Longsor di Bolaang Mongondow, Tim SAR Terpaksa Amputasi Kaki Korban Tewas

Proses Evakuasi Korban Longsor di Penambangan Bolaang Mongondow pada 26 Februari 2019.

(BOLAANG MOGONDOW) Wahdahjakarta.com – Pasca longsor pada 26 Februari lalu, Tim SAR terus melakukan evakuasi korban yang tertimbun tanah yang merupakan pekerja di Penambangan Emas Tanpa Ijin (PETI) di Desa Bakan, Kec. Lolayan, Kab. Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara.

“Evakuasi korban longsor di penambangan rakyat terus dilakukan oleh tim SAR gabungan. Hingga 28/2/2019 pukul 18.00 WITA, sebanyak 26 korban berhasil dievakuasi dimana 7 orang meninggal dunia dan 19 orang selamat.” Ujar Kepala Pusat Data Informasi & Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho dalam rilis yang diterima oleh wahdahjakarta.com via Whatsapp.

Seorang korban yang sempat dinyatakan selamat saat dievakuasi atas nama Teddy Mokodompit, warga Kotamobagu, namun akhirnya korban meninggal dunia. Korban terpaksa diamputasi kakinya karena tertimbun batu besar.

“Jika batu disingkirkan dikhawatirkan lubang tambang makin runtuh karena batu tersebut menahan bagian atas lubang.” Ujar Sutopo.

Sutopo menyebutkan, saat ini Tim SAR gabungan sedang melakukan rapat koordinasi dipimpin langsung Deputi Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas untuk mengambil langkah-langkah yang akan ditempuh dalam operasi SAR lanjutan besok.

“Ada kemungkinan untuk menggunakan alat berat tetapi masih dikoordinasikan juga dengan pihak keluarga. Mengingat sudah memasuki hari ketiga dan diduga banyak korban meninggal dunia yang belum dievakuasi  akan berdampak pada kesehatan Tim SAR Gabungan apabila masih menggunakan cara manual. Kondisi medan memang cukup berat karena di lereng dengan kemiringan cukup terjal.” Jelas Sutopo. [fry]

Sumber : Rilis Online Kepala Pusat Data Informasi & Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho

Gempa 5,6 SR Guncang Solok Selatan, 343 Rumah Rusak dan 48 Orang Luka

Kondisi salah satu Rumah di Solok Selatan Pascagempa 5,6 SR

(SOLOK SELATAN) Wahdahjakarta.com –  Gempa 5,6 SR mengguncang kawasan kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat pada pagi tadi Kamis (28/2/2019) pukul 06.27 WIB.  

Menurut informasi dari BNPB, Gempat berpusat di darat pada kedalaman 10 km dan menimbulkan dampak 48 orang korban luka serta 343 unit rumah rusak.

“Hingga kini, pemerintah daerah, TNI, Polri dan mitra kerja setempat masih terus melakukan upaya penanganan darurat.” Ujar Kepala Pusat Data Informasi & Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Barat menginformasikan selain korban luka-luka dan kerusakan unit rumah, gempa juga menyebabkan kerusakan pada fasilitas sekolah, peribadatan dan kesehatan.

Tampak dalam kerusakan Rumah warga di Solok Selatan akibat gempa.

Dampak gempa bumi mencakup 3 kecamatan, yaitu Kecamatan Sangir Balal Janggo (Nagari Sungai kunyit, Sungai Kunyit Barat, Talunan Maju), Kecamatan Sangir Batang hari (Nagari Ranah Pantai Cermin), dan Kecamatan Sangir Jujuan (Nagari Lubuk Malako).

Berikut ini sebaran korban dan kerusakan pascagempa : 

1.            Nagari Sungai Kunyit : 22 org luka-luka, 168 unit rumah rusak (21 RB, 42 RS, 105 RR), 1 unit fasilitas kesehatan

2.            Nagari Sungai Kunyit Barat : 101 unti rumah rusak (1 RB, 50 RS, 50 RR)

3.            Nagari Talunan Maju : 23 org luka, 30 unit rumah rusak (7 RB, 23 RS), 1 unit fasilitas peribadatan, 1 fasilitas kesehatan.

4.            Nagari Ranah Pantai Cermin: 2 org luka-luka, 30 unit rumah RR

5.            Nagari Lubuk Malako: 1 org luka-luka, 14 unit rumah rusak (3 RS, 11 RR), 1 fasilitas pendidikan. [fry]

Sumber : Rilis Online Kepala Pusat Data Informasi & Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho

MERIAHKAN IBF 2019 DENGAN SPIRIT QURAN DAN KEMANUSIAAN

Spirit Kemanusiaan diwujudkan dalam bentuk Perahu Kemanusiaan yang merupakan bentuk informasi dan layanan mengenai program kemanusiaan yang sudah dilakukan di Lombok, Palu, dan Selat Sunda serta di Palestina, Rohingya , Suriah, dan Uighur,

JAKARTA – Islamic Book Fair (IBF) 2019 sudah resmi dibuka dari kemarin, Rabu (27/2) bertempat di JCC Senayan, Hall A, Jakarta yang diikuti lebih dari 300 an tenant dari berbagai penerbit, perusahaan travel, lembaga sosial maupun dakwah. Pada hari pertama pembukaanya sudah dipenuhi pengunjung dari berbagai daerah dan berbagai komunitas.

Pada event IBF 2019 ini diikuti oleh Wahdah Islamiyah yang mengusung Spirit Quran dan Kemanusiaan sebagai taglinenya. Ini merupakan sebuah program yang unik dan patut dikunjungi oleh pengunjung IBF.

Spirit Quran merupakan program utama dari LAZIS Wahdah Islamiyah dengan berbagai variasinya, di antaranya ada Markaz Quran dengan layanan quran dari Nol, konsultasi quran dengan para hafidz dan pakar dari timur tengah yang punya sanad sampai Rasulullah SAW. Kemudian juga ada layanan untuk penerimaan khatib dan pengajian umum bersama puluhan alumni timur tengah. Disamping itu, bagi yang turut berbagi, berkontribusi, dan berdaya dalam program Al Quran, ada Program Sejuta Quran Mendidik Negeri …

Spirit Kemanusiaan diwujudkan dalam bentuk Perahu Kemanusiaan yang merupakan bentuk informasi dan layanan mengenai program kemanusiaan yang sudah dilakukan di Lombok, Palu, dan Selat Sunda serta di Palestina, Rohingya , Suriah, dan Uighur,… Di antara bentuk program yang diberikan seperti huntara, MCK, dapur umum, perbaikan perahu untuk korban tsunami selat sunda, dan lain-lain.

Masih ada 3 hari kedepan bagi kaum muslimin yang ingin berkunjung ke stand 311 dengan layanan kami lainnya seperti minicafe siaga yang menampilkan produk muslim sebagai layanan dan juga produk UMKM binaan LAZ Wahdah, Kripik Singkong Opin, permen probiotik, minuman probiotik siklus, dan air ruqyah. (yd/rsp)

Apakah Kiblat Harus Tepat Menghadap Ka’bah Atau Cukup Mengarah Ke Ka’bah

Menghadap Kiblat merupakan syarat-syarat shalat, dimana tidak sah shalat seseorang jika tidak menghadap kiblat, kecuali pada saat shalat khauf atau shalat nafilah di atas kendaraan, atau sebuah kapal. Maka kondisi shalat nafilah seperti ini tidak mengharuskan menghadap kiblat, cukup sesuai arah kendaraan dimana ia mengarah.

Para ulama tidak berbeda pendapat dalam hal ini, akan tetapi mereka berbeda apakah kiblat itu harus tepat menghadap Ka’bah atau cukup mengarah ke arah Ka’bah walau tidak sama persis atau tepat menghadap Ka’bah?

Para ulama berbeda pendapat akan hal ini dalam 2 pendapat.

[•] Pendapat mazhab Syafi’iyah dan mazhab Hanabilah yaitu bahwa yang wajib harus tepat menghadap Ka’bah.

[•] Pendapat mazhab Malikiyah dan Hanafiah yaitu bahwa yang wajib cukup arah Ka’bah jika seorang yang shalat tidak melihat Ka’bah tersebut. Adapun bagi orang yang melihat Ka’bah maka semua sepakat harus tepat mengarah ke Ka’bah.

(•) Dalil mazhab Hanabilah dan Syafi’iyah

Firman Allah azza wajalla:

فول وجهك شطر المسجد الحرام

“Palingkanlah wajah-Mu ke arah Masjid al-Haram.” (QS. Al-Baqarah: 144)

Wajah pendalilannya adalah bahwa makna asy-syathr yaitu arah yang berhadapan bagi seorang yang shalat. Karena itu wajib untuk menghadap tepat ke Ka’bah.

