Lima Kiat Agar Iman Selalu Fit, Jangan Remehkan Kiat Ke-3

Iman adalah sumber kekuatan seorang Muslim. Kalau iman kuat maka seorang Muslim akan kuat. Sebaliknya jika iman lemah maka ia pun akan lemah. Karena itu merawat iman adalah agenda harian seorang Muslim. Seorang Muslim tidak melewatkan hari-harinya kecuali di sana ada aktifitas merawat iman.

Pembaca budiman,

Berikut ini beberapa kiat bagaimana agar iman kita selalu fit

Pertama, Selalu Menyimak al-Qur’an

Al-Qur’an adalah penerang kegelapan bahkan obat bagi semua penyakit. Dengan menyimak bacaannya iman akan kuat dan selalu dalam keadaan fit. Dan inilah yang dilakukan oleh Rasulullah. Beliau menyimak al-Qur’an dan membacanya berulang kali, tatkala beliau sedang shalat malam. Sehingga pada suatu malam ketika shalat, beliau pernah mengulang-ulang satu ayat saja, dan tidak beralih dari ayat tersebut sampai masuk waktu fajar. Yaitu firman Allah:

Jika Engkau menyiksa mereka, maka sungguh mereka adalah hamba-hambaMu. Dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sungguh Engkau Maha Perkasa lagi maha Bijaksana”.  (terj. Qs. Al-Maidah: 188)

Para shahabat beliau juga seperti itu. Mereka membaca, menyimak dan merenungkan bacaan al-Qur’an sampai mereka menangis tersedu-sedu. Al-Imam Ibnu Katsir menyebutkan sebuah riwayat dalam kitab tafsirnya, bahwa Abu Bakar as-Shiddiq adalah orang yang lembut, belas kasih dan hatinya mudah tersentuh jika mengimami jamaah shalat. Bisa dipastikan khalifah Rasulullah ini menangis bila ia berdiri menjadi imam. Begitu pula Umar bin Khatthab. Bahkan shahabat yang bergelar al-Faruq ini pernah sakit beberapa waktu lamanya karena firman Allah, “Sesungguhnya adzab Rabbmu pasti terjadi, tak seorang pun yang dapat menolaknya” .

Kedua, Merenungkan Keagungan Allah ‘Azza waJalla

Banyak ayat dalam al-Qur’an begitu juga hadits-hadit Rasululah tentang keagungan Allah. Jika seorang muslim memperhatikan nas-nas tersebut, maka tentu hatinya akan bergetar dan jiwanya akan tunduk dan khusyu’ pada Dzat yang Maha Agung.

Ketika Nabi Musa meminta pada Allah agar ia bisa melihatNya. Ia berkata kepada Musa melalui firmanNya:

Kamu sekali-kali tidak akan bisa melihatku, tapi lihatlah gunung itu. Jika ia tetap di tempatnya maka kamu dapat melihatku. Tatkala Allah menampakkan dirinya pada gunung tersebut maka hancurlah gunung itu dan Musa pun jatuh pingsan.” (Terj. Qs. Al-A’raf: 143)

Saat menafsirkan hadits ini Rasulullah bersabda, sambil memberi isyarat dengan tangan beliau dan berkata, “Seperti ini” sambil meletakkan ujung ibu jarinya pada sendi jari kelingkingnya yang atas lalu beliau berkata, “lalu gunung itu pun tenggelam”. Maksudnya, gunung itu tidak tampak lagi kecuali seukuran yang diisyaratkan oleh beliau.

Dalam hadits yang lain Rasulullah bersabda, “Allah menggenggam bumi pada hari kiamat dan melipat langit dengan tangan kananNya lalu berfirman, Aku adalah raja, mana raja-raja bumi ” (HR. Bukhari).

Nash-nash Al-Qur’an dan hadits tentang masalah ini sangat banyak. Tujuannya membangkitkan perasaaan agung akan kekuasaan Allah dan dengan itu hati menjadi lembut. Jika hati lembut maka ia mudah menerima hidayah dari Allah. Dengan itu pula ia peka dengan berbagaio kemungkaran yang terjadi di sekitarnya. Dengan begitu ia bersemangat melakukan ketaatan dan sedih dengan berbagai penyimpangan-penyimpangan.

Ketiga, Mempelajar Ilmu Syar’i

Kiat yang tidak kalah pentingnya adalah ngaji, atau belajar ilmu Agama atau Ilmu Syar’i. Ilmu syar’i diinginkan di sini adalah ilmu yang membangkitkan rasa takut pada Allah dan menambah bobot iman sebagaimana firman Allah:

“Sesungguhnya yang takut pada Allah di antara hamba-hambaNya hanyalah orang-orang yang berilmu” (Qs. Faathir: 28).

Dalam kaitannya dengan iman ini, orang yang mengetahui tidak bisa disamakan dengan orang yang tidak mengetahui. Bagaimana mungkin orang yang mengetahui perkara-perkara syari’at, makna syahadat disamakan dengan orang-orang yang tidak mengetahuinya? Bagaimana mungkin menyamakan orang yang mengetahui kejadian sesudah mati, alam barzakh, padang mahsyar, siksa neraka, nikmat surga, hikmah di balik syari’at, hal-hal yang halal dan haram, dipersamakan dengan orang-orang yang tidak mengetahui semua itu?

Samakah orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (Qs.az-Zumar: 9).

Dengan demikian jelas ilmu syar’i di antara hal yang dapat menambah dan menguatkan iman. Betapa tidak dengan inilah  seorang Muslim diantar mengenal Allah dengan sebenar-benar pengenalan. Dari sinilah lahir rasa takut, harap dan cinta pada Allah.

Keempat, Menggiatkan Berbagai Bentuk Ibadah

Di antara rahmat Allah pada kita semua adalah Dia mensyari’atkan pada kita berbagai macam ibadah. Di antaranya ada ibadah fisik seperti shalat, ada ibadah lisan seperti dzikirdan do’a, apa ibadah hati seperti tawakkal, redha, khauf, dan raja’ bahkan ada ibadah yang memadukan ketiga-tiganya seperti ibadah haji. Ditinjau dari sifatnya ada ibadah yang wajib, sunnah dan anjuran. Yang wajib pun dibagi lagi dalam beberapa jenis; wajib kifayah dan wajib ’aini.

Begitupun yang sunnah. Shalat misalnya, ada yang rawatib sebanyak dua belas rakaat sebelum dan sesudah shalat fardhu. Ada yang lebih sedikit bobotnya seperti empat rakaat sebelum Ashar dan dua rakaat sebelum shubuh. Ada juga shalat yang lebih tinggi bobotnya dari itu yaitu shalat lail. Dari ragam pelaksanaannya, ada yang dikerjakan dengan dua-dua rakaat atau empat-empat rakaat setelah itu ditutup dengan witir; satu, tiga, lima, tujuh, atau sembilan rakaat dengan satu tasyahud.

Dengan begitu, setiap orang bisa melihat kondisinya. Jika kondisi iman lagi fit maka ia bisa mengerjakan banyak macam ibadah beserta berbagai ragam pelaksanaannya. Jika ia merasa dirinya lagi futur (letih dan tidak semangat) maka ia bisa memilih jenis ibadah yang ringan. Ini semua ada hikmah Allah di balik semua itu agar kita senantiasa dalam kondisi ibadah dan ibadah itu sesederhana bagaimana pun pasti akan memberi pengaruh pada iman.

Kelima, Banyak Mengingat Mati

Kematian adalah pintu perpindahan alam yang pasti dilalui oleh setiap manusia. Setiap kita tidak ada yang tahu bagaimana kelanjutan nasibnya di alam yang baru itu. Di sana ada huru hara, ada fitnah, ada pertanyaan yang dihadapkan kepada setiap kita. Itulah sebabnya Rasulullah bersabda, ”Perbanyaklah mengingat penghalau kelezatan, yaitu kematian”.(HSR. Tirmidzi)

Mengingat mati bisa mendorong seseorang menghindari berbagai kedurhakaan. Tidaklah seseorang mengingat mati melainkan akan membuat hatinya semakin lapang. Begitu pula dengan mengingat mati hati seseorang akan menjadi lembut. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam menganjurkan kita untuk berziarah kuburan setelah sebelumnya beliau melarangnya. Beliau bersabada,

 ”Dulu saya melarang kalian ziarah kuburan, adapun sekarang ziarahilah karena itu bisa melembutkan hati, membuat mata menangis, mengingatkan akhirat… ”(HR. Hakim).

Dalam ziarah kubur, seorang muslim hendaknya menghadirkan kesadaran, mengambil pejajaran dari orang yang telah terbujur kaku dalam liang lahad itu. Hendaknya ia mengamati keadaan si mayit yang telah meninggalkan teman-teman sejawatnya, keluarganya tercinta, harta benda yang ditumpuknya. Saat ini teman sejawat dan kelaurga tercinta tak satu pun yang dapat menolongnya. Harta yang banyak tidak berguna lagi, bahkan mungkin menjadi rebutan ahli waris. Tidak ada yang bisa menyelamatkan simayit kecuali dirinya sendiri.

Begitulah seterusnya, semua perenungan itu akan membawa seorang muslim pada tiga faidah; penyegaran taubat, kelembutan hati, dan semangat menjalankan ibadah.sedangkan mereka yang melupakan kematian ia akan menunda-nunda taubat, tidak pernah puas dengan dunia, dan malas ibadah.

Masih banyak lagi sarana yang bisa menambah kekuatan iman kita, namun lima hal ini mendesak untuk dilakukan. Semuanya agar iman agar iman selalu fit. Wallahu ta’ala a’lam.

Sumber: wahdah.or.id

Mengintip  Dinamika  Dakwah Islamiyah di Pulau Buru

Suasana belajar Islam di salah satu Masjid di Pulau Buru dibawah bimbingan Da’i Wahdah Islamiyah

(Pulau Buru) wahdahjakarta.com — Daerah-daerah Indonesia masih banyak yang terpinggirkan. Tak hanya dari sisi perekonomian, akses dan pangan yang terkadang belum mencukupi, dakwah Islam di wilayah ini kadang-kadang terluput dari pantauan masyarakat luar. Meski sejak lahir mereka telah beragama Islam, namun kurangnya pasokan dai ke tempat mereka menjadi problem tersendiri. Anak-anak hanya sebatas bisa mengeja alif ba ta hingga ya, namun pengucapannya masih kurang fasih. Belum lagi hukum bacaan lainnya yang juga luput diajarkan karena dangkalnya pengetahuan para orangtua mereka.

Kondisi Masjid yang jauh dari kata ramai. Pengelolaan serta manajemen keislaman yang perlu di pupuk lebih baik lagi. Hingga tak jarang, di wilayah tertentu, ternyata masih belum ada Masjid yang terbangun.

Adalah ustadz Ariansyah Nur, dai Wahdah Islamiyah yang mendedikasikan hidupnya untuk berdakwah di Pulau Buru, Kepulauan Maluku sejak 2017 silam. Pulau Buru merupakan pulau terbesar ketiga setelah Pulau Halmahera di Maluku Utara dan dan Pulau Seram di Maluku Tengah yang memiliki corak topografi berupa perbukitan dan pegunungan. Wilayah yang cukup menantang untuk para dai yang berasal dari luar Maluku.

Ada beberapa kelompok etnis yang menetap di Buru: etnis asli, yakni Buru (baik di pesisir maupun di pedalaman); dan etnis pendatang, yakni Ambon, Maluku Tenggara (terutama Kei), Ambalau, Kep. Sula (terutama Sanana), Buton, Bugis, dan Jawa (terutama di daerah pemukiman transmigrasi). Tidak diketahui data mengenai komposisi penduduk berdasarkan etnis.

Setiap hari dai asal Makassar ini mengajari anak-anak al-Qur’an. Memahamkan para orangtua dengan dakwah secara pendekatan person to person.

Ustadz ariansyah, Da’i Wahdah Islamiyah di Pulau Buru

“Kita ajak mereka kembali kepada ajaran Islam yang murni. Perkuat tauhid mereka. Karena pengamalan animisme dan dinamisme disini masih sangat kental,” ujarnya lewat pesan singkat kepada LAZISWahdah.com, Selasa (27/11).

Dakwah di daerah terpencil, apalagi minoritas membutuhkan strategi tersendiri. Bagi ustadz Ariansyah, prinsip terpenting dalam berdakwah di pelosok negeri ialah memperkenalkan agama yang membuat hidup masyarakat lebih mudah dan nyaman. Di kantong-kantong kemiskinan, para dai tak cukup hanya mendakwahkan teori-teori mengenai Islam. Pemberdayaan ekonomi, akses pendidikan, dan pelayanan kesehatan menjadi satu hal penting yang perlu dilakukan.

