Cara Memelihara Diri dan Keluarga dari Neraka

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu,,,.” (Terj. Qs. At-Tahrim: 6).

“Peliharalah dirimu dan dirimu dari api neraka”

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Dalam Al-Qur’an kita diperintahkan untuk menjaga atau memelihara diri dan keluarga diri neraka. Pertanyaan saya, Bagaimana caranya? Amalan apa yang dilakukan untuk menjaga diri dan keluarga dari neraka? Trimakasih. (Amatullah)

Jawaban:

Benar, dalam Al-Qur’an surat At-Tahrim ayat 6 setiap orang beriman diperintahkan oleh Allah untuk menjaga dan memelihara  dirinya dan keluarganya dari api neraka. Allah Ta’ala berfirman.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu,,,.” (Terj. Qs. At-Tahrim: 6).

Lalu bagaimana caranya? Untuk lebih jelasnya, simak penjelasan para Sahabat Nabi dan Tabi’in, sebagaimana dikutip  ahli tafsir Imam Ibnu Kastir dalam Kitabnya Tafsir Al-Qur’an al-Adziem;

Menurut Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, makna “peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”, adalah “lakukanlah ketaatan kepada Allah dan tinggalkan maksiat serta suruhlah mereka untuk berdzikir kepada Allah. Maka dengannya Allah selamatkan kalian dari api neraka”.

Sementara Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengatakan, makna “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”, adalah “didiklah mereka dan ajarkan ilmu kepada mereka (addibhum wa ‘allimuhum)”.

Sedangkan Muqatil dan Ad Dhahak berkata, makna “peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”, adalah, “Engkau memerintahkan mereka untuk mentaati Allah dan mencegah mereka dari bermaksiat kepada Allah, hendaklah engkau menegakkan perintah Allah teradap mereka, memerintahkan mereka dengan perintah Allah dan membantu mereka dalam urusan tersebut, dan jika engkau melihat kemaksiatan dari mereka maka hendaklah engkau menghardik mereka”.( Tafsir Ibnu Katsir: 4/391 ).

Dari penjelasan para Mufassir (ahli Tafsir) dapat disimpulkan, memelihara diri dan keluarga dilakukan dengan mengajarkan ilmu kepada keluarga, menanamkan adab, mengajak keluarga melakukan ketaatan dan meninggalkan maksiat, serta membimbing mereka untuk selalu berdzikir dan mengingat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Penjelasan selengkapnya silahkan baca di sini.

Sekda Jeneponto Minta Relawan Wahdah Islamiyah Bantu Atasi Trauma Warga Terdampak Banjir

Jeneponto (wahdahjakarta.com) – Sekretaris daerah Kabupaten Jeneponto, Muhammad Syafruddin Nurdin menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para relawan Wahdah Islamiyah yang telah membantu proses penanggulangan bencana gempa di Kabupaten Jeneponto.

Sekretaris daerah Kabupaten Jeneponto, Muhammad Syafruddin Nurdin

Sekda Jeneponto, Muhammad Syafruddin Nurdin bersama Tim Relawan Wahdah Peduli

Syafruddin dalam kesempatan tersebut juga menyebutkan bahwa banjir yang terjadi pada tahun ini adalah yang paling besar sepanjang berdirinya Kabupaten Jeneponto.

“Yang saya herankan baru kali ini daerah perkotaan dilanda banjir padahal sebelum-sebelumnya tidak. Saya pikir itu tsunami,” ujar Syahfruddin, saat ditemui di Masjid Agung Jeneponto di Balang Toa, Binamu, Balang Toa, Jeneponto, Ahad (27/1/2019).

Ia berkisah, saat kejadian banjir, Selasa (22/1/2019) salah seorang ajudannya menyebut bahwa terlihat air bah yang mulai mengalir dari balik jalan-jalan.

“Awalnya saya tidak percaya. Namun setelah saya cek ternyata memang benar,” terangnya.

Saat itu, Syahfruddin berada diatas mobil. Karena dari arah depan air bah sudah menggenang, akhirnya ia terpaksa membalikkan arah kendaraannha. Setelah berhasil lolos ia terkejut. Seluruh mobil di jalanan sudah terendam banjir. Bahkan, tambah Syafruddin, sebuah rumah beserta isinya hanyut dibawa arus.

“Jadi berita di TV-TV itu ya disini. Di Jeneponto. Kasihan mereka, menabung bertahun-tahun dan hanya sehari hartanya habis,” tuturnya.

Ia berharap, agar relawan Wahdah Islamiyah bisa tetap mendampingi masa pemulihan ini. Bahkan jika perlu, program dakwah yang dibingkai dalam kegiatan traumatic bisa diadakan. Menurutnya warga banyak yang hingga masih berada di pengungsian seperti di lantai dua Masjid Agung Jenneponto ini karena maish trauma dengan musibha yang mereka alami.

“Saya suka dakwah. Dan saya suka orang yang mau berdakwah dan saya siap bantu,” pungkasnya. []

Tema-tema Besar Kajian tentang Palestina dan Kolonialisme Zionis

Meski sebagai Muslim kita memiliki ikatan emosional yang kuat terhadap segala isu yang berkaitan dengan Palestina, namun sedikit yang punya gambaran menyeluruh tentangnya. Apalagi kerangka kajian atau peta masalah yang sistematis. Wawasan sebagian besar kita tentang Palestina terbatas pada doktrin-doktrin kunci yang merupakan bagian dari sistem aqidah Islam kita.

Perjuangan rakyat Palestina
Perjuangan rakyat Palestina

Kunjungan Dr. Samir Said, Konsultan Training dari Mimbar Alaqsa International Foundation ke Indonesia beberapa waktu lalu mengungkap hal tersebut. Dalam kesempatan daurah tadrib di Jakarta, Dr. Samir memaparkan bahwa isu-isu terkait Palestina dapat dirangkum pada sejumlah tema besar.

Pertama adalah tentang Palestina itu sendiri. Pembahasan ini mencakup histori sebelum dan sesudah Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi Wassalam. diutus, lengkap dengan geografi dan geopolitik di sana.

Berikutnya adalah Alquds atau Baitul Maqdis. Inilah kota yang belakangan dipopulerkan namanya sebagai Yerusalem. Bahasan tentang Alquds, menurut Said, akan lebih spesifik karena wilayahnya yang berada di dalam Palestina dan karena adanya kaitan wilayah ini dengan nash-nash dalam Al-Qur’an dan Hadits Nabi.

Tema besar berikutnya adalah Zionisme dengan berbagai praktek kolonilaisme yang dilakukannya. Di hadapan para muballigh dan aktivis dakwah di Jakarta dan sekitarnya itu, konsultan Mimbar Alaqsa ini mengungkap betapa di era modern ini masih ada sebagian manusia mampu melakukan tindakan brutal kepada manusia lainnya. Dari contoh-contoh yang diangkat Said, sebagian tindakan tersebut bahkan di luar dari nalar kemanusiaan. Dan warga Alquds yang terdiri dari kaum Muslim dan Nasrani menjadi korbannya.

Bagaimana masa depan konflik serta kolonialisme Zionis terhadap Palestina? Setidaknya ada tiga perspektif: Yahudi, Nasrani dan Islam. Inilah tema keempat yang tak kalah menarik. Perspektif dari berbagai agama ini mau tidak mau ikut mewarnai situasi dan kondisi di sana.

Daurah sehari tersebut akhirnya ditutup dengan membangkitkan kesadaran tentang peran setiap individu yang anti terhadap kolonialisme. Sebab ternyata setelah lewat setengah abad kita bangsa Indonesia menghirup udara kemerdekaan, masih ada saudara-saudara kita di sana yang belum menikmatinya. (hbg)

Bentrokan di Masjid Jogokariyan Berakhir Damai, PDIP Minta Maaf

Jama’ah Masjid Jogokariyan berjaga-jaga menghalau perusuh

(Yogyakarta) wahdahjakarta.com -, Keributan antara massa PDIP dengan Pemuda Masjid Jogokariyan, Ahad (27/01/2019) sore kemarin, telah  diselesaikan secara damai dan kekeluargaan. Pengurus PDIP wilayah setempat langsung meminta maaf sementara pihak Masjid Jogokaryan tidak memberikan keterangan.

Bentrokan tejadi usai acara deklarasi dukungan terhadap calon presiden dan calon wakil presiden (capres-cawapres) nomor urut 01 Joko Widodo–Ma’ruf Amin di Stadion Mandala Krida, Yogyakarta.

Bentrokan bermula ketika pada pukul 16.05 WIB, massa PDIP melintas di depan Masjid Jogokariyan dan merusak bendera, spanduk Hizbulloh, serta mem-bleyer-bleyer (menggeber gas) sepeda motor di Masjid Jogokaryan.

Selanjutnya, Pemuda Masjid Jogokariyan keluar dan mengadang serta mengejar massa PDIP. Lalu terjadilah cekcok mulut. Pada saat itu sempat terjadi ketegangan di antara kedua belah pihak.

Pada pukul 17.15 WIB, kedua belah pihak difasilitasi oleh Bawaslu, Polsek Mantrijeron, dan Koramil 09/MJ melaksanakan mediasi di Pendopo Kecamatan Mantrijeron.

Mediasi dihadiri oleh Camat Mantrijeron, Kapolsek Mantrijeron, Danramil 09/MJ, Bawaslu, Panwas Kecamatan Mantrijeron, Ustadz M Fanni Rahman (Ketua Takmir Masjid Jogokaryan), Junianto (Ketua DPC PDIP Kecamatan Mantrijeron/Caleg DPRD Kota Yka dari PDIP wilayah Mantrijeron), dan Darrohman (Ketua FJI DIY).

Ketua Takmir Masjid Jogokariyan, Ustadz. M. Fanni Rahman (kiri berpeci) dan Ketua DPC PDIP Mentrijeron Junianto usai mediasi.

Ustadz M Fanni Rahman meminta agar pihak PDIP setempat segera minta maaf ke Masjid Jogokariyan Mantrijeron. Permintaan ini disambut baik pihak PDIP.

Ketua DPC PDIP Mantrijeron Junianto mengatakan, “Saya sebagai yang dituakan di DPC PDIP Mantrijeron apabila ada suatu hal yang salah di antara temen kita dari Jamaah Masjid Jogokariyan, saya minta maaf yang sebesar-besarnya.”

“Sekali lagi saya minta maaf apabila temen saya ada yang salah, dan akan saya temukan besok (Senin, 28/01/2019, Red) antara Saudara Kelinci dan pihak Jamaah Masjid Jogokariyan untuk meminta maaf. Saudara Kelinci akan saya hadirkan secepatnya bertemu dengan jamaah Masjid Jogokariyan.”

Setelah diadakan mediasi selanjutnya dilaksanakan konsep perdamaian antara kedua belah pihak dan membuat Surat Pernyataan. Pukul 19.35 WIB, kegiatan mediasi selesai dalam keadaan aman dan lancar.

Dari mediasi kedua belah pihak, didapat keputusan untuk saling menjaga kondusifitas wilayah Mantrijeron bersama-sama. []

Sumber: Hidayatullah.com

Angkut Puluhan Kilo Logistik dengan Berjalan Kaki, Relawan Daki Gunung Selama 3,5 Jam

Relawan Lazis Wahdah menempuh jarak 10 km dengan berjalan kaki membawa bantuan logistik untuk warga terdampak longsor.
Relawan Lazis Wahdah menempuh jarak 10 km dengan berjalan kaki membawa bantuan logistik untuk warga terdampak longsor.

(Gowa) wahdahjakarta.com – Tak ada rotan, akar pun jadi. Mungkin ini adalah peribahasa yang cocok untuk menggambarkan bagaimana perjuangan relawan LAZIS Wahdah saat  mendistribusikan bantuan logistik ke Desa Mangempang, Kecamatan Bungaya, Kabupaten Gowa.

Selasa (22/1/2019) lalu, sebagian daerah di Sulawesi Selatan mengalami kelumpuhan. Sungai Jeneberang meluap melebihi volume normal. Intensitas hujan yang sangat tinggi memicu terjadinya tanah longsor dimana-mana. Di wilayah Mangempang, tanah longsor yang membawa lumpur basah menutupi jalan penghubung antar dusun. Sehingga, kendaraan roda dua dan empat tidak memungkinkan untuk digunakan mendistribusikan bantuan ke masyarakat terdampak.

Relawan wahdah Peduli

Merespon masalah ini, relawan LAZIS Wahdah tidak kehabisan ide. Dengan memanfaatkan sebuah ransel gunung, tiga puluh relawan mencoba melakukan ekspedisi kemanusiaan jalur darat dengan cara berjalan kaki. Jarak yang ditempuh sejauh sepuluh kilometer membutuhkan waktu selama 3,5 jam lamanya.

Tebing-tebing yang terjal dipenuhi kerikil-kerikil, sisa-sisa hantaman tanah longsor yang terjadi. Pepohonan sudah tidak terlalu nampak menghijau. Semuanya dipenuhi lumpur dan bebatuan. Tak nampak wajah letih di wajah-wajah relawan ini. Hanya senyum keikhlasan karena bisa membantu sesama.

Perjalanan ini setidaknya membawa beberapa jenis bantuan, mulai dari paket sembako, beras dengan berat dua puluhan kilo per orang, bahan makanan, hingga tabung gas yang dibawa dengan berjalan kaki.

Relawan Lazis Wahdah Angkut Puluhan Kilo Logistik dengan Berjalan Kaki menempuh jarak 10 Km

Dari keterangan yang didapatkan dari relawan yang berkunjung, Syandri menyebutkan, ada puluhan rumah yang rusak parah dihantam tanah longsor. Sementara korban meninggal dunia tercatat ada sebelas orang.

Hingga saat ini, kondisi jalanan masih hancur dan sangat sulit dilalui kendaraan. Untuk memenuhi kebutuhan logistik, para relawan terpaksa mengangkut secara manual. Berjalan kaki, lalu mengangkut bantuan menuju posko-posko pengungsian. []