Penawar Jiwa Yang Rapuh (Kenangan Indah Bersama Wahdah Islamiyah)

Penawar Jiwa Yang Rapuh (Kenangan Indah Bersama Wahdah Islamiyah)

Oleh: Achmad Firdaus

Suatu saat dikemudian hari ketika semua telah menjadi masa lalu, aku ingin berada di antara para pejuang sejati yang bercerita tentang perjuangan yang indah. (AF)

Ada kalanya waktu ibarat dimensi yang terlihat, layaknya orang yang bisa menatap gedung-gedung yang tinggi, pepohonan dan puncak gunung dikejauhan sana. Setiap orang bisa menatap waktu ke arah yang berlawanan dan tampaklah kejadian penting masa lalu, kelahiran, pernikahan dan kematian terlihat sebagai pertanda adanya dimensi waktu. Begitupun dengan rentetan kejadian di masa yang akan datang, merentang penuh hayal dan tanya di masa depan yang jauh. Kita semua akan berpindah tempat, namun setiap orang bisa memilih gerak pada poros waktu. Mungkin banyak diantara kita yang merasa takut meninggalkan saat-saat yang membahagiakan, ada memilih berlambat-lambat berjingkat melintasi waktu, mencoba mengakrabi kejadian demi kejadian, sementara yang lain berpacu menuju masa depan dengan berjuta harapan, memasuki perubahan yang cepat dari peristiwa-peristiwa yang melintas.

Setiap insan ditakdirkan bersama rentetan peristiwa yang telah dan (akan) menemani hari-harinya. Tak terkecuali dengan petualangan hidupku yang telah menyisakan beragam goresan kisah yang indah. Terlebih lagi disaat aku mencoba memainkan memori dalam ingatanku yang melayang jauh ke masa lalu, belasan tahun silam, saat aku pertama kali menginjakkan kaki di Kampus Merah, kampus yang dikenal sebagai perguruan tinggi terfavorit di Kawasan Timur Indonesia. Sedikit bangga dan bersyukur bisa mengenyam pendidikan di kampus ternama itu, terlebih lagi saat mengingat masa-masa indah datangnya cahaya hidayah. Iya, kampus itulah yang menjadi saksi bisunya.

Aku merasa rindu sekali berada pada masa itu, rindu pada sosok yang ketika itu, tujuh, delapan, atau sembilan tahun yang lalu merombak kotak-kotak ‘nafsu duniawi’ dalam hidupku. Beliau adalah seorang guru yang sangat sederhana, ramah dengan senyum khas dan sapaan lembutnya saat menjumpai kami murid-muridnya. Sekilas, tak ada yang istimewa dengan penampilannya sebagai seorang guru, mungkin berbeda dengan professor-doktor dengan perawakan angkuh dan gaya modis masa kini yang sering aku jumpai dikampus. Beliau selalu ceria bersama kami, meskipun terkadang matanya nampak sayu pertanda beliau dalam kondisi lelah dengan beragam aktivitas dakwahnya, apalagi beliau adalah ‘orang penting’ di Wahdah Islamiyah kala itu.

Iya, Wahdah Islamiyah. Beliaulah yang memperkenalkan kepadaku lebih jauh tentang ormas ahlussunnah tersebut, meskipun sebenarnya organisasi dakwah itu sudah tidak asing lagi bagiku, karena kebetulan disaat awal menjadi mahasiswa, aku beberapa kali ‘terjebak’ ikut dalam ta’lim pekanan di masjid milik Wahdah Islamiyah yang terletak dikawasan pondokan mahasiswa. Beliau selalu mengajari kami dengan tutur kata yang lembut dan santun, sehingga nasehat yang beliau sampaikan lebih mudah ‘nyantol’ dihati murid-muridnya. Beliau juga yang tak pernah bosan mengingatkan kami untuk selalu menghadiri majelis ilmu di masjid-masjid binaan Wahdah Islamiyah di Kota Makassar.

Masih tercatat begitu jelas, hari itu Kamis 8 November 2007, ketika beliau memaparkan dengan gamblang di hadapan aku dan teman-temanku, bagaimana pentingnya menjaga keikhlasan untuk menjadi seorang aktivis dakwah yang baik. Hari itu memang bukan kali pertama aku bermajelis dengan beliau, namun nasehat-nasehat yang disampaikan kepada kami sangat bermakna buatku, karena kebetulan di tahun itu aku dipercayakan untuk menempati posisi ‘penting’ dalam  mengemban amanah dakwah. Suasana hangat dalam majelis ilmu bersama beliau pun terus berlanjut dalam episode-episode yang panjang.

Setiap Kamis ba’da Ashar, dengan ditemani lampu yang tak terlalu terang, beliau selalu sabar dan setia menanti kami (murid-muridnya) di pojok masjid kampus lantai dua. Terkadang beliau juga yang ‘membangunkan’ ketika kami bermalas-malasan atau keasyikan nongkrong sehingga lupa akan jadwal tarbiyah. Sekali lagi, dengan sabarnya menanti kami yang sementara antri untuk mandi, sikat gigi, berwudhu, atau mempersiapkan segala sesuatunya. Lalu setelah satu demi satu hadir, dimulailah pembelajaran itu, sebuah lingkaran kecil dengan lima, enam, tujuh, sampai sepuluh orang lebih (tak menentu) peserta dan seorang guru. Dengan sabar dan tekun ia sampaikan materi demi materi setiap pekannya.

