Ketua Umum PP Lidmi Serahkan Donasi kepada Ketua Lidmi Palu


(Palu) wahdahjakarta.com– Pada lawatannya ke Palu, Ketua Umum Pimpinan Pusat Lingkar Dakwah Mahasiswa Indonesia (PP Lidmi), Hamri Muin, menyerahkan donasi Nasional Lidmi Peduli kepada Ketua Pimpinan Daerah Lidmi Palu, Ahmad Muslimin.

Penyerahan donasi dilakukan di Posko Pengungsian binaan Lidmi Palu, di Lapangan Mister Kelurahan Tipo Kota Palu, Sabtu (24/11/2018).

Donasi berupa perlengkapan pembinaan Alquran anak-anak dan remaja, serta uang tunai yang akan digunakan untuk memfasilitasi pembinaan Lidmi Palu di titik-titik pengungsian.

Hamri Muin mengatakan, donasi ini adalah gelombang kedua yang digalang oleh Lembaga Dakwah Kampus (LDK) binaan setelah gelombang pertama disalurkan lebih awal di beberapa titik pengungsian, antara lain di Posko pengungsian Balaroa (Palu), Posko-posko pengungsian Kabupaten donggala dan Kabupaten Sigi.

“Kami kembali menginstruksikan kepada seluruh Pengurus dan Kader Lidmi se Indonesia untuk melakukan penggalangan dana gelombang ketiga, yang akan difokuskan pada dana pembinaan masyarakat yang telah dibuka oleh Lidmi Palu,” pungkasnya.

Ahmad Muslimin selaku Ketua Lidmi Palu menuturkan, PD Lidmi Palu telah menempatkan tim Lidmi Peduli di Posko Pengungsian untuk melakukan pembinaan kepada warga pasca Gempa.

Pembinaan yang dilakukan, lanjut Dia, berupa Pendidikan Alquran untuk anak-anak, remaja hingga orang tua.

“Insya Allah pembinaan akan dilanjutkan hingga Palu bangkit kembali,” ujarnya.

Donasi ini merupakan dana yang digalang oleh beberapa Pimpinan Daerah dan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) binaan Lidmi.

Selain menyerahkan donasi, dalam lawatan tersebut Ketua Umum PP Lidmi, Hamri Muin, juga mengisi materi di beberapa kegiatan di Universitas Tadulako, antara lain Kajian Spesial Studi Islam Intensif Fakultas Pertanian (Faperta), Temu Aktivis Dakwah Kampus di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), dan Perekruran kader dakwah Fakultas Teknik (FATEK). (*RH)

Silatnas Hidayatullah Resmi Ditutup, Seluruh Kader  Berkomitmen Jalankan Gerakan Nawafil Hidayatullah

(Balikpapan) wahdahjakarta.com – Silaturahmi Nasional (Silatnas) Hidayatullah yang dimulai sejak Kamis (22/11/2018) lalu di Pondok Pesantren Hidayatullah Induk, Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur, telah berakhir pada Ahad (25/11/2018) sore tadi.

Ketua Stering Commitee Kepanitiaan, Ustad Tasyrif Amin, menyebut seluruh rangkaian acara yang menghadirkan ribuan peserta yang merupakan kalangan dai dari sejumlah provinsi, telah berjalan sesuai dengan agenda perencanaan.

“Alhamdulillah, bapak Wakil Presiden RI, HM Jusuf Kalla, hadir membuka acara. Ustad Bachtiar Nasir, Profesor Din Syamsuddin, tokoh dari Turki, Qatar dan Rohingya, semuanya datang,” ujarnya di depan jamaah usai shalat Dluhur di Masjid Agung Ar Riyadh Hidayatullah.

Ustad Tasyrif pun menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh peserta, tamu dan undangan Silatnas, apabila ada sesuatu yang dirasa kurang berkenan dalam hal pelayanan selama pelaksanaan kegiatan berlangsung.

