Kebebasan Memilih

Kebebasan Memilih

Oleh: Dr Hamid Fahmy Zarkasyi

“Pilihlah Dengan Nurani Anda” adalah satu-satunya iklan atau kampanye pemilu yang paling menarik dan paling substansial bagi saya. Menarik karena ia tidak memihak pada partai atau calon presiden manapun.

Substansial karena ia melibatkan hak asasi yang terdalam dari diri manusia. Pilihan tidak lagi dipengaruhi lagi oleh hingar-bingar kampanye dengan segala janji-janji politiknya. Pilihan lebih dipengaruhi oleh akal pikiran yang berkulminasi pada kehendak.

Nurani jelas merupakan kata pinjaman dari Islam, yang akarnya adalah “nur”. Dalam kamus bahasa Melayu “nurani” diartikan bercahaya atau bersinar. Hati Nurani artinya hati yang bercahaya. Allah adalah cahaya langit dan bumi. Ia Maha Mengetahui. Ilmu yang diperoleh dari padaNya, kata Imam Syafi’i, adalah cahaya dan cahaya Allah tidak diberikan kepada pelaku maksiat. (al-ilm nur wa nur Allah la yuhda lil ‘asi)

Oleh sebab itu dalam Islam konsep kebebasan memilih tidak sama dengan konsep “bebas” atau liberal atau freedom di Barat. Tidak seperti kata Cicero Libertas est potestas vivendi ut velis (Kebebasan adalah kemampuan seseorang untuk hidup dengan semaunya).

Kata hurr atau hurriyyah, bebas atau kebebasan, juga bukan kata yang tepat untuk makna kebebasan dalam Islam. Sebab hurr digunakan untuk merujuk kepada status sesuatu atau seseorang yang diberi kebebasan seperti hamba, bekas tahanan dan lain-lain. Bukan kebebasan dalam konteks pikiran dan kehendak ditentukan oleh individu.

Kebebasan dalam Islam tidak ada unsur pemaksaan seperti dalam medan semantik kata hurr. Kata yang tepat untuk ini dalam Islam adalah ikhtiyar, berasal dari akar kata khayr artinya baik. Kata ini sering diartikan berusaha, tapi sebenarnya berarti berusaha memilih yang terbaik.

Maka dari itu “tidak ada paksaan dalam agama” diteruskan dengan kata-kata “Qad tabayyana al-rushd min al-ghayyi” (Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat (Q.S. 2 : 256).

Karena jalan yang benar telah ditunjukkan oleh ilmu agama yang rasional maka ikhtiyar atau memilih yang terbaik tidak mungkin dilakukan kecuali dengan ilmu. Ilmu tentang baik buruk. Bagi kaum sekuler baik-buruk ditentukan oleh akal atau kesepakatan masyarakat.

Dalam Islam akal berada dibawah wahyu. Jadi ikhtiyar berbekal nilai atau ilmu tentang nilai baik buruk yang berasal dari agama. Pelaku maksiat tentu bukan orang yang memiliki nurani atau ilmu untuk memilih mana yang baik dan yang buruk.

Ber-ikhtiyar memilih pemimpin atau kepala negara atau presiden hakekatnya sama saja. Kebebasan memilih harus berbekal ilmu tentang baik-buruknya calon yang akan dipilih. Peribahasa “Jangan membeli kucing dalam karung” artinya “Jangan memilih tanpa ilmu”.

Memilih presiden adalah memilih pemimpin yang akan menentukan masa depan kita. Baik buruk masa depan kita ditentukan oleh pemimpin. Untuk mengetahui calon pemimpin yang baik, kita harus punya pengetahuan tentang visinya, kehidupan pribadinya, sikap keberagamaannya, sikap kerakyatannya, akhlaknya, leadershipnya dan kemampuannya mengadakan perbaikan dalam berbagai sektor kehidupan kita.

Jika akal kita tidak lagi mampu menentukan pilihan, kita tidak perlu pergi ke dukun atau tukang ramal. Islam mengajarkan sarana spiritual khusus untuk ber-ikhtiyar yaitu shalat istikharah (Memohon pilihan).

Akar kata istikharah sama dengan ikhtiyar. Doanya begitu jelas “Saya mohon pilihan dengan ilmuMu dan dengan kekuasaanMu ……..jika engkau tahu jika perkara ini (calon ini, pilihan ini) baik bagiku, agamaku, kehidupanku, dan masa depanku, maka takdirkanlah, mudahkanlah, dan turunkanlah barakah kepadaku…”.

Artinya kita memohon agar cahaya ilmu Tuhan dipancarkan ke dalam hati kita. Cahaya itulah yang membelokkan hati (yuqallib al-qulub) kita ke arah pilihan yang benar. Memilih dengan nurani berarti memilih dengan hati yang bercahayakan ilmu Allah. Itulah sejatinya makna memilih dengan nurani. Jika telah tiba masa ber’azam untuk memilih maka pegangan terakhir adalah tawakkal. (Dr Hamid Fahmy Zarkasyi)

Enam Warga Kena DBD, Puskesmas Perwira Gandeng IDC Lakukan Fogging Gratis

Laskar Fogging Infaq Dakwah Center

(BEKASI) Wahdahjakarta.com — Wabah demam berdarah dengue (DBD) masih terjadi di sejumlah wilayah di Kota Bekasi, Jawa Barat. Di RW 012 Kelurahan Perwira, Bekasi Utara sebanyak enam warga terserang wabah yang mematikan ini.

Untuk mengantisipasi meluasnya wabah DBD, Puskesmas Perwira menggandeng Infaq Dakwah Center (IDC) melakukan fogging (pengasapan) gratis di RW tersebut pada Rabu, 27 Maret 2019.

“Di RW 12 ini kasus DBD ada sekitar enam warga yang terkena. Mungkin dengan fogging ini bisa memutus rantai dari DBD ini, itu sebabnya kita gandeng Laskar Fogging IDC,” ujar Kepala Puskesmas Perwira dokter Lily.

Secara khusus, dokter Lily menyampaikan terima kasih kepada IDC. “Terima kasih atas bantuan IDC yang telah mengirim Laskar Fogging ke RW 12,” kata dia.

Fogging berlangsung mulai pukul 07 pagi hingga menjelang waktu zuhur. Selama berlangsungnya pengasapan ke rumah-rumah warga, Laskar Fogging IDC ditemani pihak Puskesmas, pengurus RW dan pengurus PKK.

Ketua RW 012 Subeno mengatakan, rendahnya kesadaran warga akan kebersihan lingkungan menjadi sebab mewabahnya DBD. Sehingga selain dengan fogging, untuk mencegah meluasnya wabah DBD dilakukan dengan membersihkan lingkungan.

“Ada beberapa warga kami yang sempat dirawat di rumah sakit karena kena DBD. Kita akui, kesadaran warga dalam kebersihan lingkungan masih rendah. Sehingga setelah kasus DBD ini terjadi di lingkungan RW 012, kami langsung melakukan kerja bakti,” ungkap Subeno ketika ditemui di sela-sela pengasapan.

Darsih (59), warga yang terkena DBD berharap setelah dilakukan fogging dan kerja bakti membersihkan lingkungan tidak ada lagi warga RW 012 yang terkena DBD. “Ya mudah-mudahan setelah fogging tidak ada lagi yang kena (DBD). Terima kasih sudah di-fogging,” kata Darsih yang sempat diopname selama sepekan di rumah sakit.

Sementara itu, relawan IDC Firman mengatakan layanan fogging gratis IDC ini mendapat respon positif dari masyarakat luas. “Banyak yang menghubungi call center kami, minta fogging di sejumlah titik. Bahkan ada dari Cikampek yang minta difogging juga. Silakan bagi yang membutuhkan layanan fogging gratis IDC bisa menghubungi kami,” terang Firman.

Layanan fogging gratis IDC ini pertama kali diluncurkan pada pertengahan Februari 2019. Saat ini IDC yang berbasis di Kota Bekasi memiliki dua unit mesin fogging.[]