Asmaul Husna [23 & 24]: Al-Khafidh dan Ar-Rafi’ (Yang Maha Merendahkan dan Maha Meninggikan)

Asmaul Husna [23 & 24]: Al-Khafidh dan Ar-Rafi’ (Yang Maha Merendahkan dan Maha Meninggikan)

Asmaul Husna [23 & 24]: Al-Khafidh dan Ar-Rafi’ (Yang Maha Merendahkan dan Maha Meninggikan)

 Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ [٥٨:١١[

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Qs. Al Mujadilah: 11)

Allah Ta’ala juga berfirman;

إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ [ ٥٦:١] لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ [٥٦:٢] خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ [٥٦:٣]

Apabila terjadi hari kiamat, tidak seorangpun dapat berdusta tentang kejadiannya.  (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain)”. (Qs. Al Waqiah 1-3).

 Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak tidur dan tidak selayaknya Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidur. Dan sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan meninggikan dan menurunkan timbangan orang banyak. maksud Al-Khafidz adalah yang menurunkan kesombongan dan kecongkakan para penguasa sehingga kedudukan mereka menjadi rendah dan hina. Bisa juga dimaksudkan dengan merendahkan orang-orang kafir dan musyrik dengan menjatuhkan mereka ke dalam neraka Jahannam.

Maksud Al-Khafidh adalah meninggikan para Wali Allah subhanahu wa ta’ala dan menolong mereka dalam melawan musuh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ar-Rafi’ juga berarti yang meninggikan kedudukan hamba-hamba yang dikehendakiNya di dunia sebelum mereka ditinggikan di akhirat dengan memasukkan mereka ke dalam surga pada derajat yang sangat tinggi. Seringkali  Al-Khafidh disebutkan bersamaan dengan Ar-Rafi’ sehingga terlihat dengan jelas bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala meninggikan dan merendahkan hamba-hambaNya sesuai dengan hikmahNya . (Syarh Singkat Asmaul Husna, Musthafa Wahbah).

Kisah Duka Seorang Musafir di Perjalanan

Kisah Duka Seorang Musafir di Perjalanan

(Jakarta) wahdahjakarta.com-, Sungguh malang nasib bapak yang berinisial MF (60). Dia berasal dari Cirebon, lahir di Manado. Dia sering bolak-balik Cirebon – Sukabumi untuk melakukan pengobatan jemarinya yang kaku selama satu tahun. Ujian menimpa dirinya ketika hendak pulang dari Sukabumi ke rumahnya di Cirebon, Rabu(8/8/2018) bahwa bus yang hendak dia tumpangi tidak ada lagi karena kehabisan tiket.

Oleh karena itu, Bapak (MF) naik bus jurusan Depok untuk transit di sana. Sebelum turun di terminal Depok, betapa kagetnya bapak ini karena barang-barang berharga yang dibawa seperti tas, sepatu, dompet dan seluruh isinya serta hp sudah dibawa kabur oleh pencuri. Lalu dia langsung mengunjungi kantor polisi terdekat untuk pengaduan dan mendapatkan surat keterangan hilang dari polisi.

Berbekal surat keterangan hilang dari polisi, Bapak (MF) meneruskan langkahnya dengan berjalan kaki di sepanjang jalanan Depok – Jakarta karena tidak punya uang untuk bayar ongkos angkutan umum, dan nomor hp satu pun tidak ada yang ingat untuk dihubungi. Sehingga pada akhirnya bapak ini tiba di sebuah masjid di kampus Universitas Gunadarma. Usai Shalat MF berbincang-bincang dengan salah seorang mahasiswa yang juga santri binaan Wahdah Islamiyah yang seluruh kegiatannya di support oleh LAZIS Wahdah.

Mahasiswa yang tidak disebutkan namanya ini menyarankan kepada bapak yang musafir untuk segera mengunjungi kantor LAZIS Wahdah. Bapak (MF) pun langsung berjalan kaki sejauh 20 km lebih untuk sampai di kantor LAZIS Wahdah Jakarta. Setelah sampai di sana, ternyata di kantor lamanya. Lalu dia bertemu dengan salah seorang pengurus Wahdah Islamiyah di sana dan mendapatkan alamat baru LAZIS Wahdah Jakarta dari pengurus tersebut. Bapak (MF) tetap semangat berjalan kaki lagi hingga sampai juga di kantor LAZIS Wahdah Jakarta di Lenteng Agung, dekat Universitas Pancasila.

Di sana, Bapak (MF) bertemu langsung dengan pimpinan LAZIS Wahdah Jakarta, Yudi Wahyudi dan menceritakan semua apa yang dialaminya. Pimpinan LAZIS Wahdah Jakarta turut prihatin lalu memberikan bantuan yang berasal dari donatur kepadanya.

“Saya sangat berterima kasih sekali kepada LAZIS Wahdah atas bantuannya, bantuan ini sangat berarti sekali bagi saya “,  tuturnya.

“Terus terang, saya adalah muallaf meskipun sudah 12 an tahun tetapi belum bisa banyak membaca Al Qur’an bahkan hampir tidak mempunyai waktu membaca Al Qur’an. Mungkin ini teguran buat saya“, tambahnya.

Alhamdulillah Bapak, Allah mempertemukan kita di tempat ini bukan tidak ada maksud. Mudah-mudahan ini adalah awal untuk menjalin silaturrahim kita kedepannya. Kami sudah ada da’i di Cirebon dan sudah ada rencana untuk buka cabang nantinya di sana”, ujar Ketua LAZIS Wahdah Jakarta. [yd/rsp]

———-

**

💧Kunjungi 👇🏻

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2154471844768740&id=1458576761024922

❤Indahnya berbagi dengan mereka yang membutuhkan uluran tangan kita. Mari bersama bahagiakan dhuafa, yatim, santri penghafal Al Qur’an, dan para da’i yang sedang berjuang menyebarkan cahaya islam di pelosok Nusantara dengan segala keterbatasan melalui LAZIS Wahdah.

➡ Bank Syariah Mandiri (451) 773 800 8008 an Lazis Wahdah Jakarta Sedekah

📲Konfirmasi transfer ke 08119787900 (call/wa/sms)

“Bahagia mereka, bahagia kita semua”

💌LAZIS Wahdah, “Melayani dan Memberdayakan”