Indahnya Poligami Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

Indahnya Poligami Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Oleh : Ahmad Sastra (Kepala Divisi Riset dan Literasi Forum Doktor Islam Indonesia)

Sebelum Rasulullah berpoligami, beliau beristri satu yakni  Khadijah binti Khuwailid hingga wafatnya. Bermula dari berita yang disampaikan oleh Maisarah ditambah Waraqah bin Naufal akan kemuliaan akhlak Muhammad, maka hati Khadijah tertambat kepada lelaki bergelar al Amin itu.

Dengan penuh ketulusan, Khadijah ingin menghabiskan usinya dengan menemani pemuda Muhammad yang saat itu masih berusia 25 tahun, sementara Khadijah berusia 40 tahun. Saat Muhammad menemuinya, Khadijah berkata, Hai anak paman, sungguh aku sangat mencintaimu karena keluargamu, kemuliaanmu, rasa tanggungjawabmu, kebaikan akhlakmu dan kejujuranmu.

Saat itu meskipun Khadijah adalah wanita cerdas, bijaksana, mulia nasabnya karena dari suku Quraisy dan bahkan seorang wanita milyuner yang tiada bandingnya, namun dengan tulus menawarkan diri kepada Muhammad untuk dinikahinya. Padahal banyak lelaki kaya raya dan terhormat yang berkeinginan menikahinya, namun tidak satupun yang berhasil menundukkan hati Khadijah.

Selanjutnya Rasulullah ditemani paman beliau Hamzah menemui Khuwailid bin Asad untuk meminang dan menikahi Khadijah dengan mas kawin 20 ekor onta. Khadijahlah wanita pertama dan utama yang menemani Rasulullah dalam memperkuat fisik dan mental, memperkuat tekadnya, mendukung perjuangannya mengemban risalah Islam. Khadijah dengan seluruh pengorbanannya selalu memperkuat perjuangan Rasulullah, bukan memperlemah.

Hingga wafatnya Khadijah, Rasulullah tidak berpoligami. Ada dua faktor yang mendorong Rasulullah tidak pernah menikah dengan wanita lain selama Khadijah masih hidup.

Pertama, sebagai bentuk penghargaan Rasulullah atas semangat jihad Khadijah dalam menciptakan ghirah dan keteguhan pada diri Rasulullah.

Kedua, dakwah Islam ketika itu kondisinya tidak menuntut Rasulullah untuk berpoligami. Sebab saat itu al marhalan at tasyiiyah</em> (pembangunan hukum syara) belum dimulai dan musuh-musuh Islampun baru sebatas kaum Quraisy.

Namun, pasca wafatnya Khadijah dan hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah mulailah periode baru dalam perjuangan dakwah beliau. Pada periode dakwah di Madinah inilah Rasulullah dituntut untuk berpoligami, padahal poligami adalah perkara berat bagi setiap orang dalam mengharmoniskan istri yang lebih dari satu.

Secara umum tujuan poligami yang dilakukan Rasulullah di Madinah adalah demi meraih kemaslahatan yang lebih besar, tuntutan dakwah dan dalam rangka memperkuat sendi-sendi negara Islam Madinah. Hal ini membuktikan Rasulullah sebagai seorang politikus handal, disamping beliau adalah seorang Nabi yang menerima wahyu.

Dimensi Dakwah di Balik Poligami Rasulullah

Secara khusus setidaknya ada tiga dimensi dakwah dan politik dibalik poligami Rasulullah.

Pertama, dimensi dakwah dan politik dibalik poligami Rasulullah adalah  dimana seluruh perilaku Rasulullah, baik dalam aspek khusus (pribadi) maupun aspek umum semuanya merupakan teladan yang mesti diikuti oleh seluruh umatnya (QS 33 : 21).

Dalam keteladanan aspek pribadi inilah para istri Rasulullah berperan sebagai penerjemah dan penyampai atas kehidupan Rasulullah yang sifatnya khusus kepada manusia serta sebagai pengontrol peraturan dakwah diantara barisan wanita.

Kedua, dimensi dakwah dan politik dibalik poligami Rasulullah adalah dimana seluruh istri Rasulullah masing-masing memiliki keistimewaan yang unik. Mulai dari yang masih berusia muda, berusia tua dan bahkan ada yang merupakan wanita,  anak dari musuh Rasulullah. Ada pula dari istri Rasulullah merupakan anak wanita orang yang sangat mengaguminya, ada pula yang berjiwa penyayang terhadap anak yatim.

Dengan ragam tipologi istri-istri Rasulullah inilah cara Rasulullah mengajarkan sekaligus mendakwahkan kepada para sahabatnya dan kaum muslimin atas undang-undang (peraturan) yang indah sebagai pengajaran kepada mereka bagaimana cara bergaul yang sukses dengan tiap-tiap tipologi manusia.

Ketiga, dimensi dakwah dan politik dibalik poligami Rasulullah adalah sebagai jembatan perdamaian di antara suku-suku yang memusuhi Rasulullah. Sebab pasca berdirinya Daulah Islam Madinah, banyak suku kemudian memusuhi Rasulullah. Poligami Rasulullah dapat menghentikan permusuhan, sebab tradisi di Arab ada kewajiban menjaga dan melindungi siapa saja yang menikah dengan wanita dari kalangan mereka. Orang Arab biasa menamakan dirinya sebagai al Ahma` (para pelindung). Dengan tradisi inilah, poligami Rasulullah dapat meringankan kadar permusuhan mereka terhadap Rasulullah.

Namun demikian, poligami yang diperbolehkan dalam Islam justru mendapat serangan bertubi-tubi dari musuh-musuh Islam hari ini, terutama Amerika dan Inggris dengan mendirikan Universitas Amerika di Bairut dan di Iskandariyah untuk melemahkan ajaran Islam ini.

Tahapan Musuh Islam Serang Ajaran Islam Melalui Poligami

Setidaknya ada tiga tahapan musuh-musuh Islam dalam menyerang ajaran Islam melalui isu poligami ini.

Pertama, marhalah at tasykik, yaitu tahapan menciptakan keraguan terhadap kelayakan dan kebaikan nilai dan prinsip Islam, seperti masalah bolehnya poligami, cerai, haramnya riba dan sebagainya.

Kedua, marhalah an Nabdu, yakni tahapan menjatuhkan nilai dan prinsip Islam, setelah mereka meyakinkan kepada umat Islam, bahwa nilai dan prinsip Islam tidak layak lagi.

Ketiga, marhalah ath tharhu, yakni tahapan penawaran nilai-nilai dan prinsip sekulerisme Barat sebagai pengganti nilai dan prinsip Islam.

Konspirasi musuh Islam untuk menjatuhkan nilai dan prinsip Islam terus berlanjut hingga kini dan akan terus berlanjut. Kaum kafir musuh Islam masih begitu yakin bahwa kaum muslimin tidak akan pernah ditaklukkan selama mereka masih berpegang teguh kepada nilai dan prinsip Islam. Karena itu waspadalah atas konspirasi jahat musuh-musuh Islam dalam merobohkan nilai dan prinsip Islam dibalik serangan pemikiran seputar hukum poligami.

Jadi, poligami adalah ajaran Islam yang hukumnya mubah selama memiliki niat yang baik. Lebih utama lagi jika pelaku poligami mampu mengambil hikmah dakwah dan politik dibalik poligami Rasulullah. Meski berat, jika diniatkan ibadah, maka akan membawa hikmah dan kebaikan. Selamat bagi yang sudah berpoligami, bagi yang belum, tidak jadi masalah dan tidak perlu dipermasalahkan.

Jika ada partai yang menolak poligami, berarti anti Islam, haram umat Islam memilihnya. Gampang kan ? [KotaHujan,18/12/18 ]

Ahmad Sastra (Kepala Divisi Riset dan Literasi Forum Doktor Islam Indonesia)

Bersama Dakta, LAZIS Wahdah Menyapa Umat

BEKASI – LAZIS Wahdah menyapa umat melalui Program Belajar Quran Bersama Pakar, Kamis (12/12) pukul 18.00 WIB melalui Radio Dakta FM. Radio yang banyak menyajikan program seputar keislaman ini berkerjasama dengan LAZIS Wahdah baik dalam bentuk program kajian/tausyiah, pendidikan Quran maupun penggalangan donasi secara berkelanjutan.