Ah, aku rindu dengan orang ini, aku rindu dengan sentuhan lembutnya ketika membangunkan kami saat tertidur disela-sela materi yang disampaikan. Aku rindu suara khasnya yang selalu mengingatkan kami “Akhi, jangan lupa hari ini jadwal tarbiyah ya, ingatkan ikhwa yang lain, kumpul di masjid kampus Unhas.” Ujarnya lembut. Aku benar-benar rindu bermajelis dengannya, walaupun mungkin seringkali kami membuat beliau kecewa, dengan datang telat, sering ‘ngantuk’ saat belajar, dan lain sebagainya. Tapi sekali lagi, beliau tidak pernah marah dan selalu sabar mengajari kami tentang Islam yang sesungguhnya.

Menurut aku, beliau adalah guru paling sabar yang pernah aku temui, dengan telaten menasehati kami yang masih berlumur dosa kemaksiatan dan kegelapan jahiliyah, untuk kemudian membimbing menuju cahaya hidayah Allah. Beliau tak pernah bosan mengarahkan kami agar menjadi seorang Muslim sejati yang senantiasa mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah. Sehingga saat itu aku benar-benar yakin bahwa disinilah aku menemukan jalan kebenaran yang akan menuntun hidupku menuju negeri keabadian kelak.

Tak terasa bulir-bulir air mata menetes membasahi pipi (bukan terkesan lebay) tatkala aku mengingat setiap rentetan peristiwa penuh makna itu. Ya, kebersamaan yang begitu indah dengan saudara tercinta dalam satu halaqah tarbiyah, meskipun tak bisa dipungkiri dalam sepekannya terkadang peserta tarbiyah berganti-ganti dan kadang ada juga ‘bintang tamu’ sebagai peserta baru yang bergabung bersama kami. Tapi itulah kekuatan kebersamaan dalam majelis ilmu yang dengannya dapat mempersatukan kami dalam ikatan ukhuwah meskipun dari beragam karakter yang berbeda. (Bersambung insya Allah)

Hukum Bershalawat Saat Khutbah Jum’at Sedang Berlangsung  

 

Hukum Bershalawat Saat Khutbah Jum’at Sedang Berlangsung  

Pertanyaan:

Kita wajib mengucapkan shallallahu ‘alaihi wa sallam (bershalawat) saat mendengar nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam disebut. Tetapi pada saat khutbah kita wajib tidak berbicara, karena jika berbicara saat khutbah pahala kita akan hilang. Lalu apakah ketika khatib menyebut nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kita tetap bershalawat?

Jawaban:

Alhamdulillah, Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, wa ba’d;

Masalah ini meruapakan perkara khilafiyah (perbedaan pendapat) di kalangan ulama. Ada yang memandang keharusan untuk diam secara mutlak, berdasarkan hadits-hadits tentang perintah diam (inshat) saat khutbah. Dan ada pula yang berpendapat disyariatkannya ta’min (mengaminkan do’a) dan bershalawat kepada Nabi. Mereka berdalil dengan anjuran mengaminkan do’a seperti pada khutbah Istisqa (minta hujan). Demikian pula berdalil dengan mengangkat tangan saat berdo’a pada khutbah shalat istisqa, yang mana mengangkat tangan melebihi shalawat (karena mengangkat tangan berupa gerakan sedangkan shalawat sekadar ucapan yang dapat pula disirrkan). Sedangkan shalawat lebih penting dari ta’min. Karena shalawat hukumnya wajib, berdasarkan firman Allah;

“إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً” (الأحزاب:56)،

Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam;

“رغم أنف امرئ ذكرت عنده فلم يصلِّ عليّ” رواه الترمذي

Celakalah seseorang yang mendengar aku disebutkan dihadapannya lalu ia tidak bershalawat kepadaku”. (HR. Tirmidziy).

Inilah pendapat yang rajih dalam masalah ini. Oleh karena itu saya wasiatkan kepada para imam dan khatib untuk memperhatikan keadaan manusia dalam masalah ini, selama ia merupakan persoalan yang ada kelonggaran di dalamnya, dengan tidak mengharuskan orang-orang bershalawat secara jahr. Cukup mereka bershalawat secara sirr (lirih) agar tidak mengganggu orang di sekitarnya dan tidak menimbulkan fitnah.

Inilah sikap hikmah  dan manhaj Syaikhul Islam Ibn Taimiyah dan para Imam Islam lainnya. Mereka sangat memperhatikan keadaan manusia dalam persoalan yang tidak termasuk bid’ah atau amalan haram. Karena ia sebatas perkara fadhilah amal dan masalah khilafiyah yang mu’tabarah, seperti halnya masalah jahr dan sirr dalam Bismillahirrahmanirrahim dan yang lainnya. Sebab perbedaan (khilaf) merupakan sesuatu yang buruk, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.  Wallahu a’lam.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

Sumber: http://www.almoslim.net/node/62918#

Kesimpulan:

Boleh bershalawat secara sirr  saat khutbah bila mendengar khatib menyebut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sifat dan Ciri Orang Munafik Menurut Al-Qur’an (1)

Munafik adalah menampakkan keimanan, keislaman dan kebaikan serta keshalehan, tetapi menyembunyikan kekufuran, keburukan, dan kejahatan.

