Sekolah Wahdah Sabet Juara Olimipade Al-Qur’an Se-Indonesia Timur

(Makassar) wahdahjakarta.com -, Empat Sekolah Wahdah Islamiyah berhasil menyabet juara dan sejumlah medali dalam ajang Olimpiade Al-Qur’an Se-Indonesia Timur yang digelar Sekolah Islam Athirah Makassar,Rabu-Kamis (6-7/02/2019).

Keempat sekolah tersebut adalah SMP Al-Qur’an Abu Bakar Ash-Shiddiq Anabanua Wajo, SDIT Abu Bakar Ash-Shidiq Pangkep, SDIT Wihdatul Ummah Makassar, dan SDIT Wahdah Islamiyah 01 Makassar.

Dilansir wahdah.or.id, dua santri Tahfidz Abu Bakar Ash-Shiddiq Wahdah Islamiyah sabet juara dalam Olimpiade Al-Qur’an Se-Indonesia Timur yang digelar Sekolah Islam Athirah Makassar. Keduanya meraih juara satu dan dua di kategori Musabaqah Hifdzil Qur’an.

Siswa SMPQu Abu Bakar Ash-Shiddiq (kiri)

“Yahya bin Ismail murid kelas 3 SMP Tahfizh Al-Qur’an Abu Bakar Ash-Shiddiq Wahdah Islamiyah Anabanua Wajo berhasil meraih juara 1 kategori 3 juz untuk usia SMP dalam Olimpiade al-Qur’an Se-Indonesia Timur. Selain itu, murid lainnya juga meraih juara 2, Muhammad Ikhsan Sulaiman dengan kategori yang sama”, lansir wahdah.or.id, Jum’at (08/02/2019).

Menurut kepala Sekolah SMP Abu Bakar As-Shiddiq, Ustadz Maisal Ali kedua muridnya tersebut memang telah menyelesaikan hafalannya al-Qur’an 30 juz.

Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Wahdah Islamiyah 01 juga menorehkan prestasi di ajang sama pada cabang lomba Hifdzil Qur’an 2 Juz dan cabang tartil tingkat SD.

Murid kelas 5, Khanza Qatrunnada Irfan berhasil meraih juara 2 Musabaqah Hifzhil Quran (MHQ) kategori 2 Juz, dan Maulana Jibril Baso juara 3 Musabaqah Tartil Quran (MTQ) untuk usia SD.

Sementara SDIT Wihdatul Ummah meraih juara 3 pada cabang tartil dan hifdzil Qur’an. “Pada ajang ini, murid SDIT Wihdatul Ummah kembali meraih meraih juara 3 untuk kategori Musabaqah Tartil Qur’an atas nama A. Naurah Zayyan Putri Subhan, murid kelas 3 B1. Dan Juara 3 untuk kategori Musabaqah Hifdzil Qur’an atas nama Fadhlan Uwais, murid kelas 3A3”, ujar Slamet Sansi Hasman, ST. (Guru SDIT Wihdatul Ummah Makassar) dilansir wahdah.or.id, Jum’at (08/02/2019).

Adapun SDIT Abu Bakar Ash-Shiddiq Pangkep meraih juara 2 tingkat SD.  “Setelah mengikuti kegiatan Olimpiade Al Qur’an yang digelar selama dua hari (6-7/2) di Auditorium Sekolah Islam Athirah Makassar akhirnya ananda Alifah Ainun Rizqulah berhasil keluar sebagai juara kedua dalam Musabaqah Hifzhil Quran”, lansir Fan Page resmi Wahdah Islamiyah Pangkep, Junm’at (08/02/2019).

Olimpiade Al-Qur’an Se-Indonesia Timur yang diadakan diadakan oleh Sekolah Islam Athirah, berlangsung selama 2 hari, Rabu dan Kamis 6 – 7 Februari 2019. Kegiatan yang dilaksanakan kompleks Sekolah Islam Athirah, Jln. Kajaolalido Makassar tersebut bertajuk “Menjadi Generasi Milenial yang Cinta Alquran.”

Direktur Sekolah Islam Athirah Syamril ST. M.Pd. mengatakan lomba membaca dan menghafalkan Al-Qur’an ini digelar untuk memotivasi para peserta didik. Ia melanjutkan perlombaan ini bukan hanya menjadi ajang kompetisi tetapi ajang berkolaborasi.

Menurut Syamril ada tiga langkah dalam membangun sesuatu utamanya pendidikan, yaitu melalui pengajaran, peneladanan, dan motivasi. “Kita harap lomba ini bisa memotivasi,” kata Pak Syamril dihadapan ratusan peserta dan pendamping.