“Program ini merupakan bentuk layanan kami kepada umat dengan mengadakan Program Belajar Qur’an bersama Pakar”, ujar Direktur LAZIS Wahdah Jakarta, Ust.Yudi Wahyudi, ST. “Belajar Quran bersama Pakar perlu dirutinkan mengingat masih banyak masyarakat yang belum paham membaca Al Quran dengan cara yang benar,” tambahnya .

Senada dengan Ust. Yudi Wahyudi, Tim Belajar Qur’an Bersama Pakar, Ust Muhammad Nur Hasan Palogai, Lc berharap program ini bisa diadakan secara berkala. “Tentunya kami berharap program ini berlanjut secara berkala mengingat program ini menghadirkan syaikh (guru dari negeri Timur Tengah), sehingga sangat disayangkan apabila dilewati begitu saja”, ujarnya.

Pakar qur’an yang mengisi di Radio Dakta FM adalah Syaikh Harits. Pada usianya yang masih muda (20), ia sudah menjadi pakar qur’an. Syaikh yang berasal dari Yaman ini membagikan ilmunya kepada umat lewat on air di Radio Dakta FM mengenai materi tahsin. Materi yang disampaikan lebih kurang setengah jam ini didampingi oleh tim dan perwakilan dari LAZIS Wahdah. (mkh/rsp)


🎁 Donasi 1000 Qur`an Palu & Indonesia : Mulai Rp.110.000,- (Paket Bersama Pendidikan dan Pembinaan).
Berlaku sampai akhir Desember 2018

📲Konfirmasi Transfer WA/SMS ke 08119787900 (mohon dengan menyertakan bukti transfer)

#1000QuranForPalu
#1000QuranForIndonesia
#pedulinegeri
#melayanidanmemberdayakan

BKsPPI: Orang Yang Antipoligami Tidak Paham Islam

Dewan BKsPPI KH. Didin Hafidhuddin 

(Jakarta) wahdahjakarta.com — Ketua Badan Kerjasama Pondok Pesantren se-indonesia (BKsPPI), KH. Didin Hafidhuddin mengatakan, orang yang antipoligami tidak paham Islam.

“Padahal poligami itu kan bagian ajaran Islam. Kita harus yakin dengan ajaran itu, tapi implementasinya ada persyaratannya,” ujar Kyai Didin sebagaimana dilansir dari Republika.co.id, Senin (17/12/2018).

Menurutnya, kemungkinan orang yang antipoligami hanya melihat praktik poligami yang tidak sehat. Dia tak menampik, banyak suami tak bertanggung jawab yang mempraktikkan polgami.

Dekan Fakultas Pasca Sarjana Universita Ibn Khaldun (UIKA) Bogor itu menegaskan syarat berpoligami tertulis jelas dalam Alquran QS An-Nisaa’. Dalam surah itu dijelaskan, poligami diizinkan asalkan bisa berlaku adil dalam segala hal, kecuali adil dalam cinta. Sebab, cinta dan kasih sayang tidak bisa dibohongi dan lebih condong pada seseorang.

“Banyak yang berpoligami berhasil, anaknya baik, dan bertanggung jawab. Sebaliknya, jangan dikira orang yang tak berpoligami berhasil, banyak yang tak berhasil mendidik anak dan keluarga kok. Tergantung individu, keinginan, sikap,” tutur dia.

Didin menekankan tidak ada ulama yang menekankan bahwa poligami bukan ajaran Islam. Pada zaman jahiliyah, ada seorang yang memiliki perempuan lebih dari 10.

Dia mengungkapkan, konon ada pria yang merupakan kepala suku itu masuk Islam. Nabi memintanya memilih empat dari istri-istrinya dan meninggalkan enam lainnya dengan cara baik-baik. “Jadi memang itu pembatasan dari satu situasi dan kondisi,” ujar dia.

“Kalau misalnya tak mampu, jangan berpoligami, jangan merusak dirinya, keluarganya, dan ajaran Islam. Kalau mampu, silakan. Buktikan bahwa poligami itu memberikan kebaikan, bukan semata-mata nafsu saja,” kata Didin.

Menanggapi pendapat yang mengatakan poligami bukan ajaran Islam, ia menyatakan,  itu sudah merupakan pendapat yang usang.

“(Poligami bukan ajaran Islam) itu sudah ada pendapat dari dulu, orientalis mengatakan itu (bukan ajaran Islam),” ungkapnya. []

Sumber: Republika.co.id

Komisi PRK MUI Gelar Kongres Muslimah Indonesia II

Kongres Muslimah Indonesia II, 2018

(Jakarta) wahdahjakarta.com — Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga (PRK) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat menggelar Kongres Muslimah Indonesia II. Kongres dengan tema “Ketahanan Keluarga dalam Membentuk Generasi Berkualitas di Era Globalisasi” dibuka secara resmi oleh Wakil Ketua Umum MUI, Zainut Tauhid, pada Senin (17/12/2018) di Hotel Grand Cempaka, Jakarta.

Zainut menyatakan, Dewan Pimpinan MUI berkomitmen dalam meningkatkan peran perempuan dan keluarga.

Apalagi dalam konteks kekinian, yakni peran perempuan di tengah kehidupan yang semakin moderen di era globalisasi. Untuk itu, Dewan Pimpinan MUI mengapresiasi inisiatif Komisi PRK dalam menyelenggarakan kongres ini.

“Dalam sejarahnya, perempuan mempunyai posisi sentral, baik dalam kehidupan keluarga, maupun masyarakat. Potensi perempuan yang begitu besar, dan apabila dioptimalkan, maka akan sangat menentukan keberhasilan pembanguanan nasional khususnya dalam pembangunan Sumber Daya Manusia,” ucapnya sebagaimana dilansir dari hidayatullah.com.

Ketua panitia kongres, Azizah, menyebutkan jumlah pesertanya ada lebih kurang 200 orang, yang terdiri dari Komisi PRK provinsi se-Indonesia, ormas-ormas Muslimah tingkat pusat, ormas-ormas perempuan pada umumnya, serta para tokoh, ulama, dan cendekiawan perempuan.

Kongres ke-2 ini, kata dia, pada hakikatnya adalah lanjutan dan penyempurnaan dari kongres yang pertama. Dimana masalah ketahanan keluarga masih jadi pokok bahasan.

Sub temanya yang akan dibahas berkaitan dengan agama jadi basis ketahanan keluarga, kemudian ketahanan keluarga di era digital, kemajuan IT (informasi teknologi) untuk kemaslahatan, serta perempuan dan remaja dalam membangun kesadaran politik, dan hukum politik perempuan. []

Sumber: Hidayatullah.com

Forum Muslim Bogor Imbau Pusat Perbelanjaan Tidak Paksa Karyawan Muslim Pakai Atribut Natal

(Bogor) wahdahjakarta.com –– Menjelang perayaan Natal 2018 dan tahun baru masehi 2019 Forum Muslim Bogor (FMB) mengimbau pemilik toko dan pusat perbelanjaan di Kota dan Kabupaten Bogor untuk tidak memaksa karyawan/karyawati Muslim mengenakan atribut Natal 25 Desember mendatang pada hari Senin(17/12/2018)

“Sehubungan dengan perayaan Natal 25 Desember 2018 oleh umat Nasrani dan penyambutan tahun baru 2019, maka Forum Muslim Bogor (FMB) menyerukan kepada manajemen, pengelola pusat perbelanjaan dan pemilik toko di Kota dan Kabupaten Bogor agar tidak memaksa karyawan/karyawati yang muslim untuk memakai atribut Natal dan Tahun Baru 2019.” ujar Ketua FMB Imam Syafi’i dalam keterangan tertulis yang diterima wahdahjakarta.com, Senin (17/12/2018).

Kepada  karyawan/karyawati, FMB menyerukan agar tetap menjaga kondusifitas  tanpa mengikuti ritual dan kegiatan pada hari Natal.

“Tidak/jangan ikuti ritual dan kegiatan Natal yang dirayakan oleh Umat Nasrani serta tidak ikut merayakan Tahun Baru 2019, dengan tetap jaga kondusifitas Kota dan Kabupaten Bogor.” tulis Syafi’i.

Terkait perayaan tahun baru masehi 2019 forum ini mengimbau agar menghindari perilaku menyimpang, hura-hura, dan asusila dalam merayakan tahun baru.

“Jauhi sikap hura-hura pada malam Tahun Baru 2019 yang bisa memicu terganggunya ketertiban umum, perilaku menyimpang, hedonisme serta perbuatan berlebihan lainnya, seperti meniup terompet, membakar kembang api atau petasan, membunyikan lonceng,  balapan liar, tari-tarian, body painting, membuka aurat dan berpakaian seronok, bercampur baur antara laki-laki dan perempuan, perzinahan dan atau perilaku asusila lainnya.” Jelasnya.

Sebaliknya ia mengajak untuk memaknai pergantian tahun meningkatkan rasa syukur, berdoa, bermuhasabah, dan kegiatan positif lainnya pada setiap waktu. [ed:sym]

Beberkan Kisah Hijrahnya, Teuku Wisnu Pernah Terjebak Pengajian yang Sok Benar Sendiri

Teuku Wisnu di acara ummat Fest 2018, Makassar

(Makassar) wahdahjakarta.com— Presenter program Berita Islam Masa Kini (BERIMAN) Trans TV Teuku Wisnu ternyata pernah terjebak ikut pengajian yang selalu merasa benar sendiri. Hal ini disampaikan bang Inu, panggilan akrabnya dalam salah satu sesi Dialog Hijrah bertema “Menuju Hidayah Allah” di ajang Ummat Fest 2018, Makassar, Jum’at (14/12/2018).

Di hadapan ribuan peserta dialog hijrah yang memadati gedung Celebes Convention Center (CCC) Makassar ia berkisah tentang masa-masa awal belajar dan mendalami Islam.

“Waktu itu sekitar tahun 2012-2013 kalau dibilang gelombang hijrah pada waktu itu memang tidak seperti sekarang. Mulanya saya juga merasa sendiri.’’ Kenangnya.

Banyak diantara permintaan teman-temannya yang ia tolak dengan dalih bahwa hal itu tidak sesuai syariat, sebagaima ia dapatkan dari pengajian yang biasa diikutinya. Ia mulai menjauh dari teman-temannya sesama artis yang ngaji di komunitas lain.

“Mulanya saya juga merasa sendiri, Tapi saya terus ingat hadist tentang ghuroba. Oh jadi gini ya orang Islam kalau sudah Kenal sunnah jadi terasing sendiri,” ujar Teuku.

Teman-teman sesama artis yang mulai ngaji selalu mencari dan mempertanyakannya.

“Teman saya bilang, Wisnu kamu kenapa sih? Sepertinya mereka udah nganggap saya sudah hilang dah,” katanya sambil tertawa ringan.

“Tapi bang Arie, Dude, dan Dimas Seto akhirnya membuka pikiran saya. Ternyata selama ini saya terlalu fanatik. Gak mau belajar kalau bukan yang ini. Pokoknya selalu merasa benar sendiri deh,” imbuhnya melanjutkan.

Hingga akhirnya ia bertemu dengan beberapa Ustadz yang membuka wawasan dan pikirannya untuk terbuka dan mau bergaul dengan yang beda tempat ngaji. Seperti Ustadz Bachtiar Nasir, Ustadz Zaitun Rasmin, Ustadz Hannan Attaki, dan sebagainya.
Ustadz Hannan kata Wisnu merupakan salah satu ustadz yang menginspirasinya untuk turut terlibat dalam dakwah.

“Kemarin saya ketemu ustad Hannan. Beliau bilang kalau Kita cuman baik sendiri dan gak mau berdakwah, maka kita mustahil jadi umat yang terbaik,” pungkasnya. [sym]