Hendaklah setiap Muslim mewaspadai dari sifat-sifat munafik.  Jangan sampai sifat-sifat ini menghinggapi diri kita tanpa sadar.

Al-Qur’an  telah menginformasikan kepada kita mengenai sifat dan ciri orang munafiq sehingga kita akan dapat mengetahuinya dan menghindarinya.

[1]. Menipu Allah dan Orang Beriman dengan Cara Mengaku Beriman

Sifat dan ciri orang munafik yang pertama disebut dalam Al-Qur’an adalah mengaku-ngaku beriman, padahal sebenarnya tidak beriman. Klaim dan pengakuan tersebut mereka lakukan untuk menipu Allah dan mengelabui orang-orang beriman. Namun sesungguhnya tipuan itu kembali kepada diri mereka sendiri. Sejatinya mereka sedang menipu diri mereka sendiri.

Allah Ta’ala membuka kedok mereka melalui firmanNya;

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ [٢:٨]  يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ [٢:٩]  فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ [٢:١٠]

Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian,” pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.  (Qs. Al-Baqarah:8-10).

Imam Ibnu Katsir mengatakan, “Allah memperingatkan untuk mewaspadai sifat-sifat orang munafik agar orang-orang beriman tidak tertipu dengan penampakan lahiriah mereka”. (Tafsir Al-Qur’an al-‘Adziem, 1/ 80).

Mereka mengatakan ini “kami beriman kepada Allah dan hari kemudian” tanpa disertai keyakinan dalam hati sama sekali. Perkataan mereka tersebut sama persis dengan perkataan mereka yang diabadikan oleh Allah dalam surat Al-Munafiqun;

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ [٦٣:١

Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.

“padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman, karena keimanan yang hakiki adalah kesesuaian antara ucapan, keyakinan hati, dan perbuatan anggota badan. [sym].

Bersambung insya Allah

Si Kecil yang Payah

Sikecil yang Payah

 

Sungguh, kitalah si kecil yang payah itu. Si kecil yang payaht api selalu melawan Sang Mahabesar.Si kecil yang payah tapi merasa lebih tahu tentang hidupnya, . .

 

SI KECIL YANG PAYAH…

Oleh: Ustadz. Muhammad Ihsan Zainuddin

Lihatlah si kecil dalam gambar itu!

Si kecil bernama manusia.

Konon,

itulah ia saat berusia 6 minggu

dalam kelam janin ibunya.

Betapa lemahnya ia.

Betapa tiada dayanya ia.

Dan di sepanjang hidupnya,

akan selalu begitu:

selalu lemah, selalu tanpa daya.

***

Tapi lihatlah si kecil yang payah itu:

saat ia mulai besar.

Saat di tangannya,

ada sedikit kuasa.

Ketika di genggamnya,

ada secuil harta.

Saat di dirinya,

ada sedikit kepintaran.

Saat di tangannya,

ada setetes kekuatan…

Saat ia mendapatkan semua yang sedikit itu,

ia lupa bahwa dialah si kecil yang payah itu!

Meski ia didaulat jadi penguasa dunia,

ia tetap saja kecil dan payah!

Meski ia didaulat sebagai paling bijak-bestari,

ia tetap saja kecil dan payah!

Meski ia didaulat sebagai hartawan termulia,

ia tetap saja kecil dan payah!

Tentu saja kecil dan payah:

Siapalah kita ini dibanding Dia,

Sang Mahabesar dan sepenuh kuasa pada segalanya.

Maka…

agar kita –si kecil yang payah ini-

selalu terendam dalam rasa kecil

dan payah sepenuh diri…

Allah hembuskan hujan-hujan kecil

bernama musibah dan bencana:

agar runtuh semua rasa hebat,

agar luruh semua rasa digdaya.

Agar kita –si kecil yang payah ini-

tertunduk tanpa daya, dan bergumam:

“Duhai Rabbi…

aku sungguh faqir pada-Mu.

Duhai Rabbi…

aku tiada daya, tiada kuasa,

tanpaMu…”

***

Hingga di ujung gumam itu,

hati kita penuh sakinah berikrar:

“Inna lillahi wa inna ilahi raaji’uun”,

Sungguh kami milik Allah,

dan sungguh pasti kami

hanya akan kembali pada-Nya…

Sungguh,

kitalah si kecil yang payah itu.

Si kecil yang payah

tapi selalu melawan Sang Mahabesar.

Si kecil yang payah

tapi merasa lebih tahu tentang hidupnya,

hingga lupa jika hidupnya hanya bahagia

saat berpijak langkah di jalan Syariat-Nya!

Sungguh,

yang paling bahagia di penjara dunia ini:

adalah dia yang selalu merasa kecil,

dan selalu merasa lemah

di hadapanNya:

Allah nan Mahabesar.

(Teriring doa penuh harap rahmat untuk para korban LION AIR JT-610 yang menutup hayatnya dalam kalimat “La ilaha illaLlah”…

Terima mereka sebagai syuhada, ya Rabbi…)

Akhukum,

Muhammad Ihsan Zainuddin

NB:

Sudah gabung di Telegram:

t.me/ihsanzainuddin ?

