Monitoring dan Distribusi Paket Bantuan Korban Banjir Bandang Aceh Tenggara

 

(Kutacane) wahdahjakarta.com–Banjir bandang yang menerjang tiga desa di Kabupaten Aceh Tenggara mengakibatkan 20 rumah rusak berat, dua jembatan tersumbat material banjir, dan satu masjid hanyut. Banjir bandang dan tanah longsor tersebut terjadi di tiga kecamatan, yakni Ketambe, Badar, Lauser di Aceh Tenggara, Sabtu (24/11) dan Senin (26/11).

Kedua bencana itu telah merusak 60 rumah, satu jembatan, dan jalan lintas nasional hingga menyebabkan 1.225 warga terdampak, serta 216 jiwa atau 47 keluarga terpaksa mengungsi.

Sementara itu, di Kayu Metangur tiga rumah hanyut terbawa air dan di Natam Lama terdapat satu jembatan sepanjang 40 meter tersumbat material banjir.

Sedikitnya 52 keluarga yang merupakan warga Dusun Lawe Menderung, Kecamatan Natam Baru mengungsi ke Madrasah Tsanawiyah Darul Hasanah di desa setempat.

Nunung Ummu Fadhilah, relawan muslimah LAZIS Wahdah menuturkan, dalam aksi monitoring Senin (15/12019) tersebut, LAZIS Wahdah mendistribusikan beragam paket bantuan seperti selimut, perlengkapan dapur, bahan dapur, pakaian layak pakai, dan sejumlah perlengkapan tulis menulis.

“Kita sudah datang beberapa kali ke lokasi ini. Alhamudlillah, respon masyarakat sangat menggembirakan,” tuturnya.

Prosesi serah terima bantuan kepada 21 kepala keluarga ini bertempat di Desa Natam, Kec. Badar, Kabu. Aceh Tenggara. []

Baca Selengkapnya

Jika Calon Istri Membatalkan Lamaran, Lalu Berubah Pikiran dan Minta Lanjut

Ilustrasi: Lamaran

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum, Pertanyaan saya apabila pihak perempuan membatalkan pertunangan secara sepihak kemudian si wanita tersebut ingin meminta kembali hubungan mereka dilanjutkan apakah masih harus kembali melakukan proses lamaran ulang atau bisa dilanjutkan ke jenjang pernikahan tanpa harus melamar terlebih dahulu kembali? Mala – Kendari

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullah.

Hayyakillah ukhti.

Pertunangan dalam KBBI artinya bersepakat (biasanya diumumkan secara resmi atau dinyatakan di hadapan orang banyak) akan menjadi suami istri. Di negeri kita, proses ini adalah mukadimah kesepakatan sebelum menikah.

Dalam syariat Islam, proses tersebut mirip dengan proses Khitbah (lamaran), dan proses ini diisyaratkan di dalam beberapa hadits Nabi, di antaranya:

Artinya: “Dari Mughirah bin Syu’bah, beliau mengatakan: Saya telah meminang seorang wanita, maka Rasulullah shallallahu alaih wa sallam mengatakan kepadaku: “Apakah engkau telah melihatnya (wanita yang engkau pinang)?” Mughirah menjawab: “Belum”

Maka Rasulullah bersabda: “Lihatlah wanita yang engkau pinang itu, sesungguhnya (melihat wanita yang dipinang) menjadikan pernikahan lebih langgeng.” (Terj. HR Ahmad dll)

Dalam hadits Jabir, Rasulullah bersabda:

Artinya: “Jika salah seorang di antara kalian hendak meminang seorang wanita, maka jika dia dapat melihat sesuatu yang menarik minatnya untuk menikahinya, maka hendaknya ia melakukannya.” (Terj. HR Ahmad dll).

Substansi dari khitbah adalah meminta wanita untuk dijadikan istri. [Asy-Syarhul Mumti’ 12/23].

Hukum asal dari proses ini berkisar antara mubah dan sunnah, meskipun sebagian ulama lebih menguatkan bahwa hukumnya adalah sunnah, sebab khitbah adalah sarana menuju sesuatu yang sunnah (yaitu pernikahan) dan hukum sarana identik dengan hukum tujuan.

Di antara hikmah dari pensyariatan khitbah, adalah:

1- Proses khitbah (jika sang wanita sepakat) adalah “pagar pertama” bagi wanita, bahwa ia sudah ditentukan calon “pemiliknya”, dan tidak boleh bagi laki-laki lain untuk “mengganggunya”, Rasulullah bersabda:

Artinya: “Tidak boleh seorang laki-laki meminang wanita yang telah dipinang saudaranya, sampai mereka menikah atau ditinggalkan (gagal menikah). (terj. HR Bukhari & Muslim).

