MUI Usulkan RUU P-KS Diubah Jadi RUU Penghapusan Kejahatan Seksual

Wasekjen MUI Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin

(Jakarta) wahdahjakarta.com-, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menolak draf Rancangan Undang-Undang (RUU) Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS).

Sebagai jalan tengah lembaga perkumpulan Ulama, Zu’ama, dan Cendekiawan itu mengusulkan agar RUU P-KS diubah menjadi RUU penghapusan kejahatan seksual.

“Ini berbahaya, nanti ada banyak kejahatan seksual seolah-olah mendapat legitimasi dari RUU PKS itu,” kata Wakil Sekjen MUI, Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin, dilansir indonesianinside, Kamis (7/2).

MUI merekomendasikan RUU tersebut diganti dengan RUU Kejahatan Seksual. Sebab, kejahatan seksual itu lebih berbahaya, sementara kekerasan seksual lebih multi-tafsir yang justru berpotensi merusak.

“Rekomendasi MUI dihentikan saja, tapi kalau masih mau dilanjutkan diganti dengan RUU kejahatan seksual, jadi perlindungan terhadap (korban) kejahatan seksual,” tegas Ustadz Zaitun yang juga ketua Umum DPP Wahdah Islamiyah. 

Senada hal itu Prof Euis Sunarti, Guru Besar IPB Bidang Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga, juga mengusulkan agar Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS) diubah menjadi RUU Penghapusan Kejahatan Seksual.

Ketua GiGA (Penggiat Keluarga) Indonesia (Giga Keluarga) ini mengemukakan, ada banyak alasan RUU yang menuai prokontra ini ditolak atau diubah dengan mengganti kata kekerasan menjadi kejahatan.

“Dalam RUU P-KS, yang diatur adalah larangan pemaksaannya (pelacuran, aborsi), mengabaikan pelacuran sebagai penyimpangan perilaku seks-nya. Demikian juga tidak memasukkan perilaku seks menyimpang lainnya,” ungkapnya.

Sebelumnya, sebuah petisi online yang digagas oleh Maimon Herawati menolak pengesahan Rancangan Undang-undang Pencegahan Kekerasan Seksual (RUU P-KS). Pasalnya RUU ini seakan-akan melegalkan zina. Ratusan ribu orang telah menandatangani petisi ini. []

Sumber: indonesiainside.id

Sirah Nabi (1) Perjalanan Hidup Nabi dan Lahir Hingga Kenabian

Tulisan ini akan memaparkan secara singkat perjalanan hidup Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (Sirah Nabawiyah) sejak lahir hingga turunnya wahyu pertama atau pengangkatan sebagai Nabi.

Nama dan Nasab Nabi ﷺ;  Beliau adalah Abul Qosim Muhammad bin Abdillah bin Abdil Muththolib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushoy bin Kilaab bin Murroh bin Ka’b bin Luay bin Gholib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhor bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan.

Kelahiran; Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dilahirkan dalam keadaan yatim pada hari senin tanggal 12 rabi’ul awal pada Tahun Gajah. Ayahnya  meninggal tatkala ia masih dalam kandungan, ini pendapat yang lebih kuat.

Kelahiran dan kedatangan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan pengabulan dari do’a Nabi Ibrahim dalam surah Al-Baqarah ayat 129 dan kabar gembira dari Nabi Isa ‘alaihiss salam dalam surah Ash- Shaf ayat 6.

dalam surah Al-Baqarah ayat 129 dan kabar gembira dari Nabi Isa ‘alaihiss salam dalam surah Ash- Shaf ayat 6.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Aku adalah (pengabulan) doa Nabi Ibrahim, kabar gembira Nabi Isa, dan ibuku melihat ketika ia mengandungku seolah-olah cahaya keluar darinya menerangi istana-istana Bushra di Negri Syam.”

Ibu Susuan Nabi;  Wanita pertama yang menyusui Nabi ﷺ setelah ibundanya adalah Tsuwaibah yang merupakan mantan budak wanita Abu Lahab, yang sebelumnya juga telah menyusui Hamzah bin Abdil Muththolib.

“..Tsuwaibah menyusuiku bersama Abu Salamah…”. (HR.Bukhari (9/43) dan Muslim 10/25-27))

Diantara tradisi orang Arab pada masa lalu adalah mencari wanita di pedalaman yang dapat menyusui bayi mereka sebagai tindakan preventif dari penyakit yang banyak menular di perkotaan. Selain itu agar anak mereka menjadi kuat serta lisan dan bahasanya terjaga.

Abdul Muththolib memilih seorang wanita dari kalangan Bani Sa’ad bin Bakr yaitu Halimah binti Abi Dzuaib untuk menyusui Nabi ﷺ .

Wanita lain yang juga menyusuinya adalah Ummu Aiman, nama aslinya Barkah binti Tsa’labah yakni mantan budak beliau yang didapatkannya sebagai warisan dari ayahnya.

Usia 4 Tahun; Tatkala usia Nabi ﷺ menginjak empat tahun, dua malaikat mendatanginya dan membelah dadanya, lalu mencuci hatinya dan mengembalikannya ke tempat semula.”