Sudah donlot e-book “Bahasa Arab itu Gampang” di:

http://ihsanzainuddin.com

Cerdas Beribadah

Cerdas Beribadah

Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontiniu walaupun sedikit (terj. HR. Muslim)

Cerdas. Sebuah kata yang begitu lazim di telinga kita. Ketika mendengarnya,membacanya, maka mungkin kesan yang akan muncul di benak kita adalah dunia pendidikan. Demikanlah. Karena memang, kecerdasan -terkadang- identik dengan prestasi.

Tetapi, yang akan kami bahas di sini, bukanlah makna ”cerdas” dalam aspek di atas. Melainkan, makna ”cerdas” dalam perspektif yang lebih besar. Ya, bahkan dalam perkara yang teramat penting. Perkara yang dengannya kita diciptakan olehNya. Kecerdasan dalam beribadah.

Marilah kita simak. Semoga kami, Anda dan siapa pun yang membacanya memperoleh faidah.

Bahwa kita diciptakan untuk beribadah, itu tentu sudah pasti. Namun apakah setiap orang yang rajin beribadah akan serta merta dikatakan telah cerdas beribadah? Rasanya tidak ada jawaban yang tepat untuk menjawabnya kecuali: Tidak! Kerajinan beribadah tentu saja tidak identik dengan kecerdasan beribadah. Seab banyak orang meletihkan dan melelahkan dirinya untuk “sekedar” –seperti sangkaan mereka– menumpuk berbagai ibadah. Seperti pengembara yang menempuh perjalanan dengan memanggul sebuah kantong yang isinya tak lebih dari bermilyar-milyar pasir. Tak berguna.

Betapa seringnya kita dibuat kagum ketika membaca betapa tidak letih – letihnya orang – orang shaleh (salaf) terdahulu menunjukkan penghambaan mereka. Kisah mereka bagai dongeng saja. Lalu kita pun secara serta merta selalu ingin meniru mereka. Persis. Tanpa melakukan perhitungan yang cerdas. Bila mendengarkan bahwa Imam Ahmad –misalnya- mengerjakan shalat sunnat 200 raka’at dalam satu hari, maka kita pikir kita pun seharusnya melakukan hal yang sama. Bila membaca bahwa seorang ’Atha Bin Abi Rabah radhiallahu ’anhu -misalnya- tidur di masjid selama 20 tahun lamanya, kita pun menganggap bahwa untuk menjadi shaleh kita harus pula demikian.

Begitulah seterusnya. Kita berputar dalam lingkaran kekaguman yang membuat kita tidak melihat dan menyimpulkan secara tepat. Kita tidak coba untuk merenungkan bagaimana mereka mengalami proses perjuangan meundukkan nafsu hingga dapat melakukan itu semua. Kita idak pikirkan tentang keistiqamahan dan konsistensi mereka menjalankan itu semua. Kita tidak pikirkan bahwa untuk ke puncak itu, mereka harus melewati sebuah niat yang lurus, tulus dan kuat. Bahwa kita butuh melihat konsistensi kita. Kita lupa bahwa Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wa Sallam mengatakan: ”Sebaik-baik amalan adalah yang sedikit namun berkelanjutan.

Maka di penghujung jalan, kita pun mengalami kemunduran, kejemuan dan keletihan. Setelah mengerjakan 200 raka’at di hari pertama, mungkin di hari-hari esoknya tak satu raka’at pun yang tertegakkan. Sebab jiwa kita trauma, ia letih. Syukur-syukur jika ia tidak membenci shalat sunnat itu.

Namun demikianlah, kita harus cerdas dan pandai mengukur diri. Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak pernah membebani jiwa manapun bila tidak sesuai kemampuannya.

Ada banyak cahaya kecerdasan beribadah yang terwariskan kepada kita. Salah satunya adalah kisah yang dialami oleh sahabat nabi yang mulia, namanya Tamim Ad-Dary radhiallahu ’anhu.

Seorang pria pada suatu ketika mengunjunginya. Tujuannya hanya satu. Ingin mengetahui bagaimana Tamim Ad-Dary menyelesaikan ayat demi ayat dalam al-Qur’an.

”Barapa banyakkah wirid dan ayat Anda baca setiap harinya?” tanya pria itu membuka percakapan mereka.

”Hmmm, barangkali engkau ini termasuk orang yang membaca al-Qur’an di malam hari, lalu di pagi harinya ia kemudian mengatakan kepada orang lain : ’Malam ini aku telah membaca al-Qur’an”. Sungguh demi Allah, wahai saudaraku, bila aku mengerjakan shalat tiga raka’at saja di malam itu jauh lebih aku senangi daripada menyelesaikan al-Qur’an dalam satu malam namun di pagi harinya aku kemudian menceritakanya kepada orang lain”, jawab Tamim Ad-Dary.

Nampaknya pria itu kemudian sedikit agak emosi mendengar jawaban Tamim Ad-Dary. Ia hanya terkejut saja menyimak jawaban itu. Maka ia berujar, ”Ah, kalian para sahabat nabi, seharusnya yang masih hidup dari kalian ini diam saja dan tidak usah berbicara. Kalian justru tidak mau mengerjakan ilmu kalian, malah kalian justru menyalahkan orang yang bertanya pada kalian!”.

”Jangan salah paham, saudaraku. Sekarang apakah engkau mau kujelaskan suatu hal yang mungkin tidak engkau pahami?”, tanya Tamim Ad-Dary dengan sedikit lembut.

