Penggiat Keluarga Indonesia Soroti RUU Penghapusan Kekerasan Seksual

Perkumpulan Penggiat Keluarga (GiGa) Indonesia

(Jakarta) wahdahjakarta.com -, Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P_KS) mendapat sorotan dari berbagai pihak. Pasalnya, RUU yang telah diusulkan sejak 26 Januari 2016 ini ditengarai membawa agenda tersembunyi dan memiliki masalah serius.

Salah satu yang menyoroti RUU ini adalah Perkumpulan Penggiat Keluarga (GiGa) Indonesia. Menurut Ketua GiGa Indonesia Prof. Euis Sunarti, RUU ini memiliki satu masalah serius, yaitu memisahkan agama dari keseharian masyarakat.

“Pasal bermasalah itu sedikit, namun itu ruh dari RUU tersebut, karena di dalam pasal itu tidak mengenali agama, bahkan memisahkan kehidupan beragama dalam kehidupan sehari-hari. Jadi dia (RUU) menegasikan falsafah dan nilai agama dalam kehidupan,” ujar Prof. Euis, dilansir dari Kiblat.net, Ahad (27/01/2019).

Menurut Guru Besar Departemen Ilmu Keluarga Institut Pertanian Bogor (IPB) ini nama RUU ini bagus, namun ada beberapa masalah yang paling inti dan tidak memenuhi harapan kebanyakan masyarakat Indonesia.

“Pasal-pasalnya tidak terlalu bermasalah, hanya ada beberapa yang bermasalah yang paling inti. Nama RUU ini kan bagus, Penghapusan Kekerasan Seksual, siapa yang nggak setuju, semua harus setuju. Masalahnya, RUU ini tidak memenuhi harapan dari masyarakat kebanyakan di Indonesia, yaitu soal kekerasan seksual itu tidak dipisahkan dari penyimpangan seksual,” ujar Euis.

Keanehan itu dirasakan Euis karena kekerasan seksual diatur dalam RUU ini, namun penyimpangannya tidak diakomodir. Padahal harapan masyarakat adalah ketika dirumuskan satu undang-undang, tidak hanya menyoal kekerasan, tetapi juga kejahatan dan penyimpangan seksual.

Euis menilai RUU PKS terasa lebih fokus kepada kekerasan, namun perilaku seksnya tidak. Ia mencontohkan terkait pelacuran, di dalam RUU yang dipersoalkan adalah jika terjadi kekerasan di dalam praktek tersebut, bukan pelacurannya. Sama halnya dengan aborsi, yang dipersoalkan adalah kekerasannya, bukan aborsinya.

“RUU ini, tidak mengenal tentang penyimpangan seksual seperti homoseks. Padahal itu kan persoalan yang patut diatur, dan masyarakat mengharapkan itu diatur. Nah RUU ini menegasikan itu, jadi menegasikan tentang perilaku-perilaku yang menurut masyarakat perlu (diatur), tapi tidak diatur, lebih fokus kepada kekerasannya,” jelasnya.

Dia pun kembali mengungkit siapa penyusun RUU ini. Diakuinya bahwa penyusunnya merupakan pihak yang tidak setuju terhadap pengaturan zina dan LGBT. Sehingga hal yang bermasalah bagi masyarakat umum, malah dianggap tidak bermasalah. []

Sumber: kiblat.net

 

Baca Selengkapnya

Lalui Medan Berat, Wahdah Gowa Salurkan Bantuan Untuk Korban Longsor

(Gowa) wahdahjakarta.com -, Relawan Wahdah Islamiyah Gowa kembali menyalurkan bantuan 200 porsi makanan siap saji, air minum, mie instan, dan kebutuhan pokok lainnya kepada korban longsor di desa Buakkang, Kecamatan Bungaya, Kabupaten Gowa., Sabtu, (26/01/2019).

Beratnya medan menuju lokasi longsor di desa Buakkang, membuat para relawan hanya mampu mengantar logistik sampai di Dusun Bonto Tangnga. Akses jalan menuju Desa Buakkang masih tertimbun lumpur setinggi lutut orang dewasa.

Kepala Desa Buakkang, H. Burhan, menyatakan terdapat 31 rumah rusak, ratusan ternak, beberapa lahan pertanian dan 1 korban jiwa akibat longsor yang terjadi pada hari Selasa tanggal 22 Januari 2019 lalu. Menurutnya, wilayah ini merupakan di antara wilayah terparah longsor di Kabupaten Gowa.

