Kedudukan dan  Keutamaan Shalat Subuh (1)

Ilustrasi: Shalat Subuh

Shalat Subuh merupakan satu dari shalat lima waktu diwajibkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Allah memerintahkan menjaga shalat dan secara khusus shalat Subuh sebagaimana firman-Nya dalam surat Al Baqarah ayat 238:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلهِ قَانِتِينَ  ﴿البقرة: ٢٣٨ 

Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu´.”

Artinya, Wahai kaum muslimin jagalah sholat fardhu yang lima waktu dengan melaksanakannya secara rutin waktunya dengan menunaikan syarat-syaratnya, rukun-rukunnya dan wajib-wajibnya, dan jagalah shalat wustha (pertengahan) yakni shalat Asar shalat subuh.

Ini menunjukkan kedudukan dan keutamaan shalat subuh yang sangat penting, karena Allah  Ta’ala memerintahkan untuk menjaganya setelah perintah untuk menjaga sholat lima waktu secara umum.

Berikut keutamaan shalat Subuh yang dijelaskan dalam banyak hadits Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam;

(1) Berada dalam Lindungan Allah

Orang  yang mengerjakan salat subuh berada di dalam perlindungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jundub bin Abdillah bin  Sufyan Al-Bajali radhiyallahu ‘anhu mengabarkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

مَن صلَّى الصبح، فهو في ذمة الله،))؛ رواه مسلم وأحمد))

Barangsiapa yang shalat Subuh maka ia berada dalam jaminan Allah”. (HR. Muslim dan Ahmad).

Artinya orang yang melaksanakan subuh kemanannya dijamin oleh Allah Ta’ala

(2) Memperoleh Pahala Seperti Shalat Semalam Penuh

Orang yang melaksanakan shalat Subuh secara berjama’ah mendapatkan keutamaan seperti shalat semalam penuh. Utsaman bin Affan radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

 مَن صلى العشاء في جماعة، فكأنما قام نصف الليل، ومن صلى الصبح في جماعة، فكأنما صلَّى الليلَ كلَّه))؛ رواه مسلم

“Barangsiapa yang shalat Isya secara berjama’ah maka ia seperti shalat setengah malam, dan barangsiapa yang shalat Subu secara berjama’ah maka seperti shalat semalam suntuk”. (HR. Muslim)

(3). Selamat dari Sifat Munafik

Menjaga shalat Subuh secara berjama’ah dapat mengindarkan dan menyelamatkan seseorang dari sifat dan ciri munafik. Karena mengabaikan dan melalaikan shalat subuh merupakan salah satu ciri dan sifat orang munafik.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengabarkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

ليس صلاة أثقل على المنافقين من الفجر والعشاء، ولو يعلمون ما فيهما، لأتَوهما ولو حبوًا،))؛ رواه أحمد، والبخاري، ومسلم

“Tidak ada shalat yang paling berat bagi orang munafik melebihi shalat fajar (subuh) dan shalat Isya, andaikan mereka tahu apa yang ada dalam dua shalat tersebut niscaya akan datang (ke masjid) untuk melaksanakannya meskipun dengan merangkak”. (HR. Ahmad, Bukhari, dan Muslim).

Seluruh Shalat lima waktu berat bagi orang munafik. Oleh karena itu mereka bermalas-malasan melakukan shalat, namun yang paling berat dari kelima shalat fardhu yang lima waktu adalah shalat subuh dan Isya.

Andaikan mereka tahu balasan berupa pahala bagi yang melaksanakannya atau ganjaran dosa bagi yang meninggalkannya maka mereka akan tetap mendatanginya mesikipun harus merangkak.

(4). Disaksikan Oleh para Malaikat

Shalat Subuh disaksikan oleh para Malaikat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَتَجْتَمِعُ مَلَائِكَةُ اللَّيْلِ وَمَلَائِكَةُ النَّهَارِ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ

 “Para malaikat malam dan malaikat siang berkumpul pada shalat fajar (subuh).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits lain  yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda;

Para Malaikat bergantian mendatangi kalian pada siang dan malam. Para malaikat itu bertemu di shalat Subuh dan shalat Ashar. Kemudian yang bermalam dengan kalian naik (ke langit) dan ditanya oleh Rabb mereka, dan Dia lebih tahu keadaan hamba-hambanya, Bagaimana kondisi hamba-hambaku ketika kalian tinggalkan?’ Para malaikat menjawab, ‘Kami meninggalkan mereka dalam keadaan shalat, dan kami mendatangi mereka dalam keadaan shalat.” (Terj. HR. Bukhari-Muslim)

(5).  Cahaya yang Sempurna Pada Hari Kiamat

Buraidah al-Aslami radhiyallahu ‘anhu mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kabar gembira kepada orang yang melaksanakan subuh berupa cahaya sempurna pada hari kiamat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

 بشِّرِ المشَّائين في الظُّلَم إلى المساجد بالنور التام يوم القيامة))؛ رواه أبو داود والترمذي))

Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan ke masjid di kegelapan malam dengan karunia cahaya yang sempurna pada hari kiamat”. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Demikan beberapa keutamaan shalat Subuh. Semoga kita termotivasi menjaga shalat shubuh. Keutamaan yang lain akan dilanjutkan pada tulisan berikutnya insya Allah. [sym].

Bersambung.

Pengantin Menjamak Shalat Karena Sibuk Berhias dan Menyambut Tamu

Pertanyaan:

Apa hukum menjamak shalat bagi pengantin pada hari pernikahannya. Disebabkan kesibukannya dengan rias pengantin dan menyambut tamu?