“Mereka sebetulnya punya ghiroh untuk belajar. Akan tetapi, jumlah dai yang belum maksimal kadang menjadi tantangan tersendiri bagi kami. Tapi Insya Allah, sembari menunggu pasokan dai dari Makassar, Wahdah Islamiyah akan tetap berjuang di tempat ini. Ada tidaknya, tetap akan jalan,” tegasnya.

Melihat kebutuhan tersebut, Syahruddin, Direktur LAZIS Wahdah Islamiyah menilai, pelatihan dai tak cukup hanya membekali mereka dengan kemampuan ceramah. Para dai perlu dilatih agar memiliki keterampilan dan keahlian yang akan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat daerah terpencil. Mereka perlu memahami psikologi dan sosiologi masyarakat sekitar. Penguasaan bahasa daerah juga menjadi bekal yang sangat diperlukan. Selain itu, kemampuan yang ada perlu ditambah dengan keahlian tertentu, misal pengobatan, totok, urut, dan sebagainya. Keahlian dan keterampilan ini sangat diperlukan untuk memberikan akses kesehatan kepada masyarakat.

“mendekati masyarakat tidak melulu soal dalil-dalil. Kita perlu perencanaan yang baik. Program peningkatan ekonomi juga perlu di gagas,” ujar dia.

Sahabat, mungkin kita pernah berpikir. Apa jadinya jika tak ada dai yang memiliki tekad baja seperti ustadz Ariansyah. Di beberapa tempat, ada dai yang merelakan uang sakunya untuk membiayai dakwahnya. Belum lagi bagi mereka yang telah berkeluarga. Keringat telah terkucur deras, kantong kian menipis, dan amanah dakwah kian bertambah. Jangan biarkan dai pelosok negeri berpikir sendiri. Ayo bantu mereka melalui program “Tebar Dai Nusantara” Wahdah Islamiyah.

Donasi program tebar Dai bisa disalurkan melalui Bank Syariah Mandiri (451) nomor rekening : 497 900 9009 a.n LAZIS Wahdah Sedekah dan konfirmasi transfer ke 085315900900. Mari bentangkan kebaikan membantu sesama bersama LAZIS Wahdah, melayani dan memberdayakan. []

MUI: Klaim Kebenaran dalam Kacamata Ideologi Bukan Radikalisme

Wakil Sekretaris Komisi Ukhuwah MUI Pusat, Dr. Wido Supraha

(Jakarta) wahdahjakarta.com-, Wakil Sekretaris Komisi Ukhuwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Dr Wido Supraha, menyatakan, klaim kebenaran dalam perspektif ideologi tidak bisa disebut sebagai radikalisasi atau radikalisme.

Hal itu disampaikan Doktor Wido menyoal hasil penelitian yang menyebut 41 masjid di lingkungan kantor pemerintah terindikasi radikal.

Dosen Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor ini memandang, harus lembaga yang otoritatif  untuk mengeluarkan definisi radikalisme.

Menurutnya, istilah radikal dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah istilah yang positif yakni berpikir mendasar, berpikir pada akarnya, berpikir jauh ke depan.

“Ini kan tidak ada yang keliru dalam pemikiran radikal,” ujarnya sebagaimana dilansir dari hidayatullah.com Jakarta, Selasa (27/11/2018).

Bahkan kata Wido kalangan Kristiani seperti Obed Krisnantyo Aji, menulis buku “Being Radical for Jesus: Membangun Dasar Kehidupan Kristen yang Radikal Bagi Tuhan.” Jadi terangnya ada perspektif iman Kristen tersendiri.

“Kita pun Islam punya perspektif iman sendiri. Maka klaim kebenaran dalam kacamata ideologi tidak bisa disebut sebagai radikal. Justru kewajiban untuk meyakinkan umat bahwa kebenaran ada di masing-masing agamanya,” tegasnya.

Sebelumnya, Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) Nahdlatul Ulama (NU) mengeluarkan pernyataan terkait 41 masjid di lingkungan kantor yang terindikasi radikal.

Definisi radikal P3M sendiri, lanjut Wido, masih bisa diperdebatkan.

Ia mempertanyakan, item radikal yang dibuat P3M, misalnya bisa memprovokasi kaum kafir menyerang Muslim, provokasi konspirasi Islam diserang berbagai kekuatan, dan provokasi umat Islam dimusuhi dan diperangi.

Terhadap item ini, ia mempertanyakan, “Apakah benar seperti itu? Dan kalau benar, sebenarnya bukan di situ esensinya. Tapi mengapa justru disampaikan ke media, bukan disampaikan ke lembaga otoritatif. Dan mengapa tidak didiskusikan dengan lembaga otoritatif seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebelum disampaikan ke luar sehingga masalah ini jadi berdampak besar,” ucapnya.

Dampaknya apa? Jadi muncul kegaduhan, keresahan, dan ketakutan di tubuh umat, kata Wido. Khatib juga jadi saling tunjuk, “Siapa nih yang radikal?” Selain itu, pengurus masjid jadi tertuduh dan tidak dianggap profesional. Padahal boleh jadi, kata dia, kasus seperti ini sangat jarang terjadi.

“Mungkin ada satu dua penceramah yang suaranya keras dan seterusnya. Tapi itu kan nanti dievaluasi. Kalau dia mendukung ISIS, dia bisa dievaluasi,” ujarnya.

Hasil survei P3M itu pun baru indikasi, kata Wido. Belum sampai pada kesimpulan. Karena hanya 100 masjid pemerintah saja yang disurvei, sementara di Indonesia ada satu jutaan masjid, maka survei itu menurut Wido, tidak bisa memukul rata bahwa seluruh masjid di Indonesia terindikasi radikal.

Masalah lainnya soal metode, kata dia. P3M hanya mensurvei empat kali khutbah dalam waktu sebulan (29 September-21 Oktober 2017). “Empat kali khutbah tidak representatif,” kata dia.

Menurut Wido, hasil survei tersebut seharusnya jangan dipublikasikan ke media dulu. Tapi hendaknya disampaikan ke pemerintah yang mengurusi soal itu, dalam hal ini Dirjen Bimas Islam di Kementerian Agama. Biar Bimas Islam yang tindak lanjuti.

“(Tapi) itu tidak dilakukan (P3M). Sehingga Bimas Islam tersudutkan. Bahkan Bimas Islam juga tidak tahu yang mana 100 masjid itu,” katanya.

Wido sendiri tahunya justru dari Badan Intelijen Negara (BIN). Ia jadi mempertanyakan, mengapa P3M lebih mengutamakan membagikan hasil penelitian itu kepada BIN, ketimbang kepada Bimas Islam yang seharusnya mengurusi soal itu.

Ia juga menyesalkan mengapa BIN yang kerjanya senyap, tapi menampilkan hasil survei P3M ke publik sehingga melahirkan kegaduhan.

“Di sini saya kira ada SOP yang tidak berjalan. Sehingga kita kembali disibukkan dengan hal yang remeh temeh seperti ini,” ujarnya menyayangkan. (Andi/sym).

Sumber: Hidayatullah.com

Pesan Haedar Nasir di Muktamar Pemuda Muhammadiyah XVII

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nasir

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nasir saat menyampaikan sambutan pada pembukaan Muktamar XVII Pemuda Muhammadiyah, Yogyakarta, Senin (26/11/2018)

(Yogyakarta) wahdahjakarta.com – Pemuda Muhammadiyah menggelar Muktamar XVII di Yogyakarta tepatnya di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dari tanggal 25 hingga 28 November 2018. Tema  Muktamar XVII adalah ‘Menggembirakan Dakwah Islam dan Memajukan Indonesia’.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir dalam sambutan pembukaan yang digelar Senin (26/11/2018) menyampaikan, pemuda Muhammadiyah harus tetap perkokoh jati diri pergerakan dengan tauhid, dan perkaya prinsip-prinsip itu dengan prinsip Muhammadiyah.

“Seperti yang dinukil dari trilogi Cokroaminoto yang sekarang menjadi triloginya syarikat Islam; Tauhid, ilmu dan amal,” ujarnya menyampaikan pesan pertama.

Kedua, pemuda Muhammadiyah harus terus bergerak untuk memajukan bangsa dengan spirit menggembirakan dan memajukan Indonesia. Oleh karena itu, ia berharap kepada kader pemuda Muhammadiyah dan semuanya aspirasi yang sangat dasar ini bahwa muktamar ini sebagai titk dasar pangkal organisasi dan suksesi kepemimpinan.

“Untuk menjalankannya bagaimana seluruh pimpinan yang dapat mandat itu membawa visi dan misi untuk menyebarluaskan dengan menggembirakan dan memajukan,” katanya.

Ketiga, Pemuda Muhammadiyah harus mengikuti jejak induk Muhammadiyah yang berpijak pada prinsip-prinsip organisasi. Karena kepribadian kita dan akhlak kita harus sebagai bingkai yang baik. Dengan bingkai itulah, kita terus bisa melangkah dengan baik.

“Kita harus maju, kita harus sukses, tetapi di saat yang sama kemajuan dan kesuksesan itu juga harus terletak pada kepribadian kita,” ujarnya.

Kemudian, Haedar membacakan sepuluh sifat Pemuda Muhammadiyah:

  1. Muhammadiyah senantiasa beramal dan bertujuan untuk damai dan sejahtera.
  2. Muhammadiyah selalu perbanyak kawan dan ukhuwah islamiyah.
  3. Muhammadiyah senantiasa lapang dada dan memegang teguh ajaran islam.
  4. Muhammadiyah adalah gerakan keagamaan dan kemasyarakatan.
  5. Muhammadiyah senantiasa mengindahkan segala hukum, peraturan dan negara yang sah.
  6. Muhammadiyah senantiasa menjalankan misi amar ma’ruf nahi munkar dan menjadi contoh teladan yang baik.
  7. Muhammadiyah aktif dalam perkembangan masyarakat dan pembangunan sesuai islam.
  8. Muhammadiyah bekerjasama dengan golongan lain dalam mewujudkan syiar dakwah.
  9. Muhammadiyah membantu pemerintah serta bekerjasama dengan golongan lain untuk memelihara masyarakat yang adil dan makmur.
  10. Muhammadiyah bersifat adil dan korektif dan bijaksana.

Untuk menghadapi tahun politik dan masa kampanye, Haedar berpesan kepada kader pemuda Muhammadiyah untuk bisa menjadi suri tauladan yang baik di manapun dan kapan pun. Sebagaimana spirit tauladan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam  dalam mengemban dakwah Islam. (kiblat.net).

Kegiatan Dauroh Wahdah Jaktim Berjalan Lancar

(Jakarta) wahahjakarta. com—Dewan Pimpinan Daerah Wahdah Islamiyah (DPD WI) Jakarta Timur (Jaktim) berkerjasama dengan DKM Masjid Raya Universitas Borobudur mengadakan Daurah dengan tema ” Hati yang Dekat dengan Al Qur’an” di ruangan utama Masjid Raya Univ.Borobudur. Kegiatan yang mengusung konsep Mabit ini disponsori oleh LAZIS Wahdah berlangsung selama sehari semalam, Sabtu-Ahad (24-25/11/2018).

Ustadz Suharpin selaku panitia kegiatan ini mengaku bersyukur dengan terlaksananya kegiatan ini dengan lancar. “Alhamdulillah…berjalan dengan baik dan tertib”, tuturnya.

Pemateri yang mengisi kajian dalam kegiatan dauroh ini diisi oleh Azatidz DPD WI Jaktim di antaranya Ust.Fakhrizal Idris, Lc.M.A, Ust.Sarmin, SH, dan Ust.Suharpin. Ketiga pemateri tersebut saling bergantian menyampaikan materi dan nasehat-nasehat kepada peserta dauroh.

Peserta dauroh berjumlah 15 orang (ikhwan) berasal dari kalangan mahasiswa dan karyawan. Semua peserta mengaku terkesan dengan kegiatan ini karena jarang sekali ada ya ng mengadakan kegiatan Mabit ini di zaman ini.

“Kegiatan bermalam seperti ini dengan tema Al Qur’an sangatlah bagus dan bermanfaat buat kita, yang mana kegiatan-kegiatan seperti ini sangatlah jarang didapatkan apalagi setelah kegiatan ini akan ada followupnya. Jadi saya berharap semoga kita dimudahkan dalam belajar dan menuntut ilmu, tidak perlu malu duduk bersama teman-teman yang mungkin usianya lebih junior dari kita”, ucap salah seorang peserta dauroh, Ace Malik Ibrahim. (rsp).
————-

Dukung Dakwah Qur’an Untuk Palu dan Indonesia dengan menyalurkan donasi melalui: Bank Syariah Mandiri (kode bank: 451) No Rek: 773 800 8008 an Lazis Wahdah Jakarta Sedekah

🎁 Donasi 1000 Qur`an Palu & Indonesia : Mulai Rp.110.000,- (Paket Bersama Pendidikan dan Pembinaan).
Berlaku sampai dengan 11 Desember 2018

📲Konfirmasi Transfer WA/SMS ke 08119787900 (mohon dengan menyertakan bukti transfer)

#1000QuranForPalu
#1000QuranForIndonesia
#pedulinegeri
#melayanidanmemberdayakan

Jangan Pernah Biarkan Sulawesi Tengah Menangis

(Jakarta) wahdahjakarta.com-, Rasa peduli dan kebersamaan sebagai satu bangsa tetap bergelora. Semua elemen bangsa bersatu dalam membantu warga yang terdampak gempa di Sulawesi Tengah (Palu, Sigi, dan Donggala) baik dalam bentuk materi maupun non materi.

Kepedulian ini juga ditunjukkan oleh Komunitas Ladang Amal (KALAM) Jakarta dengan menyalurkan donasi melalui LAZIS Wahdah sejumlah uang dengan total Rp.3.660.000. Perwakilan Komunitas Ladang Amal (KALAM) Jakarta, Bapak Udin mengaku memilih LAZIS Wahdah sebagai mitra untuk program bantuan gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah yang terjadi akhir september lalu karena menurutnya LAZIS Wahah sudah terpercaya.

“Alhamdulillah sudah menyampaikan donasi bantuan untuk saudara kita di Palu, Donggala, dan Sulawesi Tengah pada umumnya. Kami memilih LAZIS Wahdah sebagai mitra untuk program bantuan gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah karena menurut kami LAZIS Wahdah sudah terpercaya dan kantor pusatnya juga berada di Sulawesi. Semoga apa yang sudah kita lakukan bersama-sama menjadi bermanfaat untuk korban gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah pada umumnya…”. ujarnya  di Kantor LAZIS Wahdah Jakarta, Rabu (21/11).

“Harapannya semoga menjadi jalan hadirnya pertolongan Allah kepada saudara-saudara kita yang menjadi korban bencana gempa dan tsunami. Semoga ini menjadi wasilah untuk kebangkitan kembali saudara-saudara kita seperti sediakala di tempatnya masing-masing”, tambahnya.

Perwakilan LAZIS Wahdah Jakarta, Ismail mengaku terkesan dengan apa yang telah dilakukan oleh Komunitas ini. Ia yang sehari-sehari menjalani amanah sebagai Manajer Fundrising ini menyerahkan piagam penghargaan kepada Komunitas Ladang Amal (KALAM) Jakarta.(rsp)

 


Dukung Dakwah Qur’an Untuk Palu dan Indonesia dengan menyalurkan donasi melalui: Bank Syariah Mandiri (kode bank: 451) No Rek: 773 800 8008 an Lazis Wahdah Jakarta Sedekah

🎁 Donasi 1000 Qur`an Palu & Indonesia : Mulai Rp.110.000,- (Paket Bersama Pendidikan dan Pembinaan).
Berlaku sampai dengan 11 Desember 2018

📲Konfirmasi Transfer WA/SMS ke 08119787900 (mohon dengan menyertakan bukti transfer)

#1000QuranForPalu
#1000QuranForIndonesia
#pedulinegeri
#melayanidanmemberdayakan

Sebab-Sebab Lemahnya Iman

Berbicara tentang islam, tentu semua kita termasuk para muslim yang sama-sama in syaa Allah diberkahi dan dinanti-nanti oleh Rasulullah di pintu surga nantinya, yang bersaksi bahwa tidak ada illah yang patut disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala, dan Rasulullah Muhammad salallahu ‘alaihi wasallam adalah Rasul (utusan) yang dianugerahkan Allah kepada kita semuanya.

Tapi, apakah semua kita beriman? dan apakah iman kita tersebut sudah bisa disebut iman yang masuk kriteria yang ditentukan Allah? jawabannya, wallahu a’lam bishawab, karena kita ga tau isi hati kita, kita tidak tahu apa yang dibaca oleh Allah dalam hati kita. Karena cuma Allah-lah yang bisa baca isi hati kita. Manusia itu kodratnya buta, buta dalam hal memperhatikan apa yang memang disuratkan Allah bahwa ia tak mampu melihatnya, seperti hal-hal yang ghaib, maupun isi hati. Memang manusia adalah sebaik-baik bentuk dan makhluk yang paling dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, sampai malaikat saja diperintahkan oleh Allah untuk bersujud kepada nenek moyang kita, yakni Nabi Adam ‘alaihissalam, tapi bukan berarti kita merupakan makhluk yang sempurna, kita jauh sekali dari kata itu. Karena kita ditakdirkan tidak luput dari khilaf dan lupa.

Seperti halnya dalam sebuah perjalanan yang pasti ada aja hambatan yang harus perbaiki dulu , begitupun saat kita sedang dalam masa perbaikan iman, misalya dalam proses hijrah, kadang ada yang menjanggal kita dalam proses tersebut, apa saja itu?

  1. Kurang Ikhlas

Allah berfirman :

وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”

Ayat ini menerangkan seterang-terangnya bahwa ketika kita menyatakan bahwa kita merupakan hamba Allah yang beriman, maka kita harus menyempurnakan niat kita terlebih dahulu untuk memiliki harta berharga yang disebut iman tersebut, karena iman tidak akan datanng atau tidak akan kita peroleh kalau kita beriman bukan untuk Allah subhanahu wa ta’ala, padahal jelas kalau iman yang pertama adalah menyempurnakan tauhid kita kepada Allah, Sang Pemilik jiwa dan raga kita. keikhlasan yang dimaksud disini adalah menyempurnakan tauhid itu tadi dalam menjalankan syariat yang telah ditetapkan Allah subahahu wa ta’ala.