• Nabi shallallahu ‘alaihim wasallam tidak shalat kecuali mengarah Ka’bah.

• Kiyas, yaitu kesungguhan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dalam mengagungkan Ka’bah sampai pada derajat tawatur, dan shalat merupakan diantara syiar agama yang paling agung. Sedang penetapan syariat akan keabsahannya tepat menghadap Ka’bah menambah kemudian Ka’bah itu, sehingga tentu ini menjadi sesuatu yang disyariatkan.

Kemudian, perkara ka’bah sebagai Kiblat merupakan sesuatu yang telah pasti sedangkan yang lainnya sebagai Kiblat maka ia adalah sesuatu yang masih diragukan. Sedangkan menjaga dari perkara yang mengkhawatirkan sebagai bentuk kehati-hatian adalah suatu kewajiban. Karena itu wajib pula untuk menghadap tepat ke arah Ka’bah.

•Firman Allah azza wajalla:

(•) Dalil Mazhab Malikiyah dan Hanafiah

فول وجهك شطر المسجد الحرام

“Palingkanlah wajah-Mu ke arah Masjid al-Haram.” (QS. Al-Baqarah: 144)

Wajah pendalilannya Allah menyebutkan syathr al-Masjid al-Haram bukan Syathr al-Ka’bah. Siapapun yang telah shalat menghadap arah Masjid al-Haram maka ia telah melakukan perintah syariat, baik itu ia benar atau salah.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

ما بين المشرق والمغرب قبلة

“Antara timur dan barat kiblat.” (HR. Tirmidzi, dia mengatakan hadits ini Hasan shahih)

Amalan para sahabat, dahulu orang-orang yang shalat di masjid Quba saat shalat subuh di Madinah mereka menghadap Bait al-Maqdis membelakangi Ka’bah, kemudian mereka memutar saat shalat tanpa mencari petunjuk arah. Saat itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengingkari hal ini. Sedangkan untuk mengarah tepat ke arah Ka’bah tidak akan diketahui kecuali dengan menggunakan petunjuk yang cukup lama dan teliti untuk menetapkannya. Maka bagaimana mereka tiba-tiba mengetahuinya dikegelapan malam?

•Dahulu orang-orang di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membangun masjid tanpa ada ilmu keinsiyuran yang bertugas tepat untuk menyamakan arah mihrab tepat menghadap ke arah Ka’bah, sementara untuk mengetahui arah Kiblat yang tepat itu harus dengan ketelitian yang tinggi dalam ilmu keinsiyuran. Sementara tidak ada satupun ulama yang menyebutkan bahwa mempelajari ilmu keinsiyuran itu adalah sesuatu yang wajib, maka diketahui bahwa menghadap tepat ke arah Kiblat bukanlah sesuatu yang wajib.

Tarjih:

Ini merupakan ringkasan dari dalil-dalil dua kelompok pendapat yang berbeda. Jika engkau mengamati dalil-dalilnya maka dalil-dalil kelompok kedualah (mazhab Malikiyah dan Hanafiah) yang lebih kuat dan lebih jelas penjelasannya. Apalagi bagi yang jauh di berbagai belahan dunia.

Pendapat ini pula yang dikuatkan oleh imam al-Qurthubi rahimahullah.

Diringkas dari kitab: Rawai’u al-Bayan Tafsir Ayat al-Ahkam Min al-Qur’an Karya Syaikh Ali ash-Shabuni rahimahullah.

————

Catatan dari peringkas, di zaman sekarang ilmu untuk menetapkan arah kiblat sudah sangat mudah dengan berbagai alat. Bahkan seseorang mampu mengetahuinya dengan aplikasi handphone yang mengarahkan kiblat tepat pada Ka’bah.

Karena itu boleh dikatakan sulit untuk memberikan rukhshah bagi orang-orang yang tidak mengetahui arah Kiblat tepat pada arah Ka’bah, kecuali bagi orang-orang yang tidak memiliki handphone atau tidak memiliki aplikasi penunjuk arah Kiblat di handphonenya.

Maka untuk kehati-hatian atas ijma’ ulama akan kewajiban shalat tepat menghadap Ka’bah maka hendaknya seseorang tidak memudah-mudahkan hal ini. Jika ia telah bersungguh-sungguh dan ternyata shalatnya selama ini tidak tepat mengarah Ka’bah melainkan hanya mengarah ke arahnya maka kami menguatkan pendapat mazhab Malikiyah dan Hanafiah akan hal ini akan keshahihan shalatnya. Wallahu a’lam.

