Sejarah Puasa ‘Asyura

Sejarah Puasa ‘Asyura

‘Asyura adalah hari kesepuluh dalam bulan Muharram. Ia merupakan hari agung pada bulan suci Muharram. Keagungan hari ini disamping karena termasuk salah satu hari dari bulan Muharram yang merupakan asyhurul hurum, ia juga merupakan hari bersejarah. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim menuturkan bahwa ketika tiba di Madinah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapati orang-orang Yahudi berpuasa. “Puasa apa ini?”, tanya sang Nabi. Mereka menjawab, “Ini adalah hari baik dan agung, hari dimana Allah menyelamatkan nabi dan kaumnya serta menenggelamkan Fir’aun dan kaumnya. Maka nabi Musa berpusa pada hari ini sebagai tanda syukurnya kepada Allah. Sehingga kamipun berpuasa sebagai pengagungan kepada hari ini dan nabi Musa”. Nabi bekara, “Kami lebih berhak atas Musa dari kalian”. Oleh karena itu nabi berpuasa pada hari ‘Asyura tersebut dan menyuruh para sahabat untuk turut berpuasa. Beliau mengatakan kepada para sahabat, “Kalian lebih berhak atas Musa dari mereka”.

Puasa ‘Asyura dalam Kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi Wa sallam

Ada empat fase atau tahapan puasa ‘Asyura dalam kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum Muslimin. Satu fase di Makkah dan tiga fase berkutnya di Madinah setelah hijrah. Penjelasan singkatnya dapat dikemukakan sebagai berikut;

Pertama, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  melakukan puasa Asyura bersama orang Musyrikin Mekah, tanpa memerintahkan kaum Muslimin untuk berpuasa.

Ummul Mu’minin Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan: “Dahulu orang Quraisy berpuasa A’syura pada masa Jahiliyyah. Dan Nabi-pun berpuasa ‘Asyura pada masa jahiliyyah. Ketika hijrah ke Madinah, beliau tetap puasa ‘Asyura dan memerintahkan kaum Muslimin untuk berpuasa juga. Ketika puasa Ramadhan diwajibkan, beliau berkata: “Bagi yang hendak puasa silahkan, bagi yang tidak puasa, juga tidak mengapa”. (HR.Bukhari dan Muslim).

Kedua, Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa Asyura, akhirnya beliaupun berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa, sebagaimana dalam hadits riwayat Bukhari dari Ibnu Abbas di atas.

Saat itu puasa ‘Asyura menjadi kewajiban dimana Rasulullah menguatkan perintahnya dan sangat menganjurkan sampai-sampai para sahabat melatih anak-anak mereka untuk puasa ‘Asyura. Imam Bukhari meriwayatkan tentang hal tersebut dari Rubayyi’ binti Mu’awwidz radliallahu ‘anha. Beliau mengatakan:

Suatu ketika, di pagi hari Asyura’, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seseorang mendatangi salah satu kampung penduduk Madinah untuk menyampaikan pesan: “Siapa yang di pagi hari sudah makan maka hendaknya dia puasa sampai Maghrib. Dan siapa yang sudah puasa, hendaknya dia melanjutkan puasanya.” Rubayyi’ mengatakan: “Kemudian setelah itu kami puasa, dan kami mengajak anak-anak untuk berpuasa. Kami buatkan mereka mainan dari kain. Jika ada yang menangis meminta makanan, kami memberikan mainan itu. Begitu seterusnya sampai datang waktu berbuka”. (HR. Bukhari).

Ketiga, Ketika puasa Ramadhan diwajibkan, hukum puasa Asyura menjadi anjuran (sunnah) dan tidak wajib, sebagaimana dikatakan oleh A’isyah radhiyallahu ‘anha di atas.

Keempat, Pada akhir hayat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau ingin puasa tasu’a (9 muharram) serta memerintahkan para sahabat untuk melakukan puasa tanggal 9 dan tanggal 10 Muharam, sebagai bentuk sikap menyelisihi orang Yahudi. Sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Beliau berkata:

Ketika Nabi puasa A’syura dan beliau juga memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa. Para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, hari Asyura adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashara!! Maka Rasulullah berkata: “Kalau begitu, tahun depan Insya Allah kita puasa bersama tanggal sembelilannya juga”. Ibnu Abbas berkata: “Belum sampai tahun depan, beliau sudah wafat terlebih dahulu”. (HR. Muslim). Wallahu a’lam [sym].

