Waspada Neo Abu Jahal

Hari itu sebenarnya suara musyrikin Quraisy terbelah. Sebagian kecil pro perang. Sebagian kecil yang lain dengan tegas menolak perang. Dan diantara kedua kubu itu terdapat “undecided voters” atau “swing voters” yang prosentasenya tidak sedikit.

Diantara yang tegas menolak peperangan adalah Bani Zuhrah dan beberapa kabilah yang lain. Nama yang menonjol salah satunya, Hakim bin Hizam, keponakan Khadijah radhiyallahu anha. Ada juga Al Akhnas bin Syuraiq, salah satu “musyrikin garis keras”.

Kubu ini berargumen, tidak perlu perang karena kafilah dagang Abu Sufyan telah selamat. Kafilah yang membawa saham-saham para investor itu berhasil lolos sampai ke Makkah.

Kafilah telah selamat. Apa lagi yang diinginkan dari perang? Perang hanya akan memicu dendam berkepanjangan. Karena disana ada ayah, ada anak, ada sepupu, ada paman, dan sekian banyak kerabat mereka sendiri dari Makkah.

Orang-orang ini yang tidak setuju dengan perang ini, masih setia kepada akal sehat. Mereka masih waras. Maka mereka memutuskan untuk segera putar balik, kembali ke Makkah.

Sementara itu, sebagian tokoh musyrikin yang lain nampaknya tidak berani tegas. Hati kecil mereka menolak putusan Abu Jahal, namun rasa sungkan mengalahkan akal sehatnya.

‘Utbah bin Rabi’ah contohnya. Pembesar Mekkah yang juga tuan tanah di Tha’if ini coba menyanggah Abu Jahal. Dia utus Hakim bin Hizam untuk adu gagasan dengan Abu Jahal.

Jelas, ‘Utbah punya argumen untuk menolak perang. Jelas juga, Abu Jahal tidak mampu menyanggah akal sehat ‘Utbah.

Menurut ‘Utbah, ngapain perang wong kafilah selamat? Yang akan mereka hadapi adalah sanak saudara dan handai taulan dari Makkah.

Akan ada ayah saling bunuh dengan anaknya, paman dengan keponakan, kakak dengan adiknya, cucu dengan kakek, dst.

Namun, mungkin begitulah tabiat orang-orang dungu. Jika dia tidak bisa beradu gagasan, dia akan serang pribadinya. Begitu juga Abu Jahal, dia sebut ‘Utbah sebagai pengecut dengan kata-kata yang tidak pantas, “Yaa mushaffar itfihi”. Abu Jahal menuduh ‘Utbah takut, karena disana ada anak kandungnya.

Untuk mengembalikan kesolidan, jelas susah bagi Abu Jahal. Mereka terlanjur berpecah. Mereka terlanjur tidak sehati.

Jalan satu-satunya bagi Abu Jahal, hanya PROVOKASI. Bukan narasi penyampaian visi. Abu Jahal tidak punya visi.

Pantik fanatismenya. Pantik dendam atas terbunuhnya Ibnu Hadhrami. Yang penting perang, yang penting kita menang. Itu prinsip Abu Jahal.

“Demi Allah, kita tidak akan kembali sampai kita tiba di Badar. Kita akan tinggal di sana tiga hari, menyembelih onta, pesta makan, minum khamr, mendengarkan dendang lagu biduanita sampai masyarakat jazirah Arab mendengar nama kita dan semakin segan kepada kita…”

Itulah provokasi Abu Jahal yang nir-visi. Hanya modal gengsi. Cita-cita yang rendah sekali.

Abu Jahal Masa Kini
Di setiap zaman akan tetap ada Abu Jahal-Abu Jahal seperti ini. Dia berambisi, tanpa punya visi.

Bagi kita sebagai umat, mari waspada. Jangan mudah terprovokasi dengan orasi. Hati-hati, ada para pemimpin yang tidak punya visi, hanya bermodal diksi. Ada juga yang cuma bisa jualan janji.

Mari saling mengingatkan. Karena kita sedang dan akan terus mencari pemimpin untuk umat dan bangsa ini.

Murtadha Ibawi

Sikap Politik MIUMI Menyambut Pemilu dan Pilpres 2019

Konfrensi Pers MIUMI tentang sikap Politik MIUMI menyambut Pemilu dan Pilpres 2019, Jakarta, (29/01/2019)

(Jakarta) wahdahjakarta.com -, Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) menyampaikan sikap politik menyambut Pemilihan Umum (Pemilu), Pileg, Pilpres, dan pemilihan anggota DPD RI 2019. Pernyataan sikap disampaikan melalui konfrensi pers yang digelar di Jakarta, Selasa (29/01/2019).

Berikut selengkapnya:

SIKAP POLITIK MAJELIS INTELEKTUAL DAN ULAMA MUDA INDONESIA (MIUMI)

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

ASSALAMU’ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH

Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) adalah sebuah komunitas para tokoh dari berbagai ormas dan lembaga yang menjadikan ilmu sebagai basis gerakan dan perjuangan sekaligus sarana mereka untuk bersinergi,  termasuk gerakan poltik keumatan  menyambut Pilpres, Pileg dan pemilihan DPDRI 2019. Jargon gerakan politik keumatan MIUMI adalah “INTEGRASI KEISLAMAN DAN KEBANGSAAN”, maka terkait jargon politik tersebut berikut beberapa pernyataan sikap MIUMI:

  1. Islam sebagai agama universal bagi seluruh manusia memandang politik sebagai sarana ibadah yang agung dalam rangka menata kelola kehidupan publik yang berkeadilan dan mensejahterakan masyarakat dan bangsa. Karenanya Islam dan Politik tak dapat dipisahkan bahkan menjadi satu kesatuan yang integral. Karenanya umat Islam menolak sekularisme dan liberalisme yang hendak memisahkan Islam dengan politik kebangsaaan.
  2. Tiga (3) kerangka dasar Islam yaitu; Aqidah, Syariah dan Akhlaq telah menjadi sendi bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sejak awal berdirinya bahkan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari Pancasila dan UUD 1945, maka kami akan menolak dan melawan setiap upaya yang akan menyingkirkan narasi dan nilai Islam dari pondasi NKRI dan UUD 1945 misalnya narasi dan nilai Komunisme, Leninisme, dan Marxisme sebagaimana tertuang dalam TAP MPRS No. 25 Tahun 1966, demikian pula sekularisme dan liberalisme karena telah menjadi gerbang masuknya berbagai sampah ideologi yang bertentangan dengan ideologi bangsa dan Negara Indonesia yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
  3. Umat Islam sebagai pemilih terbesar yang menentukan nasib ummat dan bangsa dalam Pilpres, Pileg dan Pemilihan DPDRI pada tahun 2019 nanti, untuk itu kami menghimbau;
  4. a. Agar seluruh ummat Islam agar tidak golput dan menggunakan hak pilihnya dengan memilih calon yang berpihak pada kepentingan Islam dan umat Islam yang otomatis berpihak pada kepentingan bangsa.

b. Agar umat Islam jangan mau lagi menjadi sekedar pemanis saat pemilu raya atau hanya menjadi pendorong mobil mogok setelah pemilu raya. Pilhlah para calon yang berpihak pada kepentingan umat dan bangsa serta jangan memilih calon yang berasal dari kelompok atau organisasi atau pribadi yang anti Islam dan tidak memperhatikan kepentingan umat Islam dan bangsa. Bahkan umat Islam

c. Mengajak semua umat Islam agar menjaga persaudaraan dan persatuan atas dasar sesama muslim dan sesama bangsa, jangan menyerang sesama muslim hanya karena berbeda pilihan politik, jangan pula menyerang ulama, lembaga keulamaan, ormas Islam dan lembaga Islam manapun. Dan senantiasalah menjunjung tinggi nilai Bhineka Tunggal Ika sebagaimana yang diajarkan Alquran dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.

