Amalan Ketika Mendengarkan Adzan

Adzan merupakan seruan yang berisi pengagungan kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di dalamnya terdapat penegasan akan kemahabesaran Allah Ta’ala, Syahadatain, serta panggilan untuk mendatangi shalat dan menyambut kemenangan.

Oleh karena itu selayaknya panggilan adzan tidak dibiarkan luput begitu saja saat dikumandangkan. Namun kadang ia lewat begitu saja tanpa disimak dengan baik. Bahkan kadang sebagian orang  tetap sibuk dengan aktivitasnya dan mengobrol atau mendengarkan hal lain saat adzan dikumdangkan.

Hal itu tentu saja menyalahi adab. Karena sebagai Muslim dianjurkan memperhatikan adab dan etika saat mendengar adzan. Ada lima amalan yang sangat dianjurkan saat adzan berkumandang. Amalan-amalan ini meruapakan adab mendengarkan adzan.

Kelima amalan tersebut adalah;

Pertama, Mengucapkan Seperti Ucapan Muadzin

Ini berdasarkan hadits shahih;

عن أَبي سعيدٍ الخُدْرِيِّ رضيَ اللَّه عنْهُ أَنَّ رسُول اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قال: ” إِذا سمِعْتُمُ النِّداءَ، فَقُولُوا كَما يقُولُ المُؤذِّنُ ” (متفق عليه

Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

“Jika kalian mendengarkan adzan, maka katakanlah seperti perkataan muadzin”. (Muttafaq ‘alaih).

Dalam hadits lain yang diriwayatkan Imam Muslim  dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

” إِذا سمِعْتُمُ النِّداءَ فَقُولُوا مِثْلَ ما يَقُولُ ” (رواه مسلم

“Jika kalian mendengarkan adzan, maka katakanlah seperti yang dia katakan”. (HR. Muslim)

Tatacara menjawab adzan atau mengatakan seperti ucapan yang dikatakan muadzin dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaiman dalam hadits riwayat Imam Muslim, dari Amirul Mu’minin Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

” إذا قال المؤذن: الله أكبر الله أكبر، فقال أحدكم: الله أكبر الله أكبر، ثم قال: أشهد أن لا إله إلا الله قال: أشهد أن لا إله إلا الله، ثم قال: أشهد أن محمداً رسول الله قال: أشهد أن محمداً رسول الله، ثم قال: حي على الصلاة قال: لا حول ولا قوة إلا بالله، ثم قال حي على الفلاح قال: لا حول ولا قوة إلا بالله، ثم قال: الله أكبر الله أكبر قال: الله أكبر الله أكبر، ثم قال: لا إله إلا الله، قال: لا إله إلا الله من قلبه دخل الجنة ” (رواه مسلم

Jika muadzin mengucapkan Allahu Akbar, Allahu Akbar, lalu salah seorang diantara kalian mengucapkan Allah Akbar Allahu Akbar, kemudian (muadzin) mengucapkan Asyhadu An La Ilaha Illallah, dia mengucapkan Asyhadu An La Ilaha Illallah, lalu (muadzin) mengucapkan Asyhadu Anna Muhammad[an] Rasulullah, ia mengucapkan Asyhadu Anna Muhammad[an] Rasulullah, kemudian (muadzin) mengucapkan Hayya ‘alas Shalah, ia mengucapkan La Haula Wa La Quwwata Illa Billah, kemudian (muadzin) mengucapkan Hayya ‘alal Falah, ia mengucapkan La Haula Wa La Quwwata Illa Billah, kemudian (muadzin) mengucapkan La Ilaha Illallah, ia mengucapkan La Ilaha Illlah (ikhlas) dari hatinya maka ia akan masuk surga.” (HR. Muslim).

Hadits ini menerangkan tentang cara menjawab adzan, yakni mengucapkan seperti perkataan muadzin, kecuali pada ucapan Hayya ‘alas Shalah dan Hayya ‘alal Falah, maka dijawab dengan La Haula Wa La Quwwata Illa Billah. Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjanjikan keutamaan yang besar bagi yang melakukan amalan ini, yaitu masuk surga.

Kedua, Bershalawat Setelah Muadzin Selesai Mengumandangkan Adzan

Setelah kumandang adzan selesai, maka dianjurkan mengucapkan shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana hadits ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

” إِذا سمِعْتُمُ النِّداءَ فَقُولُوا مِثْلَ ما يَقُولُ، ثُمَّ صَلُّوا علَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى علَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ بِهَا عشْراً، ” (رواه مسلم).

