Adab-Adab dalam Shalat (1)

Hukum Shalat Berjama’ah

Adab-Adab dalam Shalat (1)

Berikut ini beberapa adab dalam shalat;

  1. Menghadap kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan penuh keinginan dan harap serta kecintaan, dengan penuh perhatian perhatian dan semangat serta rindu untuk bermunajat kepada Allah Azza wa Jalla.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

Karena  itu Ingatlah kamu kepadaku niscaya aku ingat pula kepadamu dan bersyukurlah kepadaku dan janganlah kamu mengingkari nikmat Ku”.  (Qs.Al Baqarah: 152).

  1. Berpenampilan yang baik sebelum masuk shalat dengan memilih pakaian yang bersih, memakai minyak wangi dan bersiwak.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ

Wahai anak Adam pakailah pakaianmu yang indah di setiap memasuki masjid untuk shalat”, (Qs. Al-A’raf: 31).

Ayat ini menunjukan anjuran berhias dengan mengenakan pakaian terbaik ketika datang ke Masjid untuk menunaikan Shalat.

  1. Lakukanlah sesuatu yang sangat mendesak (seperti makan) sebelum shalat agar selama shalat hati anda tidak disibukkan dengan selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

لا يقوم أحدكم إلى الصلاة وهو  بحضرة الطعام ولا هو يدفعه الأخبثان الغائط والبول

Janganlah salah seorang diantara kalian melakukan salat sedang Ia di hadapan makanan dan dan jangan pula ia salat sedang ia menahan buang air besar atau buang air kecil”. (HR. Ibnu Hibban).

Berdasarkan hadits ini para Ulama memandang makruh hukumanya shalat jika makanan telah tersajikan, sebagaimana makruh pula hukumanya shalat sambil menahan hasrat buang air. Alasannya karena hal itu dapat mengganggu dan mengurangi kekhusyukan shalat. Namun jika hal itu dilakukan tidak membatalkan shalat. Artinya shalatnya tetap sah.

  1. Ketika Mendatangi shalat berjalanlah dengan tenang, tidak berlari-lari tidak terburu-buru sehingga membuat nafas tersengal-sengal atau membuat keributan yang mengganggu orang lain.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

Apabila panggilan salat telah berkumandang maka janganlah kalian mendatanginya dengan terburu-buru.   Datangilah  Shalat dengan tenang, apa yang kalian dapatkan dari shalat maka lakukanlah dan apa yang tertinggal dari shalat maka sempurnakanlah setelah imam salam” (HR.Muslim).

Ini  menunjukkan bahwa dianjurkan bagi orang pergi menuju shalat untuk tidak melakukan perbuatan yang sia-sia  dengan tangannya, berkata dengan perkataan yang buruk dan melihat sesuatu yang buruk. Dianjurkan  untuk sungguh-sungguh dalam menjauhi apa apa yang biasa dijauhi oleh orang yang sedang shalat, dan apabila ia telah sampai ke masjid dan menunggu shalat maka harus lebih serius lagi dalam menjauhi hal-hal yang telah disebutkan tadi”. (Syarah Nawawi ‘Ala Muslim). Bersambung insya Allah. [sym].

Sumber: Panduan Adab-Adab dalam Shalat Untuk Meraih Kesempurnaan Shalat, Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah, hlm. 16-19.

Indahnya Dakwah

Halaqah Tarbiyah. Foto: M.Ode Wahyu

Jika orang-orang tahu betapa indahnya dakwah di daerah yang masyarakat kurang memahami agama ini, niscaya mereka akan meninggalkan sofa rumahnya yang empuk dan beralih pada dakwah yang indah ini.

Banyak orang yang pandai menyemangati orang lain untuk berdakwah, tapi mereka sendiri tidak ingin jauh dari area nyamannya. Mereka tidak ingin jauh dari keluarga, anak istri dan lebih memilih tempat yang orang-orang sudah banyak mengenal agama. Orang-orang seperti ini jika diminta ke daerah yang tak ada keluarga mereka disana, maka beban 5 ton serasa sedang menindih pundak mereka.

Adapun orang-orang yang benar-bsnar yakin akan janji Allah, mereka akan pergi demi meninggikan kalimat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Walau awalnya memang terasa berat, mereka penuhi perintah Rabbnya:

انفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”. (QS. At-Taubah: 41)

Semoga Allah menguatkan seluruh teman-teman yang sedang berdakwah di jalan Allah di daerah manapun. Semoga Allah memudahkan seluruh urusan kalian.

Jangan merasa iri dengan orang-orang yang bertitel yang selalu tampil dipodium, karena sebagian dari mereka merasa takut untuk berjuang sepertimu.

Engkaulah manusia pilihan. Allah ‘azza wajalla berfirman:

وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ ۚ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan”. (QS. Al-Hajj: 78)

Ingat, dakwah itu adalah bagian dari jihad. Hal ini berdasarkan firman Allah ‘azza wajalla:

وَجَاهِدْهُم بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا

Dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran dengan jihad yang besar“. (QS. Al-Furqan: 52).