2- Sebagai sarana untuk memantapkan azam dan tekad menikah. Olehnya itu, sebelum proses ini, ada anjuran untuk “nadzhar” atau melihat wanita yang hendak dinikahinya, atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dianggap penting bagi langgengnya pernikahan, agar tidak terjadi penyesalan setelah menikah, dengan catatan besar; harus ditemani oleh pihak ketiga atau keluarga dari wanita tersebut.

3- Sebagai sarana untuk mendiskusikan tentang masalah pernikahan; waktunya, maharnya dsb, tentunya dengan ditemani oleh mahram atau walinya.

Perlu diketahui, bahwa khitbah tidak memiliki konsekuensi apa pun kecuali haramnya sang wanita untuk dikhitbah oleh pihak lain, selain itu tidak ada. Sehingga sang wanita masih berstatus “asing” secara syar’i bagi lelaki yang meminangnya, dan tidak boleh (ketika dalam proses ini) “berkhalwat” alias berdua-duaan, dengan dalih dan alasan apa pun. Dan jika ingin lebih mengenal sang calon atau membicarakan masalah pernikahan dan pernik-perniknya, maka seyogyanya dilakukan sesuai dengan koridor syar’i, seperti yang kami isyaratkan.

Dianjurkan untuk tidak berlama-lama dalam proses ini, bahkan sebaiknya cepat menentukan waktu pernikahan jika tekad sudah mantap dan membulat untuk menikah, apalagi jika sudah ditambah dengan shalat Istikharah, sebab tidaklah elok kebaikan ditunda-tunda, dan yang lebih krusial lagi; sebab setan dan jin bergentayangan di sekelilingnya.

Setelah pembahasan ini, maka boleh bagi Anda untuk melangsungkan pernikahan dengan tanpa proses pertunangan lagi, tentunya setelah persetujuan wali Anda dan pihak laki-laki. Namun, alangkah baiknya bila pihak laki-laki perlu melakukan lamaran ulang demi untuk memantapkan diri setelah terputusnya “ikatan” lamaran pertama.

Di akhir dari jawaban kami, permohonan maaf kami haturkan atas panjangnya jawaban kami, namun tujuan kami dengan jawaban ini untuk meluruskan pemahaman para pemuda, pemudi dan para orang tua tentang substansi khitbah, sebab fenomena yang ada di negeri kita adalah seakan proses lamaran atau khitbah merupakan pintu bagi para pasangan untuk berinteraksi secara luas dan bebas. Padahal tidak demikian!

 

Seuntai doa kami panjatkan, semoga Allah subhanahu wa ta’ala menganugerahkan kepada Anda suami yang saleh dan berakhlak mulia kepada keluarganya, serta mapan dalam ekonominya, serta dianugerahi keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah, Amiiin. Wallahu A’lam.

 

Dijawab oleh:  Ust. Lukman Hakim, Lc, M.A (Alumni S1 Fakultas Hadits Syarif Universitas Islam Medinah Munawwarah dan S2 Jurusan Dirasat Islamiyah Konsentrasi Hadits di King Saud University Riyadh KSA)

Artikel : wahdah.or.id

 

Baca Selengkapnya

STIBA Makassar Kirim Mahasiswa KKN  ke Wilayah Bencana Pasigala

 

Rombongan KKN STIBA Makassar yang dikirim ke lokasi bencana Palu, Sigi, dan Donggala
Rombongan KKN STIBA Makassar yang dikirim ke lokasi bencana Palu, Sigi, dan Donggala

(Makassar) Wahdahjakarta.com  – Bertempat di Masjid Anas bin Malik, sebanyak 253 mahasiswa Sekolah Tinggi Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar mengikuti acara pelepasan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Gelombang II, Senin (14/1/2019).

Ke-252 mahasiswa ini akan ditugaskan di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Mariso Kota Makassar, Kecamatan Parigi Kabupaten Gowa, dan Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros. Di samping ketiga kecamatan tersebut, sejumlah mahasiswa KKN juga diutus ke sejumlah daerah yang jauh, seperti Palu, Kalimantan Barat, NTT, Jawa Barat, dan Papua.

Acara pelesapasan ini dihadiri oleh Ketua STIBA Makassar Ustadz Muhammad Yusran Anshar, Lc., M.A., Ph.D., Wakil Ketua I Bidang Akademik Ustaz Kasman Bakry, S.H.I., M.H.I., dan Kepala BAK Ustaz Ahmad Syaripudin, S.Pd.I., M.Pd.I.

Saat memberikan tausiah kepada para mahasiswa KKN, Ustaz Yusran berharap agar mahasiswa dapat mengambil manfaat sebanyak-banyaknya dari materi-materi pembekalan yang telah disampaikan selama daurah. Ia menjelaskan, pelajaran-pelajaran dari ayat-ayat jihad dalam surah at-Taubah. Ayat-ayat tersebut menjelaskan pentingnya untuk ikut serta dalam perjuangan dan bahaya lari dari perjuangan.

“Belajar ilmu agama bisa menjadi alasan untuk tidak ikut jihad. Tapi, ada kewajiban di baliknya, yaitu untuk berkhidmat dan berkontribusi kepada manusia. Sekaranglah waktunya untuk berkontribusi, sebelum melalui masa di mana perjuangan sesungguhnya hingga datang panggilan Allah,” tegasnya.

STIBA Makassar Kirim Mahasiswa KKN ke Wilayah Bencana Pasigala
Rombongan KKN STIBA Makassar

Sementara itu, Direktur LAZIS Wahdah Islamiyah, Syahruddin menyatakan, mahasiswa STIBA yang dikirim ke daerah bencana Pasigala (Palu, Sigi dan Donggala) akan menjadi dai yang akan ditempatkan dibeberapa posko binaan relawan LAZIS Wahdah Palu. Dari laporan yang didapatkan, mahasiswa yang akan dikirim ke Palu, Sigi dan Donggala sebanyak 20 orang.

“Tiga bulan berlalu, pasca bencana, tim relawan LAZIS Wahdah Islamiyah masih fokus mendampingi para warga sekitar. Selain program pembangunan hunian sementara, kita juga tetap akan memfokuskan kerja-kerja dakwah di daerah bencana. Semoga dengan program ini, masyarakat akan lebih mengenal sunnah lebih baik lagi,” harapnya. []

Baca Selengkapnya

Kondisi Terkini Ustadz Arifin Ilham

 
Ustadz Arifin Ilham saat dijenguk Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin dan Ustadz Al-Habsyi di RSCM, Selasa (08/01/2019)

Wahdahjakarta.com -, Pendiri Majelis Az-Zikra KH Muhammad Arifin Ilham meng-update perkembangan terbaru kondisi dirinya yang tengah menjalani perawatan di salah satu rumah sakit di Malaysia.

Ustadz Arifin, Rabu (16/01/2019), merasakan saat ini semua semakin diberkahi oleh Allah Subhanahu Wata’ala.

Ia pun mengaku sudah bisa makan walau masih harus secara perlahan.

Ustadz Arifin berharap agar diampuni segala dosa dan diberi kesehatan.

Informasi itu ia sampaikan lewat akun Instagramnya. Pantauan hidayatullah.com, Rabu sekitar pukul 10.36 WIB, Ustadz Arifin mengunggah foto dirinya bersama sejumlah kerabat termasuk orangtuanya.

“Assalamualaikum wa rahmatullaahi wabarakaatuhu.

SubhanAllah walhamdulillah waktu dhuha selesai sarapan walau masih pelan-pelan makannya, semua semakin diberkahi Allah semua kasih sayang doa keluargaku sahabatku tersayang tercinta Fillah.

Allahumma ya Allah ampunilah seluruh dosa kami dan hiasilah hidup kami dengan kesehatan afiyatan di jalan-Mu, aamiin.

Bersama mama dan ikhwany fillah. Uhibbukum filllah,” tuturnya lewat @kh_m_arifin_ilham.

Tampak dalam foto itu, Ustadz Arifin tersenyum bersama kerabat yang membersamainya. Sorban putih masih setia menghiasi kepalanya. Ia tampak duduk di atas dipan perawatan. Tak terlihat ada selang infus di tubuhnya, kecuali perban bekas infusan di lengan kanannya.

Doa-doa menyertai proses perawatan Ustadz Arifin selama ini.

“Alhamdulillah dah terlihat membaik. Moga cepat sehat ya, Ustadz,” tulis @suwasti1188 mengomentari unggahan tersebut.[]

Sumber: Hidayatullah.com

Baca Selengkapnya
%d blogger menyukai ini: