Putra Sul-Sel Bedah Buku di Belanda

Andi M. Akhyar saat mengisi acara bedah buku di
Wageningen, Belanda, Ahad siang (24/2).

(BELANDA) wahdahjakarta.com — Andi Muh. Akhyar, penulis buku Perjalanan Rasa Menuju Sakinah,  membedah buku karangannya di Kota Wageningen, Belanda, Ahad siang (24/2).

“Perjalanan menuju sakinah menyimpan banyak rasa. Ada cinta dan benci. Ada kagum dan marah. Ada takut dan berani. Ada harap dan cemas. Ada suka dan duka. Ada dendam dan ukhuwah. Ada doa dan air mata,” ungkap Akhyar mengawali materinya yang diadakan di Aula Universitas Wageningen, Belanda.

Pria asal Soppeng Sulawesi, Selatan, ini menyebutkan bahwa Jodoh itu adalah bagian dari rezki yang Allah telah tuliskan dalam kitab lauful mahfuz. Ia tidak akan berubah dan tidak akan tertukar.  Setiap orang tidak tau siapa jodohnya, kapan dan dimana akan bertemu, dengan cara apa bertemunya.

“Oleh karena itu, karena jodoh itu sudah Allah takdirkan, tidak perlu manusia menempuh jalan yang haram untuk mendapatkan yang sudah pasti. Kalau memang jodoh, walau jin dan manusia berkumpul untuk menggagalkan, pasti akan bertemu. Dan kalau memang tak jodoh, sehebat apapun menjaga, sekuat apapun setia, pasti akan berpisah,” kata Akhyar saat membedah karya ke tiganya tersebut.

Selain menyampaikan konsep jodoh, Akhyar juga memberikan tips kepada para mahasiswa Indonesia tentang cara mengetes jodoh dan teknis mencari jodoh lewat jalan ta`arruf. 

Para peserta yang menghadiri acara bedah buku sangat antusias menyimak pemaparan pemateri. Terbukti dengan banyaknya pertanyaan yang masuk dalam sesi tanya jawab di akhir acara. Mereka berharap agar kajian yang inspiratif semacam ini dapat diadakan lagi bulan depan.

PPI Wageningen yang mengundang mantan ketua Pimpinan Pusat Lingkar dakwah Mahasiswa Indonesia (PP LIDMI) itu agar dapat memberikan pencerahan kepada teman-teman mahasiswa Indonesia di Belanda tentang cara Islami menuju ‘sakinah’.

Reporter: Radhiyah Mardhiyah Hamid (Mahasiswa Departemen Biology, Wageningen University and Research)

Andi M. Akhyar, Mahasiswa Indonesia Yang Mengukur Kiblat Masjid di Belanda


Andi Muh. Akhyar, mahasiswa Indonesia yang dimintai bantuan oleh Komite Mesjid Islamic Center Wageningen, Belanda, untuk mengukur arah kiblat masjid, Rabu (27/2).

(BELANDA) wahdahjakarta.com — Andi Muh. Akhyar, lahir di Soppeng 29 tahun yang lalu, dimintai bantuan oleh Komite Mesjid Islamic Center Wageningen, Belanda, untuk mengukur arah kiblat masjid, Rabu (27/2).

“Kami butuh bantuan untuk mengukur arah kiblat bangunan Islamic center yang baru,” ujar Abdul Azis, Ketua Komite Masjid.

Akhyar, yang menimba Ilmu Astronomi Islam di Jurusan Fisika UGM, melakukan pengukuran menggunakan kompas dan busur derajat. Dengan mengetahui magnetic declination dan posisi ka`bah 126.1 derajat dari arah utara kota Wageningen, Akhyar dapat menentukan arah Kiblat masjid tersebut. Hasil yang telah didapatkan tersebut dikuatkan oleh aplikasi qiblah finder yang mendapati arah yang sama.

“Alhamdulillah, orang Indonesia kembali dapat memberikan manfaat di negeri kincir angin ini,” ujar pria yang juga pernah aktif mengajar di Fisika UIN Alauddin tersebut.

Dari tahun ke tahun, mahasiswa Indonesia di Universitas Wageningen terus menjadi bagian penting dalam perkembangan Islamic Center. Bahkan berdirinya masjid ini di tahun 1993, salah satunya, diprakarsai oleh mahasiswa Indonesia.

Belanda adalah salah satu negara Eropa dimana Islam berkembang cukup pesat. Setiap kota terdapat masjid bahkan beberapa gereja telah dialihfungsikan menjadi masjid. Islamic center Wageningen butuh mengukur arah kiblatnya karena akan menempati bangunan baru.

“Bangunan lama sudah tidak memadai lagi digunakan karena jumlah jamaah yang terus meningkat,” tambah Abdul Azis.

Reporter: Radhiyah Mardhiyah Hamid (Mahasiswa Departemen Biology, Wageningen University and Research)

LAZIS Wahdah Berikan Santunan Untuk Bunga, Bayi Yatim Di Mamuju

Ketua LAZIS Wahdah Mamuju saat bersama bunga, bayi yatim piatu yang ibunya meninggal setelah melahirkannya.

(MAMUJU) wahdahjakarta.com – Bunga adalah bayi yatim, ibunya meninggal sesaat setelah melahirkannya. Bayi mungil ini yang sakit terpaksa dilarikan ke RSUD Mamuju baru-baru ini. Kondisi keluarga yang serba terbatas sehingga kesulitan memenuhi keperluannya utamanya susu formula.

LAZIS Wahdah Mamuju memberikan bantuan untuk meringankan beban keluarga Bunga memenuhi asupan gizi dan keperluan perlengkapan bayi di RSUD Mamuju, Ahad (24/02).

LAZIS Wahdah Mamuju juga menyampaikan sejumlah bantuan berupa barang seperti popok bayi, susu formula dan perlengkapan lainnya dari donatur.

Ketua LAZIS Wahdah Mamuju Bakri  mengatakan, donasi yang dihimpun dari kader dan simpatisan Wahdah Islamiyah Mamuju telah disalurkan, namun ia juga berharap adanya donatur tetap yang bisa memperhatikan kondisi bayi tersebut utamanya pemenuhan asupan gizi untuk jangka panjang.

“Olehnya LAZIS Wahdah Mamuju tetap membuka kesempatan bagi ummat muslim yang ingin berdonasi atau mengantarkan langsung donasinya kepada keluarga bunga,” kata Bakri.[]

Reporter : Ali Akbar

Sumber : wahdah.or.id

Tingkatkan Kualitas Relawan, Wahdah Islamiyah Gelar Pelatihan Tanggap Bencana

Relawan Wahdah Peduli saat menjalani pelatihan tanggap darurat bencana bersama BPBD dan Basarnas Provinsi Sulawesi Selatan.

(MAKASSAR) wahdahjakarta.com – Wahdah Islamiyah bekerjasama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Basarnas Provinsi Sulawesi Selatan menggelar pelatihan tanggap bencana di Aula Kantor DPP Wahdah Islamiyah, Antang, Makassar, selama dua hari berturut-turut, terhitung dari hari Sabtu (2/3/2019) hingga Ahad (3/3/2019).

Peserta dalam kegiatan ini berasal dari perwakilan DPD Wahdah Islamiyah se-Sulawesi Selatan dan umum dari lembaga internal maupun eksternal.

Ketua Tim Wahdah Peduli, Gishar Hamka mengatakan, pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan peserta untuk melakukan perencanaan tanggap darurat.

“Penanganan bencana dan mempersiapkan tim yang solid patut ditingkatkan. Apatah lagi, selama ini Wahdah sudah terlibat dalam beberapa aksi penanganan bencana,” ujar Gishar yang juga penanggung jawab pelatihan.

Hadir pula dalam kegiatan ini, Syahruddin, Direktur LAZIS Wahdah. Dalam penyampaiannya, ia mengatakan, Wahdah perlu meningkatkan kualitas relawannya. Termasuk mempersiapkan pola kerja yang masif dan terencana.

Sebagai pemateri, Ardadi yang juga Kepala seksi Logistik BPBD Sulawesi Selatan mengatakan, koordinasi dan penanganan yang cepat, tepat, efektif, efisien, terpadu, dan akuntabel diperlukan dalam penanggulangan bencana agar dampak yang ditimbulkan dapat dikurangi.

Dalam penanggulangan bencana, tambahnya, khususnya dalam fase tanggap darurat harus dilakukan secara cepat, tepat, dan dikoordinasikan dalam satu komando.

“Kegagapan dalam penanganan dan ketidakjelasan informasi dalam kondisi darurat bencana dapat menghambat dalam penanganan kondisi darurat bencana. Situasi dan kondisi seperti ini disebabkan oleh belum terciptanya mekanisme kerja Tanggap Darurat yang baik. Keberadaan sistem yang baik akan memudahkan akses yang ada,” jelas Ardadi.

Di hari pertama, para peserta diberikan materi-materi kebencanaan. Termasuk, materi pengenalan alat-alat savety oleh pihak Basarnas.

Beberapa alat seperti tali karmantel, carabiner, ascender, descender, tandu basket dan semacamnya diperkenalkan.

“Alat-alat ini harus ada. Karena itu yang mendukung proses penyelamatan kita. Jadi, yang pertama kali harus savety ya, penyelamatnya dulu, baru korban. Dan itu perlu waktu untuk menjadi professional,” kata Darul, dari pihak Basarnas Sulsel.

Peserta juga mendapatkan pelatihan langsung di lapangan.[]

Sumber : wahdah.or.id