Jihad besar yang dimaksud dalam ayat dia atas adalah berjihad dengan Al-Qur’an, yakni mendakwahkan dan mengajarkan Al-Qur’an.

Keep istiqamah.
Abu Ukkasyah Wahyu al-Munawy

Asmaul Husna [20]:  Al-‘Alim (Maha Mengetahui)

Asmaul Husna [20]:  Al-‘Alim (Yang Maha Mengetahui)

Al-‘Alim artinya Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengetahui segala sesuatu sebelum dan sesudah sesuatu itu ada. Tidak  ada sesuatupun di bumi dan di langit yang tersembunyi dari penglihatan Allah. Segala sesuatu baik yang dekat maupun yang jauh dapat dilihatNya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman;

Katakanlah Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua Kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar dan dialah Maha Pemberi Keputusan lagi maha mengetahui”. (Qs. Saba: 26).

Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang Maha Pencipta lagi maha mengetahui”. (Qs. Al-Hijr: 86).

Maha Suci engkau tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang engkau ajarkan kepada kami sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi maha bijaksana”. (Qs.Al-Baqarah:32).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda;

Setiap hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang mengucapkan setiap pagi dan petang Dengan nama Allah yang karenanya yang karena namanya tidak ada sesuatupun yang membahayakan baik di bumi dan di langit dan Allah Maha Mengetahui mendengar dan maha mengetahui sebanyak 3 kali maka tidak ada sesuatupun yang dapat membahayakan nya”.

Kadang-kadang ada juga hambaNya yang mempunyai sifat mengetahui. Orang  seperti itu dinamakan Alim, dan dalam bentuk jamak disebut ulama. Namun  sungguh jauh perbedaan antara ilmu Allah subhanahu wa ta’ala dan ilmu hambaNya. Ilmu  seorang makhluk sangat terbatas. Sedangkan ilmu Allah subhanahu wa ta’ala melingkupi segala sesuatu dan tidak ada batasnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

Ingatlah bahwa sesungguhnya Dia Maha meliputi segala sesuatu”. (Qs. Fushilat: 54).

Letak perbedaan yang lain adalah karena ilmu manusia sangat tergantung dengan sarana, prasarana, penelitian dan lain sebagainya. Semua  itu sangat memungkinkan terjadinya perubahan pada ilmu tersebut sedangkan ilmu Allah subhanahu wa ta’ala bersifat tetap dan tidak akan berubah.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

Dan tidaklah Tuhanmu lupa”. (Qs. Maryam:64).

Kemudian  semua ilmu yang kita miliki tidak lain adalah pemberian dari Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya”. (Qs. Al-Baqarah: 255).

 “Dan juga Karena Allah telah menurunkan kitab dan hikmah kepadamu dan telah mengajarkan kepada mu apa yang belum kamu ketahui”. (Qs. an-Nisa: 113).

 Agar  manusia yang berilmu tidak merasa bangga dengan ilmunya sehingga membuatnya sombong. Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengingatkan mereka bahwa;

Dan di atas tiap-tiap Orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Maha Mengetahui”. (Qs.Yusuf:76).

Dua Kata yang Ringan di Lisan Namun Berat dalam Timbangan dan Dicintai oleh Allah Ta’ala

Dua Kata yang Ringan di Lisan Namun Berat dalam Timbangan dan Dicintai oleh Allah  Ta’ala

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

” كَلِمَتَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ 

Ada dua kata yang dicintai oleh Allah yang maha pengasih yang ringan di lisan namun berat di dalam timbangan; Subhanallahi Wa Bihamdihi Subhanallahil ‘Adzim (Maha  suci Allah dan dengan memujinya maha suci Allah yang Maha Agung)”.

Penjelasan

Imam Bukhari menutup kitab shahihnya Dengan hadis ini, dan beliau meriwayatkannya dari jalur Ahmad bin Muhammad bin ubaid telah menceritakan kepada kami dari umamah al kok jadi abu zur’ah Dari Abu Hurairah radhiallahu Anhu dari Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam sama dengan lafadz hadits yang dibawakan oleh penulis al-hafidz Ibnu Hajar.

Dan  beliau Imam Bukhari juga memuatnya di dalam Kitab adda’a wat Seraya berkata; telah menceritakan kepada kami info telah menceritakan kepada kami dari Umamah dari Abu zur’ah Dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam beliau bersabda;

” كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي المِيزَانِ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللَّهِ العَظِيمِ، سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ “

Ada dua kalimat yang sangat ringan di lisan namun berat di dalam Timbangan dan dicintai oleh Allah yang maha pengasih maha suci Allah yang Maha Agung maha suci Allah dengan memujinya”.

Sedangkan  Imam Muslim mengatakan bahwa Muhammad bin Abdullah bin Umar Bin Khattab dan Abu kuraib serta Muhammad bin Farid Al Ghazali telah menceritakan kepada kami mereka berkata ini foto yang telah menceritakan kepada kami dari Ibnu Umar bin al-khattab dari Abu zur’ah Dari Abu Hurairah Dia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

كلمتان خفيفتان على اللسان، ثقيلتان في الميزان، حبيبتان إلى الرحمن: سبحان الله وبحمده، سبحان الله العظيم))؛ متفق عليه))

“Ada dua kalimat yang sangat ringan di lisan namun berat di dalam Timbangan dan dicintai tapi yang maha pengasih maha suci Allah Maha Suci Allah dan dengan memujinya maha suci Allah yang Maha Agung”.

