Anti Baper dan Berpikir Positif

Berpikir positiflah selalu dan jangan baper

Berpikir positif dapat menjadi tindakan preventif sebelum individu mempunyai gangguan baik emosi maupun kognisi, sebab dengan berpikir positif dan memiliki emosi yang positif, maka kita menghindar dari emosi negatif yang membawa dampak tidak baik bagi fisik maupun psikologis.

Seorang yang berpikir positif tidak pernah menolak untuk mengakui ada hal-hal negatif, tetapi yang pasti ia menolak untuk terkubur dan larut di dalamnya.

Berpikir positif adalah bentuk pikiran yang terbiasa untuk mencari hasil-hasil terbaik dari kemungkinan-kemungkinan terburuk. Kita sangat mungkin mencari sesuatu untuk dibangun; kita sangat mungkin berharap hasil terbaik meski keadaan terasa sangat buruk. 

Mari selalu kedepankan berpikir positif agar terhindar dari gangguan emosi maupun koginisi.

Sumber: FP Muslimah Wahdah Islamiyah 

Syafruddin, Korban Banjir Jeneponto Yang Kehilangan Anak dan Istri

(Jeneponto) wahdahjakarta.com — Hari ini, tepat sepekan banjir menerjang Jeneponto. 15 orang meninggal dunia, puluhan rumah hanyut dan ratusan rumah rusak berat. Fasilitas umum seperti jembatan, sekolah dan perkantoran rusak diterjang kencangnya arus banjir. Bahkan lima jembatan penghubung antar desa terputus. Akses warga terhambat. Banjir  Jeneponto menyisahkan duka.

Cerita demi cerita perjuangan menyelamatkan diri para korban selamat dan keluarga korban yang meninggal dunia mulai terdengar. Seperti cerita anak dan ibu di Desa Sapanang, Kecamatan Binamu, Jeneponto.

Ialah Syafruddin (50), yang harus kehilangan anak dan istrinya saat air bah itu datang menerjang. Ia menyaksikan langsung bagaimana air bah yang datang dari arah yang tidak diduga. Air tersebut kata Syafruddin tidak hanya membawa lumpur, tetapi berbagai macam material padat seperti sisa-sisa pohon yang tumbang hingga sampah plastik yang tidak sedikit jumlahnya.

“Mungkin sekitar tiga meter pak. Itu saya punya rumah hampirmi naik ke dalam padahal rumahku itu rumah panggung. Saking tingginya itu air,” ujar Syafruddin, Kamis (31/1/2019).

Dari informasi yang didapatkan oleh relawan, Syahfruddin pada waktu itu sedang berada di sawahnya. Menjelang zuhur ia bergegas pulang untuk bersiap menunaikan sholat zuhur.

Rumah Syafruddin yang rusak parah akibat diterjang banjir Jeneponto

“Saya suruh anak untuk keluarkan dulu mobil. Saya sementara siap-siap mandi untuk sholat,” imbuhnya.

Hanya beberapa saat ketika ia hendak masuk ke rumah, air sungai yang berada tak jauh dari area perkampungan naik menyapu rata setiap bangunan yang dilaluinya. Banyak pohon yang tumbang. Bahkan, hewan-hewan ternak seperti ayam, kuda, sapi, hingga itik banyak yang mati tenggelam. Mobilnya pun mengalami kerusakan yang cukup parah.

Ia masih terhenyak tanpa kata saat relawan menanyakan bagaimana kondisi keluarganya saat itu. Mulutnya tak bisa lagi berkata-kata. Hingga air matanya jatuh. Bagaimana musibah ini merenggut anak dan istrinya.

Didepan matanya, dua orang yang begitu ia cintai hanyut terbawa arus.

“Saya sudah pasrah pak. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa keduanya,” ungkapnya sembari menyeka air mata yang membasahi kedua pipinya.

Harapan itu masih tetap ada. Meski sanak keluarga telah tiada, masih ada secercah harapan dari pria yang dikenal oleh warga sebagai orang baik. Tak ada pilihan bagi dirinya, selain dengan hanya memasrahkan semuanya kepada Allah Ta’ala. Syafruddin yakin. Di balik musibah ini akan ada jalan terbaik yang Allah siapkan baginya. []