”Cobalah engkau renugnkan”, lanjut Tamim. ”Jika saja aku ini seorang mu’min yang kuat dan engkau adalah seorang mu’min yang lemah, lalu engkau berusaha membawa bebanku dengan segala kelemahanmu, hingga akhirnya engkau kemudian tidak sanggup memikulnya. Menurutmu, apakah yang akan terjadi? Engkau hanya akan mengalami sebuah kejemuan dalam beribadah. Demikan pula sebaliknya. Engkau seorang mu’min yang kuat dan aku yang lemah ini mencoba memikul bebanmu. Tentu aku akan mengalami sebuah kejemuan pada akhirnya.

Maka, saudaraku, berikanlah sesuatu yang sesuai batas dirimu untuk dien ini, dan ambillah dari dien ini apa yang engkau mampu untuk melaksanakannya secara perlahan. Hingga akhirnya kelak engkau dapat istiqamah dan konsisten mengerjakan ibadah yang mampu engkau tegakkan”.

Sebuah nasehat yang bijak. Sederhananya adalah kita bercita-cita menggapai surga tertinggi, Firdaus, dan dalam meniti jalan ke sana kita melaluinya dengan kesederhanaan yang berkualitas. Kesederhanaan yang dapat membuat kita istiqamah dan langgeng dalam penghambaan kepadaNya. Mengerjakan yang kecil. Dan mulai sejak sekarang. Bukankah rasul kita yang mulia, -sekali lagi- Muhammad Shallallahu ’Alaihi Wa Sallam berkata: ”Sebaik-baik amalan adalah yang berkelanjutan meskipun sedikit?. Inilah inti ibadah yang cerdas. Maka pahamilah, saudaraku !!.

Sumber :Perindu-Perindu Malam, karya Abul Miqdad Al Madany. Mujahid Press.

Awalnya Penasaran, Akhirnya Ketagihan Dosa dan Maksiat

Banyak pintu menuju maksiat, bertebaran pula para penjaja dosa yang mengumbar janji-janji kenikmatan. Tak hanya membuat betah para durjana untuk mengulangi dosa, tapi juga mengundang hasrat orang yang baru ngedrop iman tergiur untuk mencicipinya.

Awalnya penasaran lalu coba-coba Pada dasarnya, manusia lahir dalam keadaan fitrah. Fitrah untuk menjadi hamba bagi Penciptanya dan tunduk dengan aturan-aturan-Nya, naluri untuk menghindar dari maksiat dan dosa. Lantas kapan manusia mulai ‘menikmati’ dosa? Masing-masing tentu memiliki pengalaman yang berbeda, baik dari sisi waktu, faktor pemicu, maupun jenis dosa yang pada gilirannya menjadi kebiasaan dalam hidupnya.

Tak hanya oleh orang yang belum tahu, dosa tak jarang dilakukan oleh orang yang sudah mengerti hukum, juga paham tentang perkara yang dilarang oleh agama. Rasa penasaran lantaran belum pernah melakukan, sering menjadi awal dari dosa. Rasa penasaran itu bisa lahir dari bisikan nafsu yang terus ‘dikompori’ oleh setan, dan atau berpadu dengan banyaknya iming-iming dari luar. Penasaran seperti apa rasanya ‘ngefly’ oleh minuman khamr, lezatnya makan daging babi dan nikmatnya kemaksiatan lain seperti zina dan berjudi.

Sementara di luar, setan terus memberikan rangsangan. Menggambarkan kenikmatan dosa melalui gambar yang terpampang, film-film yang tertayang dan cerita-cerita yang tersebar. Hal ini semakin menguatkan nafsu orang untuk menjajalnya. Setanpun mulai memanfaatkan peluang. Dia berusaha menepis berbagai keraguan, menyingkirkan sensor-sensor keimanan yang masih tersisa di hati dan pikiran calon korbannya. Mungkin dengan memberi pengharapan masih adanya kesempatan untuk bertaubat, atau memberikan alibi yang terkesan masuk akal. Seperti ketika Adam penasaran terhadap pohon yang dilarang untuk didekati, maka Setan datang dengan membawa jawaban yang menyesatkan, meski sekilas tampak logis dan seakan ia berada pada pihak yang membela Adam,

Dan Setan berkata, “Tuhan kamu tidak melarangmu mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi Malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam Jannah)”. (QS. al-A’raaf 19)

Begitulah, setan akan mencarikan seribu alasan ‘logis’ agar manusia tak ragu untuk mencicipi dosa. “Mumpung masih muda, toh hanya sekali, masih ada waktu untuk taubat, tak ada orang yang tahu, yang penting niatnya baik, cukup diambil manfaatnya, jangan hanya melihat sisi buruknya…” dan seabrek polesan yang membuat akal tersihir dan hati menjadi terlena, hingga akhirnya manusia termakan oleh propaganda setan, nas’alullahal ‘aafiyah.

Terkadang setan memanfaatkan peluang kebosanan seseorang dalam menjalani aktivitas kehidupan. Sasarannya adalah mereka yang belum merasakan kenikmatan ibadah meski telah menjalankannya, atau orang yang tidak membenci dosa meskipun belum mencicipinya. Lalu setan datang untuk ‘menasihatinya’, “Kamu tidak merasakan nikmatnya ibadah karena jalan hidupmu datar-datar saja. Coba kalau kamu menjadi ahli maksiat terlebih dahulu, seperti si fulan atau fulanah, pasti setelah taubat kamu akan merasakan manisnya keimanan..!” Tampak logis, berpihak dan berlagak sebagai penasihat yang bijak. Padahal, itu tak lebih dari perangkap, yang seandainya seseorang masuk ke dalamnya, sulit baginya untuk keluar.

Tatkala dorongan nafsu semakin kuat, pengaruh akal melemah, sementara dalih juga telah disiapkan, mulailah seseorang untuk mencoba mencicipi dosa. Satu langkah setan telah diikuti, sulit bagi si korban untuk kembali kecuali yang dirahmati Allah,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, Maka Sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. an-Nuur 21)

Akhirnya Ketagihan Dosa

Sekali mencoba, pasti dia akan merasakan satu di antara dua rasa yang berbeda, meski follow up dari coba-coba ini akhirnya sama juga. Mungkin ia tidak merasakan nikmat sebagaimana yang dia bayangkan sebelumnya. Ini membuatnya makin penasaran, maka dia terdorong untuk mencoba kali kedua untuk meyakinkannya. Atau sekali coba dia langsung mendapatkan rasa yang diharapkannya, maka diapun tergila-gila dan ketagihan untuk mengulanginya.

Seperti awal mula orang yang hobi berjudi. Awalnya coba-coba, siapa tahu mendapat ‘keberuntungan’. Jika ternyata menang, maka akan dijadikan sumber penghasilan, jika kalah, maka semakin penasaran untuk mencoba berulang-ulang. Harta ludes pun belum tentu menjadi alasan untuk berhenti berjudi, dia akan terus mengejar angannya meski harus dengan berhutang atau bahkan mencuri.

Dusta juga begitu. Bohong yang pertama seakan menjadi bibit unggul bagi tumbuhnya kedustaan berikutnya. Karena untuk menutupi kedustaan pertama seseorang akan melakukan dusta yang kedua, ketiga, keempat dan begitu seterusnya.

Apalagi dosa zina. Tidak mudah orang berhenti dari perbuatan keji ini jika terlanjur mencobanya. Karena ketagihannya itulah, maka hukuman bagi pezina di akhirat sangat sesuai dengan karakter mereka di dunia. Ibnul Qayyim al-Jauziyah menuturkan,

Ketahuilah bahwa balasan itu berbanding lurus dengan perbuatan. Hati yang telah terpaut dengan sesuatu yang haram, setiap kali dia berhasrat untuk meninggalkan dan keluar darinya, pada akhirnya kembali ke dosa semula”.

Begitu pula dengan balasan baginya di barzakh maupun di akhirat. Pada sebagian riwayat hadits Samurah bin Jundub yang disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda,

‘’Suatu malam aku bermimpi ada dua orang yang mendatangiku, lalu keduanya mengajakku keluar, maka akupun beranjak bersama keduanya. Ternyata aku melihat ada sebuah rumah yang dibangun seperti tungku, bagian atas sempit dan bagian bawahnya luas, sedangkan di bawahnya ada nyala api. Di dalam bangunan tersebut ada kaum laki-laki dan perempuan yang telanjang. Ketika api dinyalakan merekapun berusaha naik ke atas hingga hampir-hampir mereka keluar. Jika api redup merekapun kembali ke tempat semula. Sayapun bertanya: “Siapakah mereka?” Dia menjawab: “Mereka adalah para pezina.”

Maka perhatikanlah kesesuaian hadits ini dengan kondisi hati para pezina di dunia. Setiap kali mereka berkeinginan untuk bertaubat dan berhenti darinya, serta keluar dari tungku syahwat menuju kesejukan taubat, ternyata kandas dan mereka kembali lagi padahal hampir saja mereka keluar darinya.”

Tak terkecuali dosa-dosa yang lain, pada dasarnya dosa adalah bibit bagi dosa berikutnya, baik dengan jenis yang sama atau bahkan melahirkan dosa-dosa baru yang berbeda jenisnya. Hingga ada kaidah yang populer di kalangan ulama,

إِنَّ مِنْ عَقُوْبَةِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهاَ

Sesungguhnya, di antara hukuman bagi keburukan adalah lahirnya keburukan berikutnya.”

Menjadi Pengikut Setan yang Setia

Seperti minum air laut, makin banyak minum akan terasa semakin haus. Begitulah gambaran orang yang kecanduan dosa setelah mencoba. tatkala kecenderungan terhadap dosa makin kuat mencengkeram, ketika itu ikatan ketaatan mulai longgar dan akhirnya pudar. Tak merasa bersalah saat menelantarkan kewajiban, merasa enjoy saat menjamah kemaksiatan. Intinya, dia telah menjadi pecinta dan pendukung kemaksiatan. Satu langkah setan lagi diikuti, makin sulit pula harapan dia untuk kembali ke jalan yang lurus.

Tinggal langkah terakhir, hampir-hampir dia sudah sejenis dengan setan, atau berbuat seperti yang diperbuat oleh setan. Ketika dia menghalalkan yang haram, mengharamkan yang halal, lalu menghasung manusia kepada kemaksiatan dan menghalangi manusia dari ketaatan, maka dia telah memiliki karakter yang sama dengan setan, kafir dan menyeru kepada kekafiran, na’udzu billah.

Itulah siklus dosa yang boleh jadi tidak disadari, dari sekedar kecenderungan dan penasaran yang diikuti dengan coba-coba, akhirnya menumbuhkan kesenangan dan cinta dosa. Akhirnya, ia pun berbuat seperti yang diperbuat oleh setan,

“Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (syaitan) kerjakan.” (QS al-An’am 113)

Maka, bersabar untuk tidak mencoba dosa, meskipun berat, itu lebih ringan daripada dia harus bersabar menghadapi beratnya dorongan nafsu setelah dosa pertama dijamahnya. Semoga Allah melindungi kita dari dosa. Amien. Disalin

Sumber: Majalah Ar-Risalah

Bolehkah, Membaca Al-Qur’an Tanpa Memahami Maknanya?

Keutamaan Membaca Al-Qur'an

Ilustarsi: Seorang santri sedang membaca Al-Qur’an

Pertanyaan

Assalamu ‘alaikum ustadz, saya ingin bertanya tentang hukum membaca Al-Qur’an tanpa memahami maknanya. Karena saya tidak dapat berbhasa Arab dan tidak dapat membaca kitab gundul.

Jawaban

Dibolehkan membaca Al-Qur’an meskipun tidak memahami maknanya. Akan tetapi lebih dianjurkan mentadaburi dan memikirkan sampai memahami maknanya.  Caranya dengan merujuk ke kitab-kitab Tafsir jika dapat memahami kitab-kitab tersebut.

Cara lain dengan menanyakan kepada ahli ilmu jika mengalami kendala dan masalah dalam tadabbur. Karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

(كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ (سورة ص: 29)

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS. Shad: 29)

Seorang mukmin hendaknya mentadaburi, maksudnya memperhatikan bacaan dan memikirkan maknanya. Dan memahami maknanya, dengan begitu, dia dapat mengambil manfaatnya. Jika tidak dapat mengambil manfaat makna secara sempurna, dia telah mengambil manfaat makna yang banyak.

Maka perlu membaca dengan tadabur dan memahami. Bagitu juga bagi seorang wanita. Mentadabburi Al-Quran agar dapat mengambil manfaat dari firman Tuhannya serta mengetahui maksudnya dan mengamalkannya. Allah subhanahu  wa ta’ala berfirman:

(أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا (سورة محمد: 24)

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?.” (QS. Muhammad: 24)

Allah  Azza Wajalla menganjurkan dan mengajak untuk memahami dan mentadaburi Kalam-Nya Subhanahu. Kalau seorang mukmin membaca Kitabullah  , maka dianjurkan keduanya untuk mentadaburi dan memahaminya serta memperhatikan apa yang dibacanya. Agar dapat mengambil manfaat dan memahami Kalam Allah. Dan mengamalkan dengan apa yang diketahui dari Kalam Allah. Dalam hal ini, dapat meminta memanfaatkan kitab-kitab tafsir yang dikarang para ulama seperti tafsir Ibnu Katsir, tafsir Ibnu Jarir, tafsir Al-Baghowi, Tafsir Syaukani dan kitab tafsir lainnya.. Begitu juga bertanya kepada ulama  yang dikenal mempunyai ilmu dan memiliki keutamaan untuk menanyakan berbagai masalah.”

Sumber: Fatwa Samahatus Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah .

Suami Meninggal Setelah Akad Nikah,  Istri Berhak Mewarisi Hartanya?

Pertanyaan: 

Jika seorang laki-laki telah melakukan akad nikah dengan wanita dan belum berhubungan suami istri, lalu salah satu dari keduanya meninggal dunia, maka apakah mereka berdua sudah bisa saling mewarisi hartanya ?

Jawaban

Jika akad nikah sudah dilaksanakan dengan syarat dan rukunnya yang lengkap, kemudian salah satu dari suami istri meninggal dunia sebelum terjadinya hubungan suami istri, maka akad nikahnya tetap ada dan masing-masing saling mewarisi hartanya berdasarkan keumuman firman Allah –Ta’ala-:

 وَلَكُمْ نِصْفُ مَا تَرَكَ أَزْوَاجُكُمْ إِن لَّمْ يَكُن لَّهُنَّ وَلَدٌ فَإِن كَانَ لَهُنَّ وَلَدٌ فَلَكُمُ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْنَ مِن بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِينَ بِهَا أَوْ دَيْنٍ وَلَهُنَّ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْتُمْ إِن لَّمْ يَكُن لَّكُمْ وَلَدٌ فَإِن كَانَ لَكُمْ وَلَدٌ فَلَهُنَّ الثُّمُنُ مِمَّا تَرَكْتُم مِّن بَعْدِ وَصِيَّةٍ تُوصُونَ بِهَا أَوْ دَيْنٍ  سورة النساء /12

Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu”. (QS. An Nisa’: 12)

Ayat ini umum bagi siapa saja yang meninggal dunia meninggalkan istri, baik sebelum berhubungan suami istri maupun sudah melakukannya. Jika akad nikah sudah sempurna lalu salah satu dari suami istri meninggal dunia sebelum melakukan hubungan suami istri, maka hukum pernikahan tetap ada dan masing-masing dari keduanya sudah bisa saling mewarisi sesuai dengan keumuman ayat yang mulia di atas.

