Hukum Tinggal dan Shalat di Rumah Non Muslim

Rumah, Ilustrasi

Hukum Tinggal dan Shalat di Rumah Non Muslim

Pertanyaan

Apakah kami sebagai orang Islam boleh tinggal di rumah non muslim? Apakah kami dibolehkan shalat di rumahnya?

Jawaban

Alhamdulillah

Seorang muslim dibolehkan tinggal di rumah non muslim dengan membeli atau menyewanya dan membersihkan yang mungkin masih ada bekas kesyirikan dan kemaksiatan seperti gambar yang diharamkan dan najis seperti khamar dan lainnya. Adapun kalau tinggal di rumahnya untuk bertamu, menemani dan mengenal antara keduanya, maka hendaknya tidak dilakukan kecuali dalam kondisi terpaksa dan tuntutan yang sifatnya suatu keharusan. Berdasarkan keumuman sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam:

Jangan berteman kecuali orang mukmin, dan jangan makan makanan anda kecuali orang bertaqwa.” (HR. Tirmizi, no. 2395, dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam Shahih Tirmizi)

Dan sabda beliau sallallahu alaihi wa sallam:

Seseorang tergantung agama teman dekatnya. Maka hendaklah setiap kalian memperhatikan dengan siapa kalian berteman.” (HR. Abu Daud, no. 4833, dinyatakan hasan oleh Al-Albany di Shahih Abi Dawud.)

Dalam kitab ‘Aunul Ma’bud’ dikatakan,

Memperhatikan dan melihat secara seksama orang yang menjadi teman dekatnya. Siapa yang agama dan akhlaknya dia percaya, maka jadikan teman dekatnya. Siapa yang agama dan akhlaknya tidak dipercaya, maka jauhilah karena tabiat itu akan mengikutinya.”

Adapun shalat di rumah non muslim tidak mengapa hal itu. Kalau tempat untuk shalatnya itu bersih, seperti tidak ada di tempat itu –gambar dan patung yang diagungkan dan diibadahi. Hal itu berdasarkan keumuman sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:

Dijadikan tanah bagiku sebagai masjid dan bersuci. Siapa saja dari umatku mendapatkan shalat, hendaklah dia tunaikan shalat.” HR. Bukhori, (323) dan Muslim, (810).

Bumi semuanya itu masjid, seorang muslim dibolehkan shalat dimana saja. Kecuali ada dalil yang menunjukkan pengecualiannya seperti kuburan, kamar mandi, kandang unta. Silahkan melihat jawaban soal no. 13705. 140208.

Ibnu Abdul Bar rahimahullah mengatakan dalam ‘Tamhid, (5/227), “Bukhori menyebutkan bahwa Ibnu Abbas dahulu shalat di Gereja yang tidak ada patung di dalamnya. Diriwayatkan oleh Ayyub, Ubaidillah bin Umar dan lainnya dari Nafi’ dari Aslam budak Umar bahwa Umar ketika sampai di Syam. Pejabat orang Kristen membuatkan makanan dan mengundangnya, maka Umar mengatakan, “Kami tidak masuk ke gereja anda dan kami tidak shalat di dalamnya karena di dalamnya ada gambar dan patung. Maka Umar dan Ibnu Abbas tidak memakruhkan hal itu kecuali karena di dalamnya ada patung.”

Kalau tempat shalat itu bersih dari patung dan semisalnya, maka tempatnya bersih. Dan dibolehkan shalat di dalamnya. Wallahu a’lam . []

Artikel: Islamqa.info.id

 

Baca Selengkapnya

Nelayan Pesisir Pantai Anyer Kembali Melaut

(Banten) Wahdahjakarta.com – Nelayan korban tsunami Pandeglang Banten mendapatkan bantuan perbaikan perahu dari LAZIS Wahdah, Rabu (13/2/2019). Hal ini tentu saja merupakan kabar menggembirakan bagi mereka. Pasalnya, sudah hampir dua bulan ini mereka tidak kunjung melaut, lantaran perahu yang sehari-hari mereka gunakan sudah koyak akibat hantaman tsunami.

Selama belum mendapatkan bantuan perahu, mereka kebingungan dan mengalami kekhawatiran akan keberlanjutan mata pencahariaan untuk menghidupi keluarga mereka pasca tsunami selat sunda, 22 Desember 2018 lalu.

“Melihat kondisi yang ada, di sepanjang pesisir pantai yang kami temui hanya perahu-perahu koyak yang kami lihat. Bahkan sudah tak berbentuk lagi. Makanya, LAZIS Wahdah dengan program ini berharap bisa membantu keadaan perekonomian mereka,” ujar Jumardan, koordinator relawan LAZIS Wahdah melalui pesan singkat yang dikirimkannya.

LAZIS Wahdah berencana akan menjaring nelayan-nelayan ini untuk dibina. Tidak hanya pada program perbaikan perekonomian pasca bencana, akan tetapi, pembinaan keagamaan tetap akan diprioritaskan.

Perbaikan perahu nelayan pesisir pantai Anyer oleh Lazis Wahdah

“Jika ekonomi diperbaiki, maka yang paling terpenting agamanya juga perlu kita benahi. Agar selaras,” pungkasnya.

Ia bersama para relawan lainnya mengaku, dari pendataan yang dilakukan oleh pihaknya, perbaikan demi perbaikan perahu akan terus dilakukan. Kendati ini masih dalam tahap awal, Jumardan optimis, LAZIS Wahdah akan mampu memperbaiki perekonomian mereka lewat sedekah, zakat dan infak yang diberikan.

“Sebab tidak hanya kapal yang rusak diterjang tsunami selat Sunda. Namun alat tangkap nelayan pun habis tersapu tsunami,” lanjutnya.

Hal menarik kemudian yang terlihat adalah bagaimana puluhan bendera LAZIS Wahdah berjejer rapih di sepanjang pesisir pantai. Bahkan para nelayan berebutan untuk memasangnya di perahu-perahu mereka.

Kami masih membuka kesempatan bagi Anda yang ingin membantu para nelayan terdampak di pesisir Selat Sunda.

Dukungan kita adalah wujud simpatik kita kepada saudara yang membutuhkan.

#laziswahdah #wahdahislamiyah #wahdah #sedekah #zakat #laziswahdahpeduli

Baca Selengkapnya

Pemimpin Yang Kekanak-kanakan

Siapakah imaaratush shibyaan itu? Rasulullah shallaLlahu alaihi wa sallam menggambarkan:

إنْ أَطَاعُوهُمْ أَدْخَلُوهُمْ النَّارَ, وَإِنْ عَصَوْهُمْ ضَرَبُوا أَعَنْاقَهُمْ

Jika menaati mereka, maka mereka menjerumuskan ke dalam neraka. Tetapi jika membangkang terhadap mereka (imaaratush shibyaan alias pemimpin yang kekanak-kanakan tersebut), maka mereka akan menyengsarakan untuk mematikan, yakni dengan merusak sumber penghidupan, mematikan bisnis, memenjarakan dan mempersekusi orang yang tidak taat atau berseberangan.

Yang lebih berbahaya lagi adalah pemimpin kekanak-kanakan (imaaratush shibyaan) dan sekaligus bodoh. Mereka bersama-sama menangani urusan rakyat, tetapi membahayakan rakyatnya. Ini sangat berbahaya. Maka kita dituntunkan untuk berdo’a memohon dijauhkan dari pemimpin seperti itu.

Maka teruslah berdo’a:

اللهم إني أعوذبك من إمارةِ الصبيان والسفهاء

“Ya Allah, sungguh kami berlindung kepada-Mu dari pemimpin yang kekanak-kanakan dan dari pemimpin yang bodoh.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad).

(Moh. Fauzil Adhim)

Baca Selengkapnya

Bagaimana Berbakti Kepada Kedua Orang Tua Setelah Menikah?

Ilustrasi: Berbakti Kepada Orang Tua

Bagaimana Berbakti Kepada Kedua Orang Tua Setelah Menikah?

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum..

Ustadz apakah berdosa ketika sudah bersuami tapi jarang mengunjungi orangtua dan memberinya uang. Namun selalu ingat untuk mendoakan mereka. Tetapi orangtuanya membanding bandingkan dengan anak perempuan yang lain yang sering memberinya uang?

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wa barakatuh.

Hayyakillahu ukhtii, semoga Allah senantiasa merahmati dan memberkahi anda beserta keluarga.

Kewajiban sejati seorang anak kepada orang tua adalah berbakti dan berbuat baik kepada mereka, bahkan hukumnya fardhu ain bagi setiap anak. Dan di dalam nash-nash al-Qur’an dan As-Sunnah biasa disebut Ihsaan atau Birr.

Dan uniknya, ada beberapa nash di dalam Al-Qur’an dan sunnah yang mensejajarkan antara kewajiban kepada Allah dan kewajiban kepada orang tua. Allah berfirman:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Artinya: dan Allah telah memerintahkan kepada kamu; jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada orang tua“. (QS Al-Isra’ 23).

Allah juga berfirman:

أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Artinya: Bersyukurlah kepada-KU, dan kepada kedua orang tuamu. (QS Luqman: 14).

 

Di dalam hadits Rasulullah ditanya:

أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟ قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا، قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ، قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ” الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Artinya: Apa amalan yang paling dicintai oleh Allah? Rasulullah menjawab: Shalat pada waktunya, kemudian amalan apa lagi? Rasulullah menjawab: Berbakti kepada orang tua, kemudian amalan apa lagi? Rasulullah menjawab: berjihad fi sabilillah. Muttafaqun alahi.

“fenomena” ini tentunya merupakan indikasi kuat terkait agungnya birrul walidain (berbakti kepada orang tua). Dan jika durhaka kepada orang tua adalah bagian dari dosa besar, maka dapat dipahami dari hal ini (mafhum mukhalafah), bahwa berbakti kepada orang tua merupakan ibadah yang agung, bahkan sebagian ulama memandang bahwa ia dapat menggugurkan dosa-dosa besar, sebagaimana pendapat imam Ahmad, dan pendapat imam Makhuul sebagaimana dikutip oleh Ibnu Abdil Barr. [Ghidzaul AlBaab Syarh Mandhumatul Adab karya: As-Safaariini, hal: 299].

