Keutamaan Penghafal Al-Qur’an (1)

Keutamaan Penghafal Al-Qur’an (1)

Al-Qur’an adalah kitab suci Allah yang mulia. Diturunkan oleh yang Maha Mulia Allah Ta’ala  kepada manusia termulia, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui Malaikat paling mulia (Malaikat Jibril) di tempat paling mulia (Makkah) dan pada waktu paling mulia, yakni bulan Ramadhan.

Kemuliaan Al-Quran  berpengaruh pada kemuliaan segala sesuatu yang berkaitan dengannya, termasuk kemuliaan bagi orang yang menghafalnya. Banyak keistimewaan dan keutamaan yang Allah janjikan bagi para penghafal Al-Qur’an. Tulisan ini akan menjelaskan beberapa keutamaan penghafal Al-Qur’an sebagaimana dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits beliau.

  1. Kedudukan Yang Tingggi di Surga

Ketika orang-orang beriman masuk surga, para penghafal Al-Qur’an berada pada posisi yang lebih mulia dan lebih tinggi. Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

” يقال لصاحب القرآن : اقرأ وارتق ورتل كما كنت ترتل في الدنيا فإن منزلتك عند آخر آية تقرأ بها “

Dikatakan kepada pemilik [bacaan/hafalan] Qur’an, “Bacalah dan naiklah serta bacalah secara tartil. Sebagaimana anda membaca tartil di dunia. Karena kedudukanmu di ayat terakhir yang anda baca.” (HR. Ahmad, 2/192, Abu Daud (1646) Tirmidzi, (2914) dan berkomentar: Hadits ini Hasan Shahih).

Hadits ini menunjukan keutamaan penghafal Al-Qur’an, karena yang dimaksud bacaan disini adalah mengahafalkan.

  1. Diberi Perhiasan Berupa Mahkota dan Gelang Kemuliaan

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu alahi wa sallam bersabda:

يجيء القرآن يوم القيامة فيقول : يا رب حلِّه ، فيلبس تاج الكرامة ثم يقول : يا رب زِدْه ، فيلبس حلة الكرامة ، ثم يقول : يا رب ارض عنه فيرضى عنه ، فيقال له: اقرأ وارق وتزاد بكل آية حسنة ” . رواه الترمذي ( 2915 ) وقال : هذا حديث حسن صحيح ، وقال الألباني في ” صحيح الترمذي ” برقم ( 2328 )  .

“Al-Qur’an akan datang pada hari kiamat dan mengatakan, “Wahai Tuhan, hiasilah dia. Maka dia dipakaikan mahkota kemulaan (Tajul karamah) kemudian mengatakan, “Wahai Tuhan, tambahkanlah dia. Maka dia dipakaikan gelang kemuliaan (Hullatul karamah). Kemudian mengatakan, “Wahai Tuhan, ridhoilah dia, maka (Allah) meridhoinya. Dikatakan kepadanya, “Bacalah dan naiklah. Ditambah setiap ayat suatu kebaikan.” (HR. Tirmizi, (2915) dan Daruquthni dalam Al-‘Ilal  (10/157) Imam Tirmidzi mengatakan, “Hadits ini Hasan Shoheh. Syekh Al-Albani mengatakan di hadits ini hasan).

  1. Bersama Para Malaikat yang Mulia

Para penghafal Al-Qur’an akan bersama dengan para Malaikat yang mulia. Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

مثل الذي يقرأ القرآن وهو حافظ له مع السفرة الكرام البررة ومثل الذي يقرأ وهو يتعاهده وهو عليه شديد فله أجران. رواه البخاري (4653) و مسلم (79

Perumpamaan orang yang membaca Qur’an sementara dia telah menghafalkannya, maka bersama para Malaikat yang mulia. Dan perumpamaan yang membaca dalam kondisi berusaha keras (belajar membacanya) maka dia mendapatkan dua pahala.’ (HR. Bukhari, 4653 dan Muslim, 798.

  1. Didahulukan dalam Kepemimpinan Jika Mampu Mengembannya

Dari Amir bin Wailah bahwa Nafi’ bin Abdul Harits bertemu dengan Umar di ‘Usfan. Dimana dahulu Umar telah mengangkatnya di Mekkah. Maka beliau mengatakan, “Siapa yang anda angkat untuk penduduk wadi (Mekkah)?”Ibnu Abza”, jawabnya. (Umar) bertanya lagi, “Siapa itu Ibnu Abza”? Dijawab, “Salah seorang budak diantara kami”. Umar berkata, “Apakah anda angkat untuk mereka seorang budak? Amir mengatakan; “Beliau adalah pembaca (penghafal) Kitabullah Azza Wajalla dan pandai dalam bidang ilmu Faraidh (ilmu waris). Maka Umar mengatakan, “Sesungguhnya Nabi kalian shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda,“Sesungguhnya Allah mengangkat dengan Kitab ini suatu kaum dan merendahkan kaum lainnya.” (HR. Muslim, 817). [sym].

