Bagaimana  Seharusnya Memuliakan Bulan Muharram

Bagaimana  Seharusnya Memuliakan Bulan Muharram

Pertanyaan:

Bismillah.. Assalamualaikum utadz, saya  mau tanya.. Sekarang kan kita sedang berada di bulan Muharram atau Suro.  Di daerah saya sebagian orang enggan mengadakan hajatan pada bulan muharram. Karena menganggap Muharram sebagai bulan sial.  Benarkah demikian ustadz?  Karena saya juga pernah dengar dan baca bahwa bulan Muharram merupakan salah satu bulan mulia dalam Islam.  Bagaimana seharusnya kita memuliakan bulan Muharram? (Fadli, Jakarta).

Jawaban:

Muharram merupakan bulan haram (asyhurul hurum) sebagaimana diterangkan dalam surat At-Taubah ayat 6. Selain itu bulan Muharram juga disebut oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bulan Allah (syahrullah). Sehingga tidak tepat jika dikatakan bahwa bulan Muharram merupakan bulan sial. Karena bulan Ramadhan adalah bulan yang mulia dan terhormat berdasarkan keterangan dari Al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Oleh karena Muharram merupakan bulanNya Allah yang mulia [syahrullah al-haram], maka kita harus memuliakannya. Tentu memuliakan dan menghormati bulan ini bukan dengan mengkeramatkannya, bukan dengan menganggapnya sebagai bulan sial. Bukan pula dengan menghindari hajatan karena taakut sial dan seterusnya. Tapi kita hendaknya memuliakaan bulan ini sesuai perintah Allah dan Rasul-Nya. Kita harus memuliakaan bulan ini sebagaimana Rasulullah dan para sahabat mengormatinya. Yakni dengan meninggalkan segala bentuk dosa dan meningkatkan ibadah kepada Allah Ta’ala.

Jangan Berbuat Dzalim di bulan Muharram

Pada bulan-bulan mulia ini –termasuk muharram-, Allah melarang berbuat dzalim. Sebagaimana ditegaskan oleh Allah memalui kalimat “Fala tadzlimu fihinna anfusakum,”. Maksudnya janganlah kalian mendzalimi diri sendiri pada bulan-bulan tersebut. Karena keharaman dosa pada bulan-bulan itu lebih tegas, dan dosanya lebih berat dari dosa yang dilakukan pada bulan-bulan lain. Hal ini seperti pelipatgandaan dosa yang dilakukan di tanah haram. Sebagaiaman dinyatakan oleh Allah, “Waman yurid fihi bi ilhadin bi dzulmin. . .

Menurut Ibnu Ishak sebagaimana dikutip oleh Ibnu Katsir, ma’ana kalimat ‘fala tadzzlimu fihinna anfusakum’ adalah janganlah kalian jadikan yang haram menjadi halal dan yang halal menjadi haram sebagaimana dilakukan oleh para ahli syirik.

 Oleh karena itu hendaknya kita memuliakan dan menyicikan bulan ini dengan meninggalkan segala bentuk kedzaliman. Mulai dari yang terkecil hingga yang terbesar. Dan kedzaliman nomor wahid yang harus dihindari dan dijauhi adalah kesyirikan. Sebab, syirik merupakan kedzaliman paling besar, sebagaimana firman Allah dalam surah Luqman ayat 13:

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar“. (QS Luqman:13).

Sunnah Bepuasa

Amalan yang dianjurkan pada bulan ini adalah puasa sunnah. Karena puasa pada bulan Muharram merupakan puasa paling afdhal setelah puasa Ramadhan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم (رواه مسلم

Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bula Allah (yaitu) Muharram, , , ”. (H.R. Muslim).

Imam al-Qari berkata, “dzahirnya, yang dimaksud adalah berpuasa pada sepanjang bulan Muharram”.

Sedangkan Imam Nawawi rahimahullah berpendapat, “Jika dikatakan bahwa puasa paling afdhal setelah Ramadhan adalah adalah puasa pada bulan Muharram? Lalu bagaimana dengan memperbanyak puasa sya’ban melebihi puasa di bulan Sya’ban? Maka jawabannya adalah, “Mungkin beliau tidak mengetahui keutamaan puasa Muharram melainkan di akhir hayat beliau sebelum beliau sempat melakukannya, atau beliau ditimpa sakit atau sedang safar sehingga tidak sempat memperbanyak puasa, atau karena faktor lain”.