“Jika kalian mendengar adzan maka ucapkanlah seperti ucapan muadzin, kemudian bershalawatlah kepadaku, karena siapa yang bershalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalwat kepadanya sepuluh kali”. (HR. Muslim).

Makna dan maksud shalawatNya Allah adalah rahmat dan ampunan. Artinya orang yang bershalwat kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam satu kali makan memperoleh rahmat dan ampunan Allah sepuluh kali lipat.

Lafadz shalawat yang dianjurkan untuk dibaca setelah adzan adalah Shalawat Ibrahimiyah, yaitu;

للهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على آل إبراهيم إنك حميد مجيد

Ketiga, Memohon Wasilah Untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Sebagaimana dalam hadits Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, beliau mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

 

” إِذا سمِعْتُمُ النِّداءَ فَقُولُوا مِثْلَ ما يَقُولُ، ثُمَّ صَلُّوا علَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى علَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ بِهَا عشْراً، ثُمَّ سلُوا اللَّه لي الْوسِيلَةَ، فَإِنَّهَا مَنزِلَةٌ في الجنَّةِ لا تَنْبَغِي إِلاَّ لعَبْدٍ منْ عِباد اللَّه وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُو، فَمنْ سَأَل ليَ الْوسِيلَة حَلَّتْ لَهُ الشَّفاعَةُ ” (رواه مسلم).

Jika kalian mendengar adzan maka ucapkanlah seperti ucapan muadzin, kemudian bershalawatlah kepadaku, karena siapa yang bershalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalwat kepadanya  (memberi ampunan padanya) sebanyak sepuluh kali. Kemudian mintalah wasilah pada Allah untukku. Karena wasilah itu adalah tempat di surga yang hanya diperuntukkan bagi hamba Allah, aku berharap akulah yang mendapatkannya. Siapa yang meminta untukku wasilah seperti itu, dialah yang berhak mendapatkan syafa’atku.” (HR. Muslim).

Lafadz ucapan permintaan wasilah tersebut terdapat dalam do’a setelah adzan

اللَّهُمَّ رَبَّ هذِهِ الدَّعوةِ التَّامَّةِ، والصَّلاةِ الْقَائِمةِ، آت مُحَمَّداً الْوسِيلَةَ، والْفَضَيِلَة، وابْعثْهُ مقَاماً محْمُوداً الَّذي وعَدْتَه،

Keempat, Membaca Dua Kalimat Syahadat dan Radhitu Billahi Rabba[n] . . .

Setelah mendengarkan dan menjawab adzan dianjurkan mengucapkan dua kalimat syahadat dan dilanjutkan dengan Radhitu Billahi Rabba[n]  wa Bi Muhammadi[n] Rasula[n] wa Bil Islami Dina[n]

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا. غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ

Siapa yang mengucapkan setelah mendengar muadzin: Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarika lah wa anna muhammada[n] ‘abduhu wa rasuluh, radhitu billahi rabbaa wa bi muhammadin rasulaa wa bil islami diinaa (aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, tidak ada sekutu baginya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, aku ridha sebagai Rabbku, Muhammad sebagai Rasul dan Islam sebagai agamaku), maka dosanya akan diampuni.” (HR. Muslim).

Kelima, Berdo’a Sesuai Keinginan dan Kebutuhan

Dianjurkan pula berdo’a sesuai keinginan dan kebutuhan saat mendengarkan adzan. Berdasarkan anjuran Nabi kepada salah seorang sahabat yang bertanya tentang keutamaan muadzin. Sebagaimana dikabarkan oleh ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu,  seseorang pernah berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya muadzin selalu mengungguli kami dalam pahala amalan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قُلْ كَمَا يَقُولُونَ فَإِذَا انْتَهَيْتَ فَسَلْ تُعْطَهْ

Ucapkanlah sebagaimana disebutkan oleh muadzin. Lalu jika sudah selesai kumandang azan, mintalah (berdoalah), maka akan diberi (dikabulkan).” (HR. Abu Daud dan Ahmad).

Artinya, doa sesudah adzan termasuk di antara doa yang diijabahi, sebagaimana dijelaskan dalam hadits lain,  Dari Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

“ثنتانِ ما تُرَدَّانِ: الدعاءُ عند النداءِ، وتحتَ المطرِ ” (رواه الحاكم وحسنه السيوطي والألباني).

