Energy Of Da’wah Qurani

Energy of Da'wah Qurani

Sambutan Ketua DPW Wahdah Islamiyah dalam seminar Energy Of Da’wah Qurani

Energy Of Da’wah Qurani

(Depok) Wahdahjakarta.com, – Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Wahdah Islamiyah Jakarta dan Depok  menggelar Sharing Dakwah Qurani di Aula Trubus Cimanggis Depok Jawa barat pada Ahad, (12/08/2018).

Kegiatan ini merupakan rangkaian dari MPP (Musyawarah Pengurus Pleno) yang rutin diadakan setiap 4 bulan sekali.

Sharing Da’wah Qurani pada MPP ini mengundang salah satu Lembaga Pendidikan Alquran yang sedang naik daun yaitu Tim Askar Kauny yang diwakili Ust Habiburakhman, Lc. Lembaga pimpinan Ust Bobby Herwibowo, Lc ini terkenal dengan metode menghafal qur´an menggunakan otak kanan dengan branding `Menghafal Semudah Tersenyum`.

Dengan metode ini (atas ijin Allah) sudah jutaan orang yang telah merasakan manfaat bagaimana menghafal qur`an dengan mudah, dan ada 40.000 lebih peserta aktif dari komunitas penghafal qur`an di Indonesia dan beberapa negara lain. Askar Kauny juga telah memiliki 23 Pesantren penghafal qur`an untuk Yatim dan Dhuafa yang digratiskan sejak didirikan tahun 2014 dan masih terus banyak beberapa permintaan antri untuk pendirian pesantrennya.

Perkembangan yang begitu cepat ini (atas ijin Allah) menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap dakwah Alqur`an yang begitu tinggi, disamping karena metode yang dikembangkan Askar Kauni begitu mudah dan menyenangkan di dalam prakteknya. `Menghafal Qur`an dengan tidak menggunakan otak`, demikian papar Ust Habib dalam sesi sharing dengan pengurus DPW WI DKI Jakarta – Depok.

Dalam sambutanya Ustadz Ilham Jaya selaku Ketua DPW Menyampaikan perlunya melakukan terobosan – terobosan terus menerus di dalam dakwah, sehingga potensi yang ada akan semakin berkembang. Dengan adanya sharing dakwah qurani diharapkan menambah wawasan, bekal `amunisi` dan energi bagi Pengurus Wahdah Islamiyah di Jakarta dan Depok agar berdakwah kepada masyarakat lebih mudah diterima, dan punya kekuatan yang dahsyat di dalam membuka pintu-pintu hidayah sebagai sebuah ikhtiar didalam mendakwahkan Alqur`an.(yd).

Menjadi  Manusia Terbaik

Siapakah manusia terbaik itu?

Apakah dia orang yang terkenal dan punya banyak penggemar? Apakah sebaik-baik manusia itu yang punya liker atau follwer terbanyak? Mari kita cermati apa yang disampaikan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam,

خيركم من تعلّم القرآن وعلّمه

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya.” (HR Bukhari: 4739)

 Bagaimana maksud hadits tersebut? Agar Anda lebih memahaminya, mari sejenak kita berbelok arah. Sekarang coba Anda pikirkan tentang suatu malam, yang di dalam Al Qur’an Allah berfirman tentangnya,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ [٩٧:١]  وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ [٩٧:٢] لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ [٩٧:٣]  تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ [٩٧:٤]  سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ [٩٧:٥

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (Terjemah QS al Qadr [97]: 1-3)

Malam apakah itu? Ya, lailatul qadar. Satu malam yang begitu dimuliakan. Satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Tahukah Anda sebabnya? Karena pada malam itu diturunkan Al Qur’an. Malam yang biasa, ketika padanya diturunkan Al Qur’an, dia menjadi malam yang paling mulia. Dan Anda tentunya tahu bahwa malam lailatul qadar ini berada di bulan Ramadhan. Oleh karena itu, bulan Ramadhan pun menjadi sebaik-baik bulan. Lagi-lagi karena bersinggungan dengan Al Qur’an, Ramadhan menjadi sebaik-baik bulan di antara dua belas bulan yang ada.

Bagaimana dengan Makkah dan Madinah? Bukankah dua tempat itu merupakan tempat yang dimuliakan? Tempat tersebut setiap tahun dikunjungi oleh ribuan manusia dari berbagai penjuru negeri. Mengapa? Karena pada dua tempat itu diturunkan Al Qur’an sehingga menjadi tempat yang paling mulia di dunia.