Imam Ibnu Rajab berkata, “Shiyam tathawwu’ ada dua macam, yakni; [pertama] shiyam tathawu’ mutlak. Puasa sunnah mutlak yang paling afdhal adalah puasa Muharram. Sebagaimana shalat sunnah mutlak yang paling afdhal adalah qiyamullail (shalat malam). [Kedua] Shiyam yang menyertai shiyam Ramadhan seperti puasa sya’aban dan enam hari di bulan syawal. Ini tidak termasuk puasa sunnah mutlak. Karena termasuk jenis puasa yang menyertai puasa Ramadhan. Ini lebih afdhal dari puasa tathawwu’ mutlak. Syekh Soleh al-Munajjid mengomentari pendapat Ibn Rajab di atas bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berpuasa sebulan penuh selain Ramadhan. Sehingga hadits ini dibawa kepada ma’na anjuran memperbanyak shiyam pada bulan Muharram. Bukan berpuasa sebulan penuh.

Selain itu di bulan ini ada  hari ‘Asyuro yang ditekankan untuk berpuasa pada hari tersebut. Sehingga bagi yang tidak sempat memperbanyak puasa pada bulan Muharram ini, jangan sampai melewatkan puasa di hari yang satu ini. Karena puasa ini memiliki fadhilah yang sangat utama, yakni menghapus dosa selama setahun. Sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah bersabda, “Aku berharap pada Allah dengan puasa Asyura ini dapat menghapus dosa selama setahun sebelumnya.” (H.R. Bukhari dan Muslim). Imam Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan hadits lain dari Ibnu Abbas bahwa beliau berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam berupaya keras untuk puasa pada suatu hari melebihi yang lainnya kecuali pada hari ini, yaitu hari as Syura dan bulan Ramadhan.” (H.R. Bukhari dan Muslim). [sym]

Bulan Muharram Bulan Sial?

Bulan Muharram Bulan Sial?

Bulan Muharram Bulan Sial?

Bulan Muharram Bulan Sial?

 

Pertanyaan:

Bismillah.. Assalamualaikum utadz, saya  mau tanya.. Sekarang kan kita sedang berada di bulan Muharram atau Suro.  Di daerah saya sebagian orang enggan mengadakan hajatan pada bulan muharram. Karena menganggap Muharram sebagai bulan sial.  Benarkah demikian ustadz?  Karena ana juga pernah dengar dan baca bahwa bulan Muharram merupakan salah satu bulan mulia dalam Islam.  Bagaimana seharusnya kita memuliakan bulan Muharram? (Fadli, Jakarta).

Jawaban:

Wa ‘alikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh

Bulan Muharram merupakan salah satu dari empat bulan mulia (asyhurul hurum)  yang diistimewakan oleh Allah. Sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam surat At-Taubah ayat 36.

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah diwaktu Dia menciptakan lanit dan bumi, diantaranya terdapat empat bulan haram.  (Qs. at Taubah :36).

Yang dimaksud dengan empat bulan haram dalam ayat di atas adalah bulan Rajab, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Hal ini dijelaskan oleh Nabi dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda,

“Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan diantaranya terdapat empat bulan yang dihormati: tigabulan berturut-turut; Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, Muharra  m dan Rajab Mudhar, yang terdapat diantara bulan Jumada tsaniah dan Sya’ban.” (terj. HR. Bukhari dan Muslim).

Bulan Muharram juga disebut oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai syahrullah (Bulan Nya Allah).  Sebagaimana dalam hadits shahih riwayat Imam Muslim,  Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda:

أفضل الصيام بعد رمضان شهرالله المحرم

Puasa paling afdhal setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulanNya Allah (yakni)  bulan Muharram“. (HR. Muslim)

Penyebutan ini memberi makna bahwa bulan ini memiliki keutamaan khusus karena disandarkan pada lafdzul Jalalah (Allah). Menurut Para Ulama penyandaran sesuatu pada lafdzul Jalalah menunjukan tasyrif (pemuliaan), sebagaimana istilah Baitullah (Rumah Allah/Masjid), Rasulullah, Saifullah (Pedang Allah, gelar bagi Sahabat Nabi Hamzah bin Abdul Muthalib) dan sebagainya. Menurut Imam Ibnu Rajab al-Hambali  rahimahullah, “Muharram disebut dengan syahrullah (bulan-Nya Allah) karena [1]  untuk menunjukkan keutamaan dan kemuliaan bulan Muharram, serta [2] untuk menunjukkan otoritas Allah Ta’ala dalam mensucikankan dan memuliakan bulan Muharram”.

Oleh karena itu kurang tepat jika menganggap bulan Muharram sebagai bulan sial. Sebab pada dasarnya tidak ada hari atau bulan sial. Bahkan keyakinan adanya waktu tertentu yang dianggap sial dapat menyebabkan syirik. Justru sebaliknya. Bulan Muharram merupakan bulanNya Allah yang mulia yang hendaknya dimuliakan dan dihormati. Tentu saja memuliakan dan menghormati bulan Muharram bukan dengan men-sial-kannya atau mengkeramatkannya. Tetapi dengan mengikuti petunjuk Al-Qur’an dan tuntunan Rasulullah dalam memuliakan bulan ini. Yakni dengan meninggalkan kezaliman dan memperbanyak puasa suannah. Wallahu a’lam. [sym].