DPP IPI: Poligami Tidak Melanggar Hukum, Mengapa Ditolak?

(Jakarta) wahdahjakarta.com– Ikatan Pesantren Indonesia (IPI) heran dan menyayangkan sikap PSI dan Komnas Perempuan yang menolak praktik poligami. Karena jelas poligami merupakan bagian dari syariat Islam yang telah diatur dalam hukum nasional. Dalam  UUD 1945 dijamin kebebasan bagi pemeluk agama untuk menjalankan ibadah sesuai ajaran agamanya masing-masing.

“Kita sangat sayangkan adanya politisi yang menolak akidah hukum Islam (poligami), padahal itu adalah ajaran Islam dan tidak bertentangan dengan hukum kita, mengapa mereka harus menolak,” kata Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) IPI, KH Zaini Ahmad sebagaimana dilansir dari Republika.co.id, Senin (17/12).

KH Zaini mengatakan, jika memang tidak setuju boleh tapi jangan menolak apalagi membenci. Dia juga mengingatkan kepada para politisi tersebut agar sadar bahwa Indonesia adalah negara yang beragama. Sehingga tidak boleh ada yang melarang-larang pemeluknya untuk menjalankan syariah agama.

“Kalau mau melarang itu seharusnya larang prostitusi, peredaran minuman keras, dan korupsi yang semua agama melarangnya, jangan (melarang) syariah Islam seperti poligami yang dibolehkan dengan aturan tertentu,” kata Pengasuh Pondok Pesantren Al-Iklas Pasruruan, Jawa Timur itu.

Sebelumnya, Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Grace Natalie menyerukan revisi UU Nomor 1/1974 tentang Perkawinan terutama terkait dengan poligami.

Grace menyatakan PSI tidak akan pernah mendukung praktik poligami. Alasannya, poligami adalah bentuk ketidakadilan yang dilembagakan oleh negara.

Sehingga, menurut Grace, UU tersebut harus direvisi agar tidak ada lagi perempuan dan anak-anak yang menjadi korban ketidakadilan.

Selain itu, Grace juga mengatakan partainya tidak akan pernah mendukung perda yang berlandaskan agama seperti Perda Syariah dan Perda Injil. []

Sumber: Republika.co.id

Si Bung Besar Pengamal Poligami

Si Bung Besar Pengamal Poligami (Oleh: Jemmy Ibnu Suardi)

Politik anti Agama yang digawangi partai tertentu, membuat panas situasi dunia perpolitikan nasional. Diawali terang-terangan menolak Perda berbasis Agama,  dan kini masuk lebih spesifik, menolak amalan poligami.

Narasi yang dibangun, seolah basis politik agama intoleran, radikal, tidak menghargai ko-eksistensi, dan jahat terhadap wanita. Sedangkan politik berbasis anti agama yang diusungnya adalah humanis,  ramah,  damai dan baik bagi wanita.

Praktik poligami sebenarnya bukan hal yang baru, di setiap agama dan kebudayaan sudah lumrah dan biasa. Apakah tradisi poligami hanya ada dalam Islam?  Jawabannya tidak,  setiap agama dan kebudayaan memiliki sejarah dan amalan masing-masing tentang poligami.

Tradisi Hindu misalnya,  Dewa Krisna dalam sejarahnya memiliki ribuan istri, tradisi raja-raja Hindustan,  China, Persia dan Nusantara juga tak sedikit yang punya istri lebih dari empat dan memiliki selir lebih dari seratus bahkan ribuan.

Di Barat sendiri,  Raja-raja Eropa sudah biasa memiliki puluhan istri dan selingkuhan. Dalam Bibel, walaupun dibantah oleh Al-Qur’an, bahkan dikatakan King Solomon memiliki 7000 istri,  ditambah selir-selirnya. King David juga memiliki istri yang banyak, bahkan merebut istri orang bernama Batseba.

Barat memang traumatis dengan institusi rumah tangga, hal ini disebabkan perlakuan terhadap wanita yang merendahkan, akhirnya melahirkan gerakan Feminisme . Misalnya sejarah Gereja di Barat banyak menjadikan wanita sebagai target inquisisi, disamping itu wanita hanya dijadikan alat komoditas pemuas nafsu lelaki. Feminis radikal bahkan sangat membenci laki-laki, lesbian lebih di akomodir daripada menikah, berumah tangga dan berpotensi ditindas  lelaki.

Soekarno, bapak bangsa Indonesia pun adalah pengamal praktik poligami. Sebagai seorang Soekarnois, sudah semestinya banyak belajar dan mengambil khazanah keilmuan dari Bung Karno, tidak hanya cakap dalam berpidato dan menjadi pemimpin tertinggi revolusi,  Bung Karno jauh dari kata orang yang sebatas teoritis,  beliau adalah seorang praktisi yang ekspert diberbagai bidang. Salah satunya soalan teori Poligami.

Meskipun pandangan awal Bung Karno sempat risih dengan poligami, dan berpolemik dengan Buya Hamka tentang soalan ini,  akhirnya beliau justru mengamalkan poligami.

Bung Karno, The Founding Father of Republic punya banyak istri, tidak hanya dalam negeri,  Bung Karno juga punya istri orang luar negeri,  salah satunya gadis Jepang yang di nikahi, Ratna Sari Devi dikenal Dewi Soekarno. Seandainya Bung Karno tau, ada segelintir politisi newcomer mengusung politik anti poligami, tentu Si Bung Besar akan berang,  “Sontoloyo”, mungkin ini yang akan terucap dari mulut Bung Karno. (Jemmy Ibnu Suardi (Direktur Center for Islamic Studies in the Archipelago (CISA) Darussalam).

Serang, 17 Desember 2018.

MIUMI: Jalan Kejayaan Ummat Adalah Dakwah, Bukan Politik Praktis

Sekjen MIUMI, Ustadz Bachtiar Nasir (UBN) dan Wakil Ketua MIUMI yang juga Ketua Umum Wahdah Islamiyah Ustadz Zaitun Rasmin (UZR) s pada tabligh Akbar di ajang Ummat Fest 2018, Makassar.

(Makassar) wahdahjakarta.com—Sekretaris Jenderal Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (Sekjen MIUMI) Ustadz Bachtian Nasir (UBN) menyatakan,  satu-satunya jalan yang bisa ditempuh agar ummat ini jaya adalah dengan dakwah.

“Kami meyakini bahwa jalan kejayaan adalah dakwah bukan politik praktis,” ujarnya pada Tabligh Akbar, “Menuju Kejayaan Ummat, Hari Dimana Kita Bersama” di ajang Ummat Fest 2018, Makassar, Sabtu (15/12/2018).

Oleh karena itu ia bersama tokoh MIUMI lainnya menolak secara halus untuk terlibat dalam politik praktis sebagai juru kampanye.

“Makanya saya dengan ustad Zaitun ketika kemarin diminta untuk menjadi jurkam kami menolak. Ranah kami bukan politik praktis tapi politik moral,” tegasnya.

Pimpinan Ar-Rahman Qur’anic Learning (AQL) ini mengatakan, keberpihakannya dalam politik praktis adalah mendukung yang berdiri di atas ilmu dan keadilan.

“Keberpihakan kita dalam politik jelas. Siapa yang berdiri diatas ilmu dan keadilan maka kita dukung. Siapa yang mrnyelisihinya maka kita lawan,” tegasnya yang kemudian disambut gema takbir dari para peserta.

Ummat Islam Indonesia kata UBN saat ini menjadi leading sektor persatuan dan kejayaan ummat Islam dunia.

“Ghiroh ke ummatan kita terhadap agama saat ini telah menanjak drastis, itu karena jiwa sosial ummat Islam yang kuat dalam persatuan,” imbuhnya. []

Santri Tahfidz Wahdah Bogor Raih Prestasi dalam Kejuaraan  Silat Jampang Competition

Muhammad Afadin, Kelas VIII SMP Al-Qur’an Wahdah Islamiyah Cibinong, Bogor (peraih medali emas) bersama Asisten pelatih Adlan Fakhri (Santri Tahfidz WI Cibinong Bogor Kelas XI)

(Cibinong) wahdahjakarta.com- Tujuh santri Tahfidz Wahdah Islamiyah Cibinong Bogor Jawa Barat berhasil meraih juara dalam kejuaraan “Silat Jampang Competition 4”, Sport Hall COSTRAD Cilodong, Depok, Ahad (16/12/2018).

“Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmus Shalihat, tujuh santri kita berhasil meraih prestasi dalam kejuaran pencak silat yang diselenggarakan oleh Kampung Silat Jampang di Markas Kostrad Cilodong Depok”, ujar Syamsuddin pimpinan Pesantren Tahfidz Wahdah Islamiyah Bogor, Senin (17/12/2018).

