Lazis Wahdah Distribusikan Bantuan Penerangan Kamp.Pengungsi Rohingya di Bangladesh

(Bangladesh) Wahdahjakarta.com – LAZIS Wahdah Islamiyah menyalurkan bantuan kemanusiaan berupa paket listrik tenaga matahari (sel surya) dan bahan-bahan bangunan di kamp pengungsi warga Rohingya di Refugee Camp, Cox’s Bazar, Bangladesh.

Direktur Lazis Wahdah  Syahruddin C Asho mengatakan, bantuan paket listrik dan bahan bangunan tersebut diperuntukan bagi Pondok Tahfizh Al-Qur’an Ummul Quro di kamp tersebut.

Sebagaimana diketahui selama ini kamp-kamp pengungsi warga Muslim Rohingnya di Refugee tidak mendapat fasilitas listrik karena letaknya yang jauh dari perbatasan. Sehingga untuk dapat menikmati penerangan dan kebutuhan lainnya mereka harus berusaha mandiri dengan memanfaatkan peralatan seadanya.

Pondok Tahfizh Ummul Quro merupakan tempat pembinaan para penghafal al-Qur’an, yang di khususkan bagi anak-anak pengungsi.

“Mereka ada sekitar 300-an orang. Mereka di bina di sebuah gubuk sederhana yang terbuat dari bambu dan bahan-bahan alam lainnya. Saat hujan mengguyur beberapa bulan yang lalu, bangunan tahfizh rubuh dan sudah tidak layak,” ujar Syahruddin.

Bantuan ini di terima langsung oleh pihak pengelola tahfizh yakni Abdul Ghofur. Lanjut Syahruddin, adapun pembangunan akan tetap berlanjut hingga bisa secara total dimanfaatkan untuk kepentingan para santri.

Tentu sangat sulit bagi pengungsi Rohingya ini untuk mendapatkan sumber listrik ini karena status mereka sebagai pengungsi. Insya Allah kedepan LAZIS Wahdah Islamiyah akan terus membantu pengungsi Rohingnya ini secara berkesinambungan. Tentunya juga atas doa, dukungan, dan bantuan dari rakyat Indonesia.

Donasi Peduli Rohingya terus dibuka, silahkan salurkan bantuan anda tunai atau transfer ke Rekening Kemanusiaan LAZIS Wahdah Bank Syariah Mandiri No.Rek : 799 900 9004 a.n. Lazis Wahdah Care (Kode Transfer ATM Bersama: 451)

#laziswahdah #wahdahislamiyah #wahdah #sedekah #zakat #laziswahdahcare #pedulirohingya

Reuni 212 Tertib dan Aman, Jazuli Juwaini:  Bukti Kedewasaan Umat Islam

Reuni 212

(Jakarta) wahdahjakarta.com — Reuni 212 yang digelar di Lapangan Monas Jakarta pada Ahad (2/12/2018) berjalan lancar, damai, dan tertib. Menurut Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera  (PKS) Jazuli Juwaini, hal itu merupakan bukti kedewasaan umat Islam.

“Umat kembali membuktikan betapa mereka sangat dewasa dalam berdemokrasi. Dengan jumlah massa jutaan yang diprediksi lebih banyak dari reuni sebelumnya, semua berjalan tertib dan aman. Bahkan, sekali lagi kita harus angkat topi, selesai acara monas dan sekitar tempat acara kembali bersih tak ada sampah tersisa. Masya Allah,” kata Jazuli kagum.

Menurut Anggota Komisi I ini hal tersebut adalah bukti nyata bahwa Reuni 212 bukan gerakan yang macam-macam seperti dikhawatirkan sebagian pihak, bukan gerakan bayaran, bukan gerakan yang bakal menganggu atau mengancam bangsa seperti ditiduhkan pihak-pihak tertentu secara tidak bertanggung jawab.

“Kita menyaksikan sendiri rakyat berbondong-bondong datang karena panggilan nurani dan semangat silaturahim. Siapa yang sanggup membayar untuk menghadirkan massa sebanyak itu?” tanya Jazuli.

Untuk itu, lanjut Anggota DPR Dapil Banten ini, sudah selayaknya kita berikan apresiasi kepada seluruh peserta yang hadir atas semangatnya, atas besarnya arti persaudaraan, atas kedewasaannya yang luar biasa dalam mencontohkan kepada bangsa ini bagaimana berdemokrasi yang rapi, tertib, aman dan damai.