Kalimat “berbakti kepada orang tua” makanya global, mencakup segala bentuk perbuatan baik, baik secara lisan seperti berkata lembut kepada mereka, maupun secara sikap dan perbuatan, seperti mematuhi mereka dalam kebaikan dan membantu kebutuhan-kebutuhan mereka.[lihat Tafsir As-Sa’di, hal: 456 dengan sedikit tambahan].

Dengan pemaparan diatas, maka mendoakan orang tua merupakan salah satu bentuk birrul walidain yang agung, yaitu birrul walidain dengan lisan. Namun tentunya anda memahami bahwa mendoakan orang tua adalah ibadah yang sifatnya tersembunyi, sehingga ada potensi orang tua tidak mengetahui tentang hal ini, karena mereka tidak merasakan “perhatian” yang kongkrit dari anda, apalagi jika mereka masih hidup, maka mereka tentu sangat mengharapkan “kehadiran” yang lebih dari anda, berupa: komunikasi, ziarah, bantuan materi ataupun non materi dsb.

 

Oleh karena itu, jika anda dan suami memiliki waktu dan kesempatan, maka diupayakan untuk meningkatkan intensitas komunikasi dan ziarah kepada orang tua, dan jika hal itu sulit untuk direalisasikan, maka anda dapat mempertahankan intensitas ziarah yang lama, namun ditingkatkan kualitas “kehadiran” anda disamping mereka, dan jika hal itu dijadikan sebagai bentuk “me-time” anda (yaitu “me-time” anda dengan orang tua) maka akan sangat luar biasa.

Memanfaatkan kebersamaan anda bersama orang tua, maka anda dapat menunjukkan isyarat-isyarat perhatian anda kepada mereka, bahwa anda menyayangi mereka dan berusaha untuk tidak melupakan mereka dalam lantunan doa anda, diharapkan dengan ini anda mendapat keridhoan orang tua, dan mereka dapat memahami bahwa banyak bentuk dan cara berbakti kepada orang tua.

Mungkin memberikan bantuan finansial kepada orang tua adalah salah satu ukuran “birrul walidain” konkrit menurut ukuran kebanyakan orang tua pada zaman ini, karena sangat terasa manfaatnya, olehnya sebagian orang tua mengukur kesuksesan anak dan ketaatannya kepada orang tua dengan ukuran ini, dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberikan isyarat terkait hal ini, ketika seorang sahabat mengadukan ayahnya yang mengambil hartanya, beliau bersabda:

أَنْتَ وَمَالُكَ لِأَبِيكَ

Artinya:”Kamu dan hartamu adalah milik ayahmu“. HR Ahmad dan dinyatakan hasan lighairihi oleh Syua’ib Al-Arnauth dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani.

 

Hadits diatas bukan justifikasi bagi orang tua untuk mengangkangi seluruh harta anaknya, namun maksudnya, diperbolehkan bagi orangtua untuk mengambil sesuatu dari harta anaknya sesuai dengan kebutuhan primernya yang tidak memberatkan anaknya.[An-Nihayah fi Gharibil Atsar 1/834 dengan sedikit penyesuaian].

 

Dan para ulama kita mengisyaratkan makna ini di dalam buku-buku mereka, As-Safaariini mengutip dari Abu Laith As-Samarqandi bahwa beliau mengatakan:”Diantara hak seorang bapak kepada anaknya adalah memberinya makan jika butuh kepada makanan, dan membelikan baju jika sang anak memiliki kemampuan”.[Ghidzaul AlBaab Syarh Mandhumatul Adab karya: As-Saffarini, hal:300].

 

Oleh karena itu, jika kita memiliki kelebihan harta dan orang tua membutuhkan uluran tangan untuk kehidupan mereka, maka sangat dianjurkan untuk memberikan kelebihan harta kita kepada mereka.

 

Namun jika penghasilan kita hanya cukup untuk menafkahi keluarga, maka kita dapat mencari cara yang lain untuk berbakti kepada orang tua, sebab pintu-pintu untuk berbakti kepada mereka terbuka lebar, dan caranya-pun sangat banyak sebagaimana yang telah kami isyaratkan diatas.

 

Hal yang perlu digaris bawahi bagi anda, bahwa jawaban kami ini berlaku jika ada ijin dari suami, anda boleh untuk menziarahi orang tua dan memberi kelebihan harta kepada mereka jika suami mengizinkan, kecuali jika anda memiliki penghasilan sendiri, maka tidak perlu izin kepada suami untuk memberikan nafkah kepada orang tua. Dan tidak dibenarkan bagi suami untuk melarang istrinya untuk berziarah kepada orang tuanya, kecuali jika ada mudharat yang nyata dari ziarah tersebut, bahkan bisa saja seorang suami berbagi pahala dengan istrinya dalam masalah birrul walidain ini.