Keutamaan puasa ‘Asyura

Puasa ‘Asyura adalah puasa yang dilakukan pada tanggal 10 Muharram

‘Asyura  atau hari kesepuluh dalam bulan Muharram merupakan hari agung. Keagungan hari ini disamping karena merupakan salah satu hari dari bulan Muharram yang termasuk salah satu  asyhurul hurum, ia juga merupakan hari bersejarah. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menuturkan bahwa ketika tiba di Madinah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapati orang-orang Yahudi berpuasa. “Puasa apa ini?”, tanya Nabi. Mereka menjawa, “Ini adalah hari baik dan agung, hari dimana Allah menyelamatkan nabi dan kaumnya serta menenggelamkan Fir’aun dan kaumnya. Maka nabi Musa berpusa pada hari ini sebagai tanda syukurnya kepada Allah. Sehingga kamipun berpuasa sebagai pengagungan kepada hari ini dan nabi Musa”. Nabi bekata, “Kami lebih berhak atas Musa dari kalian”. Oleh karena itu Nabi berpuasa pada hari ‘Asyura tersebut dan menyuruh para sahabat untuk turut berpuasa. Beliau mengatakan kepada para sahabat, “Kalian lebih berhak atas Musa dari mereka”.

Puasa paling Afdhal Setelah Ramadhan

Puasa ‘Asyura merupakan puasa paling afdhal atau paling utama berdasarkan keumuman hadits riwayat Muslim yang menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ

Puasa yang paling afdhal setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah (yakni buan) Muharram. (HR. Muslim).

Menurut sebagian Ulama bahwa yang dimaksud dengan puasa pada bulan Muharram ddalam hadits tersebut adalah puasa ‘Asyura.

Puasa yang Diwajibkan sebelum Perintah Puasa Ramadhan

Sebelum turunnya kewajiban puasa Ramadhan, puasa yang diwajibkan kepada Rasululah dan kaum Muslimin adalah puasa Ramadhan. Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata:

Nabi dahulu puasa ‘Asyura dan memerintahkan manusia agar berpuasa pula. Ketika turun kewajiban puasa Ramadhan, puasa ‘Asyura ditinggalkan”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Maksudnya tidak wajib, namun hukumnya berubah menjadi sunnah. Seperti halnya Shalat Lail yang menjadi kewajiban sebelum diwajibkannya Shalat lima waktu.

Puasa Sunah yang Sangat Diperhatikan Oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

Puasa ‘Asyura merupakan puasa Sunnah yang sangat dijaga dan diperhatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Sebagaimana dituturkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma;

مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلّا هَذَا الْيَوْمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَهَذَا الشَّهْرَ يَعْنِي شَهْرَ رَمَضَانَ . ” رواه البخاري

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar perhatian untuk berpuasa pada suatu hari yang beliau utamakan dari hari lain melebihi puasa ‘Asyura ini dan bulan Ramadhan”. (HR. Bukhari).

Menghapus Dosa Selama Setahun

Keutamaan puasa ‘Asyura dapat menghapuskan dosa selama setahun, yakni dosa setahun sebelumnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda;

وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ ” رواه مسلم

“, . . dan puasa ‘Asyura saya  berharap kepada Allah agar menghapuskan dosa setahun yang sebelumnya”. (HR. Muslim).

Dianjurkan Mendahului Pusa ‘Asyura dengan Puasa Tasu’a

Untuk kesempurnaan puasa ‘Asyura maka dianjurkan pula melaksanakan puasa ‘Asyura dengan berpuasa tasu’a atau sehari sebelumnya, yakni pada tanggal 9 Muharram. Pusa Tasu’a dianjurkan oleh Nabi dalam rangka menyelisihi orang-orang Yahudi yang juga berpuasa pada hari ‘Asyura.  Sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Beliau berkata:

“Ketika Nabi puasa A’syura dan beliau memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa, mereka berkata: “Wahai Rasulullah, hari Asyura adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani!! Maka Rasulullah berkata: “Kalau begitu, tahun depan Insya Allah kita puasa bersama tanggal sembelilannya juga”. Ibnu Abbas berkata: “Belum sampai tahun depan, beliau sudah wafat terlebih dahulu”. (HR. Muslim).

Riwayat  Ibnu Abbas inilah yang menjadi dasar hukum anjuran menyempurnakan puasa ‘Asyura dengan puasa Tasu’a atau sehari sebelumnya. [sym].

Puasa Muharram, Puasa Paling Utama Setelah Puasa Ramadhan  

Puasa Muharram menjadi puasa paling utama setelah Puasa Ramadhan karena merupakan salah satu  puasa yang biasa dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum disyariatkannya puasa Ramadhan. 

Bulan muharram merupakan bulan yang agung dan penuh berkah.  Bulan pertama dalam penanggalan hjiriah ini termasuk salah satu bulan haram yang disebutkan oleh Allah dalam surat At-Taubah ayat 36.

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah diwaktu Dia menciptakan lanit dan bumi, diantaranya terdapat empat bulan haram.” (Q.S. at Taubah :36).

Yang dimaksud dengan empat bulan haram dalam ayat di atas adalah bulan Rajab, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan bulan Muharram. Hal ini dijelaskan  Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dalam sabdanya, “Setahun itu ada dua belas bulan,  diantaranya terdapat empat bulan  haram yang dihormati: tigabulan berturut-turut; Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, Muharra  m dan Rajab Mudhar, yang terdapat diantara bulan Jumada tsaniah dan Sya’ban.” (terj. HR. Bukhari dan Muslim).

Bulan Muharram juga disebut oleh Nabi Muhammad shalallahu ‘alihi wa sallam sebagai bulan Allah.  Sebagaimana dalam hadits riwayat Imam Muslim,  bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أفضل الصيام بعد رمضان شهرالله المحرم

Puasa paling utama setelah puasa (wajib pada bulan)  Ramadhan adalah puasa pada bulan (Nya)  Allah (yakni)  bulan Muharram” (HR. Muslim).

Hadits ini menunjukan dua hal tentang bulan Muharram. Pertama,  Bulan Muharram merupakan bulan mulia dan istimewa,  karena dalam hadits tersebut bulan Muharram disandarkan secara khusus kepada Allah.  Penyandaran tersebut menunjukkan kemuliaan bulan Muharram.

Kedua,  Keutamaan berpuasa pada bulan Muharram. Dimana dalam hadits tersebut dinyatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa puasa pada bulan muharram merupakan puasa paling afdhal setelah puasa wajib pada bulan Ramadhan.

Yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah memperbanyak puasa suannah pada bulan Muharram,  bukan berpuasa sepanjang bulan Muharram. Karena Nabi tidak pernah berpuasa sebulan penuh melainkan pada bulan Ramadhan. Hal itu menunjukan bahwa yang dimaksud dengan “puasa pada bulan (Nya)  Allah (yakni) bulan Muharram” adalah motivasi dan anjuran memperbanyak puasa sunnah.

Sebagian ulama yang lain memandang bahwa yang dimaksud adalah pada tanggal 9 dan 10 Muharram yang dikenal dengan Puasa Tasu’a dan puasa ‘Asyura.

Puasa ‘Asyura pada tanggal 10 Muharram merupakan salah satu puasa Sunnah yang biasa dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum turunnya perintah puasa Ramadhan.

Puasa ‘Asyura memiliki keutamaan menghapuskan dosa setahun, sebagaimana dikabarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah bersabda, “Aku berharap pada Allah dengan puasa Asyura ini dapat menghapus dosa selama setahun sebelumnya.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Mari raih keutamaan bulan Muharram dengan puasa sunnah, khususnya puasa ‘Asyura. [sym].

 

Kesalahan-Kesalahan Suami  (2):  Membiarkan Hubungan Antara Istri dan Mertua Jadi Renggang

Ketika  hubungan antara istri dan mertua renggang peran suami untuk mendamaikan dan mengeratkan sangat ditunggu dengan begitu ketentraman menjadi sempurna.

Inilah kesalahan yang sering dilakukan suami, membiarkan istri dan orang tuanya tidak akur. Ia tidak berusaha mendamaikan dan membangun keharmonisan di antara mereka berdua.

bisa juga terjadi sebaliknya sang suami memperuncing permusuhan dan membangun jurang diantara kedua pihak. Misalnya  dia sengaja menampakkan cintanya kepada istrinya secara berlebihan ketika berada di hadapan orang tuanya. di saat yang sama ia malah berkata kasar pada mereka.  Atau, sebaliknya suami mendzalimi istri dan membenarkan mentah-mentah semua perkataan orang tua nya tentang istrinya.  Padahal  bisa saja sang istri tidak bersalah,  dan sebaliknya orang tuanyalah yang keliru.