Kepada Pemerintah Jazuli berpesan bahwa spirit 212 yang ditunjukkan oleh jutaan massa dari berbagai daerah, suku, bahkan lintas agama hari ini adalah modal sosial yang dahsyat untuk kemajuan bangsa.

“Saya tegaskan lagi, spirit 212 sangat positif untuk mengokohkan keindonesiaan. Memberi pesan kuat bahwa rakyat khususnya umat Islam siap menjaga dan mengawal Indonesia sesuai nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. Pemerintah harus menangkap pesan itu!,” pungkas Jazuli.[ES/Panjimas]

Ustadz Asdi Nurcholis: Lewat Media Kita Membela Islam

 

Pelatihan Dakwah Media

(Sleman) wahdahjakarta.com – Membela Islam merupakan kewajiban dan tanggung jawab setiap Muslim. Setiap Muslim dituntut memiliki peran dalam dakwah dan membela Islam sesuai potensinya. Salah satu potensi yang dengannya seorang Muslim dan membela Islam adalah di bidang media massa.

Menurut Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Wahdah Islamiyah (DPW WI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Ustadz Asdi Nurcholis, peran media bukan hanya dikenal di zaman ini. Namun di zaman Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam ternyata media juga punya peran yang sangat penting.

“Salah satu bentuk media saat itu adalah syair-syair”, ungkap Asdi saat menyampaikan sambutan pada pembukaan Workshop Media Dakwah di Islamic Center Palagan, Jl. Palagan Tentara Pelajar, Ngaglik, Sleman, DI Yogyakarta, Sabtu (1/12).

Menurutnya saat itu syair berperan penting dalam melawan opini sesat atau berita bohong yang dalam istilah sekarang disebut hoax.

Diantara penyair dari kalangan sahabat, kata ustadz Asdi, adalah Hasan bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu. Lewat syair-syairnya Ia membela Islam, membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Berkaca dari sejarah tersebut, ustadz Asdi berpesan agar peserta workshop memanfaatkan media dengan sebaiknya-baiknya. “Niatkan lewat media kita membela Islam,” ujar ustadz Asdi yang juga alumnus Universitas Ibnu Su’ud, Saudi Arabia.

Dalam mengelola media, lanjut ustadz Asdi, juga harus memperhatikan kaidah-kaidah syariat. Ia mencontohkan misalnya tidak menggunakan musik, tidak menampilkan aurat, berita bohong dan hal yang bertentangan dengan syariat lainnya.

Sebelum menutup sambutannya ustadz Asdi mengingatkan semangat Wahdah Islamiyah, yakni semangat persatuan. “Wahdah Islamiyah itu sesuai namanya, menjaga persatuan, kita ndak suka ribut-ribut, di media pun harusnya demikian,” ungkapnya.

Workshop yang diselenggarakan oleh Departemen Infokom DPW Wahdah Islamiyah DI Yogyakarta ini berlangsung selama dua hari.

Peserta berasal dari utusan DPD WI Yogyakarta, DPD WI Solo, LAZIS Wahdah dan Al-Madinah Yogyakarta.[]

Ribuan Muslimah Hadiri Silaturrahim Akbar Muslimah di Makassar

Silaturrahmi Akbar Muslimah, “Satu Hati, Satu Aksi Untuk Dakwah dan Kemanusiaan,” di CCC Makassar, Ahad (2/12/2018)

(Makassar) wahdahjakarta.com— Ribuan Muslimah berkumpul di gedung Celebes Convention Center (CCC) untuk mengikuti  acara Silaturahim Majelis Muslimah Bisa Dan Gema Majelis Tak’lim bertema “Satu Hati Satu Aksi Untuk Dakwah dan Kemanusiaan, Ahad, (2/12/2018).

Dalam kesempatan itu Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Sulawesi Selatan, Liestiaty F. Nurdin menyatakan bahwa wanita Muslimah, khususnya kaum ibu harus pintar, karena mereka dituntut mendidik anak dengan sebaik-baiknya.

“Saya begitu bangga dapat hadir dalam kegiatan ini. Saya juga suka dengan ilmu hal ini dibuktikan dengan senangnya saya juga membuat acara seminar-seminar untuk masyarakat, misalnya saja seminar tentang narkoba”, ucapnya di hadapann sekitar sepuluh ribuan Muslimah yang memadati hampir seluruh sudut ruangan gedung CCC.

“Melihat antusias para ibu-ibu membuat saya berpikir bahwa ibu-ibu itu harus pintar. Seorang ibu adalah tiang agama. Seorang perempuan itu memiliki keistimewaan, dapat masuk ke pintu surga yang mana saja. Asalkan ia mampu menjaga kehormatan keluarganya dan mendidiknya dengan sebaik-baiknya,” ungkapnya.

Kegiatan yang diselenggarakan Muslimah Wahdah Pusat (MWP), Gerakan Muslimah Bisa dan Forus Majelis Taklim Wahdah Islamiyah ini bertujuan untuk membangun jiwa muslimah peduli dan cepat tanggap terhadap dakwah dan kemanusiaan.

Menurut keterangan tertulis panitia kepada wahdahjakarta.com, acara ini digelar untuk menyikapi fenomena bencana banyak menimpa Indonesia belakangan ini. Fenomena musibah dan bencana yang melanda menuntut peran semua pihak, termasuk kaum Muslimah dan Muballighat.

Menurut Majdah M. Zain, Rektor Universitas Islam Makassar yang turut dihadirkan sebagai nara sumber pada kegiatan ini, peran yang dapat dimainkan oleh Muslimah dan Mubalighah adalah amar ma’ruf  nahi munkar sebagai salah satu upatya mencegah bencana dan musibah.

“Ketika bencana datang itu adalah sebuah proses bermuhasabah diri. Karena itulah setiap manusia itu adalah seorang mubaligh. Seorang pembawa amar ma’ruf dan mencegah perbuatan  buruk  atau nahi mungkar”, ujarnya.

Menurutnya seorang muslimah tidak boleh cuek terhadap kondisi di sekitarnya. Ia juga meluruskan persepsi sebagian orang yang berkata, “yang terpenting bukan saya yang mengalami keburukan. Bukan anak saya yang mengalami keburukan”.

Senada dengan Ibu majdah Ketua Muslimah Wahdah Islamiyah, Harisatipa Abidin  mengatakan bencana yang menimpa saudara kita adalah sebuah pembelajaran bagi kita semua.

Da’iyah dan aktivis kemanusiaan yang sempat terjun langsung sebagai relawan kemanusiaan Palu ini  mendeskripsikan pengalamannya saat berada di lokasi bencana, suasana terasa merasuk jiwa yang membuat para peserta turut larut dalam suasana yang disampaikan  oleh ustadzah.

Gerakan Muslimah Bisa yang digelar secara rutin oleh Muslimah Wahdah setiap 3 tahun atau 4 tahun sekali.

Gebrakan Gerakan 10 Ribu Muslimah Getarkan  CCC Sulsel

Musliman Wahdah

Sepuluh Ribuan peserta Silaturrahmi Akbar Muslimah yang digelar Muslimah Wahdah, Ahad (2/12/2018)

Gebrakan Gerakan 10 Ribu Muslimah Getarkan  CCC Sulsel

Gempa, gempa gempa…
Seketika wajahmu hadir menemani
Air mata tumpah
Mayat-mayat berteriak
Riuhan emosi
Runtuhlah hampir seluruh lautan
Yang dulunya kokoh

Kini sisa kenangan,
Lalu lihatlah takdir, kini menjadi buas
Menghisap hampir seluruh energi bumi
Dan yang tersisa hanyalah elupsi

“Hancur semua tidak ada yang tersisa kasian. Laa ilaaha ilallah Lailahaa ilallah. Apa yang bisa kau banggakan, kecuali ketakutan ini yang menjalar di tubuhmu. Insya Allah kita bisa lewati. Saya tidak terima! Hancur semua, hancur.”

Sementara di belahan bumi yang berbeda ada isakan tangis yang mengguncang
Penuh berderai
Bumi Syam…
Wahai semesta tanah kami telah dihancurkan
Wahai dunia tidakkah kau lihat, tanah kami telah direnggut kebebasannya
Wahai dunia kau tahu?

Lampu yang berkedap-kedip” tak henti-hentinya. Suara menggema terdengar di gedung siang itu. Saat sepenggal puisi teatrikal dan monolog yang ditampilkan. Memecahkan keramaian menjadi kesunyian yang terdengar khidmat hingga meneteskan air mata. Suara itu merasuk ke palung hati, merasakan keperihan. Perih ketika merasakan derita yang dirasakan oleh saudara seiman ketika di timpa sebuah bencana. Apabila anggota tubuh yang satu merasakan kesakitan, maka anggota tubuh yang lainnya ikut merasakan. Seperti itulah diibaratkan sebuah ukhuwah yang terjalin antar sesama manusia.
Suasana begitu terasa padat di gedung Celebes Convention Center yang menandakan bahwa begitu antusiasnya para muslimah menghadari acara Silaturahim Majelis Muslimah Bisa Dan Gema Majelis Tak’lim dengan mengangkat tema satu hati satu aksi untuk dakwah kemanusiaan. Ahad, (2/12/2018)

Sekitar 10 ribuan muslimah yang hadir dalam kegiatan ini. Para peserta memenuhi gedung hingga hampir ke sudut-sudut ruangan. Meja registrasi tak henti-hentinya didatangi oleh membludaknya para peserta untuk dapat menghadiri acara ini. Bahkan dibatasi karena gedung sudah penuh tak ada tempat duduk lagi.

Sebelum teatrikal berlangsung, saat membuka acara secara resmi, suasana ketika itu terasa bersahabat.Ibu Liestiaty F. Nurdin istri Gubernur provinsi Sulsel mengungkapkan rasa terima kasih dan senangnya ketika di undang dalam acara yang mempertemukannya dengan para muslimah yang pesertanya di berbagai kalangan. “Saya begitu bangga dapat hadir dalam kegiatan ini. Saya juga suka dengan ilmu hal ini dibuktikan dengan senangnya saya juga membuat acara seminar-seminar untuk masyarakat, misalnya saja seminar tentang narkoba. Melihat antusias para ibu-ibu membuat saya berpikir bahwa ibu-ibu itu harus pintar. Seorang ibu adalah tiang agama. Seorang perempuan itu memiliki keistimewaan, dapat masuk ke pintu surga yang mana saja. Asalkan ia mampu menjaga kehormatan keluarganya dan mendidiknya dengan sebaik-baiknya, ungkapnya”.

Ditambah oleh Dr. Ir. Majdah M. Zain M. Si Rektor Universitas Islam Makassar. Perempuan inspiratif dan cerdas ini, ketika di depan para peserta ia mengungkapkan setiap manusia itu adalah seorang mubaligh. “Ketika bencana datang itu adalah sebuah proses bermuhasabah diri. Karena itulah setiap manusia itu adalah seorang mubalgh. Seorang pembawa amal ma’ruf dan mencegah perbuatan nahi mungkar. Dalam artian jangan pernah berkata yang terpenting bukan saya yang mengalami keburukan. Bukan anak saya yang mengalami keburukan. Bagaimanapun apapun itu sepatutnya selalu memberi kemanfaatan yang berguna bagi orang lain, kalau belum mampu cukuplah bagi keluarga kita sendiri, “ungkapnya.

Ustadzah Harisa Tipa Abidin, S. Pd, I sebagai Mubalighat, Inspirator Hijrah, Aktivis Dakwah dan kemanusiaan mengatakan bencana yang menimpa saudara kita adalah sebuah pembelajaran bagi kita semua. Ketika ustadzah mendeskripsikan pengalamannya saat berada di lokasi bencana, suasana terasa merasuk jiwa dan mencekap yang membuat para peserta turut merasakan oleh ustadzah.

Setelah acara usai, salah satu mahasiswi bernama Ani mengungkapkan rasa senangnya dapat ikut acara satu hati dan aksi kemanusiaan ia mengutarakan apa yang dirasakannya. “Saya mendapatkan sebuah hal baru dari acara ini. Teatrikal dan monolog yang begitu menyentuh benar-benar di jiwaku. Merasakan kesedihan dan rasa haru, hingga sempat meneteskan air mata,” ungkapnya sambil tersenyum

Acara yang menghadirkan hampir 10 ribu muslimah tentu bukanlah tak memiliki hambatan. Persiapan yang dilakukan itu sekitar 1 bulan sebelum acara berlangsung. Tak main-main panitia volunteer yang dikerahkan sekitar 350 orang dan 15 orang dari Event Organizer (EO). “Tindak lanjut dari acara ini sebagai respon dari problematika umat yang terjadi yang juga dinamakan sebagai Gerakan Muslimah Bisa yang biasanya diadakan 3 tahun atau 4 tahun sekali. Untuk acara ini, dalam acara yang selalu diadakan oleh Gerakan Muslimah Bisa ada hal-hal baru yang ditampilkan seperti teatrikal yang disajikan sebagai bentuk penggalangan dana dan donasi kemanusiaan, “Tutup Zelfia Amran Ketua EO.

Pasca Reuni 212 Monas Bersih, Anies Sampaikan Apresiasi

(Jakarta) wahdahjakarta.com-– Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota (Pemprov DKI) Jakarta mengapresiasi peserta reuni 212 yang tertib dan kondusif serta menjaga kebersihan area Monas yang menjadi lokasi digelarnya reuni 212. Menurut Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, usai acara Reuni 212 tidak ditemukan fasilitas rusak. Selain itu, kondisi Monas kembali bersih.

“Tidak ada kerusakan yang signifikan. Paling hanya rumput yang terinjak-injak dan itu segera diselesaikan, semuanya rapih. Saya apresiasi karena jumlah masanya banyak sekali dibandingkan dengan tahun sebelumnya,” ucap Anies sebagaimana dilansir dari inews.id.

para peserta reuni 212 membersihkan sampah usai acara reuni 212, Ahad (2/12/2018)

“Tahun ini walaupun jumlahnya lebih banyak dari tahun sebelumnya, tapi jumlah sampahnya tidak lebih banyak. Kita pikir 200 ton, jauh lebih kecil dari tahun sebelumnya,” kata Anies yang turut menyampaikan pidato di Panggung Utama reuni 212.

“Dalam empat jam suasananya bisa kembali bersih, di sini terjaga. 1.080 personel kebersihan dikerahkan, 13 mobil yang melakukan pencucian, sekaligus fakum jalan,” tutur Anies.

Kondisi Monas yang kembali bersi pasca reuni 212 berkat kesigapan panitia dan kepedulian peserta melakukan bersih-bersih usai acara. Panitia dan peserta reuni 212 terlihat membersihkan sampah yang berceceran di sekitar tempat acara.

Mereka terlihat membawa trash bag guna memasukkan sampah bekas makanan, minuman, dan alas tempat duduk yang dibuang selama acara berlangsung. Sementara peserta lainnya terlihat membawa peralatan kebersihan seperti sapu lidi dan pengki untuk membersihkan sampah di sana. (sym)

Arah Perjuangan Umat; Politik Ditentukan Oleh Dakwah

Tabligh Akbar MIUMI, “Arah Perjuangan Umat, Integrasi Keislaman dan Kebangsaan”, Sabtu (1/12/2018)

(Jakarta) wahdahjakarta.com—  Dakwah umat Islam memiliki pengaruh terhadap politik umat Islam. Demikian pernyataan Pendiri Partai Masyumi Buya Muhammad Natsir, sebagaimana dikutip Sejarawan Persis Tiar Anwar Bachtiar pada Tabligh Akbar “Arah Perjuangan Umat” yang digelar di Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru Jakarta, Sabtu (1/12/2108).

Hal itu disampaikan Kang Tiar dengan maksud meluruskan persepsi umat Islam tentang politik dan kekuasaan.

“Ketika berbicara kekuasaan, langsung meloncat pada masalah politik. Dahulu, ketika Masyumi dibubarkan pemerintah Soekarno, Buya Muhammad Natsir berkata, politik kita ditentukan oleh dakwah kita,” ujarnya.

“Sehingga sepanjang dakwah kuat dan kita berpegang pada ideologi maka insyaAllah Islam akan tetap jaya dan masa depan Indonesia adalah masa depan umat Islam,” tegasnya.

Maka dari itu, sambung Tiar politik kita tidak ditentukan oleh sebesar apa suara partai-partai Islam, tapi kekuatan dakwah Islam. Sepanjang dakwah tidak berhenti, Islam akan tetap jaya.

Ia menambahkan, pada masa kemerdekaan yang menumpahkan darah dan memunculkan identitas Indonesia adalah umat Islam.

“Setelah para ulama dan santri menggerakkan perlawanan melawan, maka kita punya definisi tentang apa itu Indonesia. Sebab, sebelumnya kita dinamai oleh orang Belanda sebagai Inlander,” tambahnya.

Kemudian, pada Abad ke-20 peran umat Islam dalam identitas kebangsaan di Indonesia semakin mengental. Saat itulah munculnya gerakan-gerakan islam semisal Syarikat Islam, Muhammadiyah, NU, Persis, Al-Irsyad.

“Oleh karena itu, jika bicara nasionalisme di Indonesia tanpa keislaman hal itu adalah nonsense,” pungkasnya.

Tabligh Akbar “Arah Perjuangan Umat, Integrasi Keislaman dan Kebangsaan” digelar Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI). Rencananya MIUMI akan roadshow ke beberapa kota di Indonesia untuk menggelar Tabligh Akbar tersebut.