Kesimpulan;

  1. Keutamaan bertasbih dan bertahmid.
  2. Betapa mudahnya Jalan berdzikir dan mengingat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
  3. Allah mencurah kan karunianya dengan memberikan pahala yang sangat besar atas ucapan yang sangat sedikit.
  4. Seruan kepada manusia untuk menghimpun segala faktor yang dapat menyebabkan masuk surga negeri yang penuh dengan Kedamaian.

( Fiqhul Islam Syarah Bulughul Maram, Kitabul Jami’, Hadits ke-27).

Jika Terbiasa Melakukan Tujuh Hal Ini, Maka Anda Termasuk Anak Durhaka

Jika Terbiasa Melakukan Tujuh Hal Ini,  Maka Anda Termasuk Anak Durhaka

Durhaka kepada kedua orang tua merupakan dosa besar yang sangat dibenci oleh Allah subhanahu wa ta’ala.  Saking besarnya dosa durhaka kepada kedua orang tua Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menyebutnya sebagai dosa terbesar kedua setelah syirik. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah menyampaikan kepada para sahabat;

Maukah kalian aku tunjukkan dosa besar yang paling besar 3 kali para sahabat menjawab tentu Ya Rasulullah Beliau mengatakan Syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua”.

Dalam hadis yang lain Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam menegaskan bahwa durhaka kepada kedua orang tua merupakan perbuatan yang diharamkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Beliau mengatakan;

Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian durhaka kepada Ibu” (H.R Bukhari dan Muslim dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih al-Jami’).

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam juga menggambarkan bahwa orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya tidak akan dipandang oleh Allah subhanahu wa ta’ala pada hari kiamat kelak. Beliau mengatakan;

Ada tiga orang yang tidak akan dilihat dengan pandangan rahmat dan kasih sayang oleh Allah subhanahu wa ta’ala pada hari kiamat nanti orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya pecandu khamr atau peminum minuman keras dan al manan (orang yang senantiasa mengungkit ungkit pemberian). (HR. An Nasa’i, Al Bazzar dan al-Hakim dishahihkan oleh Al Hakim dan Syekh al-albani)

Bahkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengabarkan bahwa durhaka kepada kedua orang tua merupakan perbuatan dosa yang disegerakan balasannya di dunia oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Ada beberapa sikap seorang anak yang dapat dikategorikan sebagai perbuatan durhaka kepada kedua orang tua. Syaikh  Abdul Aziz bin Abdullah Alu Syaikh (Ketua Haiah Kibar Ulama Saudi Arabia) menyebutkan tujuh sikap  buruk kepada kedua orang tua yang masuk kategori durhaka kepada kedua orang tua. Ketujuh sikap tersebut adalah;

  1. Lebih mendahulukan anak dan istri daripada kedua orang tua
  2. Bermuka masam di hadapan orang tua
  3. Meninggikan suara atau memotong perkataan orang tua dengan kasar
  4. Memandang orang tua dengan tatapan sinis dan tajam
  5. Menunda-nunda memenuhi permintaan dan keperluan mereka.
  6. Menolak panggilan orang tua atau tidak menjawab panggilan telepon mereka.
  7. Mencela dan mencaci maki kedua orang tua.

Tulisan  ini akan menjelaskan masing-masing dari tujuh tersebut, dengan harapan kita dapat meninggalkan dan menghindarinya.

Pertama, Lebih Mendahulukan Anak dan istri daripada Kedua Orang Tua

Kadang seorang anak setelah menikah dan memiliki anak maka ketaatan dan kepatuhan kepada kedua orang tuanya berkurang. Rasa  cinta dan perhatian kepada kedua orang tua dikalahkan dan digantikan oleh rasa cinta dan perhatian kepada anak dan istri.

Terkadang ketika seorang anak diperhadapkan pada dua pilihan antara membantu atau menolong orang tuanya dengan memenuhi kebutuhan anak dan istrinya dia lebih mendahulukan anak dan istrinya.

Karna bakti seorang anak kepada kedua orang tuanya khususnya kepada Ibu tidak berhenti meskipun seorang anak telah berumah tangga memiliki anak dan istri. Justru sesungguhnya bakti seorang anak kepada kedua orang tuanya dapat menjadi salah satu sebab kebahagiaan dan keberkahan rumah tangga seorang anak.

Kedua, Bermuka Masam  di Hadapan Kedua Orang Tua

Diantara contoh dan bentuk sikap durhaka kepada kedua orang tua adalah menampakkan wajah cemberut dan bermuka saat berada dihadapan kedua orang tua atau salah satu dari keduanya.

Seorang anak Kadang dapat berwajah ceria saat berhadapan dengan kawan-kawannya. namun dia tidak dapat melakukan hal itu saat berada di hadapan kedua orang tuanya. padahal menampakan wajah yang berseri-seri merupakan salah satu kebaikan yang sangat ditekankan di dalam Islam. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam mengatakan;

 “Janganlah kamu meremehkan suatu kebaikan sedikitpun, meskipun engkau hanya menemui saudaramu dengan wajah yang berseri-seri”.