Hadir di Ijtima Ulama, Anies: Kita Akan Menorehkan Sejarah Baru

Hadir di Ijtima Ulama, Anies: Kita Akan Menorehkan Sejarah Baru

(Jakarta) wahdahjakarta.com, – Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama menggelar Ijtima’ Ulama dan Tokoh Nasional Mengokohkan Persatuan Bangsa. Bertempat di Jakarta, rencana akan digelar selama 3 hari dari tgl 27-29 2018.

Ijtima Ulama ini diikuti sekitar 500 ulama dari berbagai ormas atau elemen umat Islam. Tema pembahasan adalah “Menyatukan Arah Perjuangan Umat Islam Dalam Mengawal Perjalanan Bangsa dan Negara”.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyampaikan sambutan pada acara pembukaan. Anies berterima kasih dan bangga dengan dijadikannya Jakarta sebagai tuan rumah.

“Para ulama dan tokoh yang hadir disini adalah para pemuka yang memiliki segala prasyarat untuk menjadi pemimpin di daerah masing-masing. Dan hari ini semuanya berkumpul disini untuk menorehkan sejarah baru bagi Indonesia,” ungkapnya.

Peserta inti Ijtima Ulama adalah para habaib, ulama, pimpinan berbagai ormas. Nampak hadir di barisan depan antara lain KH Abdul Rasyid Syafi’i, KH Cholil Ridwan, Kiyai Maksum Bondowoso, Ust. Muhammad Zaitun Rasmin, Gus Nur, dll.

Saat memandu jalannya acara, Ust. Zaitun menyampaikan bahwa tujuan dilaksanakannya acara ini adalah untuk mencapai sinergitas antara ulama dan para tokoh bangsa.

“Kita menginginkan adanya tafahum dan ta’awun, atau bahasa modernnya adalah sinergitas, dan bahasa politiknya adalah koalisi, untuk mewujudkan cita-cita para pendiri bangsa.” ungkapnya.

Dalam pembukaan ini juga turut diundang para tokoh nasional dari beberapa partai. Antara lain Amien Rais, Prabowo Subianto, Zulkifli Hasan, Ahmad Heryawan, Fadli Zon, dll.

Para peserta akan dibagi menjadi beberapa komisi untuk membahas berbagai persoalan dan menghasilkan berbagai rekomendasi untuk kemaslahatan Umat Islam. [ibw]

Gerhana Bulan dan Totalitas Penghambaan Pada Sang Pencipta

Gerhana Bulan dan Totalitas Penghambaan Pada Sang Pencipta

Khutbah Shalat Gerhana Bulan (28/07/2018) Dikeluarkan oleh Dewan Syariah Wahdah Islamiyah

‎إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

‎مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

‎يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

‎أَمَّا بَعْدُ : فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Kaum Muslimin rahimakumullah

Saat cahaya bulan yang gemerlap pudar dan tenggelam pada pekatnya malam

Saat Matahari yang terang benderang tiba  tiba tersungkur dan hilang cahayanya terbalut kegelapan

Sungguh itu semua hanyalah butir – butir makhluk ciptaan Allah Ta’ala yang takluk, tunduk dan takut pada Pencipta yang kuasaNya meliputi semua tanpa batas , Allah Subhanahu wa Ta’ala.

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ

Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki”. ( QS .Al-Hajj : 18 )

Alam semesta seluruh nya adalah ayat -ayat Allah, yang sejatinya adalah petunjuk bagi manusia yang sadar diri untuk kembali kepada ketaatan dan penyerahan diri yang sempurna kepada sang Pencipta.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman , mengingatkan kita semua :

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di semua penjuru semesta dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? (QS. Fushilat :53)

Dan Dia pun menggugah inti kesadaran kehambaan ini dengan firman-Nya :

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآَيَاتٍ ِلأُولِي الْأَلْبَابِ(190)الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali Imran 190-191).

Kesadaran kehambaan ini akan mengantar manusia pada tasbih semesta dan ketundukan alam raya hanya kepada Allah Azza wa Jalla.

سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Bertasbih ( mensucikan ) Allah segala apa yang di langit dan Bumi dan Dia adalah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. ( QS. Al Hadid :1)

Gerhana Bulan yang terjadi ini adalah bukti nyata ketaklukan alam dan istislam ( berserah dirinya ) ia  pada obsolut dan mutlaknya kuasa dan titah Ilahy, sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam:

إن الشمس والقمر آيتان من آيات الله، لا ينكسفان لموت أحد ولا لحياته، ولكن الله تعالى يخوف بها عباده

Artinya: “Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah, tidak terjadi gerhana pada keduanya disebabkan kematian dan kelahiran seseorang, sungguh Allah menjadikan (gerhana) pada keduanya agar hamba-hambaNya merasa takut. (HR. Bukhari No. 1048 dan Muslim No. 911)

Peristiwa ini mengantar kita pada suatu kesadaran diri akan tidak berdayanya manusia di hadapan kuasa mutlak Ilahi Rabbi.

Allahu Akbar

Bagai setetes air di lautn luas ,atau sebutir pasir di padang Sahara,,,

Kaum Muslimin – Rahimakumullah

Kesadaran kehambaan ini akan mengantar sang hamba sejati untuk mematrikan satu rasa yang agung , Al Khauf ,rasa takut yang mencerahkan pada dirinya

Betapa tidak , jika matahari dan bulan saja tunduk, takluk dan takut padaNya, betapa tak tahu diri  dan naifnya seorang manusia yang tiada berdaya di hadapan kekuasaan Allah jika ia demikian sombong ingin mengatur manusia  dengan aturan  yang bertentangan dengan hukum dan aturan Allah.

‎أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin? ( QS. Al Maidah :50)

Betapa nistanya seorang hamba, saat semua fasilitas kehidupan telah diberikan oleh Allah Ta’ala , namun justru ia  gunakan untuk bermaksiyat dan durhaka kepada sang Pemberi nikmat itu , Allah Subhanahu wata’alaa

Sepanjang apapun langkah ini, pasti akan berakhir, sejauh apapun pencapaian kita suatu saat akan terhenti, karena dunia ini sementara pasti akan fana dan sirna

Pada saatnya kaki yang kita pakai melangkah ini akan jadi saksi di pengadilan Allah yang akan menentukan akhir abadi kita :

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. (QS. Ya-Sin :65)

Semuanya akan sirna dan fana

Tubuh dan jasad yang rupawan akan hancur dimakan tanah

Harta yang melimpah akan sirna dan tak mungkin dibawa mati

Pangkat, jabatan , ketenaran dan semua keluarga dan sanak saudara akan  ditinggalkan atau meninggalkan kita .

Lalu jika demikian, mengapa kita dibuat berlari liar oleh harapan semu dan fatamorgana ini ?!

Mengapa terlalu naif untuk menukar kenikmatan sejati dalam taat dengan nikmat sesaat yang bagai meneguk air laut yang tak pernah menuntaskan dahaga.

‎‫أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الأمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk khusyu’ (tunduk) hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik” [QS. Al-Hadiid : 16].

Ya ,,, sungguh telah tiba saatnya

hati ini ini ditundukkan ,

dielus dan dikendalikan untuk taat kepada Allah .

Dimerdekakan dari gelitik syahwat yang menyengsarakan.

Dituntun untuk berjalan dalam cahaya terang syariatNya .

Sungguh kehidupan yang tertata dengan aturan Ilahi adalah kehidupan yang indah dan bahagia .

Syariat ini diturunkan semata untuk kebaikan dan kemaslahatan manusia , bukan untuk menyulitkan dan menyengsarakan .

Alangkah indahnya kehidupan yang tertata dalam syari’at Allah , saat Al Qur’an menjadi pegangannya,saat As Sunnah menjadi  petunjuk Nya.

Alangkah indahnya taubat dan kembali kepada Allah itu, saat kening dan dahi merapat tunduk  dalam sujud- sujud yang khusyu’ .

Alangkah indahnya saat- saat tangan menengadah dalam munajat- munajat penuh harap .

Alangkah indahnya saat tangan- tangan dermawan berbagi rezki Allah pada sesama , anda takkan bisa membahasakan bahagiamu saat senyum merekah dari mereka yang selama ini menangis kelaparan saat anda berbagi sesuap nasi pada mereka.

Alangkah indahnya ukhuwah  dalam ikatan iman , saat membersamai dakwah mengajak hamba- hamba Allah ke rumah- rumah Allah , seakan bercengkrama hendak masuk ke pintu- pintu Syurga .

Alangkah indahnya ketaatan , alangkah indahnya ketaqwaan , alankah indahnya hidup dalam bimbinganNya , dalam hidayahNya

Selama hayat masih dikandung badan , jangan terlambat untuk kembali kepadaNya .

Karena Dia , Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang itu telah menyiapkan kebahagian , kemenangan yang sejati di balik rukuk dan sujudmu kepadaNya .

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, ruku`lah kamu, sujudhah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan”. ( QS. Al-Hajj : 77)

أقول قولي هذا و أستغفر الله لي و لكم من كل ذنب إنه هو الغفور الرحيم

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ

وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ

وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ و سلم و بارك عَلَى نبينا و سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و من سار على نهجه الى يوم الدين

أَيـُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. أَمَّا بعد

Sungguh suatu keniscayaan dan keharusan untuk selalu kembali saat kaki telah terlalu jauh melangkah menjauh dari shiratil Mustaqim.