Oleh: Ustadz Abu Ukasyah Wahyu al-Munawy

Sumber : wahdah.or.id

Muslimah Wahdah DPD WI Sidrap Berantas Buta Aksara Al-Qur’an Melalui Metode DIROSA

Ribuan Muslimah mengikuti Tasyakuran DIROSA Angakatan III yang digelar Muslimah Wahdah DPD WI Sidrap, Ahad (24/02/2019)

(Sidenreng) Wahdahjakarta.com -, Muslimah Wahdah (MW) Dewan Pimpinan Daerah Wahdah Islamiyah (DPD WI) Sidrap menggelar Tasyakuran DIROSA, Ahad (24/02/2019). Ribuan muslimah memadati Gedung Masyarakat Rappang, tempat kegiatan rutin tahunan MW Sidrap ini digelar.

Tasyakuran dirosa yang memasuki angakatan ke.3  dibuka secara resmi oleh Ketua Tim penggerak PKK Kabupaten Sidrap, ibu Hj. Muliani.

Dalam sambutannya, Hajah Muliani mengapresiasi upaya Muslimah Wahdah Islamiyah dalam memberantas buta aksara al-Qur’an di Bumi Nene Mallomo, sebutan khas kabupaten Sidrap. Ia pun berharap kegiatan seperti ini terus diprogramkan.

Menurut Ketua Pendidikan, Pengajaran dan Tahfizh Qur’an (P2TQ) Muslimah Wahdah Islamiyah Sidrap ustadzah Mardhatillah, tasyakuran dirosa diadakan rutin setiap tahun.

“Tasyakuran dirosa kali ini diikuti 1.000 orang,” ungkapnya.

Persiapan tasyakuran, menurut ketua panitia dr. Hasniwati Nasri memakan waktu 2 bulan.

Antusias sangat besar dari masyarakat. “Semangat para muslimah Sidrap, dibuktikan dengan membludaknya pendaftar tasyakuran, pukul 7 pagi peserta sudah berbondong bondong menuju ke gedung masyarakat Rappang,” ujar dr. Hasni.

Sementara itu, wakil ketua Muslimah DPD Wahdah Islamiyah Sidrap, Husnia S. Pd. dalam sambutannya berharap Muslimah Wahdah bisa bersinergi dengan pemerintah kabupaten Sidrap dalam menanamkan nilai nilai agama Islam sesuai Al-Quran dan hadits kepada masyarakat Sidrap.

Turut hadir juga Ibu camat se-kabupaten Sidrap, ibu kementrian agama Sidrap, ibu ketua ikatan anggota (IKA) DPRD Sidrap, jajaran pengurus muslimah wahdah Sidrap, dan ketua Muslimah Wahdah Cabang di 7 kecamatan.

DIROSA merupakan akronim dari Pendidikan Al-Qur’an Orang Dewasa. Sebuah metode belajar membaca Al-Qur’an khusus orang dewasa. Metode ini dikembangkan oleh ormas Wahdah Islamiyah di berbagai daerah di Indonesia. []

Mengingatkan Orang Tua Tentang Bahaya Riba, Bagaimana Caranya?

Assalamualaikum

Bagaimana cara memberitahu orang tua tentang bahaya riba agar tidak menyinggung perasaannya? Saat ini orang tua saya masih mempunyai urusan dengan bank konvensional, Terima kasih.

Wassalamualaikum

Fauzul – kota tangerang

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wa barakatuh.

Hayyakallahu akhi..

Harus diakui bahwa berdakwah dan menasehati orang tua adalah perkara yang cukup sulit, disebab karena banyak hal, diantaranya:

Pertama: Harus mengkolaborasikan antara “menegur” kesalahan orang tua dan birrul walidain (berbakti kepada orang tua), dan ini cukup sulit, sebab ada potensi debat dan cekcok ketika dalam proses menasehati dan menegur, apalagi jika nasehat tersebut berupa an-nahyu ‘anil mungkar (melarang kemungkaran).

Kedua: Terkadang orang tua menganggap kita anak ingusan, sehingga secara tidak sengaja timbul sifat meremehkan dan mengabaikan nasehat-nasehat sang anak.

