LAZIS Wahdah Beri Bantuan Pendidikan Kepada Siswa Kurang Mampu Di Samarinda

Lazis Wahdah

(Samarinda) wahdahjakarta.com – Lembaga Amil Zakat Infak dan Sedekah Wahdah Islamiyah (Lazis Wahdah) memberikan bantuan pendidikan kepada siswa kurang mampu di Samarinda kalimatan Timur (Kaltim).

Bantuan pendidikan ini diberikan kepada masing-masing Ainun najla, Muhammad nur khairullah, Naurah jazirah dan Sofiyyah muslim. Keempatnya merupakan siswa SD IT Imam Syafi’i Samarinda, Kalimantan Timur.

“Beasiswa pendidikan untuk keempat siswa keluarga miskin ini merupakan donasi pendidikan yang diserahkan oleh sejumlah donatur LAZIS Wahdah di seluruh Indonesia,” kata Darwin Shiddiq, Ahad (27/1/2019).

Ia menyampaikan, masih ditemukan sejumlah kendala yang dilihat dari skala nasional pendidikan Indonesia saat ini.

Misalnya kata dia, masalah terbatasnya akses pendidikan, selain itu kualitas, relevansi dan daya saing yang masih rendah, serta ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan yang berkualitas pun masih terbatas. Kendati demikian, ia melanjutkan, meski dalam keadaan serba sulit, kita tidak bisa membiarkan mereka tidak bersekolah lantaran masalah biaya dan kelengkapan sekolah.

“Substansi pendidikan merupakan kunci dari pembangunan, maka atas dasar itulah, LAZIS Wahdah ingin membantu pelajar Indonesia untuk mendapatkan akses pendidikan yang lebih baik,” kata dia.

Melalui program ini, lanjut dia, LAZIS Wahdah ingin mewujudkan komitmen untuk mendayagunakan kekayaan ummat lewat zakat, shodaqoh, dan infak untuk dimanfaatkan sebesar-besarnya.

“Inilah tujuan sebenarnya, mengapa zakat dan sedekah serta infak itu penting untuk ditunaikan,” imbuhnya.

Salah seorang penerima manfaat bernama Abdullah mengaku untuk membayar sekolah, orangtuanya harus nyambi sebagai pengajar privat.

“Dikumpulkan dalam sebulan hanya terkumpul 300 ribu. Terkadang nungak 2/3 bulan. Untuk pembayaran buku mesti nyicil. Belum lagi bensin untuk antar Muhammad ke sekolah tiap hari,” ungkap Shovi, ibu Abdullah.

#laziswahdah #wahdahislamiyah #wahdah #sedekah #zakat #laziswahdahpeduli #wahdahpeduli #ayosedeka

Jelang Pemilu/Pilpres 2019, MIUMI Imbau Umat Islam Jaga Persaudaran dan Persatuan

Sekjen MIUMI Ustadz Bachtiuar Nasir (kiri) dan Wakil Ketua MIUMI Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin (kanan)

(Jakarta) wahdahjakarta.com -, Menyikapi Pemilihan Umum (Pemilu) serentak dan Pemilihan Presiden (Pilpres) yang akan digelar 17 April 2019 mendatang, Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) mengimbau kepada umat Islam agar tetap menjaga persaudaraan dan persatuan.

“Mengajak semua umat Islam agar menjaga persaudaraan dan persatuan atas dasar sesama muslim dan sesama bangsa,” ujar Sekretaris Jenderal MIUMI, Ustadz Bachtiar Nasir (UBN) saat konfrensi pers tentang Sikap Politik MIUMI di Jakarta, Selasa (29/01/2019).

Komunitas yang menghimpun para tokoh dari berbagai ormas dan lembaga ini juga mengimbau agar tidak saling menyerang hanya karena perbedaan pilihan politik.

“Jangan  menyerang sesama muslim hanya karena berbeda pilihan politik, jangan pula menyerang ulama, lembaga keulamaan, ormas Islam dan lembaga Islam manapun”, imbaunya.

UBN juga mengajak untuk senantiasa menjunjung tinggi nilai Bhineka Tunggal Ika sebagaimana yang diajarkan Alquran dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Selain itu MIUMI juga mengimbau umat Islam untuk menyalurkan hak pilih dan tidak golput. Namun MIUMI memberi arahan agar memilih calon yang berpihak pada kepentingan Islam dan umat Islam yang otomatis berpihak pada kepentingan bangsa.

Bahkan MIUMI mengingatkan  agar mewasapadai manuver politik sebagian oknum dan kalangan yang hanya menjadikan umat Islam sebagai alat mencapai kepentingan politik pribadi yang sesaat.

“Agar umat Islam jangan mau lagi menjadi sekedar pemanis saat pemilu raya atau hanya menjadi pendorong mobil mogok setelah pemilu raya”, terang UBN.

Ia melanjutkan, Pilhlah para calon yang berpihak pada kepentingan umat dan bangsa serta jangan memilih calon yang berasal dari kelompok atau organisasi atau pribadi yang anti Islam dan tidak memperhatikan kepentingan umat Islam dan bangsa. []

Delapan Imbauan Wantim MUI Menyikapi Pemilu 2019

Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI)

(Jakarta) wahdahjakarta.com – Dewan Pertimbangan (Wantim) Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyerukan delapan imbauan menghadapi Pemilu 2019. Harapannya masyarakat dapat mengutamakan persatuan, agar tidak saling bermusuhan karena perbedaan pandangan politik.

Imbauan dan pernyataan sikap disampaikan Wakil Ketua Wantim MUI, KH Didin Hafiduddin. Kyai Didin mengatakan, Wantim MUI prihatin terhadap kondisi kebangsaan dan keumatan yang cenderung mengalami gejala perpecahan karena beda pilihan politik.

“Pertama, MUI berharap walau adanya perselisihan dalam cuaca panas politik Pilpres 2019 tidak menyebabkan pertentangan yang melemahkan umat dan bangsa,” kata Kiai Didin dalam konfrensi pers bertajuk ‘Umat Islam Menghadapi Pemilu/Pilpres 2019’ usai Rapat Pleno ke-34 Wantim MUI di Kantor MUI Pusat, Jakarta, Rabu (30/1/2019).

Kedua, menyeru pimpinan ormas dan tokoh untuk mengedepankan persatuan dan kesatuan. Pilpres hanya sarana atau alat. Sehingga jangan sampai sarana itu malah menyebabkan kehancuran. Pilpres sesungguhnya membuat negara beradab dan ajang mencari pemimpin terbaik.

Ketiga, umat Islam diharapkan mengutamakan persatuan dan kesatuan. Meski ada perbedaan pilihan tapi tidak boleh merusak ukhuwah islamiyah. Persaudaraan tidak boleh terganggu karena pesta demokrasi lima tahun sekali ini.

“Keempat, Wantim MUI menyeru tokoh agama, tokoh masyarakat, pimpinan pemerintahan agar tidak mengumbar pernyataan yang mengundang konflik dan pertentangan. Seperti, mengajak kelompoknya kepada pernyataan yang irasional yang menimbulkan masalah di kemudian hari,” ujarnya.

Kelima, posisi MUI sebagai rumah besar bersama. MUI tetap menjadi pelayan umat dan mitra pemerintah dalam memberikan amar maruf nahi munkar.

Keenam, umat dipersilahkan memiliki literasi politik untuk menentukan pilihan terbaik dengan tidak golput.

Wantim MUI berharap yang dijadikan pegangan dalam pilpres ini adalah hadis Rasulullah yang berbunyi: “Barang siapa yang tidak punya kepedulain terhadap umat Islam maka mereka bukan bagian Muslimin”, Umat diharapkan memilih Capres atau Caleg dengan cerdas yang mengutamakan kepentingan umat di atas segalanya.

Ketujuh, penyelenggara pemilu seperti KPU dan Bawaslu bersikap netral dan berkeadilan. Sehingga demokrasi berjalan baik. Sebagai wasit dan penyelenggara tidak boleh jadi pemain. Begitu pun dengan lembaga hukum dan kepolisian.

Kedelapan, umat Islam memiliki kekuatan doa. Kepada pemimpin masyarakat dan umat Islam secara menyeluruh agar melaksanakan shalat dan berdoa kepada Allah agar dilahirkan pemimpin yang amanah, jujur, dan membawa kemaslahatan di dunia dan akhirat.

Saat menyampaikan pandangan Wantim MUI itu dia didampingi sejumlah tokoh, di antaranya KH Din Syamsuddin, KH Abdullah Sahal, KH Yusnar Suyuf, dan Syafiq Mughni.

Delapan poin pandangan Wantim MUI itu merupakan kesimpulan yang dihasilkan dari Rapat Pleno ke-34 yang diikuti pimpinan, anggota Wantim, bersama pimpinan-pimpinan ormas, dan lembaga Islam. Rapat berlangsung selama tiga jam di Aula MUI, Jakarta Pusat, Rabu (30/01/2019).

UBN : Jangan Sampai Umat Islam Dibutuhkan Saat Pemilu Saja

Sekjen MIUMI Ustadz Bachtiar Nasir dan Wakil Ketua MIUMI Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin pada konfrensi pers MIUMI, Jakarta, Selasa (29/01/2019)

(JAKARTA) wahdahjakarta.com – Sekretaris Jenderal Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (Sekjend MIUMI) Ustadz Bachtiar Nasir (UBN) mengatakan, umat Islam tidak boleh hanya dibutuhkan saat pemilu saja.

“Jangan sampai kita hanya dibutuhkan ketika pesta demokrasi saja. Pilihlah calon yang berpihak pada kepentingan umat dan bangsa,” ujar UBN dalam konfrensi pers Sikap Politik MIUMI menyambut Pemilu, Pileg, dan Pilpres 2019 di Jakarta, Selasa (29/02/2019).

MIUMI juga mengingatkan agar umat Islam tidak mau dijadikan sekadar pemanis saat pemilu. Menurut dia, umat Islam sebagai pemilih terbesar sangat menentukan nasib umat dan bangsa dalam Pilpres, Pileg dan Pemilihan DPD pada tahun 2019 nanti.

Umat Islam juga diminta untuk tidak memilih pribadi, kelompok atau organisasi yang anti-Islam dan tidak memperhatikan kepentingan umat. “Kita harus cerdas menentukan pilihan, jangan sampai salah pilih,” sambungnya.

Dalam konferensi pers tersebut ia juga mengimbau umat Islam untuk berpartisipasi pada Pemilihan Umum (Pemilu) serentak 17 April 2019 dan tidak golput.

“Kami mengimbau agar seluruh umat Islam agar tidak golput dan (agar) menggunakan hak pilihnya dengan memilih calon yang berpihak pada kepentingan umat dan kepentingan bangsa,” imbaunya.

Komunitas cendekiawan dan ulama muda itu juga mengajak umat Islam agar tetap menjaga persaudaraan dan persatuan. Jangan ada perpecahan, apalagi hanya karena pileg dan pilpres.

“Kami mengajak semua umat Islam agar menjaga persaudaraan dan persatuan atas dasar sesama muslim dan sesama bangsa. Jangan pecah belah karena masalah politik,” tutur Bachtiar.

Dia juga mengimbau umat Islam tidak saling menyerang hanya karena berbeda pilihan. Jangan pula menyerang ulama, lembaga keulamaan, ormas Islam dan lembaga Islam manapun. “Junjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika sebagaimana yang diajarkan Alquan dan Sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam,” serunya.[]