Ketua panitia Olimpiade Al-Qur’an Ahmad Fadhlullah A.Ma menyatakan, peserta terdiri dari siswa-siswi tingkat SD, SMP, dan SMA. 500 orang peserta dari Sulawesi Selatan Barat dan Tenggara. “Semoga MHQ dan MTQ ini bisa menjadi penyemangat, semakin giat belajar Al-Qur’an,” harap Ahmad.[]

 

 

Baca Selengkapnya

LAZIS Wahdah Gelar Daurah 10 Hari Menghafal Al-Qur’an

Daurah 10 Hari Menghafal Al-Qur’an yang digelar Lazis Wahdah dan LIDMI

(Makassar) Wahdahjakarta.com -, Lembaga Amil Zakat Infak dan Sedekah Wahdah Islamiyah (LAZIS Wahdah) bekerjasama ddengan Lingkar Dakwah Mahasiswa Indonesia (LIDMI) menggelar Daurah 10 Hari Menghafal Al-Qur’an. Melalui kegiatan ini  diharapkan bisa mewujudkan para haffidz yang mampu menghafal Alquran hingga tiga Juz selama sepuluh hari.

“Targetnya memang cuman tiga Juz. Tapi kita berharap dengan tiga Juz itu mereka bisa tetap istiqomah, mutqin dalam hafalan, dan terus menjaganya. Sehingga bisa ditam bah lagi hafalannya ke depan,” ujar Ikram (24), panitia kegiatan tersebut.

Direktorat Program dan Pemberdayaan LAZIS Wahdah Ridwan Umar mengatakan, menghafal Alquran hingga tiga Juz dalam 10 hari bukan sekadar khayalan belaka. Hal tersebut benar-benar dibuktikan beberapa orang mahasiswa yang mengikuti daurah. Salah satunya adalah Saiful munawarah(22). Mahasiswa asal Bogor ini berhasil menghafalkan 3 Juz Alquran selama masa karantina.

“Melalui program ini kita berharap, orang-orang yang memiliki kesibukan luar biasa diluar sana bisa menjadi hafizh qur’an,” papar Ridwan Umar menambahi, Rabu (6/2/2019).

Dalam kegiatan tersebut, para santri di karantina selama sepuluh hari. Setiap orang akan dibebankan dengan hafalan beberapa lembar. Jadwal menyetor pun diatur oleh pihak panitia hingga kegiatan ditutup dengan muroja’ah hafalan hingga tiga Juz.

“Selama daurah berlangsung, mereka diberikan motivasi setiap hari. Mereka hanya menghafal Alquran saja. Soal urusan lain-lain, seperti mencuci dan keperluan pribadi, mereka dilayani seperti raja. Pokoknya, hidup mereka selama daurah hanya full untuk Alquran,” jelasnya menambahkan.

Pihak panitia kegiatan, Ikram mengaku, tak ada metode khusus yang diterapkan kepada peserta daurah. Setiap muhaffizh bebas memberikan metode hafalan. Setiap peserta diperkenalkan dengan berbagai macam metode menghafal Alquran cepat. Setelah itu santri dibebaskan memilih metode yang mereka anggap cocok bagi dirinya.

“Kita paparkan seluruh metode. Terserah mereka pilih yang mana. Pada umumnya kita bebasin mereka, mau menghafala bagaimana caranya asal target hafalan terpenuhi,” jelas Ikram. []

#laziswahdah #wahdahislamiyah #wahdah #sedekah #zakat #laziswahdahpeduli #wahdahpeduli #ayosedekah

Baca Selengkapnya

Ustadz Zaitun: Puncak Ujian Adalah Tanda Dekatnya Pertolongan

Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin

(Serang) Wahdahjakarta.com – Dewan Pimpinan Wilayah Wahdah Islamiyah  (DPW WI) Banten menggelar tabligh akbar bertema “Meraih Kemenangan dari Keterpurukan” bersama Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin (10/2). Bertempat di Muslim Center At Taubah, Serang, Banten.

Ustadz Zaitun menjelaskan bahwa karakteristik umat Islam, adalah umat yang diwajibkan untuk berjuang jika menginginkan datangnya pertolongan dari Allah. Bahkan pertolongan itu kadang datang saat ujian berada pada puncaknya.

“Di Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandaq, semua membuktikan hal tersebut. Bahkan terkadang pertolongan itu datang pada detik-detik terakhir saat kita terdesak,” tutur beliau.

“Contoh lain adalah ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan Abu Bakar radhiyallahu anhu berada di Gua Tsaur dan hampir tertangkap oleh musyrikin Quraisy. Saat itulah terucap perkataan beliau yang Allah abadikan dalam Al Qur’an. Laa tahzan (jangan bersedih) karena Allah bersama kita.Allah pun menyelamatkan mereka,” lanjut beliau.

Wasekjen MUI yang juga Ketua Umum Wahdah Islamiyah ini menjekaskan, terkadang pertolongan Allah akan datang pada saat kaum muslimin seakan-akan mengalami kekalahan. Contohnya adalah Perjanjian Hudaibiyyah yang merupakan awal kemenangan Fathu Makkah.

Dalam peristiwa itu, kaum muslimin dipaksa menyepakati klausul-klausul perjanjian yang tidak adil. Namun umat Islam tetap berkomitmen memegang kuat hasil perjanjian tersebut yang justru menjadi blunder bagi musyrikin Quraisy.

Salah satu pelajaran penting di sela-sela peristiwa Hudaibiyyah adalah Baiatur Ridwan. Yaitu pada saat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengambil komitmen para shahabat untuk berjuang sampai titik darah penghabisan. Ini karena tersiar kabar dibunuhnya Utsman bin Affan radhiyallahu anhu.