Wallahu A’lam bissowab.

 

Dijawab oleh Ust. Lukman Hakim, Lc, M.A (Alumni S1 Fakultas Hadits Syarif Universitas Islam Medinah Munawwarah dan S2 Jurusan Dirasat Islamiyah Konsentrasi Hadits di King Saud University Riyadh KSA)

Ingin Konsultasi Agama? Kirim Pertanyaan Anda ke ➡ http://wahdah.or.id/konsultasi-agama/

Baca Selengkapnya

AILA Indonesia Sosialisasi Penolakan RUU P-KS di Beberapa kota

FGD Penolakan RUU P-KS

(Jakarta) Wahdahjakarta.com-, Secara serentak Sabtu, (16/02/2019), Aliansi Cinta Keluarga (AILA) Indonesia melakukan edukasi di beberapa kota, terkait Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS).

Di Lampung, sekjen AILA Indonesia Nurul Hidayat,i SS melakukan edukasi di desa Way Harong kecamatan Way Lima kabupaten Pesawaran Lampung. Kegiatan edukasi ini  diikuti oleh -+150 anggota majlis taklim yang terdiri dari para ibu dan bapak. Acara berlangsung selama tiga jam.

Dalam kegiatan ini, Nurul Hidayati menekankan pentingnya pengokohan keluarga agar anak-anak terhindari dari bahaya yang mengancam. Terutama bahaya yang datangnya dari luar lingkungan keluarga. Sejatinya orangtua tidak berhenti belajar. Semangat belajar orangtua harus terus ada, sehingga dapat mendampingi dan mendidik anak sesuai dengan jamannya.

Seusai acara, seluruh jamaah yang hadir sepakat untuk menolak RUU P-KS untuk disahkan sebagai undang – undang. Seorang peserta mengatakan, “ Alhamdulillah, setelah mendengar penjelasan dari ibu Nurul saya jadi mengerti kalau ruu ini tidak sejalan dengan norma dan ideologi bangsa Indonesia.”

Sementara itu di Condet Jakarta Timur, ketua bidang media Suci Susanti S.SoS.I melakukan edukasi di hadapan -+ 80 orang perempuan yang menjadi peserta seminar parenting. Seminar ini diikuti oleh para ibu muda dan ibu usia lanjut. Di hadapan para ibu, Suci mengatakan, “ Tidak semua informasi atau apapun yang dibawa dari luar Indonesia itu baik dan harus ditelan mentah-mentah. Sebagai warga negara Indonesia yang memiliki ideologi Pancasila dan negara yang beragama, sepatutnya kita mengkritisi apapun aturan yang diadopsi dari luar Indonesia.”

Selain itu, Suci menyajikan data tingginya tingkat aborsi yang terjadi di Indonesia. Hal ini tentu saja memprihatinkan. Maka untuk menekan angka aborsi, keluarga harus kokoh. Agar dapat melindungi anak dari pengaruh buruk yang menyebabkan anak terjerumus pada pergaulan bebas dan melakukan hal yang dilarang agama serta norma.

Pada sesi tanya jawab seorang peserta seminar menyatakan, “Kedatangan saya jauh – jauh dari Bintaro ngga sia – sia. Alhamdulillah. Selama seminggu kemarin isu RUU P-KS ini ramai dibicarakan di media sosial. Saya penasaran. Kenapa ada pro dan kontra. Namun setelah mendengar pemaparan tadi, saya jadi paham.”

Sesuai acara seminar, para peserta mengadakan deklarasi menolak RUU P-KS. Selain berfoto dengan membentangkan spanduk penolakan, peserta juga mengumpulkan tanda tangan yang rencananya akan dibawa ke DPR.

Di Bogor, ketua bidang edukasi AILA Indonesia Diana Widyasari ST.MM menghadiri undangan Focus Group Discussion (FGD) para tokoh perempuan di Bogor. Selain Diana, hadir sebagai pembicara yaitu Prof. Euis Sunarti yang merupakan guru besar IPB dan pakar ketahanan keluarga, Iim Nurrochimah, Msi perwakilan dari Penggiat Keluarga (GiGa) dan Iis Istiqomah, Msi wakil ketua HKP BPKK DPP PKS.

Diana menitikberatkan pada para pengusung dari RUU P-KS. Terutama komnas perempuan. “Saya merasa aneh dengan komnas perempuan. Ketika dulu AILA Indonesia mengajukan JR di MK tentang pasal perzinaan dan pencabulan. Komnas perempuan justru memilih berseberangan dengan AILA. Hal ini membuat kami bertanya-tanya, sebenarnya komnas perempuan membela perempuan yang mana ?”

Dalam FGD ini, para tokoh perempuan yang hadir sepakat untuk menolak RUU P-KS.  Mereka pun menandatangani rekomendasi bagi masyarakat Bogor untuk ikut serta menolak RUU P-KS.(#beritaaila)

Baca Selengkapnya

Wahdah Islamiyah Terima Kunjungan Tim Verifikator BAZNAS RI

(Makassar) wahdahjakarta.com -, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Wahdah Islamiyah menerima kunjungan tim verivikasi faktul (verifikator) dari Badan Amiol Zakat Nasional (Baznas) RI di kantor Pusat Wahdah Islamiyah, Jl. Antang Raya, Manggala, kota Makassar, Sabtu 16 Februari 2019.

Kunjungan tersebut dalam rangka melakukan verifikasi faktual terhadap LAZIS Wahdah sebagai salah satu tahap untuk pemberian rekomendasi LAZ berskala nasional.

Tim verifikasi yang terdiri dari sekretaris Baznas RI, Drs. Jaja Jaelani, MM., beserta Mohammad Basit A Karim, Lc., MM. disambut oleh Sekjen DPP Wahdah Islamiyah, Syaibani Mujiono, Ketua Badan Pengawas Keuangan Wahdah Islamiyah, Dr. Hamid Habbe, Direktur LAZIS Wahdah, Syahruddin beserta beberapa pimpinan DPP Wahdah Islamiyah dan karyawan LAZIS Wahdah.

Verifikasi dokumen yang dilakukan oleh Mohammad Basit berlangsung lebih 2 jam. Jaja Jaelani mengatakan hasil dari verifikasi akan diplenokan di pimpinan BAZNAS pusat. Ia pun optimis LAZIS Wahdah segera mendapat rekomendasi dari BAZNAS RI sebagai acuan untuk mendapatkan SK LAZNAS dari Kemenag RI.

Ia juga mengimbau agar setelah legalitas LAZNAS diperoleh maka LAZIS Wahdah segera mengurus legalitas LAZIS Wahdah di wilayah tersebut.

Tim verifikator juga berkunjung ke Sekolah Dai (Tadribut Du’at) Wahdah Islamiyah yang merupakan salah satu program pemberdayaan LAZIS Wahdah.[]

Baca Selengkapnya

Dua Bulan Pasca Tsunami, Bantuan di Lampung Selatan Mulai Sunyi 

 

(Kalianda) Wahdahjakarta.com-Pasokan logistik mulai menipis di posko pengungsian yang terletak di Desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan.

Dari keterangan Kordinator Posko Satu Pintu Desa Kunjir, Sahadi, persediaan logistik ini mulai menipis akibat berkurangnya intensitas relawan maupun lembaga kemanusiaan jelang dua bulan pasca tsunami di akhir 2018 silam.

“Hunian Sementara (HUNTARA) yang dibangun oleh Pemerintah mungkin akan selesai sebulan lagi. Sedangkan kami masih belum mampu kembali melaut untuk mencari nafkah. Ini yang menjadi masalah pengungsi pak, karena persediaan sembako di Posko juga menipis,” kata Sahadi.

 

Dia melanjutkan, satu-satunya bantuan sembako berasal dari Pemerintah Kabupaten yang hingga kini masih belum tersalurkan secara merata. Kondisi dilematis ini mewarnai jiwa traumatik pengungsi yang belum pulih.

Relawan LAZIS Wahdah, Rizky Handrajati mengatakan, pendampingan pengungsi harus terus dilakukan hingga kondisi normal kembali.

Menurut dia, kondisi tenda pengungsian yang kian hari kian panas akibat cuaca ekstrem, persediaan logistik yang menipis, belum pulihnya mata pencaharian warga, menjadi masalah yang harus diselesaikan segera.

“Kami sendiri dari LAZIS Wahdah mengupayakan agar kondisi ini segera pulih. Kami telah membangun komunikasi dengan Pemerintah Setempat dan Insya Allah akan diatasi sedikit demi sedikit. Seperti misalnya stok logistik yang ternyata masih disediakan oleh Pemerintah Kabupaten, namun Penanggung Jawab Posko kurang aktif dalam pengangkutan,” tutur Handra, Sabtu (16/2/2019).

Program yang masih rutin dilaksanakan oleh LAZIS Wahdah menurut Handra antara lain pendampingan posko pengungsian dengan pendirian dan pengaktifan Musala Darurat yang didirikan bersama Lidmi Peduli.

Utusan LAZIS Wahdah Jogjakarta ini mengatakan, Shalat Berjamaah, Siraman Rohani setelah Shalat, Pengajian anak-anak dan remaja, merupakan agenda harian LAZIS Wahdah di posko pengungsian yang terletak di SMA N 1 Rajabasa, Desa Kunjir.

“Tiap akhir pekan kami menggelar Gerakan Shalat Subuh Berjamaah (GSB) yang ditutup dengan Tausiyah dan Sarapan Pagi bersama warga di pengungsian,” tambahnya.

Kordinator Posko Pengungsian Desa Kunjir, Sahadi mengatakan, program-program kerohanian ini menjadi penguat warga walaupun kondisi serba sulit.

