Sikapi Insiden Selandia Baru, BKsPPI Imbau Kaum Muslimin Makmurkan Masjid

(Bogor) Wahdahjakarta.com -, Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia (BKsPPI) menyikapi insiden Selandia Baru dengan mengimbau masyarakat Islam memakmurkan masjid.

“Mengajak kepada seluruh kaum muslimin untuk terus menerus memakmurkan masjid-masjid dengan kegiatan shalat berjamaah dan kegiatan muamalah yang bermanfaat bagi jamaahnya seperti kegiatan pendidikan, dakwah, sosial ekonomi dan bahkan kegiatan dakwah dibidang politik yang sesuai dengan ajaran Islam yang damai, toleran, penuh dengan kejujuran dan penghargaan pada nilai-nilai keadilan”, jelas Ketua BKsPPI KH. Didin Hafidhuddin melalui siaran pers yang kepada wahdahjakarta.com, Ahad (17/03/2019).

Menurut Kyai Didin, pihaknya juga mengajak dan menghimbau seluruh masyarakat Internasional untuk mengutuk perbuatan biadab tersebut, karena bertentangan secara diametral dengan nilai-nilai kemanusiaan yang seharusnya dijunjung tinggi oleh seluruh umat manusia.

BksPPI juga mengajak kaum Muslimin khususnya para Ulama dan santri untuk mendoakan korban insiden terror tersebut.

“Mengajak seluruh kaum muslimin dan khususnya para Alim Ulama dan Para santri di pondok pesantren seluruh Indonesia untuk mendoakan kaum muslimin yang meninggal dunia dalam peristiwa tersebut, mudah-mudahan meninggal dunia dalam keadaan syahid dan dimasukkanNya  kedalam syurga Jannatunnaii’m”, imbaunya.

Ia berharap semoga mereka yang terluka segera disembuhkan dan dimudahkan segala urusannya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, Keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan keikhlasan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. []

Sumber: Rilis

Ini Yang Lebih Berbahaya dari Perpecahan Menurut MIUMI

 Ustadz Bachtiar Nasir

(Garut) Wahdahjakarta.com -, Sekretaris Jenderal Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Ustadz Bachtiar Nasir (UBN) mengatakan, perpecahan memang berbahaya, namun ada yang lebih berbahaya, yakni putus asa dari bersatu dan mempersatukan.

“Berpecah itu bahaya tapi ada yang lebih berbahaya dari perpecahan, yaitu putus asa bersatu dan putus asa mempersatukan atas nama Islam”, jelas UBN saat menyampaikan Tabligh Akbar Integrasi Keislaman dan Kebangsaan di STAIPI Garut, Ahad (17/03/2019).

Isyarat ini telah disampaikan oleh UBN kepada seluruh pemimpin dunia Islam. Ia mewanti-wanti para pemimpijn dunia Islam agar mewujudukan persatuan di atas landasan dan ikatan keislaman. Ia menyerukan agar para pemimpin dunia Islam menyingkirkan sekat-sekat geopolitik yang menghambat persatuan umat Islam.

“Wahai pemimpin dunia islam, jika kalian bersatu atas nama teritorial Arab,kalian bersatu atas nama pemimpin dunia Balkan, kalian bersatu atas nama  Eropa dan kalian bersatu atas nama Asia Tenggara, Selama persatuan itu yang kalian pakai kalian tidak akan pernah mendapatkan pertolongan dan jaminan kemenangan dari Allah”, serunya penuh semangat.

“Kalian akan menjadi bangsa yang kuat jika persatuan kalian didasarkan Islam, dan kalian akan dimenangkan menjadi sebuah peradaban yang hebat di muka bumi jika pemimpin dunia Islam bersatu atas nama agamanya”, tegasnya yang disambut pekikan takbir peserta.

“Psikologi dunia islam butuh support ditengah gempuran liberalisme”, pungkasnya. []

Menakjubkan, Pasca Insiden New Zealand Masjid di Eropa Disesaki Jama’ah

Suasana Shalat berjam’ah di salah satu Masjid di Eropa pasca insiden Selandia Baru

Sejak semalam, Hampir semua masjid di negeri-negeri Barat jamaahnya bertambah hingga 3 kali lipat. Sebagian ummat Islam disana yang sebelumnya tidak pernah atau jarang terlihat di masjid, Sejak maghrib kemarin hingga subuh ini berebut datang menghadap kepadaNya.

Mereka memenuhi rumah rumah Allah bukan sekedar untuk menunjukkan solidaritas. Lebih jauh lagi mereka sedang mengadu kepada Allah tentang kedzaliman demi kedzaliman yang terjadi sejak hari-hari sebelum ini, Dengan puncaknya kemarin itu di New Zealand.

Sekaligus mereka berdoa, Berharap perlindungan, Serta memasrahkan segalanya, Yang akan terjadi hari ini dan di masa depan, KepadaNya.

Temen saya di Australia, Yang selama ini idupnya urakan, Mendadak 3 waktu terakhir hadir shaf depan di masjid dekat rumah. Dia marah besar. Hpnya dibanting saking gemasnya baca berita New Zealand. Tapi dengan sebab kemarahan itu rupanya Allah turunkan hidayah.

Ibunya chatting sama saya pagi tadi. Nangis-nangis bahagia anaknya shalat maghrib isya subuh di masjid. Bahkan sejak kemarin terus nginep disana. Tilawah dan banyak merenung. Padahal sebelum ini dia ga kenal shalat kecuali jumat dan Iedul Fitri.

Si anak, Dalam kemaksiatan dan kebangsatan hidup yang selama ini dijalani, Ternyata masih menyimpan ghirah, Kecemburuan pada Islam dan kaum muslimin. Makanya kemarin itu tubuhnya bergetar hebat. Emosinya tak terbendung, Lalu memutuskan pergi ke masjid, Menjaganya sampai pagi bersama belasan muslim lainnya.

Alasan kawan saya tadi sederhana saja :

“Serangan kemarin kemungkinan besar akan memicu bangkitnya ekstrimis-ekstrimis sayap kanan. Dan pasti rumah-rumah Allah yang kembali akan menjadi sasaran. Jadi kita harus menjaganya sampai suasana reda.

Lagipula saya ini pendosa. Udah terlalu banyak dosa saya. Kalau misalnya masjid ini diserang, Semoga saya ada ketika itu. Lalu saya menghentikan serangan tersebut atau gugur di tangannya sebagai syuhada.

Mana saja yang menjadi takdir Allah, Saya sudah siap. Semoga dengan itu Allah mengampuni saya”.

Sumber: Copas dari Status Fathi Yazid Attamimi