Sekarang saatnya , saat Allah mempertakuti kita dengan Bulan dan Matahari yang semua tunduk dalam kekuasaannya .

Sekarang saatnya untuk kembali , untuk memperbaharui pertaubatan kita .

Sebelum semuanya gelap dan tak ada terang lagi , sebelum mata terpejam dan tak bisa terbuka lagi .

Ya Allah yang Maha Penyayang

Sayangilah kami , rahmati kami yang penuh dosa ini

Ampuni kami yang datang dengan kesalahan yang menggunung, yang bertaburan bagai pasir di pantai

Wahai Rabb Yang Maha Pengampun

Tak sanggup kami menengadah dalam kemurkaanMu

Tak sanggup kami menanggung amarahMu

Sungguh tak sanggup kami berjalan tanpa petunjukMu

Ampuni kami Ya Allah

Runtuhkan bukit – bukit dosa kami yang tinggi menjulang , ratakan dengan ampunanMu yang tiada dapat tertolak bagi hamba yang Engkau Rahmati

Wahai Rabb yang Maha Menatap

Pandanglah kami dengan pandangan Rahmat dan kasih sayangMu

Basuh jiwa kami dengan sejuknya ayat-ayatmu

Bersihkanlah dada kami dari semua kesyirikan, kekufuran dan kefasikan

Bimbing hati kami untuk selalu takut padaMu dan berharap tiada henti akan belas kasihMu

Sayangi kami, sayangi kedua orang tua kami , anak – anak dan keturunan kami . Satukan kami di dunia dalam indahnya ketaatan dan padukan kami dalam nikmat abadi dalam SyurgaMu .

Ya Allah , bagikan kebahagiaan bagibsemya saudara kami yang teraniaya , tolonglah mereka , dan berikan kemenangan sejati atas mereka

ربنا ءاتنا في الدنيا حسنة و في الآخرة حسنة و قنا عذاب النار

‎اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

‎ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

‎رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّاتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَن لَا يَرْ

Masuk Masjid Saat Khutbah, Haruskah Shalat Tahiyatul Masjid Terlebih Dahulu?

Masuk Masjid Saat Khutbah, Haruskah Shalat Tahiyatul Masjid Terlebih Dahulu?

Masuk Masjid Saat Khutbah, Haruskah Shalat Tahiyatul Masjid Terlebih Dahulu?

Pertanyaan:

Assalaamu’alaikum ustadz,

Ketika kita datang terlambat pada hari Jum’at dimana khatib sementara membaca khutbah apa sebaiknya lansung duduk dan mendengarkan khutbah ataw baiknya shalat sunat dl???mohon penjelasannya. (Usman. D).

Jawaban:

Wa ‘alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh

Menurut Madzhab Syafi’i, Ahmad, Ishaq, dan Fuqaha serta Muhadditsin  sebagimana dikutip oleh Imam Nawawi rahimahullah, sunnah hukumnya mengerjakan shalat tahiyatul masjid dan makruh meninggalkannya. Beliau mengatakan;

“Jika seseorang masuk Masjid pada hari Jum’at dan Imam sedang berkhutbah, maka dianjurkan baginya mengerjakan shalat tahiyatul masjid dua raka’at dan makruh hukumnya duduk sebelum shalat dua raka’at dan dianjurkan pula meringankan shalatnya agar setelah shalat dapat mendengarkan khutbah”. (Syarh Shahih Muslim,6/164).

Dalil  dalam masalah ini adalah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma,

جَاءَ رَجُلٌ وَالنَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَخْطُبُ النَّاسَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ « أَصَلَّيْتَ يَا فُلاَنُ » . قَالَ لاَ . قَالَ « قُمْ فَارْكَعْ »

Ada seseorang pria yang datang dan saat itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhutbah pada hari Jum’at. Nabi bertanya padanya (di tengah-tengah khutbah), “Apakah engkau sudah shalat wahai fulan?” “Belum”, jawabnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memerintahkan, “Berdirilah, shalatlah.” (HR. Bukhari no. 930)

Dalam riwayat lain disebutkan,

فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ

Lakukanlah shalat dua raka’at.” (HR. Bukhari no. 931)

Imam Bukhari menempatkan hadits tersebut dalam Kitab Shahihnya pada Bab, “Siapa yang datang saat imam sedang berkhutbah, hendaknya dia melakukan shalat dua raka’at ringan”.

Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa pria tersebut bernama Sulaik Al-Ghathafani, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepadanya, “Wahai Sulaik, berdirilah dan shalatlah dua raka’at serta ringankanlah (singkatkanlah) shalatmu”.

Oleh karena itu seseorang yang masuk masjid saat Imam telah memulai khutbah hendaknya tetap menunaikan shalat sunnat tahiyatul masjid. Namun dianjurkan shalatnya dipersingkat dan diperringan dengan tetap menunaikan rukun dan wajibnya serta menjaga kekhusyukan dan thuma’ninah-nya. Sehingga ia segera dapat menyimak khutbah yang sedang berlangsung. Wallahu a’lam. [sym].