Dan  tentu saja orang tua atau ayah dan ibu merupakan orang pertama yang berhak untuk mendapatkan perlakuan dan sikap seperti ini.

Dalam  hadits yang lain Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengatakan;

Senyumanmu kepada saudaramu adalah sedekah”.

Jika  ini berlaku umum kepada seluruh kaum muslimin maka kepada kedua orang tua lebih utama. Selain  bernilai sedekah juga bernilai taqarrub kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Selain  bernilai sedekah juga bernilai sebagai birrul walidaini merupakan bagian dari Bakti kepada kedua orang tua.

Namun sangat disayangkan sebagian anak lebih suka bermuka masam dan cemberut kepada orang tuanya. Padahal hal ini merupakan sikap durhaka yang amat dibenci oleh Allah Ta’ala.

Ketiga,  Meninggikan Suara atau Memotong Perkataan Orang Tua dengan Kasar

Meninggikan suara secara berlebihan kepada lawan bicara atau memtong perkataan lawan merupakan sikap yang tidak sopan. Semua orang berakal sepakat bahwa itu sangat buruk dan mencerminkan rendahnya akhalaq dan budi pekerti seseorang. Lalu bagaimana jika hal itu dilakukan kepada ayah atau ibu yang seharusnya dimuliakan dan dihormati? Tentu mengangkat suara di hadapan mereka atau memotong pembicaraan mereka termasuk sikap durhaka, apalagi jika hal itu membuat mereka sakit hati dan tersinggung.

Sikap ini juga bertentangan perintah Allah yang menyuruh untuk bersikap sopan, santun, dan berkata lembut kepada kedua orang tua. “. . . . Dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu kepadanya dengan penuh kasih sayang, . . . “. (Qs. Al-Isra:23-24).

Makna perkataan yang baik (qaulan karima[n]) dalam ayat ini adalah, “(perkataan) yang lembut, baik, indah, sopan, penuh hormat dan ta’dziem”. (Tafsir Ibm Katsir, 3/1657).

Keempat, Memandang Orang Tua dengan Tatapan Sinis dan Tajam

Tatapan sinis dan tajam biasanya merupakan luapan dan ekspresi perasaan di dalam hati. Sehingga tentu sangat tidak pantas jika seorang anak menatap orang tuanya dengan tatapan yang mengandung makna sinis dan marah.  Imam Mujahid rahimahullah mengatakan; “Tidak dianggap berbuat baik kepada kedua orang tuanya orang yang menatap orang tuanya dengan tatapan tajam”.

Perakataan uff (ah) kepada kedua orang tua dilarang oleh Allah, karena hal itu menyebabkan keduanya tersakiti. Maka demikian pula dengan tatapan tajam dan sinis atau melotot. Dipastikan hal itu membuat orang tua tersakiti.

Ini juga masuk dalam larangan “janganlah engkau membentak keduanya (wa la tanharhuma), maknanya, “Janganlah muncul perlakuan buruk darimu kepada keduanya, dan jangan acungkan tanganmu kepadanya“. (Tafsir Ibn Katsir, 3/1657)

Kelima, Menunda-nunda Memenuhi Permintaan dan Keperluan Mereka

Diantara sikap yang dapat dikategorikan sebagai perbuatan durhaka kepada kedua  oran tua adalah mengabaikan permintaan dan keperluan mereka. Misalnya orang tua meminta sesuatu kebutuhan, tetapi si anak dengan berbagai alasan menolak atau mengulur dan menunda dengan berbagai alasan. Mulai dari alasan kerja, anak istri, capek, dan sebagainya. Atau sebagaian anak memenuhi hajat dan keperluan serta perminttaan bantuan kedua orang tuanya dengan berat hati disertai omelan. Tentu ini merupakan sikap tercela dam termasuk kedurhakaan kepada orang tua.

Keenam,  Menolak /Tidak Menjawab Panggilan Mereka

Diantara bentuk durhaka kepada kedua orang tua adalah tidak menjawab panggilan mereka, termasuk menjawab panggilan mereka melalui telepon. Padahal  dalam hadits dijelaskan bahwa boleh membatalkan salat Sunnah untuk menjawab panggilan orang tua kedua orang tua atau salah satu dari kedua orang tua. Jika shalat sunnah boleh dibatalkan untuk memenuhi panggilan orang tua, maka ini menunjukkan hak kedua orag tua yang sangat besar kepada anak.

Ketujuh, Mencela dan Mencaci-maki Kedua Orang Tua

Mencaci-maki dan mencela  kedua orang tua merupakan dosa besar. Mencaci maki kedua orang tua terjadi  secara langsung maupun  tidak langsung.  Menghina dan mencaci maki kedua orang tua secara tidak langsung adalah seseorang menghina orang tua orang lain lalu orang tersebut membalas.  Dalam hadits dikatakan; “Termasuk dosa besar adalah seseorang melaknat kedua orang tuanya,  ditanyakan kepada Rasulullah Bagaimana mungkin seseorang melaknat kedua orang tuanya?Nabi bersabda “Seseorang menghina ayah orang lain lalu orang tersebut membalas menghina ayahnya atau mencaci Ibu orang lain kemudian orang tersebut membalas mencaci maki ibunya”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Inilah beberapa contoh dan bentuk sikap durhaka kepada kedua orang tua Semoga kita terhindar dari nya

 [sym].