Demikian pula jika mahar belum diserahkan maka istri berhak memperoleh mahar yang telah disepakati dan disebutkan dalam akad nikah.

Abu Daud meriwayatkan bahwa Ibnu Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu– pernah ditanya tentang seorang wanita yang suaminya meninggal dunia sebelum terjadinya hubungan suami istri antar keduanya dan belum dipastikan pembayaran maharnya. Beliau menjawab:

  لَهَا الصَّدَاقُ كَامِلًا ، كصداق نسائها ، وَعَلَيْهَا الْعِدَّةُ وَلَهَا الْمِيرَاثُ

Ia berhak menerima mahar sepenuhnya, seperti mahar para wanita sekitarnya, ia juga mempunyai masa iddah dan berhak menerima warisan juga”.

Ma’qil bin Sanan –radhiyallahu ‘anhu- berkata: “Saya pernah mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah memutuskan Birwa’ binti Wasyiq seorang wanita di daerah kami, sama dengan apa yang engkau putuskan”. (Dishahihkan oleh Albani dalam Irwa’ul Ghalil: 1939).

Sumber: Islamqa.info.id

Pemimpin Itu Pelayan

Pemimpin Itu Pelayan

Pemimpin Itu Pelayan

Yahya bin Akhtsam menceritakan,  suatu hari ia menginap di rumah Ma’mun rahimahullah. Suatu saat ia haus di tengah malam. Ia pun bangun mencari air dan minum.  Lalu,  Ma’mun melihatnya dan berkata, “Wahai Yahya,  ada apa denganmu, mengapa engkau belum tidur?” Yahya menjawab, “Wahai Amirul Mu’minin,  demi Allah,  aku sangat haus sekali.” Lalu Ma’mun berkata padanya,  “Kembalilah ke tempat istirahatmu.”

Setelah itu,  Ma’mun pun bangun dan pergi ke dapur dan mengambil tempayan air,  lalu datang kepada Yahya bin Akhtsam dan berkata, “Wahai Amirul Mu’minin. Kenapa tidak pelayan Anda saja yang mengambilkan?”  Ma’mun menjawab,  “Mereka tidur,”  Yahya pun berkata, “Sebenarnya saya tadi sudah bangun dan minum”, lalun Ma’mun berkata,  “Teramat buruk seseorang yang menjadikan tamunya sebagai pelayannya”.

Lalu Ma’mun berkata kepada Yahya,  “Wahai Yahya”,  Yahya menjawab, “Labbaika ya Amiral Mu’minin”,

“Bolehkah aku mengatakan sesuatu padamu?” kata Ma’mun.  Yahya pun mengiyakan,  dan Ma’mun melanjutkan,  “Ririwayatkan padaku Ar-Rashid,  dari Al-Mahdi,  dari Al-Manshur,  dari bapaknya bahwa Ibnu Abbas berkata,  “Dikabarkan padaku oleh Jabir bin Abdillah ia berkata,  bahwasanya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سيد القوم خادمهم

Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka“.

(Al Muntadhim,  10/26, Hayatus Salaf bainal Qaul Wal Amal:326).

FOZ Gelar  Seminar Pemberdayaan Ekonomi Melalui Zakat dan Wakaf

FOZ Gelar Seminar Pemberdayaan Ekonomi Melalui Zakat dan Wakaf

(Jakarta) wahdahjakarta.com — Forum Zakat (FOZ)  Wilayah Jakarta mengadakan Seminar Pemberdayaan Ekonomi Ummat Berbasis Zakat dan Wakaf di Gedung Indosat Oreedo, Lt 4, Jl. Medan Merdeka Barat, No.21 Jakarta Pusat,  pada Sabtu (27/10/2018).

Acara ini diikuti oleh sejumlah Lembaga Amil Zakat di Jabodetabek serta beberapa DKM dan yayasan sosial termasuk didalamnya LAZIS Wahdah.

Hadir sebagai narasumber para pakar dan praktisi  yang berkompeten di bidangnya seperti Bambang Suherman (Ketua FOZNAS), Bambang Hikmawan (Praktisi Ekonomi Syariah), dan Iwan Fuad (Komisioner BWI).

Intisari  dari materi seminar yang disampaikan adalah membangun sinergi sesama lembaga amil yang ada di Indonesia dalam bekerja bersama-sama mengembangkan ekonomi ummat berbasis zakat dan wakaf untuk memulihkan perekonomian, memberdayakan mustahiq melalui wakaf produktif, serta bagaimana menghindari riba.

“Jika riba meningkat maka jual beli akan mati. Melalui zakat, infaq, sedekah, dan wakaf yang disalurkan ke mustahik dalam bentuk program berarti kita menghidupkan perekonomian” . Ujar Bambang Hikmawan dalam penyampaian materinya. [rsp].

——

Peduli Gempa Sulteng:

Bank Syariah Mandiri (kode bank:451) 499 900 9005 an Lazis Wahdah Peduli Negeri

Markaz Qur’an Wahdah (Layanan Qur’an Untuk Dhuafa):

Bank Syariah Mandiri (kode bank: 451) 773 800 8008 an Lazis Wahdah Jakarta Sedekah

Konfirmasi transfer WA/SMS: 0811 9787 900 (mohon dengan menyertakan bukti transfer)

#bersatuuntuksulteng

#SpiritPeduliPaluDonggala