Berbakti Kepada Ayahanda Yang Telah Meninggal Dunia, Bagaimana Caranya?

Berbakti Kepada Ayahanda Yang Telah Meninggal Dunia, Bagaimana Caranya?

 Pertanyaan:

Saya menyampaikan pertanyaan ini di tengah perasaan galau pasca meninggalnya ayah saya sejak dua tahun yang lalu. Sementara ayah saya termasuk yang agak teledor akan kewajibannya kepada Allah, di antaranya adalah:

Beliau tidak selalu menjaga shalat lima waktu, terkadang beliau shalat dan terkadang beliau tidak shalat karena malas, bukan karena mengingkari wajibnya shalat.

Beliau jarang berpuasa Ramadhan dengan alasan karena sakit, dan selalu mengkonsumsi obat jantung, atau karena lemah tidak mampu melaksakan, akan tetapi beliau termasuk perokok, saya mengira penyebab beliau tidak berpuasa adalah karena sulitnya meninggalkan rokok.

Dahulu kami mempunyai toko, dan menurut sepengetahuan saya beliau tidak mengeluarkan zakat dari barang-barang yang ada di toko tersebut, secara ekonomi kami mengalami kesulitan, bisnis kami juga tidak mendapatkan keuntungan, toko pun akhirnya terjual.

Sepertinya beliau pernah mempunyai sejumlah harta yang memungkinkannya untuk pergi haji, namun beliau tidak melaksanakannya. Beliau selalu menyampaikan kepada saya bahwa beliau ingin pergi haji akan tetapi beliau tidak bisa. Beliau mempunyai banyak masalah dan berbahaya di kedua matanya, beliau sangat menghindari sinar matahari langsung dan kecapean. Namun setelah beliau meninggal dunia ada sebagian orang yang menghajikan beliau sepertinya ada tiga orang dan bukan berasal dari kerabatnya.

Saya sangat mencintai ayah saya, semua yang mengenalnya juga mencintainya.

Oleh karenanya saya berharap kepada anda agar menjelaskan kepada saya tentang apa yang memungkinkan saya kerjakan sebagai bakti saya kepada ayah saya, saya mencintainya dan mengkhawatirkan beliau tertimpa adzab kubur dan adzab pada hari kiamat. Saya ingin berbakti kepada ayahanda setelah beliau wafat.

Jawaban:

Alhamdulillah

Jika anda ingin berbakti dan memberikan sesuatu yang bermanfaat kepada ayah anda setelah beliau meninggal dunia, maka anda bisa melakukan beberapa hal berikut ini:

  1. Mendoakannya dengan tulus, Allah –Ta’ala- berfirman:

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ . رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ (سورة إبراهيم: 40-41

Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah do`aku. Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mu’min pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”. (QS. Ibrahim: 40-41)

 Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

إذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ ) رواه مسلم، رقم 1631

Jika seorang manusia meninggal dunia terputuslah semua amalnya kecuali 3 perkara: 1) shadaqah jariyah, 2). Atau ilmu yang bermanfaat, 3) atau anak shaleh yang mendoakannya”. (HR. Muslim: 1631)

Dalam hadits lain Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– juga bersabda:

 إِنَّ الله تَبَارَكَ وتَعالى لَيَرْفَعُ لِلرَّجُلِ الدَّرَجَةَ ، فَيَقُولُ : أَنَّى لِي هَذِهِ ؟ فَيَقُولُ : بِدُعَاءِ وَلَدِكَ لك (رواه الطبراني، ص: 375 وعزاه الهيثمي في مجمع الزوائد، 10/234 للبزار، ورواه البيهقي في السنن الكبرى، 7/78

Sesungguhnya Allah –Tabaraka wa Ta’ala- akan mengangkat derajat seseorang. Maka orang itu bertanya, “Dari mana saya mendapatkan semua ini?” Maka Allah berfirman: “Dari doa anakmu”. (HR. Thabrani pada bab doa: 375, disebutkan juga oleh Al Haitsami dalam Majma’ Zawaid (10/234) karya Al Bazzar, dan Baihaqi di dalam As Sunan Al Kubro (7/78)

  1. Bershadaqah atas nama beliau,
  2. Melaksanakan haji dan umrah atas nama beliau, menghadiahkan pahala keduanya untuk beliau, untuk masalah ini telah kami rinci pembahasannya.
  3. Melunasi hutangnya, sebagaimana telah dilakukan oleh Jabir dengan hutang ayahandanya Abdullah bin Haram –radhiyallahu ‘anhuma– setelah diperintah oleh Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, kisah ini diriwayatkan oleh Bukhari: 2781.