“Semoga relawan LAZIS bisa istiqomah mendampingi, apalagi dua bulan jelang Bulan Suci Ramadhan. Kami berharap dengan kelarnya HUNTARA, program-program seperti pengajian ini masih terus berlanjut,” harap Sahadi. []

Baca Selengkapnya

Mengagungkan Al-Qur’an

Photo Mushaf Al-Qur’an

Mengimani  Al-Qur’an merupakan bagian dari rukun Iman, tidak lengkap keimanan seorang hamba kecuali jika telah beriman kepada seluruh kitab suci yang Allah turunkan, di antaranya adalah Al-Qur’an.

Allah berfirman:

 

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ

“Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Allah, demikian juga orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, Malaikat- malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan Rasul-Rasul-Nya”. (QS Al-Baqarah: 285).

Al-Quran adalah mukjizat pamungkas bagi Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, keabadiannya adalah suatu keniscayaan, keistimewaannya tidak terbantahkan, di antara keistemewaan tersebut adalah sebagai berikut:

Al-Quran adalah kalamullah

Ulama  Ahli Sunnah wal Jama’ah sepakat bahwa Al-Quran merupakan kalamullah [firman Allah], Allah berbicara dengan ayat-ayat Al-Quran kepada Jibril secara hakiki, kemudian Jibril mewahyukannya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah berfirman:

Dan jika seorang diantara orang-orang musyrik itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah dia supaya mendengar kalamullah [firman Allah].” [QS. At-Taubah: 6].

Al-Quran menghapus semua kitab suci yang sebelumnya

Islam adalah mata rantai terakhir dari agama para Nabi dan Rasul yang menghapus seluruh agama-agama sebelumnya, yang kemudian menjadi agama satu-satunya yang diridhai dan terima oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Allah berfirman:

“Dan barang siapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” [QS. Ali Imran: 85].

Maka demikian pula dengan Al-Quran, ia adalah kitab yang menghapus kitab-kitab suci yang sebelumnya, seperti: Injil, Taurat, Zabur, dan lainnya, sehingga Al-Quran menjadi satunya-satunya rujukan manusia untuk mencari hidayah dan keselamatan.

Allah berfirman:

“Dan kami telah turunkan kepadamu Al-Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang ada dalam kitab-kitab sebelumnya, dan menjadi muhaimin [penjaga/ukuran/saksi] bagi kebenaran kitab-kitab yang sebelumnya.” [QS. Al-Maidah: 48].

Dan ketika Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu membaca lembaran-lembaran

Taurat, Rasulullah menegurnya dengan mengatakan:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ مُوسَى كَانَ حَيًّا، مَا وَسِعَهُ إِلَّا أَنْ يَتَّبِعَنِي

 “Demi Allah, Seandainya saudaraku (Nabi) Musa masih hidup, maka niscaya akan mengikuti saya”. (HR Ahmad, dan dinyatakan hasan Oleh Syaikh Albani dalam Irwaul Ghalil 6/34).

Al-Quran terjaga keotentikannya

Umat-umat yang telah lalu memiliki kitab suci juga, namun kitab suci mereka telah terselewengkan, terselipkan ucapan-ucapan para pemuka agama dan para pendeta mereka, sehingga kitab-kitab tersebut tidak sakral [suci] lagi dan bukan merupakan wahyu ilahi yang murni lagi. Hanya Al-Quran yang terjaga dari hal tersebut dengan jaminan Allah Subhanahu wata’ala, Allah berfirman:

 

إِنَّا نَحْنُ نزلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Artinya: “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” [QS. Al-Hijr: 9].

Sesungguhnya manusia dalam menjalani kehidupan membutuhkan pedoman dan rambu agar bisa menikmati kehidupan dengan penuh ketentraman dan kebahagiaan, maka diutuslah para Nabi dan Rasul, dan diturunkanlah Al-Quran agar menjadi sumber hidayah dan petunjuk bagi manusia serta menjadi way of live [jalan hidup] bagi mereka, dan barang siapa mencari petunjuk selain dari Al-Quran, maka dia akan tersesat, Allah berfirman:

“Kitab [ al-Quran] ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” [QS. Al-Baqarah: 2].

Al-Quran merupakan cahaya yang dapat menjadi suluh bagi hati, sehingga tidak tersesat dalam kegelapan, menjadikan hati mengenal Penciptanya, mengetahui syariat- Nya dan mengilmui yang dihalalkan dan yang diharamkan oleh-Nya, Allah berfirman:

فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالنُّورِ الَّذِي أَنْزَلْنَا

 “Maka berimanlah kepada Allah, Rasulnya, dan cahaya [ al-Quran] yang kami turunkan.” [QS. At-Taghabun: 8].

Al-Quran juga merupakan obat bagi penyakit yang menimpa manusia, dan penyakit terbagi menjadi dua;

Pertama: penyakit jasmani, berupa penyakit-penyakit yang terdapat pada badan manusia, seperti liver, darah tinggi, malaria, sakit jantung dll, dan kebanyakan obatnya dihasilkan dari penelitian-penelitian kedokteran, meskipun tidak menutup kemungkinan dapat diobati dengan bacaan ayat Al-Quran, yang biasanya disebut dengan ruqyah syar’iyah.

Kedua: penyakit rohani, yaitu penyakit yang menjangkiti hati manusia sehingga menghilangkan keimanannya atau melemahkannya, seperti: penyakit syirik, penyakit cinta dunia, sombong, riya’ dll. Penyakit-penyakit ini apabila diremehkan dan dibiarkan, maka akan berakibat pada matinya hati, dan obat yang paling mujarab bagi penyakit-penyakit ini ada di dalam Al-Quran, Allah berfirman:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

 “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu nasehat dari tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.” [QS. Yunus: 57].

Setiap muslim memiliki kewajiban, dan salah satu kewajiban yang teragung adalah mengagungkan Al-Quran. Di antara fenomena yang tidak bisa dipungkiri pada zaman ini, ialah fenomena jauhnya kaum muslimin dari Al-Quran. Bahkan masih banyak di antara kaum muslimin yang belum mampu membaca Al-Quran, dan hal ini merupakan fenomena yang menyedihkan dan menyesakkan dada, padahal Al-Quran menduduki posisi yang mulia di dalam agama Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengeluhkan hal ini sebagaimana dalam ayat:

“Dan Rasul pun berkata: Ya Allah, sesungguhnya kaumku mengacuhkan al-Quran.” [QS. Al-Furqan: 30].

Di antara bentuk pengagungan terhadap Al-Qur’an adalah:

Iman Kepada Al-Quran

Ini adalah induk kewajiban dan salah satu rukun iman bagi seorang muslim. Iman kepada Al-Quran berarti meyakini kebenarannya, dan mempercayai bahwa Al-Quran diucapkan oleh Allah kemudian diwahyukan oleh Jibril kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, serta mengimani keabadian ajarannya, Allah berfirman:

Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Allah, demikian juga orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, dan Rasul-RasulNya”. (QS Al-Baqarah: 285).

Membaca Al-Quran

Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa Al-Quran berfungsi sebagai hidayah bagi manusia dan menjadi pedoman serta rambu-rambu bagi mereka, maka berinteraksi dengan Al-Quran dan sering membacanya merupakan kunci utama untuk memperoleh hidayah dan untuk mengetahui pedoman hidup yang harus dijalani.

Membaca Al-Quran merupakan salah satu cermin keimanan kita kepadanya dan salah satu tanda kecintaan kita kepada Allah, karena Al-Quran adalah kalamullah [firman Allah], maka kecintaan kita kepada Allah tercermin pada intensitas interaksi kita dengan Al-Quran. Bukankah seseorang apabila menyukai seorang penyanyi akan membuatnya sering mendendangkan lagunya?

Mengamalkan Al-Qur’an

Al-Quran diturunkan untuk diamalkan dan dipraktekkan, Fudhail bin Iyadh mengatakan:

إِنَّمَا نَزَلَ الْقُرْآنُ لِيُعْمَلَ بِهِ، فَاتَّخَذَ النَّاسُ قِرَاءَتَهُ عَمْلاً ، أَي لِيُحِلُّوا حَلالَهُ ، وَيُحَرِّمُوا حَرَامَهُ

 “Sesungguhnya Al-Quran diturunkan untuk diamalkn, maka manusia menjadikan bacaannya terhadap Al-Quran sebagai amalan, atau untuk laksanakan yang dihalalkan, dan dijauhi yang diharamkan”. (HR Al-Ajurry dalam Akhlaq Hamalatul Quran, hal: 41).

Dan inilahyang merupakan salah satu puncak dari pengagungan terhadap Al-Quran, dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah representasi dari Al-Quran itu sendiri, Aisyah mengatakan:

 

كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ

 “Sesungguhnya Akhlaq Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah Al-Quran”. (HR Ahmad).

Penulis: Lukmanul Hakim, Lc, MA

Artikel : Markazinayah.com

Baca Selengkapnya

Pro dan kontra RUU P-KS, AILA dan INSISTS Sayangkan Sikap Komnas Perempuan yang Tidak Fair

Diskusi publik dengan tema “Kontroversi RUU Penghapusan Kekerasan Seksual” diadakan oleh Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (F-PKS) Rabu (13/02/2019).

(Jakarta) Wahdahjakarta.com -, Aliansi cinta keluarga Indonesia (AILA Indonesia) dan Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) menyayangkan sikap Komnas Perempuan yang tidak fair dalam menyikapi polemik pro kontra Rancangan Undang-Undang Pencegahan Kekerasan Seksual (RUU P-KS).

Hal itu disampaikan AILA dan INSISTS dalam diskusi publik dengan tema “Kontroversi RUU Penghapusan Kekerasan Seksual” diadakan oleh Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (F-PKS) Rabu (13/02/2019). Dalam diskusi tersebut hadir sebagai pembicara, Drs. M. Iqbal Romli selaku perwakilan dari F-PKS, Prof. Topo Santoso SH, MH, PhD guru besar fakultas hukum Universitas Indonesia, Dr. Dinar Kania Dewi peneliti INSISTS, dan Drs. Imam Nakhi MHI perwakilan dari komnas perempuan.

Diskusi dibuka oleh Leida Hanifa M.Psi dari F-PKS. Ledia menyatakan bahwa F-PKS memutuskan untuk menolak ruu ini. Karena setelah mengadakan kajian mendalam, banyak ditemukan kejanggalan. Namun F-PKS juga menerima masukan dari masyarakat, untuk itu F-PKS mengadakan diskusi publik agar masyarakat bisa memahami dan mengeluarkan sikap terkait ruu p-ks.

Dalam kesempatan ini Prof Topo menyatakan, “ Ketika suatu rancangan undang-undang diluncurkan ke publik, maka akan terjadi pro dan kontra. Ini adalah suatu hal yang biasa. Apalagi RUU tentang seksual.”

Menyambung pernyataan Prof Topo, Dr. Dinar menyatakan, “ Ini harus dicatat pak Imam, seperti yang dikatakan Prof Topo bahwa pro kontra ini kan biasa. Maka saya sangat menyayangkan sikap komnas perempuan yang kemarin mengadakan konferensi pers dan menyatakan bahwa pihak yang tidak setuju dengan ruu ini telah menyebarkan hoax. Komnas perempuan harus bersikap fair dengan menghargai perbedaan pendapat.”

Dalam kesempatan lain, ketua AILA Indonesia Rita Soebagio pun menyayangkan langkah komnas perempuan. “Ini kan negara demokrasi. Dan saya sepakat dengan porf Topo bahwa pro kontra adalah hal biasa. Kami sebagai warga negara Indonesia dijamin oleh undang – undang untuk menyatakan pendapat. Selain itu, kami juga menyayangkan sikap para pendukung ruu ini yang terkesan arogan. Mereka melabeli pihak yang kontra sebagai orang-orang yang setuju dengan pelecehan, bahkan ada juga yang menyatakan bahwa pihak yang kontra adalah pelaku pelecehan. Sikap seperti ini sangat tidak mencerminkan kedewasaan dalam bernegara.”

Ketika disinggung apakah AILA Indonesia akan melayangkan pengaduan kepada pihak berwenang terkait tuduhan-tuduhan tersebut, “Ya, kami sudah mengumpulkan bukti-bukti tuduhan juga kalimat-kalimat tidak pantas lainnya. Kami akan pertimbangkan.” Pungkas Rita Soebagio. []

Sumber: #beritaaila

Baca Selengkapnya

Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI Tolak RUU P-KS, Ini Alasannya

(Jakarta) wahdahjakarta.com– Sekretaris Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI Pusat, Dr. Rida Hesti Ratnasari membeberkan alasan kenapa Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS) harus ditolak. Menolak atau mendukung sesuatu, lanjut dia, harus didasari kesadaran dan pemahaman.

Rida mengaku telah mendalami pasal demi pasal dalam RUU P-KS. Alasan penolakan pertama, kata dia, karena RUU P-KS telah menimbulkan stigma buruk bagi yang menolak dan mengkritisinya.

“Seolah-olah kelompok yang menolak, kontra dan mengkritisi RUU ini adalah kelompok yang mendukung kekerasan seksual,” katanya dalam forum Kiblat Review, Jumat pekan lalu.

“(Seakan) jika anda tidak mendukung RUU ini maka anda pro kekerasan. Bahkan dalam sebuah diskusi dikatakan, ‘jangan-jangan mereka yang kontra terhadap RUU ini adalah yang bakal terjerat’. Jadi sudah mulai berburuk sangka terhadap warga negara, itu terjadi,” ujar Rida.

Alasan kedua karena adanya personalism political dalam RUU P-KS. Yaitu adanya keharusan untuk menggunakan pengalaman korban sebagai landasan. Ia menyebut, personalism political merupakan warna khas dan kokoh dalam gerakan feminisme radikal.

Kemudian, alasan selanjutnya karena adanya benturan antara konsep dan solusi yang ditawarkan oleh RUU ini. Ia mencontohkan, jika RUU ini nantinya disahkan, maka akan banyak publikasi ranah privat yang terjadi.

“(Misal) kasusnya antara mbak-mbak dengan seseorang, tapi atas nama perlindungan terhadap korban kekerasan, kasusnya diangkat ke ranah publik. Jadi, ada benturan antara konsep dan solusi yang ditawarkan dengan apa yang diperjuangkan,” kata Rida.

Penolakan berikutnya adalah soal kontrol seksual. Rida menuturkan, dalam naskah akademik sangat kental disebutkan soal kedaulatan atas tubuh dan kontrol seksual. Ia menyebut, kontrol seksual justru sama sekali tidak menyelesaikan masalah kerentanan perempuan sebagai korban.

“Dari berbagai kasus, mereka (kaum pendukung) menyimpulkan bahwa perempuan rentan menjadi korban, tetapi solusinya malah diberikan kontrol seksual. Kelompok rentan ini kan harusnya dibimbing bagaimana mengelola tubuhnya, bagaimana memanfaatkan organ seksualnya sesuai konsekuensi penciptaannya sebagai hamba. Bukan malah diberikan senjata kontrol seksual,” tandasnya. []

Sumber: Kiblat.net

 

Baca Selengkapnya
%d blogger menyukai ini: