Keutamaan Shalat Jum’at: Menghapuskan Dosa dalam Sepekan

Keutamaan Shalat Jum’at: Menghapuskan Dosa dalam Sepekan

Hari Jum’at dan ibadah serta amal shaleh yang dilakukan di dalamnya menggugurkan dosa seorang hamba dalam sepekan, yakni antara Jum’at dengan Jum’at berikutnya. Telah dikemukakan pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang hal ini;

“اَلصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ”

“Shalat lima waktu, shalat Jum’at ke Jum’at berikutnya, dan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan di antara masa tersebut jika seseorang menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim)

Keutamaan hari jum’at  ini akan diberikan kepada seorang hamba jika mejauhi dosa-dosa besar dan menunaikan shalat Jum’at dengan memenuhi adab-adabnya seperti, mandi, bersuci, memakai parfum dan minyak rambut, bersiwak (menggosok gigi), tidak memisahkan dua orang yang duduk berdampingan,  memperbanyak shalat sunnah sebelum Imam naik mimbar, dan menyimak khutbah.

Sebagaimana disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dari Salman al-Farisi Radhiyallahu anhu. Beliau mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ وَيَدَّهِنُ مِنْ دُهْنِهِ أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيبِ بَيْتِهِ ثُمَّ يَخْرُجُ فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ ثُمَّ يُصَلِّي مَا كُتِبَ لَهُ ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ اْلإِمَامُ إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ اْلأُخْرَى.”

“Tidaklah seseorang mandi pada hari Jum’at, bersuci semampunya, berminyak dengan minyak, atau mengoleskan minyak wangi dari rumahnya, kemudian keluar (menuju masjid), dan dia tidak memisahkan dua orang (yang duduk berdampingan), kemudian dia mendirikan shalat yang (sebanyakmungkin) sesuai dengan kemampuannya, lalu diam mendengarkan khutbah  ketika imam berkhutbah melainkan akan diampuni (dosa-dosanya yang terjadi) antara Jum’at tersebut dan ke Jum’at berikutnya.”  (HR. Bukhari).

Dalam Shahih Muslim terdapat tambahan tiga hari. Abu Hurairah Radhiyallahu anhu mengabarkan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda,

Barangsiapa yang mandi lalu berangkat Jum’at, kemudian mendirikan shalat semampunya, selanjutnya diam mendengarkan khutbah hingga selesai kemudian shalat bersama imam, niscaya akan diampuni dosa-dosanya antara Jum’at itu hingga Jum’at berikutnya dan ditambah tiga hari lagi.”  (Terj. HR. Muslim).

Namun keutamaan tersebut diperoleh dengan syarat memerhatikan adab-adab Jum’at sebagaimana disebutkan dalam hadits Bukhari dan Muslim di atas.

Al-Hafidz Ibn Hajar Al-Asqalani berkata tentang hal ini.

“Jika dilihat dari berbagai hadits yang telah disebutkan, penghapusan dosa yang dimaksud karena bertemunya Jum’at yang satu dan Jum’at berikutnya bisa didapat dengan terpenuhinya syarat sebagaimana yang telah disebutkan yaitu mandi, bersih-bersih diri, memakai harum-haruman, memakai minyak, mengenakan pakaian terbaik, berjalan ke masjid dengan tenang, tidak melangkahi jama’ah lain, tidak memisahkan di antara dua orang, tidak mengganggu orang lain, melaksanakan amalan sunnah dan meninggalkan perkataan  dan perbuatan laghwu (sia-sia).” (Fathul Bari, 2: 372).

Majelis Ormas Islam Deklarasi Tolak RUU P-KS

Deklarasi Tolak RUU P-KS oleh Majelis Ormas Islam, Jakarta (28/03/2019)

(Jakarta) Wahdahjakarta.com -, Sebanyak 13 organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam yang tergabung dalam Majelis Ormas Islam (MOI) menyatakan penolakan terhadap Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS).

Penolakan tersebut disampaikan melalui deklarasi yang dibacakan Ketua MOI KH. Drs Muhammad Siddiq usai seminar “Bahaya RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (P-KS)” yang digelar di kantor Dewan Dakwah Islamiyah (DDII), Jakarta, Kamis (28/03/2019).

“Penolakan ini didasarkan atas keprihatinan, materi dalam rancangan undang-undang  ini dapat mersuak sendi-sendi moral bangsa dan tatanan keluarga di Indonesia”, tegas Muhammad Siddiq yang juga ketua DDII.

MOI merupakan forum kerjasama ormas Islam yang terdiri dari Syarikat Islam (SI), Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Al-Irsyad Al-Islamiyyah, Persatuan Islam (PERSIS), Hidayatullah, Mathla’ul Anwar, Persatuan Tarbiyah Islamiah (Perti), Al Jam ‘iyatul Washliyah, Al-Ittihadiyah, Persatuan Ummat Islam (PUI), Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia (BKsPPI), Wahdah Islamiyah (WI), dan Ikatan Da’i Indonesia (IKADI).

Deklarasi diawali dengan seminar dan diskusi membahas bahaya RUU P-KS dengan dua nara sumber utama. Wakil Sekretaris Komisi Ukhuwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dr Wido Supraha dan Helmi Al Djufri konsultan hukum pada Pusat Advokasi Hukum dan Hak Asasi Manusia (PAHAM) Indonesia DKI Jakarta.

DR. Wido Supraha

Doktor Wido mengatakan, RUU P-KS bermasalah sejak dari naskah akademiknya. Setiap  RUU wajib diawali dengan kajian dalam bentuk naskah akademik. Dengan begitu, RUU apa pun yang dibangun di atas naskah akademik yang memiliki persoalan hanya akan melahirkan persoalan baru.

Ia bahkan menyebut naskah akademik RUU ini mengandung racun. Racun seperti apa yang Wido maksud?

“Naskah akademik RUU ini dibangun di atas pendekatan hukum yang berperspektif perempuan,” jelasnya.

Pendekatan hukum berperspektif perempuan selalu memandang budaya patriarki sebagai sumber masalah diskriminasi dan ketidakadilan bagi perempuan.

“Meresponsasi ini, muncul teori tentang hukum berperspektif perempuan yang didasarkan pada kesetaraan dan keadilan gender di bidang politik, ekonomi, dan sosial yang sering dikenal sebagai ” Yurisprudensi Feminis ” atau ” Teori Hukum Feminis ” .”

Menurut peneliti INSISTS ini, karena naskah akademik RUU P-KS ini dibangun di atas konsep yang bertentangan dengan konsep-konsep kunci  dalam Islam, maka sudah sepatutnya RUU ini ditolak.

“Menolak RUU-PKS ini jauh lebih wajib daripada sekadar merevisi kontennya tanpa merubah naskah akademiknya”, pungkas Wido dalam mengakhiri makalahnya. [sym]