Adapun puasa Ramadhan yang telah beliau tinggalkan dan pembayaran zakat maka hal ini termasuk yang tidak mungkin dikerjakan oleh anaknya, jika seorang muslim bersengaja teledor pada dua kewajiban tersebut, maka dia harus menanggung dosanya, tidak bisa seseorang menanggung orang lain, seperti halnya juga shalat maka tidak bisa shalat seseorang menggantikan shalat orang lain.

Allah –‘azza wa jalla– telah mengabarkan kepada kita bahwa seorang muslim akan diberi balasan dari perbuatannya, jika baik maka akan mendapatkan balasan kebaikan, dan jika buruk maka akan mendapatkan balasan keburukan. Allah –Ta’ala berfirman:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ . وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (سورة الزلزلة: 7-8

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula”. (QS. Al Zalzalah: 7-8)

Kecuali jika Allah mengampuni keburukan dengan rahmat dan karunia-Nya.

Hanya saja zakat itu mirip dengam hutang, nah zakat ini menjadi hak para mustahik zakat, maka anda wajib mengira-ngira seberapa banyak zakat beliau yang belum dibayarkan selama masa hidupnya, lalu anda yang membayarkannya, semoga hal itu akan menjadi sebab yang meringankan di alam kubur.

Semoga Allah memberikan balasan yang baik kepada anda yang telah mencintai ayah anda dan upaya untuk berbakti kepadanya dan berharap agar Allah mengampuninya. Wallahu A’lam.

[Sumber: https://islamqa.info/id]

Siapkan  Qurban Terbaik Anda

Tebar Qurban Nusantara

Siapkan  Qurban Terbaik Anda

Qurban atau dalam bahasa Arabnya disebut dengan udhiyah atau dhahiyyah adalah nama atau istilah yang diberikan kepada hewan sembelihan (unta, sapi atau kambing) pada idul adha dan pada hari-hari Tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah) dalam rangka ibadah dan bertaqarrub kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Dalil-dalil disyariatkannya yakni berdasarkan Al-Qur’an, As Sunnah dan Ijma’:

Dalil Al-Qur’an

Firman Allah Subhanahu Wata’ala:

Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berqurbanlah” (Q.S Al Kautsar:2)

Berkata sebagian ahli tafsir yang dimaksud dengan berqurban dalam ayat ini adalah menyembelih  udhiyah (hewan qurban) yang dilakukan sesudah shalat idul adha (lihat Tafsir Ibnu Katsir 4:505 dan Al Mughni 13:360)

Dalil As Sunnah

Diriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berqurban dengan dua ekor domba jantan yang keduanya berwarna putih bercampur hitam dan bertanduk. Beliau menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri sambil membaca basmalah dan bertakbir” (HR.Bukhari dan Muslim).

Dalil Ijma’

Seluruh kaum muslimin telah bersepakat tentang disyariatkannya (lihat Al Mughni 13:360).

[dikutip dari wahdah.or.id]

**

 

Mari berqurban bersama para Da’i Nusantara melalui LAZIS Wahdah. Qurban Anda akan disebarkan ke seluruh wilayah Nusantara dengan sasaran penyebaran seperti kaum dhuafa, binaan da’i,  tahfidz, yatim, muallaf dan daerah minoritas.

Info seputar Qurban bisa hubungi nomor kami 08119787900 (call/wa/sms) atau kunjungi kantor kami yang beralamat di Jl. Lenteng Agung No.1, RT 03 RW 04, Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan ➡lokasi https://goo.gl/maps/b9oyWT1HWrK2

 

LAZIS Wahdah “Melayani dan Memberdayakan”

Bertaubat Tapi Tidak Menyesal, Sahkah Taubatnya?

Bertaubat Tapi Tidak Menyesal, Sahkah Taubatnya?

Pertanyaan:

Sahkah Taubat tanpa disertai dengan penyesalan atas dosa pada masa lalu? apa makna penyesalan sebagai syarat diterimanya taubat?

Jawaban:

Pertama,

Syarat Taubat yang benar adalah;

  1. Meninggalkan
  2. Menyesali dosa yang telah Lalu.
  3. Bertekad untuk tidak mengulangi dosa tersebut

Jika Taubat dari kezaliman kepada sesama hamba berupa kezaliman dalam harta, kehormatan, atau jiwa maka dipersyaratkan syarat yang keempat yaitu meminta kehalalan dari pemilik hak atau mengembalikan hak kepada pemiliknya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kepada hambaNya untuk melakukan taubat nasuha;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). (QS.At-Tahrim ayat 8).

Imam Al-Baghawai berkata, “Para ulama berbeda pendapat tentang makna taubat nasuha”.

Menurut Umar Bin Khattab Ali bin ka’ab bin Muadz Bin Jabal radhiyallahu ‘anhum,

Bahwa taubat nasuha adalah seseorang bertaubat kemudian tidak kembali kepada perbuatan dosa tersebut sebagaimana susu tidak kembali kepada sebagaimana air susu tidak kembali kepada asalnya”.