Pada sesi penutupan, jajaran pimpinan ormas Hidayatullah, masing-masing Ustad Abu Ala, Ustad Abdul Mannan, serta KH Abdurrahman Muhammad, secara bergantian naik ke atas mimbar menyampaikan tausiyah dan pesan bernilai penguatan dakwah kepada para dai Hidayatullah.

Kyai Abdurrahman mengatakan, penguatan dakwah itulah yang menjadi kenang-kenangan sekaligus bekal kepada para dai Hidayatullah untuk dibawa kembali ke medan dakwah tempat mereka membina dan membimbing ummat agar lebih mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Adapun Ketua Umum Hidayatullah, Ustad Nashirul Haq, tampil membacakan Piagam Gunung Tembak, sebuah komitmen ketaatan yang dicetuskan pada Silatnas Hidayatullah lima tahun lalu, serta Gerakan Nawafil Hidayatullah, yang lagi-lagi merupakan komitmen ketaatan juga, yang dirumuskan dan dihasilkan pada Silatnas tahun ini.

Poin-poin Gerakan Nawafil Hidayatullah yang dibacakan Ustad Nashirul itu diikrarkan juga oleh ribuan kader laki-laki dan perempuan yang memadati ruang masjid lantai 1 dan 2. Mereka semua berdiri dan mengikuti apa yang diucapkan Ustad Nashirul.

Di antara poin Gerakan Nawafil Hidayatullah itu, yakni setiap kader Hidayatullah wajib memakmurkan masjid,

membaca kita suci Alqur’an setiap hari sebanyak satu juz, rutin mendirikan shalat malam dan membaca wirid pagi dan petang.

“Mari kita membangun komitmen untuk bersama-sama mewujudkan komitmen itu,” tutur Ustad Nashirul.

Alumnus Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia, itu menyebutkan bahwa pelaksanaan atau realisasi dari semua poin yang menjadi komitmen seluruh kader Hidayatullah itu sebenarnya mudah, namun yang berat adalah konsistensi atau istiqomahnya.

Sehingga, Ustad Nashirul pun meminta kepada jamaah Hidayatullah untuk membiasakan dan menyiasati.

“Misalnya dalam membaca Alqur’an satu juz satu hari, bisa mempergunakan kesempatan sebelum dan sesudah shalat fardhu hingga mampu menyelesaikan satu juz sehari,” ucapnya. (Irfan/sym).

 Inilah Rahasia Militansi Da’i Hidayatullah

(Balikpapan) wahdahjakarta.com –  Ribuan kader ormas Islam Hidayatullah dari berbagai provinsi berkumpul di Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur, dalam rangka Silaturahmi Nasional.

Acara akbar itu dibuka secara resmi oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, HM Jusuf Kalla, Kamis (22/11/2018) siang.

Sejumlah  rangkaian kegiatan menyemarakkan ajang temu kangen para dai ormas yang selama 45 tahun telah berkhidmat kepada ummat serta bangsa dan negara itu.

Usai shalat Magrib secara berjamaah, Kamis (22/11/2018) lalu, Ustad Abdul Kadir Jaelani, yang merupakan salah seorang santri angkatan pertama di Hidayatullah, naik ke atas mimbar, dan kepada ribuan jamaah, ia mengaku sangat terharu atas kehadiran para kader.

“Kami orangtua mengenang 45 tahun lalu. Kalau diukur, yang pertama masuk di Gunung Tembak ini tidak lebih dari 20 orang. Inilah kemudian yang dibimbing dan digembleng oleh almarhum Ustad Abdullah Said (pendiri dan perintis Hidayatullah), dan setelah 45 tahun, menghasilkan seperti ini,” ujarnya.

Menurut Ustad Kadir, yang sempat terisak mengenang masa Hidayatullah pada 45 tahun lampau, yang membuat ormas ini tetap bertahan dan menghasilkan kader militan dan berkualitas sampai sekarang dikarenakan terpeliharanya ritme perjuangan.

“Sebagai orangtua, saya ingin berpesan kepada adek-adek sekalian, dipeliharalah niat baik ini. Kemudian menjaga semangat beribadah karena inilah sebenarnya modal yang dimiliki oleh tidak lebih dari 20 orang itu lalu Hidayatullah mampu merambah ke seluruh Indonesia,” tuturnya.

Ustad Kadir menambahkan, terkadang ia kerap menanyai para dai Hidayatullah sebelum diterjunkan berdakwah ke pelosok tentang kesanggupan mereka menghadapi tantangan dan rintangan di lapangan.

“Saya yang selalu sebagai stering commitee pernikahan, biasa saya bergurau dan menginterview para dai bersama istrinya. Pertanyaan saya; apakah kalian mau dikirim ke Papua? Namun kadang mereka berpikir dulu karena saat itu kondisi Papua yang  memang masih “gelap”. Tetapi sekarang luar biasa. Mereka sudah mendirikan kampus-kampus,” jelasnya.

Ustad Amin Mahmud, santri angkatan pertama Hidayatullah lainnya, juga memperoleh kesempatan berbicara di depan jamaah setelah Ustad Kadir selesai.

Ia mengungkapkan bahwa salah satu kunci sehingga para kader Hidayatullah mampu bertahan mensyiarkan dakwah Islamiyah karena rasa dekat dan kenal dengan Allah Ta’ala, terkhusus dalam mendirikan shalat malam (qiyamul lain) yang rutin.

Ustad Amin menyebutkan, itu juga yang pendiri Hidayatullah, mendiang Ustad Abdullah Said, tekankan kepadanya dan santri lainnya kala itu.

“Sampai-sampai di awal-awal belajar shalat malam, berdiri kami sempoyongan. Oleng ke kanan dan ke kiri. Bahkan ada santri, sudah almarhum, kadang dia tertidur dalam shalat malamnya. Tetapi pesan Ustad Abdullah Said, itu lebih mulia dibanding ketiduran di tempat tidur,” terang Ustad Amin sembari memberikan tips agar mudah terbangun qiyamul lain, di antaranya dengan memperbanyak wirid dan berdoa sebelum tidur.

Para kader memekikkan takbir mendengar wejangan yang penuh semangat dari seorang Ustad Amin Mahmud.

Laporan: Irfan/Islamic News Agency (INA)

Bentengi Aktivis Masjid dari Informasi Hoax, Forjim Gelar Training Jurnalistik Muslim

Peserta Training Jurnalistik Muslim, “One Masjid One Journalist” yang digelar Forjim, Sukoharjo, Ahad (25/11/2018)

(Sukoharjo) wahdahjakarta.com–Forum Jurnalis Muslim (Forjim) kembali menggelar pelatihan jurnalistik Muslim “One Masjid One Journalist (OMOJ)”.

Menurut Sekretaris Umum Forjim, Ibnu Syafaat, pelatihan OMOJ bertujuan untuk membekali para pemuda masjid terkait jurnalistik agar mampu memanfaatkan teknologi dan mengemas informasi yang bermanfaat untuk kepentingan dakwah Islam.

“Tentunya acara ini outputnya bukan menjadikan peserta sebagai jurnalis profesi. Tapi mengarah kan para peserta yang aktivis masjid ini mampu membentengi diri dari serbuan informasi hoax. Selain itu menjadi pengabar berita dari masjid-masjid,” ungkap Syafaat di Sukoharjo, Jawa Tengah, Ahad (25/11/2018) siang.

Dalam pelatihan tersebut, peserta diajarkan bagaimana pentingnya memanfaatkan media sebagai alat untuk berdakwah, cara teknik menulis berita dan wawancara serta bagaimana teknik membuat video jurnalistik dakwah melalui smartphone.

Pelatihan OMOJ merupakan program unggulan Forjim. Sebelumnya pelatih ini berlangsung di Lombok, Jakarta, Depok, Bandung, Tasikmalaya, dan Bogor. Alumni pelatihan OMOJ tersebar di berbagai kota di Indonesia.

“Alhamdulilah saat ini alumni OMOJ sudah berjumlah ratusan orang. Kita terus bersilaturahmi serta berdiskusi terkait jurnalistik melalui dunia maya,” jelas Syafaat. (Rilis Forjim).

Forjim Roadshow One Masjid One Journalist di Jawa Tengah

Pelatihan Jurnalitik “One masjid One Journalist” oleh Forum Jurnalis Muslim (Forjim) di Sukoharjo Jawa Tengah, Ahad (25/11/2018)

(SUKOHARJO) wahdahjakarta.com--Forum Jurnalis Muslim (Forjim) kembali menggelar roadshow pelatihan One Masjid One Journalist (OMOJ) angkatan ke-9 dan 10. Pelatihan digelar di Klaten dan Sukoharjo, Jawa Tengah.

Untuk di Klaten penyelenggaraan dipusatkan di Masjid Al Muqarrabin, Cawas, Sabtu (24/11/2018). Sementara di Sukoharjo penyelenggaraan di Islamic Center Bani Umar, Gayam,  Ahad (25/11/2018).

Sekretaris Umum Forjim, Ibnu Syafaat menjelaskan kegiatan  pelatihan OMOJ bertujuan untuk membekali para pemuda masjid terkait jurnalistik agar mampu memanfaatkan teknologi dan mengemas informasi yang bermanfaat untuk kepentingan dakwah Islam.

“Tentunya acara ini outputnya bukan menjadikan peserta sebagai jurnalis profesi. Tapi mengarah kan para peserta yang aktivis masjid ini mampu membentengi diri dari serbuan informasi hoax. Selain itu menjadi pengabar berita dari masjid-masjid,” ungkap Syafaat di Sukoharjo, Jawa Tengah, Ahad (25/11/2018) siang.

Dalam pelatihan tersebut, peserta diajarkan bagaimana pentingnya memanfaatkan media sebagai alat untuk berdakwah, cara teknik menulis berita dan wawancara serta bagaimana teknik membuat video jurnalistik dakwah melalui smartphone.

Acara pelatihan OMOJ ini diikuti antusias oleh peserta yang berasal dari Klaten, Solo dan sekitarnya. Setelah pelatihan ini peserta mendapat kursus jurnalistik jarak jauh dari Forjim melalui media grup WhatsApp.

“Alhamdulilah saat ini alumni OMOJ sudah berjumlah ratusan orang. Kita terus bersilaturahmi serta berdiskusi terkait jurnalistik melalui dunia maya,” jelas Syafaat.

Pelatihan OMOJ merupakan program unggulan Forjim. Sebelumnya pelatih ini berlangsung di Lombok, Jakarta, Depok, Bandung, Tasikmalaya, dan Bogor. (Rilis Forjim).

Torquato Cardili, Peroleh Hidayah Setelah Kaji Al-Qur’an

Torquato cardili

Salah satu di antara nama Al-Qur’an adalah al-Huda yang berarti “petunjuk”. Bagi Torquato Cardilli, nama tersebut menjadi bukti nyata atas hidayah Islam yang diperolehnya, dua dekade yang silam.

“Saya benar-benar meyakini kebenaran Islam setelah membaca Al-Quran secara rutin,” ungkap mantan duta besar Italia untuk Arab Saudi itu, seperti dikutip laman I Found Islam.

Cardilli lahir di Provinsi L’Aquila, Italia, pada 24 November 1942. Pria yang fasih berbahasa Arab itu merupakan lulusan Universitas Naples di bidang linguistik dan kebudayaan timur.

Dia mengawali kariernya di Kementerian Luar Negeri Italia pada 1967. Selanjutnya, ditugaskan sebagai diplomat Italia untuk Sudan, Suriah, Irak, Libya, Albania, dan Tanzania.

Seperti mayoritas penduduk di negeri asalnya, Cardilli lahir dan dibesarkan sebagai pemeluk Katolik. Agama itu terus ia anut hingga berpuluh-puluh tahun lamanya.

