STEI Tazkia Gelar Wisuda ke-14, Wisudawan Terbaik Hafidz Al-Qur’an

(Bogor) wahdahjakarta.com – Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI Tazkia) melaksanakan Wisuda ke-14. Wisuda untuk jenjang Diploma, Sarjana dan Pascasarjana ini digelar di gedung kampus Tazkia Sentul, Bogor, Jawa Barat, Rabu (21//11/2018).

Jumlah wisudawan sebanyak 325 orang, 138 orang dari Program Studi Manajemen Bisnis Syariah, 89 orang Akuntansi Syariah, 29 orang Ekonomi Syariah, 18 orang Hukum Ekonomi Syariah, 16 orang Program Diploma sebanyak dan 44 orang dari Program Pascasarjana Ekonomi.

Tema wisuda kali ini adalah Islamic Economic for Indonesia: “Towards a Prosperous and Civilized Sociaty”.

Pembantu Ketua I Bidang Akademik Andang Heryahya berharap para wisudawan mampu berkontribusi yang terbaik untuk agama bangsa dan negara.

“Kami ingin memberikan konstribusi terbaik terhadap cita cita kemerdekaan Republik Indonesia dalam wewujudkan kecerdasan bangsa, keadilan dan kesejahteraan sosial. InsyaAllah ekonomi syariah salah satu bagian penting dalam wujudkannya,” ujarnya.

Andang mengungkapkan, pada wisuda kali ini semua civitas akademika bersyukur, bangga dan bangga dari 325 wisudawan telah meluluskan 24 wisudawan hafidz Al-Qur’an  30 Juz, 25, 10 dan 5 juz. “Dan, yang membuat terharu adalah sosok mahasiswa terbaik kami hapal 30 Juz,” begitu kata Pembantu Ketua I Bidang Akademik itu. (suaraislam.com)

KH. Idrus Ramli: Kebijakan Pemimpin Harus Sesuai Kepentingan Rakyat

KH. Idrus Ramli (keempat dari kiri ke kanan) pada kajian Spesial MIUMI ‘Arah Politik Ulama”, Selasa malam (20/11/2018)

(Jakarta) wahdahjakarta.com – Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Pusat menggelar Kajian Spesial ‘’Arah Politik Ulama” di Markas AQL Islamic Center, Jakarta Selatan, Selasa (19/11/2018) malam.

Sebagai nara sumber kajian para inisiator dan pengurus MIUMI Pusat; Ustadz Bachtiar Nasir (Sekjen), Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin (Wakil Ketua), Ustadz Ahmad Zain An-Najah (Ketua Majelis Fatwa), Ustadz Henri Shalahuddin (Pengurus MIUMI), dan KH. Idrus Ramli (pengurus MIUMI).

Ustadz Muhammad Idrus Ramli menjelaskan tugas seorang pemimpin menurut kaidah fikih Isam.

“Dalam kaidah fikih, tugas seorang pemimpin adalah memiliki kebijakan yang sesuai dengan kepentingan rakyat bukan kepentingan pemimpin. Sehingga pemimpin yang dapat dipilih adalah pemimpin yang memenuhi kebutuhan rakyat.” ungkapnya.

“Utamanya kepentingan umat Islam. Adapun sikap umat Islam menyikapi rezim adalah dengan mendoakan pemimpin agar memimpin dengan adil dan baik yang memihak kepada agama Islam,” imbuhnya.

Dalam prinsip Islam, lanjut Gus Idrus pemimpin adalah cerminan dari masyarakat pada umumnya. Apabila rakyat zalim maka Allah akan mengangkat pemimpin yang zalim.

“Adapun bila kezaliman itu ingin diangkat maka rakyat harus memperbaiki diri sendiri. Jadi saat ini bila Indonesia belum diberikan pemimpin yang baik, wajar. Karena rakyatnya masih banyak yang bermaksiat,” ujarnya.

Ustadz Idrus, yang juga pengurus NU Jember kemudian menjelaskan tentang cara memilih pemimpin berdasarkan prinsip Islam. Di antaranya melalui metode pemilihan oleh sejumlah ahli ataupun melalui wasiat.

“Dalam fikih Islam, adakalanya pemimpin dipilih melalui ahlul halli wal aqdi, atau melalui wasiat penerus kepemimpinan, atau melalui perebutan kekuasaan dengan pertempuran. Adapun demokrasi memang bukan sistem politik yang ideal. Tetapi saat ini memang sistem memilih pemimpin yang dipakai adalah demokrasi,” katanya.

Dia lalu menyampaikan pentingnya ilmu politik, yang maknanya ilmu mengatur manusia. Mengutip perkataan Imam Syafi’i, Ustadz Idrus mengatakan bahwa mengatur manusia itu lebih sulit daripada mengatur hewan. Sebab manusia tidak mudah diarahkan dan memiliki pandangan sendiri-sendiri.

“Saya heran kepada umat ini, ketika umat bertanya ilmu agama mereka bertanya kepada ulama. Akan tetapi ketika membicarakan politik umat ini justru seakan-akan mengarahkan ulama agar memihak salah satu calon. Padahal ulama lebih tahu dalam menentukan arah politik, meskipun yang terbaik dalam arah politik ulama saat ini adalah netral,” tukasnya. (kiblat.net).

SDIT Wihdatul Ummah Makassar Raih Juara Olimpiade Al-Qur’an Sesulawesi Selatan

(Makassar) wahdahjakarta.com-, Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Wihdatul Ummah Makassar yang dikelola oleh Yayasan Pesantren Wahdah Islamiyah (YPWI) kembali menorehkan prestasi membanggakan.

Dua murid sekolah yang berlokasi di Jl. Abdullah Dg. Sirua Kelurahan Masale Kecamatan Panakkukang Kota Makassar berhasil meraih juara pada even Olimpiade Al Qur’an II Se-Sulawesi Selatan yang diadakan oleh Sekolah Islam Al Fityan School Gowa.

Lomba ini diadakan mulai tanggal 16-17 November 2018 dan diikuti oleh siswa-siswa dari 112 sekolah mulai dari tingkat PAUD hingga SMA/MA.

SDIT Wihdatul Ummah yang dinahkodai Ustadz Muhamad Arif Malik, S.Ag mengirimkan 9 orang murid dan mengikuti 3 kategori lomba yaitu Musabaqah Tartil Qur’an (MTQ), Musabaqah Hifdzhil Qur’an (MHQ) dan Cerdas Cermat Qur’an (CCQ).

SDIT Wihdatul Ummah meraih 2 gelar; Fadhlan Uwais, murid kelas 3 A3 meraih juara I MHQ juz 30 dan Syaimah binti Rahmat Abdul Rahman, murid kelas 5B1 meraih juara harapan 2 MHQ juz 29 dan 30.

Menurut guru pendamping, ustadz Umar Nurung, S.Pd.I , prestasi yang diraih oleh kedua murid ini sangat membanggakan karena ini kali pertama mereka mengikuti even ini dan dengan persiapan yang seadanya.

MIUMI Gelar Kajian Spesial ‘Arah Politik Ulama’

Para Pengurus MIUMI Pusat pada kajian Spesial MIUMI ‘Arah Politik Ulama”, Selasa malam (20/11/2018)

(Jakarta) wahdahjakarta.com-, Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Pusat menggelar Kajian Spesial bertema “Arah Politik Ulama” yang diselenggarakan di Arrahman Qur’anic Learning (AQL) Islamic Center, Jakarta Selatan, Selasa malam (20/11/2018).

Sekretaris Jenderal (Sekjen) MIUMI Ustadz Bachtiar Nasir menjelaskan apa yang dimaksud dengan Arah Politik Ulama.

Hal itu disandarkan kepada Al-Qur’an Surat An-Nur ayat 55 yang artinya “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”

UBN, sapaannya, menerangkan, dalam ayat itu janji Allah bahwa Dia akan menjadikan berkuasa di muka bumi sebagaimana Allah menjadikan orang-orang terdahulu berkuasa jika beriman dan beramal shaleh.

Kemudian, Allah menegaskan akan meneguhkan agama yang telah diridhai-Nya. Artinya, papar UBN, akan dimenangkan secara kekuasaan tapi tujuannya bukan untuk menang-menangan, tetapi supaya menegakkan agama Allah.

“Bukan mentang-mentang berkuasa proyek dipegang semua. Tujuan kita bukan itu,” ujarnya.

Selanjutnya, Allah akan mengubah keadaan yang sebelumnya penuh ketakutan menjadi aman dan sentosa.

“Ini yang membuat para ulama tenang, tapi umat di bawah grasak-grusuk, apalagi buka WhatsApp rasanya kayak besok Indonesia mau kiamat. Saling menjelekkan calon sana dan sini,” terangnya.

Hanya saja, lanjut UBN, ketiga hal itu yakni kekuasaan (istikhlaf), keteguhan agama (tamkin), dan rasa damai sentosa akan tetap dimiliki dengan melakukan dua hal lain, yakni tetap menyembah Allah dan tiada mempersekutukan sesuatu apapun.

“Kalau ketiga faktor tadi hilang, maka kekuasaan hilang, beragama akan sulit, dan penuh ketakutan. Dan ini gara-gara sudah tidak menjalankan yang dua itu, mungkin tauhidnya kepada Allah mulai menurun, serta membiarkan kemusyrikan,” ungkapnya.

“Nah, Al-Qur’an sudah menjelaskan itu, dan inilah arahan ulama,” tutup UBN.

Turut hadir pada kesempatan itu pengurus MIUMI Pusat lainnya di antaranya Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin, Dr Ahmad Zain An-Najah, Dr Henri Shalahuddin, dan KH. Idrus Romli. (Sumber: Hidayatullah.com).