Tiga Hal yang Dapat Dilakukan Untuk Menolong Muslim Uighur Menurut Ustadz Farid

Ustadz Farid Ahmad Okbah (kanan berkaca mata)

(Bekasi) Wahdahjakarta.com – Wakil Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), Ustadz Farid Ahmad Okbah menyerukan tiga hal untuk membantu Muslim Uighur yang sedang terdzalimi oleh rezim komunis China.

“Melihat apa yang dialami Muslim Uighur mengharuskan kita untuk peduli,” katanya sebagaimana dilansir  dari Kiblat.net, Kamis (20/12/2018).

“Pertama,tekanan politik termasuk lewat demo kepada pemerintah China agar melindungi hak- hak beragama Uighur. Termasuk tekanan ekonomi dengan memboikot produk China secara bertahap,” tuturnya.

Pimpinan Pesantren Tinggi Al-Islam Bekasi ini melanjutkan, sikap kedua adalah memberikan dukungan materi sesuai dengan kemampuan.

“Ketiga, doa termasuk melakukan qunut nazilah setiap shalat fardhu,” tukasnya.

Sebagaimana diberitakan luas oleh media massa Internasional bahwa Muslim Uyghur di Provinsi Xinjiang, China mengalami kebijakan diskriminatif dari pemerintahan komunis Cina.

Muslim Uyghur mengalami penyiksaan, pengucilan dan pelarangan menjalankan ajaran agama mereka. Jutaan warha Muslim Uyghur dimasukkan ke kamp-kamp tahanan untuk menghapuskan dan menghilangkan identitas keislaman mereka. []

Wahdah Islamiyah Desak Pemerintah RI Lakukan Langkah Diplomatik Untuk Uighur

Kantor DPP  Wahdah Islamiyah di Makassar

 

(Makassar) wahdahjakarta.com –, Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah (DPP WI) mendesak Pemerintah Republik Indonesia untuk menempuh upaya diplomatik guna menghentikan kedzaliman terhadap Muslim Uighur.

Desakan itu disampaikan melalui pernyataan sikap  yang dikeluarkan di Makassar, hari ini Kamis (20/12/2018), sebagaimana dilansir dari wahdah.or.id.

“Mendesak Pemerintah Republik Indonesia dan negara-negara muslim lainnya untuk melakukan langkah-langkah diplomatik dalam rangka mewujudkan perdamaian dan penegakan Hak Asasi Manusia (HAM) terhadap masyarakat Uighur”, sebagaimana tertulis pada poin ke.3 pernyataan sikap yang ditanda tangani Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin (Ketua Umum) dan Syaibani Mujiono (Sekjen).

Wahdah Islamiyah juga mendesak pemerintah China untuk menghentikan segala bentuk penindasan dan kejahatan kemanusiaan terhadap masyarakat Uighur.

Berikut kutipan lengkap pernyataan sikap DPP WI atas penindasan terhadap etnis Muslim Uighur.

PERNYATAAN SIKAP DEWAN PIMPINAN PUSAT WAHDAH ISLAMIYAH ATAS PENINDASAN DAN KEBIADABAN REZIM CHINA TERHADAP ETNIS UIGHUR

Nomor: K.1238/IL/I/04/1440

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ الله وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْساَنٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَبَعْدُ

Kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan segala penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Demikian pernyataan konstitusional kita yang bermakna sangat humanis dan universal.

Terjadinya tindakan diskriminatif dan kezaliman Pemerintah Cina terhadap kaum muslimin bangsa Uighur di daerah Xinjiang dengan memenjarakan sedemikian banyak mereka dalam kamp konsentrasi yang memasung kemerdekaan hidup serta tindakan kekejaman lainnya sungguh telah menorehkan luka yang demikian dalam pada kita kaum muslimin Indonesia.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah merasa perlu  mengeluarkan Pernyataan Sikap sebagai berikut:

  • Mengutuk segala bentuk kezaliman dan tindakan yang bertentangan dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan serta pelanggaran HAM dalam bentuk apapun;
  • Mendesak Pemerintah Cina untuk menghentikan segala bentuk penindasan dan kejahatan kemanusian terhadap masyarakat Uighur;
  • Mendesak Pemerintah Republik Indonesia dan negara-negara muslim lainnya untuk melakukan langkah-langkah diplomatik dalam rangka mewujudkan perdamaian dan penegakan Hak Asasi Manusia terhadap masyarakat Uighur;
  • Mengimbau kepada seluruh umat Islam dan ormas-ormas islam untuk memberikan dukungan moril dan penggalangan dana untuk membantu masyarakat muslim Uighur;
  • Mengharapkan kepada umat Islam di seluruh dunia untuk melakukan qunut nazilah atas musibah yang dialami kaum Muslimin Uighur.
  • Kepada kaum muslimin di seluruh dunia khususnya di tanah air agar semakin cerdas mengekspresikan perjuangan dan pembelaannya serta menghindarkan diri dari tindakan yang kontra produktif.

