipir, dan gadis ini juga jatuh pada Valentinus. Sang gadis sering mengunjungi Valentinus hingga kekasihnya itu dihukum mati.

Cerita ini menjadi salah satu mitos yang paling dikenang hingga pada 14 Februari 496 M, Paus Gelasius meresmikan hari itu sebagai hari untuk memperingati Santo Valentinus. Hari Valentine ini kemudian dimasukkan dalam kalender perayaan Gereja. Namun pada tahun 1969 dihapus dari kalender gereja dan dinyatakan sama sekali tidak memiliki asal-muasal yang jelas. Sebab itu Gereja melarang Valentine’s Day dirayakan oleh umatnya. Walau demikian, larangan itu tidak ampuh dan V-Day masih saja diperingati oleh banyak orang di dunia.

Nah, bagi kamu yang muslim, masih mau memperingati Valentine’s Day?
Tri Afrianti

Sumber:
The Dark Valentine, Era Muslm Digest
Edisi Edisi 5: The Dark Valentines, Ritual Setan yang Kini Dipuja

 

Kata terkait: valentine day, sejarah valentine, asal usul valentine, valentine dalam Islam

70.000 Orang yang Masuk Surga Tanpa Hisab, Siapa Saja Mereka?

70.000 Orang yang Masuk Surga Tanpa Hisab, Siapa Saja Mereka?

70.000 Orang yang Masuk Surga Tanpa Hisab, Siapa Saja Mereka?

Akan masuk surga sekelompok dari ummatku sejumlah 70.000 orang. Wajah-wajah mereka bercahaya seperti cahaya bulan.” [HR. Bukhari]

Pertanyaan:

Di dalam Shahih Bukhari disebutkan hadits bahwa 700.000 orang akan masuk surga, sedangkan generasi awal saja mungkin jumlah mereka sudah mencapi 700.000. Apakah ada tafsir lain tentang hadits ini?

Jawaban:

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah.
Barangkali maksud anda wahai penanya adalah hadits tentang 70.000 orang yang akan masuk surga tanpa hisab yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan Ahmad serta yang lainnya dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.
Kalau anda memperhatikan hadits ini, akan hilanglah -insya Allah- ketidakjelasan yang tercermin dalam pertanyaan anda.

Imam Bukhari di dalam kitab shahihnya telah meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bahwa beliau berkata:

Ditampakkan beberapa umat kepadaku, maka ada seorang nabi atau dua orang nabi yang berjalan dengan diikuti oleh antara 3-9 orang. Ada pula seorang nabi yang tidak punya pengikut seorangpun, sampai ditampakkan kepadaku sejumlah besar. Aku pun bertanya apakah ini? Apakah ini ummatku? Maka ada yang menjawab: ‘Ini adalah Musa dan kaumnya,’ lalu dikatakan, ‘Perhatikanlah ke ufuk.’ Maka tiba-tiba ada sejumlah besar manusia memenuhi ufuk kemudian dikatakan kepadaku, ‘Lihatlah ke sana dan ke sana di ufuk langit.’ Maka tiba-tiba ada sejumlah orang telah memenuhi ufuk. Ada yang berkata, ‘Inilah ummatmu, di antara mereka akan ada yang akan masuk surga tanpa hisab sejumlah 70.000 orang. Kemudian Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam masuk tanpa menjelaskan hal itu kepada para shahabat. Maka para shahabat pun membicarakan tentang 70.000 orang itu. Mereka berkata, ‘Kita orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengikuti rasul-Nya maka kitalah mereka itu atau anak-anak kita yang dilahirkan dalam Islam, sedangkan kita dilahirkan di masa jahiliyah.’ Maka sampailah hal itu kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, lalu beliau keluar dan berkata, ‘mereka adalah orang yang tidak minta diruqyah (dimanterai), tidak meramal nasib dan tidak mita di-kai, dan hanya kepada Allahlah mereka bertawakkal.” [HR. Bukhari 8270].