Sesungguhnya diantara konsekwensi birrul walidain adalah berusaha menyelamatkan orang tua dari jurang Neraka, bahkan hal ini merupakan salah satu implementasi teragung bagi bakti kepada orang tua dibandingkan dengan bentuk-bentuk bakti yang lain, namun dalam proses dan prakteknya tetap harus meniti koridor “birrul walidain” berupa berkata yang lembut dan menjauhi perkataan-perkataan yang kasar, sehingga dapat menggabungkan antara dua kebaikan, kebaikan menasehati orang tua dan kebaikan bersikap santun dan lembut kepada mereka, Nabi Ibrahim adalah uswah bagi kita dalam masalah ini, buktinya adalah dialog antara Nabi Ibrahim dengan sang ayah diabadikan di dalam Al-Qur’an:

Artinya:”ketika (Ibrahim) berkata kepada bapaknya:”Wahai bapakku, kenapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?”. QS Maryam 42.

Ayat diatas adalah cuplikan dialog antara Nabi Ibrahim dengan sang ayah, yang mana tercermin dari diolag diatas kelembutan dan kasih sayang yang terpancar dari Nabi Ibrahim alaihis salam, hal ini direfleksikan oleh ucapan beliau; Ya abati, di dalam seruan ini tersimpan kelembutan dan kasih sayang. dan bentuk istifham (pertanyaan) dalam menegur, tersirat sikap tidak menggurui orang tuanya dalam proses tersebut.

Maka anda dapat membangun komunikasi model ini dengan orang tua, yaitu komunikasi yang memadukan antara kasih sayang, kelembutan, nasehat, dan tidak terkesan menggurui orang tua, apalagi jika anda mengetahui bahwa orang tua anda termasuk “awam” dalam masalah ilmu agama, maka dapat di duga bahwa beliau terjatuh ke dalam transaksi riba karena tidak mengetahui hukumnya.

Dan jika anda kesulitan untuk menasehati secara langsung, maka anda dapat meminta bantuan orang di sekeliling anda yang memiliki hubungan baik dengan ayah anda untuk menasehati beliau, atau jika orang tua anda gemar membaca, maka bisa dihadiahkan buku-buku bertema riba yang sedang anda nasehatkan.

Jika hal tersebut belum membuahkan hasil, maka anda harus “turun tangan” untuk menasehati beliau, tentunya dengan cara yang lembut dan bijak, dan jika ada solusi yang bisa diberikan terkait transaksi ribanya, maka akan sangat membantu, namun jika tidak ada solusi, maka dapat dinasehati bahwa transaksi riba ini adalah yang terakhir, dan tidak akan ada transaksi baru setelah selesai urusan dengan BANK nanti, seraya dianjurkan untuk bertaubat dengan menyesali perbuatan maksiat yang telah terjadi di masa lalu, dan juga dianjurkan untuk memperbanyak istighfar dan melaksanakan amalan kebaikan.

Dan jika masih belum berhasil juga dalam upaya anda, dan tidak ada pintu yang dapat diketuk untuk dimintai bantuan, maka ketuklah pintu langit dengan banyak melantunkan doa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, agar dimudahkan bagi orang tua anda untuk meninggalkan riba, sebab Allah adalah Dzat pemberi taufiq untuk bertaubat.

Perlu anda ketahui, bahwa nasehat yang kita upayakan tidak selamanya dapat merubah orang yang dinasehati secara langsung, terkadang perlu waktu dan proses yang agak panjang, maka jangan berkecil hati dan tetaplah optimis dalam menasehati. Dan ketika dalam proses menasehati, maka wajib bagi anda untuk tetap berbakti dan berbuat baik kepada orang, sebab amalan ini fardhu ain hukumnya, dan tidak gugur kewajiban ini, kecuali jika orang tua menyuruh untuk bermaksiat kepada Allah, Allah berfirman:

Artinya:”Dan jika orang tua memaksamu untuk melakukan kesyirikan, maka jangan patuhi mereka, namun hendaknya engkau bersikap baik kepada mereka di dunia”. QS Luqman 15.

Diantara upaya yang dapat anda lakukan -disamping nasehat terkait dosa dan bahaya riba- adalah dengan memperbaiki ibadah-ibadah orang tua anda secara bertahap, misalnya mengajak untuk melaksanakan shalat di masjid secara berjamaah, jika itu sudah dapat dilaksanakan secara rutin, maka dianjurkan untuk menambah ibadahnya dengan melaksanakan shalat sunnah, demikian seterusnya, tujuan dari proses ini adalah untuk mengkondisikan keadaan hati orang tua sehingga dapat menerima nasehat terkait dosa ribanya.

