Lazis Wahdah Jakarta Dukung Training Jurnalistik Asyik

(Jakarta) Wahdahjakarta.com -, Wahdah Islamiyah Jakarta-Depok dan Forum Jurnalis Muslim (Forjim)  menggelar Training Jurnalistik Asyik di Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq, Jakarta Timur, Sabtu (30/03/2019). Pelatihan ini didukung Lazis Wahdah Jakarta.

Menurut Ketua Departemen Informasi dan Komunikasi (Infokom) Wahdah Jakarta-Depok, Syamsuddin Al-Munawiy  pelatihan ini digelar untuk melahirkan kader jurnalistik dakwah yang memiliki kompetensi dalam dakwah media.

“Diharapkan dari  pelatihan ini lahir jurnalis-jurnalis dakwah yang siap berdakwah melalui jurnalistik, karena di zaman ini peran media dalam dakwah tidak dinafikan”, ucapnya.

Sementara Direktur Eksekutif  Lazis Wahdah Jakarta, Yudi Wahyudi berharap pelatihan ini dapat ditindak lanjuti. Apalagi melihat animo peserta yang antusias mengikuti pelatihan dari awal sampai akhir.

“Pelatihan jurnalistik asyik insya Allah akan terus berlanjut dan akan segera ada follow up, baik pelatihan singkat mupun bentuk lain berupa pelatihan  jurnalistik video maupun pelatiahn intensif selama tiga bulan”, ungkapnya.

“Dengan melihat antusiasme peserta maka menjadi gambaran ke depan, pelatihan akan menjadi salah satu program berkelanjutan”, imbuhnya.

Ia menambahkan, kerjsama dengan forjim merupakn kerjasam yang sangat strategis. “Mudah-mudahan bisa memperkaya materi kita ke depan sehingga minat dan semangat calon jurnalis dapat ditingkatkan”, harapnya.

Pelatihan ini diikuti  22 peserta yang berasal dari para pelajar dan Da’i perwakilan Pesantren sekitar Jakarta. []

Wahdah Peduli Gelar Pelatihan Tanggap Darurat Bencana di Bone

(Watampone) Wahdahjakarta.com– Wahdah Peduli, lembaga kemanusiaan yang berada di bawah naungan Ormas Wahdah Islamiyah (WI) bersama LAZIS Wahdah melaksanakan Pelatihan Tanggap Darurat Bencana, di Aula Kantor ASDP Cabang Bajoe Kabupaten Bone, Sabtu (30/03/2019).

Sebanyak 45 peserta yang merupakan kader Wahdah Islamiyah daerah Bone, Sinjai dan Wajo mengikuti pelatihan yang digelar selama dua hari ini, mulai Sabtu (30/03/2019) hingga Ahad (31/0 3/2019).

Pelatihan ini dibuka oleh Wakil Bupati Bone, Haji Ambo Dalle, yang dihadiri pula oleh beberapa pejabat pemerintah kab. Bone, antara lain General manager PT. ASDP Kab. Bone, Kepala BPBD Kab. Bone, Kepala Pos Pencarian dan Pertolongan BPBD Kab. Bone, serta Ketua Dewan Pimpinan Daerah WI Bone dan Ketua DPW WI Sulsel.

Dalam sambutannya, Ambo Dalle menyampaikan, selama ini Wahdah Islamiyah memiliki kepedulian yang luar biasa di beberapa bencana alam yang terjadi di Indonesia.

“Tahun 2018 lalu ada di Lombok. Tak lama kemudian ada lagi di Palu, Sigi dan Donggala, serta daerah bencana lainnya. Selalu saya dapati di daerah-daerah tersebut. Maka memang sudah luar biasa pengabdiannya,” tutur dia.

Dia juga mengapresiasi pelatihan yang dilaksanakan oleh Wahdah Peduli (WP) Ini. Menurut dia, apa yang dilakukan hari ini oleh WP akan memiliki banyak manfaat.

“Setiap saat jika dibutuhkan akan selalu siap untuk melakukan pertolongan. Terutama bisa bekerjasama dengan unit-unit kebencanaan yang telah kami bentuk disetiap daerah di kabupaten Bone,” ujar dia.