H. Burhan berterimakasih kepada Lazis Wahdah Gowa atas seluruh bantuan logistik yang sudah disalurkan kepada warganya yang sudah datang untuk kedua kalinya.[]

Sumber: Humas DPD WI Gowa/wahdah.or.id

 

Baca Selengkapnya

Sepuluh Kaidah Penting dalam Mendidik Anak (Faidah dari Bedah Buku “Positive Parenting”)

Bedah Buku Positive Parenting, bersama narasumber Mohammad Fauzil Adhim (Penulis buku) yang diselenggarakan Wahdah Islamiyah Jawa Barat, Bandung, Ahad (27/01/2019)

Pada hari Ahad (27/01/2019) Dewan Pimpinan Wilayah Wahdah Isamiyah Jawa Barat (DPW WI Jabar) dan Rumah Tahfidz Nur Madinah menggelar bedah buku “Positive Parenting”. Panitia menghadirkan narasumber Ustadz Mohammad Fauzil Adhim, pakar parenting yang juga penulis buku Positiv Parenting. Dari catatan panita yang disampaikan kepada wahdahjakarta.com, ada sepuluh faidah penting dari acara ini.

Pertama, Satu didiklah anak untuk mengagungkan Allah subhanahu wa taala dalam kehidupannya. Kenalkan  kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Kedua, Lingkungan yang kondusif tidak cukup untuk mendidik anak. Perlu  juga dorongan yang bersifat suportifv agar anak terus berkembang.

Ketiga, Tidak perlu kita menyesali apa yang salah yang telah kita lakukan, apalagi sampai kita berandai-andai. Pikirkan  bagaimana kedepan lebih baik.

Keempat, Perintah saja tidak cukup. Ajarkanlah  ilmu kepada anak-anak. Saat  memiliki ilmu anak lebih ringan untuk melakukan hal-hal yang penting dalam hidup mereka.

Kelima, Saat memberikan perintah sebutlah anak dengan panggilan yang baik agar kita berlanjut memberikan perintah dengan kelembutan. Pastikan  isi perintah benar-benar lembut. Ada  orang tua yang berucap lembut tapi sadis kontennya.

Keenam, Berkomunikasilah dengan keyakinan. Kalimat  inspirational juga disampaikan seperti perkuliahan yang bersifat naratif.

Ketujuh, Bangunlah budaya membaca kepada anak-anak. Pilihlah buku-buku yang tepat Pdan dampingilah anak-anak saat membaca.

Kedelapan, Penuhi rasa ingin tahu anak. Jawablah pertanyaan-pertanyaan sulit dari anak. Jangan meng “under estimate mereka”.  Tanya  anak, kenapa mereka menanyakan hal yang mereka ingin ketahui. Jangan  sok tahu saat ditanya hanya akan membingungkan anak.

Kesembilan, Mengapa kita sulit menahan emosi saat menghadapi perilaku bermasalah pada anak. Sesungguhnya  menghadapi anak itu harus sabar. Arahan  memang harus selalu harus sering diulang-ulang. Jangan pernah berharap dengan satu kali arahan anak langsung mengerti. Lihatlah/ dengarlah adzan dalam Islam. Mengapa diulang sampai 5 kali dan berlaku sejak zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam Bukankah sudah banyak yang tahu kewajiban salat lima waktu.

Kesepeluluh, Jangan lalai berdakwah kepada anak-anak. Anak-anak yang tidak memahami iman dan arah hidup yang jelas akan menjadi galau di masa remajanya. []

Baca Selengkapnya

Forum Muslim Bogor Serukan Umat Islam Tak Ikut Perayaan Cap Go Meh

Fokus  Grup Diskusi  Forum Muslim Bogor (FMB) membahas Keikutsertaan ummat Islam dalam perayaan Imlek dan Cap Go Meh

(Bogor) Wahdahajakarta.com – Forum Muslim Bogor (FMB) menyerukan umat Islam untuk tidak ikut-ikutan dalam perayaan Imlek dan Cap Go Meh yang jatuh pada 5 dan 19 Februari 2019 mendatang. Hal ini disampaikan lantaran acara itu dianggap sebagai ritual agama etnis Tionghoa, meskipun dipadukan dengan pementasan seni dan budaya.