Begitu pula dengan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

“Dan beliau (Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam) adalah penduduk bumi yang paling baik nasabnya secara mutlak, maka semulia-mulia kaum adalah kaum beliau, semulia-mulia kabilah adalah kabilah beliau.” (Zaadul Ma’aad 1/72)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam memiliki keutamaan dibandingkan rasul yang lainnya karena kepada beliaulah diturunkan Al Qur’an.

Dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda,

“Sebaik-baik generasi adalah generasi di zamanku, kemudian yang setelahnya, kemudian yang setelahnya.” (HR Bukhari: 2652)

Mengapa generasi di zaman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menjadi sebaik-baik generasi? Karena pada generasi itulah masa diturunkannya Al Qur’an.

Nha, sampai di sini Anda mulai paham bukan? Setiap apa pun yang bersinggungan atau berdekatan dengan Al Qur’an, dia menjadi mulia. Bahkan Napoleon Bonaparte, penguasa Perancis yang berhasil menduduki Mesir pada tahun 1798-1801, dia secara tidak sengaja menemukan Al Qur’an di perpustakaan Mesir dan  mempelajari isinya selama beberapa hari. Apa kemudian yang dia katakan? “Aku telah mempelajari dari buku ini (Al Qur’an) dan aku merasa bahwa apabila kaum muslim mengamalkan aturan dalam buku ini, niscaya mereka tidak akan pernah terhinakan. Selama Al Qur’an ini berkuasa di tengah kaum muslimin dan mereka hidup di bawah naungan ajarannya, mereka tidak akan tunduk kepada kita, kecuali kita pisahkan mereka darinya.”

Pernyataan serupa juga diungkapkan oleh William Ewat Gladstone, seorang berkebangsaan Inggris. Dia berkata di depan parlemen Inggris sambil memegang Al Qur’an, “Selama Al Qur’an ini masih berada di tangan kaum muslimin, maka selama itu juga eropa tidak akan mampu menguasai timur dan tidak akan hidup dengan aman.”

Seakan-akan kedua orang tersebut telah mempelajari dan memahami hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam,

“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan Al Qur’an dan merendahkan yang lainnya juga dengan Al Qur’an.” (HR Muslim: 817)

Bagaimana dengan kita? Kalau orang kafir saja memahami bahwa umat Islam akan mulia dengan Al Qur’an, sehingga mereka berupaya menjauhkan umat Islam dari Al Qur’an, maka  sudah selayaknya kita sebagai umat Islam menyadari dan mengambil bagian dalam hal ini. Jika kita ingin menjadi orang yang diangkat derajatnya, menjadi sebaik-baik manusia, maka kita harus berdekatan dengan Al Qur’an. Bermesraan lebih sering dengan Al Qur’an daripada dengan smartphone. Banyak membuka dan menelaah Al Qur’an daripada membuka dan menelaah status-status di medsos.

Dari sini pula kita bisa mengukur seberapa mulianya kadar diri kita di hadapan Allah. Jika kita lebih banyak berinteraksi dengan dunia maya atau kesibukan dunia dan menjadikan interaksi dengan Al Qur’an sebagai prioritas yang kesekian setelah prioritas-prioritas yang lain, maka kita perlu mengucapkan istighfar. Kita perlu segera berbenah. Kita perlu segera mengubah haluan dengan menjadikan Al Qur’an sebagai prioritas utama dalam jadwal-jadwal harian kita. Karena kemenangan dan kemuliaan agama ini akan diraih oleh orang-orang yang menghidupkan hatinya dengan lentera Al Qur’an. (UmmiSanti)

Puasa Sembilan Hari di Bulan Dzulhijjah Termasuk Sunnah?

Puasa Sembilan Hari di awal Bulan Dzulhijjah Termasuk Sunnah?

Pertanyaan:

Apakah puasa pada 9 hari pertama bulan Dzulhijjah termasuk sunnah

Jawaban:

Puasa pada 9 hari pertama bulan Dzulhijjah termasuk sunnah berdasarkan hadits riwayat Imam Ahmad dan Ibnu Hibban dari Ummul mukminin Aisyah radhiyallahu anh;  Beliau mengatakan bahwa;

أربع لم يكن يدعهن رسول الله صلى الله عليه وسلم صيام يوم عاشوراء والعشر وثلاثة أيام من كل شهر والركعتين قبل الغداة.

Ada empat amalan yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam (yaitu) puasa Asyura puasa puasa ‘asyar (di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah), puasa tiga hari setiap bulan, dan shalat dua rakaat sebelum subuh”. (HR Ahmad, Nasa’i dan Ibnu Hibban).

Dalam hadits laim dari  Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya…” (HR. Abu Daud no. 2437. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Hadits  ini merupakan dalil tentang disunnahkannya puasa pada 10 hari pertama bulan dzulhijjah.

Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari  ‘Aisyah radhiyallahu anha yang  mengatakan bahwa,  “Saya tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah berpuasa pada sepuluh hari pertama bulan dzulhijjah”, telah dijelaskan oleh para ulama.

Mereka mengatakan bahwa yang dimaksud adalah beliau tidak puasa karena suatu sebab seperti sakit atau safar (perjalanan) atau sebab yang lainnya.

Selain itu tidak terlihatnya bepuasa tidak menunjukkan bahwa beliau tidak berpuasa sama sekali. Karena  Puasa merupakan amalan yang tidak nampak.  kemudian di satu sisi puasa merupakan amal shaleh yang sangat ditekankan pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Karena pada hari-hari ini (sepuluh awal bulan Dzulhijjah) amal shaleh lebih utama dan lebih dicintai Allah. Oleh karena itu jelaslah bahwa puasa pada 9 hari pertama bulan Dzulhijjah merupakan sunnah. [sym].

Sumber: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/ 

Wahdah Islamiyah Jakarta Tegaskan Komitmen Dakwah Qur’an

Ketua DPW WI Jakarata dan Depok Ustadz. Ilham Jaya saat menyampaikan arahan pada MPP DPW WI Jakarta, Ahad (12/08/2018)

Tema MPP kali ini adalah “Energy of Dakwah Qurani”, dengan menempatkan wacana atau gagasan, menjadikan dakwah Al Quran serta mencanangkan program dan kegiatan dakwah yang lebih efektif dan efisien di Jakarta.

(Jakarta) wahdahjakarta.c0m,-  Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Wahdah Islamiyah DKI Jakarta (Wahdah Jakarta) menggelar Musyawarah Pengurus Pleno (MPP) pada Ahad (12/08/2018) di Agroedutainment Toko Trubus Cimanggis Depok.

Tema MPP kali ini adalah “Energy of Dakwah Qurani”, dengan menempatkan wacana atau gagasan, menjadikan dakwah Al Quran serta mencanangkan program dan kegiatan dakwah yang lebih efektif dan efisien di Jakarta.

Ketua DPW Wahdah Islamiyah Jakarta, Ilham Jaya Abdul Rauf mengatakan,  Wahdah Jakarta dan Depok bertekad akan menjadikan dakwah Al-Quran sebagai inti dari aktifitas-aktifitas Wahdah Islamiyah Jakarta dan Depok.

“Kegiatan dan program dakwah yang dijalankan Wahdah di DKI Jakarta dan sekitarnya Wahdah Islamiyah Jakarta memformulasikan tema-tema Qurani baik secara konten dan perwajahan dakwah Islam sebagai brand utama dakwah Wahdah Islamiyah di Jakarta dan sekitarnya”, terang Ustadz Ilham.

“Kita harapkan bahwasanya tema-tema Quran ini menjadi unggulan dalam program kerja di lembaga perjuangan ini”, pungkas mantan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar ini.

Saat ini Wahdah Jakarta mengelola beberapa kegiatan dan program Dakwah Qur’an seperti Rumah Tahfidz, Markaz Qur’an, DIROSA (bimbingan baca Al-Qur’an untuk orang dewasa), tahfidz Week end, bimbingan terjemah Qur’an, pesantren tahfidz, serta pelatihan guru dan pengajar Qur’an.

Ustadz Ilham berharap program dan gerakan ini memberikan manfaat yang besar terhadap umat di Indonesia secara umum, terkhusus bagi warga Jakarta sebagai pusat Ibukota, dan umat Islam secara umum.

MPP ini diikuti oleh perwakilan pengurus wahdah dan Muslimah Wahdah tingkat Daerah di Jakarta dan Depok (DPD WI Jakarta Timur, DPD WI Jakarta Selatan, DPD WI Jakarta Pusat, DPD WI Jakarta Utara, dan DPD WI Depok. [sym]