Gabungan Ormas Islam Ancam Usir Seluruh Pengungsi di Makassar, Ini Alasannya

Suasana pertemuan FUIB dengan komisi E DPRD Sulsel membahas masalah pengungsi Rohingya di Makassar, Senin (19/11/2018)

(Makassar) wahdahjakarta.com – Untuk kali ketiganya, gabungan aktivis ormas Islam yang tergabung dalam Forum Ummat Islam Bersatu (FUIB) kembali mendatangi kantor DPRD Sulawesi Selatan,  di Jalan Urip Sumoharjo, Senin (19/11/2018).

Kedatangan FUIB bersama dengan puluhan pengungsi etnis Rohingya asal Myanmar itu, untuk mempertanyakan tindaklanjut dari hasil dua pertemuan sebelumnya di Komisi E.

Menurut Ketua FUIB Sulawesi Selatan, Mukhtar Daeng Lau, jika memang sampai sekarang tidak ada kejelasan tentang nasib ratusan pengungsi Rohingya yang ada di Kota Makassar ini, maka puluhan kelompok ormas Islam yang berada di bawah naungan FUIB akan melakukan tindakan.

“Kemungkinan kami akan mengambil langkah, yakni dengan melakukan pengusiran secara besar-besaran tanpa memandang ia pengungsi dari mana,” tegasnya saat menyampaikan sikap di ruang aspirasi.

Mukhtar menuturkan, pengungsi Rohingya sudah ada yang tinggal di Kota Makassar hingga belasan tahun, sementara pihak PBB, dalam hal ini UNCR dan IOM, yang hanya selalu diberangkatkan ke negara pihak ketiga tujuan suaka adalah mereka pengungsi yang berasal dari Afganistan, Iran, dan lainnya.

Agussalim Syam dari Front Pembela Islam (FPI), yang hadir dalam pertemuan itu, menyatakan cukup menyesalkan sikap Dewan yang lamban menyikapi persoalan pengungsi Rohingya.

“Kami khawatir, kita melakukan pertemuan, yang dibicarakan berulang-ulang, dan itu-itu saja, sehingga jangan salahkan apabila ormas Islam mengambil langkah tegas,” katanya.

Ketua Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) Sulawesi Selatan, Farid Ma’ruf Nur, menambahkan bahwa persoalan pengungsi di Kota Makassar memang meninggalkan sejumlah persoalan besar, sehingga sejatinya butuh solusi secara tepat.

Seperti, ia menyebutkan, banyaknya pengungsi dari Afganistan yang terindikasi sebagai penganut paham Syiah yang telah kawin-mawin dengan warga di sini.

“Sehingga kalau pun ormas Islam kelak mengambil langkah tegas, itu sudah tepat untuk mengantisipasi kasus yang lebih besar ke depannya,” tuturnya.

Ketua Forum Peduli Rohingya, M. Iqbal Jalil, menjelaskan seluruh elemen yang tergabung di FUIB berkeinginan agar pemerintah provinsi juga memberikan sikap terhadap persoalan Rohingya ini.

Pasalnya, kata dia, Sulawesi Selatan bergerak dikarenakan daerah ini yang terbilang banyak menampung pengungsi asal Rohingya.

Berdasarkan catatan Forum Peduli Rohingya, jumlah sekitar 212 orang yang tersebar di sejumlah wisma pengungsian di Kota Makassar.

“Kasus Rohingya perlu ditangani secara bersama dan proaktif. Perlu diingat bahwa berdasarkan temuan tim pencari fakta PBB, pengungsi Rohingya ini adalah korban genosida. Saya pikir, kalau pemerintah provinsi bersuara, maka nama daerah ini juga akan terangkat, sehingga sudah semestinya persoalan pengungsi Rohingya ini diperhatikan secara bersama,” jelas Ustad Ije sapaan akrabnya.

Sementara Direktur Lazis Wahdah Islamiyah, Syahruddin, yang mencoba memberikan solusi dalam kesempatan itu, salah satunya adalah memberikan lahan khusus bagi pengungsi Rohingya di daerah ini untuk ditempati jika memang tidak solusi konkret untuk pemberangkatan mereka ke negara pihak ketiga.

Anggota DPRD Sulawesi Selatan, Haidar Madjid, yang menerima aspirasi itu, menganggap persoalan tersebut sangat penting dan mendesak untuk dibicarakan lebih serius, sehingga ia pun menawarkan agar pembahasannya dilanjutkan melalui rapat dengar pendapat dengan unsur pimpinan Dewan.