“Umat Islam memang umat yang cinta damai. Tapi bukan umat yang bisa dilecehkan. Bukan umat yang tidak punya solidaritas,” tegas beliau. [ibw]

Baca Selengkapnya

Ustadz Zaitun Rasmin:  Kelemahan Umat Islam Akibat Jauh Dari Al Qur’an

Ketua Umum DPP Wahdah Islamiyah Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin saat menyampaikan kajian Subuh di Masjid Al-Ikhlas Tangerang, Ahad (10/02/2019)

(Tangerang) wahdahjakarta.com –  Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah (DPP WI) Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin menyatakan, kelemahan yang dialami umat Islam saat ini karena jauh dari Al-Qur’an. Kelemahan tersebut meliputi masalah iman, ilmu dan ukhuwah.

“Inti dari kelemahan iman, ukhuwah, dan ilmu adalah karena kita jauh dari Al Qur’an. Tentu banyak kelemahan kita yang lain, namun pada akhirnya kita harus kembali kepada Al Qur’an.” Jelasnya  dalam suatu kajian di Masjid Al-Ikhlas Tangerang, Ahad (10/02/2019).

Ustadz Zaitun Rasmin (UZR) juga menjelaskan bahwa makna dari kembali kepada Al Qur’an tersebut tidak hanya sebatas membaca saja, namun juga perlu tadabbur dan memahami apa saja isi dari Al Qur’an.

“Kembali kepada Al Qur’an adalah dalam makna yang sebenar-benarnya, bukan sekedar membaca tapi juga memahami dan mengamalkannya. Kalau kita berbicara tentang kejayaan Islam yang sesungguhnya, maka harus diawali dengan Ilmu yang benar termasuk ilmu membaca Al Qur’an.” Ungkapnya

Dalam paparannya, UZR mengingatkan agar umat Muslim harus keluar dari masalah tersebut dan mulai kembali mempelajari Al Qur’an dengan cara yang benar.

“Kita harus keluar dari problema itu, sekarang rata-rata umat Islam bacaan Al Qur’annya tidak bagus. Ketika shalat fardhu di Masjid, rata-rata saat waktu shalat subuh, maghrib dan Isya tidak ada yang sanggup menjadi imam.” Jelas Wasekjen MUI tersebut.

“Coba perhatikan ketika shalat di masjid, rata-rata kalau shalat subuh, maghrib dan Isya itu orang banyak yang tawadhu, nanti baru berani pada shalat dzuhur dan ashar” canda beliau disambut gelak tawa jamaah.

“itu bukan karena hafalannya, tapi karena bacaan Al Qur’annya yang kurang bagus” tambah beliau.

Terakhir, beliau mengajak jamaah untuk berupaya menyempurnakan bacaan Al Qur’an dan mendalaminya.

“Jangan lewati 2019 ini tanpa mempelajri cara membaca Al Qur’an dengan baik, jangan menunggu karena salah satu ilmu yang tidak bisa dipelajari sendiri adalah ilmu membaca Al Qur’an.” Pungkas UZR. [fry/sym]

Baca Selengkapnya

Wasekjen MUI: Umat Islam Cinta Damai Tapi Tidak Pengecut

KH. Muhammad Zaitun Rasmin saat menyampaikan Kajian Subuh di Masjid Al-IKhlash Tangerang, Ahad (10/02/2019)

(Tangerang) wahdahjakarta.com -, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (Wasekjen MUI) KH. Muhammad Zaitun Rasmin mengatakan, umat Islam adalah umat yang kstaria dan cinta damai, namun tidak pengecut.

“Umat Islam adalah umat ksatria yang cinta damai, namun jangan anggap bahwa umat Islam itu pengecut, Umat Islam tidak suka mengganggu orang lain namun tidak suka pula apabila diganggu dan Umat Islam tidak mau menghina orang lain tapi umat Islam juga tidak mau dihina,” ucapnya di hadapan jama’ah pengajian Masjid Al-Ikhlas Tangerang, Ahad (10/02/2019).

Ketua Umum DPP Wahdah Islamiyah ini juga menjelaskan tentang sunnatullah kemenangan dalam perjuangan. ‘’Tidak ada kemenangan tanoa perjuangan”, ujarnya.

“Umat Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam ditakdirkan sebagai umat yang harus lebih kuat, karena tidak ada kemenangan kalau tidak berjuang. Itu sudah sunatullah bagi umat Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam”  jelasnya.

“Memang bukan segala-galanya harus dari kekuatan kita, tetap ada pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala, yang penting diawali dengan perjuangan” tutur UZR.

Wakil Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) ini  memberikan contoh dalam sejarah nabi pada saat Fathu Makkah, dimana kemenangan yang diraih oleh kaum Muslim merupakan kemudahan yang diberikan Allah subhanahu wa ta’ala melalui hambatan-hambatan yang dialami oleh kaum Musyrikin yang kemudian mengakui keberadaan kaum Muslimin. []

Baca Selengkapnya
%d blogger menyukai ini: