Adab Mendatangi dan Memasuki  Masjid (2) 

Adab Mendatangi dan Memasuki  Masjid (2) 

(Lanjutan tulisan Sebelumnya)

Masjid  merupakan tempat yang mulia dan suci yang harus diagungkan. Sebab mengagungkannya merupakan bagian dari mengagungngkan syi’ar-syi’ar Allah. Sebagaimana firman Allah, “Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati.” (Terj. Qs. Al-Hajj: 32).

Salah satu bentuk pengagungan terhadap Masjid adalah menjaga adab mendatangi dan memasuki Masjid. Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya tentang  adab mendatangi dan memasuki  Masjid.

  1. Berangkat ke Masjid dengan Berjalan Kaki

Disunnahkan berjalan kaki ketika pergi ke Masjid. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam muslim dan Shahihnya dari hadits Ubai bin Ka’ab radhiyallahu anhu, dia berkata:

Dahulu ada seseorang dari Anshar yang rumahnya paling jauh dari kota Madinah, akan tetapi ia tidak pernah ketinggalan shalat berjama’ah bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kemudian kami menghampirinya dan saya mengatakan:

Wahai fulan! Kalau sekiranya engkau membeli seekor keledai yang melindungimu dari kerikil dan melindungimu dari panasnya bumi.” Dia menjawab: “Walallahi bukanlah yang menjadi keinginanku bahwa rumahku berdekatan dengan rumah Muhammad shalallahu alaihi wasallam“. Kemudian dia (Ka’ab) berkata: “Maka akupun menghadap nabi shallallahu alaihi wasallam dan memberitahu beliau”. Kemudian dia (ka’ab) berkata: “maka beliau memanggilnya, kemudian diceritakanlah kembali dan orang ini menyebutkan bahwa ia berharap dengan perbuatannya itu pahala dari Allah“.  Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“إن لك ما احتسبت”  وفي رواية: “قد جمع اللَّه لك ذلك كله”.

“Sesungguhnya bagimu apa yang engkau kerjakan“.[nomor hadits 663”.

Dalam riwayat lain: “Sungguh allah telah mengumpulkan bagimu semuanya“.

Imam  Abu Daud meriwayatkan dalam Sunannya dari  Aus as Saqafi radhiyallahu anhu berkata, Saya mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

 “مَنْ غَسَّلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاغْتَسَلَ ثُمَّ بَكَّرَ وَابْتَكَرَ وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ وَدَنَا مِنَ الْإِمَامِ فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ، كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا”

“Barangsiapa yang mandi pada hari jum’at kemudian pergi ke masjid lebih awal, dan berjalan tidak mengendarai kendaraan, menunggu Imam dan mendengarkan dengan seksama khutbah tidak melakukan hal-hal yang sia sia maka pada setiap langkahnya terhitung amalan setahun sholat dan puasa”. [HR. Abu Daud nomor 345, dishahihkan oleh Imam Al-albani 1/70 no 333]

Dalam shahih Muslim disebutkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda;

 “أَلا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّه بِهِ الْخَطَايَا، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟” قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّه، قَالَ: “إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلاةِ بَعْدَ الصَّلاةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ”

Apakah kalian ingin aku tunjukkan sesuatu yang dengannya Allah hapuskan dosa-dosa (kalian), dan mengangkat dengannya derajat-derajat (kalian)”. “Tentu wahai Rasulullah”, jawab mereka. Beliau bersabda: “Menyempurnakan wudhu pada saat-saat yang dibenci, memperbanyak langkah menuju masjid, menunggu sholat setelah sholat, maka itulah ar ribath“. [HR. Muslim nomor 231]

5. Bergegas Ke Masjid Ketika Adzan Berkumandang

Dianjurkan bergegas pergi ke masjid ketika adzan dikumandangkan atau bahkan hendaknya datang sebelum adzan. Sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu mengabarkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

” لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي التَّهْجِيرِ لَاسْتَبَقُوا إِلَيْهِ”

“Seandainya manusia tahu (pahala) apa (yang Allah siapkan) pada adzan dan shaf pertama kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan mengundi niscaya mereka akan mengundi, dan seandainya mereka mengetahui (pahala) pada shaf pertama mereka akan berlomba-lomba untuk mendapatkannya“. [HR. Bukhari nomor 615 dan Muslim nomor 437]

6. Berjalan ke Masjid dengan Khusyuk dan Tenang

Dianjurkan berjalan dengan khusyuk dan tenang ketika menuju Masjid. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

  “إِذَا سَمِعْتُمُ الْإِقَامَةَ فَامْشُوا إِلَى الصَّلَاةِ وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ وَالْوَقَارِ وَلَا تُسْرِعُوا، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا”

Ketika kalian mendengarkan iqamah maka berjalanlah menuju shalat dengan tenang dan tidak tergesa-gesa serta tidak berlari, maka apa yang kamu dapatkan shalatlah kalian dan apa yang kalian tertinggal maka sempurnakanlah“. (HR. Bukhari nomor s636 dan Muslim nomor 602).

