Tv MUI Peroleh Apresiasi dari Menkominfo

(Jakarta) wahdahjakarta.com— Televisi Majelis Ulama Indonesia (TV-MUI) mendapat apresiasi positif dari Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, atas dedikasinya berdakwah melalui televisi sejak 2014.

Apresiasi tersebut disampaikan di sela-sela kunjungan Menteri Rudi ke Kantor Pusat Majelis Ulama Indonesia di Jl Proklamasi 51, Menteng, Jakarta Pusat.

Lebih lanjut, Menteri Rudi menyarankan dua hal yang berpengaruh untuk perkembangan televisi di era modern ini.

 “Televisi sekarang, khususnya TV MUI, harus terus melakukan peningkatan, terutama dalam dua hal yaitu layanan streaming dan pengayaan konten, “ katanya.

Dewasa ini, lanjutnya, TV cenderung berbasis streaming, karena di manapun pemirsa berada dapat mengakses informasi dari TV MUI. Selain menyediakan streaming juga harus mengembangkan konten dan subtansi materi sehingga dapat mengudara 24 jam.

Menanggapi hal itu, Wakil Sekjen Bidang Infokom, Buya Amirsyah Tambunan, menegaskan akan bertekad mengembangkannya TV MUI terutama dalam dua hal tersebut.

Untuk pengayaan materi, lanjut Amirysah, akan terus diproduksi materi seputar dakwah, pendidikan, dan seni budaya.

“TV MUI sesuai visi misinya untuk berkhidmat untuk umat dan bangsa akan berupaya mengembangkan layanan streaming dan pengayaan konten, “ tutupnya. (Ichwan/Din)

Reuni 212, Panitia: Jangan Bawa dan Pakai Atribut Partai Politik

Suasana Aksi 212 (2 Desember 2016)

(Jakarta) wahdahjakarta.com – Ketua Panitia Reuni 212 jilid 2, Ustadz Bernard Abdul Jabbar menampik isu adanya deklarasi dukungan terhadap pasangan calon presiden dan wakil presiden  tertentu pada reuni akbar mujahid 212 akan digelar 2 Desember mendatang.

Bernard menjelaskan, pihaknya juga telah melarang peserta aksi untuk membawa dan memakai atribut partai.

“Kami sudah tadi katakan, kita reuni bukan untuk dukung-mendukung salah satu capres dan cawapres,”ujar Bernard di Jakarta pada Rabu (28/11/2018) sore.

“Kita juga melarang mereka (peserta reuni) untuk membawa atribut-atribut partai tertentu,” imbuhnya.

Bernard menegaskan bahwa acara yang akan digelar di Monas akhir minggu ini adalah murni kegiatan keumatan yang diprakarsai oleh alumni 212. Dia menyebut, pihaknya tidak perlu deklarasi karena masyarakat sudah mengetahui arah politik 212.

“Walaupun ini adalah tahun politik tapi orang sudah tahu bagaimana gerakan politik 212 ini menuju ke mana. Pasti orang sudah tahu itu,” kata Bernard.

“Makanya kita nggak perlu lagi untuk deklarasi untuk mendukung capres walaupun calon-calon ini kita undang semua InsyaAllah,” pungkasnya.

Statement senada juga disampaikan penanggung jawab acara Reuni Akbar  Mujahid 212, Slamet Maarif yang menyatakan, acara yang akan diselenggarakan di Monumen Nasional (Monas) pada 2 Desember mendatang bukanlah ajang politik praktis atau kampanye paslon tertentu.

“Acara ini murni ajang silaturahim yang dihadiri oleh seluruh elemen umat Islam dan masyarakat Indonesia baik di dalam maupun luar negeri,” kata Slamet dalam konferensi pers Gedung Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Rabu (28/11/2018).

Slamet menyebut komitmen Reuni 212 bukan ajang politik praktis tercermin dalam imbauan kepada masyarakat. Peserta, diminta tidak membawa atau memakai atribut partai politik.

Panitia juga telah berkoordinasi dengan pihak keamanan untuk mewaspadai hal-hal yang tidak dikehendaki.

“Hari ini (Rabu) panitia akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian di Mabes Polri untuk mengamankan acara. Ini juga dilakukan panitia untuk menindaklanjuti adanya pihak yang melakukan upaya penggembosan dengan membatalkan 26 PO bus yang telah dibayar lunas dari salah satu daerah”, kata SC Reuni 212 Ustadz Al-Khathath di Gedung Dewan Dakwah, Matraman, Jakarta, Rabu (28/11/2018).