“Ada dua do’a yang tidak tertolak, (yakni) do’a saat (setelah) adzan dan saat turun hujan”. (HR. Hakim).

Dalam hadits lain riwayat Imam Tirmidzi dikabarkan bahwa,

” الدُّعَاءُ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ ” (رواه أبو داود والترمذي وصححه الألباني).

 “Do’a yang tidak tertolak (diantaranya) adalah do’a antara dzan dan iqamat” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

Wallahu a’lam bis Shawab. (Bogor, 5/12/2018)

Harta Tak Dibawa Mati

Harta Tak Dibawa Mati

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَا يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِ شَيْئًا ۚ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ ۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah. (Qs. Luqman:33)

Tafsir dan Penjelasan

Allah Subahanu wa ta’ala memperingatkan manusia terhadap hari berbangkit dan memerintahkan kepada mereka untuk bertakwa kepada-Nya, takut kepada-Nya, dan khawatir menghadapi hari kiamat, karena pada hari itu:

{لَا يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ}

seorang bapak tidak dapat menolong anaknya. (Luqman: 33)

Yakni seandainya seorang bapak hendak menebus anaknya dengan dirinya, pastilah permintaan tebusannya itu ditolak. Demikian pula halnya seandainya seorang anak bermaksud menebus bapaknya dengan dirinya, tidak diterima pula.

Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala kembali menasihati mereka melalui firman-Nya:

{فَلا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا}

maka jangan sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu. (Luqman: 33)

Maksudnya, jangan sekali-kali membuat dirimu terlena kerena hidup tenang di dunia hingga melupakan negeri akhirat.

{وَلا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ}

dan jangan pula penipu (setan) memperdayakan kamu dalam (menaati) Allah. (Luqman: 33)

Jangan pula kamu biarkan setan memperdayakanmu. Demikianlah menurut pendapat Ibnu Abbas, Mujahid, Ad-Dahhak, dan Qatadah; karena sesungguhnya setan itu selalu memperdayakan manusia, menjanjikan dan memberikan angan-angan kepadanya. Padahal tiada sesuatu pun dari apa yang dijanjikan setan itu terpenuhi, bahkan sebagaimana yang disebutkan oleh firman-Nya:

{يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلا غُرُورًا}

Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka. (An-Nisa: 120)

Wahb ibnu Munabbih telah mengatakan bahwa Uzair alaihis salam pernah berkata, “Ketika aku menyaksikan musibah yang menimpa kaumku, maka kesedihanku makin berat, kesusahanku bertambah banyak, dan tidak dapat tidur. Maka aku memohon kepada Tuhanku dengan merendahkan diri kepada-Nya, mengerjakan salat dan puasa, dan selama kujalani hal itu tiada henti-hentinya aku menangis. Tiba-tiba datanglah malaikat kepadaku, lalu aku bertanya kepadanya, ‘Ceritakanlah kepadaku, apakah arwah orang-orang yang siddiqin (beriman) dapat memberikan syafaat (pertolongan) kepada arwah orang-orang yang zalim, atau para bapak dapatkah memberi syafaat kepada anak-anak mereka?’ Malaikat itu menjawab,

‘Sesungguhnya hari kiamat adalah hari keputusan peradilan dan kekuasaan yang maha menang, tiada kemurahan padanya dan tiada seorang pun yang dapat berbicara kecuali dengan seizin Tuhan Yang Maha Pemurah. Seorang bapak tidak dapat dihukum karena dosa anaknya, begitu pula seorang anak tidak dapat dihukum karena dosa orang tuanya, dan seseorang tidak dapat dihukum karena dosa yang dilakukan saudaranya, dan seorang budak tidak dapat dihukum karena dosa majikannya. Tiada seorang pun yang diperhatikannya melainkan hanya dirinya sendiri, tiada seorang pun yang bersedih hati karena kesedihan orang lain, dan tiada seorang pun yang merasa kasihan kepada orang lain. Masing-masing orang di hari kiamat hanya kasihan kepada dirinya sendiri. Tiada seseorang pun yang dihukum karena kesalahan orang lain; setiap orang disibukkan oleh kesusahannya sendiri, menangis karena kesalahannya sendiri, dan ia hanya memikul dosanya sendiri, dan tidak dibebankan kepada seseorang dosa orang lain, ia hanya menanggung dosanya sendiri’.” Riwayat Ibnu Abu Hatim.

(Sumber: Tafsir Ibnu Katsir)