Maksud hadits ini menjelaskan bahwa ada satu kelompok dari ummat ini akan masuk surga tanpa dihisab, bukan berarti bahwa jumlah ahli surga dari ummat ini hanya 70.000 orang. Maka mereka yang 70.000 orang yang diterangkan dalam hadits ini adalah mereka yang memiliki kedudukan yang tinggi dari kalangan ummat ini karena mereka memiliki keistimewaan khusus yang disebutkan oleh hadits ini, yaitu mereka adalah orang-orang yang tidak minta diruqyah, tidak meramal nasib, dan tidak minta di-kai, serta hanya kepada Allah mereka bertawakkal.

 

Ada lagi hadits yang menjelaskan penyebab mereka masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab di dalam riwayat lain bagi Imam Bukhari rahimahullah, dari Abbas radhiallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

Ditampakkan kepadaku beberapa ummat. Maka ada seorang nabi yang berjalan dengan diikuti oleh satu ummat, ada pula seorang nabi yang diikuti oleh beberapa orang, ada juga nabi yang diikuti oleh sepuluh orang. Ada juga nabi yang diikuti lima orang, bahkan ada seorang nabi yang berjalan sendiri. Aku pun memperhatikan maka tiba-tiba ada sejumlah besar orang, aku berkata, ‘Wahai Jibril, apakah mereka itu ummatku? Jibril menjawab, ‘Bukan, tapi lihatlah ke ufuk!’ Maka aku pun melihat ternyata ada sejumlah besar manusia. Jibril berkata, ‘Mereka adalah ummatmu, dan mereka yang di depan, 70.000 orang tidak akan dihisab dan tidak akan diadzab.’ Aku berkata, ‘Kenapa?’ Dia menjawab, ‘Mereka tidak minta di-kai, tidak minta diruqyah, dan tidak meramal nasib serta hanya kepada Allah mereka bertawakal.’Maka berdirilah Ukasyah bin Mihshan, lalu berkata, ‘Berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikan salah satu seorang di antara mereka.’ Nabi pun berdoa, ‘Ya Allah, jadikanlah dia salah seorang di antara mereka.’Lalu ada orang lain yang berdiri dan berkata, ‘Berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikan aku salah seorang di antara mereka.’ Nabi Shalalahu ‘alaihi wasslam menjawab, ‘Kamu telah didahului oleh Ukasyah’.” [HR. Bukhari 6059]

Tentang sifat mereka pun dijelaskan di dalam hadits Sahl bin Sa’d radhiallahu ‘anhu, dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, dia berkata,

Pasti ada 70.000 orang dari ummatku atau 700.000 orang (salah seorang periwayat hadits ini ragu) akan masuk surga orang pertama di antara mereka, tidak memasukinya sebelum masuk pula orang terakhir dari mereka. Wajah-wajah mereka seperti bulan pada bulan purnama.” [HR. Bukhari]
Dan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dia berkata: aku mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda,

Akan masuk surga sekelompok dari ummatku sejumlah 70.000 orang. Wajah-wajah mereka bercahaya seperti cahaya bulan.” [HR. Bukhari]

Tentang sifat mereka diterangkan pula di dalam riwayat Muslim dalam shahihnya dari hadits Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhu,

“…, kemudian selamatlah orang-orang mukmin, selamat pulalah kelompok pertama dari mereka yang wajah-wajah mereka seperti bulan pada malam purnama sejumlah 70.000 orang. Mereka tidak dihisab kemudian orang-orang setelah seperti cahaya bintang di langit, kemudian yang seperti mereka.”

Bagi kita semua kaum muslimin ada kabar gembira dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam di dalam hadits ini dan hadits-hadits lainnya. Adapun kabar gembira dalam hadits ini karena ada riwayat yang lain dalam Musnad Imam Ahmad, Sunan Tirmidzi, dan Sunan Ibnu Majah dari hadits Abu Umamah dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, dia berkata,

Rabbku ‘Azza wa Jalla telah menjanjikan kepadaku bahwa ada dari ummatku yang akan masuk surga sebanyak 70.000 orang tanpa hisab ataupun adzab beserta setiap ribu orang ada 70.000 orang lagi dan tiga hatsiyah dari hatsiyah-hatsiyah Allah ‘Azza wa Jalla.”

Kita memohon kepada Allah Subhana wa Ta’ala agar Dia menjadikan kita termasuk golongan mereka. Bila anda hitung 70.000 orang menyertai setiap seribu orang dari yang 70.000 itu, berapakah jumlah seluruhnya bagi orang yang masuk surga tanpa hisab?!?

Dan berapa jumlah seluruh hatsiyah dari hatsiyah Allah yang Agung dan Mulia, Yang Penyayang dan Pengasih?
Adapun berita gembira yang kedua adalah bahwa jumlah ahli surga dari ummat ini dua pertiga (2/3) dari seluruh jumlah ahli surga, maka jumlah ummat Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam yang masuk surga lebih banyak dibanding jumlah seluruh ummat yang lalu. Berita gembira ini datang dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dalam sebuah hadits ketika beliau bersabada kepada para sahabatnya pada suatu hari,

“Ridhakah kalian, kalau kalian menjadi seperempat (1/4) dari penduduk surga?”Kami menjawab, “Ya.”Beliau berkata lagi, ‘Ridhakah kalian menjadi sepertiga (1/3) dari penduduk surga?”Kami menjawab, “Ya.”Beliau berkata lagi, ‘Ridhakah kalian menjadi setengah (1/2) dari penduduk surga?”Kami menjawab, “Ya.”Beliau berkata lagi, “Demi Allah yang jiwaku ada dalam tangan-Nya, sesungguhnya aku berharap kalian menjadi setengah (1/2) dari penduduk surga karena surga tidak akan dimasuki kecuali oleh jiwa yang muslim dan tidaklah jumlah kalian dibanding ahli syirik kecuali seperti jumlah bulu putih pada kulit sapi hitam atau seperti bulu hitam pada kulit sapi merah.” [HR. Bukhari 6047]

Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menyempurnakan berita gembiranya kepada kita dalam hadits shahih yang lain. Beliau berkata,

“…, Ahli surga 120 shaf, 80 shaf di antaranya dari ummatku, dan 40 shaf lagi dari ummat lainnya.” [HR. Tirmidzi 3469,lalu Tirmidzi berkata, “Ini hadits hasan.”]

Maka kita memuji Allah atas nikmatnya dan kita memohon karunia dan rahmat-Nya, dan semoga Dia menempatkan kita di surga dengan upaya dan anugrah-Nya, dan semoga Allah melimpahkan shalawat kepada Nabi kita Muhammad. [sym].
(Sumber: Syeikh Muhammad Sholih Al-Munajid//http://islamqa.info/id/4203).

Kunci Surga ; Syarat La Ilaha Illallah (2)

Kunci Surga; La Ilaha Illallah

Kunci Surga ; Syarat La Ilaha Illallah (2)

Kita sering mendengar ungkapan ‘’Laa Ilaaha Illallaah adalah kunci surga”. Tetapi sebagian orang salah kaprah memahami ungkapan dia atas. Seolah sekadar mengucapkan sudah cukup. Padahal Laa Ilaaha Illallaah belum cukup sekadar diucapkan. Karena ia memiliki makna yang harus dipahami serta rukun dan syarat yang harus dipenuhi.

Kalau Kalimat Laa Ilaaha Illallaah merupakan kunci maka syarat-syarat syahadat Laa Ilaaha Illallaah adalah gigi-giginya. Setiap kunci akan berfungsi dengan baik jika memiliki gigi. Wahab bin Munabbih pernah ditanya, “Bukankah Laa Ilahaa Illallaah kunci surga?” Ia menjawab, “Betul.Tetapi, tiada satu kunci pun kecuali ia memiliki gigi-gigi, jika kamu membawa kunci yang memiliki gigi-gigi, pasti engkau dapat membuka pintu, namun jika engkau membawa kunci yang tidak ada gigi-giginya pasti pintu itu tak akan terbuka.” (HR. Bukhari).

Melalui pembacaan (istiqra) terhadap ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabawi, para Ulama menyimpulkan bahwa syarat kalimat syahadat La Ilaha Illallah ada delapan, yakni; ilmu, yakin, ikhlas, shidiq, mahabbah, inqiyad, qabul, dan kufur (inkar) terhadap thaghut. Syekh Abdul Aziz ibn Abdillah ibn ‘Abdirrahman ibn Baz rahimahullah merangkumnya dalam dua bait singkat:

علم يقين وإخلاص وصدقك                                 مع محبّة وانقياد والقبول لها
وزد ثامنها الكفران منك                             بما سوى الإله من الأوثان قد ألها

 

Syarat ilmu, yakin, dan ikhlas telah diterangkan pada tulisan sebelumnya. Pada tulisan ini akan diuraikan syarat shidiq dan mahabbah. Semoga Allah menunjuki kita semua ke jalan yang diridhai-Nya.

4. Shidq (Jujur) Lawan dari Dusta

Yaitu mengucapkan syahadat, dengan disertai pembenaran dalam hati. Allah Ta’ala berfirman dalam surah al-‘Ankabut ayat 1-3:

الم [٢٩:١] أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ [٢٩:٢]وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ [٢٩:٣]

Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.

Manakala lisan mengucapkan, tetapi hati mendustakan, maka ia adalah munafik dan pendusta. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surah al-Baqarah ayat 8-10.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آَمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ (8) يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

Di antara manusia ada yang mengatakan: ‘Kami beriman kepa-da Allah dan Hari kemudian’, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.” (QS.Al-Baqarah: 8-10)

Oleh karena itu hendaknya seseorang mengucapkan kalimat ini dengan jujur dan tidak dusta. Sebab kejujuran merupakan syarat mendapatkan manfaat dari kalimat Laa Ilaaha Illallaah ini. Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (artinya);

ما من أحد يشهد أن لا إله إلا الله وأنّ محمداً عبده ورسوله صادقاً من قلبه إلاّ حرّمه الله على النار

Tidak lah seseorang bersyahadat Laa Ilaaha Illallaah Muhammad ‘Abduhu Wa Rasuluh jujur dari lubuk hatinya melainkan Allah haramkan dirinya atas neraka.’’ (HR Bukhari).

Diharamkan masuk neraka artinya dimasukkan ke dalam surga. Karena di akhirat kelak hanya ada dua tempat kembali. Fariyqun fil jannati wa fariyqun fis sa’ir. Karena itu dalam riwayat Imam Ahmad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من قال لا إله إلا الله صادقا من قلبه دخل الجنة

Barangsiapa yang mengucapkan la ilaha illallah dan benar-benar keluar dari lubuk hatinya, niscaya masuk surga”. (HR: Ahmad).

5. Mahabbah (Cinta), Lawan dari Benci

Seorang yang bersyahadat dituntut untuk mencintai kalimat ini. Juga mencintai seluruh amal perbuatan yang merupakan konsekuensi dari kalimat ini. Mencintai Allah dan Rasul-Nya serta mencintai setiap manusia mu’min yang telah bersyahadat mengucapkan kalimat tauhid ini. Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al Baqarah[2] ayat 165:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبّاً لِلَّه

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah”. (QS.Al-Baqarah: 165).

Sebagai konsekwensi dari syarat ini adalah mencintai membenci segala yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya, berupa perkatan dan perbuatan serta pelakunya. Yakni membenci kekufuran, kesyirikan, perbuatan dosa dan pelakunya. Hal ini merupakan bagian dari iman, bahkan merupakan ikatan iman yang paling kuat dan tanda kesempurnaan iman. (bersambung insya Allah) –sym-