Acara akan dimulai dari pkl 03.00 sd 12.00 dengan ragkaian antara lain sholat subuh berjamaah, dan taushiyyah dari para ulama.

Bebas Bersyarat, Jonru Ginting Tulis Buku Pengalaman Selama di Rutan

Jonru Ginting (kiri berpeci) bersama salah satu penguasa hukumnya di Balai Pemasyarakatan Jakarta Utara

(Jakarta) wahdahjakarta.com-– Jon Riah Ukur atau Jonru Ginting resmi bebas dari tahanan pada Jumat (23/11/2018) pekan lalu. Ia bebas karena telah menjalani dua pertiga masa hukumannya dan bebas bersyarat.

Bagaimana perasaan aktivis sosmed ini setelah menghirup udara bebas? Dihubungi melalui telepon selulernya, Kamis (29/11/2018) Jonru mengatakan yang paling utama dalam episode kehidupannya di penjara adalah dukungan keluarga.

“Bagi setiap narapidana, dukungan keluarga adalah hal yang paling mereka butuhkan. Sebab setiap napi dalam keadaan tak berdaya. Tanpa dukungan keluarga, hidup mereka di dalam penjara akan sangat susah,” katanya.

Jonru bersyukur memiliki keluarga yang memberikan dukungan penuh terhadapnya.

“Alhamdulillah saya sangat bersyukur karena dukungan keluarga terhadap saya selama di rutan sangatlah besar,” imbuhnya.

Selain dukungan penuh keluarga, Jonru mengatakan pada lapis berikutnya adalah dukungan tim kuasa hukum. Ia sangat berterima kasih didampingi oleh tim kuasa hukum yang sangat membantunya. “ Selain keluarga, dukungan tim lawyer pun sangat membantu hampir semua urusan saya.”

Kemudian Jonru menunjukan salah satu foto saat pertama kali keluar dari penjara. “Ini foto waktu saya singgah di kantor Balai Pemasyarakatan Jakarta Timur Utara sebelum pulang ke rumah. Ini bareng Pak Burhan, salah satu lawyer saya.”

Karena dua hal ini, setelah bebas dari penjara, Jonru bertekad untuk membalas budi terhadap keluarga dan tim kuasa hukumnya. “Saya turuti nasehat mereka. Saya tidak ingin perjuangan mereka selama ini menjadi sia-sia akibat saya berbuat ceroboh,” jelasnya.

Ditanyakan apa aktivitasnya saat ini, Jonru mengatakan sedang lebih banyak membaca buku dan melanjutkan aktivitas menulisnya.

“Saya sedang menulis buku pengalaman saya selama di rutan,” pungkasnya.

Pakar Hukum: Mengibarkan Bendera Kalimat Tauhid Tidak Melanggar Hukum

(Surabaya) wahdahjakarta.com– Gerakan Umat Islam Bersatu (GUIB) yang merupakan salah satu organisasi di bawah naungan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur (Jatim) menggelar seminar Bendera Tauhid dalam Lintasan Sejarah, Perspektif Sirah dan Ketatanegaraan Indonesia”, di Surabaya, Jawa Timur, Rabu  (28/11/2018).

Salah satu nara sumber seminar Profesor Dr Sateki, SH, M Hum mengatakan, sejak peristiwa pembakaran ‘bendera tauhid’ di Garut, Jawa Barat, umat Islam “ketakutan” mengibarkan bendera tauhid. Padahal pengibaran bendera tauhid itu tidak melanggar hukum. Dengan kata lain dibolehkan.

Bendera kalimat tauhid, lanjut Sateki guru besar sosiologi hukum dan filsafat Pancasila dari Universitas Diponegoro Semarang ini, tidak identik dengan organisasi tertentu, misalnya HTI. “HTI, saya baca di anggaran dasar dan juga penjelasan jubirnya, tak punya bendera,” katanya.

Kata Suteki, tak ada organisasi yang bisa mengklaim bendera tauhid adalah benderanya. “Bendera tauhid milik umat Islam keseluruhan, karena itu semua umat Islam berhak menggunakan. Dan itu dijamin oleh undang-undang,” katanya.

Suteki menjelaskan, fungsi bendera tauhid itu sangat penting. Ia menjadi lambang persatuan umat Islam. “Tak hanya saat perang, tapi juga saat damai,” katanya.

Pelecehan terhadap bendera tauhid, misalnya dengan membakar, menurut Suteki, bisa dipidanakan dengan pasal 156 KUHP dengan ancaman hukuman 4 tahun.

