Distribuskan Bantuan Korban Longsor, Relawan Arungi Sungai dan Tempuh Jarak  90 KM

Relawan Lazis Wahdah Pinrang menumpang Perahu menuju lokasi longsor di Pinrang.

(Pinrang) wahdahjakarta.com – Hujan yang mengguyur wilayah Kampung Silei, Dusun Bone, Desa Ulusaddang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang, beberapa hari menyebabkan tebing di pegunungan tersebut mengalami longsor.

Akibatnya, akses termudah memasuki wilayah tersebut yakni jalanan menunju Batusura, Desa Lembang Mesakada, putus. Hal ini menjadi tantangan bagi sejumlah Relawan LAZIS Wahdah Pinrang saat melakukan proses distribusi bantuan ke wilayah terdampak.

Seperti yang dirasakan Yusran, salah seorang relawan yang bertugas. Ia menggambarkan beratnya medan yang ditempuh. Perjalanan sejauh 90 Km ditempuh selama berjam-jam. Hujan yang turun selama perjalanan, sedikit lebihnya membuat jalanan menjadi licin, juga menyebabkan kabut menyelimuti jalan-jalan yang dilalui.

salah satu rumah terdampak longsor

“Ekstrim dan sangat menantang. Perjalanan distribusi bantuan ini memakan waktu tidak sedikit,” kata Yusran.

Longsor yang terjadi pada hari Kamis (27/12/2018) itu menyebabkan empat rumah warga tertimbun tanah.

“Sedikitnya ada empat rumah warga yang rusak,” terangnya.

Setelah melewati perjalanan darat yang begitu melelahkan. Tim volunter kemudian beralih menggunakan sebuah perahu kecil untuk meneyeberangi sungai yang sedikit berombak.

“Kita diatas sungai hampir 30 menit sebelum sampai di lokasi longsor,” jelas Yusran.

Di lokasi, tim kemudian mendistribusikan paket bantuan pangan untuk para korban. Yusran menambahkan, total rumah yang menempati lokasi longsor sejumlah 32 rumah. Namun katanya, hanya empat rumah itu yang tertimpa longsor.

Donasi program sosial LAZIS Wahdah bisa disalurkan melalui Bank Syariah Mandiri (451) nomor rekening : 499 900 9005 a.n LAZIS Wahdah Peduli Negeri dan konfirmasi transfer ke 085315900900. Mari bentangkan kebaikan membantu sesama bersama LAZIS Wahdah, melayani dan memberdayakan. []

Sumber: Tim Media Lazis Wahdah

Dep. Dakwah DPP Wahdah Islamiyah Gelar Lokakarya Pengelolaan dan Pelayanan Dakwah

Dep. Dakwah DPP Wahdah Islamiyah Gelar Lokakarya Pengelolaan dan Pelayanan Dakwah
Lokakarya Pengelolaan dan Pelayanan Dakwah Departemen Dakwah DPP Wahdah Islamiyah

(Makassar) wahdahjakarta.com -, Departemen Dakwah Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah (DPP WI) menggelar Lokakarya Pengelolaan Khutbah, Taklim dan Ceramah Ramadhan di Aula Musyawarah Kampus STIBA Makassar, Ahad (06/01/2019).

Penanggung jawab lokakarya Ustadz Mursyidul Haq, Lc., mengatakan lokakarya bertujuan agar Wahdah Islamiyah baik di tingkat pusat maupun di daerah dapat menjadi lembaga yang profesional dalam mengelola dakwah umum berupa Khutbah, Taklim dan Ceramah-ceramah.

Senada dengan itu, ketua DPP Wahdah Islamiyah, ustadz Ir. Muhammad Qasim Saguni, MA. yang membuka lokakarya berharap agar pengelolaan khutbah, taklim dan ceramah dapat lebih profesional, baik dari sisi dai, materi dakwah maupun masjid yang dikelola.

