Delapan Prinsip Utama dalam Menghafal Al-Qur’an

Suatu hari Ustadz Deden Makhrayuddin pernah menerima telepon dari seseorang yang ingin memondokkan anaknya di pesantrennya.

“Ustadz, menghafal di tempat antum tu berapa lama untuk bisa khatam?”

“SEUMUR HIDUP”, jawab Ustadz. Deden santai.

Meski bingung, Ibu itu tanya lagi, “Targetnya, Ustadz?”

“Targetnya HUSNUL KHOTIMAH, MATI DALAM KEADAAN PUNYA HAFALAN.”

“Mmm…kalo pencapaiannya, Ustadz?”, Ibu itu terus bertanya.

“Pencapaiannya adalah DEKAT DENGAN ALLAH”, kata Ustadz Deden tegas.

Menggelitik, tapi sarat makna. Ustadz Deden berprinsip: CEPAT HAFAL itu datangnya dari ALLAH, INGIN CEPAT HAFAL (bisa jadi) datangnya dari SYETAN.

Sebelum membaca lebih jauh, saya harap anda punya komitmen terlebih dahulu untuk meluangkan waktu satu jam per hari khusus untuk Al-Qur’an. Kapanpun itu, yang penting durasi satu jam.

Berikut delapan prinsip utama dalam menghafal Al-Qur’an yang diterapkan Ustadz Deden Makrayuddin beserta sedikit penjelasan.

  1. Menghafal Tidak Harus Hafal

Allah memberi kemampuan menghafal dan mengingat yang berbeda-beda pada tiap orang.

Bahkan Imam Besar dalam ilmu qiroat, guru dari Hafs -yang mana bacaan kita merujuk pada riwayatnya- yaitu Imam Ashim menghafal Al-Quran dalam kurun waktu 20 tahun.

Target menghafal kita bukanlah ‘ujung ayat’ tapi bagaimana kita menghabiskan waktu (durasi) yang sudah kita agendakan HANYA untuk menghafal.

  1. Bukan Untuk Diburu-buru, Bukan Untuk Ditunda-Tunda

Kalau kita sudah menetapkan durasi, bahwa dari jam 6 sampe jam 7 adalah WAKTU KHUSUS untuk menghafal misalnya, maka berapapun ayat yang dapat kita hafal tidak jadi masalah.

Jangan buru-buru pindah ke ayat ke-2 jika ayat pertama belum benar-benar kita hafal. Nikmati saja saat-saat ini. Saat dimana kita bercengkrama dengan Allah. Satu jam lho.

Masak untuk urusan duniawi delapan jam betah, hehe. Inget, satu huruf melahirkan sepuluh pahala bukan?

So, jangan buru-buru. Tapi ingat, juga bukan untuk ditunda-tunda. Habiskan saja durasi menghafal secara ‘PAS’.

  1. Menghafal Bukan Untuk Khatam, Tapi Untuk Setia bersama Al-Qur’an

Kondisi HATI yang tepat dalam menghafal adalah BERSYUKUR bukan BERSABAR. Tapi kita sering mendengar kalimat “Menghafal emang kudu sabar”, ya kan?

Sebenarnya gak salah, hanya kurang pas saja. Kesannya ayat-ayat itu adalah sekarung batu di punggung kita, yang cepat-cepat kita pindahkan agar segera terbebas dari beban (khatam).

Bukankah di awal surat Thoha Allah berfirman bahwa Al-Qur’an diturunkan BUKAN SEBAGAI BEBAN. Untuk apa khatam jika tidak pernah diulang? Setialah bersama Al-Qur’an.

  1. Senang Dirindukan Ayat

Ayat-ayat yang sudah kita baca berulang-ulang namun belum juga nyantol di memory, sebenarnya ayat itu lagi kangen sama kita. Maka katakanlah pada ayat tersebut “I miss you too…” hehe. Coba dibaca arti dan tafsirnya.

Bisa jadi ayat itu adalah ‘jawaban’ dari ‘pertanyaan’ kita. Jangan buru-buru suntuk dan sumpek ketika gak hafal-hafal. Senanglah jadi orang yang dirindukan ayat.

  1. Menghafal Sesuap-sesuap

Nikmatnya suatu makanan itu terasa ketika kita sedang memakannya, bukan sebelum makan bukan pula setelahnya. Nikmatnya menghafal adalah ketika membaca berulang-ulang.

Dan besarnya suapan juga harus pas di volume mulut kita agar makan terasa nikmat. Makan pake sendok teh gak nikmat karena terlalu sedikit, makan pake centong nasi bikin muntah karena terlalu banyak.

Menghafal-pun demikian. Jika “‘amma yatasa alun” terlalu panjang, maka cukuplah ‘‘amma” diulang-ulang.

Jika terlalu pendek maka lanjutkanlah sampai “‘anin nabail ‘adzhim” kemudian diulang-ulang. Sesuaikan dengan kemampuan ‘mengunyah’ masing-masing anda.

  1. Fokus Pada Perbedaan, Baikan Persamaan

“Fabi ayyi alaa’i rabbikuma tukadz dziban”. Jika  kita hafal 1 ayat ini,1 saja! Maka sebenarnya kita sudah hafal 31 ayat dari 78 ayat yg ada di surat Ar-Rahman.

Sudah hampir separuh surat kita hafal. Maka ayat ini dihafal satu kali saja, fokuslah pada ayat sesudahnya dan sebelumnya yang merangkai ayat tersebut.

  1. Mengutamakan Durasi

Seperti yang dijelaskan di atas, komitmenlah pada DURASI bukan pada jumlah ayat yang akan dihafal. Ibarat argo taxi, keadaan macet ataupun di tol dia berjalan dengan tempo yang tetap.

Serahkan satu jam kita pada Allah.. Syukur-syukur bisa lebih dari satu jam.

Satu jam itu gak sampe 5 persen dari total waktu kita dalam sehari loh! Lima persen untuk Al-Quran, harus bisa dong ah…

  1. Pastikan Ayatnya Bertajwid

Cari guru yang bisa mengoreksi bacaan kita. Bacaan tidak bertajwid yang ‘terlanjur’ kita hafal akan sulit dirubah/diperbaiki di kemudian hari (setelah kita tahu hukum bacaan yang sebenarnya).

Jangan dibiasakan otodidak dalam hal apapun yang berkaitan dengan Al-Qur’an; membaca, mempelajari, mentadabburi, apalagi mengambil hukum dari Al-Quran.

Catatan:

Setiap point dari 1 – 8 saling terkait.

Semoga bermanfaat, niat kami hanya ingin berbagi. Mungkin ini bisa jadi solusi bagi teman-teman yang merasa tertekan, bosan, bahkan capek dalam menghafal.

(Sumber: Admin menemukan artikel ini tersebar di facebook dan WAG tanpa mencantumkan nama penulisanya, jazahullahu khairan).

Adab-Adab Shalat [04]

Adab-Adab Shalat [04]

Sambungan dari Tulisan Sebelumnya

 Diantara adab-adab Shalat yang hendaknya diperhatikan dan dijaga adalah;  menunggu shalat setelah selesai Shalat dan menjaga Shalat sunnah Rawatib

  1. Menunggu Shalat Setelah  Selesai Shalat

Dianjurkan menunggu Shalat setelah  selesai Shalat, seperti menunggu Shalat  Isya  setelah Shalat  Maghrib,  sambil diisi dengan dzikir,  membaca atau menghafal Al-Qur’an, mempelajari ilmu,  dan menghadiri majelis ilmu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

Setelah Shalat duduk di Masjid membaca Al-Qur’an dan menunggu Shalat berikutnya

Para Malaikat senantiasa mendoakan salah seorang dari kalian selama ia di tempat Shalatnya (menunggu Shalat berikutnya), dan selama tidak berhadats (batal wudhu). Para Malaikat itu berdo’a: Ya Allah ampunila dia, ya Allah rahmatilah dia. Salah seorang dari kalian senantiasa mendapatkan pahala Shalat selama Shalat (berikutnya) yang menahannya (untuk tetap di tempat shalatnya). Tidak ada yang menahannya untuk pulang dahulu kepada keluargnya (di rumah)  kecuali shalat (yang dia tunggu). (Muttafaq ‘alaih).

  1. Menjaga Shalat Sunnah Rawatib

Menjaga Shalat Sunnah Rawatib, tidak menyepelekan,  dan merasa ringan meninggalkannya,  karena melaksanakan shalat rawatib menambah kedekatan kepada Allah dan menambal kekurangan yang terdapat dalam pelaksanaan Shalat Fardhu seseorang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidaklah seorang Muslim shalat sunnah 12 raka’at selain shalat fardhu melainkan Allah bangunkan untuknya sebuah rumah di surga“. (HR. Muslim).

Dua belas rakaat yang dimaksud dalam hadits ini adalah shalat sunnah rawatib sebelum dan setelah shalat Fardhu yang terdiri atas;  empat raka’at sebelum dzuhur,  dua raka’at setelah Dzuhur, dua raka’at setelah Maghrib,  dua raka’at setelah Isya,  dan dua raka’at sebelum Subuh.

Ummu Habibah radhiallahu anha mengatakan Aku tidak pernah meninggalkan shalat rawatib sejak Ibu sejak mendengar sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tentang hal tersebut demikian pula kamar dan Norman mengatakan hal yang sama

  1. Tekun Melaksanakan Shalat Sunnah Qabliyah Subuh

Khusus Rawatib qabliyah Subuh hendaknya lebih diperhatikan karena Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sangat tekun melaksanakannya, berdasarkan hadits Aisyah radhiyallahu anha berkata,  “Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak menekuni suatu shalat sunnah pun setekun  beliau melaksanakan shalat sunnah dua rakaat sebelum Subuh”. (Muttafaq alaih).

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam menjelaskan keutamaanya dalam hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiallahu Anha bahwa beliau bersabda;

 “Dua  rakaat salat sunnah sebelum subuh lebih baik daripada dunia beserta isinya”.  (HR. Muslim).

Bersambung ke tulisan berikutnya. [sym].

Sumber: Panduan Adab-Adab Shalat Untuk Meraih Kesempurnaan Shalat, Syaikh Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah.

Kaca yang Pecah, Berpikir Positif Menyikapi Kenyataan

Kaca yang Pecah Berpikir Positif Menyikapi Kenyataan

Berpikir Positif

 

KACA YANG PECAH…

Boleh jadi,

sekeping celah yang terpecah

pada selembar kaca jendela

memberi harapan baru untuk jiwa.

Tetaplah (berpikir) positif.

Tetaplah berindah-sangka kepada Sang Pencipta.

Tak semua retak itu berakhir pilu.

Mungkin retak itu sebuah awal tak terduga

untuk sebuah jalan keluarmu.

Pahamilah,

Kita mungkin takkan mampu

mengubah kenyataan.

Tapi engkau -insya Allah-mampu

mengubah cara pandangmu

terhadap kenyataan itu.

 

Akhukum,

Muhammad Ihsan Zainuddin

——–

P.S:

Jangan lupa ke kanal Telegram saya:

t.me/mihsanzainuddin

Jangan lupa donlot E-book

“Bahasa Arab itu Gampang!”

di http://ihsanzainuddin.com

Baca juga puisi lainnya :

 – Nasihat Terindah

Asmaul Husna [25,26]: Al-Mu’idz dan Al-Mudzil (Yang Maha Memuliakan dan Maha Menghinakan)

Asmaul Husna [25,26]: Al-Mu’idz dan Al-Mudzil (Yang Maha Memuliakan dan Maha Menghinakan)

Asmaul Husna [25,26]: Al-Mu’idz dan Al-Mudzil (Yang Maha Memuliakan dan Maha Menghinakan)

Asmaul Husna [25,26]: Al-Mu’idz dan Al-Mudzil (Yang Maha Memuliakan dan Maha Menghinakan)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman;

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ [٣:٢٦]

Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Qs. Ali Imran:26).