Hasan Al Bashri berkata,

Taubat nasuha adalah seseorang menyesali dosa yang telah lalu disertai Azzam tekad untuk tidak mengulanginya”.

Al-Kalbi berkata;

Taubat nasuha adalah beristighfar dengan lisan menyesali dengan hati dan menahan anggota badan dari mengulangi perbuatan dosa”.

Said bin Musayyib berkata;

Taubat Nasuha adalah Taubat yang tulus dari jiwa kalian yang paling mendalam”.

Al-Qurthubi taubat nasuha harus mencakup empat hal, (1) Istighfar dengan lisan (perkataan), (2) Meninggalkan dengan anggota badan, (3) Hati bertekad untuk tidak mengulangi dosa, dan (4) Menjauhi teman-teman yang buruk. (Tafsir Al-Baghawi, 4/430-431).

Kedua

Penyesalan merupakan syarat utama atau rukun taubat yang paling agung dari Abdullah bin Muhsin bin Muqrin dari Ayahnya, dari  Abdullah Bin Masud radhiyallahu Anhu, beliau berkata, saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

“النَّدَمُ تَوْبَةٌ”

Sesal Itu Taubat” (HR Ahmad 4012 dan dishahihkan oleh al-Albani).

Sebagian ahli ilmu berkata cukuplah seseorang itu dianggap bertaubat Jika dia menyesal karena Penyesalan akan membuat seseorang meninggalkan dosa dan bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan dosa sebab meninggalkan dosa dan bertekad untuk tidak mengulangi nya muncul dari penyesalan Bukan dari yang lainnya Fathul Bari 13471

Al-qari rahimahullahu berkata Sesal Itu Taubat karena dia mengandung konsekuensi yang lain yaitu meninggalkan dosa dan berazam atau bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan dosa serta mengembalikan hak-hak sesama manusia

Maksudnya menyesali menyesali dosa karena menganggap dosa tersebut sebagai maksudnya menyesali perbuatan maksiat karena dia merupakan kedurhakaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. [sym].

Sumber: https://islamqa.info/ar/289765

 

Asmaul Husna [21 & 22]:  Al-Qabidh danAl-Basith  (Maha Menyempitkan dan Maha Melapangkan)

Asmaul Husna [21 & 22]:  Al-Qabidh Al-Basith  (Maha Menyempitkan dan maha melapangkan)

Asmaul Husna [21 & 22]:  Al-Qabidh Al-Basith  (Maha Menyempitkan dan maha melapangkan)

Dalam  Al-Qur’an terdapat banyak sekali ayat yang menerangkan maksud kedua nama ini (Al-Qabidh dan Al-Basith), misalnya dalam Surah  Al Baqarah ayat 245 dan Surah As-Syura ayat 27;

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ [٢:٢٤٥

Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan”. (Qs. Al-Baqarah:245)

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَٰكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ [٤٢:٢٧

Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala itu adalah pencipta yang menyempitkan melapangkan memberi rezeki dan memberi kemuliaan. Aku  sangat berharap ketika bertemu Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak ada yang menuntut hak orang lain yang tidak kutunaikkan baik dalam masalah nyawa ataupun harta”.

Al-Qabidh adalah yang menahan dan tidak memberi rezeki atau sejenisnya kepada hamba-Nya demi kemaslahatan hamba itu sendiri. Bisa juga dimaksudkan dengan yang mencabut nyawa ketika seorang hamba meninggal dunia.

Pemberian  rezeki kepada seorang hamba dengan jumlah tertentu baik sedikit ataupun banyak adalah sebuah Rahmat dari Allah subhanahu wa ta’ala. Seandainya saja Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan rezeki sebanyak yang diinginkan hawa nafsu hamba-Nya tentu hal itu bisa membuatnya menjadi sombong, dzalim, dan berbuat kerusakan di atas bumi. Maka  dari itu Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan rezeki sesuai dengan yang diinginkan menurut ilmu dan hikmah-Nya.

Sedangkan Al-Basith adalah yang melapangkan rezeki hamba-nya karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala bersifat Pemurah dan penyayang. Bisa juga dimaksudkan dengan yang membentangkan nyawa dalam tubuh manusia sehingga tubuh itu bisa mendapatkan kehidupan.

Oleh karena itu Al-Basith adalah kebalikan al-Qabadhu. Kalimat  basatha asy Syaia adalah membentang sesuatu. Hal  terbesar yang dibentangkan dan diluaskan Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah rasa kasih dan cinta kepada kebaikan yang diletakkan dalam hati-hati manusia.

Karena merupakan dua hal yang berlawanan maka keduanya hendaknya disebutkan secara beriringan sehingga kita dapat merasakan dan meyakini bahwa segala sesuatu yang kita dapatkan baik kelapangan maupun kesempitan adalah berdasarkan ilmu dan hikmah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

 (Syarah Singkat Asmaul Husna, Mustafa Wahbah hal 57-58)

Adab-Adab Shalat [03]

 

Adab Shalat

Adab-Adab Shalat [03]

Sambungan dari Tulisan Sebelumnya

  1. Tenang dan Thuma’ninah dalam melakukan setiap Gerakan dan Rukun-rukun Shalat; Tidak Cepat- cepat atau Terburu-buru

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda;

مَا مِنِ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلَاةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلَّا كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ

Tidaklah seorang muslim yang apabila hadir waktu shalat fardhu ia membaguskan wudhunya, khusy’unya, dan ruku’nya kecuali shalatnya akan menjadi penghapus dosa-dosa sebelumnya selama tidak melakukan dosa besar dan yang demikian itu berlaku selamanya”.  (HR Muslim).

  1. Berusaha Menahan Diri Sekuat Mungkin Untuk Tidak Menguap atau bersendawa ketika sholat dan Rendahkanlah Suara Apabila Terpaksa atau Tidak Tertahankan

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

 إنّ التثاؤب  في الصلاة من الشيطان ، فإذا وجد أحدكم ذلك فليكظم

Sesungguhnya menguap ketika salat adalah dari setan jika salah seorang dari kalian ingin menguap maka tahanalah (HR.  Ibnu Hibban).

  1. Bersegeralah Untuk Melakukan Shalat di Awal waktu dan Tidak Mengalirkannya Tanpa Udzur.

Jangan malas karena hal itu merupakan ciri-ciri orang munafik sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala;

وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ وَلَا يُنْفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ [٩:٥٤

Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan. (QS. At-Taubah: 54).

 12. Duduk   di Tempat Shalat Setelah Selesai Setiap Shalat Fardhu untuk Istighfar Berdzikir dan Berdo’a

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda;

Barangsiapa bertasbih setelah selesai setiap salat fardhu 33 kali, bertahmid 33 kali, bertakbir 33 kali, total berjumlah 99 Kali, dan Ia sempurnakan seratus  dengan mengucapkan Laa ilaha illallahu Wahdahu Laa Syariikalahu  Lahul Mulku Walahul Hamdu Wa huwa ‘ala Kulli syai-in Qadir (Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata yang tidak ada sekutu baginya hanya miliknya kerajaan dan hanya miliknya Segala pujian dan dia maha kuasa segala sesuatu) maka dosa-dosanya diampuni  sekalipun seperti buih di lautan“. (HR.  Muslim).

Bersambung insya Allah. [sym].

Sumber: Panduan Adab-Adab Shalat Untuk Meraih Kesempurnaan Shalat, Syaikh Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah.

Cara Memilih Calon Istri

Cara Memilih Calon Istri

Cara  Memilih Calon  Istri

Pertanyaan:

Bagaimanakah caranya memilih calon istri dari sisi kecantikannya, keturunan dan agamanya ?  Terima kasih.

Jawaban:

Sunnah Nabi telah menjelaskan sifat-sifat seorang wanita yang seharusnya diupayakan oleh setiap laki-laki, sifat-sifat tersebut bisa disimpulkan sebagai berikut: perawan, baik agamanya, keturunannya, cantik dan kaya, sebagaimana sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- :

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ : لِمَالِهَا ، وَلِحَسَبِهَا ، وَلِجَمَالِهَا ، وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ ) رواه البخاري (4802) ومسلم (1466

Wanita itu dinikahi karena empat hal: kaya, berasal dari keturunan yang baik, cantik dan karena agamanya. Maka beruntunglah dengan yang agamanya baik, maka akan menjadikanmu tenang”. (HR. Bukhori: 4802 dan Muslim: 1466)

Jika telah berkumpul semua sifat itu pada diri seorang wanita, maka dialah yang baik dan sempurna, kalau tidak maka hendaknya lebih mengutamakan yang lebih penting dan lebih utama. Dan yang terpenting adalah yang baik agamanya dan shalihah, sebagaimana sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-:

الدُّنْيَا مَتَاعٌ ، وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا : الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ ) رواه مسلم (1467

Dunia itu adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah”. (HR. Muslim: 1467)

Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pernah ditanya: wanita yang bagaimanakah yang paling baik ?, beliau menjawab:

الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ ) رواه النسائي (7373) . وحسنه الألباني في “السلسلة الصحيحة” (1838

Adalah wanita yang menyenangkan jika dipandang, mentaatinya jika disuruh, dan tidak menyelisihinya dalam diri dan hartanya dengan apa yang tidak disenangi olehnya”. (HR Nasa’i: 7373 dan dihasankan oleh al Baani dalam Silsilah ash Shahihah: 1838).