Lalu Allah langsung menyinggung soal shalat pada ayat ini, artinya ketika kita masih ada keterpaksaan dalam mendirikan shalat, atau menganggap shalat itu hanya sebatas rutinitas, bukan prioritas, maka ini juga tergolong tanda bahwa kita kurang ikhlas dalam beribadah kepada Alla azza wa jalla. Lalu setelah shalat, Allah menyinggung lagi masalah zakat, tentunya juga termasuk infaq & sedekah. Hal ini juga pasti memerlukan keikhlasan dalam melakukannya, tanpa keikhlasan, semua yang sudah kita berikan di jalan Allah itu adalah sia-sia, dan apabila ada sedikit saja kedongkolan atau kekhawatiran dalam hati kita kalau harta kita nanti akan berkurang, maka hati-hati, ini juga tanda-tanda kalau kita Kurang Ikhlas dalam beribadah, apalagi kalau ditambah lagi bumbu riya’ sebagai penyedap, makin habis pahala kita tersebut.

Diriwayatkan bahwa Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah besabda “Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan (ganjaran perbuatannya) sesuai apa yang telah ia niatkan”

Imam An Nawawi mengatakan disini bahwa hadits tersebut shahih dan sudah disepakati keshahihannya dan beliau juga berpendapat bahwa hadits ini juga disepakati sebagai salah satu hadits yang keutamaannya sangat besar serta merupakan salah satu hadits yang menjadi dasar-dasar islam. Jadi jelas, bahwa niat yang ikhlas adalah salah satu kunci bahwa kita memiliki iman yang teguh. Mulai sekarang, coba perbaiki niat kita, barangkali ada ibadah-ibadah yang selama ini kita anggap enteng niatnya karena sudah kebiasaan, misalnya shalat, karena malu sama orang tua, suami, atau tetangga, jadi kita shalat karena malu nanti diomongin tetangga karena ga shalat, atau malu karena beragama islam tapi ga shalat, ubah niat yang begitu, jadikan shalat adalah kebutuhan kita, jadikan shalat menjadi tempat curhat kita sama Allah, apalagi di sepertiga malam, enak banget tuh buat curhat sama Allah, karena ga ada yang dengar kecuali Allah.

  1. Konsistensi Emosional

Setiap manusia pasti punya perasaan atau emosi dan akal sehat, kecuali manusia yang udah dicabut sama Allah kewarasannya, tapi kadang manusia itu sebagian tenggelam dalam lautan emosi sampai tidak memiliki sikap bijaksana yang menyebabkan kebuntuan dalam berfikir, kondisi seperti ini yang menyebabkan seseorang mudah melakukan kesalahan dan meninggalkan kebenaran. Artinya kalau kita lagi emosi pasti kita bakal gampang mengambil suatu tindakan yang gegabah, makanya Rasulullah melarang kita membuat keputusan kalau kita berada dalam puncak emosi atau sedang dalam keadaan marah dan memberi petunjuk kepada kita ketika menghadapi kemarahan, salah satunya dengan diam.

وَ إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ

Jika salah seorang di antara kalian marah, diamlah.

(HR. Ahmad)

Karena manusia cenderung mengambil keputusan yang kurang tepat kalau dia sedang dalam keadaan marah. Inilah kondisi yang dialami oleh sebagian orang yang bersikap konsisten secara emosional (perasaan) yang bukan karena keinginannya sendiri atau kesadaran, orang ga bakal sadar kalau sedang mengambil keputusan yang salah kalau sedang marah, yang ada di fikirannya hanya bagaimana menghancurkan musuhnya, bagaimana caranya agar hal yang membuatnya marah tersebut segera hancur.

Terkadang sikap konsisten semacam ini timbul karena dipengaruhi suatu nasihat atau sugesti yang ia dengar sehingga hal tersebut mampu mempengaruhi dirinya baik secara mental maupun fisik. Dan pengaruh semacam itu bersifat sementara serta mudah hilang, biasanya akan diikuti oleh penyesalan karena sudah mengambil tindakan yang salah.

  1. Kecenderungan Kepada Apa Yang Telah Berlalu

Kadang kita suka iri sama apa yang didapatkan oleh teman kita yang jalan hidupnya tidak sama dengan yang kita lalui saat ini,  yang dahulunya merupakan orang yang sama-sama dengan kita dikala kita belum hijrah, dan ketika kita sudah hijrah serta sudah tahu mana yang haram dan dilarang agama, maka kita melihat adanya “kebebasan” yang didapatkan oleh teman kita tersebut disebabkan ketidaktahuannya dalam syariat, terlihat seperti hidupnya lebih bebas, karena masa bodoh dengan syariat Allah. Tapi pada dasarnya bukan begitu, justru kita yang lebih bebas, kenapa? karena dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan Allah kepada kita, dengan pengetahuan kita terhadap hukum-hukum yang ditetapkan Allah kepada kita sebagai umat muslim, maka semakin bebas pula kita dari dosa, maksiat, dll. Dan semakin bebas pula kita dalam berjalan lurus ke arah ridha Allah subhanahu wa ta’ala.

Ketika seseorang hendak bersikap konsisten, pasti tiba-tiba ia merasakan suatu perpindahan dalam hidupnya, dimana pada masa lalu ia hidup dengan penuh maksiat kepada Rabb-nya, dipermainkan setan dan penuh keguncangan dalam hidupnya, kemudian ia berpindah (hijrah) menuju kestabilan rohani dan ketentraman. Keguncangan itu wajar, karena Rasulullah saja sering dicegat oleh kamu kafir Quraisy ketika hendak hijrah ke madinah, tidak sedikit umat Rasulullah yang disiksa bahkan dibunuh ketika diketahui bahwa ia akan meninggalkan kota Mekah bersama Rasulullah, makanya Rasulullah terpaksa mengambil jalan memutar dari pintu Mekkah yang terdekat dengan Madinah, karena pintu tersebut dikawal oleh kaum kadir Quraisy. Begitu dengan kita sekarang, pasti ada hambatan, pasti ada pemikiran bahwa ada perbedaan yang amat jauh antara kehidupan kita di masa lalu yang penuh dengan maksiat dengan kehidupan kita yang sekarang.

Ketika pada suatu masa, kita teringat pada masa lalu tersebut, sahabat-sahabat kita dan berbagai prilaku kita yang terbilang “bebas” ketika bersama mereka, dan kemudian kita mencoba melepaskan tali kekang pikiran kita untuk menelusuri dan mencoba mengilang masa lalu yang kita bilang “indah” tersebut, disinilah iman kita diuji, karena sikap semacam ini bisa saja membahayakan iman kita dan mengancam keistiqamahan kita dalam proses perubahan dan secara tidak langsung telah memberi peluang kepada syaitan untuk melancarkan serangannya kepada kita berupa tipu daya serta permainan sampai kita berfikir untuk meninggalkan proses hijrah kita tersebut. Inilah yang patut kita waspadai karena hal ini sangat rawan terjadi dalam proses-proses hijrah kita hari ini, maka dari itu, kurangi melihat apa yang dimiliki orang lain.

Rasulullah bersabda dalam hadits kitabul jami’ hadits ke-2 :

أُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ عَنْ لاَ تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

“Lihatlah kepada yang dibawah kalian dan janganlah kalian melihat yang diatas kalian sesungguhnya hal ini akan menjadikan kalian tidak merendahkan nikmat Allāh yang Allāh berikan kepada kalian”.
(HR. Bukhari dan Muslim).

Maka, kurangi memandang indah dosa-dosa yang sudah kita buat pada masa lampau, perbanyak istighfar ketika kita melihat bahwa kita pernah melakukan dosa tersebut di masa lalu, dan bersyukurlah terhadap apa yang sudah kita milik saat ini, karena hidayah itu mahal, dan hanya diberikan Allah kepada orang-orang yang beriman dan mampu mempertahankan keimanannya.

Lidmi Peduli: Bangkitkan Semangat Pengungsi dengan Dakwah dan Pendidikan

Suasana sarapan pagi bakda subuh di posko pengungsian binaan LIDMI Palu,

(Palu) wahdahjakarta.com-, –  Cara unik dan menarik dilakukan  Pimpinan Daerah Lingkar Dakwah Mahasiswa Indonesia (PD Lidmi) Palu dalam menumbuhkan optimisme bagi pengungsi untuk bangkit dan menatap masa depan yang lebih baik.

Di posko pengungsian Lapangan Mister, Kelurahan Tipo, Palu, Sulawesi Tengah, organisasi mahasiswa dan pemuda berbasis dakwah kampus ini  mengajak warga pengungsian meramaikan kegiatan shalat subuh berjamaah, Ahad (25/11/2018).

Ketua Lidmi Palu, Ahmad Muslimin melalui rilisnya menjelaskan strategi yang digunakan untuk mengajak warga shalat subuh berjama’ah, yakni  dengan menyediakan sarapan pagi berupa bubur kacang hijau hangat kepada warga yang menghadiri shalat subuh berjamaah di mushala darurat yang didirikan.

Suguhan sarapan pagi dapat dinikmati jamaah setelah tausiyah subuh yang disampaikan Muhammad Ridho, relawan Lidmi Peduli. Tausiyah berjalan 30 menit dengan mengajak warga untuk mentadabburi nama dan sifat Allah Ta’ala

“Di antara nama Allah Ta’ala adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim yang berarti Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Maha Pengasihnya Allah Ta’ala adalah kasih yang diberikan kepada seluruh makhluk-Nya, baik ia manusia, hewan maupun tumbuhan. Baik ia beriman kepada Allah atau tidak,” jelas Ahmad.

“Sedangkan Ar-Rahim atau Maha Penyayangnya Allah, berlaku hanya kepada orang-orang pilihan Allah Ta’ala. Maka mari kita berupaya menjadi orang-orang pilihan yang akan mendapatkan Ar-Rahimnya Allah Ta’ala,” tambahnya.

Setelah mendengar tausiyah subuh, Tim Lidmi Peduli kemudian menyuguhkan bubur kacang hijau hangat bersama hidangan sederhana kepada seluruh jamaah.

“Apa yang kami sajikan mungkin tidak seberapa, ala kadarnya dari kami, semoga menjadi sedikit penyemangat bagi kita semua,” kata Ridho saat menutup tausiyah Subuh dan mengajak warga untuk sarapan bersama.

Tujuan suguhan ini, lanjut Ridho, untuk membina keakraban dengan seluruh warga yang berada di posko pengungsian, terutama bapak-bapak dan ibu-ibu, para orang tua yang mendiami posko.

“Pembinaan Al-Quran kepada anak-anak dan remaja sedang kami jalankan, maka kami mengharap dukungan dari orang tua mereka, bahkan pembinaan Al-Quran juga kami rencanakan kepada orang-orang tua tersebut,” ungkap Alumni Fakultas Hukum Universitas Tadulako 2013 ini.

Warga setempat, Ardi mengatakan, gempa dan tsunami yang menerjang warga di Kelurahan Tipo meninggalkan banyak hikmah. Namun menurutnya, masih banyak warga yang belum bermuhasabah karenanya.

“Kejadian kemarin itu pak betul-betul luar biasa, seperti kiamat. Allah ingin menunjukkan sebagian dari kuasa-Nya. Maka terima kasih sekali sudah hadir untuk membantu kami untuk selalu ingat Allah, dengan kegiatan-kegiatan keagamaan,” pesannya.

Di antara program Lidmi Peduli yang dijalankan secara rutin di posko ini adalah dalam bidang dakwah dan pendidikan, yakni permainan edukasi kepada anak-anak, pembinaan Al-Quran anak-anak dan remaja, serta Pendidikan Al-Quran Orang Dewasa (DIROSA).

Asmaul Husna [31]: Al-Lathif (Yang Maha Lembut)

Al-Lathif (Yang Maha Lembut)

Asmaul Husna [31]: Al-Lathif (Yang Maha Lembut)

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِمَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

Sesungguhnya tuhanku maha lembut terhadap apa yang dia khendaki. Sesungguhnya dialah yang maha mengetahui lagi maha bijaksana” (QS. Yusuf : 100)

لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ ۖ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ ﴿ ١٠٣

Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang dia tidak dapat melihat segala penglihatan itu dan dialah yang maha halus lagi maha mengetahui” (Al-An’am : 103)

Al-lathif artinya Allah Subahanu wa Ta’ala sangat baik dan lembut perbuatannya. Atau yang mengethaui kemaslahatan-kemaslahatan bagi manusia, karena manusia kadang sulit mengetahui hal yang mengandung maslahat baginya. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala  mewujudkan kemaslahatan itu dengan cara yang lembut tanpa kekasaran.

Nama ini juga bisa bermakna yang berlaku sangat baik dan lembut kempda hambanya tanpa mereka ketahui , dan menyediankan segala kebutuhan hamba-hambanya tanpa mereka rasakan.

Dalam kehidupan dunia, perlakuakn lembut Allah Subhanahu wa Ta’ala ini dinikmatisemua makhluknya. Mereka diciptakan dari ketiadaan,  kemudian ditentukan rezeki dan perbuatan mereka.

Sedangkan dalam kehidupan akhirat , Allah Subhanahu Wa ta’ala pengkuhususan orang-orang beriman dengan perlakualan lembutnya. Maha suci Allah yang mahamulia.

Dengan menyebut nama Al-Lathif, kita dituntut untuk bersikap lembut dan sayang kepada hamba-hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dalam kelembutan yang paling nampak adalah kelembutan dalam berbicara. (Syarh Singkat Asmaul Husna, Musthafa Wahbah).

Riba Itu Ngeri Banget, Tinggalkan Segera!

Riba

Riba Itu NgeRIBAnget

Riba Itu NgeRIBAnget

Riba merupakan salah satu dosa besar yang membinasakan sebagaimana disebutkan dalam berbagai ayat dan hadis, karena di dalamnya terdapat kezaliman terhadap orang lain, dan mengambil harta mereka dengan cara yang batil. Bahkan, riba ini diharamkan juga pada agama-agama selain Islam, karena ia merupakan kezaliman terhadap sesama manusia, karena setiap agama tidak menghalalkan dan menyetujui kezaliman.

Praktik riba juga merupakan salah satu kebiasaan kaum Yahudi yang kemudian dilaran oleh  Allah Namun, karena mereka tidak mengindahkannya, maka Allah Ta’ala mengharamkan mereka banyak hal yang baik dan halal serta mengazab orang-orang yang melakukannya, sebagaimana dalam ayat:

وَأَخْذِهِمُ الرِّبَا وَقَدْ نُهُوا عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

 

 “Dan disebabkan mereka memakan riba, Padahal Sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih”.(Q.S. An-Nisa: 161).

Bahkan Allah Ta’ala menyerupakan pemakan riba ini dengan orang yang kerasukan setan, sebagaimana dalam ayat:

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لا يَقُومُونَ إِلا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

 “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”.(Q.S. Al-Baqarah: 275).

Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu mengatakan bahwa maksud ayat ini adalah:

“Para pemakan harta riba akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan gila dan tercekik.” (Tafsir Ibnu Abi Hatim: 2/544)

Dalam ayat ini, ketika Allah Ta’ala hanya menyebutkan “orang yang memakan riba”, bukan berarti para pemilik harta riba yang tidak memakannya tidak mendapatkan dosa, tapi Allah menyebutkan lafal “makan riba” untuk mengisyaratkan bahwa penggunaan harta riba oleh pemiliknya selain dimakan adalah haram juga. Dia mengkhususkan lafal “makan riba” karena makan adalah bentuk karunia terpenting dan hawa nafsu terbesar dibandingkan dengan syahwat memiliki pakaian, tempat tinggal dan pernikahan, sebab tanpa makan tentunya tak akan ada kehidupan. Sehingga, penggunaan harta riba dengan memakainya, menjadikannya sebagai rumah, atau biaya pernikahan tetaplah haram, karena hal terpenting saja yaitu makanan diharamkan adanya riba di dalamnya, apalagi yang urgensinya lebih rendah dari makanan.

Sebab itu, Allah Ta’ala tentunya memusnahkan keberkahan riba dan menghilangkan dampak positifnya dalam diri dan harta seorang insan. Ini tentunya bertolakbelakang dengan manfaat sedekah yang Allah Ta’ala berkahi dan tambahkan kebaikan padanya serta menetapkan dampak positif pada orang yang bersedekah. Allah Ta’ala berfirman:

يَمْحَقُ اللهُ الرِّبَوا وَيُرْبِى الصَّدقَتِ واللهُ لاَيُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ اَثِيْم

 “Allah memusnahkan Riba dan menyuburkan sedekah  dan Allah tidak menyukai Setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa”.(Q.S. Al-Baqarah: 276).

Dalam hadis juga disebutkan:

” الربا وإن كثر، فإن عاقبته تصير إلى قل ”

 “Harta riba itu meski banyak, namun akibatnya adalah ia terus menerus berkurang (berkahnya).” (HR Ahmad: 3754).

Keberkahan harta yang disebutkan dalam Al-Quran pada hakikatnya adalah bukan bertambahnya jumlah atau kwantitas harta, namun bertambahnya dampak positif dari harta tersebut pada diri orang yang memilikinya berupa tambahan rasa tentram, bahagia, rasa qana’ah atau merasa cukup, serta dimudahkannya banyak kebutuhan hidup, meskipun mungkin harta yang ia miliki pas-pasan, karena harta itu dicari dan dituntut dengan tujuan utama agar bisa memberikan kebahagiaan dan kenyamanan diri.

Betapa sering para pemilik harta haram tertipu dengan angka dan kwantitas harta yang mereka miliki, sehingga hal itu hanya menambah pada diri mereka kesempitan dada, ketidak tenangan serta keresahan jiwa. Semakin hartanya bertambah, keresahannya untuk menjaga dan mengembangkan harta tersebut terus meningkat, sehingga ia tersibukkan dengannya dalam suasana hati yang tidak bahagia dan resah, karena khawatir tersaingi oleh orang lain, atau khawatir usahanya akan bangkrut.

Perlu diketahui, bahwa kesengsaraan dunia itu ada dua jenis:

1-Kesengsaraan berupa tidak  adanya kenikmatan dan harta yang Allah berikan pada seorang manusia dengan gambaran bahwa orang tersebut bergantung pada hartanya, bahkan ia terus-menerus mengejarnya tanpa henti, setiap kali meraih kadar harta tertentu, jiwanya semakin haus dengan tambahan harta yang lain, sehingga ia seakan tersiksa dengan aktifitasnya mengejar dunia tersebut.

2-Kesengsaraan berupa musibah atau penyakit. Jenis kesengsaraan ini selalu dihindari oleh manusia dengan cara mencari pengobatan dan penyembuhan serta berharap agar ia mendapatkan jalan keluar darinya, dan bila ia diberikan kesempatan untuk sembuh, ia pasti melakukannya.

Tentunya kesengsaraan yang paling besar adalah jenis yang pertama, karena secara lahir ia banyak harta, namun batinnya tersiksa dan sengsara menjadi “hamba” dunia. Orang seperti ini, bila diberikan kekurangan harta sedikit saja, ia tak akan mungkin mau, karena merasa kecanduan pada harta yang pada hakikatnya adalah suatu kesengsaraan yang ia tak sadari. Wallaahu a’lam. (Dirangkum dari At-Tafsir wa Al-Bayan: 542, dan 546).