Ia pun berjanji akan menyampaikan seluruh aspirasi itu dan segera mengagendakan rapat dengar pendapat. (Sumber: Rilis).

Ungkap Fakta Pemurtadan di Lombok, MUI Gelar Seminar Nasional

Seminar Nasional “Mengungkap Fakta Upaya Pemurtadan Pasca Bencana dan Solusinya,” di Gedung MUI Pusat, Jakarta, Senin (19/11/2018)

(Jakarta) wahdahjakarta.com  – Majelis Ulama Indonesia  (MUI) Pusat menggelar  seminar nasional dengan tema ‘Mengungkap Fakta Upaya Pemurtadan Pasca Bencana dan Solusinya’, di Gedung MUI, Jl. Proklamasi, Jakarta Pusat, Senin (19/11/2018).

Ketua panitia, Nauval Dunggio mengatakan acara ini untuk mengungkapkan hasil investigasi yang dilakukan tim Komite Dakwah Khusus (KDK) selama satu pekan atas dugaan pemurtadan di Lombok, Nusa Tenggara Barat pasca bencana.

“Seminar ini hasil investigasi dari perintah Buya Anwar Abbas ke KDK (Komite Da’wah Khusus), menyelidiki kasus yang di Lombok, pasca bencana. Alhamdulillah kita kirim 3 orang, yaitu ketua sendiri Abu Deedat dan dua anggota KDK yang lain,” ungkap Nauval, Ketua Panitia seminar nasional.

Pemicu adanya investigasi ini, kata Nauval, adalah video pemurtadan yang beredar di masyarakat. Sementara orang yang merekam video itu dijadikan tersangka oleh pihak kepolisian.

“Memang ukuran umat Islam saat ini selalu jadi korban. Kami dari KDK atas perintah Buya Anwar Abbas, kami hadir di sana hampir seminggu untuk mencari bukti-bukti tentang ada atau tidaknya pemurtadan di sana,” ungkapnya.

Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas mengungkapkan bahwa mayoritas upaya kristenisasi atau pemurtadan menggunakan celah ekonomi.

“Saya yakin, jika mengandalkan kekuatan teologis, umat Islam tidak akan mudah berpindah agama. Kebanyakan dari mereka memanfaatkan celah ekonomi,” dalam Seminar yang dihadiri 150 an perwakilan ormas Islam tersebut.

Selain terkait ekonomi, Buya Abbas juga berharap ada perbaikan dalam hal pendidikan. Hal itu untuk membentengi akidah orang Islam.

“Dia harus hidup, akhirnya berubah akidahnya. Jika kita tidak mau pindah agama, beri mereka makan. memang awalnya ngasih mereka makan, tapi setelah itu beri mereka ilmu,” ujarnya.

Di sisi lain, ia memandang bahwa tindakan eksploitasi kemiskinan untuk pemurtadan adalah tidak etis. Ia pun menhimbau kepada umat Islam untuk tidak melakukannya juga.

“Jangan dengan cara yang tidak etis, kasih uang. Jangan lah. Tidak etis. Sangat tidak etis. Menyakiti hati umat Islam. Seandainya hal serupa dilakukan oleh orang Islam dengan agama lain, maka mereka juga akan sakit hati. Sama seperti kita, ada umat Islam dimurtadkan dengan kedok bantuan,” ujarnya.

Seminar Nasional ini , menghadirkan Sekjen MUI KH. Anwar Abbas sebagai Keynote speaker, serta Peneliti INSIST Adian Husaini, dan Ketua KDK Abu Deedat Syihabuddin sebagai nara sumber. (sym)

Tersingkapnya Fakta di Balik Kejahatan Terhadap Muslim Rohingya

Tersingkapnya Fakta di Balik Kejahatan Terhadap Muslim Rohingya

(Jakarta) wahdahjakarta.com – Kasus pelanggaran HAM berat oleh Pemerintah Myanmar terhadap etnis muslim Rohingya menimbulkan keprihatinan dari berbagai kalangan. Sehingga bermunculan tim pencari fakta baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

KNSR (Komite Nasional Untuk Solidaritas Rohingya) mengadakan acara Public Expose Rohingya di Auditorium Adiana Jakarta Pusat, Rabu (14/11). Acara yang bertemakan “Ungkap Fakta Pelanggaran HAM Berat Pemerintah Myanmar Atas Etnis Rohingya” ini dihadiri oleh mitra KNSR dari berbagai relawan dan beberapa lembaga sosial serta tim pencari fakta Rohingya langsung dari President KNSR.