Jakarta, 29 Januari 2019.

Bachtiar Nasir

SEKJEND MIUMI

Dampak Banjir Sulsel Terparah di  Jeneponto dan Gowa, Ribuan Warga Masih Mengungsi

(Makassar) wahdahjakarta.com -, Penanganan darurat bencana banjir, longsor dan puting beliung yang melanda wilayah Sulawesi Selatan pada 22/1/2019 masih terus dilakukan hingga saat ini.

Meskipun banjir sudah surut ribuan warga masih berada di pengungsian karena kondisi rumah rusak dan rumah dan lingkungan penuh lumpur. Beberapa warga merasa lebih aman di pengungsian karena trauma dengan banjir dan longsor.

Hingga 27/1/2019, tercatat 188 desa terdampak bencana di 71 kecamatan yang tersebar di 13 kabupaten/kota. Dampak bencana tercatat 68 orang meninggal, 7 orang hilang, 47 orang luka-luka, dan 6.757 orang mengungsi.

Kerusakan fisik meliputi 550 unit rumah rusak ( 33 unit hanyut, 459 rusak berat, 30 rusak sedang, 23 rusak ringan, 5 tertimbun), 5.198 unit rumah terendam, 16,2 km jalan terdampak, 13.326 hektar sawah terdampak dan 34 jembatan, 2 pasar, 12 unit fasilitas peribadatan, 8 fasilitas pemerintah, dan 65 unit sekolah.

Prioritas penanganan saat ini adalah membersihkan lumpur dan material yang menutup jalan, lingkungan dan rumah. Material lumpur yang ada di dalam rumah tebalnya ada yang 50 centimeter dan kondisinya mulai mengeras sehingga sulit dibersihkan. Alat berat dikerahkan membersihkan material lumpur.

Kebutuhan mendesak yang diperlukan adalah permakanan, selimut, matras, pelayanan medis, MCK dan sanitasi, relawan untuk membersihkan lumpur, peralatan rumah tangga untuk membersihkan lumpur, trauma healing, dan lainnya. (BNP Indonesia)

 Ayo bersama LAZIS Wahdah kita bantu warga terdampak Bencana Banjir dan Longsor SULSEL, donasi bisa disalurkan melalui melalui Bank Syariah Mandiri (451) nomor rekening : 499 900 9005 a.n LAZIS Wahdah Peduli Negeri.

Catatan

  1. Demi amanah dan kedisiplinan pencatatan maka diharapkan menambah jumlah nominal 850 setiap transferan. Contoh Rp 500.850,-
  2. Konfirmasi Transfer melalui WA/SMS ke +6285315900900, ketik : PBBS/Nama/Alamat/Jumlah Donasi beserta photo bukti transferan.

Atas partisipasi dan sedekahnya kami ucapkan “Syukran wa Jazakumullahu Khairan”.

LAZIS Wahdah “Melayani dan Memberdayakan”

Relawan LAZIS Wahdah Islamiyah Gelar Aksi Bersih-Bersih di Jeneponto

Relawan Lazis Wahdah

(Bontosunggu) wahdahjakarta.com – Relawan pasukan hijau LAZIS Wahdah Islamiyah melakukan aksi clean up atau aksi bersih-bersih di sejumlah titik banjir Jeneponto, Ahad (27/12019).

Lumpur dan sampah plastik terlihat berserakan di sejumlah bangunan rumah hingga di jalan-jalan utama. Beberapa titik yang disasar meliputi masjid agung Jeneponto, Kantor Urusan Agama (KUA) Jeneponto, beberapa titik lainnya di Desa Kayuloe Barat, Dusun Jenetallasa, dan Dusun Sampeyan, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan.

Ketua LAZIS Wahdah Jeneponto Noer Imran Ibrahim mengatakan, kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian LAZIS Wahdah atas bencana banjir yang terjadi di Kabupaten Jeneponto.

“Relawan yang turun tidak hanya berasal dari Jeneponto tetapi juga ada teman-teman kita yang berasal dari Kabupaten Sinjai dan Kabupaten Bulukumba,” jelasnya.

“Proses pembersihan dilakukan sepanjang hari dengan menyasar beberapa titik terparah banjir di Jeneponto,” tandas Noer Imran.

Sementara itu, lanjutnya, banjir yang terjadi setidaknya membuat 36 rumah rusak berat, 76 rumah rusak ringan, 25 rumah hilang, dan 200 jiwa lainnya menjadi korban. Ketinggian air pada saat itu kata Noer Imran setinggi empat meter.

“Insya Allah kita akan tetap mengawal masa-masa tanggap darurat ini dengan memaksimalkan beberapa program yang telah dibuat,” pungkasnya. []

#laziswahdah #wahdahislamiyah #wahdah #sedekah #zakat #laziswahdahpeduli #wahdahpeduli #ayosedekah #pedulibanjirsulsel #banjirjeneponto

Ustadz Salim A. Fillah Sampaikan Klarifikasi Insiden di Masjid Jogokariyan

Masjid Jogokariyan Yogyakarta. Photo: Suaramasjidotcom

(Yogyakarta) wahdahjakarta.com –, Ustadz Salim A. Fillah  menyampaikan klarifikasi terkait insiden pelemparan masjid Jogokaryan oleh rombongan konvoi salah satu partai politik yang terjadi, Ahad (27/01/2019) lalu.

Wahdahjakarta.com mendapatkan teks klarifikasi pada postingan Ustadz @Salimafillah melalui halaman Facebook @Salimafillah, Senin (28/01/2019) sore. Ia kemudian mempersilahkan untuk menyebarkan klarifikasi tersebut.

“Klarifikasi Kejadian di Masjid @jogokariyan Ahad Sore yang lalu; kami sampaikan sebagai pernyataan resmi Takmir Masjid Jogokariyan. Bagi Shalih(in+at) yang merasa perlu untuk menyebarluaskan skrinsyut di bawah ini, kami persilakan”, tulis da’i dan penulis produktif ini pada akun twitter @Salimafillah.

Pada hari Ahad, 27 Januari 2019, Masjid Jogokariyan menyelenggarakan rangkaian acara Pemilihan Takmir Masjid Jogokariyan di antaranya adalah;

  1. Jalan Sehat Warga Jogokariyan
  2. Pembukaan Agenda Pencoblosan oleh Kapolresta dan Wakil Walikota Yogyakarta
  3. Pemungutan Suara
  4. Pengajian dan Pembagian Paket Santunan Sembako untuk 390 Keluarga Kurang Mampu

Seusai pembagian paket santunan sembako sekitar pukul 16.05 WIB, warga yang hendak pulang dikejutkan oleh aksi pelemparan ke arah Masjid dan jama’ah yang dilakukan konvoi massa PDIP sambil menggeber suara bising motornya, sehingga merusak prasasti nama Masjid dan tenda kegiatan. Alhamdulillah, terpasangnya tenda kegiatan di depan Masjid mengurangi kerusakan dan meminimalisasi timbulnya korban.

Merasa terpanggil karena jama’ah pengajian dan pembagian santunan banyak yang histeris, warga Jogokariyan kemudian keluar untuk menghalau konvoi massa PDIP sampai keluar kampung.

Demi menjaga kondusivitas, keamanan, dan ketenteraman Kota Yogyakarta khususnya dan secara Nasional pada umumnya; Takmir Masjid Jogokariyan dengan i’tikad baik bersegera menyambut inisiatif Mediasi dari Kapolsek Mantrijeron dan Danramil Mantrijeron, di Kantor Kecamatan Mantrijeron.

I’tikad baik Takmir Masjid Jogokariyan tersebut, diwakili oleh Ketua Takmir H.M. Fanni Rahman, S.I.P membuahkan kesepakatan dengan Tokoh PDIP Kecamatan Mantrijeron, Junianto Budi Purnomo yang sebagaimana tertera dalam Surat Bermaterai di atas yang mana pihak konvoi PDIP diwakili Junianto Budi Purnomo meminta maaf kepada pihak Masjid Jogokariyan dan Pihak konvoi PDIP diwakili Junianto Budi Purnomo menyatakan sanggup mendatangkan Sdr. Kristiono alias Kelinci selaku provokator dan penggerak aksi penyerangan untuk meminta maaf kepada pihak Masjid Jogokariyan.

Demikian pernyataan Takmir Masjid Jogokariyan sejelas-jelasnya, sesuai dengan fakta dan hasil mediasi yang telah ditandatangani di atas materai dan disaksikan oleh Camat, Kapolsek, Danramil, dan Bawaslu Kecamatan Mantrijeron, dengan harapan agar keamanan, ketertiban, ketentraman, dan kerukunan selalu terjaga di wilayah Kota Yogyakarta dan secara nasional pada umumnya. []

LAZIS Wahdah Bagikan Paket Logistik kepada Tenaga Pengajar Korban Tsunami di Lampung Selatan

Lazis Wahdah
LAZIS Wahdah Bagikan Paket Logistik kepada Tenaga Pengajar Korban Tsunami di Lampung Selatan

(Kalianda) wahdahjakarta.com – Lazis Wahdah Islamiyah menyalurkan bantuan paket logistik kepada puluhan tenaga Pengajar/Guru di SDN 1 dan  2 Kunjir, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, Selasa (29/01/2019).

Paket yang dibagikan berupa sembako untuk menyantuni Guru yang menjadi korban tsunami di Pesisir Lampung Selatan.

Menurut Yusran, relawan LAZIS Wahdah, paket sembako disesuaikan dengan jumlah tenaga pengajar di dua Sekolah tersebut.

“Totalnya ada 21 Guru, Ini berdasarkan hasil kunjungan kami sebelumnya saat memberikan Paket Sekolah disertai Trauma Healing kepada siswa di sekolah tersebut. Kepala Sekolahnya meminta agar Guru juga jika bisa diberikan perhatian,” pungkasnya.

Dia menambahkan, selain sembako, bantuan lainnya adalah Trauma Healing yang rencananya akan diberikan berupa bimbingan kerohanian kepada seluruh Guru.

“Program kami untuk Trauma Healing Insya Allah akan diadakan secara intensif, berkelanjutan. Yakni bimbingan rohani kepada guru-guru yang Insya Allah akan disertai dengan pengajian Alquran,” tukas Yusran.

Sebelumnya, Kepala Sekolah SDN 1 Kunjir Haeruddin memberikan kesaksian bahwa selama sebulan, relawan yang mengunjungi sekolah hanya melibatkan anak-anak atau para siswa, baik berupa Trauma Healing maupun santunan.

“Padahal saya harapnya Guru lebih diperhatikan pak. Karena Guru disini juga butuh Trauma Healing, butuh santunan, entah itu sembako atau santunan lainnya. Karena disini bukan hanya Siswa, namun juga ada Guru sebagai penggerak Kegiatan Belajar Mengajar (KBM),” tambahnya.

Bintara Pembina Desa (Babinsa) setempat, Darwis ikut memberikan apresiasi atas program LAZIS Wahdah ini.

Menurutnya, relawan LAZIS Wahdah yang telah terjun selama sebulan di lokasi telah membantunya untuk melakukan perbaikan terhadap desa binaannya.

“Bapak-bapak hadir jauh-jauh dari Sulawesi dan daerah lainnya tentu bukan sesuatu yang biasa. Ini mungkin karena panggilan jiwa pak yah. Sehingga kami sangat bersyukur dan berharap bapak-bapak bisa tinggal lebih lama lagi disini,” harap Pria berpangkat Sersan Satu (Sertu) di TNI AD ini.

Sepekan sebelumnya, Relawan LAZIS Wahdah mengadakan terapi Psikososial di sekolah tersebut, yang mengikutsertakan siswa yang menjadi korban serius dari Tsunami yang menerjang. (*rls)

Cara Memelihara Diri dan Keluarga dari Neraka

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu,,,.” (Terj. Qs. At-Tahrim: 6).

“Peliharalah dirimu dan dirimu dari api neraka”

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Dalam Al-Qur’an kita diperintahkan untuk menjaga atau memelihara diri dan keluarga diri neraka. Pertanyaan saya, Bagaimana caranya? Amalan apa yang dilakukan untuk menjaga diri dan keluarga dari neraka? Trimakasih. (Amatullah)

Jawaban:

Benar, dalam Al-Qur’an surat At-Tahrim ayat 6 setiap orang beriman diperintahkan oleh Allah untuk menjaga dan memelihara  dirinya dan keluarganya dari api neraka. Allah Ta’ala berfirman.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu,,,.” (Terj. Qs. At-Tahrim: 6).

Lalu bagaimana caranya? Untuk lebih jelasnya, simak penjelasan para Sahabat Nabi dan Tabi’in, sebagaimana dikutip  ahli tafsir Imam Ibnu Kastir dalam Kitabnya Tafsir Al-Qur’an al-Adziem;

Menurut Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, makna “peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”, adalah “lakukanlah ketaatan kepada Allah dan tinggalkan maksiat serta suruhlah mereka untuk berdzikir kepada Allah. Maka dengannya Allah selamatkan kalian dari api neraka”.

Sementara Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengatakan, makna “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”, adalah “didiklah mereka dan ajarkan ilmu kepada mereka (addibhum wa ‘allimuhum)”.

Sedangkan Muqatil dan Ad Dhahak berkata, makna “peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”, adalah, “Engkau memerintahkan mereka untuk mentaati Allah dan mencegah mereka dari bermaksiat kepada Allah, hendaklah engkau menegakkan perintah Allah teradap mereka, memerintahkan mereka dengan perintah Allah dan membantu mereka dalam urusan tersebut, dan jika engkau melihat kemaksiatan dari mereka maka hendaklah engkau menghardik mereka”.( Tafsir Ibnu Katsir: 4/391 ).

Dari penjelasan para Mufassir (ahli Tafsir) dapat disimpulkan, memelihara diri dan keluarga dilakukan dengan mengajarkan ilmu kepada keluarga, menanamkan adab, mengajak keluarga melakukan ketaatan dan meninggalkan maksiat, serta membimbing mereka untuk selalu berdzikir dan mengingat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Penjelasan selengkapnya silahkan baca di sini.

Sekda Jeneponto Minta Relawan Wahdah Islamiyah Bantu Atasi Trauma Warga Terdampak Banjir

Jeneponto (wahdahjakarta.com) – Sekretaris daerah Kabupaten Jeneponto, Muhammad Syafruddin Nurdin menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para relawan Wahdah Islamiyah yang telah membantu proses penanggulangan bencana gempa di Kabupaten Jeneponto.

Sekretaris daerah Kabupaten Jeneponto, Muhammad Syafruddin Nurdin

Sekda Jeneponto, Muhammad Syafruddin Nurdin bersama Tim Relawan Wahdah Peduli

Syafruddin dalam kesempatan tersebut juga menyebutkan bahwa banjir yang terjadi pada tahun ini adalah yang paling besar sepanjang berdirinya Kabupaten Jeneponto.

“Yang saya herankan baru kali ini daerah perkotaan dilanda banjir padahal sebelum-sebelumnya tidak. Saya pikir itu tsunami,” ujar Syahfruddin, saat ditemui di Masjid Agung Jeneponto di Balang Toa, Binamu, Balang Toa, Jeneponto, Ahad (27/1/2019).