Maka dari itu, lanjut Ambo Dalle, dengan adanya kader Wahdah Islamiyah yang sedang dilatih, maka masyarakat, khususnya Pemerintah daerah akan sangat terbantu.

“Jika praktik nanti, utamakan keselamatan. Harus ada SOP, agar suatu saat nanti bukan justru kita yang diselamatkan,” pesannya.

Ketua IKA STKIP Muhammadiyah Bone itu juga berharap agar Wahdah Islamiyah bisa membantu Pemerintah Daerah untuk mengajak Masyarakat menjaga lingkungan Bone yang asri, bersih dan sejuk.

“Semoga Wahdah Islamiyah bisa masuk dalam sosialisasi program Pemerintah daerah. Diantaranya adalah survei keberadaan jamban keluarga, pengolahan sampah organik dan anorganik utamanya sampah plastik di perairan pesisir Bone, tidak merokok pada sembarang tempat, dan program lainnya,” tukasnya.

“Utamanya sosialisasi program-program ini di sekolah-sekolah, dan kami harapkan bisa melalui mimbar Dakwah Wahdah Islamiyah, termasuk ke desa-desa se kabupaten Bone,” tambahnya. (rls)

Petugas Kebersihan Korban Tabrak Lari Meninggal Dunia, Anies: Insya Allah Husnul Khatimah

(Jakarta) Wahdahjakarta.com -, Petugas kebersihan korban tabrak lari 26 maret lalu meninggal dunia, Ahad (31/03/2019). Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berdo’a semoga almarhum Naufal Rosyid husnul khatimah.

Gubernur Anies juga mengecam pengendar yang sampai saat ini belum ditemukan. “Dan kau penungggang kendaaran tak dikenal itu… Ingatlah bahwa kau bisa lari pagi itu, tapi kau tidak bisa lari dari pertanggungjawaban di hadapan Yang Maha Adil”, tulis Anies dalam Fans Page resminya, Ahad (31/03/2019) siang.

Berikut selengkapnya.

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.

Hai kau pengemudi motor. Ketahuilah petugas penyapu jalan yang kau tabrak itu hari ini dikuburkan. Kau tabrak dia hari Selasa Subuh, 26 Maret. Lalu kau lari. Kau tega meninggalkan anak manusia terkapar tak berdaya di jalan raya.

Naufal Rosyid ditemukan terkapar di tepi jalan. Masih dengan sapu dan seragamnya. Di bawah jalan layang Pasar Rebo. Tak sadarkan diri. Pukul 5.30 pagi dia ditemukan oleh kawan kerjanya.

Pagi itu sejak masih gelap. Naufal, anak umur muda 24 tahun ini sudah berada di jalan raya. Dia dan puluhan ribu petugas sejak pukul 3 pagi sudah bangun. Mereka yang paling berpeluh memastikan jalanan bersih. Demi kenyamaan jutaan orang melintas menuju kerja. Jika ada yg kebetulan tersisa, sebagian pelalulalang akan dengan ringan memaki lewat jempol tangannya di media sosial seakan tak membayangkan beratnya mereka bekerja.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memanggul jenazah Naufal Rosyid, petugas kebersihan korban tabrak lari saat bertugas .

Subuh itu, teman-teman kerjanya sesama petugas kebersihan, melarikan korban ke RS Pasar Minggu. Tim dokter bekerja keras, dioperasi karena ada pendarahan di otak. Kondisinya berat.

Ibunya mencintai Naufal, tapi Allah lebih mencintainya. Panggilan pulang ke Rahmatullah yang ia songsong. Ia pulang ke Ibunya. Tapi ibunya di rumah hanya bisa menyambut anaknya sebagai jenazah.

Tadi kami takziyah ke keluarga ini. Rumahnya di tengah kampung, lewat gang sempit. Wajah duka terlihat di warga sekampung itu. Ibunya tabah, ayahnya pula. Tampak ada duka tapi ada juga iman. Saat kafan dibuka, wajah almarhum jernih ada senyum. InsyaAllah penanda ia husnul khatimah.

Untuk semua pengguna jalan. Kurangi kecepatan bila melihat ada petugas bekerja di jalan raya. Seragam mereka berwarna terang. Dan jadi bercahaya bila terkena lampu di saat gelap. Ingat, setiap petugas itu punya ibu, ayah, anak, istri, suami dan keluarga. Bantu pastikan mereka, yang bekerja untuk kita semua ini, bisa pulang ke rumah dengan selamat.

Dan kau penungggang kendaaran tak dikenal itu… Ingatlah bahwa kau bisa lari pagi itu, tapi kau tidak bisa lari dari pertanggungjawaban di hadapan Yang Maha Adil.

#ABW (aniesbaswedan)

Forjim: Jurnalistik Bagian dari Dakwah

(Jakarta) Wahdahjakarta.com -, Koordinator Bidang Kaderisasi Forjim (Forum Jurnalis Muslim) Ahmad Zuhdi mengatakan, jurnalistik merupakan bagian dari dakwah. Yakni dakwah bilkitabah (dakwah melalui tulisan).

“Tugas jurnalis merupakan salah  satu bagian dakwah. Yakni dakwah bil kitabah atau dakwah bil qolam. Dakwah melalui tulisan”, ujarnya kepada peserta Training Jurnalistik Asyik yang digelar Wahdah Islamiyah Jakarta-Depok dan Forjim, di Jakarta, Sabtu (30/03/2019).

“Dengan semangat ini, diharapkan dakwah dapat tersebar ke seluruh penjara dan mudah diterima oleh masyarakat tanpa mengenal batas teritori wilayah”, jelasnya.

Pelatihan yang disponsori Lazis Wahdah  ini diikuti oleh puluhan peserta dari perwakilan aktivis masjid, lembaga Islam dan masyarakat umum. Peserta datang dari berbagai daerah di Jabodetabek. Bahkan ada yang dari Maluku dan Riau.

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Wahdah Islamiyah (DPW WI) Jakarta-Depok, Ustadz Ilham Jaya Abdul Rauf dalam paparan materinya mengingatkan pentingnya perluasan jaringan media Islam.

“Kemudahan informasi dan komunikasi seharusnya juga lebih  memudahkan aktivis media Islam untuk mengembangkan jaringan mereka lebih luas”, tegas Ustadz Ilham.

Mantan jurnalis Majalah Internasional Al-Bayan London ini juga mengajak para praktisi media Islam untuk menjalin kerja sama deng kelompok intelektual dan akademisi untuk pengembangan media Islam. []

Gandeng Forjim, Wahdah Islamiyah Jakarta dan Depok Gelar Diklat Jurnalistik Asyik

Training Jurnalistik Asyik Wahdah Islamiyah Jakarta-Depok bekerjasama dengan Forum Jurnalis Muslim (Forjim)

(Jakarta) Wahdahjakarta.com -, Wahdah Islamiyyah Jakarta-Depok bekerjasama dengan Forjim (Forum Jurnalis Muslim) menggelar Training Jurnalistik Asyik bertema “MENGGAGAS MEDIA, MERAJUT BERDAYA”. Acara digelar di Masjid Abu Bakar Ash Shiddiq Jatinegara, Jakarta Timur, pada Sabtu (30/03/2019). 

Ustadz Ilham Jaya, Lc, MHI selaku pembicara dengan tajuk “Menggagas Media Berdaya Tanpa Tapi”, menekankan pentingnya mengembangkan jaringan media islam. Menurutnya kemajuan informasi dan komunikasi seharsunya dimanfaatkan untuk hal itu.

“Kemudahan informasi dan komunikasi seharusnya juga lebih  memudahkan aktivis media Islam untuk mengembangkan jaringan mereka lebih luas”, tegas Ustadz Ilham.

Mantan jurnalis Majalah Internasional Al-Bayan London ini juga menekankan pentingnya penguasaan bahasa dunia Islam sebagai salah satu syarat untuk memengakses informasi-informasi global dan pengembangan jaringan media islam.