Jawaban:

Alhamdulillah

Asalnya dalam agama adalah kewajiban menunaikan shalat pada waktunya berdasarkan Firman Allah:

(إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا    (النساء/103

Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa: 103).

Kata ‘Mauquta’ adalah shalat wajib yang telah ditentuan waktu pada waktu-waktu tertentu. Kalau menjama’ antara zuhur dan asar atau magrib dengan isya’. Sesungguhnya ketika ada uzur yang telah dijelaskan oleh para ulama. Diantaranya bepergian, sakit, takut, hujan dimana semuanya itu dibangun atas menghilangkan kesusahan dan kesulitan.

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan,

“Sibuk dengan berhias atau menyambut tamu bukan termasuk uzur dalam menjama (shalat). Karena memungkinkan untuk menghilangkan kesusahan dan kesulitan di dalamnya dengan lebih dahulu berhias atau mengakhirkannya atau meringankan atau membaginya agar tidak berbenturan dengan waktu shalat. Atau melakukan apa yang dinamakan dengan jama’ suri dengan shalat salah satu dua shalat tersebut di akhir waktunya dan shalat lainnya di awal waktunya.

Wasiat bagi para wanita agar jangan telalau memberatkan atau berlebihan dalam berhias. Hal itu lebih dekat dengan kemudahan dan lebih jauh dari terjerumus apa yang Allah murkai dengan menyimpang syareat-Nya bahkan lebih tepat mendapatkan berkah pernikahan.

Wallahu a’lam .

Sumber: Islamqa.info.id

Belajarlah Bahasa Arab, Karena Ia Bagian dari Agamamu

“Belajarlah Bahasa Arab, karena ia bagian dari Agamamu”

Hari ini ana kesekian kalinya menasehati anak ana tentang pentingnya belajar Bahasa Arab. Ana kutip sebagian energinya di sini.

SubhanaLlah, ketika kita berulang-ulang menyadarkan ummat tentang asingnya Islam di akhir zaman, adakah keterasingan yang lebih dalam daripada seorang Muslim yang membaca Kitab Allah kemudian tidak mengerti maksudnya?

Sapaan-sapaan merdu  yang dia baca itu: “Yaa Ayuhalladziina Aamanuu … Yaa Ayuhalladziina Aamanuu … Yaa Ayuhalladziina Aamanuu ….” Tidak cukupkah panggilan yang berulang-ulang ini mengetuk relung hati kesadarannya?

Tidakkah seharusnya dia meninggalkan segala urusannya agar dia mampu memahami pesan dari Kalam Allah yang ditujukan (I mean literally) langsung kepadanya? Berapa harga dunia ini untuk bisa ditukar dengan memahami-hati Kalam Penciptanya tanpa perantara penerjemah dari makhluk-Nya?

Anehnya, kondisi ini bisa berlarut-larut pada seorang Muslim hingga usianya jelang masuk kubur. Bisakah kondisi tersebut mendapatkan udzur nanti di Akhirat? WaLlahu A’lam. Yang pasti, setiap individu harus siap dengan jawabannya sendiri.

Ibnul Qayyim pernah mengingatkan kondisi pendidikan Al-Qur’an Rasulullah dahulu kepada sahabat-sahabatnya. Seakan beliau hendak mengingatkan tentang salah satu substansi pendidikan Nabawi.

Beliau, kata Ibnul Qayyim, memberi effort dan penekanan yang lebih besar kepada pendidikan makna Al-Qur’an daripada rasamnya. Jelas, pintu pertama menuju makna itu adalah artinya. Bandingkan dengan kondisi sebagian kita hari ini, rasamnya ditinggalkan, apalagi maknanya. 

Jika asingnya Islam di tengah ummatnya berarti asingnya Rasulullah di kalangan ummat, adakah yang lebih asing daripada seorang yang mendengar sabda Rasul, sementara yang dia dengar cuma rangkaian bunyi yang tanpa arti? Tanpa arti baginya, karena ybs awam dari bahasa Rasul yang sungguh lebih cinta kepadanya daripada dirinya sendiri?

Bila asingnya Sunnah di tengah ummat berarti jauhnya teks dan konteks Sunnah dari jangkauan ummat, adakah keterasingan yang lebih vulgar daripada komunitas yang “merasa” Ahlus Sunnah, namun literasi Sunnah mereka masih berada pada level paling rendah: memahami arti.

Kalau kita menginginkan anak-anak kita menjadi intelektual di masa depan, ulama atau thalibul ‘ilmi, yang mampu melawan “kolonialisme eksistensi” era-digital, coba jawab pertanyaan ini. Adakah ulama yang pernah kita baca atau dengar keagungannya tapi awam bahasa Arab? Bukankah kita yakin tentang luasnya geo-intelek Islam ini karena kita mendengar nama-nama Arab mereka yang mengetuk-ngetuk ujung dunia: al-Qurthubi, al-Bukhari, al-Albani, as-Sindi, al-Mubarakfuri, al-Harrani, an-Naisaburi, asy-Syiradzi, al-Jawi, dst, dst? Layakkah generasi kita berdiri-sanding dengan nama-nama emas itu kalau syarat pertama: bahasa Arab, terbata-bata?

Ikhwani fiLlah … setelah Tauhid, Sunnah, Palestina, tarbiyah, … menurut ana, salah satu PR ummat yg terbesar adalah Bahasa Arab. (Abu Sarah)