Ustadz Qasim kemudian mengutip pernyataan sahabat Ali bin Abu Thalib yang terkenal bahwa kebatilan yang terorganisir bisa mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir.

Lokakarya dihadiri 23 peserta yang merupakan utusan dari Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Wahdah Islamiyah se-Sulawesi Selatan.[]

Sumber: wahdah.or.id

Bolehkah Menerima Uang Tip?  

Uang tip adalah uang yang diberikan oleh konsumen kepada pemberi jasa sebagai tambahan dari harga yang telah dibayarkan.

Uang Tip

Pertanyaan:

Saya bekerja di perusahaan distribusi barang, tugas saya membongkar dan memuat barang dari mobil, dari perusahaann saya sudah mendapat gaji pokok dan insentive dari setiap barang yang saya bongkar, dan setiap bongkar muat, pihak supir sering memberi uang tip dan makanan tanpa saya minta. Halalkah uang dan makanan yang saya terima dari pihak supir, jaazakallah khairan.

Mustain – Malang

Jawaban:

Secara prinsip, haram hukumnya bagi seorang pegawai/pekerja untuk menerima hadiah terkait dengan pekerjaannya, di dalam nash-nash syar’i biasanya disebut dengan hadaya ummal, yaitu; fasilitas yang diperoleh oleh pegawai atau pekerja berupa barang berharga atau jasa yang disebabkan oleh pekerjaannya dari luar perusahaan (diluar gaji dari perusahaan), hal ini disebabkan karena ada potensi untuk berubah menjadi suap menyuap, dan dapat berakibat tidak professional dalam melayani konsumen alias pandang bulu dan tidak adil dalam melayani.

Namun dalam beberapa kondisi ada pengecualian, salah satunya adalah jika perusahaan Anda mengetahui dan mengijinkan pegawainya untuk menerima tips dan pemberian dari customer, maka pemberian tersebut boleh Anda ambil dan halal, dalilnya adalah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:

Artinya:”Barang siapa yang kami tugaskan dalam suatu pekerjaan, dan kemudian menyembunyikan jarum, maka itu adalah belenggu baginya pada hari kiamat, maka salah seorang sahabat dari Anshor berdiri dan mengatakan: maka saya tidak membutuhkan pekejaan dari engkau, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kemudian bertanya: kenapa? Sahabat tersebut menjawab: sesungguhnya saya tadi telah mendengar dari engkau mengatakan ini dan itu, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: sekarang saya mengatakan: barang siapa yang kami tugaskan pada suatu pekerjaan, maka hendaknya datang kepada kami (dengan hadiah/pemberian) banyak ataupun sedikit, jika kami memberikan kepadanya sesuatu maka boleh ia mengambilnya, jika tidak maka ia tidak boleh mengambilnya”. HR Muslim.

Ibnu Baththol mengatakan:

Artinya:”Bahwa Hadaya Ummal harus di serahkan ke Baitul Maal, dan pegawai (penerima hadaya ummal tersebut) tidak berhak sedikitpun dari harta tersebut, kecuali jika pegawai tersebut meminta ijin pemimpin untuk mengambilnya (dan diijinkan), sebagaimana yang terjadi dalam kisah Mu’adz bin Jabal, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengijinkan baginya untuk menerima hadiah”. Syarh Shahih Al-Bukhari karya Ibnu Battol (7/112).

Ibnu Hajar Al-Asqolani mengatakan:

Artinya: (Dan menerima hadaya ummal haram hukumnya) jika imam (pemimpin) tidak mengijinkannya untuk mengambilnya. (Fathul Baari (13/167).nWallahu A’lam.  Ust. Lukman Hakim, Lc, MA (Alumni S1 Fakultas Hadits Syarif Universitas Islam Medinah Munawwarah dan S2 Jurusan Dirasat Islamiyah Konsentrasi Hadits di King Saud University Riyadh KSA)

Sebelumnya artikel ini dipublis di website wahdah.or.id