“Dengan menguasai bahasa asing, wawasan kita tidak terbonsai oleh informasi-informasi dari media yang ada di sekitar kita”, ungkap CEO PT Basaeer Asia Publishing ini.

Diungkapkannya, keberhasilan ekonomi Islam salah satunya sinergi pelaku ekonomi halal non ribawi dengan kalangan intelektualitas salah satunya penulis yang berfungsi mengedukasi masyarakat melalui media.

“Tumbuhnya kesadaran dan Perkembangan industri halal seharusnya jadi ceruk tersendiri bagi perkembangan media Muslim”, terangnya.

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Wahdah Islamiyah Jakarta-Depok ini juga mengajak para praktisi media Islam untuk menjalin kerja sama deng kelompok intelektual dan akademisi untuk pengembangan media Islam.

Sementara itu koordinator bidang kaderisasi Forjim Ahmad Zuhdi mengatakan,  pelatihan ini penting diikuti oleh mereka memulai dunia jurnalistik sebagai bekal dalam menjalankan kerja-kerja jurnalis ke depan.

Jurnalis Indonesiainside.id ini juga mengingatkan kepada para peserta bahwa tugas jurnalis merupakan salah  satu bagian dakwah.

“Yakni dakwah bil kitabah atau dakwah bil qolam. Dakwah melalui tulisan”, jelasnya.  

“Dengan semangat ini, diharapkan dakwah dapat tersebar ke seluruh penjara dan mudah diterima oleh masyarakat tanpa mengenal batas teritori wilayah”, pungkasnya. (sym)

Roadshow di  Makassar, MIUMI Bahas Integrasi Keislaman dan Kebangsaan

Ketua MIUMI Sulsel Ustadz DR. Rahmat Abdul Rahman

(Makassar) Wahdahjakarta.com– Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) menggelar roadshow Tabligh Akbar di berbagai daerah di Indonesia. Salah satunya berlangsung di Makassar, Sabtu (30/03/19).

Ketua MIUMI Sulsel, Ustadz Rahmat Abdurrahman mengatakan, Tabligh Akbar ini di adakan dalam rangka memberikan pencerahan tentang Integrasi Keislaman dan Kebangsaan.

“Kegiatan ini guna memberikan gambaran bahwa pada hakikatnya Islam tidak pernah bertentangan dan nasionalisme, dan isu nasionalisme tidak boleh dijadikan pamen untuk memukul ummat Islam, apa lagi sampai menjauhkan ummat Islam dalam menjalankan peran bernegara,” Imbuhnya

Hubungan antara negara dan agama tidak boleh terpisahkan.

“Para ulama kita tentang hubungan negara dan agama, kita bukan menganut prinsip sekularisme yang membedakan dan memisahkan di antara keduanya,” Ujar Ustadz Rahmat saat memberi sambutan.

Kegiatan ini menghadirkan tokoh dari MIUMI Pusat dan MIUMI daerah. Dari MIUMI Pusat yang hadir di antaranya Ustadz Bachtiar Nasir dan Ustadz Zaitun Rasmin

Selain itu, ulama dan intelektual dari MIUMI Makassar juga turut memberikan orasi antara lain Ustadz Rahmat Abdurrahman, Ustadz Yusril Muh Arsyad dan hadir juga Anggota DPR RI Tamsil Linrung.

Tamsil Linrung dalam sambutannya menceritakan sosok pahlawan nasionalis yakni Muhammad Natsir.

“Dalam perjalanan Indonesia ini perang besarnya adalah ummat Islam, salah satunya ialah Muhammad Natsir,” Ungkapnya

Anggota DPR RI Pusat ini melanjutkan, bahwa pencerahan antara Negara dan Agama harus terus dilanjutkan.