Masalahnya, pada kasus di Garut, pelakunya umat Islam sedangkan yang tersinggung juga umat Islam.

“Di sini kita harus hati-hati, jangan sampai kita diadu domba,” katanya mengingatkan.

Seminar dibuka oleh Kapolda Jawa Timur Inspektur Jenderal Polisi Lucky Hermawan.

(Sumber: Hidayatullah.com)

Mengagumkan, Pemuda Ini Tinggalkan Pekerjaannya Demi Dakwah

Taufik Hidayat (25) Konsultan Enggineering yang banting setir jadi Da’i. Kini sedang menimba ilmu pada program Tadribud Du’at (Pelatihan Da’i) di Pusdiklat Da’i DPP Wahdah Islamiyah Makassar

(Makassar) wahdahjakarta.com – Ketika dakwah telah merasuk dalam jiwa seorang Muslim dan diyakini sebagai pekerjaan paling mulia maka seseorang akan menghibahkan seluruh tenaga dan pikiran untuknya itu.  boleh jadi, kecintaannya terhadap dakwah akan membuatnya melakukan apa saja demi Islam. Seperti  yang dilakukan oleh Muhammad Taufik Hidayat.

Pemuda berusia 25 tahun asal Bintuni Papua ini rela meninggalkan pekerjaannya sebagai konsutan  pada sebuah perusahaan di Papua demi dakwah.

Taufik merupakan salah satu calon dai yang sedang  belajar di program Sekolah Dai (Tadrib ad Du’at) Wahdah Islamiyah di Makassar.  Sebelumnya selama tiga tahun, ia bekerja sebagai konsultan enggineering di sebuah perusahaan besar di Papua.

Seiring berjalannya waktu, saat melihat kondisi masyarakat Muslim Papua yang membutuhkan da’i, jebolan Teknik sipil ini merasa terpanggil untuk ikut andil dalam membenahi semua kondisi tersebut.

“Saya dengar di Makassar ada program sekolah dai yang di inisiasi oleh Wahdah. Saya pikir inilah kesempatan saya untuk mewujudkan impian saya,” ujar Taufik, lewat pesan singkat, Kamis (29/11/2018).

Ia menjelaskan, hampir semua masjid di daerahnya jarang tersentuh oleh dakwah-dakwah Islam.

“Palingan Jumatan saja kami disuguhi dengan tausyiah dan siraman kalbu,” tambahnya.

Pria keturunan Papua-Bima ini bertekad untuk menjadi dai. Selepas setahun belajar dalam program tersebut, ia akan kembai ke Papua.

“Insya Allah, saya tetap akan fokus berdakwah di tanah kelahiran saya,” imbuhnya.

Masyarakat Papua, terutama bagi yang muslim, kata Taufik seringkali salah jalan. Ia menggambarkan, bahwa tidak sedikit di antara mereka yang berbaur dengan warga non muslim, menyebabkan pengetahuan keislaman mereka semakin berkurang. Termasuk masih belum bisa membedakan mana yang halal dan mana yang haram.

Bulan tiga tahun 2018 lalu ia keluar dari perusahaannya tersebut. Meski di akuinya, jabatan dan gaji di tempat tersebut cukup menjanjikan.

“Semuanya karena dakwah. Dan tetap karena dakwah,” pungkasnya.

Suami Mengancam Cerai dan Menyuruh Istri Melakukan Perbuatan Haram, Apa Sikap Istri?

Suami Mengancam Cerai dan Menyuruh Istri Melakukan Perbuatan Haram, Apa Sikap Istri?

“Tidak ada ketaatan kepada makhluq jika mengandung maksiat kepada Khaliq (Pencita)”

Suami Mengancam Cerai dan Menyuruh Istri Melakukan Perbuatan Haram, Apa Sikap Istri?

Pertanyaan

Apa yang dilakukan seorang istri ketika suaminya mengancam menceraikannya kalau dia tidak melakukan perkara yang haram?

Jawaban

Bismillah,

Istri wajib taat dan patuh pada suami. Namun ketaatan yang dimaksud adalah dalam urusan kebaikan, ketaatan atau hal-hal yang boleh dan tidak melanggar syariat.

Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam berbuat kemaksiatan kepada pencipta (Allah). sebagaimana sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam:

  إنما الطاعة في المعروف

Sesungguhnya ketaatan itu dalam kebaikan.”

