Tanya Jawab Fiqh Puasa [01]: Qadha Puasa Dua Hari Sebelum Ramadhan

Qadha Puasa

Tanya Jawab Fiqh Puasa [01]: Qadha Puasa Dua Hari Sebelum Ramadhan

Pertanyaan:

Saya ingin meminta penjelasan, saya pernah membatalkan puasa pada Ramadhan yang lalu. Saya berbuka sehari dan mengqadhanya dua hari sebelum Ramadhan tahun ini. Apakah hal ini boleh atau tidak?

Jawaban:

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعـد

Bila anda berbuka (membatalkan puasa) tanpa udzur, maka anda telah melakukan satu dosa besar yang mengharuskan anda bertaubat nashuha kepada Allah dan menyesali dosa yang buruk tersebut serta berazam untuk tidak mengulanginya, karena berbuka (membatalkan puasa) pada bulan Ramadhan tanpa ‘udzur merupakan dosa besar. Syaikhul Islam Ibn Taimiyah berkata, “Siapa yang sengaja membatalkan puasanya tanpa udzur, maka hal itu termasuk dosa besar”. Bahkan Imam Adz-Dzahabi secara tegas mengatakan bahwa orang yang meninggalkan puasa Ramadhan tanpa udzur, sakit, atau sebab lain, maka ia lebih buruk dari pezina, penipu, dan peminum khamar, bahkan diragukan keislamannya.

Selain itu anda wajib meng-qadha (ganti) puasa yang batal tersebut. Jika anda batal dengan berhubungan suami istri, maka selain qadha anda juga harus membayar kaffarat. Kaffaratnya adalah memerdekakan seorang budak. Bila tidak mampu maka berpuasa dua bulan berturut-turut, dan bila tidak mampu maka memberi makan kepada 60 orang miskin.

Adapun bila anda berbuka (membatalkan puasa) karena udzur yang dibenarkan syariat seperti safar atau sakit maka aanda tidak berdosa. Tapi anda harus meng-qadha sebelum masuk Ramadhan berikutnya. Bila anda telah melakukan hal itu maka beban anda telah selesai dan tidak ada kewajiban yang lain (selan qadha). Dan tidak masalah bila meng-qadhanya dua hari sebelum Ramadhan, dan hal ini bertentangan dengan larangan Nabi mendahului Ramadhan dengan berpuasa sehari dan atau dua hari sebelumnya. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi keringanan (rukhshah); boleh berpuasa bagi yang melakukan puasa dengan alasan atau sebab yang jelas seperti yang terbiasa puasa sunnah. Karena tidak boleh berpuasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan, “Kecuali bagi yang terbiasa puasa, hendaknya ia tetap berpuasa”. (Muttafaq ‘alaihi).

Bila boleh berpuasa tathawwu’ (sunnah), maka puasa Fardhu lebih boleh lagi. Ibn Hajar berakata dalam Fathul Bari, “Makna pengecualian (dalam hadits tersebut) bahwa siapa yang memiliki kebiasaan rutin dibolehkan berpuasa kaerena ia telah terbiasa berpuasa, sehingga puasanya tidak dianggap mendahului puasa Ramadhan. Disamakan dengan hal itu puasa Qadha dan nadzar karena hukumnya wajib. Sebagian ulama berkata, “Dikecualikan (boleh puasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan) puasa qadha dan nadzar. Kebolehan hal itu berdasarka dalil-dalil qath’i tentang wajibnya menunaikan keduanya. Sehingga dalil qath’i tidak dibatalkan oleh dalil dzan”. (sym).
Sumber: http://fatwa.islamweb.net/, Fatwa No. 126807, 120929, & 1104

Persiapan Penting  Menyambut  Bulan Ramadhan (3)

sambut Ramadhan

 Persiapan Penting  Menyambut  Bulan Ramadhan (3)

Kesempatan bertemu Ramadhan merupakan karunia Allah yang sangat berharga. Ia adalah bulan bertabur fadhilah (keutamaan) dan kemuliaan. Ia juga merupakan mahathah (terminal) chek point dan menambah iman, takwa, dan bekal amal untuk akhirat. Oleh karena itu kedatanganya perlu disambut dengan persiapan yang serius. Tulisan ini akan menguraikan tujuh hal pentin yang perlu diperhatikan sebagai persiapan menyambut bulan Ramadhan.  Tujuh persiapan tersebut adalah;

(1) Do’a,
(2) Bergembira Dengan Kedatangan Ramadhan,
(3) Berazam (tekad kuat) dan niat yang tulus,
(4) Taubat,
(5) Persiapan dan Perencanaan Target,
(6) Ilmu dan Pemahaman Tentang Fiqh Ramadhan, dan
(7) Membersihkan Hati dari Sifat Jahat dan Buruk Terhadap Sesama Muslim.

Pada dua tulisan sebelumnya telah dijelaskan tentang persiapan nomor satu sampai lima. Selanjutnya pada tulisan ini akan diuraikan persiapan ilmu dan kebersihan hati dari sifat buruk kepada sesama. Semoga bermanfaat.

6. Ilmu Tentang Fiqh Ramadhan

Islam sangat mementingkan ilmu sebelum berkata dan beramal. Banyak ayat al-Qur’an dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diantaranya surah Muhammad ayat 19:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan) yang patut diibadahi kecuali Allah” …. (QS. Muhammad: 19).

Ayat tersebut memerintahkan untuk berilmu terlebih dahulu sebelum beramal. Oleh karena itu Imam Bukhari dalam kitab shahihnya menulis satu bab khusus tentang pentingnya ilmu sebelum beramal. Beliau beri judul Bab al-‘Ilmu Qabla al-Qauli wa al-‘Amal (Bab Tentang Pentingnya Ilmu Sebelum Berkata dan Berbuat). Sebelum mencantumkan hadits-hadits Rasulullah yang berkaitan dengan judul Bab, beliau menempatkan terlebih dahulu surah Muhammad ayat 19 di atas.

Ilmu dipentingkan sebelum beramal, karena syarat diterimannya amal setelah ikhlas adalah mutaba’ah. Yakni amal tersebut harus benar dan bersesuaian dengan syari’at dan sunnah. Oleh karena itu guna menyambut Ramadhan dengan ilmu, perlu kiranya menyegarkan kembali pelajaran tentang fiqh ibadah pada bulan Ramadhan. Semisal fiqh puasa, shalat tarwih, zakat, sedekah, dan iabadah-ibadah lainnya.

7. Membersihkan Hati Dari Berbagai Sifat Dendam dan Hasad Kepada Sesama Muslim

Dendam dan dengki (hasad) merupakan sifat tercela. Sementara terbebas dari sifat tercela tersebut merupakan ciri orang beriman dan bertakwa. Terbebas dari sifat pendendam merupakan tanda penghuni surga, sebagai dijelaskan oleh Allah dalam surah al-A’raf ayat 43 dan al-Hijr ayat 47:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ [٧:٤٢] وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ تَجْرِي مِن تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ ۖ …. [٧:٤٣]

dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai ….”. (QS Al-A’raf:43).

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ [١٥:٤٥]ادْخُلُوهَا بِسَلَامٍ آمِنِينَ [١٥:٤٦] وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَىٰ سُرُرٍ مُّتَقَابِلِينَ [١٥:٤٧

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir). (Dikatakan kepada mereka): “Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman” Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan”. (QS Al-Hijr: 45-47)

Demikian pula dengan sifat hasad (iri hati dan dengki). Ia merupakan sifat buruk yang sangat berbahaya. Ia dapat menghapuskan amalan kebaikan bagai api yang melahap kayu bakar.

Seorang Muslim hendaknya membersihkan dirinya dari sifat buruk ini sebelum memasuki bulan Ramadhan. Agar ia memasuki bulan mulia tersebut dengan hati yang bersih dan dada yang lapang. Agar dapat melaksanakan amaliah Ramadhan dengan hati tenang. Jangan sampai berbagai kebaikan yang dilakukan berupa shiyam, qiyam, sedekah, tilawah, dan ibadah lainnya menjadi sia-sia karena sifat dengki (hasad). Sebab hasad dapat melahap kebaikan seperti api yang menghanguskan kayu bakar.

Demikian tujuh persiapan penting menyambut bulan Ramadhan. Semoga dengan melakukan ketujuh hal tersebut Allah mengaruniakan taufiq dan kemudahan dalam mengisi Ramadhan. Sehingga kita dapat meraup keutamaan Ramadhan yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Moga-moga kita keluar sebagai alumni Ramadhan yang memperoleh gelar taqwa. Waffaqanallahu wa iyyakum lil ‘Ilmin Nafi’ wal ‘amalis Shalih. (sym).
Sumber: Materi Tarhib Ramadhan 1435 H Syekh Ali Abdurrahman Al-‘Uwaisyiz hafidzahullah disertai tambahan penjelasan dari penulis.

GNPF Ulama Bogor: Sembuhkan Pengidap LGBT dengan Pendekatan Agama

sembuhkan LGBT

GNPF Ulama Bogor: Sembuhkan Pengidap LGBT dengan Pendekatan Agama

Bogor (wahdahjakarta.com)- Jumlah pengidap homoseksual yang tercatat di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor melonjak tajam dalam kurun waktu yang singkat. Hal itu terungkap dalam pertemuan antara Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama Bogor dengan Plt Wali Kota Bogor.

Data tersebut diungkapkan oleh Pengelola Program HIV Dinkes Kota Bogor, Nia Yuniawati saat pertemuan yang berlangsung di Balai Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu (28/3).

Nia mengungkapkan, data Dinkes Kota Bogor per Desember 2017 jumlah LSL (lelaki seks dengan lelaki) atau homoseksual ada 2.495 orang. “Kategori LSL ini rata-rata mereka sudah melakukan hubungan intim. Dan dari 2.495 itu, 213 orang sudah terkena HIV,” ungkapnya.

Nia menambahkan, dari 2.495 pria homoseksual tersebut, itu tidak hanya berasal dari Bogor. “Mereka ada yang dari Depok, Sukabumi dan lainnya. Namun mereka tercatat di Dinkes Kota Bogor, rata-rata mereka terdata melalui LSM atau lembaga yang bergerak menanggani masalah ini,” ujarnya.

Sebelumnya, Nia juga pernah mengungkapkan data jumlah homoseksual per Juni 2017 sebanyak 1.330 orang. Artinya, sejak Juni hingga Desember 2017 jumlah homoseksual bertambah sebanyak 1.165 orang. Data tersebut, berdasar pria yang menjalani voluntary counseling and testing (VCT) oleh Dinkes Kota Bogor.

Kaum homoseksual, menurut Nia, terbagi menjadi dua jenis. Pertama, gay atau yang biasa disebut sebagai lelaki seks dengan lelaki (LSL), kemudian waria atau sebagai transgender. “Kalau waria yang tercatat ada 196 orang,” ungkapnya.

Plt Wali Kota Bogor Usmar Hariman mengatakan, pertemuan tersebut dilakukan dalam rangka menyerap aspirasi dari pengurus GNPF Ulama Bogor Raya dan mencari solusi bersama untuk mengatasi masalah LGBT. “Ini ada aspirasi dari ulama, mereka ingin ada sentuhan agama dalam menangani kasus ini, termasuk sinergi dengan upaya-upaya yang telah kita lakukan juga, baik dengan dinas kesehatan dan lainnya,” ujar Usmar.

Sementara itu, Ketua GNPF Ulama Bogor Raya Ustaz Iyus Khaerunnas berharap pertemuan tersebut bisa membuka komunikasi agar lebih intensif dalam mencari solusi bersama untuk mencegah dan menanggulangi kerusakan tersebut. “Dan kita juga berharap Pemerintah Kota Bogor bisa melahirkan regulasi yang tegas untuk mengatasi masalah ini,” jelasnya.

Ketua Bidang Pendidikan dan Dakwah GNPF Ulama Bogor Raya Ustaz Abdul Halim menambahkan, “Sinergi ini tentu berkaitan dengan pencegahan dan penanggulangan LGBT di Kota Bogor yang akan dilakukan dengan pendekatan secara agama,” ujarnya.

Ustaz Halim mengatakan, masalah LGBT ini erat juga dengan penyakit HIV/AIDS yang ditularkan laki-laki homoseksual. Tak ayal, pendekatan secara agama lewat penataran dan ruqyah perlu dilakukan. Agar mereka dapat benar-benar sembuh dari perilaku penyimpanan seksual. “Selama ini kan peran ulama belum aktif secara luas, sekarang dengan adanya sinergi bersama dinas-dinas terkait bisa terlibat dan turun langsung untuk menerapi dan mentatar dengan dasar-dasar agama,” jelasnya.

Oleh karena itu, dalam pertemuan yang juga dihadiri jajaran dari Dinas Sosial, Kasatpol PP dan Kabid Trantib Kota Bogor itu pihaknya berharap lahir solusi bersama untuk menanggani masalah Lesbian Gay Biseks Transgender (LGBT) ini. [ed:sym].

Hukum Memelihara Anjing  Menurut Islam

Tidak boleh memelihara anjing kecuali untuk berburu, atau menjaga tanaman, atau hewan ternak

Hukum Memelihara Anjing Menurut Islam

Belum lama ini di media sosial sempat viral foto seorang perempuan muslimah berhijab panjang memelihara Anjing. Foto yang diunggah oleh netizen berinisial (DMA) nampak wanita berjilbab tersebut memberi makanan, mengelus, dan menggendong, anjing.

Foto tersebut mengundang berbagai komentar di masyarakat karena anjing merupakan hewan mengandung najis. Selain itu ada hadits-hadits Nabi yang mengandung ancaman dan peringatan kepada orang yang memelihara Anjing tanpa maksud dan tujuan yang dibolehkan oleh syariat.

Hadits Pertama
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

مَنِ اقْتَنَى كَلْبًا إِلاَّ كَلْبَ صَيدٍ أو مَاشِيَةٍ فإِنّهُ ينَقُصُ مِنْ أًجْرِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطَانِ

Barangsiapa memelihara anjing selain anjing untuk berburu, atau menjaga binatang ternak, maka pahalanya berkurang setiap harinya sebanyak dua qiroth. (Muttafaq ‘alaih).

(Satu qiroth adalah sebesar gunung uhud).

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Riyadhus Shalihin membawakan hadits di atas dalam Kitab Al-Umur al-Manhiy ‘anha (Hal-hal yang Dilarang), Bab Haramnya memelihara Anjing kecuali untuk berburu, menjaga hewan ternak dan tanaman.

Hadits Kedua
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من أمسك كلبا فإنه ينقص كل يوم من عمله قيراط إلا كلب حرث أو ماشية

Barangsiapa memelihara anjing, maka amalan sholehnya akan berkurang setiap harinya sebesar satu qiroth (satu qiroth adalah sebesar gunung uhud), selain anjing untuk menjaga tanaman atau hewan ternak.” (Muttafaq ‘alaihi).

Ibnu Sirin dan Abu Sholeh mengatakan dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan; ”Melainkan anjing untuk menjaga hewan ternak, menjaga tanaman atau untuk berburu.

Abu Hazim mengatakan dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Selain anjing untuk berburu atau anjing untuk menjaga hewan ternak.” (HR. Bukhari).

Dalam riwayat Muslim;

مَنِ اقْتَنَى كَلْبًا ليْسَ بٍكَلْبَ صَيدٍ وَلاَ مَاشِيَةٍ وَلاَ أَرْضٍ فإِنّهُ ينَقُصُ مِنْ أًجْرِهِ قِيرَاطَانِ كُلَّ يَوْمٍ

“Barangsiapa memelihara anjing bukan untuk anjing berburu, atau menjaga binatang ternak atau lahan maka pahalanya berkurang sebanyak dua qiroth setiap harinya . (Muttafaq ‘alaih).

Hadits Ketiga

Dari Salim bin ‘Abdullah dari ayahnya –‘Abdullah-, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

أَيُّمَا أَهْلِ دَارٍ اتَّخَذُوا كَلْبًا إِلاَّ كَلْبَ مَاشِيَةٍ أَوْ كَلْبَ صَائِدٍ نَقَصَ مِنْ عَمَلِهِمْ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطَانِ

Rumah mana saja yang memelihara anjing selain anjing untuk menjaga binatang ternak atau anjing untuk berburu, maka amalan mereka berkurang setiap harinya sebanyak dua qiroth.” (HR. Muslim).

 

Kesimpulan:

Hadits-hadits di atas menunjukan bahwa;

1. Memelihara anjing dibolehkan jika untuk tujuan berburu, menjaga lahan atau kebun/tanaman dan hewan ternak.

2. Jika memelihara anjing bukan untuk maksud dan tujuan yang dibolehkan maka pahala amalan pemelihara atau penghuni rumah yang memelihara anjing tersebut berkurang satu qiroth atau dua qiroth setiap hari. Satu qiroth sama dengan sebesar dan seberat gunung uhud.

3. Haram hukumnya memelihara anjing bukan untuk tujuan yang dibolehkan dalam hadits-hadits Nabi. Menurut al-Iraqi, “sisi keharamannya jelas, karena berkurangnya pahala tidak terjadi kecuali karena maksiat yang dilakukan”.
(sym).

Persiapan Penting Menyambut Bulan Ramadhan (2)

sambut Ramadhan

 Persiapan Penting Menyambut Ramadhan (2)

Kesempatan bertemu Ramadhan merupakan karunia Allah yang sangat berharga. Ia adalah bulan bertabur fadhilah (keutamaan) dan kemuliaan. Ia juga merupakan mahathah (terminal) chek point dan menambah iman, takwa, dan bekal amal untuk akhirat. Oleh karena itu kedatanganya perlu disambut dengan persiapan yang serius. Tulisan ini akan menguraikan tujuh hal penting yang perlu diperhatikan sebagai persiapan menyambut bulan Ramadhan.

Tujuh persiapan tersebut adalah;

(1) Do’a,
(2) Bergembira Dengan Kedatangan Ramadhan,
(3) Berazam (tekad kuat) dan niat yang tulus,
(4) Taubat,
(5) Persiapan dan Perencanaan Target,
(6) Ilmu dan Pemahaman Tentang Fiqh Ramadhan, dan
(7) Membersihkan Hati dari Sifat Jahat dan Buruk Terhadap Sesama Muslim.

Pada tulisan sebelumnya telah dijelaskan tentang persiapan berupa do’a, dan bergembira dengan kedatangan Ramadhan, serta persiapan tekad yang kuat dan niat yang tulus. Selanjutnya pada tulisan ini akan dijelaskan tentang persiapan taubat dan perencanaan serta perencanaan yang rapi dan matang. Selamt membaca,

4. Taubat

Taubat dari dosa dan maksiat perlu dilakukan dalam meyambut dan menyongsong Ramadhan karena pada bulan Ramadhan nanti, kita akan melakukan berbagai ibadah dan ketaatan kepada Allah. Sementara, dosa dan maksiat dapat menghalangi seseorang dari ketaatan. Sebab, dosa dan maksiat dapat mengotori dan menutupi hati. Pemilik hati yang tertutupi oleh karat dosa dan maksiat biasanya berat melakukan ibadah dan amal shaleh.

Dahulu, para salaf sangat peka dalam soal ini. Diantara mereka ada yang mengatakan, “Saya terhalangi melakukan shalat malam karena satu dosa yang kulakukan”. Imam Hasan al-Bashri rahimahullah pernah ditanya oleh seorang pemuda yang merasa berat bangun malam, padahal ia sudah berusaha. “La ta’shiyhi fin Nahari, yuqidzuka fil Lail; Jangan kau durhakai (Allah) pada siang hari, Dia akan membangunkanmu pada malam hari”, saran Hasan al-Bashri. Berkenaan dengan kecintaan terhadap al-Qur’an, Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Lau thahurat qulubuna maa syabi’at min kalami Rabbina; Andai hati kita bersih, maka ia takkan pernah kenyang meni’mati perkataan Rabb kita (Al-Qur’an)”.

Oleh karena itu mari berusaha bersihkan hati dari noda dosa dan maksiat dengan memperbanyak taubat dan istighfar. Mari teladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bertaubat dan beristighfar lebih 70 kali dalam sehari. Taubat yang sebenar-benarnya taubat (nasuha), yakni dengan meninggalkan dan menyesali dosa pada masa lalu serta ber azam untuk tidak lagi mengulangi dosa tersebut. Karena itu mari perbaharui selalu taubat dan istighfar kita. Semoga Allah karuniakan taufiq dan kemudahan melakukan ibadah di bulan Ramadhan.