“Jika dulu kita memiliki Muhammad Natsir, melakukan Roadshow untuk memberikan pencerahan kepada ummat. Maka sekarang, kita memiliki Ustaz Bachtiar Nasir dan Ustaz Zaitun Rasmin yang terus memberikan pencerahan kepada ummat,” Tuturnya. []

Reporter: Muhammad Akbar

Ketua Wantim MUI Soroti Politisasi Isu Khilafah dalam Pemilu/Pilpres

Ketua Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsuddin

(Jakarta) Wahdahjakarta.com -, Ketua Dewan Pertimbangan MajelisUlama Indonesia (Wantim MUI) Dien Syamsuddin mengimbau pasangan calon presiden dan Wakil Presiden untuk menghindari isu keagamaan dalam kampanye. Salah satu contohnya seperti isu khilafah.

“Karena hal itu merupakan bentuk politisasi Agama yang bersifat pejoratif (menjelekkan)”, jelasnya. Ketika menyampaikan imbauan sesuai taushiyah Wantim MUI ke.37 27 Maret 2019, Jum’at (29/03/2019).

“Walaupun di Indonesia khilafah seabgai lembaga politik tidak diterima luas, namun khilafah yang disebut dalam Al-Qur’an adalah ajaran Islam yang mulia (manusia mengemban misi menjadi Wakil Tuhan di Bumi/ khalifatullah fil ardh)”, terangnya.

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini juga memandang, mempertentangkan  khilafah dengan Pancasila adalah identik dengan mempertentangkan  Negara Islam dengan Negara Pancasila. Menurutnya masalah ini sesungguhnya sudah lama selesai dengan penegasan Negara Pancasila sebagai Darul Ahdi was Syahadah (Negara Kesepakatan dan Kesaksian).

“Upaya mempertentangkannya merupakan upaya membuka luka lama dan dapat menyinggung perasaan umat Islam”, tegasnya.

Prof Dien juga menolak upaya labelisasi anti pancasila terhadap kelompok tertentu. “Menisbatkan sesuatu yang di dianggap Anti Pancasila terhadap suatu kelompok  adalah labelisasi dan generalisasi (mengebyah-uyah) yg berbahaya dan dapat menciptakan suasana perpecahan di tubuh bangsa”, ungkapnya.

Oleh karena itu ia mengimbau segenap keluarga bangsa agar jangan terpengaruh apalagi terprovokasi dengan pikiran-pikiran yang tidak relevan dan kondusif bagi penciptaan Pemilu/Pilpres damai, berkualitas, berkeadilan, dan berkeadaban. []

Ustadz Zaitun: Fungsi Kekuasaan untuk Raih Kemaslahatan

Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin

(Makassar) Wahdahjakarta.com – Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) menggelar tabligh akbar di Masjid Al Markaz Makassar (30/03/2019). Tema yang diangkat tentang arah perjuangan umat, “Integrasi Keislaman dan Kebangsaan”.

Menurut Wakil Ketua MIUMI Pusat, Ustadz Muhammadz Zaitun Rasmin, roadshow yang telah diagendakan dari tahun lalu ini bukan merupakan agenda politik praktis.

“MIUMI tidak melakukan kegiatan politik praktis, karena MIUMI bukan partai politik atau underbow salah satu partai,” tegas Ustad Zaitun.

Ustadz  yang juga Ketua Umum Wahdah Islamiyah ini menyoroti kesalahpahaman sebagian sebagian  umat Islam dalam memandang relasi Islam dan politik. Masih ada  yang memandang ikut pemilu adalah sesuatu yang dilarang dalam agama.

Menurut beliau, justru politik adalah bagian tak terpisahkan dari ajaran Islam. Jadi, tidak sepenuhnya benar jika dilarang berpolitik di dalam masjid.

“Kalau yang dimaksud adalah kampanye politik praktis, memang itu tidak boleh. Kecuali darurat. Tapi kalau yang dimaksud adalah siyasah syar’iyyah (politik Islam_red), itu bagian tak terpisahkan dari ajaran Islam”, ujarnya.

Selanjutnya Wakil Sekjen MUI Pusat ini memberi arahan bagaimana memilih pemimpin di zaman ini yang menurut beliau berbeda dengan zaman khulafaur rasyidin.

“Jika ada dua calon pemimpin, yang satu kuat keshalihannya dan yang kedua tidak seshalih yang pertama. Tapi, calon yang kedua lebih kuat kepemimpinannya. Mana yang dipilih? Yang dipilih adalah yang kedua. Karena calon yang pertama, keshalihannya untuk dirinya pribadi. Sedangkan calon yang kedua, kekuatan kepemimpinannya untuk semua rakyatnya,” terang beliau.

Beliau menjekaskan, fungsi politik menurut Islam adalah ‘siyasatud dunya wahirasatud din’. Artinya, untuk mengatur urusan-urusan duniawi sehingga tercapai kemaslahatan, serta memastikan agar ajaran agama tetap bisa dijalankan secara maksimal.

“Tujuannya adalah mewujudkan kemaslahatan untuk rakyatnya. Termasuk dalam hal ini adalah kesejahteraan. Bukan semata-mata untuk mencapai kekuasaan.” lanjut beliau.

Ketua Ikatan Ulama dan Da’i Se-Asia Tenggara ini juga menjelaskan bahwa Indonesia perlu pemimpin yang memiliki ‘sense of crisis’ atau kepekaan terhadap kesusahan yang dialami rakyatnya. [ibw/sym]

Keutamaan Shalat Jum’at: Menghapuskan Dosa dalam Sepekan

Keutamaan Shalat Jum’at: Menghapuskan Dosa dalam Sepekan

Hari Jum’at dan ibadah serta amal shaleh yang dilakukan di dalamnya menggugurkan dosa seorang hamba dalam sepekan, yakni antara Jum’at dengan Jum’at berikutnya. Telah dikemukakan pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang hal ini;

“اَلصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ”

“Shalat lima waktu, shalat Jum’at ke Jum’at berikutnya, dan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan di antara masa tersebut jika seseorang menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim)

Keutamaan hari jum’at  ini akan diberikan kepada seorang hamba jika mejauhi dosa-dosa besar dan menunaikan shalat Jum’at dengan memenuhi adab-adabnya seperti, mandi, bersuci, memakai parfum dan minyak rambut, bersiwak (menggosok gigi), tidak memisahkan dua orang yang duduk berdampingan,  memperbanyak shalat sunnah sebelum Imam naik mimbar, dan menyimak khutbah.

Sebagaimana disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dari Salman al-Farisi Radhiyallahu anhu. Beliau mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ وَيَدَّهِنُ مِنْ دُهْنِهِ أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيبِ بَيْتِهِ ثُمَّ يَخْرُجُ فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ ثُمَّ يُصَلِّي مَا كُتِبَ لَهُ ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ اْلإِمَامُ إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ اْلأُخْرَى.”

“Tidaklah seseorang mandi pada hari Jum’at, bersuci semampunya, berminyak dengan minyak, atau mengoleskan minyak wangi dari rumahnya, kemudian keluar (menuju masjid), dan dia tidak memisahkan dua orang (yang duduk berdampingan), kemudian dia mendirikan shalat yang (sebanyakmungkin) sesuai dengan kemampuannya, lalu diam mendengarkan khutbah  ketika imam berkhutbah melainkan akan diampuni (dosa-dosanya yang terjadi) antara Jum’at tersebut dan ke Jum’at berikutnya.”  (HR. Bukhari).

Dalam Shahih Muslim terdapat tambahan tiga hari. Abu Hurairah Radhiyallahu anhu mengabarkan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda,

Barangsiapa yang mandi lalu berangkat Jum’at, kemudian mendirikan shalat semampunya, selanjutnya diam mendengarkan khutbah hingga selesai kemudian shalat bersama imam, niscaya akan diampuni dosa-dosanya antara Jum’at itu hingga Jum’at berikutnya dan ditambah tiga hari lagi.”  (Terj. HR. Muslim).

Namun keutamaan tersebut diperoleh dengan syarat memerhatikan adab-adab Jum’at sebagaimana disebutkan dalam hadits Bukhari dan Muslim di atas.

Al-Hafidz Ibn Hajar Al-Asqalani berkata tentang hal ini.

“Jika dilihat dari berbagai hadits yang telah disebutkan, penghapusan dosa yang dimaksud karena bertemunya Jum’at yang satu dan Jum’at berikutnya bisa didapat dengan terpenuhinya syarat sebagaimana yang telah disebutkan yaitu mandi, bersih-bersih diri, memakai harum-haruman, memakai minyak, mengenakan pakaian terbaik, berjalan ke masjid dengan tenang, tidak melangkahi jama’ah lain, tidak memisahkan di antara dua orang, tidak mengganggu orang lain, melaksanakan amalan sunnah dan meninggalkan perkataan  dan perbuatan laghwu (sia-sia).” (Fathul Bari, 2: 372).

Majelis Ormas Islam Deklarasi Tolak RUU P-KS

Deklarasi Tolak RUU P-KS oleh Majelis Ormas Islam, Jakarta (28/03/2019)

(Jakarta) Wahdahjakarta.com -, Sebanyak 13 organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam yang tergabung dalam Majelis Ormas Islam (MOI) menyatakan penolakan terhadap Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS).

Penolakan tersebut disampaikan melalui deklarasi yang dibacakan Ketua MOI KH. Drs Muhammad Siddiq usai seminar “Bahaya RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (P-KS)” yang digelar di kantor Dewan Dakwah Islamiyah (DDII), Jakarta, Kamis (28/03/2019).

“Penolakan ini didasarkan atas keprihatinan, materi dalam rancangan undang-undang  ini dapat mersuak sendi-sendi moral bangsa dan tatanan keluarga di Indonesia”, tegas Muhammad Siddiq yang juga ketua DDII.

MOI merupakan forum kerjasama ormas Islam yang terdiri dari Syarikat Islam (SI), Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Al-Irsyad Al-Islamiyyah, Persatuan Islam (PERSIS), Hidayatullah, Mathla’ul Anwar, Persatuan Tarbiyah Islamiah (Perti), Al Jam ‘iyatul Washliyah, Al-Ittihadiyah, Persatuan Ummat Islam (PUI), Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia (BKsPPI), Wahdah Islamiyah (WI), dan Ikatan Da’i Indonesia (IKADI).

Deklarasi diawali dengan seminar dan diskusi membahas bahaya RUU P-KS dengan dua nara sumber utama. Wakil Sekretaris Komisi Ukhuwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dr Wido Supraha dan Helmi Al Djufri konsultan hukum pada Pusat Advokasi Hukum dan Hak Asasi Manusia (PAHAM) Indonesia DKI Jakarta.

DR. Wido Supraha

Doktor Wido mengatakan, RUU P-KS bermasalah sejak dari naskah akademiknya. Setiap  RUU wajib diawali dengan kajian dalam bentuk naskah akademik. Dengan begitu, RUU apa pun yang dibangun di atas naskah akademik yang memiliki persoalan hanya akan melahirkan persoalan baru.

Ia bahkan menyebut naskah akademik RUU ini mengandung racun. Racun seperti apa yang Wido maksud?

“Naskah akademik RUU ini dibangun di atas pendekatan hukum yang berperspektif perempuan,” jelasnya.

Pendekatan hukum berperspektif perempuan selalu memandang budaya patriarki sebagai sumber masalah diskriminasi dan ketidakadilan bagi perempuan.

“Meresponsasi ini, muncul teori tentang hukum berperspektif perempuan yang didasarkan pada kesetaraan dan keadilan gender di bidang politik, ekonomi, dan sosial yang sering dikenal sebagai ” Yurisprudensi Feminis ” atau ” Teori Hukum Feminis ” .”

Menurut peneliti INSISTS ini, karena naskah akademik RUU P-KS ini dibangun di atas konsep yang bertentangan dengan konsep-konsep kunci  dalam Islam, maka sudah sepatutnya RUU ini ditolak.

“Menolak RUU-PKS ini jauh lebih wajib daripada sekadar merevisi kontennya tanpa merubah naskah akademiknya”, pungkas Wido dalam mengakhiri makalahnya. [sym]