Dan jika semua upaya telah anda lakukan, dan orang tua anda tetap bersikeras diatas kesalahannya, maka anda dapat memintakan ampun bagi dosa-dosa mereka, sebab ingatlah bahwa doa anak shaleh adalah do’a mustajab, bahkan kendati orang tua telah berkalang tanah, dan inilah yang dilakukan Nabi Ibrahim untuk ayahnya ketika ayahnya tidak menyambut baik nasehat sang anak, Allah berfirman:

Artinya: Ibrahim berkata: semoga keselamatan senantiasa dilimpahkan atasmu wahai ayahku, aku akan memohon ampunan bagimu kepada Allah, sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. QS Maryam 47.

Ketika ayah Nabi Ibrahim bersikukuh diatas kekufuran, maka nabi Ibrahim tetap bersikap baik kepada orang tua, bahkan memintakan ampun untuk orang tuanya kepada Allah subhanahu wata’ala, namun hukum bolehnya memintakan ampun untuk orang kafir kemudian dianulir sebagaimana yang tercantum dalam surat At-Taubah 113. Namun larangan tersebut khusus bagi orang yang meninggal dalam keadaan kafir, bukan untuk yang meninggal dunia dalam keadaan Islam, maka anda tetap dapat mendoakan orang tua anda, sebagai implementasi lain dari birrul walidain.

Semoga Allah memberikan kemudahan bagi anda untuk memberikan nasehat kepada orang tua anda, dan semoga Allah berkenan membimbing orang tua anda dan seluruh kaum muslimin ke jalan yang diridhoiNya, Amin.

Wallahu a’lam bish showab.

Dijawab oleh      : Ustadz Lukman Hakim, Lc, M.A

Artikel                   : Wahdah.or.id

31 Siswa 7 Sekolah di Bolaang Mongondow Selatan Dapat Bantuan dari Lazis Wahdah

(Bolsel) wahdahjakarta.com – 31 anak-anak kurang mampu, yang tersebar di tujuh sekolah Desa Popodu, Kec. Bolaang Uki, Kab. Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), Sulawesi Utara mendapatkan bantuan biaya pendidikan dari LAZIS Wahdah, Selasa (12/2/2019).

Ma’na Saleh, relawan yang datang memberikan bantuan mengatakan, tujuh sekolah itu masing-masing adalah SMP Negeri 1 Molibagu, SMP Muhammadiyah, SDN 1 Molibagu, SDN 2 Molibagu, SDN Popodu, SD Muhammadiyah, MIN 2 Bolsel.

Bantuan tersebut diberikan kepada sekolah-sekolah yang memang menerima anak tidak mampu sehingga mereka bisa sedikit terbantu dengan adanya bantuan ini.

“Data siswa sudah kami minta setiap sekolah. Nanti kalau sudah ada datanya akan kami tindak lanjuti,” tuturnya.

Bantuan pendidikan tersebut bersumber dari donatur LAZIS Wahdah di seluruh Indonesia. Dengan adanya program ini, dia berharap agar setiap siswa miskin dan berprestasi dapat meningkatkan prestasinya. Sehingga, tujuan dari program ini bisa terlaksana dengan baik.

“Selama ini kan banyak yang mau sekolah tapi karena masalah biaya yang sedikit mahal, makanya mereka sedikit memaksakan. Bahkan tak sedikit yang berutang sana sini. Nah ini kan persoalan dan harus diatasi. Mereka mau sekolah tapi terkendala biaya. Di sinilah kami hadir untuk membantu mereka,” pungkasnya.

Ayo dukung Program beasiswa pendidikan LAZIS Wahdah untuk membantu lebih banyak lagi anak-anak Indonesia yang ingin bersekolah dengan layak. Donasi bisa Anda salurkan melalui Bank Syariah Mandiri (451) nomor rekening : 497 900 9009 a.n LAZIS Wahdah Sedekah dan konfirmasi transfer ke 085315900900. []

Tolak RUU P-KS, Muslimah Makassar Tawarkan Konsep  Bangun Keluarga Tangguh

Talkshow “Membangun Keluarga Tangguh, Tolak RUU P-KS”, Makassar, Selasa (26/02/2019)

(Makassar) wahdahjakarta.com –  Sejumlah komunitas muslimah di Makassar Sulawesi Selatan mendeklarasikan penolakan terhadap Rancangan Undang_Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS). Sebagai solusi, gabungan komunitas dan lembaga Muslimah semakassar tawarkan penguatan ketahanan keluarga.

Penolakan dilakukan melalui penandatangan petisi Tolak RUU P-KS yang dirangkaikan dengan Talkshow “Membangun Keluarga Tangguh, Tolak RUU P-KS” yang digelar di Gedung Al-Bayan, Kampus Utama Hidayatullah Makassar, Selasa (26/02/2019).

Talkshow ini digelar Muslimah Center  bekerja sama dengan Muslimah Hidayatullah (MUSHIDA), Komunitas Pencinta Keluarga (KIPIK), Ummi Community For Lansia Bahagia ( UC4LB). Dihadiri 100  peserta dari komunitas muslimah, lembaga dan simpatisan muslimah hidayatullah .

Menghadirkan dua pembicara nasional muslimah  yaitu  Ketua jaringan Aliansi Cinta Keluarga Indonesia (AILA) Dr.Sabriati Azis,M.Pd  (ketua jaringan aliansi cinta keluarga Indonesia ) dan Ketua Muslimah Wahdah Islamiyah Pusat, Ustadzah Harisa Tipa abidin,S.Pd.I (Ummu Khalid)

“Membangun ketahanan keluarga adalah wujud nyata dari keyakinan kita dalam menjaga diri dan keluarga kita dari api neraka”, ujar Ummu Khalid.

Menurutnya Masyarakat Indonesia ke depan bisa dilihat atau diprediksi dengan kondisi keluarga saat ini. Karena institusi keluarga  adalah bagian terbesar dalam pembangunan bangsa.

Olehnya itu jelas Ummu Khalid peraturan perundangan di Indonesia  tidak boleh hanya mengatur keluarga secara parsial, sehingga gambaran utuh mengenai ketahanan keluarga tidak muncul sebagai prioritas pembangunan.

Seementara Ustadzad Sabriati menekankan dua tanggung jawab besar para ibu hari ini yaitu; tanggung jawab untuk mencerahkan masyarakat tentang parenting islami dan Mengkritisi hal –hal yang mengancam keluarga.

“Dan RUU P-KS adalah hal yang perlu untuk disikapi secara tegas”, tegas doktor Pendidikan Islam Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor ini.

Kegiatan ini diakhiri dengan penandatangan Petisi Tolak RUU P-KS sebagai wujud ketidak setujuan dan sikap nyata dari seluruh peserta yang hadir.

RUU P-KS diusulkan sejak januari 2016 lalu. Namun menjelang disahkan menuai kontroversi, karena dinilai ada beberap pasal yang bermasalah.  Kendati sedikit,, namun jsuteru di situlah ruh undang-undang ini. “Pasal bermasalah itu sedikit, namun itu ruh dari RUU tersebut, karena di dalam pasal itu tidak mengenali agama, bahkan memisahkan kehidupan beragama dalam kehidupan sehari-hari. J,” ujar Prof. Euis Sunarti, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Bidang Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga.

Prof Euis juga mengusulkan agar RUU P-KS diganti dengan Undang-Undang Penghapusan Kejahatan Seksual. Usulan ini didukung oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Aliansi Cinta Keluarga Indonesia (AILA Indonesia). (ed:sym)

MIUMI: Umat Harus Berjuang Melahirkan Pemimpin yang Adil

(Bandar Lampung) wahdahjakarta.com – Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) mengadakan tabligh akbar di Masjid Ad Du’a Bandar Lampung, Ahad (24/02). Tabligh Akbar ini merupakan salah satu rangkaian road show MIUMI ke beberapa provinsi dengan tema “Arah Perjuangan Umat”.

Sekjen MIUMI Ustadz Bachtiar Nasir (UBN) mengingatkan pentingnya persatuan agar umat Islam bangkit. “Jangan lagi saling memgejek cebong dan kampret. Kita semua ini bersaudara,” terang beliau.

UBN juga mengingatkan agar umat Islam jangan sampai mau “dibeli” suaranya oleh para cukong politik.

“Umat Islam tidak akan mendapatkan pemimpin yang adil jika suaranya masih bisa dibeli oleh para cukong politik,” tegasnya.

Selain UBN, Ustadz Fahmi Salim juga turut menyampaikan taushiyah. Beliau juga kembali mengingatkan agar umat Islam tidak ikut-ikutan terpecah dan saling mengejek dengan istilah cebong dan kampret. Karena keduanya adalah makhluq Allah.

“Cebong itu anak kodok. Sedangkan dalam hadits riwayat Imam Baihaqi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang membunuh kodok karena suaranya adalah tasbih. Sedangkan kampret (kelelawar) adalah pembela Baitul Maqdis,” terang ketua MIUMI DKI Jakarta ini.

Menurut Ulama muda alumni Al Azhar ini, yang terpenting saat ini adalah persatuan. Sebagaimana dahulu nenek moyang kita mengusir pasukan Mongol (Cina) yang hendak menjajah Nusantara.

Pembicara terakhir Ustadz Zaitun Rasmin (UZR) mengingatkan tentang pentingnya perjuangan.

“Mukmin yang benar adalah seorang pejuang! Jangan biarkan Islam sendirian. Jangan biarkan dienullah tercampakkan. Mari kita berjuang. Apapun resikonya!” ajak beliau.

Beliau menambahkan bahwa perjuangan harus terus digulirkan. “Perjuangan akan selalu ada, sampai tegaknya dienullah..!!”

Terakhir beliau berpesan bahwa perjuangan saat ini bukan dengan angkat senjata, tapi dengan suara.

“Hari ini perjuangan yang terpenting adalah perjuangan melalui suara. Pertama, suara kebenaran yang harus kita sebarkan ke seluruh negeri. Alatnya adalah medsos dan HP kita. Kedua, bilik suara. Masih banyak umat Islam yang belum merasakan pentingnya pemilu. Ini untuk kemaslahatan umat,” tegas beliau. [ibw]

Lazis Wahdah Masih Setia Bantu Pengungsi Donggala

Relawan LAZIS Wahdah bersama pengungsi di Donggala saat pembagian bantuan logistik berupa sembako pada Kamis (14/02/2019)

(Donggala) Wahdahjakarta.com – Tak terasa sudah empat bulan berlalu, pasca terjadinya bencana Gempa, Tsunami, dan Likuifaksi yang menimpa Palu, Sigi dan Donggala pada tanggal 28 September 2018.

Meski sudah berlangsung empat bulan dan keadaan di beberapa titik kota mulai membaik, namun ternyata masih ada beberapa titik pengungsian yang masih ramai akan pengungsi dan membutuhkan bantuan. Salah satunya adalah posko pengungsian yang terletak di Desa Toaya, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala.

Ketika dikunjungi relawan LAZIS Wahdah, kondisi di posko pengungsi tersebut bejumlah 66 KK dan terdiri 233 jiwa. Di posko tersebut terdapat tenda besar yang kemudian di dalamnya dibuatkan petak-petak sehingga menjadi beberapa ruangan yang menjadi tempat tinggal sementara oleh para pengungsi. Beberapa dapur yang dibuat juga sudah mengalami kekurangan bahan logistik, sehingga LAZIS Wahdah berinisiatif untuk mendistribusikan bantuan di tempat tersebut.

Dalam kunjungannya pada Kamis (14/2/2019), LAZIS Wahdah memberikan 45 paket Sembako yang terdiri dari beras, mie instan, dan ikan kaleng.

LAZIS Wahdah juga berencana membangun MCK di lokasi pengungsian tersebut, karena tidak adanya MCK. Kedepannya LAZIS Wahdah berharap bisa membangunkan Huntara kepada para pengungsi di posko tersebut, mengingat kondisi tenda mereka mulai bocor dan rusak.

Don’t stop bantu Sulteng. Sulteng masih butuh bantuan anda, mari merajut kebaikan bersama LAZIS Wahdah lewat program-program kebaikan. Salurkan donasi anda melalui Bank Mandiri Syariah (451) nomor rekening : 499 900 900 5 a.n LAZIS Wahdah Peduli Negeri dan konfirmasi transfer ke 085315900900. Semoga Allah mengganjar setiap niat tulus kita dengan pahala yang setimpal, aamiin.[]

#laziswahdah #wahdahislamiyah #wahdah #sedekah #zakat #laziswahdahpeduli #pedulinegeri #peduligempasulteng #gempadonggala #gempapalu #pasukanhijau #wahdahpeduli