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا

“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya”. (Fathir:10).

Allah Ta’ala lah yang memuliakan dan menghinakan. Orang yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala niscaya akan menjadi benar-benar mulia. Dia akan mempunyai kemuliaan, kekuatan, kemenangan atas hawa nafsunya dan atas musuh-musuhnya.

Orang-orang yang beriman akan dicintai Allah subhanahu wa Ta’ala dengan mengaruniai mereka kemiaan yang berasal dari kemuliaan Allah Subhanahu Wa  Ta’ala

Adapun orang-orang kafir, mereka akan dihinakan Allah di dunia, sehingga hidup mereka akan terhina dan matipun dalam keadaan hina. Sehingga kehidupan mereka di akhirat juga akan hina,  yakni dimasukkan ke dalam neraka.

Setiap orang yang dimuliakan Allah subhanahu wa ta’ala akan merasa cukup hanya dengan Allah Subhanahu Wa ta’ala dan dia tidak merasakan kebutuhan kepada manusia. Mereka juga merasa ridha dengan ketentuan Allah Subhanahu Wa ta’ala atas diri mereka.

Sedangkan orang-orang yang dihinakan oleh Allah akan dibuat selalu mengikuti hawa nafsu, perbuatan, dan pemikiran yang buruk. Mereka juga akan selalu tunduk dan menuruti segala perintah manusia, demi mendapatkan sesuatu dari mereka.

Dua nama ini juga seringkali disebutkan bersamaan untuk menunjukkan betapa Allah Subhanahu Wa Ta’ala memuliakan dan menghinakan manusia berdasarkan hikmah-Nya.  (Syarah Singkat Asmaul Husna, Mustafa Wahbah )

Berantas Buta Huruf Al-Qur’an, Wahdah Islamiyah Jakarta Gelar TOT Pengajar Al-Qur’an Berskala Nasional

Wahdah Islamiyah Jakarta Gelar TOT Pengajar Al-Qur'an Berskala Nasional

Wahdah Islamiyah Jakarta Gelar TOT Pengajar Al-Qur’an Berskala Nasional

(JAKARTA) wahdahjakarta.com-, Metode Belajar Al Qur’an dari Nol Khusus Dewasa (DIROSA) adalah metode yang akhir-akhir ini sangat populer di Nusantara, khususnya di daerah Ibukota. Banyak halaqoh-halaqoh yang sukses membina peserta yang sebelumnya tidak tahu huruf Al Qur’an sama sekali hingga lancar membaca Al Qur’an bahkan sampai menjadi salah satu pengajar Al Qur’an dengan metode ini.
Namun disamping itu masih ada beberapa kekurangan yang perlu diberbaiki dalam pengembangan Dirosa di beberapa daerah nusantara, sehingga daerah tersebut masih belum maksimal dalam mengembangkan metode ini. Diantara faktor penyebabnya adalah kurangnya pelatihan-pelatihan upgrading di daerah tersebut sehingga banyak daerah masih belum inovatif dan kurang dinamis dalam pengembangan metode Dirosa. Kurangnya kualitas SDM pengajar Dirosa juga merupakan salah satu faktor penyebab dakwah qur’ani tersebut masih ‘ngadat’ dan kurang kreatif.
Untuk itu, Tim Dirosa Wahdah Islamiyah Jakarta/LP3Q mengadakan Training Of Trainer (TOT) DIROSA berskala Nasional dengan tujuan agar kekurangan-kekurangan tersebut bisa tercover dengan baik dan kualitas SDM bisa ditingkatkan.
Acara ini akan digelar pada 31 Agustus hingga 2 September 2018 dengan tema “Meningkatkan Profesionalisme Trainer DIROSA” dan akan dihadiri beberapa daerah seperti Jawa Barat, Banten, Kalimantan Barat, Lampung, dll. Rencananya acara ini akan bertempat di Taman Mini Indonesia Indah ini akan dihadiri langsung oleh Ustadz Komari, S.Pd sebagai penyusun metode ini. Kehadiran beliau diharapkan dapat memotivasi sekaligus memberikan bimbingan kepada 40 lebih Trainer Dirosa yang akan hadir dari berbagai daerah di Nusantara sehingga kualitas para Trainer tersebut bisa ditingkatkan lagi baik dari segi mental maupun ilmu pengetahuan.
“Kita akan serius dalam membina para trainer sehingga kualitas trainer DIROSA di Nusantara dalam dakwah qur’ani ini bisa dimaksimalkan dan merealisasikan tujuan dari dakwah ini yakni membebaskan masyarakat di nusantara dari buta huruf Al Qur’an”, ujar Hermawan Sumarlin, selaku ketua pelaksana dauroh akbar ini. [fadl]

Seperti Inilah Interaksi Para Salafus shalih dengan Al-Qur’an

Seperti Inilah Para Salaf Berinteraksi dengan Al-Qur’an

Seperti Inilah Para Salaf Berinteraksi dengan Al-Qur’an

Al-Qur’an merupakan kunci kejayaan serta rahasia kemuliaan dan kebahagiaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

” إن الله يرفع بهذا الكتاب أقواماً ويضع به آخرين “

Sesunggunya Allah memuliakan dan menghinakan suatu kaum dengan al-Qur’an.” (HR. Muslim, Ahmad, Ibnu Majah, dan Ad-Darimi).

Lafadz ini terdapat dalam Shahih Muslim. Sedangkan dalam lafadz ad-Darimi berbunyi;

” إن الله يرفع بهذا القرآن…”

“Sesungguhnya Allah memuliakan dengan al-Qur’an ini (HR.Ad-Darimi)

Maksudnya kemuliaan dan kehinaan suatu, kaum, bangsa, dan ummat sangat ditentukan oleh kadar perlakuan mereka terhadap al-Qur’an. Jika mereka memuliakan al-Qur’an maka Allah memuliakan mereka. Sebaliknya jika mereka mengetepikan al-Qur’an, maka kehinaan akan Allah timpakan kepada mereka.

Tentu saja manusia paling mulia yang dimulikan oleh Allah lantaran perlakuan mulia mereka terhadap al-Qur’an –setelah Rasulullah- adalah generasi awal ummat ini. Mereka yang biasa dikenal dengan sebutan salafus Saleh digelari oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai generasi terbaik Islam. Nabi mengatakan dalam sabdanya:

خير الناس قرني، ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم

Sebaik-baik manusia adalah generasiku (para sahabat), kemudian yang setelah mereka (para tabi’in), lalu yang setelah mereka (tabi’ tabi’in)”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dan tidak dapat dipungkiri bahwa, salah satu sebab kemuliaan dan kejayaan mereka adalah lantaran berpegang teguh dengan al-Qur’anul Karim. Oleh karena itu, bagi yang ingin mengikuti jejak mereka hendaknya mengenali manhaj dan metode mereka dalam berinteraksi dengan al-Qur’an. Syekh Dr. Muhammad ibn Abdillah Rabi’ah hafidzahullah mengatakan bahwa, “Siapapun yang mengamati kehidupan para salaf, akan menemukan bahwa mereka memiliki manhaj tertentu dalam berinteraksi dengan kitab suci yang agung ini (al-Qur’an)”. Selanjutnya, dosen di Universitas Qasim Saudi Arabia anggota ini menyebutkan empat metode para salaf dalam berinteraksi dengan al-Qur’an:

Mengenali Keagungan dan Maksud Diturunkannya Al-Qur’an

Hal itu dimaksudkan untuk menumbuhkan kecintaan dan pengagungan terhadap al-Qur’an. Sebab kecintaan, pengagungan, dan keimanan terhadapnya dapat menumbuhkan husnut ta’amul (interaksi yang baik) dengan al-Qur’an. Karena barang siapa yang mengetahui nilai sesuatu maka ia kan memperhatikannya. Sikap seperti ini dapat kita saksikan pada kehidupan para generasi awal Islam. Perkataan dan perbuatan mereka mencerminkan kecintaan, pengagungan, dan keimanan terhadap al-Qur’an. Untuk lebih jelasnya mari simak perkataan Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berikut ini.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

 “Sesungguhnya al-Qur’an ini adalah ma’dubah (jamuan)-Nya Allah, maka pelajarilah (nikmatilah) jamuan-Nya semampu kalian. Al-Qur’an ini adalah tali Allah yang Dia perintahkan untuk –berpegang- dengan nya. Ia adalah cahaya Allah yang terang, obat penawar yang sangat bermanfaat, serta pelindung bagi yang berlindung dengannya”.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

 Allah menjamin orang yang membaca al-Qur’an tidak akan sesat di dunia dan tidak akan sengsara di akhirat. Lalu beliau membaca firman Allah;

فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ

lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.“(QS. Thaha:123). (Mustadrak, Imam Hakim, 2/413, no.3438).

Yang dimaksud dengan membaca adalah mengikuti petunjuknya sebagaimana diterangkan dalam ayat tersebut.

Saat ini kita sangat butuh untuk membina hati-hati kita untuk mencintai dan mengagungkan al-Qur’an. Karena sikap pengagungan, kecintaan yang tulus, dan keimanan terhadap al-Qur’an telah berkurang pada sebagian kalangan. Hal ini menyebabkan lemahnya interaksi kita dengan al-Qur’an. Solusinya adalah menanamkaan pengagungan dan kecintaan terhadap al-Qur’an dalam hati-hati kita dan membangun kesadaran tentang perlunya merealisasikan tujuan diturunkannya al-Qur’an.

Belajar dan Mengajarkan Iman Sebelum Al-Qur’an

Maksudnya, terlebih dahulu menanamkan dalam hati-hati mereka pengagungan kepada Allah, serta pengagungan terhadap perintah dan larangan-Nya. Sehingga mudah bagi mereka menerima dan merespon hukum-hukum syariat. Ini merupakan aspek paling uatama dalam menghidupkan tarbiyah Qur’aniyah dalam jiwa setiap orang.

Manhaj inilah yang diterapkan al-Qur’an sendiri dalam membina para sahabat di awal-awal islam. Dimana ayat-ayat al-Qur’an yang pertama-tama turun dalam ayat-ayat Makkiyah menanamkan keimanan kepada Allah dan hari akhir. Sehingga tumbuh dalam hati mereka iman yang shahih, pengagungan terhadap al-Qur’an. Pada puncaknya hal itu mengondisikan jiwa mereka untuk menerima taujihat (arahan-arahan) al-Qur’an secepatnya.

Salah seorang sahabat nabi yang merupakan salah satu murid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Jundub ibn ‘Abdillah mengatakan,

kami bersama nabi shallallahu ‘alaiahi wa sallam, saat kami pemuda, kami belajar iman sebelum al-Qur’an. Lalu kami belajar al-Qur’an, sehingga iman kami bertambah. (Sunan Ibnu Majah, 1/74, no.64, dan Imam Tarikh al-Kabir, 2/221, Sunanul Kubro , 2/49, no. 5498, Mu’jam al-Kabir, 2/225 no. 1656, dan dishahihkan oleh Syekh al-Bani dalam Shahih Sunan Ibn Majah, 1/16, no.52)

Seperti itulah nabi memulai dengan menamkan keimanan dalam hati-hati mereka. Sehingga ketika iman telah merasuk dalam hati, mereka telah siap untuk menerima al-Qur’an, siap diarahkan dan dibimbing oleh al-Qur’an. Maka pada puncaknya, iman mereka makin bertambah.sehingga mudah menerima pesan-pesan dan arahan-arahan al-Qur’an.

Memposisikan al-Qur’an Sebagai Surat ‘’Risalah” dari Allah

Para salaf rahimahumullah menempatkan al-Qur’an sebagai surat dari Allah yang ditujukan kepada mereka untuk diamalkan. Oleh karena itu mereka selalu membaca dan mengamalkannya siang dan malam. Imam Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian memandang al-Qur’an sebagai surat dari Tuhan mereka, oleh karena itu mereka mentadaburinya pada malam hari dan mengamalkannya pada siang hari

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa,

 “Diantara kami –ada- yang mempelajari sepuluh ayat al-Qur’an, ia tidak melewati ayat-ayat tersebut hingga ia mengetahui ma’nanya dan mengamalkannya”.

Artinya ia tidak berpindah ke ayat berikutnya, sebelum memahami makna kesepuluh ayat tersebut dan mengamalkan kandungannya.

Ibu Mas’ud juga berkata,

Seorang pengemban al-Qur’an hendaknya dikenali [dengan shalatnya] pada waktu malamnya saat orang-orang sedang tidur, [dengan puasanya] pada siang hari saat orang-orang sedang makan, dengan sedihnya saat orang-orang bergembira ria, dengan tangisannya saat orang tertawa, dengan diamnya saat orang-orang berbicara dan dengan khusyu’nya saat orang-orang angkuh.

Manhaj inilah yang telah berhasil menelorkan generasi awal Islam. Andaikan kita bertalaqqi al-Qur’an seperti geerasi awal mengambilnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu kita jadikan sebagai metode dalam membina generasi muda Islam hari ini, maka kita akan meyaksikan pengaruh dan warna al-Qur’an pada jiwa dan perilaku kaum Muslimin.

Membaca al-Qur’an dengan Tartil dan Perlahan-lahan Serta Membacanya dalam Shalat Malam

Hal ini nampak dalam kehidupan para salaf, sebagaimana dikisahkan oleh Ibnu Abi Mulaikah rahimahullah,

 ‘’Aku pernah safar bersama ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dari Makkah ke Madinah. Beliau melakukan qiyamullail dengan membaca al-Qur’an huruf demi huruf.kemudian beliau menangis hingga terdengar isak tangis beliau”. (Mukhtashar Qiyamul Lail, hlm.131).

Beliau juga mengingatkan agar kita janganlah membaca al-Qur’an dengan cepat, “janganlah kalian membaca al-Qur’an dengan cepat seperti membca sya’ir dan prosa. Berhentilah sejenak pada keajaiban-keajaibannya, gerakkan hati dengan ‘ajaib-ajaib tersebut. Janganlah yang menjadi target kamu (sampai) pada akhir surat”, tegasnya.

Membaca dengan tartil dan perlahan-lahan yang disertai tadabbur (perenungan) lebih merasuk ke dalam jiwa. Apatah lagi jika dilakukan dalam shalat atau diwaktu malam, sebagaimana dikatakan oleh Syekhasy-Syinqithiy rahimahullah,

Tidak ada yang dapat meneguhkan al-Qur’an dalam dada, serta memudahkan menghafal dan memahaminya, kecuali dengan membacanya dalam shalat di tengah malam (Muqaddimah Adhwaul Bayan, 1 /4).

Oleh karena itu, Allah memerintahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membaca al-Qur’an secara tartil dalam shalat malam. Karena menurut Ibnu Abbas hal itu lebih memudahkan untuk memahami al-Qur’an (ajdaru an yafqaha al-Qur’an).

Penutup

Al-Qur’anmerupakan sumber inspirasi dan energi kehidupan para salaf. Mereka mementingkannya melebihi kepentingan mereka terhadap makanan dan minuman. Sebab mereka sadar, bahwa kehidupan yang hakiki danya dapat diraih dengan mengikuti petunjuk al-Qur’an. Oleh karena itu, jika ingin menikmati lezatnya al-Qur’an mari mengikuti manhaj dan metode mereka dalam berinteraksi dengan al-Qur’an. Ja’alanallahu waiyyakum min ashabil Qur’an. Wallahu a’lam bis Shawab. [sym].

(Manhajus Salaf fi Talaqqil Qur’an wa Tadabburihi dalam Tsalatsuna Majlisan fit Tadabbur; Majalis Imaaniyah wa ‘Ilmiyyah, hlm.43-50)

Menggenggam Harapan Meraih Kejayaan (Khutbah Idul Adha 1437 H)

Menggenggam harapan meraih kejayaan

Menggenggam harapan meraih kejayaan

Menggenggam Harapan Meraih Kejayaan

(Khutbah Idul Adha 1437 H)

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍفِي النَّارِ

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa Ilaaha illallah wallaahu Akbar, Allahu Akbar walillaahil hamd …

Kaum Muslimin a’azzakumullah, semoga Allah memuliakan kita semua.

Hari ini, saat kita menjejakkan kaki di sini, di atas sepenggal bumi Allah, bertakbir membesarkan Allah dengan penuh suka cita, maka di tanah haram sana saudara-saudara kita yang sedang melaksanakan ibadah haji pun sedang menyempurnakan prosesi ibadah hajinya dan di setiap negeri kaum muslimin terdengar takbir yang bertalu-talu, walau itu dari tenda pengungsian di Palestina, atau dari reruntuhan gedung yang runtuh dihantam bom di Syria, atau bahkan dari jeruji-jeruji besi penjara rezim tirani di Myanmar, takbir masih menggema, dan akan terus menggema biiznillah. Karena kita adalah umat pemenang, bukan umat pecundang.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa Ilaaha illallah wallaahu Akbar, Allahu Akbar walillaahil hamd…

 

Kaum muslimin rahimakumullah,

 

Perjalanan  waktu demikian cepat, silih berganti generasi demi generasi menghuni bumi milik Allah ini. Peristiwa demi peristiwa menghiasi jalannya sejarah manusia, ada tangis dan tawa, ada suka dan duka, bahkan di tengah terik mentari atau dinginnya malam ada darah dan air mata.

وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَىٰ . وَأَنَّهُ هُوَ أَمَاتَ وَأَحْيَا

 

“..dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis,dan bahwasanya Dialah yang mematikan dan menghidupkan.” (QS. An Najm : 43-44)

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa Ilaaha illallah wallaahu Akbar, Allahu Akbar walillaahil hamd …

Diantara peristiwa penting sejak adanya manusia, adalah apa yang kita peringati hari ini. Peristiwa yang hanya  terjadi pada satu keluarga di bumi  namun ternyata sangat bermakna dalam pandangan Allah Ta’ala Sang Penguasa langit dan bumi. Itulah peristiwa Ibrahim Alaihissalam, beserta anaknya Ismail Alaihissalam dan Istrinya Hajar Alaihassalam. Peristiwa yang agung, yang karenanya Allah perintahkan kita berkumpul hari ini, tentu dengan segala hikmah dan pelajaran yang dapat kita petik di dalamnya .

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa Ilaaha illallah wallaahu Akbar, Allahu Akbar walillaahil hamd …

 

Ummatal Islam, a’aanakumullah…

 

Mari sejenak menengok negeri yang kaya raya ini, yang lautnya membentang hingga tiga benua, gunung-gunungnya yang tinggi menjulang, sawah ladang seluas mata memandang, semua ada di negeri ini, masyaAllah.Namun keindahan dan kekayaan alam karunia Allah ini menjadi terabaikan dengan kegaduhan politik dan kesibukan para elit menduduki pusat-pusat kekuasaan. Jika semua hanya sibuk berebut kekuasaan dan pengaruh maka ujung-ujungnya pasti rakyatlah yang dirugikan dan dikorbankan.

 

Kekuasaan sejatinya adalah titipan Allah untuk mengawal dan mengatur manusia menjadi hamba Allah yang taat, hingga dengan izin-Nya terwujud masyarakat yang aman, sejahtera lahir dan batin. Inilah kekuasaan yang berbasis TAUHID, bahwa negara harus berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa. Allah Subhanahu wata’ala.Mari tadabburi Firman Allah:

فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ. الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآَمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ

 

“….Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar danp mengamankan mereka dari ketakutan.” (QS. Al-Quraisy: 3-4)

 

Perintah bertauhid dan hanya menyembah kepada Allah adalah pembuka segala kebaikan, kesejahteraan dan keamanan yang hakiki.

 

Hal ini juga menjadi konsekwensi untuk memberikan loyalitas kepada orang-orang yang beriman dan bertauhid, termasuk dalam masalah kepemimpinan dan kekuasaan.

وَلِلّٰـهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِۦ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلٰكِنَّ الْمُنٰفِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ

 

“Dan  Izzah / kejayaan itu hanyalah bagi Allah dan Rasul-Nya serta  orang-orang yang beriman, tetapi orang-orang munafik tidak mengetahui. “(QS Al-Munafiqun : 8)

 

Umat Islam adalah pewaris sejati negeri ini , jangan sampai tergadaikan pada tangan- tangan yang tidak pernah menengadah berdoa dan mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala .

 

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَتُرِيدُونَ أَن تَجْعَلُوا لِلَّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا مُّبِينًا

 

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?” (QS An-Nisa : 144)

 

Allah Ta’ala mengingatkan:

 

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ

“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). (QS. Al-Maidah : 55)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa Ilaaha illallah wallaahu Akbar, Allahu Akbar walillaahil hamd ….

Ummmatal Islam, hafizhakumullah….

Kita cinta negeri kita, kita cinta tanah tumpah darah kita, karena ia adalah karunia Allah, olehnya itu cinta kita padanya adalah karena Allah dan hanya untuk Allah. Cinta inilah yang membuat kita akan bertekad menjaganya, memeliharanya, dan mengisi kemerdekaannya dengan iman dan keamanan, dengan kerja keras dan pengkhidmatan. Kemerdekaan negeri ini diraih dan direbut dengan mengorbankan sedemikian banyak darah para syuhada yang meneriakkan takbir yang hingga kini  takbir itu masih terus menggema dalam relung jiwa muslim Indonesia. Alangkah hambarnya nilai  kemerdekaan itu jika  kita hanya memaknainya dengan pesta dan  hura-hura, bahkan dengan sebagian perkara yang menjurus pada pelanggaran ajaran Allah yang telah mengaruniakan kemerdekaan tersebut.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa Ilaaha illallah wallaahu Akbar, Allahu Akbar walillaahil hamd …

 

Kaum muslimin rahimakumullah ….

 

Setelah iman kepada Allah, maka persaudaraan karena Allah adalah merupakan salah satu bukti iman itu. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” [HR. Muslim]

 

Persaudaraan dan ukhuwah ini sangat mutlak untuk dijaga dan dipupuk, karena itulah sumber kekuatan umat untuk membawa rahmat bagi semesta. Rusak dan pecahnya ukhuwah akan menghancurkan umat dari dalam, Firman Allah :

 

وَأَطِيعُوا الله وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّالله مَعَ الصَّابِرِينَ

“Dan taatlah kalian pada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kalian saling berselisih yang menyebabkan kalian jadi gentar dan hilanglah kekuatan kalian. Dan bersabarlah kalian, karena sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang sabar.” (QS. Al Anfal : 46)

Menjaga ukhuwah dan persaudaraan adalah berarti menjaga akhlak dan perilaku serta tutur kata, akhlak yang baik akan berbuah persaudaraan yang manis, sebaliknya akhlak yang buruk akan berbuah pahit berupa kebencian, pertikaian dan perpecahan, wallahul Musta’an.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa Ilaaha illallah wallaahu Akbar, Allahu Akbar walillaahil hamd …

 

Kaum Muslimin yang disayangi Allah…

Mencetak manusia beraqidah dan berakhlak mulia ternyata harus dimulai dari keluarga, dimulai dari unit terkecil dari masyarakat kita. Tanpa mengabaikan peran ibu yang sangat sentral, dalam kesempatan ini kami ingin ingatkan kepada para ayah akan tanggung jawabnya dalam membina dan mendidik anak-anaknya, jadilah seperti Ibrahim Alaihissalam, sang ayah teladan, yang membina anak-anaknya dengan tauhid dan berpegang teguh pada Islam. Allah mengabadikan wasiat indah sang ayah agung ini di dalam al-Qur’an,

‎وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلاَ تَمُوتُنَّ إَلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.” (QS. Al-Baqarah : 132).

 

Wahai para ayah…!!!

 

Inilah sebaik-baik wasiat yang kita wariskan pada anak-anak kita. Kita boleh berbangga dengan putra-putri kita yang berhasil mencatatkan namanya di sekolah-sekolah unggulan, di jurusan-jurusan favorit. Namun, sebelum itu semua, ada baiknya kita memeriksa tingkat perhatian dan pengamalan putra-putri kita terhadap agama yang mulia ini. Sebagaimana Nabi Ibrahim memperhatikan keimanan anak-anaknya. Apalah arti pendidikan yang demikian tinggi, jika hanya melahirkan manusia yang enggan merendahkan diri  bersujud pada Sang Ilahi.

 

Wahai para ayah….!!!

 

Kita begitu sedih dengan berita di media tentang seorang anak bersama dengan ayahnya menganiaya gurunya di sekolah. Mari kita mengambil teladan pada Nabi Ibrahim yang membangun budaya dialog dengan anak-anaknya, dengan cara yang begitu bijak dan jauh dari sifat arogansi.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

 

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. As-Shaffat : 102).

 

Kasih sayang ini akan berbuah sikap welas asih dan empati pada anak dan keluarga kita, sebaliknya sikap kasar dan arogan juga akan membentuk mereka  menjadi kasar dan arogan pula. Perhatikan Ibrahim Alaihissalam ketika menyampaikan perintah Allah kepada anaknya dalam nuansa dialog : ” … Bagaimana pendapatmu? “Sekalipun itu perintah Allah yang tidak boleh  ditentang, namun cara menyampaikan yang lembut justru membuat sang anak menjadi yakin dan kuat melaksanakan perintah Allah itu.

 

Wahai para ayah, para Aba… para bapak… yang terhormat…

 

Hadirlah dalam jiwa anak-anak kita, bersamai mereka dalam iman dan perjuangan. Ada isyarat lembut dalam Firman Allah:

 

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ

 

Diantara  penafsiran ulama sebagaimana disebutkan Ibnul Jauzy –rahimahullah– dalam kitab Zaadul Masiir, bahwa Ismail Alaihissalam telah sanggup bersama dengan ayahnya Ibrahim Alaihissalam untuk beribadah, padahal kita tahu bahwa Ibrahim Alaihissalam meninggalkan anak dan istrinya demikian jauh, namun ada kata Ma’ahu yang artinya Ismail Alaihissalam bersama dengannya yaitu Ibrahim Alaihissalam walau jarak demikian jauh, medan yang sulit, suasana psikologis antara istri pertama dan kedua, namun hal itu tidak menghalangi Ibrahim Alaihissalam untuk membersamai anaknya Ismail Alaihissalam hingga tumbuh menjadi seorang pemuda shaleh yang sabar dan tangguh.

 

Wahai para ayah …..!!!

 

Jika demikian, apa yang menghalangi anda untuk hadir dalam jiwa para anandamu?, membersamai mereka dalam ibadah dan perjuangan. Alangkah indahnya munajat Ibrahim Alaihissalam dan Ismail Alaihissalam ketika mereka selesai membangun ka’bah .

 

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَآ أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.Wahai Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah : 127-128)

 

Kebersamaan yang indah di dunia dan berbuah lebih indah di Surga.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa Ilaaha illallah wallaahu Akbar, Allahu Akbar walillaahil hamd …

 

Para pemuda Islam yang kami banggakan… hafizhakumullah…

Jadikan dirimu bagaikan Ismail Alaihissalam, Ismailkan dirimu. Tumbuhlah dalam ketaatan dan perjuangan menegakkan kebenaran. Narkoba, pornografi dan sederet perbuatan dosa dan kenakalan hanya akan meletihkan jiwamu dan membinasakan jasadmu. Lihatlah Ismail Alaihissalam yang masih demikian belia namun demikian taat pada Tuhannya, demikian berbakti kepada orangtuanya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa Ilaaha illallah wallaahu Akbar, Allahu Akbar walillaahil hamd …

 

Wahai para bunda, para muslimah tangguh yang kami muliakan…

 

Cukuplah Hajar menjadi cermin yang demikian indah mempesona, ketegarannya dalam iman dan tawakkal, usahanya yang tidak mengenal lelah di tanah tandus tiada berpenghuni, kesetiannya pada suami walau harus rela ditinggal pergi, ketekunannya mendidik anak yang kemudian terpilih menjadi nabi.

 

Subhanallah… Sekali lagi, bercerminlah pada wanita mulia nan kuat ini.

 

Merekalah manusia – manusia terpilih, terabadikan oleh Ilahi, kenangan indah perjuangan mereka hingga kitapun hari ini berkumpul di sini, mengenang mereka agar bara iman mereka turut menghangatkan jiwa kita untuk berjuang dan berkorban demi Iman dan Islam.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa Ilaaha illallah wallaahu Akbar, Allahu Akbar walillaahil hamd…

 

Sebelum mengakhiri khutbah ini, berikut panduan singkat pelaksanaan ibadah kurban.

 

Hewan yang dapat diqurbankan adalah domba yang genap berusia enam bulan, atau kambing yang genap berusia setahun dan sapi yang genap berusia dua tahun, perhitungan hijriyah. Tidak cacat atau berpenyakit yang bisa berpengaruh pada dagingnya, jumlah maupun rasanya, misalnya: mata picak, atau kaki pincang dan penyakit pada kulit, kuku atau mulut. Seekor domba atau kambing hanya mencukupi untuk kurban satu orang saja, sedangkan seekor sapi boleh berserikat untuk tujuh orang, kecuali berserikat pahala maka boleh pada semua jenis tanpa batas. Sebaiknya pemilik kurban yang menyembelih sendiri hewan qurbannya, tetapi bisa diwakilkan kepada penjagal, dengan syarat seorang muslim yang menjaga shalatnya, dan mengetahui hukum-hukum menyembelih, juga upahnya tidak boleh dari salah satu bagian hewan qurban itu sendiri, seperti kulit atau dagingnya, meskipun penjagal atau pengulit bisa mendapat bagian dari hewan qurban sebagai sedekah atau hadiah. Waktu penyembelihan hewan qurban, yaitu seusai pelaksanaan shalat Idul Adha hingga tiga hari tasyriq setelahnya. Hewan qurban yang telah disembelih dapat dibagi menjadi tiga bagian, sepertiga buat pemiliknya, sepertiga buat hadiah dan sepertiga buat sedekah kepada fakir miskin. Pahala dari hewan qurban bergantung kepada niat yang ikhlas orang yang berqurban, oleh karena itu mari menjaga keikhlasan ketika melakukan ibadah mulia ini.

 

Selanjutnya mari kita tundukkan jiwa raga seraya berdoa dan bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala…

الحمد لله رب العلمين والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

 

Ya Allah, Rabb Yang Maha Pengampun, ampuni dan maafkan segenap dosa kami, yang nampak maupun tersembunyi, jika Engkau tak maafkan kami, kepada siapa kami akan memohon maaf dan ampunan.

 

Wahai Rabb yang Maha Penyayang, sayangi kami dan seluruh hamba-Mu yang beriman, dimanapun mereka berada Ya Allah…

 

Basuhlah air mata kesedihan mereka yang masih berteduh di tenda- tenda pengungsian dengan kasih-Mu yang tiada berbatas. Tolong mereka dari segala kezaliman Ya Rabbana, kuatkan azam mereka, beri mereka gembira di hari ini dan seterusnya ya Rabbana.

 

Ya Allah karuniakan kami keimanan yang sejati, keamanan yang hakiki dan kesejahteraan yang Engkau berkati.

 

Ya Allah berkati keluarga dan anak- anak kami dengan keshalehan dan ketaqwaan, satukan kami di dunia dalam ketaatan pada-Mu dan akhirat dalam Jannah-Mu yang kekal abadi.

 

Wahai Rabb Maha Kuat dan Perkasa, berkati negeri kami dengan pemimpin yang beriman pada-Mu, yang bertaqwa dan berakhlak mulia, serta penuh santun menyayangi kami kerena-Mu Ya Allah.

 

Ya Allah ampuni dan sayangi orangtua kami yang tercinta, izinkan kami berbakti pada mereka saat bersama di dunia ataupun jika mereka telah tiada, ridhakan hati mereka buat kami, agar kamipun menuai keridhaan-Mu.

 

Ya Allah kuatkan azam kami agar terus bersama menegakkan agama-Mu dan menyebarkan risalah-Mu. Satukan jiwa kami dalam cinta pada-Mu dan padukan langkah kami dalam membela syari’at-Mu.

 

Jadikan istri-istri kami bidadari di dunia ini bagi kami dengan keshalehan dan kecantikan jiwanya agar kami dapat membersamai mereka dalam ketaatan pada-Mu, jadikan kami suami yang terbaik bagi mereka dunia dan akhirat.

 

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلِّ اللّهم وَسَلِّمْ على نبينا محمد وعلي آله و صحبه أجمعين

 


 

Sumber: Khutbah Idul Adha 1437 H Wahdah Islamiyah

Jamaah Shalat Idul Adha Wahdah Islamiyah Doakan Masyarakat Lombok NTB

Jamaah Shalat Idul Adha Wahdah Islamiyah Doakan Masyarakat Lombok NTB

Jamaah Shalat Idul Adha Wahdah Islamiyah Doakan Masyarakat Lombok NTB

Jamaah Shalat Idul Adha Wahdah Islamiyah Doakan Masyarakat Lombok NTB

Makassar (wahdahjakarta.com),- Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Wahdah Islamiyah menggelar shalat idul Adha di lapangan Pemprov, jl. Inspeksi PAM kecamatan Manggala, Makassar, Rabu 21 Agustus 2018. Imam sekaligus khatib ustadz Harman Tajang, Lc. M.HI. membacakan khutbah dengan judul pengorbanan berbuah surga.

Dihadapan ribuan jamaah, dalam khutbahnya ustadz Harman menceritakan teladan pengorbanan orang-orang shaleh terdahulu yang dengannya mereka menuai janji surga dari Allah Ta’ala.

Ustadz Harman juga menggambarkan adanya orang-orang yang berkorban dengan harta dan jiwanya namun pengorbanan justru berbuah neraka.

Ustadz Harman yang merupakan sekretaris Dewan Syariah Wahdah Islamiyah mengajak para jamaah untuk bermuhasabah diri, pengorbanan apa yang telah dipersembahkan untuk mendapatkan surga dari Allah?

Dalam doa penutup khutbahnya ustadz Harman juga mendoakan masyarakat Lombok Nusa Tenggara Barat yang sementara diuji dengan musibah gempa berkali-kali.