Seruan tersebut dituangkan FMB dalam pernyataan sikapnya setelah sebelumnya melakukan forum diskusi bersama sejumlah ulama, pimpinan ormas Islam, perwakilan partai politik dan pejabat pemerintah Kota Bogor pada Rabu lalu (23/1) di sekretariat FMB Jl. KS Tubun, Kota Bogor.

FMB menjelaskan, tahun baru Imlek merupakan perayaan terpenting orang Tionghoa. Perayaan tahun baru imlek dimulai di hari pertama bulan pertama di penanggalan Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh di tanggal kelima belas (pada saat bulan purnama).

Meski banyak pihak yang mengklaim bahwa Imlek adalah perayaan kebudayaan Tionghoa dan tidak ada kaitannya dengan agama apapun, tapi padahal faktanya, tahun baru Imlek dirujukkan pada kelahiran Kongzi/Kongcu/Confusius (551 SM) yang merupakan nabi bagi agama Konghucu. Perintah untuk merayakan Imlek itu pun datangnya dari Kongzi dan tertuang dalam kitab-kitab agama Konghucu. Sehingga nama resmi yang dipakainya pun jelas, tahun 2569 Kongzili.

Oleh karena itu, FMB membuat seruan untuk tiga pihak. Pertama, kepada pihak pemerintah daerah Bogor.

FMB menyeru Pemerintah Kota dan Kabupaten Bogor untuk tidak memfasilitasi perayaan Imlek dan Cap Go Meh di wilayah Bogor, terutama perayaan yang melibatkan umat beragama lainnya, khususnya umat Islam. Tidak mengarahkan para Aparatur Sipil Negara (ASN) yang beragama Islam dan masyarakat Muslim lainnya untuk ikut menghadiri maupun mendukung perayaan tersebut.

“Jika karena alasan budaya, maka penampilan berbagai seni budaya tidak harus ditampilkan dalam momen acara Cap Go Meh, tapi bisa dalam momen apapun, semisal perayaan Hari Jadi Bogor (HJB) atau lainnya,” ujar Ketua FMB Ustaz Imam Syafii dalam pernyataan tertulisnya yang diterima redaksi, Ahad (27/1/2019).

Seruan kedua, FMB menyeru kepada para ulama dan semua tokoh Muslim untuk menjelaskan kepada umat mengenai fakta CGM dan bahayanya terhadap akidah umat serta keharaman umat Islam untuk menghadiri atau terlibat di dalamnya. Penjelasan bisa dilakukan dalam bentuk khutbah Jum’at, ceramah, kajian dan lainnya.

Lalu seruan ketiga, FMB mengajak kepada umat Islam untuk senantiasa memperkuat akidah Islamiyah dengan tetap menjaga persatuan, kesatuan dan kerukunan di tengah perbedaan.

“Kami juga mengimbau umat Islam tidak menghadiri dan mengikuti perayaan Imlek dan Cap Go Meh yang dilakukan oleh masyarakat Tionghoa dengan tetap menjaga kondusifitas Kota dan Kabupaten Bogor. Umat Islam juga tidak perlu menggunakan pernak-pernik Imlek dan Cap Go Meh seperti lampion, angpao, petasan, barongsai, serta pernak-pernik lainnya,” kata Imam.

Kemudian, FMB mengimbau umat Islam untuk tidak mengucapkan selamat Tahun Baru Imlek “Gong Xi Fa Cai”, “Karena dengan mengucapkannya, menunjukkan kita setuju dengan hari raya tersebut. Jika setuju dengan hari raya tersebut, berarti setuju dengan agama mereka, dan ini merupakan pintu kekafiran yang harus dijauhi,” jelas Imam.

“Mari kita senantiasa mengikatkan diri dengan syariah Islam dan selalu berikhtiar dengan sungguh-sungguh agar syariah Islam dapat diamalkan dalam seluruh aspek kehidupan sehingga dapat menjaga aqidah umat dari berbagai akidah sesat dan kufur yang berasal dari luar Islam,” tandasnya.

Selain FMB, sebelumnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bogor juga pernah membuat seruan serupa. Pada 2017 lalu, MUI mengeluarkan surat edaran yang isinya mengimbau kepada umat Muslim untuk tidak ikut-ikutan dalam perayaan Cap Go Meh.

Baca Selengkapnya
%d blogger menyukai ini: