Asmaul Husna: Al-Wahhab (Maha Pemberi Karunia)

Asmaul Husna Al-Wahhab (Maha Pemberi Karunia)

Asmaul Husna Al-Wahhab (Maha Pemberi Karunia)

Al- Wahhab artinya Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi hamba-Nya karunia yang banyak sekali. Dia memberi tanpa diminta, dan tanpa meminta balasannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لَّا يَنبَغِي لِأَحَدٍ مِّن بَعْدِي ۖ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ

Ia berkata, “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahikanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorangjua pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi” (Qs. Shad:35)

أَمْ عِندَهُمْ خَزَائِنُ رَحْمَةِ رَبِّكَ الْعَزِيزِ الْوَهَّابِ

Atau apakah mereka itu mempunyai perbendaharaan rahmat Tuhanmu Yang Maha Perkasa lagi Maha Pemberi” (Qs. Shad:9)

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ

 

“(Mereka berdoa); “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karunikanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (Ali Imran:8)

Allah subhanahu wa ta’ala lah yang telah mengkaruniakan kita kecukupan, kesehatan, kekuatan, dan kehidupan. Dia pula yang mengkaruniakan kita kebahagiaan, keberhasilan, dan jalan-jalan mendapatkan rezeki, dan keturunan baik laki-laki maupun perempuan. (Syarh Singkat Asmaul Husna, hlm. 46-47). [sym].

Ratusan Muslimah Siap Banjiri GMMI III di Gedung Convention Hall Bandung

 

BANDUNG  (wahdahjakarta.com)- Ratusan Muslimah dari berbagai daerah di Indonesia siap membanjiri gedung Convention Hall Mandalawangi kota Bandung, Ahad (18/3) mendatang.

Sederet pemateri dengan latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang berbeda akan menghiasi keseruan jalannya Seminar Kemuslimahan bertajuk “Kado Cinta Muslimah Perindu Syurga” nanti yang merupakan rangkaian dari Gebyar Mahasiswa Muslimah Indonesia (GMMI) jilid 3.

Seminar ini diselenggarakan atas kerjasama Forum Muslimah Dakwah Kampus Indonesia (FMDKI) dan Ikatan Keluarga Mahasiswa Muslim Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung.

Menurut Fitria Ningsih selaku Ketua Panitia Gebyar Mahasiswa Muslimah Indonesia (GMMI) jilid 3, kegiatan ini diperuntukkan bagi para muslimah yang ingin menumbuhkan nilai-nilai Islam di kehidupannya, di tengah problematika yang terjadi di kalangan muslimah.

Selain itu, lanjutnya, seminar ini hadir sebagai solusi bagi seluruh muslimah yang ingin berbenah diri dan peduli atas segala macam problematika yang terjadi di negeri ini.

”Insya Allah, seminar kita akan dihadiri oleh beberapa pemateri Nasional, salah satunya adalah mbak Peggy Melati Sukma, seorang inspirator hijrah dan penulis buku yang sangat dikenal oleh muslimah Indonesia. Di ujung acara kami juga akan mengadakan penggalangan donasi Alquran dan hijab untuk para muslimah yang membutuhkan,” ujarnya.

Fitria menembahkan, hadirnya ratusan muslimah dalam kegiatan ini sebagai bukti bahwa FMDKI adalah lembaga yang mampu merangkul semua kampus di Indonesia dalam bingkai ukhuwah Islamiyah.

Sebagaimana diketahui, FMDKI sejauh ini telah memiliki jaringan daerah lebih dari 30 cabang di seluruh Indonesia yang tersebar di pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Salah satu fokus kerja lembaga ini adalah pembinaan Alquran mahasiswi di kampus-kampus serta pembinaan lainnya yang bergerak dalam wilayah kemuslimahan. []

Ustadz Zaitun: Kejayaan Islam Lahir dari Persatuan Umat

 


BEKASI (wahdahjakarta.com), Ketua Umum Wahdah Islamiyah (WI) Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin (UZR) mengatakan, kejayaan Islam akan berdampak positif bagi Indonesia, seperti terekam dalam perjalanan sejarah umat Islam di dunia.”Bila Islam jaya bangsa Indonesia juga akan jaya, seluruh anak negeri akan merasakan rahmat Islam,” katanya saat berbicara pada Tabligh Akbar bertema ‘Persatuan Umat untuk Kejayaan Islam’ di Islamic Center, Bekasi, Ahad (11/3/2018).

Oleh karena itu, lanjut Ustadz Zaitun, umat Islam harus gencar berdakwah dan mensosialisasikan tentang perlunya umat memiliki cita-cita kejayaan Islam. Apalagi, menjelang pemilihan umum dan daerah, umat perlu paham arah politik Islam, sebagai salah satu pintu kejayaan Islam. “Saat ini adalah momen penting, karena tahun politik. Politik itu penting, kita Sekian tahun dibodoh-bodohi bahwa politik itu kotor,”ujarnya.

Wakil Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesian (MIUMI) ini menjelaskan bahwa akibat paradigma kotor, umat Islam banyak menjauh dari kekuasaan, sehingga kekuasaan banyak direbut oleh kalangan sekuler dan di luar Islam. “Politik tidak boleh ditinggalkan oleh umat Islam, agar umat Islam tidak dirampas haknya,” tuturnya.

UZR mengakui politik memang ada yang kotor, sebagaimana ekonomi juga ada yang kotor. Akan tetapi, politik Islam tidak hitam putih. “Kalau saat ini situasi sistemnya buruk, politik Islam itu mencoba mengurangi mudaratnya,” ucap Wakil Sekjen MUI Pusat itu.

Maka dari itu, lanjut UZR, persatuan umat menjadi sangat krusial dalam konteks Politik Islam. Perpecahan harus dihindari sedini mungkin melalui proses musyawarah, termasuk saat menentukan calon pemimpin.

Ketua Ikatan Ulama dan Da’i Asia Tenggara ini menyarankan agar di setiap daerah yang mengadakan pilkada menggelar musyawarah, supaya bisa menentukan calon yang didukung saat calon yang ada membingungkan umat.  “Di sinilah peran ulama sangat diperlukan untuk menentukan mana yang paling baik dari yang baik-baik, dan mana yang paling kecil buruknya dari yang buruk-buruk, ” pungkasnya.

Ustadz Zaitun kembali menegaskan bahwa kunci dari musyawarah adalah persatuan, ia mengimbau agar persatuan harus selalu dirawat. Salah satu kelemahan umat, kurang merawat persatuan yang telah diberikan Allah dalam Aksi Bela Islam 212.
“Saat ini belum jelas, apakah semakin kuat atau semakin lemah (Persatuan 212,red),”ujarnya.

Menurutnya salah satu yang kelemahan umat dalam mengelola persatuan adalah lemahnya komunikasi. Sementara, Al Quran mengungkapkan tentang pentingnya komunikasi. “InsyaAllah komunikasi yang kuat akan melahirkan persatuan,”tandasnya. [sym].

Perang Fijar (Serial Sirah Nabawiyah Part: 09)

Sirah Nabawiyah parta 8: Perang Fijar

Sirah Nabawiyah parta 8: Perang Fijar

 

(Serial Sirah Nabawiyah [09] dari Kitab Al-Khulaashoh al-Bahiyyah fiy Ahdaats as-Siyrah an-Nabawiyah, Karya Syekh Wahid Abdus-Salam Bali)

٩ – ولما بلغ – صلى الله عليه وسلم – الخامسة عشرة كانت حرب الفجار بين قريش وهوازن.

9. Ketika usia Rasululullah ﷺ menginjak 15 tahun terjadi perang Fijar antara Quraisy versus Hawazin.

Pelajaran:

1. Peristiwa perang Fijar terjadi antara Kinanah yang didukung oleh Quraisy berhadapan dengan Hawazin. Perang ini dinamakan Fijar karena telah melanggar kehormatan bulan Harom.

2. Tidak ada kabar yang shohih menyebutkan tentang keikutsertaan Rasulullah ﷺ pada perang ini kecuali apa yang disebutkan oleh Ibnu Hisyam dalam Sirahnya tanpa menyebutkan sanad, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: ”Ketika itu (perang Fijar) aku memanah melindungi paman-pamanku.”

Namun as-Suhaili mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ tidak ikut bersama paman-pamannya dalam perang tersebut karena perang ini melanggar kehormatan bulan harom, dan pihak-pihak yang bersengketa masih dalam kekufuran. Sementara Allah ﷻ tidak mengijinkan bagi orang beriman untuk berperang kecuali untuk meninggikan kalimat Allah. (Lihat ar-Raudhu al-Unuf 1/209).

3. Ahli sejarah berbeda pendapat tentang umur Rasulullah ﷺ saat meletusnya perang ini. Ibnu Hisyam menyebutkan bahwa saat itu umur Rasulullah 14 atau 15 tahun. Sedangkan Ibnu Ishaq mengatakan bahwa umur Rasulullah ﷺ saat itu adalah 20 tahun. Ada juga yang mengatakan bahwa umur Rasulullah ﷺ waktu itu adalah 10 tahun. Pendapat ini yang dipilih oleh asy-Syaikh Ahmad Fariid karena peristiwa Fijar terjadi 15 tahun sebelum pemugaran Ka’bah, dan pemugaran Ka’bah terjadi 15 tahun sebelum Nabi diangkat menjadi Rasul. Dan Rasulullah diangkat menjadi Rasul di usia 40 tahun, maka usia Rasulullah saat peristiwa Fijar tersebut adalah 10 tahun. (lail an-Nubuwwah Lil Baihaqi 2/58-60).

4. Pemicu terjadinya perang ini adalah seseorang dari Bani Kinanah yang bernama al-Barradh membunuh Urwah dari Bani Hawazin, padahal mereka berada di bulan harom. Karena peristiwa tersebut emosi kedua kabilah ini tersulut.

5. Panglima dari kalangan Quraisy dan Kinanah saat itu adalah Harb bin Umayyah. Pada pagi harinya kemenangan berada di pihak Hawazin, namun keadaan berbalik saat tengah hari menjadi kemenangan pihak Kinanah.

6. Akhir dari perang ini adalah kedua kubu bersepakat untuk bertemu tahun depan di Ukazh. Saat waktu yang ditentukan tersebut tiba, perjanjian damai terjadi setelah pihak Kinanah membayar denda kepada Hawazin. WaLlohu Ta’ala A’lam. [MU/sym].