7 Bekal  Utama Menuju Pernikahan Sukses dan Bahagia

7 Bekal  Utama Menuju Pernikahan Sukses dan Bahagia

Pernikahan adalah satu fase perjalanan kehidupan. Karenanya, penting bagi seseorang yang hendak memasuki jenjang pernikahan untuk menyiapkan perbekalan. Tentunya bekal yang tepat. Karena salah membawa bekal sangat beresiko dalam suatu perjalanan. Bagaimana jadinya orang yang hendak mendaki gunung justru berbekal pelampung?

Begitu pula dalam pernikahan. Ketika gaya hidup masyarakat barat menjadi kiblat dan masih jauhnya mayoritas masyarakat dari konsep Islam dalam kehidupan berumah tangga, hal ini sangat rentan memicu timbulnya berbagai konflik dalam rumah tangga, bahkan sampai kepada perceraian.

Apalagi pernikahan tidak sekedar tentang hidup berdua. Tidak semata antara “aku dan kamu” tapi lebih luas adalah membangun peradaban. Lantas bagaimana suatu peradaban dapat dibangun tanpa bekal yang memadai?

Lalu, bekal apa yang mesti disiapkan oleh orang yang hendak menikah? Bekal apa saja yang bakal berguna dalam perjalanan pernikahan itu? Tulisan ini akan menyaikan tujuh beka utama menuju pernikaha sukses dan bahagia.

  1. Kelurusan Niat

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Amal itu tergantung niatnya,dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya.” (HR Bukhari Muslim)

Hadits ini menjadi dalil pentingnya niat dalam setiap amal perbuatan. Bahwa niat merupakan pondasi awal suatu amal perbuatan. Bahkan suatu amal perbuatan yang dilandasi oleh beberapa niat dapat memberikan imbas pahala yang berlipat.

Begitu juga dalam pernikahan. Penting bagi orang yang hendak menikah untuk meluruskan niat dan menjaga kelurusan niat pernikahannya agar rumah tangga yang dibangun menuai keberkahan. Seseorang yang meniatkan pernikahannya agar dapat menjaga dirinya dari godaan syetan, untuk menyempurnakan setengah dien nya, agar dapat melakukan amalan-amalan yang hanya bisa dilakukan dalam pernikahan, insya Allah dia akan sampai kepada niatnya. Sebagaimana kaidah yang penulis pegangi, bahwa niat baik insya Allah ketemu jalannya. Dan tentunya niat ini perlu senantiasa dijaga kelurusannya sepanjang masa pernikahan yang panjang. Dan hanya Allah sebaik-baik Penolong.

  1. Bertakwa kepada Allah

Di dalam surat Ath thalaq  ayat 2-3 Allah berfirman,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (٢) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ (٣)

“Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah maka Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tak tidak disangka-sangka” (QS Ath Thalaq 2-3)

Allah berjanji mencukupi kebutuhan dan mengatasi urusan hamba-Nya yang bertakwa. Sementara kita pahami bersama bahwa kehidupan rumah tangga adalah misteri yang hanya akan terungkap setelah kita menjalaninya. Kita tidak tahu seperti apa hari-hari ke depan dalam pernikahan yang kita bangun kecuali setelah hari itu kita lewati. Karenanya, menyiapkan diri dengan membangun ketakwaan kepada Allah merupakan bekal yang tepat agar lapis-lapis misteri yang terkuak dapat dijalani dengan kemanisan iman.

  1. Mencanangkan Visi Misi Pernikahan

Dalam organisasi dakwah saja kita mengenal visi misi dan rencana kerja. Maka tak kalah penting pula hal ini diterapkan dalam pernikahan. Bahkan kesamaan visi misi bagi dua calon pasangan yang akan menikah merupakan salah satu barometer kesuksesan urusan yang akan mereka tempuh. Kesamaan visi misi akan membuat biduk rumah tangga mudah diarahkan dan tidak mudah oleng oleh terpaan angin persoalan.

  1. Bekal ilmu

Kaidah “ilmu sebelum amal” berlaku dalam semua lini amaliyah termasuk pernikahan. Hendaknya seseorang yang hendak memasuki jenjang pernikahan, berbekal ilmu seputar kerumahtanggaan berbasis syari’at. Jangan sampai seseorang menempuh pernikahan tanpa modal pemahaman karena bisa terjebak dalam berbagai jerat-jerat kesalahan dan kemaksiatan.

  1. Bekal Mental Psikologis

Tragedi piring terbang, ringan tangan kepada pasangan, bisa jadi merupakan rapuhnya mental pasutri. Mentalnya belum tangguh untuk mengarungi lembah-lembah pernikahan yang penuh dengan lekuk dan liku.

Dalam pernikahan ada banyak hal yang tidak terduga. Kejutan-kejutan bahagia ataupun hal-hal yang bisa membuat air mata berurai, semua itu butuh kesiapan mental, butuh sikap dewasa dalam menghadapainya. Kesabaran, kemampuan mengolah rasa, sangat dibutuhkan demi utuhnya kapal penikahan dari hempasan badai. Dan bekal ini akan terus bertambah seiring berjalannya usia pernikahan dan dinamika yang terjadi di dalamnya

  1. Bekal Finansial

Poin ini bukan menjadi kaidah bahwa menikah harus kaya. Bahwa orang miskin dilarang menikah. Bukan. Tapi lebih kepada kesiapan untuk menghadapi realita bahwa kebutuhan hidup berumah tangga tentu akan jauh lebih besar daripada menanggung diri sendiri.

Bukankah Allah akan memampukan orang yang menikah dengan rejeki-Nya? Tentu, ini dalil yang tidak bisa disangkal. Hanya saja, apakah kemudian rejeki itu hanya ditunggu saja sambil berpangku tangan? Tentunya saja perlu ada sebab-sebab untuk mendatangkannya. Ada ikhtiar utnuk meraihnya.

Karena terkadang poin ini menjadi syarat bagi sebagian orang bahwa calon pasangannya harus punya pekerjaan tetap, harus mapan, harus berpenghasilan sekian. Di sisi lain pun seorang pria menjadi gamang menikah karena belum memiliki pekerjaan tetap, penghasilannya masih minimalis. Hmmm …. kalau boleh penulis koreksi, pemikiran itu perlu diluruskan. Sah-sah saja sih syarat itu diajukan. Tapi jangan sampai gara-gara syarat itu Anda kemudian memutuskan untuk tidak menikah. Bagi penulis, masalah sebenarnya bukan pada pekerjaannya, tapi tetap bekerja dan mempunyai semangat kerja. Karena rejeki itu sudah ada yang mengatur. Dan sebagaimana janji Allah, bahwa Allah akan memampukan mereka dengan rejeki-Nya.

  1. Bekal Fisik

Menjalani kehidupan berumah tangga tentu saja berbeda kondisinya dengan kehidupan membujang. Banyak hal yang membutuhkan kesiapan dan kesigapan fisik kita. Seorang suami tentu perlu menyiapkan fisiknya supaya bisa mencari penghidupan tidak hanya untuk dirinya tapi juga untuk istri dan anaknya.

Seorang istri pun perlu sigap menciptakan keadaan rumah yang nyaman demi nyamannya suami di sisinya dan lebih betah menghabiskan waktu di rumah. Mengurus anak-anak pun butuh kesiapan fisik. Bahkan dalam melakoni hubungan suami istri pun butuh kesiapan fisik yang prima. Karenanya hal ini perlu disiapkan pra nikah dengan menjaga kesehatan dan menjalani pola hidup sehat.  (ummisanti).