Demikian Pernyataan Sikap ini kami sampaikan sebagai wujud solidaritas sesama Muslim dan sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Kepada Allah Subhanahu Wata’ala kita serahkan semua urusan, نَصْرٌ مِّنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ .

Makassar, 12 Rabiul Akhir 1440 H/20 Desember 2018 M

Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah

Muh. Zaitun Rasmin, Lc., M.A.

Ketua Umum

Syaibani Mujiono, S.Sy.

Sekretaris Jenderal

MUI: Pemerintah Indonesia Harus Angkat Bicara Masalah Uighur

(Jakarta) wahdahjakarta.com — Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Anwar Abbas  mengatakan, Pemerintah Republik Indonesia harus angkat bicara dalam masalah Uighur dan tidak boleh diam.

Meskipun masalah Uighur merupakan masalah internal dalam negeri China, namun, bukan berarti pemerintah China bisa bebas berbuat semena-mena dan menginjak hak asasi rakyat Uighur.

“Dan kalau itu terjadi maka pemerintah Indonesia tidak boleh tinggal diam dan harus angkat bicara,” tegasnya sebagaimana dilansir dari hidayatullah.com di Jakarta, Rabu (19/12/2018).

Sebab, terang Anwar, di dalam pembukaan UUD 1945, jelas-jelas dikatakan bahwa kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa. Oleh karena itu penjajahan dan atau pelanggaran hak asasi manusia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

“Jadi di tengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara yang ada, Indonesia tidak boleh tinggal diam dan tidak peduli terhadap apa yang terjadi di negeri lain.

Kita harus menjadi bangsa yang secara serius dan sungguh-sungguh untuk menegakkan dan menghormati nilai-nilai kemanusiaan seperti yang terdapat dalam sila kedua pancasila yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab,” serunya.

“Kita jangan takut untuk melakukan itu karena itu merupakan jati diri dan tugas suci kita sebagai bangsa,” tambah Anwar.

Para the founding fathers (pendiri bangsa) pun, kata dia, sangat menyadari dan menyatakan bahwa Indonesia bukanlah bangsa yang berjuang hanya untuk kepentingan dirinya sendiri saja, tapi juga bisa memberi arti dan makna bagi bangsa dan negara lain.

“Apalagi kita sudah menyatakan bahwa politik luar negeri kita adalah bebas aktif. Ini artinya kita tidak boleh tinggal diam. Tapi harus secara bebas dan aktif untuk menyuarakan dan memperjuangkan kebenaran dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan ini,” tegasnya menutup. (Andi/hidayatullah.com).

Pernyataan Sikap MIUMI Menyikapi Persoalan Muslim Uyghur

#AksiBelaMuslimUyghur

Pernyataan Sikap MIUMI Menyikapi Persoalan Muslim Uyghur

Sebagaimana diberitakan luas oleh media massa Internasional bahwa Muslim Uyghur di Provinsi Xinjiang, Cina mengalami kebijakan diskriminatif dari pemerintahan komunis Cina. Muslim Uyghur mengalami penyiksaan, pengucilan dan pelarangan menjalankan ajaran agama mereka. Jutaan warha Muslim Uyghur dimasukkan ke kamp-kamp tahanan untuk menghapuskan dan menghilangkan identitas keislaman mereka.

Menyikapi penderitaan Muslim Uyghur dan kebijakan diskriminatif pemerintah Cina ini, maka Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia (MIUMI) :

  1. MENGECAM DAN MENGUTUK TINDAKAN DISKRIMINATIF pemerintah komunis Cina terhadap muslim Uyghur, yang merupakan pelanggaran keras terhadap Hak Asasi Manusia (HAM) dan hukum internasional, karena kebebasan beragama adalah salah satu Hak Asasi Manusia yang paling mendasar, sebagaimana ditegaskan oleh International Convenant on Social and Political Rights.
  2. Menuntut pemerintah komunis Cina agar segera MENGHENTIKAN TINDAKAN DISKRIMINATIF DAN PELANGGARAN HAM terhadap Muslim Uyghur. Dan memberikan kebebasan bagi warga muslim Uyghur untuk menjalankan ajaran agamanya.
  3. Mengajak dunia Internasional untuk MENEGAKKAN HAM bagi seluruh umat manusia, dan memberikan tekanan kepada pemerintah komunis Cina untuk segera menghentikan tindakan diskriminatifnya terhadap Muslim Uyghur.
  4. Mendesak kepada negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Kerjasama Islam (OKI) untuk segera BERTINDAK TEGAS TERHADAP PEMERINTAH CINA demi untuk menyelamatkan saudara-saudara Muslim Uyghur dari penderitaan mereka dan kembali mendapatkan hak-hak sipil mereka.
  5. Mendukung usulan Jerman yang mendesak PBB mengirim tim Komisi HAM untuk menginvestigasi pelanggaran yang dilakukan pemerintah Cina.
  6. Mendesak dan menuntut pemerintah Indonesia untuk memainkan perannya sebagai negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia dalam membela nasib umat Islam di Uyghur, dan MEMBUAT PERNYATAAN SEBAGAI SIKAP RESMI PEMERINTAH dan umat Islam Indonesia yang mengecam dan mengutuk keras terhadap pemerintah Cina atas tindakannya yang snagat diskriminatif terhadap Muslim Uyghur.
  7. Menyeru dan mengajak seluruh tokoh umat Islam dan tokoh nasional serta seluruh elemen umat dan bangsa untuk bersatu dan bergerak melakukan apa yang kita mampu untuk membela Muslim Uyghur.

Semoga Allah menjadikan kita sebagai wasilah untuk meringankan beban dan penderitaan saudara kita warga Muslim Uyghur di Cina.

 

Jakarta, 19 Desember 2018/11 Rabiul Akhir 1440

 

Dr. H. Hamid Fahmi Zarkasy, MA, M.Phil                                                  Bachtiar Nasir

Ketua Umum                                                                                                       Sekretaris Jendral

 

 

Uighur Memanggil, Mari Ulurkan Bantuan

Uighur Memamanggil

Wahdahjakarta.com –, Belakangan ini, penderitaan masyarakat etnis Uighur tengah menjadi sorotan dunia. Mereka mengalami penindasan, persekusi, diskriminasi, serta perlakuan tidak adil oleh pemerintah Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Jutaan warga dikurung dan tidak bebas menjalankan keyakinannya. Kecaman hingga aksi boikot dilakukan beberapa masyarakat dunia termasuk Indonesia.

Uighur adalah etnis masyarakat yang mayoritas beragama Islam yang berasal dari daerah Xinjiang, RRT. Mereka diperlakukan dengan kejam karena pilihannya untuk memeluk dan mengamalkan agama Islam. Perlakuan tersebut bahkan dipusatkan dalam kamp konsentrasi yang berkapasitas jutaan jiwa dengan dikelilingi tembok tinggi, menara pengawas, kamera CCTV dan penjaga bersenjata.

Beberapa perlakuan diskriminatif yang dilakukan kepada mereka antara lain:

-Pelarangan memberi nama bayi dengan nama-nama Islami, dengan ancaman tidak akan mendapatkan akses kesehatan dan pendidikan

-Pelarangan orangtua Muslim menyelenggarakan kegiatan/ritual agama untuk anak mereka

-Pelarangan anak-anak Muslim Uighur terlibat dalam kegiatan/ritual agama

-Memerintahkan seluruh Muslim Uighur untuk menyerahkan sajadah, mushaf Al-Qur’an dan barang-barang yang berkaitan dengan Islam

-Pelarangan laki-laki Muslim memanjangkan jenggot

-Pemaksaan warga Muslim untuk memakan babi dan meminum alkohol di kamp konsentrasi

-Pemaksaan warga Muslim untuk meninggalkan agamanya dan menyanyikan lagu-lagu Partai Komunis

Indonesia telah dikenal dunia sebagai bangsa berpenduduk  Muslim terbesar dunia. Aksi kemanusiaan, simbol bahwa Indonesia adalah bangsa yang peduli. Adalah umat yang mau berbagi kesedihan kepada saudara mereka yang ditindas oleh kaum penjajah.

Mari kita bela dan jaga akidah dan raga muslim Uighur. Karena mereka tetaplah saudara kita, meski kita disekat oleh benua dan samudera!

LAZIS Wahdah membuka kesempatan bagi sahabat yang ingin berpartisipasi, donasi melalui Bank Syariah Mandiri (451) 799 900 900 4 an LAZIS Wahdah Care. dan konfirmasi ke 085315900900 (call/wa/sms).

#laziswahdah #wahdahislamiyah #wahdah #sedekah #zakat #laziswahdahcare #muslimuighur #uighur