Namun, pada 15 November 2001 atau hanya berselang beberapa hari sebelum ulang tahunnya yang ke-59, Cardilli mengungkapkan keputusannya menjadi mualaf. Ketika itu, dia masih menjabat sebagai dubes Italia untuk Arab Saudi.

Cardilli secara resmi mengucapkan dua kalimat syahadat setelah melakukan penelitian tentang Islam selama bertahun-tahun. Yang lebih menarik lagi, keputusan itu ia buat bertepatan dengan malam 1 Ramadhan 1422 H. “Saya merasa sangat bahagia bisa menjadi bagian dari kaum Muslimin,” ucapnya.

Bisa dikatakan, keputusan Cardilli tersebut muncul pada waktu yang sensitif. Pasalnya, dua bulan sebelum itu, Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi menyebut peradaban Kristen Barat lebih unggul dari Islam.

Pernyataan semacam itu jelas-jelas menyakiti hati kaum Muslimin. Namun demikian, kabar beralihnya keyakinan Cardilli dari Katolik ke Islam ketika itu justru menjadi ‘tamparan’ bagi Berlusconi dan dunia Barat.

Dalam sebuah wawancara dengan Saudi Gazette, Cardilli mengatakan tujuan awalnya mempelajari bahasa Arab–ketika masih berstatus sebagai mahasiswa di Universitas Naples–adalah supaya bisa bekerja di bisnis perminyakan Arab.

Namun, takdir malah mengantarkannya menjadi diplomat. Dan, tanpa disangka-sangka ilmu yang dipelajarinya di kampus dulu justru sangat membantunya dalam memahami Alquran dan ajaran Islam.

Cardilli mengaku, merasakan kesucian dan keagungan Alquran yang kerap dibacanya ketika masih memeluk agama Katolik. “Setelah membaca Alquran berkali-kali, saya menyadari bahwa Islam adalah agama yang benar dan lurus. Alquran sangat menakjubkan dan tak ada yang mampu meragukannya,” ungkap bapak dua anak itu lagi.

Sebelum menjadi Muslim, Cardilli diketahui kerap mengikuti kelas-kelas kajian Islam yang diselenggarakan oleh The Batha Center, sebuah lembaga yang berfokus pada program pembinaan calon mualaf. “Dia (Cardilli) sering mengikuti kelas kajian Alquran dan studi mengenai kebudayaan Islam,” ujar Direktur The Batha Center, Nouh bin Nasser, kepada kantor berita Prancis, AFP.  (Sumber: Republika.co.id)

Ustadz Taufan Djafri: Al-Qur’an Inspirator Peradaban

Ustadz Muhammad Taufan Djafri pada seminar “Al-Qur’an Menjawab, Sains Membuktikan”, di Makassar, Ahasd (25/11/2018)

(Makassar) wahdahjakarta.com-, Al-Qur’an adalah inspirasi dalam melahirkan peradaban. Demikian dikatakan Ketua Departemen Kaderisasi Dewan Pimpinan Wahda Islamiyah (DPP WI) Ustadz Muhammad Taufan Djafri saat berbicara sebagi nara sumber Seminar Al-Qur’an, “Al-Qur’an Menjawab, Sains Membuktikan” Kampus Politeknik ATI Makassar, Ahad (25/11)

Setiap peradaban memiliki bekal dalam perjalanannya dan peradaban Islam memiliki bekal terbaik yakni yakni Al-Qur’an. Peradaban Islam telah ada di zaman Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

“Peradaban yang lahir di zaman Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, Tabi’in dan Asbaut Tabi’in. Peradaban Al-Qur’an dan Sunnah adalah landasan utamanya adalah aqidah”. Ungkapnya

Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab Makassar (STIBA Makassar) ini melanjutkan bahwa Manusia, Islam dan Al-Qur’an adalah inspirator peradaban itu ada.