Bukan merupakan suatu kebaikan kalau melakukan sesuatu yang haram. Bahkan ini termasuk suatu kemungkaran. Bagi seorang istri kalau diancam suaminya melakukan sesuatu yang haram. Kalau dia tidak melakukan akan diceraikannya. Hendaknya dia memberi nasehat dengan menakut-nakuti serta menjelaskan bahwa hal ini diharamkan dan tidak diperbolehkan disertai dengan penjelasan dalil akan hal itu. Penanya tidak merinci sesuatu yang haram ini, apa itu dan sejauh mana derajat keharamannya. Yang terbaik adalah menjelaskan apa itu yang diharamkan agar jawabannya lebih terang. Akan tetapi asalnya hal itu tidak boleh dilakukan dan tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam berbuat kemaksiatan kepada Pencipta (Allah).

Hendaknya bagi wanita ini menolak melakukan perbuatan yang haram. Karena ketaatan kepada Allah itu didahulukan terhadap ketaatan kepada suami. Hendaknya dia bersungguh-sungguh dan mengharap (pahala). Kembali kepada Allah Azza wa jallah. Memperbanyak berdoa dan merendah (kepada Allah) semoga Allah memberikan petunjuk kepada suaminya. Dan memalingkan dari perbuatan semacam ini. Karena doa adalah senjata yang agung. Allah Azza Wajallah tidak akan mengecewakan orang yang meminta ketika dia meminta.

Begitu juga kalau (istri) memungkinkan beli kitab atau kaset, meminta setelah Allah kepada salah satu kerabatnya atau dari pencari ilmu di kotanya. Atau imam masjid dan semisalnya untuk menasehati suaminya, memberi arahan dan menakut-nakuti kepada Allah serta menganjurkan (kebaikan). Bahwa orang yang meninggalkan sesuatu karena Allah, akan diganti kebaikan lebih baik lagi oleh Allah. (Sumber: Islamqa.info.id).

Reuni 212 Bukan Ajang Politik Praktis dan Kampanye Paslon

Kawasan Monas tampak bersih kembali setelah aksi 212 tahun 2016 lalu, Photo: Muslimtiday.net

(Jakarta) wahdahjakrta.com – Penanggung jawab Acara Reuni Akbar  Mujahid 212, Slamet Maarif menyatkan, acara yang akan diselenggarakan di Monumen Nasional (Monas) pada 2 Desember mendatang bukanlah ajang politik praktis atau kampanye paslon tertentu.

Slamet menuturkan tanggal 2 Desember telah menjadi momentum hari persatuan dan persaudaraan kaum muslimin di Indonesia. Untuk itu, reuni digelar untuk menguatkan ghirah serta ukhuwah islamiyah dalam bingkai Bela Tauhid dan Bela NKRI.

“Acara ini murni ajang silaturahim yang dihadiri oleh seluruh elemen umat Islam dan masyarakat Indonesia baik di dalam maupun luar negeri. Bahkan tokoh lintas agama pun akan ikut hadir dalam Reuni Mujahid 212,” kata Slamet dalam konferensi pers Gedung Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Rabu (28/11/2018).

Slamet menyebut komitmen Renui 212 bukan ajang politik praktis tercermin dalam imbauan kepada masyarakat. Peserta, diminta tidak membawa atau memakai atribut partai politik.

“Cukuplah pakaian putih-putih, dengan atribut tauhid baik topi, kaos, bendera, dan lainnya,” imbuhnya.

Slamet menambahkan pihaknya telah berkoordinasi dengan laskar ormas Islam untuk keperluan pengamanan. Dia menegaskan jika nantinya ditemukan ada peserta reuni yang membawa atribut politik, maka akan mendapat teguran.

Ustaz Slamet juga mengingatkan agar menjaga persatuan, ketertiban, kedamaian, kebersihan dan tetap semangat saat Reuni Mujahid 212. “Silahkan datang langsung ke Kawasan Monas pada Ahad 2 Desember 2018, mulai Jam 03.00-12.00, kita akan tahajud bersama, subuh berjamaah, dzikir, istighosah kubro, mendengarkan tausiah agama,” ujarnya.

Ia menambahkan, saat Reuni Mujahid 212 juga akan melakukan selebrasi bendera tauhid warna warni dan bendera merah putih. Selain itu akan ada penghargaan untuk generasi muda prestatif tauhid milenia award 212, nasyid, hadroh, drumband dan rampak perkusi. Semua rangkaian acara berlangsung di Monas.

“Ayo jadilah satu diantara jutaan pengibar bendera tauhid, jadilah mujahid dari jutaan mujahid pembela kalimat tauhid, jadilah bagian dari peristiwa sejarah Bangsa Indonesia,” ujarnya.

Sumber: Kiblat.net|Republika.co.id