“Ya Allah, Kasihanilah saudara-saudara kami di Lombok, yang terkena dampak bumimu yang berguncang, jika itu adalah hukuman atas dosa-dosa maka terimalah tobat kami, jika itu adalah ujian beri mereka kesabaran, basuhlah air mata kesedihan mereka, angkatlah bencana dan malapetaka yang menyelimuti mereka, gantikanlah ketakutan mereka dengan rasa aman, kedinginan mereka di tempat-tempat pengungsian dengan kehangatan, kelaparan dengan rasa kenyang, air mata dengan senyum bahagia. Ampuni yang telah menjadi korban, terima mereka sebagai syahid disisiMu, dan berilah kesabaran bagi keluarga yang ditinggalkan.” Pinta ustadz Harman dalam doanya.

Jamaah tampak khusyuk mengamin doa-doa yang dilafalkan khatib.

Seusai rangkaian shalat idul Adha, tampak jamaah dan panitia bekerjasama membersihkan lapangan pemprov dari sampah koran bekas, gelas air kemasan. Ini adalah implementasi dari jargon kebersihan dari Wahdah Islamiyah “Lisa Dara Apik” (Lihat sampah ambil, tidak rapi, rapikan!”).

Lapangan pemprov pun kembali bersih seperti sediakala.[]

Pengorbanan Berbuah Surga (Khutbah Idul Adha 1439 Wahdah Islamiyah)

Pengorbanan Berbuah Surga

(Khutbah Idul Adha 1439 Wahdah Islamiyah)

‎إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

‎مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

‎﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾

‎‎﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا﴾

‎‎‎﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا﴾

‎أَمَّا بَعْدُ : فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.

Dipagi hari yang syahdu ini, ditengah gemuruh lantunan takbir, tahmid dan tahlil, diiringi dengan tasbih para makhluk, burung-burung, pepohonan, lautan dan daratan serta seluruh yang ada di langit dan di bumi,

﴿تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِن لَّا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا﴾

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun”. (QS. al-Isra’ : 44)

Tasbih berhias suka cita yang terkadang tumpah dalam linangan air mata bahagia, maka kata syukur dan pujianlah yang pantas kita ucapkan dan kita dendangkan sebagai wujud kebahagiaan atas segala nikmat yang tak terhingga dari Zat Yang Maha Memberi. Betapa banyak dosa yang kita angkat kepada-Nya sedang Dia (Allah) membalas dengan limpahan nikmat, rahmat serta ampunan yang tiada batasnya. Kita bersimbah dosa, Dia menutupinya dan senantiasa menyeru kita untuk kembali kepada-Nya..

﴿قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ﴾

Katakanlah: “Hai wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)”. (QS. az-Zumar : 53-54)

Atas segala nikmat itulah, apakah tidak sepantasnya kita lebih giat beribadah dan menyembah kepada-Nya?

Atas segala karunia itulah, apakah tidak sepantasnya kita semakin menghambakan diri kepada-Nya?

Atas segala pemberian itulah, apakah tidak pantas kita berkorban untuk meraih yang lebih tinggi yang telah dijanjikan-Nya? Itulah Surga Firdaus yang menjadikan lambung-lambung orang-orang shaleh terdahulu jauh dari pembaringan, mereka meninggalkan istirahat sejenak untuk beristirahat selamanya, mereka bersabar dengan payahnya ketaatan sesaat yang akan berganti dengan kenikmatan tiada tara, mereka bersabar meninggalkan maksiat demi diselamatkan dari penderitaan tak berpenghujung yaitu neraka..

﴿تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ﴾

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan”. (QS. as-Sajadah : 16)

Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil hamd…

PENGORBANAN BERBUAH SURGA…

Diantara pengorbanan yang tertulis indah dalam tinta sejarah adalah pengorbanan seorang hamba yang disifatkan sebagai ‘ummat’ dalam kesendiriannya..

﴿إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ﴾

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang ‘Ummat’”. (QS. an-Nahl : 120)

Diangkat menjadi kekasih Allah ‘khalilullah‘, bapak semua nabi dan rasul, Nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam begitu pula putranya Ismail ‘alaihissalam. Keduanya mengajarkan kepada kita arti pengorbanan yang sebenarnya. Pengorbanan dalam melawan hawa nafsu, ajakan setan demi meraih keridhaan Tuhan yang berbuah Surga. Sejarah mengisahkan betapa hati beliau pilu bepuluh-puluh tahun lamanya sampai beliau menginjak usia senja memohon kepada Allah seorang anak, kepiluan seorang hamba yang terbisikkan dan tertumpahkan dalam doa-doa tulus, bisikan lirih namun menembus tujuh lapis langit..

﴿رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ﴾

Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh”. (QS. as-Shaffaat : 100)

Akhirnya, Allah.. Tuhan Yang Maha Mendengar mengabulkan permohonan hamba-Nya, Dia membuktikan kekuasaan-Nya ketika seluruh manusia menganggap bahwa sebuah kemustahilan beliau akan memiliki keturunan dengan usia beliau dan istrinya yang telah senja. Namun, tiada yang mustahil bagi Zat yang Maha Berkehendak…

Lahirlah sang bayi pelipur lara penyejuk jiwa, Ismail yang dikemudian hari diangkat menjadi seorang nabi yang mulia.

Ujian pengorbanan Ibrahim belumlah berhenti, datanglah titah Ilahi dalam mimpi, yang mana mimpi seorang nabi adalah ‘haq’, wahyu dari Allah, perintah untuk menyembelih putra kesayangannya ‘Ismail’… Ya Allah! Ujian apakah ini?! Anak yang lama dinanti, bertahun-tahun dipinta dalam doa, dan di usia yang sudah senja, setelah lahir Allah pun menyuruh beliau untuk menyembelihnya..

Namun Subhanallah! Semua itu dilaksanakan oleh Ibrahim dan putranya. Bisikan jiwa, godaan setan runtuh berhadapan dengan kekokohan iman dan rasa cinta pada Sang Pencipta pemilik langit dan bumi. Dan dengan segala pengorbanan itulah nama beliau diabadikan dalam kitab yang paling mulia (Al-Qur’an) yang terus dibaca hingga akhir zaman, bahkan menjadi qudwah bagi sekalian alam.

Dengan pengorbanan itulah, beliau telah mendahului kita dengan kenikmatan tiada hingga disisi Tuhan pencipta alam semesta..

﴿قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ… ﴾

Sungguh pada diri Ibrahim terdapat suri teladan yang mulia…”. (QS. al-Mumtahanah : 4)

Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahilhamd..

PENGORBANAN BERBUAH SURGA…

Kisah pengorbanan pun terus berulang, dari hamba-hamba yang shaleh…

Di suatu malam, Aisyah radhiallahu ‘anha terharu melihat kaki Rasulullah yang bengkak karena qiyam sepanjang malam, dengan penuh hiba beliau bertanya,“Ya Rasulullah, buat apa Anda sampai seperti ini, Anda yang telah mendapatkan jaminan ampun dari dosa-dosa masa silam dan yang akan datang, untuk apa semua ini?” Dengan penuh cinta beliau menjawab, “Tidakkah pantas aku menjadi hamba yang pandai bersyukur?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang merupakan kekasih Allah, pemimpin semua nabi dan rasul melalui ujian demi ujian dalam kehidupannya. Beliau rela berkorban demi membuktikan cinta beliau pada Allah. Beliau terlahir dalam keadaan yatim piatu, selama beliau berada di Makkah beliau mendapatkan intimidasi tak berperi, segala tuduhan keji beliau dapatkan (tukang sihir, tukang syair, gila dsb), beberapa kali percobaan pembunuhan beliau dapatkan, beliau ke Thaif berdakwah namun disambut dengan sambitan batu dan cemohan, sahabatnya disiksa dan dibunuhi di depan matanya dan beliau cuma bisa mendoakannya, sebagaimana doa beliau pada keluarga Yasir (Sabran Ala Yasir fainna mau’idakum Al-Jannah) ‘bersabarlah wahai keluarga Yasir, sesungguhnya tempat kembali kalian adalah Surga’. Paman beliau Abu Thalib yang merupakan pembela dan pengayom dakwah beliau meninggal, tak berselang lama sang istri tercinta ‘Khadijah’ juga meninggal di tahun yang sama, wanita yang mendampingi perjuangan beliau, wanita yang beriman ketika seluruh manusia mendustakan dakwah beliau, yang berkorban dengan segala jiwa, raga dan harta demi perjuangan dakwah Nabi, sehingga tahun itu dikenal dengan ‘tahun duka cita’, dan puncak ujian pengorbanan beliau ketika beliau dengan sedih meninggalkan kampung halaman, tempat kelahiran beliau, hijrah ke Medinah demi menolong agama Allah. Di perbatasan menuju Medinah dengan penuh kesedihan beliau seakan berbicara dengan Kota Mekah, “Sesungguhnya engkau tahu (wahai kota Mekah) engkaulah tempat yang paling aku cintai, andai pendudukmu tidak mengusirku niscaya aku tak akan meninggalkanmu).”

Setiba di Medinah ujian pun terus mendera, Sahabat-sahabat beliau berguguran di medan jihad, paman beliau Hamzah syahid di medan Uhud dengan dada terkoyak dan jantung terburai. Rumah tangga beliau diguncang fitnah ketika Aisyah dituduh melakukan perbuatan selingkuh oleh orang-orang munafik. Anak-anak beliau, beliau saksikan meninggal kecuali Fatimah yang meninggal beberapa bulan setelah kematian beliau. Sungguh ujian dan pengorbanan yang luar biasa, namun sekarang beliau telah kembali kepada Tuhannya, beristirahat dengan tenang dan di hari kiamat beliau menunggu umatnya di sebuah telaga yang jika seteguk air darinya diminum maka tidak ada rasa haus untuk setelahnya..

Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamd

Kaum Muslimin dan Muslimat Rahimakumullah..

PENGORBANAN BERBUAH SURGA..

Tak pernah berhenti di sepanjang masa..

Allah memilih diantara hamba-hamba-Nya yang dimuliakan dengan pengorbanan itu..

﴿مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا﴾

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya)”. (QS. al-Ahzab : 23)

Ada yang berkorban dengan nyawa demi mempertahankan akidah yang kokoh seperti Asiah bintu Muzahim istri Fir’aun..

Ada yang berkorban dengan dibantai berjamaah seperti kisah Ashabul Ukhdud..

Ada yang berkorban membeli surga dengan hartanya seperti Abu Bakr, Utsman bin Affan, Khadijah dan Abdurrahman bin Auf..

Ada yang berkorban dengan masa mudanya seperti Mush’ab bin Umair, pemuda kaya raya yang diboikot oleh keluarganya karena mengikuti dakwah tauhid, yang diakhir hidupnya Rasululullah terharu karena tak ada yang menutupi jasadnya kecuali sepotong kain yang jika ditarik ke kepala tersingkap kaki beliau dan jika ditarik ke kaki tersingkap kepala beliau…

Dan masih banyak lagi hamba-hamba pilihan yang mengorbankan segalanya demi membuktikan cinta pada Allah..

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd..

PENGORBANAN BERBUAH NERAKA…

Ketika sejarah menorehkan kisah pengorbanan berbuah surga maka Al-Qur’an juga menyebutkan bahwa sebagian manusia ada yang berkorban namun pengorbanan mereka berbuah azab yang pedih, kehinaan dan neraka.

Merekalah para pengusung kebatilan, mereka bekerja siang dan malam demi memadamkan cahaya agama Allah, mereka letih, begadang, dihina dan dicerca namun mereka bersabar..

﴿…فَمَا أَصْبَرَهُمْ عَلَى النَّارِ﴾

“…Betapa sabarnya mereka dengan neraka”.(QS. al-Baqarah : 175)

Dana besar tak ternilai pun mereka gelontorkan untuk memenangkan apa yang mereka serukan demi menyesatkan manusia. Apapun mereka bisa beli namun sungguh, semua itu sia-sia.

﴿إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَن سَبِيلِ اللَّهِ فَسَيُنفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُونَ وَالَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ جَهَنَّمَ يُحْشَرُونَ﴾

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan”. (QS. al-Anfal : 36)

﴿يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ﴾

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya”. (QS. as-Shaf: 8)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamd

PENGORBANAN BERBUAH SURGA…

Selanjutnya, mari kita melihat diri-diri kita…

Apakah yang sudah kita korbankan untuk sampai di surga Allah?!

Apakah yang sudah kita korbankan demi meraih keridhaan Allah?!

Apakah yang sudah kita korbankan untuk meraih ampunan Allah?!

Pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan membuat kita merasa malu pada Allah dan pada diri kita sendiri..

Betapa sulitnya kita berkorban sampai untuk diri kita sendiri..

Shalat lima waktu sering kita lalaikan atau tidak mengerjakannya di awal waktu, Subuh terkadang kesiangan, sedangkan jika kita memiliki perjalanan bisnis dengan pesawat terbang, kita berusaha tidak terlambat untuk hadir di bandara walau waktunya dini hari sekalipun..

Begitu beratnya kita terbangun di malam hari untuk qiyamullail dan tahajjud, sedangkan untuk pertandingan sepakbola kita rela begadang semalam suntuk hanya untuk menyaksikan klub jagoan kita yang merumput di lapangan hijau.

Jika yang dibangun adalah mall-mall, ruko-ruko dan pusat perbelanjaan maka hanya dalam hitungan bulan sudah berdiri megah, namun untuk merampungkan pembangunan sebuah masjid terkadang pengurus harus setiap Jumat meminta sumbangan dari  jamaah, dan terkadang itu sampai bertahun tahun…

Subhanallah!..

Manakah bukti bahwa kita adalah para perindu surga yang rela berkorban dengan segala yang dimiliki untuk meraihnya?

Allahu Akbar,  Allah Akbar, Walillahil hamd…

Fenomena lain…

Hari ini, realita yang memilukan, dari sebagian oknum aktivis dakwah, justru yang dikorbankan adalah kawan sejalan yang sama-sama meniti jalan perjuangan para nabi, menyeru kepada yang makruf serta mencegah dari kemungkaran. Saling melempar tuduhan keji tanpa tabayyun, mencemarkan kehormatan sesama dai secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, saling berbalas hujatan di dunia maya dan nyata, vonis prematur yang keji pada sebagian ulama dan penuntut ilmu, merasa diri dan kelompoknya yang paling benar, menghukumi niat-niat orang yang menyelisihinya tanpa berusaha memberi udzur dan alasan Ukhuwah Islamiyah yang mulialah yang jadi korban, kehormatan sebagian ulama dan dai yang menjadi tumbal, waktu dan tenaga tergerus untuk hal yang sia-sia, padahal musuh-musuh agama semakin solid merapatkan barisan sedang sebagian kita masih berkutat dan berdebat pada masalah-masalah fiqhiyyah dan ijtihadiah atau saling klaim siapa yang berada diatas ‘manhaj yang kokoh.’ La hawla wala quwwata illa billah…

Tidakkah seyogyanya kesemuanya itu kita akhiri? Marilah kita kembali pada tuntunan al-Qur’an dan sunnah. Al-Qur’an memerintahkan kita untuk bersatu, berukhuwah, berbaik sangka, saling membantu antara yang satu dan lain. Al-Qur’an melarang perpecahan, perselisihan, saling memusuhi, mencari-cari aib, ghibah, namimah dan adu domba.

Semua sudah jelas, semua sudah gamblang.

Berbeda pendapat adalah sunnatullah, namun mari kedepankan adab dan nasihat yang bijak dan santun, dahulukan prasangka baik kepada saudara kita sebelum memvonis. Perkara-perkara yang bisa menyatukan kita lebih banyak dari hal-hal sepele yang terkadang membuat kita saling memusuhi antara yang satu dengan yang lain..

Fenomena lain..

Perebutan kekuasaan, kepentingan politik yang menjadikan persaudaraan sebagai korban. Fenomena saling cekal, saling hujat, saling mencurigai menjadi sajian rutin setiap waktu, Hoax berseliweran dimana-mana, rakyat kecil yang ikut menjadi korban yang mana semua  selalu mengatasnamakan ‘rakyat’ demi merebut simpati yang pada kenyataannya hanya untuk keserakahan pribadi dan golongan. Begitu mudahnya persahabatan yang telah terjalin lama menjadi korban demi kepentingan sesaat.Betapa murahnya harga diri dijual hanya untuk mengamankan kantong-kantong pribadi atau perusahaan-perusahaan pribadi.Bahkan betapa gampangnya agama digadaikan, idealisme menjadi tumbal hanya demi meraih sedikit keuntungan duniawi dan secuil kekuasaan semu.

Wallahul musta’an..

Tidakkah sepantasnya ini kita akhiri?

Bukankah harta, pangkat, jabatan bahkan dunia ini adalah sesuatu yang fana?! Dunia terlalu hina untuk membuat kita saling memusuhi antara yang satu dengan yang lain. Hanya karena beda pilihan dalam pilpres atau pilkada kita saling membelakangi, bahkan yang memilukan berita yang kita dengar ada sebuah rumah tangga yang terpaksa harus bubar hanya gara-gara beda pilihan dalam pemilihan kepala desa. Subhanallah..!

Saatnya kita mengorbankan sifat arogansi kita, saatnya kita kuburkan sifat-sifat jahiliah kita, dan sekaranglah saat untuk kita kembali merajut persatuan dan ukhuwah demi mencapai keridhaan Allah.

Semoga Allah senantiasa memberi petunjuk kepada kita kepada jalan-jalan kebenaran dan keistiqamahan dan menjaga kita dari segala fitnah dan ujian, baik yang tersembunyi maupun yang tampak. Amin Ya Rabbal ‘Alamin..

KHUTBAH KEDUA:

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.

Sebelum kita menutup khotbah ini, sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa hari ini kaum muslimin di seluruh penjuru dunia melaksanakan sebuah ibadah yang mulia yaitu berkurban, oleh karenanya Khatib berpesan beberapa hal, diantaranya; hendaknya yang berkurban senantiasa menjaga keikhlasannya agar diterima disisi Allah. Hewan kurban lebih afdal disembelih sendiri namun boleh diwakilkan kepada orang lain. Daging kurban dibagi menjadi tiga, yaitu untuk dimakan oleh yang berkurban, dihadiahkan, dan disedekahkan kepada fakir miskin. Waktu penyembelihan bisa sampai hari terakhir dari hari-hari tasyriq.

Akhirnya di penghujung khutbah ini marilah kita berdoa seraya menengadahkan jiwa memohon kepada Yang Maha Memiliki Segalanya.

‎الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ اْلعَا لَمِيْنَ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

‎﴿رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلاً لِّلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَّحِيْمٌ﴾

‎‎﴿رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ﴾

Ya Allah, Ya Rahman, Ya Gaffar..Ampuni dan maafkan segenap dosa kami, yang tampak maupun yang tersembunyi, jika Engkau tak memaafkan kami, kepada siapa kami akan memohon maaf dan ampunan.

Ya Allah, Ya  Lathif , yang Maha Lembut… Sayangi kami dan seluruh hamba-Mu yang beriman, dimanapun mereka berada.

Ya Allah, Ya Hafizh…Jaga dan berkati keluarga dan anak-anak kami dengan keimanan, keshalehan dan ketakwaan, karuniakan mereka Al-Quran yang berada dalam dadanya, menjadi cahaya menuntun langkah-langkahnya, satukan kami di dunia dalam ketaatan pada-Mu dan perjuangan dibatas Jalan-Mu, serta satukan kami di akhirat dalam Jannah-Mu yang kekal abadi.

Ya Allah,  Ya Rahim… rahmatilah setiap ayah yang senantiasa berkorban demi menuntun istri, anak-anak dan keluarganya diatas jalan-Mu, yang berusaha menyelamatkan mereka dari api neraka-Mu. Rahmatilah setiap ibu yang berkorban dalam merawat dan membesarkan anak-anaknya dengan tak kenal lelah dan peluh. Rahmatilah setiap wanita yang senantiasa mempertahankan keistiqamahannya, menutup aurat dengan hijabnya. Rahmatilah setiap pemuda yang berusaha tumbuh diatas ketaatan kepadamu. Lindungilah mereka semua dari segala keburukan..

Ya Allah… Ampunilah  dosa-dosa  ayah  dan ibu kami, jagalah mereka yang masih hidup dan rahmatilah mereka yang telah meninggal, bantulah kami untuk senantiasa berbakti kepada mereka, demi meraih rahmat dan ridha-Mu.

Ya Allah, wahai Rabb kami, jadikanlah agama-Mu memandu kehidupan hamba-hamba-Mu di negeri ini dan seluruh negeri kaum muslimin. Jadikanlah penduduk negeri ini bahagia dengan tegaknya agama-Mu di atasnya.

Ya Allah!.. Anugerahkanlah kepada kami pemimpin yang saleh, yang senantiasa takut kepada-Mu dan sayang kepada kami, yang pada kebaikan senantiasa mengajak dan bukanlah mengejek, yang senantiasa merangkul dan bukanlah memukul, yang senantiasa membimbing dan bukanlah menggunjing, yang selalu menerima argumen dan bukanlah melemparkan sentimen.

Ya Allah, Ya Karim.. Jagalah negeri kami yang tercinta ini. Barangsiapa yang menginginkan kebaikan untuknya, maka alirkanlah kebaikan itu lewat tangannya. Dan barang siapa yang menyembunyikan niat buruk untuk berbuat kerusakan maka, kembalikanlan makar dan kerusakan itu kepadanya..

‎﴿رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ﴾

‎وَصَلِّ اللّهُمَّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَي آلِهِ وِ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

***

Sumber dari: http://wahdah.or.id/khutbah-idul-adha-1439-h-

Ibrahim -‘alaihissalam’ Pembangun Keluarga Pejuang

Ibrahim -‘alaihissalam’ PEMBANGUN KELUARGA PEJUANG

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.

أَمَّا بَعْدُ:

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…..

Laa Ilaha illalllah wallahu Akbar ,

Allahu Akbar walillahil hamd.

Maasyiral Muslimin Rahimakumullah !

Di pagi hari ini, seiring dengan tasbih semesta alam raya, seiring dengan ketundukan semua makhluk ciptaan Allah, kita kembali melantunkan pujian dan takbir pengagungan kepada Sang Maha Pencipta…Maha Pemelihara…Penguasa Jagad raya,….Dialah Allah tabaraka wata’ala , satu-satunya yang berhak untuk disembah dan ibadahi….

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…..

Laa Ilaha illalllah wallahu Akbar ,

Di sana,… di Padang Arafah , ketika berjuta tangan menengadah pada Sang Ilahi, ketika berjuta bibir bergetar menyebut namaNya, maka di pagi hari ini kita menyempurnakan semua itu, maka biarkan gema takbir ini membahana di angkasa, menyatu dengan tasbih semesta, membuang semua yang membuncah di dada,….

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…..

Laa Ilaha Illalllah wallahu Akbar ,

Allahu Akbar walillahil hamd

Kaum Muslimin a’azzakumullah !

Setiap kita menyebut Haji, Idul Adha dan peristiwa-peristiwa yang mengiringinya, maka ada satu nama yang tak mungkin terlewatkan, dialah Ibrahim –alaihissalam.

Hari ini kembali kita mengenang manusia agung utusan Allah subhanahu wata’ala ini, Nabi Ibrahim alaihissalam beserta anak dan istrinya, Ismail alaihissalam dan Hajar alaihassalam. Keagungan pribadinya yang telah Allah perintahkan agar kita menjadikannya suri tauladan , Allah Ta’ala berfirman:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِى اِبْرَاهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَهُ

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia (QS. al-Mumtahanah :4).

Pelajaran demi pelajaran, hikmah demi hikmah selalu dan senantiasa kita petik dari perjalanan hidup pribadi yang agung ini.

Diantara hikmah dan pelajaran terpenting dari perikehidupannya adalah : Perjuangan menegakkan Aqidah dan Tauhid, yang selalu melandasi dan mewarnai segala gerak dan tingkah lakunya, semua sepak terjang dan bahkan derap langkahnya.

Awal kemunculan Ibrahim di tengah kaumnya langsung menohok pada inti permasalahan yang dihadapi kaumnya yaitu penyimpangan dari tauhid, dimana mereka menyembah berhala-berhala yang tidak berdaya apa-apa, perhatikanlah bagaimana Ibrahim dengan piawai mengajak kaumnya beradu argumen tentang siapa yang sebenarnya berhak disembah

وَإِبْرَاهِيمَ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ . إِنَّمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا وَتَخْلُقُونَ إِفْكًا إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ . وَإِنْ تُكَذِّبُوا فَقَدْ كَذَّبَ أُمَمٌ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ ( العنكبوت:16-18(

Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezki kepadamu; maka mintalah rezki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan. (17) Dan jika kamu (orang kafir) mendustakan, maka umat yang sebelum kamu juga telah mendustakan. Dan kewajiban rasul itu, tidak lain hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya”. (18).” (QS. al-‘Ankabut: 16-18)

Jawaban kaumnya bukanlah jawaban yang menyenangkan, bahkan ancaman dan kecaman .. Allah berfirman :

فمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَن قَالُوا اقْتُلُوهُ أَوْ حَرِّقُوهُ فَأَنجَاهُ اللَّـهُ مِنَ النَّارِ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ (العنكبوت: 24 )

“Maka tidak ada lagi jawaban kaum Ibrahim selain mengatakan: ‘Bunuhlah atau bakarlah dia!’, lalu Allah menyelamatkannya dari api (yang membakarnya). Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang beriman.” (QS.al-‘Ankabut: 24)

Demikinlah konsekuensi dakwah yang kadang tidak menyenangkan, bahkan menuntut pengorbanan, namun pertolongan Allah tidak pernah terlambat, Allah berfirman :

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ . وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَخْسَرِينَ

Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”, (69) mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi.” (QS.al- Anbiya:69-70)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…..

Laa Ilaha illalllah wallahu Akbar ,

Keteguhan prinsip dan ketegaran dalam bertauhid dan beraqidah pada pribadi Ibrahim tidak hanya dimonopoli oleh diri beliau sendiri, namun ternyata seorang Ibrahim alaissalam sangat memperhatikan dakwah pada keluarganya dan karib kerabatnya, bahkan beliau mewujudkan hubungan yang paling indah antara anak dengan ayahnya dengan berwujud dakwah kepada kepada orang tua untuk aqidah dan tauhid :

إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنكَ شَيْئًا ﴿٤٢﴾ يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا ﴿٤٣﴾ يَا أَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ ۖ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَـٰنِ عَصِيًّا ﴿٤٤﴾ يَا أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَن يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِّنَ الرَّحْمَـٰنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا

“Ingatlah ketika ia (Ibrahim) berkata kepada bapaknya: ‘Wahai bapakku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tiada dapat mendengar, tiada pula dapat melihat dan menolongmu sedikitpun? Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian dari ilmu yang tidak datang kepadamu. Maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah menyembah setan, sesungguhnya setan itu durhaka kepada Allah Dzat Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa engkau akan ditimpa adzab dari Allah Dzat Yang Maha Pemurah, maka engkau akan menjadi kawan bagi setan.” (QS. Maryam: 42-45)

Keluarga ….sekali lagi keluarga, orang terdekat di sekeliling kita yang kadang luput dari perhatian dan pemenuhan hak atas mereka sebagai amanah Allah Ta’ala.

Ibrahim alaihissalam adalah tipe manusia yang sangat memperhatikan keluarganya, namun… perhatian di sini bukanlah sekedar perhatian untuk pemenuhan kebutuhan duniawi semata, namun yang lebih sejati adalah bagaimana seorang Ibrahim membangun keluarganya dengan pondasi iman dan aqidah …sehingga dengan taufiq dari Allah melahirkan keluarga pejuang yang tangguh, pantang menyerah , tauhid dan aqidah menjadi landasan dari segala tindakannya, ……

Hasil ini bukanlah datang begitu saja tentunya, namun ia adalah buah perjuangan panjang manusia yang diberkati ini…..perhatikanlah doanya yang diabadikan dalam AlQ uran :

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

“Wahai Tuhanku karuniakanlah padaku dari (keturunan) yang shalih “ (QS.Ash Shaffat;100)

Penantian panjang seorang Ibrahim alaihissalam dengan tidak berputus asa, membuahkan hasil dengan dikaruniakannya seorang anak yang didamba-dambakan, dialah Ismail alaihissalam.

Namun ternyata proses tarbiyah ilahiyah menghendaki lain, seorang Ismail dalam masa kecil ternyata harus berpisah dengan ayahandanya, ditinggal di negeri tandus yang kering kerontang, semuanya adalah lillah wafie sabilillah, dalam menjalankan perintah Allah seorang Ibrahim alaihissalam tidak ada kata tidak, bahkan dengan penuh keyakinan dan harapan serta optimisme ia bertawakkal pada Allah Ta’ala :

رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ رَبَّنَا إِنَّكَ تَعْلَمُ مَا نُخْفِي وَمَا نُعْلِنُ ۗ وَمَا يَخْفَىٰ عَلَى اللَّـهِ مِن شَيْءٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ ( ابراهيم: (38-37

Wahai Rab kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Wahai Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (37) Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit. (QS. Ibrahim:37-38)

Semangat ketaatan dan optimisme ini pula yang mengalir kepada istrinya Hajar, perhatikanlah riwayat berikut ini :

Diriwayatkan dari Sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: “Kemudian Ibrahim membawa Hajar dan sang putra Ismail dalam usia susuan menuju Makkah dan ditempatkan di dekat pohon besar, di atas (bakal ) sumur Zamzam di lokasi (bakal) Masjidil Haram. Ketika itu Makkah belum berpenghuni dan tidak memiliki sumber air. Maka Ibrahim menyiapkan satu bungkus kurma dan satu qirbah (kantong) air, kemudian ditinggallah keduanya oleh Ibrahim di tempat tersebut. Hajar, Ibu Ismail pun mengikutinya seraya mengatakan: ‘Wahai Ibrahim, hendak pergi kemana engkau, apakah engkau akan meninggalkan kami di lembah yang tak berpenghuni ini?’ Diulangnnya kata-kata tersebut, namun Ibrahim tidak menoleh kepadanya. Hingga berkatalah Hajar: ‘Apakah Allah yang memerintahkanmu berbuat seperti ini?’ Ibrahim menjawab: ‘Ya.’ Maka (dengan serta-merta) Hajar mengatakan: ‘Kalau begitu Dia (Allah) tidak akan menyengsarakan kami.’ Kemudian Hajar kembali ke tempatnya semula.” (Lihat Shahih Al-Bukhari, no. 3364)

Demikianlah kepribadian istimewa dari suami istri ini dengan Rahmat dan Taufiq Allah juga mengalir pada anak keturunan mereka, di saat -saat sejuknya pandangan seorang Ayah melihat anaknya mulai tumbuh besar, ujian Allah pun datang lagi , tidak tanggung-tanggung, perintah untuk mengorbankan anak sendiri :

لَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّـهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.(QS.as-Shaffat :102)

Demikianlah keluarga yang agung ini , meraih keagungan dan ketinggian derajatnya dengan tauhid, pengamalan aqidah dan ketaatan tiada henti atas setiap titah Ilahi.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…..

Laa Ilaha illalllah wallahu Akbar ,

Allahu akbar walillahil hamd.

Akan tetapi ternyata Allah Maha Kasih dan Sayang kepada ayah dan anak ini dan mendapat pengakuan Allah sendiri tabaraka wataa’la:

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ ﴿١٠٣﴾ وَنَادَيْنَاهُ أَن يَا إِبْرَاهِيمُ ﴿١٠٤﴾ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ ﴿١٠٥﴾ إِنَّ هَـٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ ﴿١٠٦﴾ وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ ﴿١٠٧﴾ وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ ﴿١٠٨﴾ سَلَامٌ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ ﴿١٠٩﴾ كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). (103) Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, (104) sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (105) Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. (106) Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (107) Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (108) (yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”. (109) Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. “.(QS.as-Shaffat :103-110)

Allahu Akbar, Allahu Akbar

Allahu akbar walillahil hamd.

Kaum Muslimin yang semoga dimuliakan Allah

Alangkah rindunya kita untuk mewujudkan keluarga seperti keluarga Ibrahim alaihissalam, alangkah rindunya kita dengan istri seperti Hajar alaihassalam, yang dengan tegar menggendong anaknya yang masih bayi, hanya berbekal sekantong korma dan sedikit air, di tanah asing, tiada berpenghuni, tandus tiada tetumbuhan… Namun dengan lugas bertanya kepada suami tercinta AALLAHU AMARAKA BIHADZA ? ketika sang suami menjawab ;Ya, maka saat itu pula iman dan tawakkal itu menyata dengan perkataannya :Idzan la yudlayyi’unaa – jika demikian Ia tak menyia-yiakan kami.

Seorang istri da’i dan pejuang seharusnya selalu menjadikan momentum ini segar di pelupuk matanya, selalu hidup dalam catatan batinnya, bahwa istri pejuang harus tegar setegar Hajar, yang lebih tegar dari batu karang… dan jangan sampai justru menjadi penghalang suami memenuhi panggilan suci berjuang dan berdakwah di jalanNya.

Namun sebelum itu tentunya seorang suami da’i dan pejuang harus pula menorehkan sejarah Ibrahim ini dalam sanubarinya, agar terpatri pada jiwa semangat ketaatan dan optimisme serta qawwamah (kepemimpinan) yang mumpuni dengan izin Allah Ta’ala.

Allahu Akbar, Allahu Akbar

Allahu akbar walillahil hamd.

Kaum Muslimin yang semoga dimuliakan Allah

Mengambil pelajaran dari Ibrahim dan keluarganya adalah berarti belajar untuk taat dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah , dan inilah yang seharusnya menyertai kita setiap saat, semangat selalu mawas diri dari penyimpangan- penyimpangan dalam beragama, tidakkah kita perhatikan parade penyimpangan mulai dari tataran aqidah, hingga moral dan akhlak seakan disambut oleh alam ini dengan parade bencana dan musibah?

Negeri yang indah ini, dengan laut, gunung, sungai dan airnya, tidaklah melainkan makhluk-makhluk Allah yang taat, yang selalu bertasbih dan memuji Allah Tabaraka wata’ala:

سَبَّحَ لِلَّـهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ ﴿١﴾

Telah bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS.as-Shaf :1)

Isyarat alam ini seakan memberi kita pesan bahwa bumi makhluk Allah ini enggan berjalan di atasnya manusia-manusia congkak dan durjana.

Sudah tiba masanya kita kembali mengintrospeksi diri, secara individu dan kolektif, sejauhmana kita melangkah jauh dari yang seharusnya….

Namun……

Ketika musibah datang dan sebagian penduduk negeri ini justru semakin merapat kepada kesyirikan dan takhayul,

Ketika musibah datang justru datang pula sokongan dan dukungan pada nabi-nabi palsu dan para pengikutnya seperti Ahmadiyah dan Qadiyaniyah,

Ketika musibah datang justru celaan, kecaman, dan bahkan pengkafiran pada generasi terbaik umat ini (Sahabat Rasulullah )menyelip dan menikam dari belakang oleh kaum Syi’ah Rafidlah

Ketika musibah datang menjelang sebagian kita bahkan dengan bangga memamerkan kedurhakaannya pada Allah, menginjak-injak harga diri dan kehormatannya sendiri.

Sungguh ini adalah musibah di atas musibah !

Wallahul musta’an

Jalan keluar tiada lain dan tiada bukan adalah kembali bertobat, kembali menapak tilasi perjalanan juang Ibrahim dan para keluarganya, menapak tilasi perjuangan Nabi dan Rasul akhir zaman Muhammad shallallahu alaihi wasallam, yang Ibrahim alaihiissalam berdoa untuk kehadirannya.

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (البقرة: 129)

Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seseorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. (QS. al-Baqarah:129)

Ya… bertobat, dan Ibrahim sendiri bertobat walau ia seorang khalilullah (kekasih Allah):

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا ۖ إِنَّكَ أَنتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ (البقرة: 128)

“Ya Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (QS. al-Baqarah:128).

Mawas diri dari kesyirikan dan penyimpangan aqidah adalah sikap mukmin sejati, bukankah Ibrahim sendiri khawatir dan minta perlindungan Allah dari kesyirikan:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَـٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ (ابراهيم:35)

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.(QS.Ibrahim:35)

Kita tidak boleh lengah , setiap saat syaithan dan bala tentaranya siap menggelincirkan dan menjerumuskan kita.

Olehnya itu benteng aqidah harus berwujud pada keluarga kita, panji-panji tauhid harus terpancang dalam dan kuat pada diri, anak dan istri kita….semangat perjuangan harus selalu menggelora pada setiap dada anggota keluarga kita

Wahai para muslimah, ibunda dan saudari kita, bercerminlah selalu pada Hajar-alaihassalam yang tegar setegar hajar (batu), siap untuk berjuang dan mendampingi seorang suami pejuang dalam kondisi apapun, dan semangat perjuangan itu insya Allah akan dibalasi Allah dengan sejuknya mata memandang anak-anak anda berbaris rapi dalam shaf perjuangan

Wahai para pemuda , jadilah “Ismail-ismail” zaman ini, yang ditempa dalam perjuangan, di dalam keluarga pejuang, bahkan anda lahir dari rahim perjuangan…bersiaplah untuk berkorban di jalan perjuangan ini….”korbankanlah” beberapa kesenangan masa muda untuk memmpuh jalan perjuangan ini, percayalah kelezatan berjuang jauh lebih nikmat daripada kenikmatan semu fatamorgana dari hiruk pikuknya dunia kemaksiatan dan penyimpangan….

Munculkan semangat dan kekuatan Ismail di zaman kini. Jadilah generasi pendobrak yang memiliki prinsip hidup yang kokoh di jalan taqwa. Bukan generasi latah yang menjadi korban situasi dan kondisi. Dan bukan generasi yang mudah terombang ambing kemana angin berhembus. Jadilah Ismail baru yang mewarisi semangat tauhid dan keteguhan diri dalam menerima semua titah perintah Allah. Sekalipun nyawa adalah taruhannya.

Dan anda wahai para bapak dan suami, bercerminlah pada Ibrahim bagaimana ia menjadi kepada keluarga teladan, didiklah keluarga anda dengan tidak pantang menyerah, usaha anda yang tidak pantang menyerah adalah bagian dari perjuangan itu sendiri…..lihatlah Nuh alaihissalam, hingga detik terakhir masih saja menyeru anaknya untuk kembali ke jalan yang benar.

وَنَادَىٰ نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَب مَّعَنَا وَلَا تَكُن مَّعَ الْكَافِرِينَ

Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir”.(QS. Hud:42)

Namun Akhirnya kita kembalikan semuanya kepada Allah yang menggenggam hati semua hambaNya.

Dan kepada para pemimpin negeri yang indah mempesona ini, ingatlah bahwa setiap kita akan dimintai pertanggung jawaban akan apa yang dipimpinnya.

Ingatlah ketika bencana dan musibah datang bergelombang, bahwa semua itu adalah pengingat dari pemilik hakiki negeri ini dan setiap jengkal bumi dan langit untuk kembali bertahkim kepada ajaran yang diturunkanNya,firman Allah Ta’ala

وَبَلَوْنَاهُم بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (الأعراف:168)

Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran). (QS.al-A’raf:168)

Pertegas keberpihakan anda pada kebenaran, keadilan, dan jangan justru semakin menggandeng penggusung kezaliman dan keangkara murkaan…kami percaya anda sanggup dan mampu untuk itu, dan kami berdoa agar Allah memberikan Hidayah dan InayahNya

Allahu Akbar, Allahu Akbar

Allahu akbar walillahil hamd.

Dalam kesempatan ini pula kita mendoakan saudara-saudara kita yang sedang berjuang menegakkan rukun Islam kelima dengan haji ke Baitullah, agar menjadi haji yang mabrur dan selamat kembali di tanah air, berkumpul kembali dengan sanak saudara..

Dan bagi kita di sini yang melakukan Idul Qurban dan penyembelihan hendaknya senantiasa memperhatikan tuntunan syari’at dalam pelaksanaannya; maka hewan yang sah untuk dikurbankan adalah sapi yang usianya genap dua tahun atau kambing yang genap satu tahun. Jika kambing dengan umur satu tahun sulit didapatkan, maka tidak mengapa berkurban dengan domba yang genap berusia enam bulan. Tidak boleh berkurban dengan hewan yang jelas buta sebelah matanya (picak), atau pincang dengan kepincangan yang jelas, atau sakit yang jelas, atau hewan yang sangat kurus.

Dan seekor sapi atau unta boleh disembelih untuk tujuh orang.

Sebaiknya orang yang berkurban itu menyembelih hewan kurbannya sendiri, namun tidak mengapa mewakilkannya dengan syarat tidak mengupah penjagal itu dari hewan kurban, baik dengan memberikan kulit atau dagingnya. Penyembelihan dimulai setelah khutbah dan berakhir tiga hari sesudah hari Idul Adha. Daging sembelihan dapat dibagi tiga; sepertiga untuk dikonsumsi, sepertiga untuk dihadiahkan dan sepertiga untuk disedekahkan kepada fakir miskin.

Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd

Akhirnya, di penghujung khutbah ini, marilah kita menundukkan jiwa, dan menyerahkan seluruh diri ini untuk memohon dan berdoa kepada Allah azza wa Jalla. Semoga doa kita menjadi catatan akan ketundukan kita pada Allah azza wajalla, dan Dia berkenan menerima dan mengabulkannya.

Rabbana, kami tidak berhenti dan tidak akan berhenti untuk menghadap-Mu, memohon ampunan-Mu, meminta belas kasih-Mu yang luasnya meliputi segala sesuatu.

Ya Allah, dosa kami begitu berlimpah. Rasanya tiada hari yang terlalui tanpa kesalahan pada-Mu. Dosa-dosa kami sudah terlalu banyak. Jika Engkau tak mengampuni kami, maka siapakah lagi yang akan mengampuni dan menutupinya selain Engkau ya Allah, Wahai Sang Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Pengampun. Maka ampunilah, ampunilah, ampunilah diri-diri ini, ya Allah.

Rabbana, Engkau pasti Maha Tahu betapa banyak salah dan dosa kami kepada kedua orangtua kami. Betapa banyak hak mereka yang tak sempat kami tunaikan. Ya Allah, sungguh kami mohon ampunilah dosa dan kedurhakaan kami kepada mereka. Limpahkanlah Rahmat-Mu tak henti-hentinya untuk mereka. Ampuni segala kekurangan mereka sebagai hamba-Mu. Jika Engkau masih izinkan kami bersama mereka dalam kehidupan ini, beri kami kesangupan untuk berbakti pada mereka bersama menikmati Tauhid dan iltizam di Jalan-Mu, namun jika kematian memisahkan kami jadikanlah pertemuan kami di Jannah-Mu kelak menjadi pertemuan terindah anak dan orangtunya.

Rabbana, berikan kami kekuatan untuk mengubah kondisi kami dengan izin-Mu menjadi jauh lebih baik dan gemilang. Limpahkan kepada kami kekuatan tekad untuk menjadi umat yang kuat dan tegar menegakkan keadilan dan menumbangkan kezhaliman.

Ya Allah, berikanlah pertolonganMu pada saudara-saudara kami para pejuang Islam di Palestina, Irak, Afganistan dan dimana pun mereka berjuang menegakkan kalimat -Mu.

Wahai Rabb kami, limpahkanlah kedamaian dan keamanan untuk negeri kami ini dan seluruh negeri kaum muslimin di penjuru dunia. Lindungilah kami dan semua saudara kami dari makar dan muslihat musuh-musuh-Mu, ya Allah.

Wahai Rabb Penguasa langit dan bumi, pemilik sejati laut dan gunung Raja diraja semesta alam, semua nya dalam genggaman-Mu, lindungilah kami dari segala marabahaya dan bencana, janganlah engkau hukum kami disebakan keponggahan dan kebodohan sebagian dari kami.

Wahai Rabb yang menggenggam segenap hati hamba-hambaNya, satukanlah hati kami dalam ketaatan pada-Mu, persatukan jiwa kami dalam berjuang di jalan-Mu, hilangkanlah segala benci, iri, dengki, dan sangka buruk di antara kami.

Jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang bersaudara dan saling mencintai dan mengasihi demi Engkau ya Allah, janganlah dosa menjadi sekat penghalang cinta dan sayang di antara kami.

Rabbana, karuniakan kepada kami para pemimpin yang selalu takut kepadaMu. Jangan Engkau berikan pendamping-pendamping yang berhati busuk kepada mereka yang menyebabkan mereka menzhalimi kami. Ya Allah, limpahkanlah Hidayah-Mu kepada mereka untuk selalu mengambil keputusan yang sesuai dengan Keridhaan-Mu.

Rabbana, Engkaulah yang Maha Mengetahui kapan jiwa ini meninggalkan raga. Jika kelak Engkau menakdirkan usia ini berakhir, maka karuniakanlah ia husnul khatimah dan berakhirnya segala dosa dan kedurhakaan

Ya Allah. Berilah kami kesempatan untuk menutup kehidupan kami di dunia ini dengan kalimat Tauhid-Mu nan suci: La ilaha illallah.

Rabbana inilah doa dan munajat kami-hamba-Mu yang tiada berdaya ini kepada-Mu, dan kami hanya dapat meminta dan berdoa, sedang Engkau adalah Rabb yang Maha Kuasa mengabulkan segala doa dan permintaan, maka kabulkanlah ya Allah Amin. Amin. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Sumber: Khutbah Seragam DPP Wahdah islamiyah