“Al-Qur’an adalah inspirator dan motivator dalam melahirkan peradaban, tidak ada peradaban jika tidak ada manusia. Peradaban adalah hasil karya menusia berdasarkan hasil pemikirannya. Islam dan Al-Qur’an ada maka akan melahirkan peradaban”. Ucapnya dengan suara lantang

Peradaban Al-Qur’an akan merubah kehidupan manusia ketika telah masuk ke dalam hatinya dan manusia menyerahkan hidupnya untuk di atur oleh Al-Quran sebagai nafas peradaban.

“Hati ini adalah pemimpin peradaban dalam diri manusia terhadap akal dan pemikiran. Jika hati manusia rusak maka rusaklah manusia, jika manusia rusak maka rusaklah peradaban”. Ujarnya

Dai’ Wahdah Islamiyah ini juga  mengajak untuk kembali kepada Al-Qur’an dan Islam, memperkuat ruhiyah.

“Manusia hidup dengan dua ruh, pertama ruh risalah, kedua ruh badan atau jasad. Jika manusia hanya hidup dengan ruh jasad maka peradaban itu tidak akan di raih. Nanti akan di capai jika Allah meniupkan kepadanya ruh risalah. Mari kembali kepada Al-Qur’an dan Islam. Ruh Iman, ruh risalah dan ruh Al-Qur’an peradaban penuh ada, akhlak dan moral”. Pungkasnya. (Muhammad Akbar/Sym).

Penguatan Ukhuwwah Untuk NKRI yang Berkeadilan, Maju, dan Beradab

Kita yakin bahwa dengan dukungan dan kerja sama semua pihak, ukhuwwah Islamiyyah dan ukhuwwah wathaniyyah untuk kemajuan Negara Kesatuan Republik Indonesia akan dapat diwujudkan, sehingga cita-cita kita bersama mewujudkan Republik Indonesia yang berkeadilan, maju, dan beradab akan dapat direalisasikan.

Dewan Pertimbangan MUI KH. Didin Hafidhuddin pada pembukan Rakernas IV MUI di Raja Ampa Papua Barat, Kamis

Penguatan Ukhuwah Untuk NKRI yang Berkeadilan, Maju, dan Beradab

(Disalin dari artikel KH. Didin Hafidhuddin di Republika.co.id)

Majelis Ulama Indonesia (MUI) baru saja selesai melaksanakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) 2018 pada 22 hingga 24 November 2018 kemarin, bertempat di Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Tema yang diusung adalah “Memperteguh Ukhuwwah Islamiyyah dan Ukhuwwah Wathaniyyah untuk kemajuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)”.

Sungguh tema ini sangat penting untuk selalu kita bahas dan berusaha mengimplementasikannya dalam kehidupan keseharian kita karena hanya dengan ukhuwwah Islamiyyah dan ukhuwwah wathaniyyah akan melahirkan kekuatan untuk membangun bangsa dan negara yang kita cintai ini. Tanpa ukhuwah, tidak mungkin kita bisa membangun bangsa dan negara secara optimal dalam berbagai bidang kehidupan. Tanpa ukhuwah, yang terjadi adalah kelemahan dan pertentangan antara satu dan yang lainnya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS al-Anfal (8) ayat 46:

 “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS al-Anfal [8]: 46).

Juga firman-Nya dalam QS Ali Imran (3) ayat 103:

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapatkan petunjuk.”

Dalam Rapat Pleno Dewan Pertimbangan MUI Oktober 2015/Shafar 1436 H yang dihadiri, di samping para pengurus juga semua pimpinan pusat ormas-ormas Islam se-Indonesia, telah berhasil menyampaikan pesan penguatan ukhuwwah Islamiyyah dalam bentuk ethical code of conduct (kode etik) agar bisa dijadikan pedoman praktis bagi umat Islam secara keseluruhan.

Kita yakin bahwa dengan dukungan dan kerja sama semua pihak, ukhuwwah Islamiyyah dan ukhuwwah wathaniyyah untuk kemajuan Negara Kesatuan Republik Indonesia akan dapat diwujudkan, sehingga cita-cita kita bersama mewujudkan Republik Indonesia yang berkeadilan, maju, dan beradab akan dapat direalisasikan.

Apalagi, masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang memiliki rasa empati, simpati, dan rasa kesetiakawanan sosial yang tinggi. Bahkan, World Giving Indeks tahun 2018 telah menempatkan Indonesia sebagai negara paling dermawan di dunia, mengalahkan Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, dan Irlandia. Ini merupakan modal yang sangat besar dalam membangun bangsa dan negara sekarang maupun pada masa mendatang.

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa memberikan rahmat, karunia, dan pertolongan-Nya kepada kita semuanya dalam melaksanakan tugas kebangsaan sekaligus keumatan yang sangat mulia ini.Wallahua’lam bisshawab. (KH. Didin Hafidhuddin/Republika.co.id).

Temu Aktivis Dakwah se-Makassar, Ini Motivasi Pendiri INSISTS

Suasana kajian Spesial LIDMI “Aktivi Dakwah dan Tantangan Dakwah Kontemporer”, Makassar, Sabtu (24/11/2018)

(Makassar) wahdahjakarta.com Departemen Kajian Strategis Lingkar Dakwah Mahasiswa Indonesia (LIDMI) bersama dengan LDK se-Makassar menggelar kajian spesial bertema “Aktivis Dakwah dan Tantangan Dakwah Kontemporer” di Warkop 27 Jln. Sultan Alauddin Makassar, Sabtu (24/11/2018) malam.

Acara yang diikuti aktivis dakwah semakassar ini menghadirkan Wakil ketua Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) Ustadz Nirwan Syafrin Manurung, MA., MIRKH., Ph.D sebagai nara sumber.

Ustadz Nirwan yang juga pimpinan Pesantren Husnayain Sukabumi Jawa Barat ini mengawali pembicaraannya dengan penjelasan tentang  berbagai  tantangan dakwah  saat ini.

“Dalam segala bidang, ekonomi, politik, hukum kita di serang dari segala linik termasuk pemikiran. Kita fokus kepada perang pemikiran ini yang abstrak dan peranannya sangat besar”. Ungkapnya

Perkembangan dunia yang terus berubah dalam berbagai bidang keilmuan dan terus akan berkembang di masa yang datang. Maka seharusnya sosok pemudalah yang harus mengambil peran dalam perjuangan ini.

“Usia mudah penuh dengan prestasi sebagaimana Muh. Natsir, Ir. Soekarno, sebab usia muda memiliki potensi yang hebat dalam pikiran dan tenaga. Tantangan seorang pemuda adalah hedonisme, suka senang-senang, santai-santai, pesta pora dan yang lain”. Ujarnya

Pendiri INSISTS ini membeberkan tentang tantangan dakwah yang berbasis data dan riset sebagai penguat keilmuan bagi para aktivis dakwah.

“Dakwah berbasis data, contohnya ketika orang berbicara tentang intoleransi, kristenisasi. Berapa gereja yang di bakar, mereka punya data. Tapi kita tidak punya data berapa masjid yang dibakar. Membuat rencana, dengan kajian-kajian tentang tantangan dakwah kita”. Tuturnya

Cara pandang yang berubah akan merubah pandangan hidup seseorang terhadap suatu objek, perbuatan yang salah akan tetap di anggap benar dan baik begitu juga sebaliknya. Tantangan terbesar ummat Islam adalah cara pandang terhadap sesuatu sebagai contoh LGBT.

“Islam tantangannya adalah cara pandang hidup kita, sebagai contoh LGBT yang banyak mengatakan itu adalah baik karena merupakan hak bagi setiap manusia dan harus kita akui. Padahal LGBT adalah kriminalitas yang terorganisir”. Imbuhnya

Dalam suasana yang semangat dan motivasi yang tinggi para aktivis dakwah di berikan nasehat agar menjadi ahli dalam bidang kita masing-masing, memiliki spesifikasi yang jelas.

“Antum harus punya spesifikasi di bidang masing-masing dalam hal ekonomi, hukum, politik, sosiologi dan yang lain. Membuat planning dan peta-peta dalam perjuangan ini”. Ungkapnya

Dengan kondisi suara yang parau Ustadz Nirwan Syafrin terus bersemangat memotivasi para aktivis dakwah, teruslah berjuang dalam dakwah ini tanpa memikirkan hasil.

“Jika kita masih yakin dengan agama kita ini maka menjadi tugas kita bersama untuk memperjuangkannya baik sebagai guru, dosen, mahasiswa ustadz dan yang lain. Allah subhanahu wata’ala tidak mempertanyakan hasil. Namun, perjuangan dan usaha kita, ikhlas dan terus berusaha”. Ujarnya sambil menutup materinya.

Laporan: Muh. Akbar

Editor    : Almunawiy

Ngopi Bareng di Silatnas Hidayatullah, Fahri hamzah dan Fadli Zon Dihadiahi Kain Kafan

Suasana “Ngopi Bareng Kawan Lama” bersama Fahri Hamzah dan Fadli Zon di pelataran pesantren Hidayatullah, Balikpapan, Sabtu (24/11/2018)

(Balikpapan) wahdahjakarta.com – Ngopi Bareng Kawan Lama yang menghadirkan dua Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah dan Fadli Zon berlangsung meriah di pelataran Pondok Pesantren Hidayatullah Pusat, Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur, Sabtu (24/11/2018) malam tadi.

Rangkaian acara Silaturahmi Nasional (Silatnas) Hidayatullah yang menghadirkan dua Wakil Ketua DPR RI itu, dipandu wartawan senior Hidayatullah Dzirkrullah W Pramudya.  Dihadiri ribuan da’i hidayatullah dan dikemas dalam bentuk bincang santai tapi serius ditemani seduhan kopi, pisang rebus, dan jagung rebus.

Sebelum berbagi, Fahri melantunkan ayat-ayat kitab suci Alqur’an, sedangkan Fadli Zon membacakan puisi.

Mantan Pemimpin Redaksi Majalah Suara Hidayatullah, Hamim Thohari, yang memulai obrolan, membeberkan secara singkat perjalanan karir Fahri yang pernah menjadi wartawannya.

Fahri pun mengamini, dan menyebut, pertama kali mengenal media ormas Hidayatullah itu saat sempat mengenyam pendidikan di Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat, sebelum hijrah ke Jakarta.

“Itulah kenapa saya cerewat di Twitter karena pernah diajari menulis oleh Pak Hamim,” tutur Fahri.

Demikian juga Fadil Zon. Keterlibatannya di Majalah Suara Hidayatullah dan Tabloid IQRA dikarenakan ajakan dari Dzikrullah, yang merupakan sohibnya sejak di bangku sekolah menengah atas di Jakarta.

“Wawancara pertama saya dengan Lukman Harun (seorang tokoh Muhammadiyah saat itu) untuk Tabloid IQRA,” ucapnya.

Dalam kesempatan itu, Fahri dan Fadli bercerita banyak hal, di antaranya tentang kegiatan politik, masa perjodohan, hingga ide-ide mereka untuk bangsa ini.

Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon meneriman hadiah kain kafan dari pengurus DPP Hidayatullah, Hamim Tohari pada acara “Ngopi Bareng Kawan Lama” di arena Siltnas Hidayatullah, Balikpapan, Sabtu (24/11/2018)

Obrolan itu diselingi dengan pembagian buku karya Fadli Zon dan Fahri Hamzah serta foto bersama.

Di pengujung acara, Hamim Thohari memberikan hadiah kepada Fahri, Fadli dan Dzikrullah, berupa kain kafan.

“Ini akan mengingkatkan kalian bahwa di akhir dari tujuan hidup ini dalah kematian,” kata Hamim, yang disusul dengan pelukan hangat dengan ketiganya..

Lap: Irfan

Ed : Sym