Doa Ketika Turun Hujan

do'a ketika turun hujan

Doa Ketika Turun Hujan

Dari Ummul Mukminin, ’Aisyah radhiyallahu ’anha,

إِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا رَأَى الْمَطَرَ قَالَ اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً

“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika melihat turunnya hujan, beliau mengucapkan, Allahumma shoyyiban nafi’an” [Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat]”. (HR. Bukhari no. 1032).

Penjelasan:

Pada asalnya hujan merupakan rahmat dan karunia Allah pada makhluqNya. Namun kadang berubah musibah dan malapetaka bagi manusia. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melihat hujan turun, beliau berdo’a kepada Allah agar hujan yang turun membawa manfaat bagi penduduk bumi.

Hadits ini memunjukan bahwa dianjurkan membaca do’a ketika turun hujan. Do’ yang dianjurkan adalah memohon kebaikan dan manfaat dari hujan yang sedang turun tersebut.

Diantara contoh hujan yang membawa kebaikan dan manfaat adalah menyuburkan tanaman dan tumbuh-tumbuhan [Qs. 2:22], menambah ketersediaan air di dalam tanah, mengisi dan memenuhi sungai-sungai dan sumur yang kering, sebagai sumber minuman bagi manusia dan hewan ternak, dan sebagainya. Wallahu a’lam. [sym].

Refleksi Nilai Takwa Pasca Ramadhan

Refleksi Nilai Takwa Pasca Ramadhan
Refleksi Nilai Takwa Pasca Ramadhan

Oleh : Ustadz Ahmad Hanafi, Lc, MA

Bagi seorang muslim, Ramadhan dengan deretan amal shaleh, baik dalam tataran ibadah fardiyah yang lebih terfokus pada aspek pembinaan kepribadian (mis: sholat, puasa, tilawah al-Qur’an, i’tikaf dll ) ataupun dalam tataran ibadah ijtimaiyah yang lebih mengedepankan nilai sosial dalam bentuk kepedulian terhadap sesama (zakat, shodaqah, memberi buka puasa dan hidangan sahur dll) adalah merupakan sarana-sarana mewujudkan ketakwaan yang hakiki dalam bulan  mulia tersebut.

Tetapi, sangat disayangkan apabila nilai-nilai positif ini berakhir bersamaan dengan berakhirnya musim ketaatan ini. Adalah hal yang aneh, jika seorang muslim yang begitu khusyu’ dan bergairah melaksanakan amalan-amalan mulia di bulan yang penuh berkah ini, lantas setelah Ramadhan ia kembali melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai ketakwaan yang telah ia semai selama rentan waktu sebulan penuh. Apa yang patut kita banggakan bila Ramadhan hanya diakhiri dengan euforia baju baru, penganan lebaran dan tradisi mudik tahunan?. Sungguh bijak seorang penyair Arab yang berkata:

Laisa al-‘iidu man labisa al-jadid Walakin al-‘iid man tho’atuhu taziid

(Hari Raya bukanlah ditandai dengan pakaian baru, tetapi hakikat hari raya adalah siapa yang ketaatannya bertambah maju)

Muslim yang sadar akan makna Ramadhan akan terus memelihara interaksinya dengan Allah Ta’ala dengan mengaplikasikan nilai-nilai kebajikan meskipun ia telah tamat dari Madrasah Ramadhaniyah. Ia sangat yakin bahwa esensi ketakwaan seharusnya dapat tetap disemai dan ditumbuhsuburkan pada kurang lebih 330 hari pasca Ramadhan. Ia adalah sosok yang tetap istiqomah berusaha untuk shaleh terhadap dirinya dan kepada sesama, bahkan kepada makhluk yang lain, meskipun tidak diiming-imingi dengan ganjaran pahala yang belipat ganda seperti dalam Ramadhan.

Setidaknya ada empat prinsip yang dapat kita tangkap dalam merefleksikan nilai takwa sebagai sarana untuk memaksimalkan potensi amal shaleh pasca Ramadhan:

  1. Prinsip Fastabiqul Khaerat

Bersegra dalam merebut setiap peluang untuk melakukan kebaikan merupakan salah satu ciri orang yang bertakwa (al-Imran: 133). Selain Fastabiqul khaeraat (al-Baqarah: 148), ada beberapa bentuk seruan Allah  dalam al-Qur’an yang memotivasi kita untuk bersegera untuk melakukan kebajikan dan tidak menjadi orang yang selalu menunda amalan. Kata-kata Wasaari’uu (bersegeralah kalian) (al-Imran :133), Wasaabiquu (berlomba-lombalah kalian) ( (al-Hadiid:21), Wafidzalika falyatanaafasil mutanaafisun (Dan pada yang seperti itu hendaklah kalian saling bersaing) (al-Muthaffifiin:26) semuanya bermuara kepada makna agar setiap muslim memanfaatkan peluang kebajikan dengan segera dan menjadi yang terbaik (menjadi pemenang dan bukan pecundang) dalam setiap amal shaleh yang dikerjakan. Allah memuji Nabi Zakariya ‘Alaihissalam beserta keluarga beliau karena telah berhasil mengejawantahkan prinsip ini dalam bingkai yang terbaik. Allah berfirman :

Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera  dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan baik dan mereka berdo’a kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami. (Qs. Al-Anbiyaa’: 90).

Ternyata kekhusyukan Zakariya ‘alaihissalam adalah kekhusyukan yang berdimensi semangat untuk bersegera dalam melakukan kebajikan.

  1. Prinsip Mujahadah (Kesungguhan)

Melakukan amal shaleh secara maksimal membutuhkan pengorbanan (tadhiyah). Ubay bin Ka’ab mengilustrasikan bahwa ketakwaan itu ibarat berjalan di jalan yang penuh duri ia butuh kahati-hatian dan kesungguhan. Ia berangkat dari niat yang ikhlas kemudian secara nyata ditunjukkan dengan amal yang serius dan penuh kesungguhan. Allah Ta’ala memuji dan menjanjikan syurga para pejuang amal shaleh yang dengan serius dan penuh kesungguhan membuktikan bahwa ketakwaan bukan hanya sekedar untaian kata-kata manis dan hiasan bibir tetapi perlu dibuktikan dan ditunjukkan kehadirat Ilahi Rabbi. Allah berfirman :

Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun, dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian (tidak meminta-minta). (Qs. Adz-dzaariyaat : 16-18)

Kesungguhan dalam ibadah tidak hanya nampak dalam ritual ibadah yang bersifat habluminallah tapi ia mempunyai konstribusi yang sangat kuat dalam menghidupkan ibadah yang bernuansa  habluminannas dengan berbagi kepedulian terhadap kaum dhu’afa.

Sebagai balasan atas komitmen kesungguhan ini hamba Allah Ta’ala berjanji untuk memberikan petunjuk dan membuka jalan-jalan kebajikan untuknya. Allah Ta’ala berfirman:

Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami maka Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami“. (Qs. al-Ankabuut: 69).

Tanda Lurusnya Iman

Tanda Lurusnya Iman

Tanda Lurusnya Iman

Salah satu tanda lurusnya Iman adalah Istiqamahnya hati dan lisan. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda tentang hal ini;

لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ وَلَا يَدْخُلُ رَجُلٌ الْجَنَّةَ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

Iman seorang hamba tidak akan istiqamah, sehingga hatinya istiqamah. Dan hati seorang hamba tidak akan istiqamah, sehingga lisannya istiqamah. Dan orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatan-kejahatannya, tidak akan masuk surga. (H.R. Ahmad, no. 12636, dihasankan oleh Syaikh Salim Al-Hilali di dalam Bahjatun Nazhirin, 3/13).

Pelajaran Hadits:

  1. Iman itu adalah perkataan dan perbuatan, perbuatan hati dan perkataan lisan.
  2. Tanda dan bukti istiqamah (lurusnya) iman adalah lurus (istiqamah) nya hati, dan tanda istiqamahnya hati adalah istiqamhnya lisan. Artinya terjaganya lisan dari perkataan yang tidak benar dan tidak bermanfaat.
  3. Keutamaan menjaga lisan sebagai tanda istiqamahnya hati dan iman.
  4. Menghoramati tetangga merupakan bagian dari iman. Dalam hadits ini Allah menafikan Iman (yang sempurna) orang yang tidak menjaga lisannya dari mengganggu dan menyakiti tetangganya. Sebagaimana dalam hadits lain Nabi bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya dia memuliakan tetangganya”. 

Wallahu a’lam. [sym].

Keutamaan  Akhlaq dalam Islam

Keutamaan Akhlaq

Keutamaan  Akhlaq dalam Islam

Akhlaq yang mulia memiliki kedudukan yang tinggi di dalam Islam sebagaimana ditunjukkan oleh beberapa hadis hadis Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.

Pertama; Tujuan Diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

 Hadits Shahih riwayat Bukhari dan Ahmad bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق

 “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan AkhlaqYang Mulia”.

Hadits  ini menunjukkan kedudukan akhlak yang sangat penting di dalam agama Islam. Al Fairuz Abadi rahimahullahu ta’ala mengatakan, “Ingatlah bahwa sesungguhnya agama keseluruhannya adalah akhlak”.

Oleh karena itu Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam disifati dalam al-Qur’an sebagai manusia yang memiliki akhlaq yang luhur. Beliau dipuji oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala karena akhlaknya yang agung, sebagaimana firman Allah dalam surat Al Qalam ayat 4;

Sesungguhnya engkau Muhammad berada di atas akhlaq yang luhur” (Qs. Muhammad: 4).

Kedua, Allah Mencintai Akhlaq yang Luhur

Sebagaimana  dikabarkan oleh Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dalam sabdanya,

” إن الله كريم يحب الكرم ويحب معالي الأخلاق ويكره سفسافها “

 “Sesungguhnya Allah itu maha mulia dan mencintai kemuliaan serta mencintai ketinggian akhlak dan membenci akhlak yang rendah”. (HR. Hakim dan Abu Nuaim dengan sanad yang sohih).

Hadits ini menunjukkan keutamaan akhlak dari sisi yang lain yaitu dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Ketiga, Akhlak  Merupakan Barometer Iman

Artinya  keimanan seseorang sangat ditentukan oleh akhlaknya yang baik atau buruk. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mensifati orang yang memiliki akhlak mulia sebagai orang beriman yang paling sempurna imannya.  Beliau mengatakan;

أكمل المؤمنين إيمانًا أحسنهم خلقًا)) رواه الترمذي وأحمد))

 “Orang beriman yang paling sempurna imannya adalah yang terbaik akhlaknya diantara mereka”.  (HR.Tirmidzi dan Ahmad dengan sanad yang Hasan).

Dalam hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Imam Hakim dengan sanad yang Hasan pula, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

أفضل المؤمنين أحسنهم خلقا

Orang  beriman yang paling afdhol adalah yang terbaik akhlaknya di antara mereka”.  (HR. Hakim dengan sanad Hasan).

Keempat, Manusia Terbaik

Orang  Terbaik Adalah yang Terbaik akhlaknya atau manusia terbaik adalah yang terbaik akhlaknya. Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

 

“Yang  terbaik diantara kalian adalah yang paling baik akhlaknya”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Kelima, Jaminan  Surga Tertinggi Bagi yang Baik Akhlaknya

 Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

أنا زعيم ببيت في ربض الجنة لمن ترك المراء وإن كان محقًّا، وببيت في وسط الجنة لمن ترك الكذب وإن كان مازحًا، وببيت في أعلى الجنة لمن حسن خلقه)) رواه أبو داود والطبراني والبهقي وحسنه الألباني))

Saya memberikan jaminan berupa rumah di surga yang tertinggi bagi orang yang baik akhlaknya”. (HR. Abu Daud, Thabrani, dan Baihaqi serta dihasankan oleh Syekh Al-Albani).

Keenam, Akhlaq yang Baik Termasuk yang Paling Banyak Memasukkan Manusia ke dalam Surga

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam pernah ditanya tentang amalan yang paling banyak memasukkan manusia kedalam surga. Beliau mengatakan;

تقوى الله وحسن الخلق،)) رواه الترمذي وأحمد وابن حبان وحسنه الألباني.

Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik”. (HR. Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Hibban  dan dihasankan oleh Syekh Al-Albani).

Mengapa takwa dan akhlak yang baik dijelaskan oleh Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah dalam kitabnya Al Fawaid bahwa taqwa kepada Allah menjaga hubungan baik seorang hamba dengan Tuhannya dengan Allah subhanahu wa ta’ala sedangkan akhlak yang baik menjaga hubungan baik seorang hamba dengan sesama manusia.

Ketujuh, Manusa  Paling Dicintai Allah Adalah Yang Terbaik Akhlaknya

Akhlak yang baik merupakan Sebab utama untuk dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana  sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Thabroni dengan sanad  yang shohih bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

أحب عباد الله إلى الله أحسنهم خلقًا)) رواه الحاكم والطبراني وقال الهيثمي رجاله رجال الصحيح))

“Hamba  Allah yang paling dicintai oleh Allah adalah yang terbaik akhlaknya”. (HR. Hakim dan Thabrani).

Kedelapan, Dicintai oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dan menempati posisi paling dekat dengan Beliau di akhirat kelak

Akhlak yang baik merupakan sebab untuk dicintai oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam dan mendapatkan tempat atau posisi dekat dengan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam di surga di hari kiamat kelak. Beliau pernah bersabda;

إنَّ من أحبكم إليَّ وأقربكم مني مجلسًا يوم القيامة أحاسنكم أخلاقًا)) رواه الترمذي وحسنه الألباني))

 “Sesungguhnya sesungguhnya yang paling aku cintai diantara kalian dan paling dekat tempatnya dengan aku pada hari kiamat nanti adalah yang terbaik akhlaknya diantara Kalian”. (HR. Tirmidzi dan dihasankan oleh Syekh Al-Albani).

Kesembilan, Paling  Berat Bobotnya dalam Timbangan Kebaikan Seorang Hamba

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

ما من شيء في الميزان أثقل من حسن الخلق)) رواه الترمذي وابن حبان وصححه الألباني))

Tidak ada sesuatu apapun yang paling berat bobotnya dalam timbangan seorang hamba dibandingkan akhlak yang baik”. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban serta dishahihkan oleh Syekh Al-Albani).

Sepuluh, Setara  dengan Pahala Shalat Malam dan Puasa

Orang yang memiliki akhlak yang baik dapat meraih atau mencapai kedudukan seperti orang yang rajin salat Lail dan puasa sunnah pada siang hari. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

إن المؤمنَ لَيُدركُ بحُسن الخُلق درجةَ الصائمِ القائم)). رواه أبو داود وأحمد وصححه الألباني))

 “Sesungguhnya seseorang dapat sesungguhnya dengan akhlaknya yang baik seseorang dapat mencapai kedudukan orang yang rajin sholat lail dan puasa sunnah”. (HR. Abu Dawud, Ahmad dan Hakim serta dishahihkan Syekh Al-Albani).

Beberapa  poin dan hadis di atas menunjukkan tingginya dan organnya kedudukan Akhlak Yang Mulia di dalam Islam sampai-sampai Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memohon kepada Allah subhanahu wa taala dalam doanya untuk dikaruniai akhlak yang baik serta serta dipalingkan dari akhlak yang buruk. Beliau mengatakan;

Ya Allah ampunilah dosa-dosaku dan kesalahan-kesalahanku Ya Allah Tunjukilah aku kepada amalan yang baik dan Akhlak Yang Mulia karena tidak ada yang tunjuki kepada Akhlak Yang Mulia melainkan engkau dan tidak ada yang dapat memalingkan dari akhlak yang buruk melainkan Engkau”. (HR Hakim).

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengaruniai kita akhlak yang baik dan memalingkan kita dari akhlak yang buruk Wallahu a’lam.  [sym].

Da’i Ikut Nyaleg dan Masuk Parlemen, Ini Fatwa Syaikh bin Baz

Anggota Dewan

Da’i Ikut Nyaleg dan Masuk Parlemen, Ini Fatwa Syaikh bin Baz

 Da’i koq nyaleg dan masuk parlemen”. Begitu komentar sebagian orang ketika ada aktivis dakwah yang terjun ke kancah politik praktis dengan ikut mencalonkan diri sebagai anggota dewan atau nyaleg.

Masalah ini pernah ditanyakan kepada Mufti Kerajaan Saudi Arabia yang lalu  Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah. Menurut beliau orang yang memiliki pijakan yan kuat dan landasan ilmu boleh masuk ke dalamnya, dengan syarat tujuan dan motivasinya untuk menegakkan kebenaran dan mengarahkan manusia kepada kebaikan serta menghambat kebatilan.

“Tujuan utamanya bukan untuk kepentingan dunia atau ketamakan terhadap harta, ia masuk benar-benar hanya untuk menolong agama Allah, memperjuangkan yang haq dan mencegah kebatilan, dengan niat baik seperti ini, maka saya memandang tidak mengapa melakukan hal itu”, terangnya.

“Bahkan seyogyanya dilakukan agar dewan dan majelis seperti itu tidak kosong dari kebaikan dan pendukung-pendukungnya”, tegasnya.

Berikut fatwa beliau selengkapnya;

***

Pertanyaan:

Banyak penuntut ilmu syar’i yang bertanya-tanya tentang hukum masuknya para du’at dan ulama ke dalam dewan legislatif dan parlemen, serta turut serta dalam pemilihan umum di negara yang tidak menjalankan syari’at Allah. Maka apakah batasan untuk hal ini ?

Jawaban :

Masuk ke dalam parlemen dan dewan legislatif adalah sangat berbahaya.  Masuk ke dalamnya sangatlah berbahaya. Akan tetapi barang siapa yang masuk ke dalamnya dengan landasan ilmu dan pijakan yang kuat, bertujuan menegakkan yang haq dan mengarahkan manusia kepada kebaikan serta menghambat kebatilan, tujuan utamanya bukan untuk kepentingan dunia atau ketamakan terhadap harta, ia masuk benar-benar hanya untuk menolong agama Allah, memperjuangkan yang haq dan mencegah kebatilan, dengan niat baik seperti ini, maka saya memandang tidak mengapa melakukan hal itu, bahkan seyogyanya dilakukan agar dewan dan majelis seperti itu tidak kosong dari kebaikan dan pendukung-pendukungnya. (Ini) bila ia masuk (dalam perlemen) dengan niat seperti ini dan ia mempunyai pijakan yang kuat agar ia dapat memperjuangkan dan mempertahankan yang haq serta menyerukan untuk meninggalkan kebatilan. Mudah-mudahan Allah memberikan manfa’at dengannya hingga (dewan) itu dapat menerapkan syari’at (Allah).  Dengan niat dan maksud seperti ini disertai ilmu dan pijakan yang kuat, maka Allah Jalla wa ‘Ala akan memberinya balasan atas usaha ini.

Akan tetapi jika ia masuk ke dalamnya dengan tujuan duniawi atau ketamakan untuk mendapatkan kedudukan, maka tidak diperbolehkan. Sebab ia harus masuk dengan niat mengharapkan Wajah Allah dan negeri Akhirat, memperjuangkan dan menjelaskan yang haq dengan dalil-dalilnya agar semoga saja dewan dan majelis itu mau kembali dan bertaubat kepada Allah.

(Fatwa ini dimuat dalam majalah Al Ishlah edisi 242-27 Dzulhijjah 1413 H/23 Juni 1993 M. Adapun terjemahan ini dinukil dari buku Ash Shulhu Khair terbitan Jama’ah Anshar As Sunnah Al Muhammadiyah di Sudan).