Sunnah dan Adab-Adab Jum’at

Sunnah dan Adab-Adab  Jum’at

Jumat merupakan hari  paling mulia dalam sepekan hari yang disebut sebagai sayyidul ayyam. Sehingga hendaknya malam dan harinya diisi dengan berbagai ibadah kebaikan dan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ada beberapa sunnah dan adab Jum’at yang harus diperhatikan pada hari Jumat.

Pertama,  Memperbanyak Bershalawat Kepada Rasulullah

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menganjurkan memperbanyak shalawat kepada beliau pada malam dan hari Jum’at. Shalawat yang diucapkan akan diperlihatkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda tentang hal ini;

مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمُ الْجمُعَةِ، فِيهِ خُلِقَ آدَمُ عليه السلام، وَفِيهِ قُبِضَ، وَفِيهِ النَّفْخَةُ، وَفِيهِ الصَّعْقَةُ، فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلاَةِ، فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَليَّ”. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلاَتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرَمْتَ؟! أَيْ يَقُولُونَ: قَدْ بَلِيتَ. قَالَ: “إِنَّ اللهَ – عز وجل – قَدْ حَرَّمَ عَلَى الأَرْضِ أَنْ تَأْكُلَ أَجْسَادَ الأَنْبِيَاءِ عليهم السلام”

 “Sesungguhnya hari-hari kalian yang paling utama adalah hari Jumat, pada hari ini Nabi Adam diciptakan, dan pada hari ini pula  beliau dimatikan, pada hari ini ditiup sangkakala dan pada hari ini pula manusia dibangkitkan kembali, maka Perbanyaklah kalian bershalawat kepadaku karena shalawat kalian diperlihatkan kepadaku,” para sahabat bertanya bagaimana shalawat kami diperlihatkan kepadamu Sedangkan engkau telah menjadi tanah, beliau  mengatakan, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mengharamkan kepada bumi untuk memakan jasad para Nabi ‘alaihimussalam. (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, dan Nasa’i).

Imam Baihaqi meriwayatkan dalam sunannya dari Anas bin Malik radhiyallahu Anhu, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam mengabarkan bahwa setiap satu shalawat yang diucapkan akan dibalas oleh oleh Allah dengan rahmat-Nya sepuluh kali lipat. Beliau bersabda;

“أَكْثِرُوا الصَّلاَةَ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَةَ الْجُمُعَةِ، فَمَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا”

 “Perbanyaklah kalian bershalawat kepadaku pada hari dan malam Jumat Karena barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali maka Allah bershalawat kepada Nya sepuluh kali”. (HR. Baihaqi, No.5790 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).

Makna  shalawat Allah kepada makhluk adalah adalah rahmat dan ampunan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Kedua, Membaca Surat Al Kahfi

Diantara amalan yang dianjurkan pada malam dan hari Jum’at adalah membca surat Al-Kahfi.  Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda tentang keutamaan membaca surat Al Kahfi pada hari Jumat,

من قرأ سورة الكهف في يوم الجمعة أضاء له من النور ما بين الجمعتين “

Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jumat maka dia akan diterangi cahaya antara dua Jumat”.

Ketiga, Membaca Surat Alif Lam Mim Tanzil (Qs. As-Sajdah) dan Hal Ata Alal Insan al-insan dalam shalat Subuh pada hari Jumat

Imam  Muslim meriwayatkan dalam shahihnya dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma bahwa;

أَنَّ النبي صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقْرَأُ فِي صَلاَةِ الْفَجْرِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ﴿ الم * تَنْزِيلُ ﴾ [السجدة: 1، 2]، وَ﴿ هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ ﴾ [الإنسان: 1

Bahwa Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam biasa membaca pada shalat subuh di hari Jumat Alif Lam Mim Tanzil  [Surat As-Sajdah] dan hal Ata Alal Insani hinum minad Dahr [Al-Insan]”. (HR. Muslim, No. 879).

Kempat Mandi dan Membersihkan diri

Dianjurkan  mandi pada hari Jumat, bahkan Sebagian ulama memandang bahwa hukumnya wajib. Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih mereka dari sahabat Abu Sa’id Al khudri radhiyallahu anhu;

“الْغُسْلُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ، “

M andi pada hari Jumat wajib bagi setiap muslim yang telah baligh,”. (HR. Bukhari, No.880 dan Muslim, No. 846).

Dalam riwayat lain dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma beliau juga bersabda; “Jika salah seorang diantara kalian mendatangi shalat Jum’at maka hendaknya dia mandi”. (Muttafaq ‘alaihi).

Imam Bukhari rahimahullah menempatkan hadits ini dalam Kitab Al-Jumu’ah Bab Fadhl al-Ghusl yaum al-Jumu’ah (Bab Keutamaan Mandi Pada Hari Jum’at).

Hal ini menunjukan bahwa hukum mandi Jum’at adalah Sunnah. Adapun makna wajib dalam hadits Abu Sa’id al-Khudri di atas adalah wujub ikhiyar (pilihan) karena sifatnya afdhal (lebih uatama) sebagaimana diperjelas oleh hadits Samurah radhiyallahu ‘anhu, “  . . . Siapa yang mandi (pada hari Jum’at) maka mandi lebih afdhal”. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

Kelima, Bersiwak

Dianjurkan bersiwak atau membersihkan gigi saat hendak mendatangi shalat Jum’at. Hal ini berdasarkan hadits umum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang motivasi bersiwak setiap akan shalat.

 عن أبي هريرة رضي الله عنه، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ” لولا أشق على أمتي – أو على الناس – لأمرتهم بالسواك مع كل صلاة “

Andaikan tidak khawatir aku menyulitkan ummatku niscaya aku perintahkan mereka bersiwak setiap akan (menunaikan) shalat”. (HR. Bukhari, no.887).

Hadits di atas berlaku umum pada semua shalat, dan pada shalat Jum’at tentu lebih ditekankan untuk bersiwak karena merupakan hari istimewa. Dan penekanan anjuran bersiwak pada hari Jum’at juga ditunjukan oleh hadits lain yang secara khusus menganjurkan untuk bersiwak, sebagaimana dalam hadits riwayat Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

” غسل يوم الجمعة على كل محتلم. وسواك . ويمس الطيب ما قدر عليه “

Mandi Jum’at wajib bagi setiap Muslim dan (dianjurkan) bersiwak serta memakai parfum sesuai kemampuan”. (HR. Muslim,7/846).

Keenam, Memakai Parfum

Dianjurkan memakai parfum dan wewangian dan Mengenakan Pakaian Terbaik. Imam Ahmad meriwayatkan dalam musnadnya dari Abu Sa’id Al khudri dan Abu Hurairah radhiyallahu anhuma bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

“مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاسْتَاكَ وَمَسَّ مِنْ طِيبٍ إِنْ كَانَ عِنْدَهُ، وَلَبِسَ مِنْ أَحْسَنِ ثِيَابِهِ ثُمَّ خَرَجَ حَتَّى يَأْتِيَ الْمَسْجِدَ فَلَمْ يَتَخَطَّ رِقَابَ النَّاسِ حَتَّى رَكَعَ مَا شَاءَ أَنْ يَرْكَعَ، ثُمَّ أَنْصَتَ إِذَا خَرَجَ الإِمَامُ فَلَمْ يَتَكَلَّمْ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْ صَلاَتِهِ، كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا بَيْنَهَا وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الَّتِي قَبْلَهَا

Barangsiapa yang mandi pada hari Jumat serta bersiwak dan memakai parfum Jika dia memiliki serta mengenakan pakaian terbaiknya kemudian keluar menuju masjid dan setelah sampai di masjid dia tidak melangkahi punggung-punggung manusia lalu Shalat sebanyak yang dia kehendaki kemudian dia diam saat Imam keluar menyampaikan khutbah serta tidak berkata-kata sampai selesai dari shalatnya maka itu menjadi kafarat baginya penghapus dosa baginya antara jihad setelahnya dengan Jumat sebelumnya”. (HR. Ahmad, no.11768)

Keenam, Bersegera Menuju Masjid

Dianjurkan  bersegera menuju masjid untuk menunaikan shalat Jumat.  Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya dari Aus bin Abil Aus radhiyallahu ‘anhu Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

إِذَا كَانَ يَوْمُ الجُمُعةِ، فَغَسَلَ أحَدُكُمْ رأسهُ واغْتَسَلَ ثم غدا أو ابتكرَ، ثم دنَا فاسْتَمَعَ وأنْصَتَ كانَ له بكلِّ خُطْوة خَطاها كَصِيام سنةٍ وقيامِ سَنَةٍ

“Jika pada hari Jumat salah seorang diantara kalian membasuh kepalanya (keramasa) dan mandi kemudian dia bersegera berangkat menuju masjid kemudian mendekat kepa Imam lalu diam menyimak khutbah maka baginya pahala setiap langkah yang diayunkannya seperti puasa dan shalat setahun’’. (HR. Ahmad, No.16161).

Imam Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dari  Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً، فَإِذَا خَرَجَ الإِمَامُ حَضَرَتِ الْمَلاَئِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ”

“Barangsiapa yang mandi pada hari Jumat seperti mandi junub kemudian dia pergi menuju masjid pada saat yang pertama maka dia seperti berkurban Onta. Barangsiapa  yang pergi ke masjid pada saat yang kedua maka seperti berkurban Sapi. Barangsiapa  yang pergi pada saat yang ketiga akan akan berkurban seekor Kambing yang bertanduk.  Barangsiapa  yang pergi pada saat yang keempat maka seperti berkurban Ayam. Dan barangsiapa yang pergi pada saat yang kelima maka seakan-akan dia berkurban sebutir telur. Dan  jika Imam telah keluar naik mimbar maka para Malaikat (pencatat) mendengarkan Khutbah”. (HR. Bukhari, No. 881 dan Muslim No. 850)

Ketujuh, Menyimak Khutbah dengan Khidmat dan Tenang

Dianjurkan menyimak khutbah dengan tengan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

لا يغتسل رجل يوم الجمعة، ويتطهر ما استطاع من طهر، ويدهن من دهنه، أو يمس من طيب بيته، ثم يخرج فلا يفرق بين اثنين، ثم يصلي ما كتب له، ثم ينصت إذا تكلم الإمام، إلا غفر له ما بينه وبين الجمعة الأخرى ” [ صحيح البخاري، 833

Tidaklah seseorang mandi pada hari Jumat serta bersuci semampunya, memakai minyak rambut,  memakai parfum kemudian keluar menuju masjid dan setelah sampai di masjid tidak memisahkan diantara dua orang (yang duduk berdampigan) lalu Shalat sebanyak yang dia kehendaki kemudian dia diam (tidak berkata-kata)  saat Imam (khatib) berkhutbah melainkan diampuni dosanya antara Jum’at tersebut dengan Jumat sebelumnya”. (HR. Bukhari, no. 833).

Anjuran untuk diam dan tenang saat khutbah Jum’at berlangsung juga disertai dengan larangan untuk berkata-kata dan berbuat sia-sia ketika imam (khatib) sedang menyampaikan khutbah.

“إذا قلت لصاحبك، أنصت يوم الجمعة والإمام يخطب فقد لغوت” متفق عليه وزاد أحمد في روايته : “ومن لغا فليس له في جمعته تلك شيء” .

Jika kamu mengatakan kepada temanmu, ‘diamlah’ pada saat Imam (khatib) sedang berkhutbah, maka kamu telah berbuat sia-sia”. (Muttafaq ‘alaihi).

Dalam riwayat Imam Ahmad terdapat tambahan, “Dan barangsiapa yang berbuat sia-sia maka dia tidak mendapatkan apa-apa sama sekali dari ibadah Jum’atnya”. (HR. Ahmad).

Perkara sia-sia juga berupa perbuatan, sebagaimana dalam hadits, “

Hal ini dijelaskan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dalam hadits riwayat Muslim;

وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا

Barangsiapa menyentuh kerikil, maka sia-sialah Jum’atnya” (HR. Muslim)

Dalam Syarh Shahih Muslim Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa memegang (bermain-main) kerikil  dan lainnya merupakan saat khutbah merupakan salah satu perbuatan yang sia-sia. Selain itu juga terdapat isyarat untuk menghadapkan hati dan anggota badan saat  khutbah Jum’at berlangsung.

Jika menyentuh kerikil dan mendiamkan orang yang berisik dengan satu kata saja ‘diam!’ dianggap sebagai perbuatan sia-sia yang dapat mengugugurkan pahala jum’at, lalu bagaimana dengan perkataan dan gerakan yang lebih banyak dari itu, seperti ngobrol, main hp, membalas dan mengirim pesan whatsapp, dan sebagaianya. Tidak diragukan lagi bahwa hal itu termasuk perbuatan sia-sia yang dapat menggugurkan pahala Jum’at.

Kedelapan, Melakukan Shalat Sunnah Ba’diyah Jum’at

Setelah menunaikan shalat Jum’at dianjurkan melakukan shalat sunnah ba’diyah dua atau empat raka’at. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمُ الْجُمُعَةَ فَلْيُصَلِّ بَعْدَهَا أَرْبَعًا

“Jika salah seorang di antara kalian shalat Jum’at, maka hendaknya dia melakukan shalat setelahnya empat raka’at.” (HR. Muslim no. 881).

Melalui hadits di atas Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk melaksanakan shalat sunnah ba’diyah Jum’at empat raka’at. Adapun riwayat tentang dua raka’at ba’diyah jum’at diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam hadits lain tentang Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma;

أَنَّهُ كَانَ إِذَا صَلَّى الْجُمُعَةَ انْصَرَفَ فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ فِى بَيْتِهِ ثُمَّ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصْنَعُ ذَلِكَ

Jika Ibnu ‘Umar melaksanakan shalat Jum’at, setelahnya ia melaksanakan shalat dua raka’at di rumahnya. Lalu ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan seperti itu.” (HR. Muslim no. 882)

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Hadits-hadits ini menunjukkan disunnahkannya shalat sunnah ba’diyah Jum’at dan anjuran untuk melakukannya, minimalnya adalah dua raka’at, sempurnanya adalah empat raka’at.” (Syarh Shahih Muslim, 6: 169)

Kesembilan, Memperbanyak Do’a

Salah satu keistimewaan hari Jum’at adalah, pada hari Jum’at terdapat satu waktu istijabah (terkabulnya do’a).  Sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika membicarakan mengenai hari Jum’at.  Beliau bersabda,

فِيهِ سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ ، وَهْوَ قَائِمٌ يُصَلِّى ، يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ

Di dalamnya terdapat suatu waktu. Jika seorang muslim berdoa saat itu, pasti diberikan apa yang dia minta” Lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya tentang sebentarnya waktu tersebut. (HR. HR. Bukhari no. 935 dan Muslim no. 852).

Menurut pendapat terkuat diantara pendapat ulama tentang waktu yang dimaksud adalah sejam Imam/khatib naik mimbar hingga shalat Jum’at selesai dan setelah shalat ashar hingga jelang maghrib.  Sebagaimana dalam hadits riwayat Muslim dan riwayat Abu Daud:

هي ما بين أن يجلس الإمام إلى أن تقضى الصلاة

Waktu tersebut adalah ketika imam naik mimbar sampai shalat Jum’at selesai”. (HR. Muslim, No.853).

Dalam hadits riwayat Abu Daud berbunyi:

يوم الجمعة ثنتا عشرة يريد ساعة لا يوجد مسلم يسأل الله عز وجل شيئا إلا أتاه الله عز وجل فالتمسوها آخر ساعة بعد العصر

“Dalam 12 jam hari Jum’at ada satu waktu, jika seorang muslim meminta sesuatu kepada Allah Azza Wa Jalla pasti akan dikabulkan. Carilah waktu itu di waktu setelah ashar”. (HR. Abu Daud, No. 1048).

Namun Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari  menggabungkan kedua hadits tersebut. Ibnu ‘Abdil Barr berkata: “Dianjurkan untuk bersungguh-sungguh dalam berdoa pada dua waktu yang disebutkan”. Wallahu a’lam [sym].