“Satu santri meraih medali emas, tiga meraih medali perak, dan tiga medali perunggu”, imbuhnya.

Menurut asisten pelatih pencak silat Tapak Suci Wahdah Islamiyah Cibinong, Adlan Fakhri, pretasi ini tidak lepas dari taufiq Allah kemudian latihan yang sungguh-sungguh.

“Hasil tersebut bisa mereka dapatkan setelah berlatih sungguh sebulan sebelum pertandingan,” ujar Adlan (kelas XI) yang juga turut serta sebagai peserta dalam kompetisi ini.

Kompetisi yang mempertandingkan 50 partai dan 16 kelas ini diikuti oleh 1100 pesilat. “Pesantren tahfidz Wahdah Islamiyah menurunkan 7 pesilat, dua santri SMP dan lima santri SMA”, jelas Adlan.

Tujuh santri tersebut tambah Adlan adalah; Muhammad Afadin (Kelas VIII meraih juara 1), Abdul Malikul Mulki Hasmollah (Kelas XI meraih juara 2), Muhammad Hafidzul (Kelas XI juara 2), serta Muhammad Kholid Abdullah (Kelas XI juara 3), Zaid Ilmi Ar-Rizqi Ramadhan (Kelas XI juara 3), dan Hudzaifah bin Jahada (Kelas IX juara 3).

Pencak Silat merupakan salah satu kegiatan ekstra kurikuler (ekskul) bagi santri Tahfidz Wahdah Islamiyah Cibinong, Bogor. Selain pencak silat, ekskul bela diri lain yang diikuti santri Tahfidz Wahdah adalah karate.

Di cabang karate santri Wahdah Bogor juga pernah meraih prestasi dalam kejuaran karate sekabupaten Bogor yang digelar pada  Sabtu (10/11/2018) di Cibinong Bogor Jawa Barat. []

Komnas Perempuan Sebut Poligami Tak Ada dalam Islam, Kyai Cholis Nafis: Itu Jahl Murakkab

KH. Cholil Nafis Photo: Youtube

(Jakarta) wahdahjakarta.com — Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Cholil Nafis mengangap pernyataan Komnas Perempuan yang sebut poligami bukan bagian dari Islam sebagai jahl murakkab (bodoh kuadrat).

“Soal tak senang poligami silakan, tapi jika mengatakan tak ada dalam ajaran Islam itu jahl murakkab (bodoh kuadrat, Red), rabun iman dan tak baca hadits dan sejarah Islam,” ucap Kyai Cholil sebagaimana dilansir dari Republika.co.id, Senin (17/12/2018).

Diketahui, baru-baru ini Komisioner Komnas Perempuan Imam Nahe’i mengeluarkan pernyataan kontroversial yang menyebut bahwa poligami bukan ajaran Islam. Pernyataan itu dikeluarkan Nahae’i sebagai dukungan terhadap sikap Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang melarang praktik poligami kepada kader dan pengurusnya.

“Yang benar itu PSI dan Komnas Perempuan yang tak mengerti Islam. Bukan sebaliknya ya bahwa poligami bukan ajaran Islam,” ujar Pimpinan Pondok Pesantren Cendikia Amanah Depok ini.

Menurut dia, Islam telah jelas mengajarkan tentang poligami dengan beberapa syaratnya. Karena itu, jika ada yang mengatakan bahwa poligami bukan ajaran Islam, maka orang tersebut tidak membaca hadits dan sejarah Islam.

Kiai Cholil mengatakan, salah satu tanda akhir zaman itu adalah ketika ada orang tak paham atau ruwaibidhah yang ikut campur dalam urusan agama Islam. Karena itu, dia menyarankan agar PSI dan Komnas Perempuan belajar lagi tentang ajaran Islam.

“Coba deh baca Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam itu poligami, sahabat juga poligami, kok Komnas Perempuan bilang tak ada dalam ajaran Islam,” kata Kiai Cholil.

Kiai Cholil mengaku jengkel dengan pernyataan dari PSI dan Komnas HAM. “Habis kata-kata saya, jengkelnya kepada PSI dan Komnas Perempuan itu, kok yo hanya cari ribut bukan menyelesaikan urusan bangsa ini,” tegasnya. []

Sumber: Republika.co.id

Wantim MUI Kecam Penindasan Atas Muslim Uighur

Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI) Prof. Din Syamsuddin. Photo: Republika.co.id

(Jakarta) wahdahjakarta.com— Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI), Din Syamsuddin, mengecam keras penindasan atas Muslim Uighur di Provinsi Xinjiang, Republik Rakyat China (RRC).

Seperti diberitakan media massa internasional, Muslim Uighur di Provinsi Xinjiang, China mengalami penyiksaan, pengucilan, dan pelarangan menjalankan ajaran agama.

Penindasan seperti itu, kata Din Syamsuddin, merupakan pelanggaran nyata atas Hak Asasi Manusia, dan hukum internasional. Hak Asasi Manusia dan International Convenant on Social and Political Rights menegaskan adanya kebebasan beragama bagi segenap manusia.

“Maka Muslim Uighur yang merupakan mayoritas penduduk di Provinsi Xinjiang memiliki kebebasan menjalankan ajaran agamanya,” ujar Din dalam pernyataannya di Jakarta sebagimana dilansir hidayatullah.com, Senin (17/12/2018).

Din Syamsuddin yang juga President of Asian Conference on Religions for Peace (ACRP) meminta agar penindasan itu dihentikan.

Din Syamsuddin juga mendesak Organisasi Kerja sama Islam (OKI) untuk menyelamatkan nasib umat Islam Uighur dan bersikap tegas terhadap rezim China untuk memberikan hak-hak sipil bagi mereka.

Secara khusus, Dewan Pertimbangan MUI meminta Pemerintah Indonesia untuk menyalurkan sikap umat Islam Indonesia dengan bersikap keras dan tegas terhadap Pemerintah China dan membela nasib umat Islam di sana.

Kepada umat Islam sedunia, Din Syamsuddin mengimbau untuk menyalurkan tangan pertolongan bagi saudara-saudara Muslim lewat cara-cara yang memungkinkan. []

Sumber: Hidayatullah.com

Majelis Ta’lim Taman Sentosa Cikarang Gelar Tabligh Akbar Cinta Rasul

Tabligh Akbar , “Cinta Rasul” Majelis ta’lim Taman Sentosa (MTTS) Cikarang, Ahad (16/12/2018)

(Cikarang) wahdahjakarta.com— Majelis Ta’lim Taman Sentosa (MTTS) Cikarang, Jawa Barat menyelenggarakan Tabligh Akbar Cinta Rasul, Ahad (16/12/2018).

“Acara ini adalah salah satu kegiatan syiar dakwah gabungan dalam rangka menjalin Ukhuwah Islamiyah sesama muslim, yang diinisiasi oleh Majelis Ta’lim Taman Sentosa,” ujar Edwin Nuryadi, ketua Dewan Kemakmuran Masjid Jami’ Nurul Yaqin (MJNY) Taman Sentosa Cikarang.

Tabligh Akbar dengan tema “Meningkatkan Cinta Kepada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,” ini menghadirkan Ustad Dadang Hoerudin sebagai penceramah. Dalam taushiyahnya  Ketua Yayasan Mihrab Qolbi Jakarta itu menyampaikan pentingnya mencintai dan meneladani Rasulullah dalam seluruh aspek kehidupan.

“Sebab cinta yang kita persembahkan kepada Allah dan cinta kita kepada Rasulullah menunjukan derajat keimanan kita di mata Allah Subhanahu Wa Ta’ala”, ungkpanya.

“Kita mencintai Rasulullah agar supaya kita selamat di dunia dan di Akhirat. Begitu pula Rasulullah yang sangat mencintai kita sebagai ummatnya. Bahkan sampai akhir hidup beliau yang diperjuangkan adalah Umatnya sebagi bukti cinta beliau kepada kita,” tuturnya.

Majelis Ta’lim Taman Sentosa (MTTS) jelas Edwin merupakan gabungan dari beberapa majelis ta’lim di perumahan Taman Sentosa.

“Di Perumahan Taman Sentosa ada beberapa masjid dengan majelis ta’lim masing-masing. Kemudian semuanya bergabung dalam wadah Majelis Ta’lim Taman Sentosa (MTTS)”, kata Edwin.

Tahun ini MTTS bekerjasama dengan Masjid Jami’ Nurul Yaqin (MJNY) menyelenggarakan Tabligh Akbar yg bertempat di MJNY sebagai salah satu masjid di Perumahan Taman Sentosa.

Dalam sambutannya selaku Ketua DKM, Edwin Nuryadi mengajak kepada seluruh jamaah yang hadir di acara Tabligh Akbar itu untuk senantiasa mensyiarkan dakwah Islamiyah di berbagai tempat, tidak kecuali di Perum Taman Sentosa, Cikarang. []