LAZIS Wahdah yang diwakili oleh Divisi Pemberdayaan dan Kerja Sama (PK) Regional Jakarta turut hadir dalam acara ini. Kehadiran LAZIS Wahdah merupakan undangan langsung dari KNSR karena selama ini LAZIS Wahdah responsif dengan keadaan yang dialami Rohingya dan aktif menyalurkan bantuan ke sana.

Tujuan diadakannya acara ini adalah untuk mengungkap fakta-fakta kejahatan oleh Pemerintah Myanmar terhadap etnis muslim Rohingya. “Kita juga sebetulnya menyongsong sebuah temuan dari dewan HAM PBB bahwasanya telah terjadi 3 kejahatan besar sekaligus oleh pemerintah Myanmar terhadap etnis Rohingya yaitu kejahatan perang, kejahatan atas kemanusiaan, dan genosida”, ujar President KNSR, Syuhelmaidi Syukur kepada Tim Media LAZIS Wahdah Jakarta.

 

“Dan itu kemudian menjadi konsen kita pada pertemuan kali ini, kita mengajak lembaga kemanusiaan, ormas, mahasiswa, bagian HAM, bagian kemanusiaan semuanya untuk kemudian terlibat aktif menyampaikan opini ke publik melalui media sosial maupun ikut juga mendorong pemerintah khususnya. Kita menyonsong sidang umum PBB tanggal 10 desember yang mana dalam sidang umum itu akan disampaikan mandat dari Dewan HAM terkait kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh pemerintah Myanmar dan kita berharap Indonesia khususnya agar menyampaikan aspirasi masyarakat Indonesia khususnya muslim Indonesia untuk kemudian mendorong dilakukannya pengadilan internasional bagi 6 jenderal yang terlibat langsung dalam genosida ini”. Tambahnya. (rsp)
———-

Info Donasi Peduli Rohingya: 0811 9787 900 (call/wa/sms)

LAZIS Wahdah, “Melayani dan Memberdayakan”

Merasa Tidak Mampu Menghadapi Berbagai Persoalan Hidup, Bolehkah Berharap Kematian?

Merasa Tidak Mampu Menghadapi Berbagai Persoalan Hidup, Bolehkah Berharap Kematian?

Pertanyaan

Kalau seorang muslim menghadapi berbagai macam permasalahan dalam kehidupannya, tidak mendapatkan solusi, apakah dia dibolehkan berdoa dan berharap kematian untuk dirinya agar selesai dari berbagai permasalahan ini?

 Jawaban

Bismillah,

Pertama: umur panjang bagi orang mukmin disertai dengan amalan saleh itu lebih baik dari kematian. Nabi -sallallahu alaihi wa sallam- bersabda ketika ditanya siapakah orang yang paling baik,

 خَيْرُ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ

 “Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umur dan baik amalannya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi, no. 110, dinyatakan shahih oleh Albani  dalam Shahih Tirmidzi)

Sabda beliau -sallallahu alaihi wa sallam– lainnya:

  طُوْبَى لِمَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ

 “Beruntunglah orang yang panjang umur dan baik amalannya.” (HR. Thabrani dan Abu Nu’aim. Dinyatakan shahih oleh Albani di Shahih Al-Jami’, no. 3928)

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, (8195) dari Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata:

كَانَ رَجُلَانِ أَسْلَمَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاسْتُشْهِدَ أَحَدُهُمَا وَأُخِّرَ الْآخَرُ سَنَةً . قَالَ طَلْحَةُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ : فَأُرِيتُ الْجَنَّةَ ، فَرَأَيْتُ فِيهَا الْمُؤَخَّرَ مِنْهُمَا أُدْخِلَ قَبْلَ الشَّهِيدِ ، فَعَجِبْتُ لِذَلِكَ ، فَأَصْبَحْتُ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَلَيْسَ قَدْ صَامَ بَعْدَهُ رَمَضَانَ ! وَصَلَّى سِتَّةَ آلافِ رَكْعَةٍ أَوْ كَذَا وَكَذَا رَكْعَةً ! صَلاةَ السَّنَةِ

“Ada dua orang masuk Islam di hadapan Nabi sallallahu alaihi wa sallam, salah satunya mati syahid dan yang lainnya (wafat) setahun lagi. Tholhah bin Ubaidillah mengatakan, “Saya diperlihatkan surga (dalam mimpi), maka saya melihat yang (wafat) terakhir dimasukkan surga sebelum orang yang mati syahid. Saya heran akan hal itu. Ketika pagi hari, saya ceritakan hal itu kepada Rasulullah -sallallahu alaihi wa sallam-, maka Rasulullah -sallallahu alaihi wa sallam- bersabda, “Tidakkah dia telah berpuasa Ramadan setelahnya! Telah menunaikan shalat enam ribu rakaat atau ini dan ini rakaat! (juga menunaikan) shalat sunnah.” (Dinyatakan shahih oleh Albani di Silsilah Shahihah, (2591) Ajluni mengomentari dalam kitab ‘Kasyful Khofa’’ sanadnya hasan)

وقال رجل : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ ؟ قَالَ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ قَالَ : فَأَيُّ النَّاسِ شَرٌّ ؟ قَالَ : مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ

 “Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang terbaik? Beliau menjawab, “Orang yang panjang umurnya dan baik amalannya. Berkata, “Siapakah yang orang paling jelek? Beliau menjawab, “Orang yang panjang umurnya dan jelek amalannya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi, no. 2330. Dinyatakan shahih oleh Albani di Shahih Tirmidzi)

Ath-Thayiby rahimahullah mengatakan,

 “Sesungguhnya waktu dan jam seperti modal harta bagi pedagang. Selayaknya dia berniaga agar beruntung. Setiap kali modal hartanya banyak, maka keuntungannya akan lebih banyak. Siapa yang dapat memanfaatkan umurnya dengan memperbaiki amalannya. Maka dia akan beruntung dan bahagia. Siapa yang menyia-nyakan modal hartanya, tidak beruntung dan rugi, maka dia rugi yang nyata.”

Oleh karena itu ketika dikatakan kepada sebagian ulama salaf,

“Alangkah indahnya kematian!! Maka beliau mengatakan, “Wahai anak saudaraku, jangan melakukan hal itu, satu waktu anda hidup dapat beristigfar kepada Allah, itu lebih baik bagi anda dibandingkan kematian!!.

Dikatakan kepada Syeikh yang tua dikalangan mereka, “Apakah anda senang kematian? Beliau menjawab, “Tidak. Telah lewat masa muda dengan keburukannya. Dan telah datang masa tua dengan kebaikannya. Kalau anda berdiri mengucapkan ‘Bismillah. Ketika anda duduk mengucapkan ‘Alhamdulillah. Dan saya senang tetap seperti ini.

Banyak dari ulama salaf menangis ketika akan meninggal dunia menyayangkan keterputusan amal kebaikan. Oleh karena itu, Nabi sallallahu alaihi wa sallam melarang berangan-angan kematian. Karena orang mukmin terhalangi dari kebaikan kataatan, nikmatnya ibadah, kesempatan bertaubat dan mendapatkan apa yang terlewatkan.

Dari Abu Hurairah –radhiallahu ‘anhu– dari Rasulullah sallallahu aliahi wa sallam bersabda:

لا يَتَمَنَّى أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ , وَلا يَدْعُ بِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُ ، إِنَّهُ إِذَا مَاتَ أَحَدُكُمْ انْقَطَعَ عَمَلُهُ ، وَإِنَّهُ لا يَزِيدُ الْمُؤْمِنَ عُمْرُهُ إِلا خَيْرًا

“Janganlah salah seorang diantara kamu berangan-angan untuk mati. Jangan berdoa dengannya sebelum waktunya. Sesungguhnya ketika salah seorang diantara kamu ketika meninggal dunia, maka akan terputus amalannya. Bahwa orang mukmin tidak bertambah umurnya melainkan ada kebaikan.” (HR. Muslim, 2682)

Maka terkumpul larangan berangan-angan kematian dan larangan berdoa kejelekan untuk dirinya. Dalam Bukhori, (7235) dengan redaksi, “Salah seorang diantara kamu jangan berangan-angan kematian. Karena bisa menambah kebaikan atau perasaan bersalah terhadap keburukan.

Imam Nawawi rahimahullah mengomentari, “Dalam hadits jelas melarang berangan-angan kematian karena kesusahan yang menimpahnya baik kekurangan, ujian musuh atau kesusahan dunia lainnya. Sementara kalau dia takut kesusahan atau fitnah terhadap agamanya, maka tidak dilarang sesuai dengan pemahaman hadits ini. Hal itu telah dilakukan banyak dari ulama salaf.

Kata ‘Yasta’tib’ artinya adalah ridho kepada Allah dengan meninggalkan (dosa) dan beristigfar

Ada arti lain larangan berangan-angan kematian yaitu:

Bahwa sakaratul maut sangat berat dan kegentingannya sangat mengerikan. Tidak ada seorangpun seperti itu. Kemudian seseorang tidak mengetahui apa yang dia tungguh setelah kematian. Kita memohon keselamatan kepada Allah. Maka berangan-angan kematian adalah meminta sesuatu dimana tidak ada seorangpun mendapatkannya. Dan menipu pada dirinya. Khawatir angan-angan kematian menjadi sebab musibah besar seperti orang yang meminta perlindungan dari panasnya neraka. Khawatir setelah mendapatkan kematian, terjadi yang lebih besar dan lebih berat lagi. Maka berangan-angan kematian termasuk salah satu bentuk mempercepat cobaan sebelum menimpanya. Sehingga tidak layak bagi orang berakal melakukan hal itu. Sebagaimana sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam:

لا تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ ، وَسَلُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ

“Jangan berangan-angan bertemu musuh, dan mintalah kesehatan (kebaikan) kepada Allah.” (HR. Muttafaq ‘alaihi)

Dari Jabir bin Abdullah radhillahu anhu berkata, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لا تَمَنَّوْا الْمَوْتَ ، فَإِنَّ هَوْلَ الْمَطَّلَع شَدِيدٌ ، وَإِنَّ مِنْ السَّعَادَةِ أَنْ يَطُولَ عُمْرُ الْعَبْدِ وَيَرْزُقَهُ اللَّهُ الإِنَابَةَ

 “Jangan berangan-angan kematian, karena kegentingan sangat mengerikan. Sesungguhnya diantara kebahagiaan seorang hamba adalah berumur panjang dan dikarunia taubat kepada Allah.” (HR. Ahmad, dilemahkan oleh Albani di Silsilah Ahadits Dhoifah, no. 885)

Ibnu Umar radhiallahu anhuma mendengarkan seseorang berangan-angan kematian, maka beliau mengatakan, “Jangan anda berangan-angan kematian. Memohonlah kepada Allah kesehatan. Karena kematian dapat menyingkap ngerinya kegentingannya.

Ibnu Rojab rahimahullah mengatakan, “Dahulu banyak dari kalangan orang-orang saleh berangan-angan kematian waktu sehatnya. Ketika mendapatkannya, mereka tidak menyukainya karena kedahsyatannya. Diantara mereka ada Abu Darda’, Sofyan Tsauri. Bagaimana lagi dengan lainnya?

Larangan beranga-angan kematian sesungguhnya disebabkan karena seseorang mendapatkan kesusahan dalam masalah dunianya. Karena berangan-angan kematian menunjukkan keluhan terhadap apa yang menimpanya.

Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu, Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ مِنْ ضُرٍّ أَصَابَهُ , فَإِنْ كَانَ لا بُدَّ فَاعِلا فَلْيَقُلْ : اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتْ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي , وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتْ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي

“Jangan salah seorang diantara kamu berangan-angan kematian karena kesusahan yang menimpanya. Kalau memang harus dilakukan, hendaknya dia berdoa ‘Ya Allah hidupkan diriku selagi kehidupan itu baik bagi diriku. Dan wafatkan diriku selagi kematian itu baik bagi diriku.” (Muttafaq alaih)

Ungkapan ‘Kesusahan yang menimpanya’ maksudnya kesusahan dunia seperti sakit, cobaan pada harta dan anak-anak dan semisal itu. Sementara kalau takut kesusahan dalam agamnya seperti fitnah, maka tidak mengapa berangan-angan kematian sebagaimana yang akan kita jelaskan.

Kemungkinan permintaan kematian ini agar dapat terlepas dari kesusahan. Bisa jadi semakin bertambah payah dan kesakitannya terus berlangsung sementara dia belum mengetahuinya. Dari Aisyah radhiallahu anha berkata, dikatakan, “Wahai Rasulullah, si fulanah telah meninggal dunia dan istirahat. Maka Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam marah seraya bersabda, “Sesungguhnya (hakekat) istirahat itu orang yang telah diampuni. HR. Ahmad, 24192 dinyatakan shahih oleh Albani di Silsilah Shahihah, 1710.

Kedua: Beberapa kondisi dianjurkan berangan-angan kematian diantaranya adalah:

  1. Khawatir terhadap fitnah yang menimpa agamanya

Tidak diragukan lagi bahwa kematian seseorang jauh dari fitnah meskipun amalannya sedikit itu lebih baik daripada mendapatkan fitnah dalam agamanya. Kita memohon kepada Allah keselamatan.

Dari Mahmud bin Labid sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

اثْنَتَانِ يَكْرَهُهُمَا ابْنُ آدَمَ : الْمَوْتُ ، وَالْمَوْتُ خَيْرٌ لِلْمُؤْمِنِ مِنْ الْفِتْنَةِ ، وَيَكْرَهُ قِلَّةَ الْمَالِ ، وَقِلَّةُ الْمَالِ أَقَلُّ لِلْحِسَابِ

“Dua hal yang tidak disukai Bani Adam, kematian. Kematian lebih baik bagi orang mukmin dibandingkan dengan fitnah. Dan tidak menyukai sedikit harta, padahal sedikit harta itu sedikit hisabnya.”(HR. Ahmad dinyatakan shahih oleh Albani di Silsilah Shahihah, no. 813)

Telah ada anjuran berangan-angan kematian pada kondisi seperti ini juga. Sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam dalam doanya:

 وَإِذَا أَرَدْتَ بِعِبَادِكَ فِتْنَةً فَاقْبِضْنِيْ إِلَيْكَ غَيْرَ مَفْتُوْنٍ

“Kalau Engkau menginginkan hamba-Mu fitnah, maka cabutlah (nyawa) diriku tanpa terkena fitnah.” (HR. Tirmidzi, 3233 dinyatakan shahih oleh Albani di Shahih Tirmidzi)

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Hal ini dibolehkan menurut mayoritas ulama.”

Hal ini yang ada dari salaf terkait dengan berangan-angan kematian. Mereka berangan-angan kematian karena takut fitnah.

Diriwayatkan Malik dari Said bin Musayyab beliau berkata, ketika Umar bin Khotob kembali dari Mina, tinggal di Abtoh kemudian mengumpulkan tumpukan di Batha dan melepas selendang kemudian terlentang sambil menjulurkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa:

اللَّهُمَّ كَبِرَتْ سِنِّي ، وَضَعُفَتْ قُوَّتِي ، وَانْتَشَرَتْ رَعِيَّتِي ، فَاقْبِضْنِي إِلَيْكَ غَيْرَ مُضَيِّعٍ وَلا مُفَرِّطٍ

“Ya Allah usiaku telah tua, lemah kekuatanku, rakyatku telah tersebar, maka tolong cabut diriku (menghadap kepada-Mu) tanpa sia-sia dan melampaui batas.”

Said berkomentar, tidak lama setelah bulan Dzulhijjah, sampai Umar radhiallahu anhu terbunuh.

Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata, “Siapa yang melihat kematian dijual, tolong belikan untukku !. (‘Tsabat ‘Indal Mamat, karangan Ibnul Jauzi, hal. 45).

  1. Jika kematiannya berupa syahid di jalan Allah Azza Wajalla

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لَوْلا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي مَا قَعَدْتُ خَلْفَ سَرِيَّةٍ ، وَلَوَدِدْتُ أَنِّي أُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ، ثُمَّ أُحْيَا ثُمَّ أُقْتَلُ ، ثُمَّ أُحْيَا ثُمَّ أُقْتَلُ   )متفق عليه

“Kalau sekiranya tidak memberatkan kepada umatku, maka aku tidak akan pernah meninggalkan dibelakang peperangan. Saya ingin terbunuh di jalan Allah kemudian dihidupkan kemudian dibunuh lagi, kemudian dihidupkan kemudian dibunuh.” (HR. Muttafaq ‘alaihi)

Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam berangan-angan dibunuh di jalan Allah tiada lain karena agungnya keutamaan mati syahid.

Diriwayatkan Muslim, no. 1909 sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَأَلَ اللَّهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ اللَّهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ

Siapa yang memohon kepada Allah mati syahid dengan jujur, Allah akan sampaikan ke posisi orang-orang yang mati syahid meskipun meninggal di atas ranjangnya.)

Para ulama salaf mencintai mati di jalan Allah

Abu bakar radhiallahu anhu berkomentar terkait Musailamah Al-Kadzab ketika mengaku menjadi Nabi,

“Demi Allah. saya akan memeranginya dengan suatu kaum yang mencintai kematian sebagaimana dia mencintai kehidupan.

Kholid bin Walid radhiallahu anhu pernah menulis surat kepada penduduk Persia ‘Demi Zat yang tiada Tuhan selainnya. Pasti saya akan utus kepada kamu semua suatu kaum yang mencintai kematian sebagaimana anda mencintai kehidupan.

Karena posisi ini diinginkan –semoga Allah tidak menghalangi kami untuk mendapatkannya- dan mencarinya sangat dipuji dari semua sisi. Karena orang yang dikarunianya tidak akan terhalangi dari pahala amal saleh yang menjadi kebaikan dalam kehidupan. Sehingga kematian itu lebih baik bagi seseorang. Kemudian Allah juga akan menjaga kedudukan orangnya dari fitnah kubur.

Dari Salman radhiallahu anhu berkata, saya mendengar Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ ، وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُهُ ، وَأُجْرِيَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ ، وَأَمِنَ الْفَتَّانَ

“Ribath (menjaga) sehari semalam itu lebih baik daripada puasa dan qiyam sebulan. Kalau dia meninggal dunia, maka amalannya tetap mengalir yang dilakukannya, dialirkan rezkinya dan aman dari fitnah.”(HR. Muslim, no. 1913)

Kesimpulan

Dimakruhkan bagi seorang muslim berangan-angan kematian kalau disebabkan bencana dunia yang menimpanya. Bahkan hendaknya dia bersabar dan memohon bantuan kepada Allah. kita memohon kepada Allah agar anda dibebaskan dari kegalauan yang menimpa anda. silahkan merujuk soal no. 22880.

Wallahu a’lam.

Sumber: Islamqa.info.id

Gelar Silatnas, 10 Ribu Kader Hidayatullah Berkumpul di Gunung Tembak

Suasana Shalat berjama’ah di masjid kampus Hidayatullah

(Jakarta) wahdahjakarta.com-, Organisasi Islam Hidayatullah kembali akan menggelar acara Silaturahim Nasional (Silatnas) pada 22 hingga 25 November 2018 di Kampus Induk Hidayatullah, Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Pertemuan akbar ini, kata ketua panitia pengarah, Tasyrif Amin, akan diikuti oleh 10 ribu kader Hidayatullah dari 34 Provinsi, 360 Kabupaten, di seluruh Indonesia. “Saat ini sebagian dari mereka sudah mulai berangkat ke Balikpapan. Ada yang memakai pesawat, ada juga kapal laut,” jelas Tasrif saat dihubungi Ahad (18/11).

Bahkan akan hadir juga sejumlah mahasiswa Hidayatullah yang sedang menuntut ilmu di Madinah, Sudan, Mesir, Yaman, Turki, Malaysia, dan beberapa negara di Eropa.

Tema dari silaturahim nasional kali ini adalah “45 Tahun Hidayatullah Berkhitmad untuk NKRI Bermartabat.” Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Dr Nashirul Haq, menjelaskan tema ini mengandung arti bahwa Hidayatullah menginginkan NKRI memiliki harga diri di antara negara-negara lain di dunia.

“Harga diri akan diraih bila suatu negara memiliki kemuliaan. Kemuliaan tentu saja akan diraih jika suatu bangsa berpegang teguh pada prinsip-prinsip agama, serta memiliki kekuatan, baik politik, ekonomi, sosial, maupun militer,” jelas Nashirul saat ditanya Ahad (18/11)

Lebih lanjut Tasrif mengatakan bahwa Silatnas ini akan dibuka oleh Wakil Presiden, Jusuf Kalla. Sejumlah tokoh nasional juga akan hadir pada acara ini, di antaranya Ustadz Bachtiar Nasir, Komjen Polisi H. Syafruddin (Wakil Ketua Dewan Masjid Indonesia), dan Prof. Dien Syamsuddin (Ketua Watim MUI). * (Mahladi/Rilis Humas DPP Hidayatullah)