Ia berkisah, saat kejadian banjir, Selasa (22/1/2019) salah seorang ajudannya menyebut bahwa terlihat air bah yang mulai mengalir dari balik jalan-jalan.

“Awalnya saya tidak percaya. Namun setelah saya cek ternyata memang benar,” terangnya.

Saat itu, Syahfruddin berada diatas mobil. Karena dari arah depan air bah sudah menggenang, akhirnya ia terpaksa membalikkan arah kendaraannha. Setelah berhasil lolos ia terkejut. Seluruh mobil di jalanan sudah terendam banjir. Bahkan, tambah Syafruddin, sebuah rumah beserta isinya hanyut dibawa arus.

“Jadi berita di TV-TV itu ya disini. Di Jeneponto. Kasihan mereka, menabung bertahun-tahun dan hanya sehari hartanya habis,” tuturnya.

Ia berharap, agar relawan Wahdah Islamiyah bisa tetap mendampingi masa pemulihan ini. Bahkan jika perlu, program dakwah yang dibingkai dalam kegiatan traumatic bisa diadakan. Menurutnya warga banyak yang hingga masih berada di pengungsian seperti di lantai dua Masjid Agung Jenneponto ini karena maish trauma dengan musibha yang mereka alami.

“Saya suka dakwah. Dan saya suka orang yang mau berdakwah dan saya siap bantu,” pungkasnya. []

Tema-tema Besar Kajian tentang Palestina dan Kolonialisme Zionis

Meski sebagai Muslim kita memiliki ikatan emosional yang kuat terhadap segala isu yang berkaitan dengan Palestina, namun sedikit yang punya gambaran menyeluruh tentangnya. Apalagi kerangka kajian atau peta masalah yang sistematis. Wawasan sebagian besar kita tentang Palestina terbatas pada doktrin-doktrin kunci yang merupakan bagian dari sistem aqidah Islam kita.

Perjuangan rakyat Palestina
Perjuangan rakyat Palestina

Kunjungan Dr. Samir Said, Konsultan Training dari Mimbar Alaqsa International Foundation ke Indonesia beberapa waktu lalu mengungkap hal tersebut. Dalam kesempatan daurah tadrib di Jakarta, Dr. Samir memaparkan bahwa isu-isu terkait Palestina dapat dirangkum pada sejumlah tema besar.

Pertama adalah tentang Palestina itu sendiri. Pembahasan ini mencakup histori sebelum dan sesudah Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi Wassalam. diutus, lengkap dengan geografi dan geopolitik di sana.

Berikutnya adalah Alquds atau Baitul Maqdis. Inilah kota yang belakangan dipopulerkan namanya sebagai Yerusalem. Bahasan tentang Alquds, menurut Said, akan lebih spesifik karena wilayahnya yang berada di dalam Palestina dan karena adanya kaitan wilayah ini dengan nash-nash dalam Al-Qur’an dan Hadits Nabi.

Tema besar berikutnya adalah Zionisme dengan berbagai praktek kolonilaisme yang dilakukannya. Di hadapan para muballigh dan aktivis dakwah di Jakarta dan sekitarnya itu, konsultan Mimbar Alaqsa ini mengungkap betapa di era modern ini masih ada sebagian manusia mampu melakukan tindakan brutal kepada manusia lainnya. Dari contoh-contoh yang diangkat Said, sebagian tindakan tersebut bahkan di luar dari nalar kemanusiaan. Dan warga Alquds yang terdiri dari kaum Muslim dan Nasrani menjadi korbannya.

Bagaimana masa depan konflik serta kolonialisme Zionis terhadap Palestina? Setidaknya ada tiga perspektif: Yahudi, Nasrani dan Islam. Inilah tema keempat yang tak kalah menarik. Perspektif dari berbagai agama ini mau tidak mau ikut mewarnai situasi dan kondisi di sana.

Daurah sehari tersebut akhirnya ditutup dengan membangkitkan kesadaran tentang peran setiap individu yang anti terhadap kolonialisme. Sebab ternyata setelah lewat setengah abad kita bangsa Indonesia menghirup udara kemerdekaan, masih ada saudara-saudara kita di sana yang belum menikmatinya. (hbg)

Bentrokan di Masjid Jogokariyan Berakhir Damai, PDIP Minta Maaf

Jama’ah Masjid Jogokariyan berjaga-jaga menghalau perusuh

(Yogyakarta) wahdahjakarta.com -, Keributan antara massa PDIP dengan Pemuda Masjid Jogokariyan, Ahad (27/01/2019) sore kemarin, telah  diselesaikan secara damai dan kekeluargaan. Pengurus PDIP wilayah setempat langsung meminta maaf sementara pihak Masjid Jogokaryan tidak memberikan keterangan.

Bentrokan tejadi usai acara deklarasi dukungan terhadap calon presiden dan calon wakil presiden (capres-cawapres) nomor urut 01 Joko Widodo–Ma’ruf Amin di Stadion Mandala Krida, Yogyakarta.

Bentrokan bermula ketika pada pukul 16.05 WIB, massa PDIP melintas di depan Masjid Jogokariyan dan merusak bendera, spanduk Hizbulloh, serta mem-bleyer-bleyer (menggeber gas) sepeda motor di Masjid Jogokaryan.

Selanjutnya, Pemuda Masjid Jogokariyan keluar dan mengadang serta mengejar massa PDIP. Lalu terjadilah cekcok mulut. Pada saat itu sempat terjadi ketegangan di antara kedua belah pihak.

Pada pukul 17.15 WIB, kedua belah pihak difasilitasi oleh Bawaslu, Polsek Mantrijeron, dan Koramil 09/MJ melaksanakan mediasi di Pendopo Kecamatan Mantrijeron.

Mediasi dihadiri oleh Camat Mantrijeron, Kapolsek Mantrijeron, Danramil 09/MJ, Bawaslu, Panwas Kecamatan Mantrijeron, Ustadz M Fanni Rahman (Ketua Takmir Masjid Jogokaryan), Junianto (Ketua DPC PDIP Kecamatan Mantrijeron/Caleg DPRD Kota Yka dari PDIP wilayah Mantrijeron), dan Darrohman (Ketua FJI DIY).

Ketua Takmir Masjid Jogokariyan, Ustadz. M. Fanni Rahman (kiri berpeci) dan Ketua DPC PDIP Mentrijeron Junianto usai mediasi.

Ustadz M Fanni Rahman meminta agar pihak PDIP setempat segera minta maaf ke Masjid Jogokariyan Mantrijeron. Permintaan ini disambut baik pihak PDIP.

Ketua DPC PDIP Mantrijeron Junianto mengatakan, “Saya sebagai yang dituakan di DPC PDIP Mantrijeron apabila ada suatu hal yang salah di antara temen kita dari Jamaah Masjid Jogokariyan, saya minta maaf yang sebesar-besarnya.”

“Sekali lagi saya minta maaf apabila temen saya ada yang salah, dan akan saya temukan besok (Senin, 28/01/2019, Red) antara Saudara Kelinci dan pihak Jamaah Masjid Jogokariyan untuk meminta maaf. Saudara Kelinci akan saya hadirkan secepatnya bertemu dengan jamaah Masjid Jogokariyan.”

Setelah diadakan mediasi selanjutnya dilaksanakan konsep perdamaian antara kedua belah pihak dan membuat Surat Pernyataan. Pukul 19.35 WIB, kegiatan mediasi selesai dalam keadaan aman dan lancar.

Dari mediasi kedua belah pihak, didapat keputusan untuk saling menjaga kondusifitas wilayah Mantrijeron bersama-sama. []

Sumber: Hidayatullah.com