Tak  sedikit orang tua yang bertabiat keras. Seolah-olah tak ada yang sedap dalam pandangan mereka. Lalu  karena silang-selisih dengan menantunya ia lantas menyuruh putranya menceraikan istrinya. Padahal sang istri tidak melakukan sesuatu yang mengharuskannya diceraikan.

Lalu ada juga orang tua yang mengobarkan kemarahan anaknya dengan membohongi putranya. Katanya menantunya telah berbuat kurang ajar. Sang  anak kemudian menelan mentah-mentah informasi dari orang tuanya. Padahal ia bahkan belum cukup baik memenuhi hak istrinya, bahkan menguranginya.

Lantas apa solusi untuk situasi seperti ini? apakah sang suami harus berpangku tangan atau bersikap pasif? atau menuruti segala komentar orang tuanya tentang istrinya? ataukah sebaliknya, mencela orang tuanya menganggap bodoh pendapat mereka untuk menolaknya dengan kasar?

Tentu saja bukan itu solusinya yang harus dia lakukan adalah berusaha keras mendamaikan dan membangun keharmonisan di antara mereka.

Seseorang  dapat dikatakan memiliki kepribadian kuat jika ia mampu menimbang  antara hak dan kewajiban meskipun keduanya kadang tampak bertabrakan bagi sebagian orang. Ia  dapat tetap jernih walaupun masalahnya terlihat kabur dan dapat menjerumuskan dalam kebimbangan. Sikap  bijaknya dituntut. Caranya  dengan menunaikan hak semua pihak. Tanpa  menzholimi salah satu dari kedua belah pihak.

Di sinilah keagungan syariat Islam tampil.  Di dalamnya terkandung seperangkat hukum yang membangun keseimbangan di antara berbagai unsur yang berbeda-beda.

orang tua punya hak, istri pun demikian. Keduanya  tak pernah berlawanan tapi hanya orang cerdas yang mampu memberikan hak masing-masing pihak.  begitu banyak persoalan sosial dan problem rumah tangga terjadi karena rusaknya keseimbangan ini.

Berikut ini sejumlah tips yang dapat anda lakukan dalam membantu mengakurkan  hubungan antara orang tua dan istri anda;

Pertama,  Perhatikan dan pahami tabiat kedua orang tua. Caranya  jagalah bakti anda bahkan setelah menikah.

Kedua, Bersikap adillah terhadap istri. Caranya  dengan mengetahui haknya dan tidak menerima semua yang Anda dengar tentang dirinya dari orang tua Anda. Percayalah kepada diri sendiri dan senantiasa kedepankan prasangka baik.

Ketiga,  Jalin kesepahaman. Contohnya  dengan meminta istri memberikan hadiah kepada orang tua, atau beli hadiah yang diberikan pada istri anda agar ia memberikannya sebagai hadiah untuk kedua orang tua Anda. Langkah  itu dapat melembutkan hati mencabut akar permusuhan serta mengundang kasih sayang.

Keempat, Bangun saling pengertian dengan istri. Misalnya  dengan mengatakan padanya, “Orang tuaku adalah bagian yang tak terpisahkan dariku. Sekalipun bersedih takkan mungkin durhaka kepada beliau berdua. aku takkan mungkin dapat menerima penghinaan apa pun terhadap beliau. Sungguh cintaku padamu akan bertambah dan bertumbuh jika Dinda selalu sabar dan memperhatikan orangtuaku’’.

Ingatkan pula padanya bahwa suatu hari kelak ia akan menjadi Ibu. Mungkin  saja ia akan menghadapi situasi yang ia kini hadapi bersama orang tuanya. Relakah yang diperlakukan buruk?

Segarkan  ingatannya, perselisihan hanya akan menambah kesulitan. Sebaliknya  kelembutan yang menyemati sesuatu pastilah membuat indah, dan sesuatu itu berubah buruk ketika kelembutan tercerabut darinya.

 Sumbet: Min Akhtail Azwaj (edisi Indonesia: Agar Suami Disayang Istri), Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd