Sepuluh Kaidah Praktis Zakat Fitrah Menurut Syaikh Ath Tharifi

Sepuluh Kaidah Praktis Zakat Fitrah Menurut Syaikh Ath Tharifi

Sepuluh Kaidah Praktis Zakat Fitrah Menurut Syaikh Ath Tharifi

Berikut ini sepuluh   kaidah Praktis Zakat Fitrah menurut Syekh Abdul Aziz Ath-Tharaifi hafidzahullah. Jumlah sepuluh dalam artikel singkat ini bukan pembnatasan, tapi sekadar untuk memudahkan.

  1. Zakat fitrah hukumnya wajib atas anak kecil ataupun orang dewasa, seorang wali wajib membayarkan zakat fitrahnya orang-orang yang menjadi tanggungannya baik istri/anak-anaknya, dan disunnahkan membayarkan zakat  janin yang belum lahir.
  2. Zakat fitrah adalah berupa makanan pokok yang ada didaerah tersebut seperti beras atau tepung, tidak boleh mengeluarkan zakat fitrah dengan makanan yang bukan merupakan makanan pokok pada daerah tersebut.
  3. Waktu yang paling utama mengeluarkan zakat fitrah adalah antara shalat subuh pada pagi hari raya sampai waktu didirikannya shalat idul fitri.
  4. Boleh mempercepat pengeluaran zakat fitrah dua hari atau tiga hari sebelum hari raya idul fitri, dahulu Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma mengeluarkannya tiga hari  sebelum hari raya.
  5. Menunda pengeluaran zakat fitrah setelah shalat hari raya tidak sah, sebagaimana hukumnya menunda shalat Subuh hingga terbit matahari, kecuali kalau ada udzur seperti ia lupa, maka boleh mengeluarkannya setelah shalat idul fitri.
  6. Yang sunnah adalah mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk makanan pokok, bukan uang sesuai kesepakatan para ulama, namun mereka hanya berbeda pendapat bolehkah mengeluarkannya dalam bentuk uang? Sekelompok salaf membolehkannya, namun yang lebih hati-hati adalah mengeluarkannya dalam bentuk makanan
  7. Zakat fitrah wajib dikeluarkan dengan takaran satu sha’ (antara 2,5 – 3 kg), boleh mencampur dua jenis makanan pokok dalam satu sha’ untuk satu orang miskin, dengan syarat kadar masing-masing dua jenis makanan pokok tersebut banyak dan bisa dikonsumsi oleh si penerima.
  8. Tidak ada riwayat dari Nabi atau para sahabat bahwa mereka mengeluarkan zakat fitrah berupa uang, namun hanya diriwayatkan dari amalan beberapa tabiin, sebab itu boleh mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk uang kalau memiliki maslahat yang nyata.
  9. Bolehkah seseorang memberikan zakat fitrah kepada pembantu atau pekerja di rumahnya?? Ada dua kondisi:
    • Pertama: Bila dalam akad kerja, majikan yang menanggung makanan sehari-hari mereka, maka majikan  tidak boleh memberikan zakat pada mereka, bahkan –menurut sebagian salaf- majikan  dianjurkan untuk menanggung pengeluaran zakat fitrah mereka.
    • Kedua: bila dalam akad, mereka sendirilah yang menanggung makanan sehari-hari mereka, maka boleh bagi majikan memberikan zakat fitrah pada mereka.
  10. Setiap anggota keluarga yang memiliki pekerjaan dan mampu, yang lebih utama adalah masing-masing mengeluarkan zakat fitrah untuk dirinya sendiri, namun bila ayah (atau wali) mereka membayarkan zakat fitrah mereka semua maka dibolehkan, dan sebagian salaf juga men-sunnah-kan pembayaran zakat fitrahnya pembantu atau pekerja di rumah. (Syaikh Abdul-‘Aziz Al-Tharifi).

Alih Bahasa: Maulana Laeda

Artikel          : http://wahdah.or.id 

 

Yang Perlu Anda Ketahui Tentang I’tikaf [3]: Pembatal I’tikaf

Pembatal I'tikaf

Pembatal I’tikaf

Pembatal i’tikaf ada lima, yaitu;

  1. Jima’ (bersetubuh).

Dalilnya firman Allah subhanahu Wa Ta’ala :

وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ 

Dan janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid”(QS. Al Baqarah : 187)

  1. Murtad. Semoga Allah  Ta’ala melindungi dan menghindarkan kita darinya
  2. Hilang akal (Gila dan mabuk)
  3. Haidh dan Nifas
  4. Keluar dari masjid tanpa hajat yang dibolehkan, walaupun hanya sebentar. Keluar dari masjid membatalkan i’tikaf karena tinggal di masjid adalah rukun i’tikaf.