Usia 6 tahun; Ketika Rasulullah ﷺ menginjak usia 6 tahun, Ibundanya meninggal di Abwaa’ yang terletak di antara Makkah dan Madinah, lalu kakeknya Abdul Muththolib mengambil alih mengasuhnya.

Usia 8 tahun. Saat Rasulullah ﷺ berumur 8 tahun, kakeknya yang bernama Abdul Muththolib wafat. Dan pengasuhan Rasulullah ﷺ beralih ke pamannya Abu Tholib.

Usia 12 tahun;  Saat Rasulullah ﷺ menginjak usia 12 tahun, Abu Tholib membawanya ke Syam. Ketika mereka sampai di Bushra, seorang pendeta bernama Buhaira melihatnya. Pendeta ini mendapati sifat-sifat  kenabian pada diri Rasulullah ﷺ maka ia pun meminta Abu Tholib untuk memulangkannya, maka ia pun kembali.

Usia 15 tahun;  Ketika usia Rasululullah ﷺ menginjak 15 tahun terjadi perang Fijar antara Quraisy versus Hawazin.

Peristiwa perang Fijar terjadi antara Kinanah yang didukung oleh Quraisy berhadapan dengan Hawazin. Perang ini dinamakan Fijar karena telah melanggar kehormatan bulan Harom.

Tidak ada kabar yang shohih menyebutkan tentang keikutsertaan Rasulullah ﷺ pada perang ini.  Namun as-Suhaili mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ tidak ikut bersama paman-pamannya dalam perang tersebut karena perang ini melanggar kehormatan bulan harom, dan pihak-pihak yang bersengketa masih dalam kekufuran. Sementara Allah ﷻ tidak mengijinkan bagi orang beriman untuk berperang kecuali untuk meninggikan kalimat Allah. (Lihat ar-Raudhu al-Unuf 1/209).

Usia 20 tahun; Kemudian Rasulullah menyaksikan Hilful Fudhul untuk menolong pihak yang terzholimi.

Dinamakan perjanjian Fudhul karena mereka telah melakukan sesuatu yang utama (fadhl). (Lihat al-Bidayah wan Nihayah 2/322).  Disebutkan juga bahwa dinamakan sebagai perjanjian Fudhul karena dipelopori oleh 3 orang pemuka kabilah, yang semuanya bernama Fadhl.

Penyebab terjadinya perjanjian Fudhul (Hilful Fudhul) adalah karena seorang dari Kabilah Zabid dari Yaman datang ke Makkah bersama barang dagangannya. Ia menjualnya kepada seorang yang bernama al-‘Ash bin Wail as-Sahmi, namun orang ini tidak bersedia membayarnya. Kemudian al-‘Ash dilaporkan kepada tokoh-tokoh Quraisy, namun tidak ada juga yang ingin menolongnya.

Maka ia mendaki gunung Abi Qubais, ia brteriak agar haknya dkembalikan, akhirnya bangkitlah Zubair bin Abdil Muththolib dan berkata “Orang seperti ini tidak mungkin dibiarkan terzholimi.” Maka berkumpullah Banu Hasyim, Zuhrah, Banu Taim di rumah Abdullah bin Jad’an, mereka bersumpah dan berjanji untuk menolong orang yang terzholimi tersebut sampai haknya dikembalikan. Selanjutnya mereka menemui al-‘Ash bin Wa’il untuk mengambil paksa dan mengembalikan harta kepada pemiliknya. (Thabaqat Ibnu Sa’ad 1/126-128)

Nabi ﷺ yang saat itu berumur 20 tahun menghadiri perjanjian tersebut. Nabi ﷺ berkata tentang perjanjian tersebut: “Saya telah menyaksikan di Rumah Abdullah bin Jad’an sebuah perjanjian yang lebih aku cintai daripada seekor unta brwarna merah. Seandainya saya diajak dalam perjanjian yang sama dalam Islam, maka saya akan bergabung.” (Ibnu Hisyam 1/166)

Usia 25 tahun; Pada usia 25 tahun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Khadijah binti Khuwailid  bin Asad bin Abdil ‘Uzza bin Qushai bin Kilab. Usia Khadijah  saat itu 40 tahun. Menurut Ibnu Ishaq 28 tahun.

Usia 35 tahun; Ketika Rasulullah berusia 35 tahun orang-orang Quraisy merenovasi Ka’bah dan berbeda pendapat tentang siapa yang pantas meletakkan kembali hajar aswad pada posisinya semula. Maka Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallamm hadir sebagai penengah diantara mereka. Dari peristiwa inilah nabi Muhammad dinobatkan sebagai Al-Amin (yang paling terpercaya).

Usia 38 tahun; Ketika nabi Muhammad berusia 38 tahun tanda-tanda kenabian mulai bermunculan secara beruntun. Para rahib dan dukun juga sudah mulai membicarakan tanda-tanda tersebut.

6 Bulan Jelang Kenabian; Enam bulan sebelum diangkat menjadi Nabi, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai mendapatkan tanda-tanda wahyu berupa mimpi. Ummul Mukmini Aisyah radhiyallahu ‘mengabarkan, permulaan wahyu yang datang kepada nabi berupa mimpi yang benar. Beliau tidak mengalami sesuatu dalam mimpinya melainkan datang seperti cahaya waktu subuh. Kemudian beliau suka menyendiri dan bertahannuts di gua Hira.

Usia 40 tahun; Pada usia 40 tahun, ketika sedang bertahannuts di gua Hira pada bulan Ramadhan, beliau diangkat menjadi Nabi, yang ditandai dengan kedatangan Malaikat Jibril membawa wahyu pertama dari Allah. [sym]

Ditulis Oleh     : Syamsuddin Al-Munawiy

Artikel             : wahdahjakarta.com

Nabi Menikah dengan Khadijah (Serial Sirah Nabawiyah Part:11)

Sirah Nabawiyah
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menikah dengan Khadijah

Serial Sirah Nabawiyah (07) dari Kitab Al-Khulashah Al-Bahiyah Fi Tartib Ahdats As-Sirah An-Nabawiyah

11-  ولمّا بلغ صلى الله عليه وسلم الخامسة والعشرين تزوج خديجة رضي الله عنها 

(11). Ketika berusia 25 tahun Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam  menikah dengan Khadijah Radhiallahu ‘anha

Penjelasan

Pada usia 25 tahun, Nabi menikahi Khadijah binti Khuwailid  bin Asad bin Abdil ‘Uzza bin Qushai bin Kilab. Usia Khadijah  saat itu 40 tahun. Menurut Ibnu Ishaq 28 tahun.

Awal perkenalan Muhammad dengan Khadijah ialah ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menjalin kerjasama dalam usaha dagang Khadijah seorang janda yang terkenal kaya di Makah. Beliau membawa dagangan wanita itu ke Jursyi, sebuah daerah dekat Khamisy Masyit, sebanyak dua kali dan juga ke wilayah-wilayah lain di luar Makkah dengan ditemani oleh Maisaroh, budak Khadijah. Bisnis  yang dijalankan selalu mendapatkan untung.

Setelah kembali dari perjalanan dagang tersebut Maisaroh menceritakan kepada majikannya, Khadijah semua perilaku akhlak dan karakter Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Sehingga Khadijah merasakan kagum dan tertarik kepada beliau. Beliau kemudian melamar Khodijah lewat ayahnya Khalid Bin asad yang segera menikahkan beliau dengan putrinya tersebut. (Akram Dhiya Al-Umari, As-Sirah An-Nabawiyah Ash-Shahihah).

Diriwayatkan pula, Khadijahlah yang melamar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika mendengar kabar dari Maisarah tentang keluhuran budi pekerti dan kemuliaan akhlaq Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,  ia segera mengutus sahabat dekatnya, Nafisah binti Ummayyah yang masih merupakan kerabat nabi Muhammad untuk meanawarkan menikahi Khadijah. Tawaran itu diterima dan disetujui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mendengar tawaran tersebut, Rasulullah segera menyampaikan kepada paman-pamannya. Maka paman beliau Hamzah bin Abdil Muthalib mendatangi rumah Khuwailid bin Asad bersama beliau untuk melamar Khadijah radhiyallahu ‘anha. (Al-Anhar An-Naqiyyah, hlm. 50).

Dari hasil pernikahannya dengan Khadijah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dikaruniai keturunan dua Putra dan empat Putri, masing-masing; Abdullah (yang diberi gelar Ath-Thayyib dan Ath-Thahir), Al-Qasim, Zainab, Ruqayyah, ummu Kultsum, dan Fathimah radhiyallahu ‘anhunna. Hal ini  menurut Syekh Akram Dhiya Al-Umari merupakan penguat, umur Khadijah saat menikah dengan Nabi adalah 28 tahun. “Biasanya, sebelum usia 50 tahun seorang wanita sudah memasuki menopause”. (As-Sirah An-Nabawiyah Ash-Shahihah, 93).  

Al-Qasim dan Abdullah meninggal dunia sebelum Islam. sedangkan keempat putrinya sempat mendapati Islam dan memeluk Islam. Ummu Kultsum dan Ruqayyah dinikahi oleh Sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, sehingga beliau digelari Dzu Nurain (pemilik dua cahaya).

Khadijah merupakan istri pertama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau sangat memuji dan mencintainya. Bahkan beliau selalu mengenangnya saat sudah wafat. Ia tidak tergantikan sama sekali di hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Betapa tidak, Khadijahlah wanita pertama yang setia menemani dan membesarkan hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di masa-masa awal kenabian. Bahkan dialah wanita pertama yang beriman kepada risalah yang dibawanya.

Khadijah hidup bersama Nabi selama 25 tahun. Beliau wafat tiga tahun sebelum Nabi hijrah ke Madinah, sebelum peristiwa Isra Mi’raj. Tahun kematiannya disebut sebagai ‘Amul Huzn (tahun kesedihan) karena waktu kematiannya berdekatan dengan kematian Paman Nabi Abu Thalib. Keduanya merupakan penyokon dakwah dan perjuangan Nabi pada masa-masa awal kenabian. Wallahu a’lam. [sym].