Dalam hadits di atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan agar berjalan menuju Masjid dengan tenang dan tidak tergesa-gesa serta tidak berlari-lari. Sebab hal itu dapat mempengaruhi ketenangan dan kekhusyukan dalam shalat.  Bersambung. [Yoshi/ed:Sym].

Sumber: http://www.alukah.net/sharia/0/108669/#_ftn2

Adab Mendatangi dan Memasuki Masjid (1)

Adab Mendatangi dan Memasuki  Masjid  (1)

Masjid  merupakan tempat yang mulia dan suci. Oleh karena itu harus diagungkan, sebab mengagungkannya merupakan bagian dari mengangkan syi’ar-syi’ar Allah. Sebagaimana firman Allah, “Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati.” (Terj. Qs. Al-Hajj: 32).

Salah satu bentuk pengagungan dan penghormatan terhadap Masjid adalah menjaga adab saat mendatangi dan memasuki Masjid. Tulisan ini memaparkan beberapa adab yang hendaknya diperhatikan ketika mendatangi dan memasuki  Masjid.

  1. Mengenakan Pakaian yang Terbaik, Rapi dan Sopan

Dianjurkan dan disunnahkan berhias dengan mengenakan pakaian terbaik, rapi, dan sopan ketika mendatangi dan memasuki Masjid. Hal ini berdasarkan  perintah Allah Ta’ala dalam surah Al-A’raf ayat 31;

 يَابَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (Q.S. al-a’raf: 31).

Ayat tersebut berisi perintah mengenakan pakaian yang terbaik ketika hendak masuk Masjid. Bahkan tidak mengapa seseorang mengkhususkan pakaian tertentu untuk shalat, terutama shalat Jum’at. Imam Abu Daud meriwayatkan Sunannya satu hadits dari  Muhammad bin Yahya bin Hibban radhiyallahu ‘anhu bahwa, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“أَنْ يَتَّخِذ ثَوْبَيْنِ لِيَوْمِ الْجُمُعَةِ سِوَى ثَوْبَيْ مِهْنَتِهِ”

Hendaknya seseorag memiliki dua pakaian; (pakaian khusus) untuk hari Jum’at selain pakaian kerja.” (HR. Abu Daud 1078 dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih abu Daud,No. 953)

  1. Bersiwak

Bersiwak atau membersihkan gigi merupakan satu Sunnah Rasul yang sangat ditekankan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa bersiwak dapat mensucikan mulut dan mendatangkan ridha Allah Ta’ala.

Diantara waktu yang sangat dianjurkan bersiwak adalah ketika hendak shalat. Bahkan andaikan tidak khawatir mempersulit ummatnya Nabi ingin menyuruh ummatnya bersiwak setiap hendak berwudhu dan shalat. Imam Bukhari dan lmam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

 “لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ”.

‘Kalaulah tidak memberatkan bagi ummatku maka sungguh akan kuperintahkan mereka bersiwak setiap (sebelum) melakukan Shalat“. (HR. Bukhari, No. 887 dan Muslim, No. 252).

  1. Tidak Mendatangi Masjid dalam Keadaan Mulut dan Badan Berbau

Dilarang mendatangi dan memasuki Masjid setelah makan bawang merah, putih atau yang sejenisnya melainkan membersihkannya terlebih dahulu.

Di dalam kitab Shahihain Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwasanya Nabi melarang orang yang baru selesai makan bawang untuk memasuki Masjid. Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda :

“مَنْ أَكَلَ الْبَصَلَ، وَالثُّومَ، وَالْكُرَّاثَ، فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا، فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَتَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ بَنُو آدَمَ”

Barangsiapa yang memakan bawang putih atau bawang merah serta daun bawang maka jangan sekali-kali mendekati masjid kami, karena sesungguhnya Malaikat terganggu dengan apa-apa yang manusia terganggu dengannya“.(HR. Bukhari nomor 855 dan Muslim No. 564).

Bawang dan daun bawang bukanlah makanan yang haram, akan tetapi dilarang bagi yang akan melaksanakan shalat di Masjid memakannya karena dapat menimbulkan aroma yang tidak sedap dan mengganggu orang-orang yang shalat. Bahkan yang terganggu dengan bau bawang bukan hanya manusia, tapi para Malaikat juga turut terganggu, sebagaimana disebutkan  dalam hadits di atas.

Larangan ini berlaku pula pada semua yang mengandung bau tidak sedap dan menggangu penciuman orang lain, seperti bau rokok, bau mulut karena berhasir-hari tidak bersiwak (sikat gigi), atau bau badan karena keringat atau jarang mandi  dan baju dalaman yang telah dipakai berhari-hari tanpa diganti. Bersambung insyaAllah. [ed:Sym].