5. Persiapan dan Perencanaan Target

Persolan yang tidak kalah pentingnya untuk diperhatikan dalam menyambut dan menyongsong Ramadhan adalah persiapan dan perencanaan target. Ini sifatnya teknis tapi penting. Karena gagal menyiapkan dan merencanakan sama dengan menyiapkan dan merencanakan untuk gagal. Agenda ibadah dan amal shaleh pada bulan Ramadhan semisal puasa, shalat tarwih, tilawah al-Qur’an, sedekah, dan ibadah-ibadah lainnya perlu disiapkan dan direncanakan dengan matang. Persiapan dan perencanaan yang baik insya Allah akan sangat membantu memaksimalkan ibadah dan amal shaleh pada bulan Ramadhan yang mulia.

Diantara ibadah yang perlu disiapkan dan direncanakan misalnya target bacaan al-Qur’an. Ini penting, guna memaksimalkan kualitas dan kuantitas bacaan al-Qur’an kita di bulan yang mulia. Mengingat tilawah al-Qur’an merupakan salah satu amalan utama yang menyertai ibadah shiyam. Ramadhan disebut pula sebagai syahrul Qur’an. Karena Ramadhan merupakan bulan diturunkannya al-Qur’an.

Oleh karena itu para salaf dahulu menjadikan Ramadhan sebagai bulan memperbanyak bacaan al-Qur’an. Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu mengkhatamkan al-Qur’an setiap tiga malam sekali dalam shalat Tarwih. Artinya beliau membaca sekira 10 juz dalam setiap shalat Tarwihnya. Ada yang mengkhatamkan setiap sepuluh malam atau 3 juz sehari. Imam Syafi’i rahimahullah mengkatamkan 60 kali diluar shalat pada bulan Ramadhan. Artinya beliau khatam dua kali dalam sehari di luar shalat. Sementara Imam al-Aswad mengkhatamkan setiap dua hari sekali. Dan masih banyak kisah-kisah menakjubkan dari para salaf dalam soal antusias mereka yang tinggi dalam mengkhatamkan al-Qur’an pada bulan Ramadhan.

Nah, jika kita ingin memaksimalkan bacaan al-Qur’an pada bulan Ramadhan nanti, hendaknya ada persiapan dan perencanaan target. Misalnya, bila kita menargetkan 10 kali khatam selama Ramadhan, berarti khatam setiap 3 hari atau 10 juz dalam sehari. Bila ingin mengkhatamkan 5 kali selama Ramadhan, berarti setiap enam hari sekali khatam, atau lima juz dalam sehari. Setiap ba’da shalat fardhu membaca 1 juz. Demikian seterusnya. Yang pasti hendakhnya ada target dan perencanaan yang baik. dan masing-masing orang hendaknya menetapkan target sesuai kemampuannya, dan mengatur jadwal sedetail dan serapi mungkin.

Amalan lain yang perlu disiapkan dan direncanakan adalah target sedekah. Sebab sedekah merupakan salah satu amalan utama pada bulan Ramadhan selain puasa, tilawah al-Qur’an, dan amalan-amalan lainnya. Bahkan sedekah pada bulan Ramadhan merupakan seutama-utama sedekah. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Seafdhal-afdhal sedekah adalah pada bulan Ramadhan” (Terj. HR. Tirmidzi).

Oleh karena itu dalam hadits kita temukan bahwa kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meningkat pada bulan Ramadhan. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia paling dermawan. Dan beliau makin dermawan pada bulan Ramadhan saat didatangi Jibril untuk mudarasah al-Qur’an” (terj. HR. Bukhari).

Ada beberapa bentuk sedekah pada bulan Ramadhan, diantaranya memberi makan dan memberi suguhan buka puasa (tafthir ash-Shaim). Memberi makan dan suguhan buka puasa memiliki keutamaan yang sangat besar, sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, diantaranya hadits yang dikeluarkan oleh Imam Tirmidzi dalam Sunannya, “Siapa saja yang memberi makan saudaranya sesama mu’min yang lapar, niscaya Allah akan memberinya buah-buahan surga. . . . (terj. HR. Tirmidzi)

Sedangkan keutamaan memberi suguhan buka puasa diterangkan dalam beberapa hadits shahih, diantaranya yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dari Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu, “Barangsiapa menyediakan suguhan (makanan/minuman) berbuka bagi orang yang berpuasa, niscaya hal itu akan menjadi penghapus dosa-dosanya dan menjadi pembebas dirinya dari neraka. Ia juga akan memperoleh pahala seperti pahala orang yang berpuasa, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikitpun”.

Oleh sebab itu seorang Muslim hendaknya merencanakan dan memprogramkan sedekah pada bulan Ramadhan yang mulia ini. Perlu ada persiapan dan perencanaan target, agar dapat bersedekah secara rutin –meski sedikit- pada bulan Ramadhan. Karena amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling dawam (kontiniu) meski sedikit. Agar mendapat do’a Malaikat setiap hari. Misalnya target sedekah Rp 1000/hari, sekardus air mineral/pekan, sekilo (kg) kurma/tiga hari, dan seterusnya. [sym]

Bersambung insya Allah.

Sumber: Materi Tarhib Ramadhan 1435 H Syekh Ali Abdurrahman Al-‘Uwaisyiz hafidzahullah disertai tambahan penjelasan dari penulis.

Tabligh Akbar Palestinaku Kini

Tabligh Akbar Palestinaku Kini

Tabligh Akbar Palestinaku Kini

 

Tabligh Akbar

Palestinaku Kini

Bersama  Departemen Dakwah DPP Wahdah Islamiyah bekerjasama dengan Jam’iyyah Ihya AtTurats Al Utsmani

Menghadirkan:

  • Syaikh Nail Shalih hafidzahullah

  • Syaikh Ahmad Isa hafidzahullah

Hari/Tanggal : Kamis/ 29 Maret 2018

Waktu              : 16.00 WITA-Selesai

Tempat           : Masjid Darul Hikmah Komp. DPP Wahdah Islamiyah, Jln. Antang Raya Makassar

Terbuka Untuk Umum, Pria dan Wanita

Persiapan Penting Menyambut Bulan Ramadhan (1)

sambut Ramadhan

Persiapan Penting Menyambut Bulan Ramadhan

Kesempatan bertemu Ramadhan merupakan karunia Allah yang sangat berharga. Ia adalah bulan bertabur fadhilah (keutamaan) dan kemuliaan. Ia juga merupakan mahathah (terminal) chek point dan menambah iman, takwa, dan bekal amal untuk akhirat. Oleh karena itu kedatanganya perlu disambut dengan persiapan yang serius. Tulisan ini akan menguraikan tujuh hal pentin yang perlu diperhatikan sebagai persiapan menyambut bulan Ramadhan.

Tujuh persiapan tersebut adalah;

(1) Do’a,
(2) Bergembira Dengan Kedatangan Ramadhan,
(3) Berazam (tekad kuat) dan niat yang tulus,
(4) Taubat,
(5) Persiapan dan Perencanaan Target,
(6) Ilmu dan Pemahaman Tentang Fiqh Ramadhan, dan
(7) Membersihkan Hati dari Sifat Jahat dan Buruk Terhadap Sesama Muslim.

Uraian dari ketujuh poin tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut.

1. Do’a

Do’a merupakan ibadah yang dengannya para hamba mengkomunikasikan hajat dan harapan mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dalam kaitannya dengan menyongsong dan menyambut bulan Ramadhan, do’a yang dimaksud adalah memohon kepada Allah dikaruniai umur panjang hingga berjumpa dengan bulan Ramadhan. Para salaf dahulu memohon dipertemukan dengan bulan Ramadhan sejak enam bulan sebelumnya. “Allahumma barik lana fi Rajaba wa sya’bana, wa ballighna Ramadhan; Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan sya’ban, serta sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan”, adalah salah satu do’a yang masyhur dari para salafus Shaleh rahimahumullah.

Kita tidak menjamin apakah kita akan sampai ke bulan Ramadhan atau tidak. Kalaupun kita masih sampai ke bulan Ramadhan, tidak ada jaminan bahwa kita dapat meraih keutamaan Ramadhan. Oleh karena itu di sisa hari menjelang Ramadhan ini harapan untuk diperjumpakan dengan Ramadhan harus selalu menyertai do’a-do’a kita. Termasuk yang harus kita mohon adalah kekuatan, kemudahan, dan taufiq dari-Nya untuk mengisi Ramadhan dengan berbagai ibadah, amal shaleh, dan ketaatan kepada Allah. Sebab tidak sedikit orang yang menanti dan merindukan Ramadhan. Tapi ketika Ramadhan datang, ia tidak memperoleh manfaat sama sekali dari Ramadhan. Ia tidak dapat memanfaatkan Ramadhan dengan beribadah secara maksimal.

2. Bergembira Dengan Kedatangan Ramadhan

Diantara alamat (tanda-tanda) keimanan adalah bersukacita dan bergembira dengan datangnya musim ketaatan. Sebab Ramadhan bagai tamu agung yang akan datang dengan berbagai kebaikan dan keutamaan. Ia datang membawa rahmat, maghfirah (ampunan), pembebasan dari neraka, satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, dan beragam keutamaan lainnya. Karena itu para pecinta dan perindu kebaikan pasti senang dan bersukacita dengan kedatangannya.

Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menyampaikan kabar gembira (tabsyir) kepada para sahabat bila Ramadhan datang. Beliau menggembirakan mereka agar termotivasi memanfaatkan momen Ramadhan dan berusaha meraup keuatamaannya. Biasanya kabar gembira (busyro) yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa penjelasan keistimewaan dan keutamaan bulan Ramadhan. Sebagaimana dalam sebuah Hadits Hasan yang dikeluarkan oleh Imam Nasai dalam Sunannya, Rasulullah menyampaikan kabar gembira kepada sahabat dengan masuknya bulan Ramadhan. Beliau bersabda, “Ramadhan telah mendatangi kalian. Bulan yang penuh berkah. Allah memfardhukan kepada kalian berpuasa pada bulan ini. Pada bulan ini (pula) pintu langit dibuka, pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup, dan para setan dibelenggu. Pada bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Sesiapa yang tidak memperoleh kebaikannya, maka terhalangi dari kebaikan”. (Terj. HR. Nasai).

Sebagai hamba yang sadar dengan berbagai kelemahan, kekurangan, dan kelalian dalam ibadah selama ini, kita patut bersuka cita dengan kedatangan Ramadhan. Karena ia merupakan momen meningkatkan kualitas diri dan iman. Kesempatan meraup pahala dan ampunan sebanyak-banyaknya. Semoga dengan perasaan gembira dan sukacita atas kedatangan Ramadhan, akan lahir semangat, tekad dan azam serta kesungguhan mengisi Ramadhan dengan berbagai ibadah. Semoga muncul motivasi meraih kemuliaan Ramadhan sebagai dijelaskan Nabi dalam berbagai haditsnya, seperti pada hadits di atas.

3. Azam (Tekad Kuat) dan Niat Tulus

Sebagai dikatakan di atas, perasaan senang akan kedatangan Ramadhan dapat melahirkan tekad yang kuat (azam) serta niyat yang tulus dan jujur untuk memanfaatkan Ramadhan. Selanjutnya tekad yang kuat (azam) dan niat yang tulus tersebut akan membuat seseorang produktif dalam mengisi Ramadhan dengan berbagai ibadah dan amal shaleh.

Selain itu, azam dan niat yang jujur untuk memanfaatkan Ramadhan dengan ibadah dapat menjadi sebab datangnya taufik dan kemudahan dari Allah. Artinya ketika Allah mengetahui bahwa di dalam hati hamba-Nya terhunjam tekad yang kuat dan niat sungguh-sungguh untuk meraih keutamaan Ramadhan, maka Allah akan memberikan kemudahan kep ada hamba tersebut. Allah akan memberikan kemudahan dalam melakukan ketaatan dan berbagai ibadah pada bulan Ramadhan. Berkenaan dengan soal niat dan azam yang sungguh-sungguh ini, Allah Ta’ala berfirman, ‘’Walau shadaqullaha lakana khairan lahum”.

Barangkali kisah berikut dapat dijadikan landasan bahwa kesungguhan dan kejujuran niat seseorang sangat berperan sebagai sebab datangnya taufiq dari Allah. Diriwayakan bahwa seorang Arab Badui datang menemui Nabi dengan maksud berbaiat kepadanya. Saat itu sedang dalam persiapan menuju ke medan jihad. Di hadapan Rasulullah, orang Arab Badui ini menyampaikan bahwa, “Wahai Rasulullah, akau berbaiat kepadamu untuk ikut berperang bersamamu. Meskipun saya ditusuk anak panah dari sini (sambil menunjuk leher depannya) sampai di sini (sembari menunjuk leher belekangnya)”. Perang dimulai dan orang Badui tersebut turut berperang bersama kaum Muslimin dibawa komando Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika perang telah usai, ternyata orang Badui tersebut ditemukan telah meninggal. Lalu diangkat dan bibawa ke hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika Nabi menyingkap pakaian yang menutupi tubuhnya, dilehernya tertancap satu anak panah. Posisi anak panah tersebut menembus lehernya dari depan ke belakang. Persis sama seperti ketika ia berjanji di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selanjutnya Nabi mengafani jenazah orang Arab Badui ini dengan pakaiaannya. Bahkan Nabi mendolakan beliau dengan tambahan do’a khusus yang artinya; “Ya Allah, ini adalah hamba-Mu. Ia keluar berjihad di jalan-Mu (sabilillah), lalu ia mati syahid di jalan-Mu. Saksikanlah ya Allah, aku adalah saksi atasnya pada hari kiamat kelak.

Oleh karena itu-kembali ke soal menyambut Ramadhan-, kesunggugan dan keseriusan dalam niat sangat berpengaruh. Karena itu mari tanamkan dalam hati niat yang serius, bahwa kita akan memanfaatkan bulan Ramadhan dengan memperbanyak ibadah. Moga-moga dengan niat dan tekad yang sungguh-sungguh tersebut, Allah berkenaan memberikan taufiq dan kemudahan dalam mengisi bulan Ramadhan dengan berbagai ibadah. Bersambung insya Allah. [sym]

Sumber: Materi Tarhib Ramadhan 1435 H Syekh Ali Abdurrahman Al-‘Uwaisyiz hafidzahullah disertai tambahan penjelasan dari penulis.

LAZIS Wahdah Salurkan Bantuan Untuk Korban Banjir Bandung

LAZIS Wahdah Salurkan Bantuan Untuk Korban Banjir Bandung

LAZIS Wahdah Salurkan Bantuan Untuk Korban Banjir Bandung

(Bandung) wahdahjakarta.com– Hujan lebat yang disertai angin kencang membuat air sungai meluap di sejumlah daerah di kota Bandung, Selasa (20/3). Salah satu daerah yang terkena dampaknya adalah RT 04, RW 04, Kel. Pasirlayung Kec. Cibeunying Kidul. Puluhan rumah terendam air hingga setinggi 2 meter.

Lokasi bencana terletak sekitar 200 meter dari Markaz Wahdah Islamiyah Bandung Raya dan Pesantren Nur Madinah.

Lazis Wahdah Jabar bersama Rumah Tahfidz Anak Nur Madinah dan Wakaf Qur’an Adventure bergerak melakukan survey lokasi dan pemetaan kebutuhan warga di lokasi bencana, melalui kegiatan Program Wahdah Peduli Banjir Cibeunying Bandung.

Jum’at (23/3/2018) Lazis Wahdah Jabar dan TIM TPM Wahdah Jabar mendistribusikan beberapa kebutuhan warga korban banjir. Diantara bantuan yang disalurkan, berupa alat-alat kebersihan, air minum dan distribusi air bersih.

Distribusi diberikan melalui posko RW 04 yang diketuai oleh Bapak Riki selaku ketua RW dibantu pengurus PKK setempat.

Ketua LAZIS Wahdah Jawa Barat ustadz Ismed Daulay mengatakan, distribusi air bersih masih akan terus diberikan sampai 3 hari ke depan dengan jumlah 6000 ltr/hari. Sedangkan program melalui RTA Nur Madinah, akan disalurkan paket handuk dan selimut untuk 60 KK yang terdata di posko RW 04.

“Kami selaku pengurus Lazis Wahdah Jabar akan terus berkoordinasi dan mendistribusikan kebutuhan warga.” Kata ustadz Ismed.

Ia kemudian mengucapkan terima kasih kepada muhsinin dan donatur yang menitipkan bantuan melalui Lazis Wahdah Peduli Negeri. (Sumber: http://wahdah.or.id/ )

Gelar Mukerwil, WI Gorontalo Bertekad Wujudkan Visi 2030 Wahdah Islamiyah

Ketua DPW WI Gorontalo Ustadz Ishak Abdurl Razak bakari

Gelar Mukerwil, WI Gorontalo Bertekad Wujudkan Visi 2030 Wahdah Islamiyah

(Gorontalo) wahdahjakarta.com– Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Wahdah Islamiyah Gorontalo kembali menggelar Musyawarah Kerja Wilayah (Mukerwil), Sabtu 07 Rajab 1439 H bertepatan dengan 24 Maret 2018 M. Agenda yang digelar setiap tahun ini bertujuan mengevalusi program kerja yang telah dicanangkan setahun sebelumnya dan pemaparan program kerja setahun yang akan datang.

Dalam sambutannya, ketua DPW Wahdah Gorontalo, Ustadz Ishak Abdul Razak Bakari, Lc., M.Fil.I menegaskan kepada peserta Mukerwil akan visi 2030 Wahdah Islamiyah, yakni eksis di 80% kabupaten dan kota se-Indonesia.

“Visi 2030 adalah ruh yang harus kita tumbuhkan dalam berdakwah, harus selalu hidup, selalu di pelupuk mata kita. Dan itu tidak terlepas dari kader WI se-Provinsi Gorontalo. Kita ingin mengambil bagian untuk mewujudkan visi tersebut,” tegas ustadz yang juga ketua 2 MUI Provinsi Gorontalo ini.

Berkaitan dengan optimalisasi peran kader Wahdah Islamiyah yang menjadi tema utama Mukerwil ke-4 ini, ketua DPW berharap setiap kader Wahdah Islamiyah dapat mengambil peran secara optimal untuk mewujudkan visi 2030, “optimalisasi kader, baik secara personal setiap individu memberikan peran dalam perjuangan untuk mewujudkan visi 2030 maupun optimalisasi secara struktural dan mampu membangun secara kultural di masyarakat,” ungkapnya.

Mukerwil yang dibuka oleh asisten pembangunan pemda Provinsi Gorontalo, Drs. Sutan Rusdi, Ak., MM ini turut dihadiri wakil sekretaris jenderal DPP Wahdah Islamiyah, Ir. Sabaruddin Samsir.[wahdah.or.id]

Pejabat yang Belum Menepati Janji Tidak Pantas Mengumbar Janji

Pejabat yang Belum Menepati Janji Tidak Pantas Mengumbar Janji

(Bogor) –wahdahjakarta.com, Jika ada pejabat yang belum menepati janji-janjinya kemudian ingin membuat janji lagi untuk masa jabatan berikutnya maka itulah seburuk-buruknya pejabat.

“Dia dibayang-bayangi kerakusan, sudah tidak mampu, tidak menepati janji, kemudian ingin lagi, itu seburuk-buruknya pejabat,” ujar Prof Dr KH Didin Hafidhuddin dalam sebuah kajian di Masjid Al Hijri II, Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Kota Bogor, Sabtu (24/3/2018).

Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu mengungkapkan, sikap tidak amanah tersebut pernah digambarkan dalam salah satu peristiwa Isra Mi’raj, dimana ada orang sudah memikul beban berat tapi ingin terus ditambah bebannya. Seseorang yang sangat banyak tugasnya hingga tidak mampu dilaksanakannya, tetapi ia masih menambah lagi dengan pekerjaan yang lain.

“Itu seperti yang disebut Amilatun Nasibah di dalam surat Al Ghashiyah, orang yang kelelahan tapi tidak ada hasilnya di sisi Allah, bahkan ia terancam api neraka,” ungkap Kyai Didin.

“Jadi belum apa-apa dia sudah berpikir bagaimana jabatannya ke depan, saat dilantik jabatan pertama dia sudah berpikir ingin jabatan kedua. Nah itu yang membahayakan karena sudah dikendalikan oleh setan, akhirnya segala macam cara dia gunakan untuk memperpanjang jabatannya,” tambahnya.
Sementara bagi orang beriman, ia tidak mau bersikap seperti itu. Dia harus tuntaskan dulu amanahnya, dia akan memelihara amanah dengan sebaik-baiknya. “Dia akan maksimalkan dulu pengabdiannya, karena dia harus membuktikan diri dulu dalam melaksanakan setiap janjinya,” tandas Kyai Didin. [ed:sym].